SEMUA PELAJAR ADALAH KORBAN TAWURAN

Berita mengenaskan belum lama ini mengemuka di tengah publik tentang tewasnya seorang pelajar SMA 6 Jakarta akibat tawuran yang terjadi antara sekolahnya dengan siswa SMA 70. Kedua sekolah ini berdekatan dan seringkali terlibat konflik yang berujung pada tawuran di jalan raya. Bukan kali ini saja mereka tawuran, sebagaimana bukan kali ini pula berbagai pihak yang memiliki otoritas atas dunia pendidikan memediasi kedua sekolah ini. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, perdamaian yang digagas berbagai pihak itu malah menelurkan perkelahian baru bahkan sampai jatuh korban meninggal.

Apa yang salah dengan mediasi berbagai pihak tersebut? Kenapa tawuran seakan tak mungkin terhenti pada generasi siswa  berikutnya?

Saya mencoba membacanya sebagai bekas siswa dari sekolah kejuruan di Jakarta Barat yang juga pernah menjadi pelaku tawuran dan tertangkap sekali.

bis tingkat

Di bis tingkat ini kami dulu bergerombol untuk pulang-pergi dan berkelahi.

Melihat berita di televisi mengenai kematian korban Alawy tentu sungguh tragis, tidak hanya bagi orangtuanya tetapi juga semua orangtua yang memiliki anak yang masih bersekolah. Pihak Kepolisian melalui Kadiv Humas mengatakan bahwa tindakan tegas harus dilakukan agar membuat efek jera bagi siapapun yang melakukan aksi tawuran, bagi kepolisian aksi pelajar ini bukan lagi kenakalan remaja tetapi sudah menjadi tindak kriminal. Pemerintah Provinsi DKI melalui Gubernur Fauzi Bowo melemparkan tanggung jawab atas masalah ini kepada pihak sekolah dan juga komite sekolah. Kepala Dinas Pendidikan DKI menyatakan bahwa pihak sekolah harus menindak tegas setiap pelajar yang terlibat aksi tawuran, kalau perlu dengan memecatnya sebagai siswa. Belum lagi analisis para pengamat pendidikan yang mencoba membedahnya bahkan sampai era akhir 60-an kala bibit-bibit tawuran mulai berkecambah. Di sebuah stasiun TV malah memakai judul “STOP ANARKISTIS PELAJAR!” (judul yang salah kaprah) untuk membicarakan masalah itu di acara beritanya, dan bahkan menghadirkan narasumber dari pelajar dan bekas pelajar yang pernah terlibat tawuran untuk mengorek informasi mengenai apa, siapa, bagaimana, kenapa para pelajar itu bisa terlibat dalam aksi yang disebut tawuran. Singkat kata, minggu ini berita mengenai tawuran mengungguli berita mengenai aksi vandal ormas-ormas, atau penangkapan teroris.

Berbagai tawaran solusi sebenarnya bisa diterapkan pihak sekolah guna menghindari siswanya terlibat perkelahian, seperti: menambah jam belajar, memperbanyak jenis ekstrakurikuler, atau ada juga yang menawarkan merger antara sekolah-sekolah yang bertikai.

Usulan menambah jam belajar siswa sebenarnya bisa saja berguna namun memiliki beberapa kelemahan, yaitu:  stamina siswa menjadi cepat terkuras pada jam-jam ekstra dan akibatnya mereka tidak terlalu fokus pada kegiatan di jam-jam tambahan tersebut. Kebetulan saya pernah menjadi pelatih teater di beberapa sekolah, dan ekskul ini biasanya dijadwalkan pada jam-jam tambahan tersebut dampaknya saya harus memberikan pelatihan yang tidak terlalu menguras energi fisik mereka tetapi itu juga menjadi bumerang karena ketahanan stamina mereka menjadi rentan tak stabil.

Menambah jam belajar hanya berguna bila pihak sekolah memang mempersiapkan siswa-siswanya menjadi pekerja yang terbiasa bekerja dari pagi hingga sore, tetapi apakah itu tujuan pendidikan kita? Hanya mempersiapkan tenaga kerja untuk industri semata?

Ada pula usulan memperbanyak jenis ekstrakurikuler, agar para siswa bisa menggunakan waktu tambahan untuk melatih kemampuannya pada bidang lain yang tak dipelajari di sekolah. Hal ini tentu saja bagus sepanjang pihak sekolah mampu mengakomodasi minat siswa terhadap ekstrakrikuler yang mereka inginkan. Tetapi fakta di lapangan, mungkin merata di semua sekolah, tidak semua sekolah sanggup dan mampu menyediakan beragam jenis ekskul dengan berbagai dalih seperti: ketiadaan tenaga pengajar atau ketiadaan biaya. Sementara dana BOS atau BOP juga seringkali dijadikan alasan karena tidak mencukupi untuk menutupi anggaran pendidikan dasar apalagi untuk yang bersifat ekstra. Dari situasi yang seperti ini maka kita tidak bisa berharap banyak bahwa usulan ini akan ditindak lanjuti pihak sekolah.

Kemudian usulan penggabungan sekolah yang kerap bertikai, yang menurut saya dilandasi oleh semangat instan menyelesaikan masalah. Apakah ada jaminan kedua sekolah yang bergabung itu akan menutup peluang bagi siswanya untuk bersatu melawan pelajar sekolah lain yang tidak digabungkan dengan sekolah mereka? Untuk jangka 1-2 bulan pasti usulan ini berhasil, tetapi sekolah itu program jangka panjang bukan program 1-2 bulan. Saya mengusulkan agar usul ini tidak dijadikan usulan yang harus dilakukan sekolah manapun.

Bila semua usulan itu tidak berdampak positif , lalu bagaimana lagi caranya menyelesaikan problematika tawuran ini?

foto: republika online

Sebelum menuju ke arah itu, perlu diketahui bahwa tawuran terjadi sejak lama. Pada saat saya masih bersekolah, sekitar  20 tahun lalu, cerita-cerita heroik dari kakak kelas seringkali menginspirasi siswa baru untuk menjadi lebih berani dibandingkan seniornya. Hal ini tidak pernah menjadi rujukan para pengamat pendidikan dalam membuat suatu analisis mengenai aksi tawuran. Berangkat dari tradisi sebagai ‘pemenang’ seringkali membebani siswa baru untuk paling tidak mempertahankan rekor sekolahnya atas sekolah lain.

Saya ingat di pertengahan tahun 90-an, ada tulisan pemenang Lomba Karya Ilmiah Remaja yang membedah aksi tawuran terjadi karena ada elemen komunis yang menyusup di kalangan pelajar. Opini yang sangat Orbais sekaligus naif.  Tetapi sekaligus relevan dengan zamannya dimana komunis menjadi kambing hitam atas segala permasalahan yang tak pernah tuntas.

Opini tersebut bersama dengan analisis para pengamat pendidikan memiliki kesamaan yaitu memandang pelajar sebagai obyek dari sudut pandangnya yang tak mau memasuki relung pikiran pelajar itu sendiri. Hal serupa juga terjadi pada pihak kepolisian serta Dinas Pendidikan. Paradigma pelajar adalah biang keladi permasalahan akan selalu membawa pelajar sebagai pihak yang disalahkan atas problem tawuran.

Bukan kali ini saja ada siswa yang terbunuh, di era saya penculikan serta penusukan hingga tewas pun juga terjadi. Malah saya pernah menjadi calon korban salah tangkap, ketika rekan saya melakukan penusukan dan bersembunyi di sekitar rumah tinggal saya lalu aparat kepolisian mendatangi rumah saya dengan bukti kesamaan ciri tanpa ada satupun bukti-bukti atau keterangan saksi mata. Beruntung almarhum bapak saya adalah purnawirawan polisi yang mengetahui saya berada di rumah pada saat kejadian, karena posisi saya yang sudah dikeluarkan pihak sekolah, jadi memahami bagaimana sebuah tuduhan bisa dikenakan. Setelah bernegosiasi dengan alot, karena aparat memaksa saya untuk dibawa ke Polres Jakarta Barat sementara Bapak saya memaksa untuk tidak dibawa, akhirnya sore hari peristiwa tersebut terselesaikan dengan ditangkapnya kawan saya ketika pulang ke rumahnya.

Dari pengalaman tersebut, saya melihat bahwa aparat keamanan tidak memiliki strategi khusus untuk mengatasi masalah ini. Pihak penegak hukum hanya memandang bahwa sebuah tindak pidana harus diseret ke ranah hukum siapapun pelakunya. Pertanyaannya: selesaikah tawuran ketika pelaku penusukan, penculikan atau perkelahian dimasukkan ke dalam penjara? Tentu saja tidak. Alih-alih menyelesaikan, malah para pelaku yang dipenjarakan menjadi bertambah ilmunya di dalam tahanan dimana ia menjadi ‘murid’ para kriminal lainnya.

Semestinya semua pihak bisa memandang bahwa para siswa yang terlibat tawuran adalah korban dari segala sistem yang selama ini kita biarkan terus menerus. Sistem tersebut bisa sistem pendidikan kita yang selalu menjadikan siswa sebagai  obyek para pembuat kurikulum untuk tujuan memenuhi lapangan pekerjaan. Tiadanya kontak dengan minat siswa bisa menimbulkan kebosanan bagi para pelajar dan membuat mereka justru lebih intens dengan kegiatan luar sekolah dimana berkumpul sesama pelajar yang tak terakomodasi minat dan bakatnya oleh sekolah.

Bisa pula sistem ‘militeristik’ yang sudah mendarah daging di republik ini. Bukankah penyelesaian konflik melalui jalur kekerasan adalah domain militer?

Sistem yang lebih besar dari problematika tawuran pelajar ini yang terus menerus tak tersentuh kaca mata para pengamat ketika membuat suatu kesimpulan. Lihatlah, tidak hanya pelajar yang tawuran, tetapi juga ormas bahkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat sering kali mempertontonkan cara penuntasan masalah lewat baku hantam.

Para pelajar adalah remaja yang belajar tidak hanya dari jalur sekolah, tetapi yang lebih berperanan penting bagi hidupnya adalah belajar dari cara orang-orang dewasa menyelesaikan masalahnya. Mereka menjadi peniru dari para orang-orang yang, katanya, dewasa. Akan lebih berbahaya lagi bila para remaja ini berpikir untuk melebihi orang-orang yang, katanya, dewasa dalam menuntaskan konflik diantara sesama remaja. Mau jadi apa generasi mendatang?

Karena itu saya mengusulkan kepada aparat penegak hukum, agar memandang mereka sebagai korban bukan sebagai pelaku. Agar proporsional  dengan usia serta kematangan cara berpikir mereka. Jangan menggeneralisir semua tindak pidana bila dilakukan oleh anak-anak di bawah umur karena ternyata hal itu tidak berdampak signifikan menekan angka perkelahian pelajar.

Begitu pula dengan Dinas Pendidikan yang menuntut sekolah bertindak tegas kepada pelaku tawuran, bagaimana bila seorang siswa terpaksa ikut perkelahian karena ‘tradisi’ yang diturunkan para seniornya? Tidaklah elok memandang seorang siswa, betapapun nakalnya ia, tanpa memandang situasi kebatinan di lingkungan pertemanannya.

Dan yang lebih penting lagi jangan tuntut mereka untuk berhenti berkelahi bila kita-kita yang gemar  menuntut ternyata melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan mereka dalam mengatasi konflik melalui jalur kekerasan. Itu hipokrit namanya.

DAR…DER…DOR…. MATI LU PADE !! :::Stop Bullying Now !

Berawal dari tweet Olga Lydia pada rabu malam tanggal 20 Juli yang mengajak followernya berkomentar tentang bullying dan komentar terpilih akan mendapat dua tiket nonton pertunjukan teater musikal persembahan Sakti Aktor Studio (SAS) berjudul “BANG BANG YOU’RE DEAD” akhirnya sayapun ikut berkomentar tentang bullying yang saya identifikasikan sebagai akibat dari supremasi hirarki dan untuk melenyapkannya maka generasi muda harus diajarkan tentang pentingnya kesetaraan antar manusia. Tak disangka komentar saya yang terpilih dan sayapun berkesempatan menonton pertunjukan tersebut di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, keesokan malamnya.
Selalu menjadi kehormatan bagi saya untuk dapat menyaksikan pertunjukan kesenian apapun bentuknya, dimanapun tempatnya dan siapapun penyajinya. Karena dari tontonan yang saya lihat akan melekat dalam benak saya dan itu menjadi kekayaan bathin yang tak bisa dinilai dalam apapun jua.
Bukanlah tanpa alasan bila saya menganggap bullying sebagai akibat dari supremasi hirarki karena kasus-kasus yang terjadi selalu menimpa siapapun yang kedudukannya dianggap lebih lemah sehingga rentan terhadap intimidasi atau pelecehan apapun jenisnya. Sekolah menjadi ajang bullying favorit, saya pun pernah mengalaminya ketika masih di sekolah dan pelakunya selalu kakak kelas yang merasa memiliki kuasa terhadap adik-adik kelasnya. Namun berkat perkawanan yang saya jalin lambat laun situasi menjadi cair dan mereka pun dapat menganggap saya sama sebagaimana rekan sebaya.
Tetapi tidak semua orang dapat melakukan apa yang saya lakukan untuk meredam bullying, masih banyak generasi muda yang tak berdaya menghadapi tekanan rekan sebaya atau kakak kelasnya. Ketakutan untuk dianggap tidak ada atau malah diejek sebagai pecundang malah membuat banyak korban menjadi kian terpuruk.
Naskah “BANG BANG YOU’RE DEAD” ditulis oleh William Mastrosimone pada tahun 1999 dipengaruhi oleh kekerasan yang terjadi di sekolah di Amerika pada tahun 1998. Ketika itu, seorang siswa SMU, Kip Kinkel, membunuh orang tuanya dan 27 teman-teman sekelasnya di Thurston High School, Springfield, Oregon. Mastrosimone menulis naskah ini untuk memperlihatkan dampak pelecehan, penyiksaan dan penganiayaan antar remaja di sekolah dan berharap masyarakat mampu melihat indikasi dari tragedi sebelum semuanya terlambat. Pada Oktober 2002, tiga tahun setelah publikasi pertamanya pada 7 April 1999 di Thurston High School, naskah ini sudah dipentaskan lebih dari 15.000 kali.

Bagi Sakti Aktor Studio (SAS) ini adalah kali pertama mereka membawakan lakon BANG BANG YOU’RE DEAD dalam bentuk teater musikal. Diharapkan drama ini bisa menjadi terapi yang baik untuk mengatasi kekerasan yang terjadi di sekolah-sekolah dan mengurangi kekerasan yang terjadi. Tentu harapan ini akan menjadi lebih nyata bila lakon ini dapat di tayangkan pada sekolah-sekolah dengan tingkat kekerasan yang tinggi. Karena bila hanya mengharapkan penonton teater di Gedung pertunjukan semata maka harapan akan tinggal harapan.
Naskah ini adalah sebuah propaganda dalam bentuk peristiwa yang dikemas dalam bentuk surealis sepanjang durasi pementasannya selama sekitar 75 menit. Dari awal terlihat tentang luka penuh tanya dari para korban akibat langsung dari bullying. Katie, Jessie, Emily, Michael dan Matt meneror pikiran Joshua, pelaku penembakan, melalui pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan penonton kepada penyebab bullying.
Joshua adalah seorang remaja dengan tingkat traumatis yang tinggi menghadapi pergaulannya di sekolah, dengan gadis incarannya, tekanan di rumah dan juga ketidak mampuannya mereduksi kesemuanya. Di antara temannya dia dianggap sebagai pecundang, dengan gadis yang disukainya ia dibilang pembual, dari orang tuanya ia mendapat komando yang tak henti-hentinya dan kala ia berhadapan dengan diri sendiri pun tak kuasa ia berdiri tegak. Kesemua faktor ini terungkap pelan-pelan di atas panggung menjadi tabir yang tersingkap kenapa ia dengan limbungnya mencuri senapan yang dikunci di lemari oleh ayahnya, dan ketika kepergok orang tuanya ia pun menembak keduanya. Sesudahnya ia menghampiri kawan-kawan yang ia benci ketika mereka sedang makan siang dan lalu “Dor… Dor… Dor… Dor… Dor…” lima peluru untuk lima tubuh dimuntahkan bersamaan dengan muncratnya darah dan ketakutan baru yang dialaminya.
Ia tertipu oleh pikiran gelapnya kala menyangka ketika ia menembak mereka yang melecehkannya maka bebaslah dirinya. Tidak demikian realitasnya, malah ketakutan demi ketakutan baru muncul waktu kelima kawan yang ditembaknya terus meneror dengan pertanyan-pertanyaan “Kenapa Gue??”. Semula ia berkilah bahwa semua orang juga akan mati, tapi itu bukan jawaban sesungguhnya. Terus menerus jawaban baru timbul untuk meredam tanda tanya para korban. Alasan demi alasan tak mampu membendung jawaban yang sesungguhnya.
Joshua sejatinya adalah korban bullying yang terabaikan oleh lingkungannya. Dan sebagaimana yang dituliskan oleh Eka D. Sitorus, sang sutradara,  dalam pembuka sekapur sirihnya, “Bullying bisa terjadi di mana-mana…”. Karena bisa terjadi di mana-mana maka siapapun juga berpotensi menjadi pelaku atau korban bullying. Dan sekolah, dimana hirarki dijunjung tinggi, menjadi lokasi yang subur bagi kasus bullying. Mereka yang tidak di sekolah pun, sadar atau tidak, terkadang juga menjadi pemicunya.

Propaganda yang digarap dalam naskah ini memberi gambaran peristiwa sebab-akibat dari bullying agar siapapun yang menontonnya dapat melihat pertanda dari bibit kekerasan yang terjadi. Semua pihak turut bertanggung jawab agar generasi muda kita nantinya sebagai tumpuan masa depan dapat hidup setara satu sama lain. Dan para orang tua serta guru diharapkan mampu meminimalkan potensi kekerasan pada diri anak-anak dengan bersikap bijak serta menjadikan mereka sebagai subyek bagi dirinya sendiri.
Jalan pintas yang dipilih Joshua dalam lakon ini adalah jalur gelap bagi masa depan anak yang dapat dijadikan pelajaran betapa berharganya kehidupan setiap anak tidak hanya bagi dirinya tetapi juga bagi lingkungannya.
Dar…Der…Dor….telah kutembak bullying sampai mati. Bagaimana dengan anda?