KITA ADALAH BANGSA TEMPE !

Panas kupingku ketika beberapa hari yang lalu mendengar orasi Ketum Partai Nasdem yang baru dideklarasikan dalam siaran langsung di Metro TV, ia berkata,”…jangan jadi bangsa tempe…” dan kalimat inilah yang melecutku untuk menuliskan ini. KITA ADALAH BANGSA TEMPE!

Aku adalah penggemar tempe, entah sejak kapan tapi seingatku sedari kecil aku sudah suka makanan yang terbuat dari kedelai ini. Diolah menjadi apapun selalu nikmat di mulutku. Lama kelamaan tempe menjadi semacam menu wajib yang menemani nasi di hari-hariku.

Tempe kaya akan serat pangan, kalsium, vitamin B dan zat besi. Berbagai macam kandungan dalam tempe mempunyai nilai obat, seperti antibiotika untuk menyembuhkan infeksi dan antioksidan pencegah penyakit degeneratif. Ini menurut data yang pernah kubaca. Selain itu tempe juga mengandung protein nabati dan cocok sebagai pengganti daging yang cenderung membuat aliran darah menjadi terganggu. Sebagai protein nabati, tempe berkhasiat memperkuat tulang-tulang sehingga bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan akan lebih baik mengkonsumsi tempe sebagai pengganti protein hewani yang berasal dari daging.

tempe goreng

tempe goreng

Menjadi aneh bagi telingaku bila khasiat tempe yang telah teruji klinis ini dikesampingkan oleh para pembesar politik dengan mengkonotasikan tempe sebagai kemiskinan dalam orasi-orasi mereka yang didukung oleh pengeras suara berdaya tinggi dan disaksikan beribu-ribu orang. Dan itu selalu terjadi berulang-ulang oleh orang yang berbeda dalam kesempatan yang juga berbeda. Apa dasarnya?

Berdasarkan penelusuran ke masa lalu, maka aku menemukan fakta bahwa pengidentifikasian tempe sebagai simbol kemiskinan berasal dari  kolonial Belanda yang bertujuan untuk merendahkan derajat inlander dengan segala aspek budayanya. Belanda ingin mengatakan bahwa dari sisi kuliner keju lebih baik dari tempe sehingga mereka lebih beradab dan tinggi derajatnya dibanding kawula Hindia Belanda. Padahal baik keju dan tempe sama-sama mengandung protein nabati. Bagaimana mungkin meninggikan satu dari yang lainnya? Tapi itulah gaya kolonial untuk melestarikan pengaruhnya di tanah jajahan.

Okelah, itu kolonial. Menjadi sah bila mereka termotivasi untuk terlihat lebih tinggi dari bangsa jajahannya. Tetapi kenapa bangsa Indonesia sendiri juga mengatakan hal yang sama dengan para imperialis? Tidak mungkin mereka tidak mengetahui bahwa tempe adalah kuliner asli bangsa ini. Sudah ada sejak  berabad-abad lalu. Dalam bab 3 dan bab 12 manuskrip Serat Centhini dengan seting Jawa abad ke-16 (Serat Centhini sendiri ditulis pada awal abad ke-19) telah ditemukan kata “tempe”, misalnya dengan penyebutan nama hidangan jae santen tempe (sejenis masakan tempe dengan santan) dan kadhele tempe srundengan. Hal ini dan catatan sejarah yang tersedia lainnya menunjukkan bahwa mungkin pada mulanya tempe diproduksi dari kedelai hitam, berasal dari masyarakat pedesaan tradisional Jawa—mungkin dikembangkan di daerah Mataram, Jawa Tengah, dan berkembang sebelum abad ke-16.

Sayur tempe

Sayur tempe

Indonesia merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia dilakukan dalam bentuk tempe, 40% tahu, dan 10% dalam bentuk produk lain (seperti tauco, kecap, dan lain-lain). Konsumsi tempe rata-rata per orang per tahun di Indonesia saat ini diduga sekitar 6,45 kg.

Ini fakta yang tak bisa dilihat dengan mata sebelah, bahwa Bangsa ini adalah Bangsa Tempe. Bangsa yang memiliki sejarah panjang dengan kuliner yang satu ini. Ironisnya, Jepang justru telah mematenkan tempe dan sudah diakui dunia. Ini menunjukkan kelemahan pembesar negara yang emoh mengurus kuliner asli Indonesia dan malah mencemoohnya seperti cara serdadu VOC melecehkan kawula pribumi.

tempe mentah

Tempe mentah

Wahai para pemimpin, mulailah  hidup sehat dengan mengkonsumsi tempe dan berikan pesan tegas kepada rakyat dan juga dunia bahwa anda bangga sebagai bagian dari bangsa tempe. Seperti yang sudah kulakukan 😉