ATUT DITANGKAP

          “Hallo, bisa bicara dengan mang Halim?”

          “Dengan Halim. Bisa, dari siapa?”

          “Dari Atut, keponakannya”

          “Tunggu sebentar ya…Lim, ada telepon!”

          “Dari siapa koh?”

          “Dari ponakanmu”

          “Hallo”

          “Halo, mang! Ini Atut”

          “Ada apa, Tut?”

          “Atut ditangkap!”

 

 

* _ *

atut ditangkap

Namanya Atut Chosiyah. Usia 19 tahun. Pendidikan terakhir SMA Negeri. Dan malam ini ia berada di Jalan Merdeka Tangerang. Tujuannya tak lain dan tak bukan hendak melamar kerja. Sebuah tempat bilyar menjadi sasarannya. Tempat yang belum lama dibuka dan sedang membutuhkan beberapa tenaga lagi untuk memenuhi posisi di situ.

Atut tidak begitu mengenal jalan-jalan di Tangerang. Dan ia sudah menghabiskan dua jam menyusuri sepanjang Jalan Merdeka untuk menemukan tempat orang-orang menghabiskan waktu bermain bola sodok itu.

Alhasil, ia malah tak berhasil menemukannya. Alih-alih mendapatkan alamat yang dituju, ia malah ketemu dengan serombongan petugas pamong praja. Dua orang diantaranya turun dari mobil patroli dan langsung menarik lengan dan badannya. Perlakuan mereka persis seperti calo bis antar kota.

          “Lho, pak. Ada apa?”

          “Sudah ikut saja dulu!”

          “Ikut kemana pak?”

                    “Ikut ke kantor!”                                                                                                                       “Tapi Pak?”

          “Sudah..nanti kita selesaikan di kantor!”

          Atut tak berdaya dibawah cengkeraman petugas yang kekar itu. Ia dinaikkan ke atas mobil patroli. Dan tak lama, penuhlah mobil itu dengan perempuan-perempuan lain. Rombongan ini bergerak menembus gelapnya malam.

Ada apa? Kenapa? Kemana? Ribuan tanda tanya menggelayuti pikiran gadis ini. Ia tidak memahami apa yang terjadi. Tetapi ketakutannya mengalahkan semua pertanyaannya.

Atut menurut. Ia tak berdaya. Bahkan terhadap tubuhnya sendiri

 

* _ *

 

 

 

          “Tut, ada lowongan kerja nih!”

          “Dimana, mang?”

          “Di Jalan Merdeka. Tempat bilyar”

          “Mau, mang!”

          “Nanti sore kamu ke sana. Dari sini naik angkot, turun di Kodim. Terus, kamu sambung angkot lagi yang ke Cimone. Bilang sama supirnya kalau kamu turun di Merdeka. Dari situ tinggal tanya orang-orang dimana tempatnya”

          “Makasih, mang. Atut nanti sore berangkat ke sana”

          “Kamu minta ongkos sama teteh, mamang sudah kasih ke dia”

          “Omong-omong, tempat bilyar itu apa mang?”

          “Itu tempat orang-orang bermain bola sodok, kamu coba dulu. Mamang dikasih tahu sama pelanggan mamang kalau tempat itu baru dibuka dan lagi butuh banyak tenaga”

          “Atut mau, mang! Yang penting kerja halal”

          “Ya sudah, mamang mau kerja dulu”

 

 

 

* _ *

 

 

Atut Chosiyah. Sungguh, aku bukannya sedang bercerita tentang Gubernur Banten. Hanya kebetulan saja nama dan jenis kelamin mereka sama. Selebihnya 100% bertolak belakang. Seperti Bumi dan Jupiter.

Karena Atut yang kuceritakan ini bukan dari kalangan orang berpunya. Ia adalah salah satu dari ratusan juta orang miskin yang banyak berserakan di negri ‘gemah ripah loh jinawi’ ini.

Atut dalam kisah ini juga tak memiliki kekuasaan apa pun. Bahkan terhadap dirinya sendiri. Nasibnya lebih ditentukan oleh para pembuat kebijakan publik.

Dulu, ketika ia masih kecil dan masih tinggal dengan kedua orang tuanya, Atut berpikir bahwa dengan bersekolah ia akan menjadi pintar. Dan dengan kepintarannya ia akan mendapat pekerjaan. Dan dengan pekerjaannya ia akan mendapat uang banyak. Dan dengan uang banyak ia bisa membelikan ayahnya tanah dan kerbau serta membelikan ibunya perhiasan dan rumah.

Sebuah cita-cita yang mulia.

Tetapi negara menggantung cita-citanya setinggi awan di langit, dan kini Atut  terseok-seok untuk menggapainya.

Karena BBM terus menerus dikurangi subsidinya oleh negara, maka harga-harga juga terus menerus melonjak, maka hutang-hutang juga terus menerus tak terbayar, maka habislah harta-harta benda yang ada untuk melunasi hutang.

Ayahnya menjual satu demi satu petak-petak sawah dan kerbaunya hingga akhirnya habislah seluruh tanah warisan keluarga. Sesudahnya, ayah jatuh sakit. Ibunya pun menjual satu demi satu perhiasan hingga akhirnya habislah seluruh perhiasan untuk membiayai pengobatan ayah dan biaya pendidikan Atut serta dua adiknya.

Dalam keadaan tak mempunyai apa-apa, kecuali gubuk berukuran 5×6 meter tempat mereka berdiam, ayah meninggal dunia. Atut sudah kelas dua SMA ketika itu terjadi. Tadinya ia mau keluar dari sekolah karena sadar akan biayanya namun ibunya berkeras agar ia menamatkan pendidikannya. Tapi dari mana biayanya?

Dengan sangat terpaksa, Ibu menjual rumah itu dengan harga murah dan kemudian mereka sekeluarga pindah ke rumah nenek. Disana, ibu membantu nenek menganyam tikar dan dari uang yang tak seberapa mereka mencoba bertahan hidup.

Syukurlah, Atut bisa menyelesaikan SMA-nya walau dengan kembali berhutang kesana kesini untuk melunasi uang ujian yang ikut-ikutan tergantung di awan.

Dua adik laki-lakinya tidak berniat meneruskan sekolah. Mereka lebih memilih menjadi buruh tani untuk membantu membiayai kebutuhan hidup.

Dari konfigurasi keluarga yang seperti ini, menjadi logis bila Atut lah tumpuan keluarga ini untuk memperbaiki nasib.

Tetapi, hanya dengan ijazah SMA? Di kota kecil pula?

Harapannya mampu mengubur pesimisme itu. Ia bertekad untuk pergi ke kota lain yang lebih menjanjikan.

Tangerang, Kota Seribu Pabrik, menjadi tujuannya. Ia bisa menumpang hidup sementara di rumah Halim, mamangnya. Sambil membantu pekerjaan rumah di pagi hari, ia bisa melamar kerja sesudahnya. Begitu terus aktivitasnya sepanjang hari.

Tapi memang realita hidup sangatlah keras. Tak mudah baginya mendapatkan kerja. Sudah beratus-ratus surat lamaran ia berikan dan sudah beratus-ratus penolakan ia terima. Aneka ragam pabrik ia datangi dan aneka ragam alasan ia dapati.

Sudah hampir sebulan ia mencoba dan selalu gagal. Akhirnya Atut menurunkan standar pekerjaannya. Ia melamar menjadi pelayan di rumah makan Padang. Tak sampai dua minggu ia berhenti karena gaji yang didapat tak pernah tersisa sedikitpun. Bukan karena ia tak hemat tapi memang gajinya kecil.

Lalu ia mencoba membuka usaha binatu kecil-kecilan di rumah mamangnya. Lumayan banyak juga pelanggannya. Sayangnya musim hujan tiba dan lebih lama dari biasanya. Para pelanggannya mengeluh karena pakaian mereka lama keringnya. Itu bukan kesalahan Atut, tapi mana mau mereka mengerti. Satu demi satu pelanggan berhenti dan berhenti pula bisnis kecil-kecilannya itu.

Hingga akhirnya datanglah kabar dari mamangnya bahwa ada lamaran kerja di tempat bilyar. Atut senang mendengarnya, ia sudah menyiapkan surat lamaran, fotokopi ijazah dan kelengkapan lain yang kira-kira dibutuhkan.

Sorenya, ia pun berangkat dengan harapan yang seakan tak pernah ada habisnya.

Malamnya, Atut malah ditangkap. Ia dicurigai sebagai pelacur oleh petugas pamong praja yang berbekal Perda no. 8 berhak menangkap siapapun yang dicurigai sebagai pelacur. Dan tentu saja korban kecurigaan mereka ya perempuan.

Mau dibilang apa lagi, Atut Chosiyah yang satu ini memang berbeda sama sekali dengan Atut Chosiyah yang berkuasa di Provinsi Banten. Nama boleh sama, jenis kelamin juga. Tapi nasib jelas-jelas berbeda.

 

 

 

* _ *

 

 

Dalam persidangan yang digelar secara terbuka di dalam gedung Pusat Pemerintahan. Disaksikan para pegawai negeri, Walikota, anggota DPRD bahkan Gubernur, gadis malang itu ikut disidang bersama puluhan perempuan lainnya. Tanpa didampingi pembela yang merupakan hak terdakwa, juga tiadanya satu pun saksi yang meringankan, Atut dinyatakan bersalah dan dikenai hukuman penjara 7 hari subsider denda Rp.500.000,-

Dari mana uang sebanyak itu? Entahlah, mana sang hakim mau mengerti bahwa bagi orang-orang seperti Atut uang sebesar itu sangatlah sulit untuk didapatkan. Ia pun tak mau mamangnya berhutang untuk membayar denda itu. Sekali lagi, dalam keadaan tak berdaya, Atut tak punya pilihan selain dipenjara.

Di dalam bui, ia bergaul, belajar dan menyadari bahwa mencari uang itu sangat susah baik itu yang halal maupun yang haram.

 

 

 

* _  *

 

Itulah kisah lama dirinya. Atut Chosiyah, pelacur yang biasa mangkal di jalan-jalan raya kota Tangerang. Ia sudah berdandan secantik mungkin dan kini sedang menunggu laki-laki yang mau membayar demi menikmati tubuhnya. Tubuh yang sedari dulu tak pernah bisa dikuasainya.

 

 

 

                                                                                                                11 Maret 2006

                                                                                                                                                       19:05