FROGMAN: FRAGMEN INGATAN

 

Dalam rangkaian program Djakarta Teater Platform yang digagas Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, saya berkesempatan menjadi penyaksi dari sebuah pertunjukan teater yang menggabungkan teknologi dengan teater. Curious Directive, sebuah kelompok teater dari Norwich, memboyong teknologi realitas virtual 360 derajat ke dalam lakon Frogman. Pentas yang berlangsung dari tanggal 24 (khusus media massa) hingga 28 Oktober 2018 ini diadakan di Studio Tom Fakultas Film dan TV Institut Kesenian Jakarta. Setiap harinya terdapat dua kali mereka memainkannya yaitu pada jam empat sore dan delapan malam dengan durasi satu jam.  Saya adalah satu dari  500 penonton beruntung  yang menyaksikan mereka. Ditulis beruntung karena hanya tersedia 50 kursi untuk setiap pertunjukan ini, dan  itu juga harus melalui pemesanan daring. Dan pesanan saya yang gagal karena tidak mendapat surel notifikasi, ini masalah serius bagi tim publikasi karena ini bisa berdampak kepada  kegagalan calon penonton untuk menyaksikan pertunjukan yang sudah dipesannya, akhirnya terobati dengan bantuan alam. Jakarta yang diguyur hujan malam itu bisa jadi membuat batal hadirnya sejumlah pemesan tempat yang membuat saya yang mengantri di ruang tunggu bisa menjadi penonton.

Kenapa saya harus berpanjang kata dengan problematika sebagai calon penonton di tepian alinea di atas?  Ini penting karena eksistensi penonton pada lakon Frogman tidak sebatas menjadi saksi eksklusif dari pertunjukan ini semata tetapi juga difungsikan sebagai pemain yang berperan sebagai juri dalam sebuah investigasi kasus hilangnya seorang gadis bernama Ashleigh Richardson di tahun 1995.

pengarahan oleh Jack Lowe sebelum masuk Studio

Seluruh penonton yang terbatas ini diposisikan duduk dalam formasi elips memanjang dengan kursi putar, headphone dan headset VR sebagai peranti pendukungnya. Sebelum memasuki studio kami di beri pengarahan oleh sutradara Jack Lowe tentang cara penggunaan peranti tersebut agar dapat maksimal bermain sebagai juri. Saya yang mendapat kursi juri nomor 26, duduk di sudut kiri arah masuk studio dan berbatasan dengan karpet tebal yang berfungsi sebagai panggung sekaligus sebagai penanda visual seolah pasir pantai.

Adegan dibuka dengan kehadiran tokoh Meera yang tiba-tiba, karena sebelumnya kami diberi kesempatan untuk mencoba headset VR untuk adaptasi dan ketika melepaskannya ternyata sudah ada Tessa Parr yang memerankan Meera. Ini adalah sebuah interogasi terhadap saksi kunci berkaitan dengan kasus hilangnya seorang gadis di tahun 1995. Adegan interogasi berlangsung dalam bahasa Inggris dan mungkin menyulitkan bagi yang tidak memahami bahasa itu untuk menemukan relasi dengan pemaparan bukti-bukti berupa ingatan masa lampau Meera dua puluh tiga tahun silam. Ashleigh Richardson adalah seorang gadis yang suka merundung di sekolah, ia dijauhi banyak anak-anak kecuali Meera dan fakta tersebut tercetus saat bukti ingatan Meera dikupas. Pribadi Ashleigh yang suka merundung ini dilatar belakangi oleh kehidupan rumah tangga yang tak harmonis yang membuatnya suka keluar dari rumah di tengah malam dan mengunjungi kamar Meera lewat jendela. Meera dan Ashleigh menjadi karib saat malam, mereka saling berbagi cerita dan pengalaman. Lewat Asheigh, Meera diajari bagaimana menyelam  dan bernafas dalam air. Dan Meera menjadi tempat Ashleigh berkeluh kesah tanpa rahasia. Hingga suatu waktu, Ashleigh mengatakan bahwa ia akan dipindahkan ke sekolah seni di Melborne namun ia tak mau dan esoknya ia menghilang hingga dua puluh tiga tahun kemudian kasus hilangnya ia diangkat kembali. Fragmentasi interogasi dan paparan bukti-bukti mewajibkan kami untuk bolak-balik memasuki alam nyata dan virtual. Hal ini diperlukan agar kami selaku juri mendapat gambaran utuh sebab akibat peristiwanya dikarenakan rentang yang lama dari kejadian dan proses interogasi.  Alur kronologis dengan lompatan waktu seperti ini memang berpotensi membingungkan penonton bila fokus teralihkan oleh hal-hal vital seperti buang air kecil oleh karenanya panitia mempersilakan penonton untuk ke kamar mandi sebelum memasuki studio agar tetap fokus selama pentas. Dan dengan perangkat yang disediakan juga menyegarkan visual penonton bila sudah kebingungan oleh dialog Meera yang tanpa translasi itu.  Yang juga menarik tentunya kekuatan peran Meera yang dengan gestur dan mimik meyakinkan dalam merespon pertanyaan dari interogator yang hanya terdengar suaranya saja tanpa ujud. Sendirian, Tessa  berusaha menghadirkan serpihan kenangan-kenangan tentang Ashleigh. Perubahan tanggapan Meera berangsur terjadi pada setiap potongan interogasi yang diselingi pemaparan bukti masa lalu dan itu membuat kami sebagai juri menjadi ikut terbawa oleh keyakinan Meera bahwa Ashleigh sesungguhnya masih hidup dan bukanlah hilang tenggelam sebagaimana hasil penyelidikan polisi yang kurang bukti karena mayatnya tidak pernah ditemukan. Meera akhirnya mengingat bahwa Ashleigh tersenyum padanya sebelum menceburkan diri ke laut dan ia juga mengetahui Ashleigh sanggup menahan nafas dalam air. Fakta-fakta tersebut ditambah motivasi keengganan Ashleigh pindah ke Melbourne membuat kami, atau setidaknya saya selaku salah satu juri, percaya dengan analisis Meera dewasa yang tentunya berbeda dengan pemahaman Meera remaja yang tahunya Ashleigh hilang sesuai keterangan polisi.

Ingatan dalam lakon Frogman adalah bukti-bukti yang disodorkan kepada kami dalam bentuk akting Tessa dalam mengingat masa lalunya dan film-film masa lalu serta lanskap bawah laut yang tersaji melalui realitas virtual. “Because it’s about memory,” ungkap Jack Lowe yang saya temui seusai pentas menyikapi tanda tanya saya mengenai gagasan penggunaan realitas virtual dalam pementasannya.

Jack Lowe

Memori atau ingatan masa lalu inilah yang coba dihadirkan dengan menggunakan teknologi realitas virtual, Jack menambahkan penjelasannya.  Untuk mendukung ingatan masa lalu yang semirip mungkin dengan masa itu maka dalam realitas virtual dihadirkan Meera remaja yang sedang menggandrungi lagu When I Came Around milik Green Day, kaset video Dumb And Dumber, ETThe Lion King atau juga video game Sega. Dengan visual yang kadang kabur atau saling menindih antara satu ingatan dengan ingatan lain maka seolah melalui teknologi kita diajak menyelami ingatan Meera. Tidak hanya itu, melalui realitas virtual kami juga diajak menelusuri terumbu karang yang pengambilan gambarnya dilakukan di Raja Ampat, Papua. Alam bawah laut ditampilkan untuk menjejaki proses pencarian korban dan juga kenangan Ashleigh saat menyelam.

Pemanfaatan teknologi dalam panggung teater seusia dengan kemajuan teknologi itu sendiri. Beberapa bulan lalu saya berkesempatan menyaksikan pentas teater yang menggunakan film yang dibuat khusus untuk pertunjukan teater itu sendiri dimana adegan dalam film diisi suara oleh para aktor dengan pemanggungan yang berbeda dari adegan di film. Begitu juga saat grup teater Kain Hitam Gesbica mementaskan Syekh Siti Jenar juga menggunakan film sebagai bahasa surealis untuk mendukung akting pemainnya. Bisa dikatakan dalam tahun ini saja sudah banyak panggung teater yang dikombinasikan dengan multimedia berupa film atau video mapping. Rita Matu Mona dari Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta yang bertemu di saat antrian masuk menuturkan bahwa ini adalah bagian dari program Djakarta Teater Platform yang tahun ini banyak mengedepankan pertunjukan dengan pemanfaatan teknologi terkini dalam teater hal ini dilakukan sebagai studi dan pembacaan zaman yang memasuki era baru nan virtual. Hal ini menjadi vital guna menentukan peta Indonesia dalam teater dunia. Diharapkan hal tersebut menjadi stimulasi yang memantik kreator teater nasional dalam mengeksplorasi teknologi guna kebutuhan pemanggungan.

Dunia sudah melampaui apa yang sanggup dibayangkan fantasi manusia. Penyebaran teknologi yang meluas hingga ke genggaman publik selama ini hanya disikapi sebagai upaya eskapisme masyarakat dari realitas pahit yang dihadapi. Dengan bermain game daring mereka bisa melepas lelah dari kehidupan nyata untuk sementara dan sebatas menyegarkan sedikit demi sedikit, kecuali mereka yang sudah tingkat pecandu akut, ingatan mereka. Namun sebagaimana hal lainnya maka teknologi pun bersisi positif dan negatif.  Untuk Jack Lowe dengan Frogman-nya adalah contoh pemanfaatan yang positif namun di ruang publik yang terjadi kebanyakan sisi negatif dan satu contoh negatif saya alami sendiri saat usai menyaksikan Frogman.

Malam itu, Jakarta diguyur hujan dengan kilat dan angin berkoalisi di dalamnya. Saya terjebak satu jam lebih tak bisa keluar dari Studio TOM tempat pertunjukan berlangsung, sementara aplikasi angkutan daring juga tak membuahkan hasil karena gangguan sinyal. Setelah hujan sedikit reda saya memberanikan diri untuk ke jalan raya sambil terus mencoba aplikasi angkutan daring namun karena tak jua berhasil dan jarak ke stasiun Cikini juga kian dekat maka saya putuskan untuk fokus berjalan di tengah gerimis yang tak henti. Sesampainya di stasiun Cikini, angin besar menumbangkan sebatang pohon besar yang menimpa enam remaja di bawahnya, untungnya karena ada pagar berlapis membuat lima remaja selamat dan hanya satu yang terkena dahan mengakibatkan ia pingsan. Melihat itu saya berlari menghampiri korban dan membantu menggotongnya. Ironisnya beberapa tukang ojek, yang pastinya tinggal di sekitar lokasi, yang sebelumnya saya lihat sedang asyik bermain game di ponsel mereka(asumsi saya atas bahasa tubuh mereka)  hanya berdiri di tempat sambil berteriak  seolah memberi instruksi kepada kami yang bergerak menggotong korban kesana kemari.

Korban pohon tumbang di Stasiun Cikini

Entah apakah mereka  belum move on dari realitas virtual di ponsel mereka atau memang tak berani menghadapi realitas di depan mata tetapi saya berani beropini bahwa mereka terlalu larut dengan dunia virtual sehingga melupakan melakukan virtue  (kebajikan) dalam dunia.  Kemajuan teknologi memang tidak diimbangi dengan kemajuan akal budi namun bukan tidak mungkin di masa mendatang keduanya beriringan.

Kembali ke Frogman, yang diklaim oleh Jack Lowe sebagai yang pertama di dunia dalam pemanfaatan teknologi virtual realitas di panggung teater,  adalah upaya awal yang patut diapresiasi walau dalam pemkiran saya hal ini masih bisa dieksplorasi lebih lanjut karena Jack masih memberi batas tegas antara realitas panggung dan realitas virtual dan bila dinding teritori ini dibongkar maka revolusi akan terjadi. Ide di atas ide adalah suatu yang wajar terjadi sepanjang ide baru tidak berdiri menindas ide sebelumnya melainkan serupa tongkat estafet yang mebuat dinamika peradaban ke arah yang sesuai perkembangan zaman. Gagasan Jack bila diteruskan dengan menghadirkan tokoh virtual ke dalam realitas panggung tentulah revolusioner, bisa jadi ia berbentuk hologram seperti wawancara sebuah stasiun televisi dengan buronan pendiri wikileaks, Assange, beberapa tahun lalu. Atau bisa juga karakter virtual ini terlihat nyata dalam realitas panggung yang disimak melalui perangkat ponsel seperti pokemon. Mungkin inilah manifestasi dramaturgi baru; bertolak dari yang tak ada, meminjam tema diskusi publik dengan pembicara Cecil Mariani dan Dea Aulia Widyaevan masih dalam lingkup acara Djakarta Teater Platform juga. Apa pun eksplorasi  yang dipilih tentunya harus didasarkan atas kebutuhan panggung, kemampuan penggunaan teknologi dan tentunya yang  tidak boleh dilupakan adalah cara kita memperlakukan ingatan sebagai subyek sekaligus obyek dari gagasan yang ingin disampaikan. Karena tanpa ingatan manusia didefinisikan gila dan surplus ingatan juga berpotensi menimbulkan kegilaan.

Saya harap anda tidak lelah membaca tulisan ini karena di media pribadi yang bebas dari unsur kapitalisasi maka kebebasan adalah hal yang hakiki, tentu berbeda dengan media massa yang dipagari sensor dan tuntutan perspektif yang sepaham dengan redaksi.

Jika pun anda lelah, maka anda beruntung. Karena saya juga letih dan mengakhiri tulisan ini sampai disini.

SAYA BUTUH PERS YANG KRITIS BUKAN YANG BOMBASTIS.

Kemajuan pesat di bidang teknologi informasi membuat abad kini layak disebut abad digital. Piranti dan infrastruktur telekomunikasi terkini telah menancapkan kukunya di pelosok nusantara. Dengan perangkat seluler yang murah kita dapat mengakses ragam berita teraktual di seluruh dunia.  Ini penanda yang jelas sekali untuk apa yang disebut abad digital.

abad digital

Kecepatan informasi menjadi syarat wajib dalam abad digital. Bila dahulu, ketika surat kabar menjadi acuan informasi, proses pengolahan berita memakan waktu hingga setengah hari untuk siap dibaca pembaca maka di abad digital proses berita yang satu jam pun dianggap terlambat. Kecepatan memproses sebuah peristiwa dipercepat hingga hanya hitungan menit saja langsung dapat dibaca oleh kita. Semakin cepat akan semakin baik.

Transparansi informasi juga menjadi keharusan di zaman sekarang. Tak ada informasi yang bisa ditutupi lagi kini. Bahkan bila dicoba untuk ditutupi pun akan terbongkar juga. Contoh kasus; Julian Assange, yang bersembunyi dari kejaran CIA, dengan wikileaks-nya mampu membongkar informasi dengan keamanan sekuritas maksimum. Tak ada yang bisa sembunyi di dunia maya. Transparansi informasi inilah yang memikat pembaca. Memang ada pula informasi yang telah disepakati bersama untuk di tutupi, misalnya bila menyangkut eksploitasi seks pada anak-anak. Tetapi nyaris tak ada warta yang bisa ditutupi di abad digital ini.

Selain kecepatan dan transparansi, maka hal penting lain yang wajib di era terkini adalah komunikasi dua arah. Sebuah kabar yang tertulis di dunia maya sejatinya tidak mengenal titik, sesudah warta terbaca maka para pembaca juga berhak mengomentari, memberi kesaksian, membeberkan data/fakta tambahan, membantah, berpromosi atau bahkan menghujat. Adanya ruang bagi pembaca berinteraksi dengan penulis dan pembaca lainnya adalah indikasi riil abad digital.

Dan ketika ada sebuah warta dunia maya ramai dikunjungi dan dikomentari maka warta tersebut mencetak hit. Artinya jumlah pengaksesnya banyak. Dan semakin banyak hit dalam sebuah situs akan menaikan peringkat situs tersebut dalam kancah popularitas di dunia maya. Ini adalah hal yang penting dalam jagad maya informasi, perusahaan-perusahaan besar berani membayar mahal beriklan lewat  google hanya agar terbaca sebanyak mungkin orang di seluruh dunia. Inilah yang membuat hit menjadi target dari strategi penulisan warta.

data mentah yang keburu dilaporkan sebagai berita

data mentah yang keburu dilaporkan sebagai berita

Namun ketiga hal penanda abad digital tadi juga menjadi stimulan ampuh bagi terciptanya jurnalisme bombastis. Jurnalisme murahan. Jurnalisme yang tidak membawa kita kemana-mana selain berkubang di lubang praduga galian sendiri.

Dengan kecepatan informasi tidak berarti ikut terbawa ketepatan informasi. Dalam  abad digital kecepatan itu lebih penting dari  ketepatan. Hal ini membuat tugas editor kerap terabaikan demi kecepatan berita. Sebenarnya tidak masalah bila sang jurnalisnya pun memiliki tingkat keakuratan yang tinggi dalam berbahasa atau mengolah data. Namun akan menjadi bumerang bila ternyata adalah ketidaktepatan dalam berita yang cepat tersebut.  Contoh ketidak tepatan berita seperti yang tercetak di sebuah surat kabar mengenai penggerebekan BNN di rumah artis Raffi Ahmad. Tertulis dalam tajuk utama “17 Artis ditangkap”. Padahal cuma ada 4 orang yang berstatus artis. Dan itupun setelah melalui proses pemeriksaan tinggal satu orang artis saja yang dinyatakan terbukti menggunakan narkotika. Ini hal yang terlihat sepele, tetapi vital bagi terciptanya kesesatan informasi.

trial by press

trial by press

Selain kecepatan, maka transparansi informasi kadang juga hanya menimbulkan kesimpang siuran dalam berita itu sendiri. Dengan dimatikannya fungsi editor dalam penulisan berita ditambah dengan ketidak mampuan jurnalis dalam memproses data-data menjadi warta hanya akan menimbulkan ketidak jelasan informasi. Sebuah data belumlah menjadi warta, ia harus melewati tahapan cek-ricek agar valid dalam kebenaran informasi . Contoh untuk ini, masih menggunakan kasus penggerebekan BNN di rumah Raffi Ahmad, adalah ketika keterangan singkat Ketua BNN mengenai kasus tersebut beberapa jam setelah kejadian dijadikan satu-satunya sumber penulisan yang ternyata menjadi berbias di, nyaris, seluruh media massa nasional.  Apalagi Kepala BNN tersebut juga mengklaim bahwa semua yang diamankan  terlibat pemakaian narkotika, hal yang kemudian memicu banyaknya rumor spekulatif di semua pemberitaan. Irwansyah, Zaskia Sungkar dan Wanda Hamidah menjadi korban penghakiman pers atas arahan Kepala BNN yang menyebarkan informasi yang belum diolah oleh para penyelidik bawahannya. Bagi Irwansyah dan Zaskia Sungkar mungkin penghakiman pers tersebut tidaklah terlalu sesakit yang dialami Wanda hamidah, anggota DPRD DKI, yang digunjingkan pers tanpa proses cek-ricek terlebih dahulu. Kepala BNN mungkin mencoba transparan ditengah minimnya informasi yang ia dapat dari anak buahnya yang melakukan penggerebekan. Dan ironisnya kejadian serupa juga dialami jurnalis kita. Ditengah proses penyelidikan oleh pihak BNN berlangsung, para media menuliskan kejadian berdasarkan keterangan sepihak yang belum teruji kebenarannya, untuk memperluas bahasan maka media perlu menambah data dalam mengolah informasi dan terkadang dari sumber yang tidak jelas (bukan berarti sumber tersebut tidak memiliki identitas jelas, karena seorang jendral bintang tiga pun bisa saja menjadi sumber yang tidak jelas). Akibatnya opini publik yang membaca warta tersebut juga terbelah dalam ketidakjelasan ditengah “transparansi” berita.

Ketidak tepatan dan transparansi kesimpang siuran berita membuat komunikasi informasi di abad digital ini menciptakan bentuk jurnalisme menjadi bombastis. Hal tersebut ditandai dengan judul yang provokatif (sebenarnya judul provokatif tidak masalah sepanjang memiliki ikatan kuat dengan materi berita namun bila judul provokatif tersebut hanya gimmick untuk mengejar hit tanpa mempertimbangkan kebenarannya), mengedepankan sensasi ketimbang esensi sebuah peristiwa, gaya bahasa bombastis tanpa daya kritis. Dengan hit yang besar menjadi tidak penting lagi kadar kebenaran suatu peristiwa.

berita bnn-2

Padahal pers adalah pilar keempat bagi tegaknya demokrasi. Ia menjadi penunjang yang memantau, mengkritisi pilar eksekutif, legislatif dan yudikatif dalam menjalankan tugas mengelola negara dengan benar dan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.

Pers akan mampu menjadi pilar keempat bila independen, kritis, advokatif dan informatif.

Hal ini tak akan tercermin bila melihat kondisi pers nasional. Dari sisi independensi semua penerbitan baik versi cetak atau elektronik berada dalam genggaman pemilik modal. Kelangsungan kerja para jurnalis tidak ditentukan oleh prestasinya tetapi atas kuasa pemodal. Bila berserikat pun bisa dipecat. Seperti yang dialami jurnalis Metro TV yang diberhentikan karena mencoba membuat serikat pekerja di perusahaan tersebut.

Bila sudah kehilangan independensi maka jangan harapkan pers menjadi kritis. Karena kuasa pemodal diatas segalanya maka tak mungkin bagi jurnalis mengkritisi pemodalnya, sebaliknya diarahkan mengkritisi pesaing dari pemodalnya. Sehingga perspektif redaksi dapat dibaca lebih jelas bila kita menyimak pula siapa pemodal diatasnya. Lalu apanya yang bisa diharapkan kritis dari konfigurasi hirarki seperti diatas?

Perang informasi antar pemodal menjadi tidak berguna bagi masyarakat. Tidak bisa kita mengharapkan pers mampu mengadvokasi rakyat dari situasi yang membingungkannya. Daya advokasi pers dibiarkan terlantar dan digunakan sebaik-baiknya oleh aktivis sosial atau politik yang sering menjadi gunjingan sebagai kaki tangan asing dalam setiap permasalahan warga negara. Akibatnya, rakyat kembali mempercayai rumor ketimbang berita yang dipenuhi pesanan pemodal.

Bila sudah begitu kejadiannya maka sisi informatif dari pers juga telah kehilangan kredibilitasnya di benak publik. Pers berubah menjadi tempat sampah yang memenuhi ruang publik tanpa bisa diketahui dari mana sampah-sampah itu berasal. Rumor kembali naik kelas menjadi informasi, dan masyarakat dibodohkan secara sistematis.

Itulah jurnalisme bombastis yang memberikan transparansi kesimpang siuran berita. Dan saya butuh jurnalisme kritis bukan yang bombastis.