MENGUBURKAN HANTU

Di rumah kami.

 

30 September selalu menjadi hari yang bersejarah bagi keluarga kami. Karena pada hari itu mama berulang tahun. Pada tahun 2017 ini ia berusia 74 tahun, sebuah anugerah yang tak ternilai bisa melewati rentang waktu yang panjang karena tidak semua orang diberi kesempatan melaluinya. Bapak saya pun hanya sampai usia 70 tahun pada 14 tahun lampau. Dan karenanya ulang tahun mama kami upayakan dilimpahi kebahagiaan dengan kedatangan semua anak, cucu bahkan cicitnya.

Tetapi 74 tahun bukanlah perkara mudah bagi mama. Sejak beberapa tahun lalu ia mengalami kesulitan dalam membedakan ruang dan waktu. Awalnya kami tidak mengenali gejala tersebut, yang kami tahu ia sering marah tanpa alasan yang sanggup kami mengerti. Kami pun sebagai anak-anaknya juga merespon dengan amarah karena sepertinya ia tidak mengerti penjelasan paling sederhana yang kami berikan.

Dari berbagai literatur dan juga cerita-cerita, kami akhirnya menyadari bahwa mama sedang berproses menuju demensia. Ia mengalami apa yang disebut disorientasi pada ruang dan waktu. Ciri-cirinya adalah membaurnya masa kecil di kampung dahulu dengan masa kini bersama kami. Pada proses selanjutnya ia bisa mengalami kesulitan mengenali orang, dan itu sudah terjadi karena ia kerap menanyakan keberadaan saya kepada saya sendiri yang sedang berbicara dengannya. Untuk antisipasi itu saya membuat bros bergambar wajah saya dan memberikan untuknya.

Tetapi memahami situasi adalah hal yang berbeda dengan kemampuan mengendalikan situasi. Belakangan ia mulai sering bertanya,”Bapak ada?” dan setiap kali kami berkata sejujurnya maka tidak sampai lima menit ia kembali menanyakan hal yang sama. Tak menjadi masalah memang menjawab pertanyaan mudah tersebut namun bila intensitasnya meluber tanpa kenal waktu tentu berpengaruh terhadap sikap kami.

Saya memilih untuk bersikap jujur untuk menjawab pertanyaan itu, karena membohonginya walau dengan niat baik sekali pun hanya akan berdampak buruk bagi semuanya.  Yang perlu ditambah dosisnya adalah kesabaran dan itu sejatinya saya pelajari disaat ia kerap histeris ingin bertemu bapak tanpa ada satupun yang bisa kami lakukan kecuali menenangkannya.

Sebagai anak kini saya mulai memahami perjuangan mama kala merawat saya waktu bayi, karena kesabaran adalah upaya tak kenal lelah yang dibangun setiap saat demi harapan yang lebih baik di masa nanti.Dan saya tak boleh berhenti menguburkan bapak setiap hari.

 

Di rumah kita.

 

Di rumah yang lebih luas dari milik kami, yaitu rumah kita sebagai bangsa. 30 September juga dicatat sebagai hari yang bersejarah. Waktu rezim orde baru, kami diwajibkan menonton film tentang G30S yang disutradarai Arifin C.Noer. Ruang kelas akan diubah menjadi bioskop mini dan setelah upacara kami pun menyaksikannya dari awal hingga akhir.

Kami selalu diingatkan bahaya laten komunisme. Kami senantiasa ditanamkan ingatan bahwa PKI itu tak bertuhan. Kami diberi kesadaran bahwa mereka itu lebih jahat dari penjahat yang paling sadis.

30 September menjadi hari nasional memaki PKI.

Tetapi reformasi membuka mata kami. Kisah kekejaman komunis mendapat sanggahan dari informasi yang dulu dituduh subversi. Film yang dulu wajib pun tak lagi menjadi keharusan. Walau PKI sebagai sebuah organisasi masih dilarang berdasarkan ketetapan MPRS tahun 1966.

Fakta yang tak bisa ditutupi bahkan di masa orde baru adalah kisah pembantaian anggota dan orang-orang yang dicurigai terkait dengan PKI sesudah keluarnya Supersemar.  Resminya lewat nama Operasi Trisula namun pergerakan di lapangan melibatkan elemen-elemen sipil yang sejak sebelumnya berseteru dengan PKI dan ormas-ormasnya. Tak ada jumlah pasti berapa korban pembantaian ini. Namun jumlahnya bisa dipastikan setara dengan jumlah suara yang diperoleh PKI saat pemilu 1955 atau setidaknya dari data jumlah anggota PKI tahun 1966.

Yang bisa dipetik dari alinea di atas adalah PKI sudah mati. Ideologinya dinyatakan terlarang, anggotanya sudah habis, yang masih hidup sudah berusia lanjut, dan lainnya dalam jumlah yang tak banyak tersebar di berbagai negara sebagai eksil.

Dengan konfigurasi seperti itu, bagaimana menerangkan dengan nalar bahwa PKI hidup kembali dan jumlah anggotanya mencapai 60 juta jiwa? Angka fantastis, bahkan jauh melebihi jumlah anggota parpol papan atas. Angka tersebut didapat dari ujaran Mayor Jendral Purnawirawan Kivlan Zen yang kemudian viral lewat mulut penceramah seperti Ustad Tanjung dan menyebar melalui pesan-pesan anonim di media sosial. Tidak ada keterangan rinci dari Kivlan sebagai sumber utama isu kebangkitan PKI mengenai data jumlah anggota ini.

Perlu diketahui, Kivlan adalah mantan Pangkostrad era Jendral Besar Soeharto berkuasa. Ia adalah karib dari Prabowo Subianto. Dan di era orde baru, Gus Dur pernah menyebut Mayjen K sebagai biang keladi pembantaian ulama di Banyuwangi dengan sandi Naga Hijau. Kivlan membantahnya dan Gus Dur dengan arif menyelesaikan tuduhannya bahwa yang disebutnya adalah Mayjen Kunyuk. Di era reformasi, kiprah Kivlan, yang juga Komisaris beberapa perusahaan, lebih banyak muncul di belakang. Belakangan ia menyerukan kebangkitan PKI, dengan menggunakan tangan kanan (ulama) dan dikombinasikan dengan kepalan kiri (ormas) untuk menggempur perhatian publik.

Di lain pihak, Panglima TNI juga menyerukan wajib menonton film propaganda yang belasan tahun teronggok di laci lemari kepada seluruh jajarannya yang kemudian merangkul para guru untuk memutar di sekolah. Padahal Menteri Pendidikan tidak mengharuskan para siswa menonton karena banyaknya muatan kekerasan dalam film tersebut. Belum lagi keberatan dari KPAI bahwa film tersebut tidak layak ditonton anak-anak. Maka seruan Panglima mestinya hanya kewajiban di barak saja, tidak meluber ke ruang sipil.

Belum cukup dengan aksi tersebut, pada 22 September 2017 Panglima kembali menggulirkan isu impor 5000 senjata oleh institusi non militer. Akibatnya ranah dunia maya diputar balik ke tahun 1965 saat Angkatan V digulirkan PKI yang menuntut buruh dan tani dipersenjatai. Apakah aksi Panglima dan Kivlan Zen berkaitan? Tentu hanya TNI dan aparat yang dapat menjawabnya sementara publik kembali berspekulasi  tanpa kalkulasi bahwa ini hanya menimbulkan kegaduhan tak perlu bahkan disintegrasi tanpa disadari.

Siklus politik yang menghangat dan kemudian memanas jelang pemilihan adalah hal yang biasa terjadi. Yang perlu diwaspadai oleh publik adalah eksploitasi politik yang dilakukan banyak pihak dengan menggunakan semua cara  bahkan hal yang tak masuk akal sekalipun.

Komunisme sudah tak laku lagi di dunia. Di Indonesia sudah dibantai sejak lama. Siapa yang diuntungkan dengan isu kebangkitan mayat hidup bernama PKI?

Militer adalah salah satunya. Sejak orde baru, militer telah memposisikan diri sebagai benteng pertahanan kapitalisme. Pada masa Presiden Soekarno tak terhitung aksi-aksi massa menuntut  nasionalisasi yang membuat cemas para pemodal. Dan setelah orde lama tumbang maka runtuh pula aksi-aksi sepihak tersebut. Malah yang terjadi adalah penguasaan swasta atas tambang-tambang potensial seperti yang dilakukan Freeport di Papua. Stabilitas yang dijanjikan rezim militer saat itu membuat kapitalisme internasional berjaya menguasai sumber-sumber daya dan memindahkan kekayaan nusantara ke dalam rekening mereka. Di tahun 1998 aksi-aksi penguasaan lahan-lahan milik pengusaha besar kembali terjadi walau kini beralih kepada upaya reformasi agraria.

Dengan menguatnya isu PKI maka figur militer dengan jaminan stabilitasnya dapat menjadi opsi politik yang prospektif di pilpres 2019.  Tetapi perwira aktif dilarang berpolitik praktis karenanya bisa jadi isu ini menjadi investasi politis Panglima di masa pensiunnya tahun depan.

Di lain pihak, partai politik pun juga diuntungkan dengan rumor tersebut. Tentunya partai-partai yang tidak mendapat posisi eksekusi di periode ini. Karenanya banyak elit-elit partai yang sibuk menghidupkan hantu PKI demi terjaganya kegaduhan politik.

Keriuhan akan mengurangi tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah dan setiap suara yang berkurang adalah peluang bagi partai politik lain untuk mendulang kejayaan. Dan kesemuanya dikonsolidasikan dibawah rumor bangkitnya hantu PKI.

Para pengamat akan mengatakan hal ini biasa, tetapi yang kurang diperhitungkan adalah dampak multiplikasinya di publik. Disintegrasi, radikalisme hingga terorisme dapat tumbuh berkembang dalam suasana yang berpondasi rumor tanpa konfirmasi. Hal tersebut sudah terjadi selama ini dan mereka yang kemarin bersikap layaknya fasis berteriak bahwa Perppu ormas mengebiri demokrasi. Mereka yang dulu bersuara bahwa demokrasi adalah jalan barat menguasai negeri kini berjuang seolah pembela hak-hak demokrasi.

Inilah wajah politik negeri. Harus beraksi, walau tak berisi. Mesti glamor, biarpun sebatas rumor.

Tetapi publik selalu menjadi harapan bagi tumbuhnya tata masyarakat yang lebih baik di masa depan. Kesabaran menjadi perjuangan tanpa henti untuk tumbuhnya harapan dan kejujuran adalah pondasi di segala sisi.

Militerisme dan PKI adalah hantu yang tak perlu dibangunkan lagi. Karena  demokrasi sudah menjadi jalan  untuk meraih kekuasaan dan Pancasila adalah landasan filosofis dalam berpolitik dan bernegara.  Untuk itu menjadi kewajiban kita untuk membenamkan irasionalitas dan menjaga nalar agar tetap sehat. Kita tak boleh berhenti melakukannya setiap hari.

 

DAR…DER…DOR…. MATI LU PADE !! :::Stop Bullying Now !

Berawal dari tweet Olga Lydia pada rabu malam tanggal 20 Juli yang mengajak followernya berkomentar tentang bullying dan komentar terpilih akan mendapat dua tiket nonton pertunjukan teater musikal persembahan Sakti Aktor Studio (SAS) berjudul “BANG BANG YOU’RE DEAD” akhirnya sayapun ikut berkomentar tentang bullying yang saya identifikasikan sebagai akibat dari supremasi hirarki dan untuk melenyapkannya maka generasi muda harus diajarkan tentang pentingnya kesetaraan antar manusia. Tak disangka komentar saya yang terpilih dan sayapun berkesempatan menonton pertunjukan tersebut di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, keesokan malamnya.
Selalu menjadi kehormatan bagi saya untuk dapat menyaksikan pertunjukan kesenian apapun bentuknya, dimanapun tempatnya dan siapapun penyajinya. Karena dari tontonan yang saya lihat akan melekat dalam benak saya dan itu menjadi kekayaan bathin yang tak bisa dinilai dalam apapun jua.
Bukanlah tanpa alasan bila saya menganggap bullying sebagai akibat dari supremasi hirarki karena kasus-kasus yang terjadi selalu menimpa siapapun yang kedudukannya dianggap lebih lemah sehingga rentan terhadap intimidasi atau pelecehan apapun jenisnya. Sekolah menjadi ajang bullying favorit, saya pun pernah mengalaminya ketika masih di sekolah dan pelakunya selalu kakak kelas yang merasa memiliki kuasa terhadap adik-adik kelasnya. Namun berkat perkawanan yang saya jalin lambat laun situasi menjadi cair dan mereka pun dapat menganggap saya sama sebagaimana rekan sebaya.
Tetapi tidak semua orang dapat melakukan apa yang saya lakukan untuk meredam bullying, masih banyak generasi muda yang tak berdaya menghadapi tekanan rekan sebaya atau kakak kelasnya. Ketakutan untuk dianggap tidak ada atau malah diejek sebagai pecundang malah membuat banyak korban menjadi kian terpuruk.
Naskah “BANG BANG YOU’RE DEAD” ditulis oleh William Mastrosimone pada tahun 1999 dipengaruhi oleh kekerasan yang terjadi di sekolah di Amerika pada tahun 1998. Ketika itu, seorang siswa SMU, Kip Kinkel, membunuh orang tuanya dan 27 teman-teman sekelasnya di Thurston High School, Springfield, Oregon. Mastrosimone menulis naskah ini untuk memperlihatkan dampak pelecehan, penyiksaan dan penganiayaan antar remaja di sekolah dan berharap masyarakat mampu melihat indikasi dari tragedi sebelum semuanya terlambat. Pada Oktober 2002, tiga tahun setelah publikasi pertamanya pada 7 April 1999 di Thurston High School, naskah ini sudah dipentaskan lebih dari 15.000 kali.

Bagi Sakti Aktor Studio (SAS) ini adalah kali pertama mereka membawakan lakon BANG BANG YOU’RE DEAD dalam bentuk teater musikal. Diharapkan drama ini bisa menjadi terapi yang baik untuk mengatasi kekerasan yang terjadi di sekolah-sekolah dan mengurangi kekerasan yang terjadi. Tentu harapan ini akan menjadi lebih nyata bila lakon ini dapat di tayangkan pada sekolah-sekolah dengan tingkat kekerasan yang tinggi. Karena bila hanya mengharapkan penonton teater di Gedung pertunjukan semata maka harapan akan tinggal harapan.
Naskah ini adalah sebuah propaganda dalam bentuk peristiwa yang dikemas dalam bentuk surealis sepanjang durasi pementasannya selama sekitar 75 menit. Dari awal terlihat tentang luka penuh tanya dari para korban akibat langsung dari bullying. Katie, Jessie, Emily, Michael dan Matt meneror pikiran Joshua, pelaku penembakan, melalui pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan penonton kepada penyebab bullying.
Joshua adalah seorang remaja dengan tingkat traumatis yang tinggi menghadapi pergaulannya di sekolah, dengan gadis incarannya, tekanan di rumah dan juga ketidak mampuannya mereduksi kesemuanya. Di antara temannya dia dianggap sebagai pecundang, dengan gadis yang disukainya ia dibilang pembual, dari orang tuanya ia mendapat komando yang tak henti-hentinya dan kala ia berhadapan dengan diri sendiri pun tak kuasa ia berdiri tegak. Kesemua faktor ini terungkap pelan-pelan di atas panggung menjadi tabir yang tersingkap kenapa ia dengan limbungnya mencuri senapan yang dikunci di lemari oleh ayahnya, dan ketika kepergok orang tuanya ia pun menembak keduanya. Sesudahnya ia menghampiri kawan-kawan yang ia benci ketika mereka sedang makan siang dan lalu “Dor… Dor… Dor… Dor… Dor…” lima peluru untuk lima tubuh dimuntahkan bersamaan dengan muncratnya darah dan ketakutan baru yang dialaminya.
Ia tertipu oleh pikiran gelapnya kala menyangka ketika ia menembak mereka yang melecehkannya maka bebaslah dirinya. Tidak demikian realitasnya, malah ketakutan demi ketakutan baru muncul waktu kelima kawan yang ditembaknya terus meneror dengan pertanyan-pertanyaan “Kenapa Gue??”. Semula ia berkilah bahwa semua orang juga akan mati, tapi itu bukan jawaban sesungguhnya. Terus menerus jawaban baru timbul untuk meredam tanda tanya para korban. Alasan demi alasan tak mampu membendung jawaban yang sesungguhnya.
Joshua sejatinya adalah korban bullying yang terabaikan oleh lingkungannya. Dan sebagaimana yang dituliskan oleh Eka D. Sitorus, sang sutradara,  dalam pembuka sekapur sirihnya, “Bullying bisa terjadi di mana-mana…”. Karena bisa terjadi di mana-mana maka siapapun juga berpotensi menjadi pelaku atau korban bullying. Dan sekolah, dimana hirarki dijunjung tinggi, menjadi lokasi yang subur bagi kasus bullying. Mereka yang tidak di sekolah pun, sadar atau tidak, terkadang juga menjadi pemicunya.

Propaganda yang digarap dalam naskah ini memberi gambaran peristiwa sebab-akibat dari bullying agar siapapun yang menontonnya dapat melihat pertanda dari bibit kekerasan yang terjadi. Semua pihak turut bertanggung jawab agar generasi muda kita nantinya sebagai tumpuan masa depan dapat hidup setara satu sama lain. Dan para orang tua serta guru diharapkan mampu meminimalkan potensi kekerasan pada diri anak-anak dengan bersikap bijak serta menjadikan mereka sebagai subyek bagi dirinya sendiri.
Jalan pintas yang dipilih Joshua dalam lakon ini adalah jalur gelap bagi masa depan anak yang dapat dijadikan pelajaran betapa berharganya kehidupan setiap anak tidak hanya bagi dirinya tetapi juga bagi lingkungannya.
Dar…Der…Dor….telah kutembak bullying sampai mati. Bagaimana dengan anda?