SUREALISME DALAM LAKON SYEKH SITI JENAR

Pada 14 dan 15 september kemarin, Teater Kain Hitam Gesbica dari UIN Maulana Hasanudin Serang mengadakan pertunjukan teater dengan lakon Syekh Siti Jenar karya Vredy Kastam Marta di Gedung Kesenian Tangerang. Pentas kali ini terjadi di tengah lawatan Teater Kain Hitam Gesbica menyapa beberapa kota di pulau Jawa sejak agustus hingga awal oktober nanti.

Dengan sutradara Opik Pria Pamungkas, rombongan besar Teater Kain Hitam berhasil memikat ribuan penonton yang didominasi pelajar se-kota Tangerang selama dua hari pementasannya. Padahal, ini juga diakui oleh sutradara, tema pada lakon ini termasuk berat untuk diapresiasi penonton usia remaja. Tetapi hingga akhir pentas semua penonton bergeming di tempatnya duduk. Ini membuktikan ada hal selain tema yang mampu membawa penonton terkesima.

Panggung ditata dengan latar kain putih besar dan level yang dibuat berundak-undak hingga ke depan panggung. Dari sini bisa dibaca bahwa tata artistik ini dibuat sederhana agar memberi peluang kepada layar putih besar tersebut untuk elastis mengikuti sajian multimedia. Dan dibantu cahaya berwarna-warni yang fokus pada beberapa titik bloking pemain ditambah kostum yang terdiri dari kombinasi busana khas ulama dan umara pada era Kerajaan Demak serta kostum unik yang menggambarkan tokoh-tokoh absurd.

Saya sedang menggambarkan bahwa konsep artistik yang dimanifestasikan dalam tata panggung, lampu, kostum dan multimedia jelas merujuk pada apa yang disebut sutradara sebagai surealisme. Karena surealisme memang menuntut plastisitas ruang dan dipenuhi simbol-simbol yang seringkali tidak perlu masuk akal. Surealisme menuntut dan menuntun kita kepada alam mimpi, dunia bawah sadar.

Sejak dikumandangkan kepada dunia sebagai sebuah gerakan revolusioner  pasca perang dunia ke 1, surealisme memang  dimaksudkan sebagai antitesis dari realisme yang melulu harus rasional. Surealisme berpijak kepada alam mimpi, dimana segala realitas bergerak tanpa komado logika. Surealisme memandang dunia realisme telah gagal menjunjung kemanusiaan. Dan karenanya manusia harus kembali menjadi subyek dari peradaban dan alam bawah sadar adalah medium paling murni untuk menunjukan kemanusiaan kembali. Aplikasinya berpola spontanitas, pergerakan yang tanpa membutuhkan persetujuan dari sisi otak yang mengolah logika. Contoh yang paling tepat dalam mengenali surealisme ada dalam seni rupa karya beberapa seniman di era 1920-an. Salvador Dali, pelukis berkumis melintang anti gravitasi, dipandang sebagai pelukis yang memakai surealisme sebagai perwujudan artistiknya. Misalnya, salah satu karyanya yang terkenal dimana terdapat jam yang meleleh adalah presentasi dari apa yang ada dalam dunia bawah sadarnya. Secara visual juga terlihat seperti berada dalam dunia antah berantah yang entah dimana atau kapan. Penikmat karyanya seolah diajak tidak kemana-mana selain masuk kedalam alam mimpi Dali dan anda bisa menikmati walau itu adalah presentasi mimpinya. Memang begitulah surealisme.

Lalu bagaimana dalam seni pertunjukan teater? Apakah surealisme turut memberi bab khusus dalam sejarahnya?

Untuk menjawab itu kita mesti sepakat dulu bahwa substansi surealisme adalah menolak realisme, bila hal ini sudah kita lalui maka kita coba telusuri jejak surealisme dalam teater.

Balet Parade, sebuah karya kolaboratif Jean Cocteau dengan komposer Erik Satie dipadu desain set dan busana kubisme Pablo Picasso dan koreografi Leonide Massine pada  tahun 1917 bagi saya adalah contoh pertama dari surealisme dalam teater. Di catatan program ini pula kata surealisme diciptakan oleh Guillaume Apollinaire yang menulis,”..  sejenis surrealisme  (une sorte de surrealisme)..” dan itu tercatat tiga tahun sebelum  kata surealisme menjadi manifesto kebudayaan dengan pusat pergerakannya di Paris. Terhadap pertunjukan ini perhatian banyak tertuju kepada visual busana kubisme yang terbuat dari kardus keras dan  seolah membawa penonton ke arah dunia antah berantah.

Bukan maksud saya menjadikan Parade sebagai acuan dalam menilai surrealisme dalam teater karena setiap karya jelas memiliki gen dan dna yang berbeda. Parade lebih dimaksudkan sebagai catatan sejarah dan dari sana kita bisa mengambil unsur-unsur yang menjadikan pentas tersebut sebagai surrealisme. Namun yang menyolok dari itu  adalah upaya menghadirkan nuansa alam mimpi kedalam panggung.

Tokoh-tokoh surrealisme seperti Andre Breton atau, menyebut yang terkenal, Salvador Dali banyak terilhami dari kajian Freud tentang psikoanalisis yang memang muncul  sezaman dengan mereka. Psikoanalisis berkutat pada studi alam bawah sadar. Buku karya Freud seperti  The Interpretation of Dreams adalah santapan para pelopor surealisme sebagai pondasi paradigma pemikiran mereka.  Mimpi adalah landasan ide dari semua seniman surealisme.

Saya rasa sudah cukup bahasan mengenai surealisme dan kini saatnya anda membaca pengamatan saya mengenai surealisme dalam lakon Syekh Siti Jenar.

Syekh Siti Jenar dalam kisah yang ditulis Vredy Kastam Marta memang berpeluang untuk disandingkan dengan surealisme dalam penggarapannya. Sebabnya karena sebagai tokoh yang dikenal sebagai sufi maka lekat sekali penolakannya terhadap reralisme yang mengagungkan logika matematis khas otak kiri  selain itu ada adegan dimana Syekh Siti Jenar sedang berdialog dengan karakter yang sulit dibayangkan dalam realisme.

Untuk memvisualkan peluang tersebut, sutradara menggunakan multimedia yang dipadukan dengan busana dan musik. Tentu saja ini dalam konteks peran yang tak riil dan teknis artistik. Dan strategi ini berhasil dengan pembuktian tiadanya satu dari ribuan penonton selama dua hari itu yang keluar sebelum usai. Multimedia berhasil memikat mata dengan visual yang secara psikologis menenangkan organ mata seperti pada penampakan awan di angkasa atau suasana purnama, sebagai contoh. Busana tak biasa yang dikenakan kelompok perempuan pun mampu menggiring interpretasi penonton ke arah alam tak biasa. Diimbuhi musik yang mengambil irama sunda yang cenderung menenangkan turut andil dalam membuai penonton untuk tetap fokus selama acara.

Tetapi apakah itu bisa disebut surealisme sebagaimana yang diinginkan sutradara?

Seperti sebelumnya saya tulis bahwa substansi surealisme adalah antitesis realisme. Namun juga dalam alinea sebelum ini juga saya tulis bahwa naskah ini berpeluang untuk disandingkan dengan surealisme dalam penggarapannya. Tetapi secara utuh memang sulit untuk mengatakan bahwa lakon ini digarap dalam estetika alam bawah sadar a la surealisme. Ada beberapa bagian yang memang bisa dikategorikan begitu seperti yang saya urai di paragraf di atas namun yang sebagian itu tidak bisa dijadikan penilaian untuk keseluruhan.

Malah ada beberapa contoh yang saya tulis sebelumnya bila digarap dengan detil bisa jadi semakin mengentalkan estetika alam mimpi. Misalnya visual awan di langit, bila animasi ini digarap utuh tanpa sambungan dan menampilkan sudut elevasi yang perlahan meninggi tentu akan membuat penonton seolah diajak terbang. Atau saat penggambaran konflik yang terlalu landai terasa tidak menyatu dengan adegan yang berrlangsung di depannya, andai perang ditampilkan sebagai kolase yang ritmenya terus mengikuti irama dialog pemeran pasti akan membuat penonton terjebak dalam konflik.

Busana pada tokoh seperti malaikat seharusnya bisa lebih bebas tidak terbelenggu imaji standar dengan pemakaian sayap. Ada pilihan resiko yang berakibat kebingungan di mata penonton tetapi jika targetnya suasana bawah sadar maka sejatinya ada kemerdekaan tanpa batas bagi perancang kostum untuk menggiring ke nuansa mimpi. Begitu juga dengan karakter lain yang tidak riil.

Musik sebenarnya cukup menarik dengan menampilkan irama sunda, tetapi bila jiwa sufi atau alam mimpi maka gamelan jawa yang lebih tenang dan mengayunkan kesadaran tentu lebih cocok dengan beberapa adegan, apalagi ruangnya juga terjadi di Kerajaan Demak yang berlokasi di Jawa Tengah kini. Gamelan Jawa sudah terbukti sejak Claude Debussy mendengarnya di Paris Universal Expo tahun 1899 yang berciri impresionis, intuitif dan keterbukaan cocok untuk disandingkan dengan surealisme walau disaat itu ide surealisme masih berupa spermatozoa.

Apa pun pilihan yang ditempuh sutradara memiliki resikonya sendiri dan bagi penonton lakon Syekh Siti Jenar selama dua malam itu tidaklah penting seberapa kadar surealisme dalam pertunjukan tersebut,  selama kebutuhan artistik mereka terpenuhi maka tak ada alasan untuk meninggalkan pementasan.

Dan ini memang bukan tulisan untuk mereka, tetapi kepada sutradara yang menggunakan konsep surealisme dalam pementasannya.

Iklan

SENI: antara kemasan dan muatan

Perbincangan mengenai seni pada dasarnya dilatari oleh dua hal utama yaitu kemasannya dan atau muatannya. Yang kubicarakan adalah seni secara keseluruhan, bukan seni yang terpetak-petak menjadi musik, teater, rupa dan lain-lain. Apapun bentuk yang dipilih oleh senimannya akan menjadi bahan, yang bisa dibicarakan lebih lanjut atau hanya menjadi kenangan visual, bagi penontonnya. Oleh-oleh yang dibawa penonton inilah, terlepas dari siapapun penontonnya, yang menjadi wacana dalam dunia seni dan inilah tema pokok tulisan yang kubuat ini.

Pada awalnya seni adalah ritual. Sebuah prosesi untuk menghormati alam semesta. Segala tarian, lukisan, nyanyian dan lain sebagainya ditujukan semata-mata sebagai bagian dari upacara para manusia menghormati penciptanya. Artefak-artefak yang ditemukan para arkeolog menjadi saksi nyata dari sakralisasi seni di zaman dahulu.

Seni sebagai ritual mengutamakan muatan, isinya dipenuhi doa-doa para leluhur akan keselamatan juga rangkaian terima kasih atas anugerah Yang Maha Kuasa. Sebagai prosesi, seni menjadi sangat lokal karena dipengaruhi oleh berbagai aspek budaya para pelakunya yang berbeda-beda. Tarian syukur atas hasil panen antara suatu kultur akan berbeda dengan kultur yang lain. Begitu pula lagu-lagu para leluhur yang memuja alam raya akan berbeda antara  suatu etnis dengan etnis lainnya. Situasi ini dikarenakan dunia masih terbelah begitu banyaknya dan tak ada koneksi antara satu sama lain.

teater on the street

teater on the street

Lalu sejak transportasi laut menjadi andalan utama berbagai bangsa bahari maka kontak-kontak komunikasi menjadi terjalin dan perlahan-lahan mulailah saling pengaruh mempengaruhi antar kultur. Gamelan yang diciptakan leluhur bangsa ini menjadi mungkin karena adanya migrasi bangsa China yang membawa serta teknologi menempa logam. Lewat penetrasi budaya inilah sekat-sekat antar budaya terkikis pelan-pelan.

Kemajuan zaman membawa manusia kepada era industri yang memodernisir segala perkakas sebelumnya menjadi lebih cepat, bersifat massal dan ekonomis. Dari revolusi industri ini kesenian juga terpengaruhi, sehingga mulailah penciptaan-penciptaan karya seni yang berbasiskan kepada komoditi. Sebagai produk massal maka seni menjadi lebih “ramah” dalam muatan dan mengutamakan kemasan yang menarik konsumen. Segala sakralisasi seni tidak hilang namun berada di wilayah periferal, seni sebagai ritual menjadi wilayah ekslusif para seniman teolog. Kecenderungan tersebut mewabah di seluruh dunia.

Namun sejak Perang Dunia di awal abad 20 yang membuat dunia menjadi sempit, ada tendensi lain dimana seni sebagai sebuah prosesi individual para senimannya. Di era ini kaum Dadais mendeklarasikan cita rasa artistiknya yang unik yang mempengaruhi pula kepada sebuah gerakan yang disebut ,oleh para kritikus seni, surealisme. Dalam surealisme, nilai-nilai menjadi begitu relatif dan individualis. Ini berbeda seratus delapan puluh derajat dengan gaya artistik seni industri yang mengutamakan kolektifitas nilai-nilai berbasiskan keuntungan.

Zaman terus melaju dengan membawa kereta kebudayaannya tersendiri. Sesudah Perang Dunia ke dua, lahirlah absurdisme yang dilatari kehancuran bangsa-bangsa sesudah perang sekaligus pula kelahiran bangsa-bangsa baru, juga akibat perang. Dalam absurdisme, seni tetap mengutamakan muatan individualis. Dalam musik tercatat beberapa progres yang sebelumnya dianggap tabu. John Cage bermusik dengan keheningan, yang dimasa dahulu dianggap jeda dan bukan tercatat sebagai musik.  Waiting For Godot, sebuah naskah yang diisi oleh repetisi adegan tanpa konklusi jelas juga menjadi penanda era absurditas.

Tetapi seni sebagai industri juga mengalami kemajuan pesat, dimotori oleh bangsa-bangsa pemenang perang dunia yang berekspansi ke penjuru bumi dengan cita rasa artistik yang lebih ramah kepada publik. Negeri ini pun juga menjadi wilayah sasaran dari ekspansi kultur negeri pemenang perang tersebut. Film menjadi komoditas andalan, dikarenakan kebaruannya juga teknologinya yang efisien serta yang paling utama peraup laba terbesar diantara semua seni. Musik pun juga menjadi ajang pertaruhan bisnis para produser. Tak menjadi masalah sebuah lagu begitu buruk muatannya, sepanjang lagu itu dikemas menarik serta propaganda tanpa henti maka akan larislah lagu tersebut. Invasi seni industri negara-negara barat ini nyaris menihilkan seni sebagai prosesi individualis.

publik di konser musik

publik di konser musik

Tetapi pendulum zaman terus bergerak kesana kemari. Di masa kini dimana ruang dan waktu telah dilipat-lipat maka semangat para individualis dan juga para kolektivis dapat berjalan beriringan. Seni dengan muatan yang berlapis-lapis bersanding dengan seni dengan kemasan yang menarik. Ada pula yang mencoba jalan tengah, dengan mengkombinasikan seni bermuatan yang dikemas menarik tetapi waktunya belum lagi tiba sehingga ia menjadi suatu penanda dari kultur di era tertentu.

Belum lama ini, aku menyaksikan sebuah pertunjukan teater dimana muatannya begitu bermutu dan para pemainnya pun juga berwajah menarik. Tetapi fakta yang tak bisa dibuang begitu saja adalah penontonnya tak lebih dari 20% kapasitas auditorium megah. Akhirnya aku pun menonton dengan rasa dingin penyejuk ruangan yang meruak luar biasa.

Ada pula catatan media tentang berjayanya sebuah drama musikal, dengan durasi pertunjukan lebih dari dua jam dan dipertontonkan selama lebih dari dua minggu dan mampu menarik begitu banyaknya khalayak. Apakah itu bukti bahwa kombinasi dari muatan dan kemasan telah berhasil? Butuh penelitian lebih lanjut mengenai ini, karena tak jarang yang menonton pun juga adalah “pemain” yang tak bermain.

Sampai disini aku tak ingin memperdalam lagi tulisan ini, karena pembaca dunia maya juga tak tahan membaca lebih dari dua halaman, dan untuk itu kiranya bisa dianggap bahwa tulisan ini hanyalah stimulan dari , semoga saja, beberapa catatan baru yang lahir dari benak anda.

Namun untuk lebih mempertegas inti tulisan ini, kiranya perlu dipahami bahwa muatan dan kemasan adalah cara seni untuk hadir dalam benak penontonnya. Jalur mana yang dipilih para senimannya adalah menjadi hak prerogatif kreator itu sendiri. Untuk selanjutnya publik, sebagai kritikus dan apresiator, akan membawanya sebagai oleh-oleh dalam benaknya. Kalaupun mereka tak mau membawa oleh-oleh itu, yah biarkan saja. Yang penting tetaplah di jalur yang dipilih karena dari situ lahir identitas yang membawa anda kepada pemahaman bahwa seniman, melalui karyanya, adalah manusia yang unik. Begitulah hakikatnya manusia, bukan?