MENCARI GURU PRIVAT TUTUP MULUT

tutupmulut

Pikiran tersebut melintas dan mengendap dalam benaknya selama dalam perjalanan pulang. Namun dimana mencari guru privat tutup mulut? Apa perlu membuat selebaran dan menempelkannya di tiang-tiang listrik berjejal dengan iklan sedot wc? Atau cukup menuliskannya di laman belanja daring dan menunggu respon via telepon atau surel? Selebaran di tiang listrik atau iklan daring hanya menjawab bagaimana mencarinya namun tidak menuntaskan untuk pertanyaan dimana mencarinya. Lagi pula ada yang lebih mendasar: apa pernah ada guru privat tutup mulut?

Dimanapun, yang namanya guru harus menerangkan sejelas-jelasnya kepada sang murid mengenai apa yang dipelajari. Metodologi pendidikan sudah seperti itu dari zaman dahulu. Ada teori dan ada pula praktik untuk segala hal. Keduanya bertaut dalam upaya memberikan pemahaman menyeluruh kepada murid. Teori tanpa praktik akan membuat murid mengawang, praktik tanpa teori hanya membuat murid tersesat. Akan menjadi baik bila tersesat di jalur yang tepat, banyak yang menyebut itu jalan pintas menuju tuntas, tetapi tidak semua orang diberi anugerah dapat memilih sendiri jalurnya yang tepat. Itulah kenapa ada orang-orang yang memiliki talenta mendidik orang lain agar mampu menemukan jalurnya yang tepat.

Masalahnya adalah apa yang diajarkan seorang guru tutup mulut? Tujuannya jelas, mampu membuat mulut terjaga rapat. Tetapi bagaimana metodologinya? Teori dan praktik tutup mulut belum menjadi ilmu yang sistematis. Teori tutup mulut belum terdefinisikan dengan jelas. Kebanyakan upaya tutup mulut adalah sebatas respon atas suatu permasalahan yang dirasa tidak mampu atau tidak ingin untuk dijawab. Ada pula beberapa kasus tutup mulut yang didramatisir dengan menjahit mulut sebagai upaya mendapat perhatian atas tuntutan yang diajukan. Untuk hal tersebut baru terjadi belakangan ini di kala media memberikan ruang lebih bagi aksi-aksi dramatis yang dilakukan individu dengan tujuan tertentu. Apakah tutup mulut bagian dari ilmu komunikasi? Bila ya maka yang nampak adalah kontradiksi. Bagaimana mungkin mengomunikasikan sesuatu dengan menutup mulut? Bila mengutip frasa “medium is the message” maka itu menjadi mungkin. Tutup mulut menjadi pesan yang ingin dikomunikasikan. Tetapi dalam realita hal tersebut menjadi mengawang, karena tidak adanya relasi interaktif antara komunikator dengan komunikan. Tanpa relasi interaktif maka komunikasi yang terjalin lebih tepat disebut monolog. Penceramah, ulama, guru, aktor, komandan tentara hingga orang gila melakukan komunikasi dalam bentuk monolog dengan tujuan yang berbeda. Mereka menuntut aksi tutup mulut dari sasaran komunikasinya agar apa yang disampaikannya utuh tidak terpotong. Pengecualian mungkin bagi orang gila, karena sepertinya mereka tidak peduli apakah ada yang mendengarkan monolog mereka.

Setiap manusia memiliki kebutuhan untuk bersosial, berinteraksi dengan sesama manusia. Komunikasi menjadi wahana mewujudkan kebutuhan tersebut. Ada beragam komunikasi yang bisa dilakukan, bisa secara verbal melalui bantuan mulut untuk menyuarakan apa yang ingin diungkapkan, bisa pula melalui tulisan bila komunikasi verbal dirasa memiliki keterbatasan seperti yang terjadi pada mereka yang tidak mampu berbicara dengan jelas karena cacat atau karena ada rincian yang sulit dibedakan melalui ujaran. Selain itu ada pula komunikasi yang disampaikan melalui penanda entah itu bahasa tubuh atau kode-kode dengan bantuan alat atau benda. Contoh konkret bentuk komunikasi ini adalah karya seni karena seni mengincar jiwa sebagai sasaran komunikasinya tetapi tidak seperti komunikasi verbal atau tulisan yang jelas dan ringkas maka komunikasi penanda mendapatkan tafsir yang berbeda-beda dari setiap jiwa atau malah bisa saja tidak berarti apapun. Selain itu komunikasi penanda yang disampaikan sebuah karya seni lebih sebatas simulasi dari realitas dan bukan realitas itu sendiri karenanya butuh jiwa dengan wawasan luas dan merdeka untuk mampu mengkonversi penanda-penanda tersebut menjadi komunikasi dialogis dalam realitas sehari-hari. Tutup mulut dapat saja dikategorikan sebagai bentuk komunikasi penanda namun bila itu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari hanya akan menelurkan kevakuman. Dan dalam situasi tersebut sulit terjadi interaksi dialogis.

Masalah lainnya adalah bagaimana praktik pelajaran tutup mulut? Ini pertanyaan yang timbul bila kita memaksakan tutup mulut sebagai suatu komunikasi. Bagaimana guru mengajarkan praktik tutup mulut? Bila ia melakukannya dalam aksi tutup mulut apakah murid memahami cara tepat untuk tutup mulut sebagaimana yang diajarkan? Bila guru mengajarkan tutup mulut dengan kata-kata yang berlimpah justru menjadi kontradiktif seperti yang sudah saya tuliskan di alinea dua cerita ini, bukan?

Ya, ini sebuah cerita. Halaman pembuka seperti yang sudah tertulis di atas mirip kolom, atau artikel yang berisi opini. Padahal saya sedang menulis cerita. Dan tokoh dalam cerita ini masih dipusingkan oleh masalah dimana mencari guru privat tutup mulut. Tidak pernah ada orang di dunia ini yang pernah menjadi guru privat tutup mulut, setidaknya google tidak pernah menemukan data tentang hal tersebut. Lagi pula tidak pernah tercatat ada orang yang membutuhkan guru privat tutup mulut, karena bila ada yang pernah memerlukan maka akan menciptakan peluang kerja sebagai guru privat tutup mulut dan imbasnya bisa jadi akan tercatat di google. Sempat terpikir olehnya untuk mendatangi Limbad, seorang penghibur dalam bidang ilusi yang terkenal dengan aksi tutup mulutnya. Namun jika Limbad mau pasti harganya akan mahal, mungkin seharga mobil sedan mewah. Ini asumsi yang didasari oleh pembacaan atas gaya hidup Limbad itu sendiri yang besar kemungkinan logis. Tetapi Limbad pun sebenarnya menggunakan aksi tutup mulut untuk menonjolkan ilusi kekuatan tenaganya dan bukan sebagai bentuk komunikasi karena dalam banyak kesempatan ia pun berbicara verbal namun dengan berbisik. Kompetensi dan kapabilitas Limbad dirasa belum mencukupi untuk layak dijadikan guru tutup mulut. Karenanya ia pun menyingkirkan pikiran untuk mendatangi Limbad.
Kebutuhan akan guru tutup mulut ini tercetus sebagai refleksi atas kejadian yang dialaminya pagi ini. Ia merasa telah mengatakan kalimat yang membuatnya disalah artikan. Sebenarnya hal ini tidak merisaukan bila orang yang salah mengartikan itu adalah kawan sehari-hari atau malah orang asing, ini menjadi masalah bagi pikirannya karena orang tersebut adalah perempuan yang istimewa di hatinya, seorang yang ingin diberikannya kesan positif dari dirinya. Segala harapan menjadi antiklimaks karena kesalah pahaman. Ia sendiri sebenarnya tidak mengetahui secara tepat kalimat apa yang sudah diucapkannya yang menjadi sumber kesalahpahaman tersebut. Bila anda menduga bahwa ia sudah mengucapkan rasa cinta kepada perempuan istimewa tersebut sebagai sebabnya maka anda keliru. Dialog yang terjadi pagi itu bukanlah komunikasi cinta a la remaja, tetapi interaksi pemikiran mengenai hal-hal yang menjadi interes keduanya. Mereka berdua berada di jalur yang serupa, hanya cara mereka memandang jelas berbeda walaupun tidak bertentangan secara diametral. Tokoh utama dalam cerita ini merasa telah bersikap defensif dalam berkomunikasi, hal itu biasanya terjadi bila dirinya merasa ditekan atau diserang secara verbal. Defensif adalah reaksi alamiahnya dalam menghadapi tekanan atau serangan dari lawan komunikasinya. Dan dalam keadaan defensif tanpa sengaja ia mengeluarkan kalimat-kalimat yang sebenarnya tidak penting untuk diucapkan. Padahal awalnya ia hanya ingin membuka dirinya sebagai seorang yang suka membaca, dalam pengertian filosofis. Tanpa disadari, hasil pembacaannya atas situasi yang terjadi disekitarnya dimaknakan sebagai caranya bersikap. Ia menyesal terlampau jujur dan membiarkan mulutnya terus berbicara tanpa kendali. Bila saja ia mampu menentukan waktu berbicara dan saatnya tutup mulut mungkin perasaan ini tidak membebaninya.

Dua belas stasiun perhentian terasa cepat berlalu, bukan karena ia sedang menaiki kereta rel listrik yang memang melaju pesat tanpa hambatan melainkan karena pergumulan batin yang dialaminya. Untunglah selama perjalanan tidak ada seorangpun yang mengajak berbicara, kota memang dipenuhi orang-orang tanpa komunikasi verbal sejati. Jika pun ada sebatas basa-basi. Bila ada yang mengajaknya bicara mungkin akan timbul kesalahpahaman baru walau kadarnya pasti berbeda dan bisa diabaikan.

Berdasarkan pengalaman ketika baru pindah ke tempat yang dekat dengan stasiun kereta itu, ia juga pernah merasakan kesalahpahaman dengan mereka yang sudah lebih dahulu tinggal di sekitar rumahnya sejak generasi terdahulu orangtuanya. Mereka yang mengidentifikasikan diri sebagai pribumi ini merasa perlu dirajakan oleh orang-orang yang baru tinggal belakangan. Tanpa komunikasi yang interaktif dan saling memahami itulah timbul intimidasi yang direspon dengan perlawanan yang kemudian membesar menjadi tawuran massal antar kelompok. Antara pendatang yang melawan dominasi pribumi. Untunglah itu hanya temporer, untuk kemudian kedua pihak saling menghargai dan malah berkawan karib hingga kini lebih dari dua puluh tahun kemudian di saat mereka juga sama menua.

Tetapi apakah mungkin memori pengalaman kolektif tersebut diaplikasikan dalam memahami situasi dua individu seperti yang dialaminya hari ini? Bisa jadi, bukankah pertambahan umur seseorang akan mempengaruhi caranya memandang persoalan baik dirinya sendiri ataupun relasinya dengan individu lain juga kelompok sosial?

Tuuh puluh satu hari ke depan usianya genap empat puluh tahun. Usia yang bagi banyak orang diposisikan sebagai titik balik dalam hidup. Ada kalimat bijak menghibur yang kemudian teringat olehnya bahwa; di usia dua puluhan kita tak peduli omongan orang lain, di usia tiga puluhan kita khawatir dengan omongan orang lain dan di usia empat puluhan kita pun tahu bahwa orang lain tak memikirkan kita. Dia mendengarnya sejak lama walau tidak pernah tahu siapa yang mengatakannya namun jelang usia empat puluh ini dia baru menyadari bahwa kalimat bijak tersebut telah membantunya keluar dari kabut yang menyelimuti pikirannya sepanjang hari.

Bukan lantas ia menganggap perempuan istimewa yang salah mengartikan dirinya adalah orang yang tak peduli tetapi ia lebih memilih bahwa itulah bentuk kepeduliannya menyikapi kejujuran yang sudah diucapkannya. Oleh karenanya ia tak merasa perlu lagi untuk mencari guru privat tutup mulut. Kejujuran dalam komunikasi lebih penting dibanding menutup diri. Jika pun nanti terjadi salah pengertian maka tak perlu menciptakan kabut lagi melainkan terbang ke tempat lebih tinggi agar dapat menertawakan diri sendiri.

21 Oktober 2015

21:27 WIB

Iklan

JOKOWI, DI BULLY DAN DI BELA.

INTRO

Sejak 14 Maret 2014 resmilah sudah Joko Widodo menjadi calon Presiden yang diusung oleh PDIP lewat surat mandat yang ditulis  tangan dan ditanda tangani langsung oleh Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Umum PDIP.

Hal ini membuahkan pro dan kontra tentunya bagi masyarakat Indonesia. Yang pro tentulah membela keputusan tersebut, terlepas dari apakah mereka anggota PDIP atau bukan. Sedangkan yang kontra tentulah membully Jokowi dengan berbagai cara dan lewat berbagai mulut.

Jokowi4President

DI BULLY DAN DIBELA.

Media massa tentulah secara sadar telah melakukan upaya bully terhadap Jokowi, ini menjadi logis karena nyaris semua media massa dimiliki oleh petinggi parpol yang tidak mengusung Jokowi. Dengan cara jurnalisme dan meminjam mulut rakyat mereka menilai Jokowi masih memiliki hutang terhadap Kota Jakarta karena banyak agenda dan janji-janji yang belum diwujudkan olehnya selama ia memimpin sejak 2012 silam.

Biasanya mereka (dalam hal ini rakyat dan pengamat yang diwawancarai media) lalu menelisik jauh ke belakang di saat Jokowi belum selesai dengan Solo lalu hijrah ke Ibukota dan belum lagi usai dengan Jakarta sudah pindah ke ranah Nasional. Opini ini merujuk kepada keraguan akan konsistensi  Jokowi. Pertanyaan yang muncul dari adanya opini ini adalah: apakah Solo berantakan ditinggalkan Jokowi? Bukankah sistem politik kita sudah mengatur tentang peralihan kekuasaan dan karena itu hadirlah Wakil Walikota yang bisa naik menduduki jabatan Walikota bila sang Walikota dipecat, mengundurkan diri atau berhalangan tetap. FX Roedyatmo, Walikota Solo yang menggantikan Jokowi, membuktikan bahwa ia mampu bekerja sebaik Jokowi (saya katakan sebaik Jokowi karena lewat jabatan Walikota Solo, Jokowi menjadi salah satu Walikota Terbaik di dunia yang pernah ada oleh penilaian sebuah situs luar negeri). Jokowi meninggalkan Solo tidak dengan tanpa mewariskan program kepada Roedyatmo. Program mobil nasional esemka masih berjalan, begitu pun program-program penataan kota yang tidak menindas kaki lima sudah menjadi agenda kerja selama periode kepemimpinan sesudah Jokowi.
Tidak ada bukti bahwa Solo hancur lebur ditinggal Jokowi. Begitu pun dengan Jakarta sepeninggal Jokowi, saya yakin Basuki Tjahaja Purnama sanggup bekerja sebaik Jokowi dan tentunya tidak akan sama gaya kepemimpinannya tetapi yang lebih penting adalah program-program yang menjadi janji-janji pasangan ini ketika Pilgub lalu sudah menjadi agenda Gubernur DKI hingga 2017 mendatang. Jadi apa yang mesti ditakuti bila Jokowi hanya setahun lebih di Jakarta dan hijrah ke pentas politik nasional?

Ada lagi upaya bully lainnya dari mereka yang pernah dikalahkan Jokowi dalam Pilgub DKI dengan mengatakan blusukan Jokowi adalah pencitraan. Benarkah demikian? Apakah pencitraan itu? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,pencitraan dengan kata dasarnya citra memiliki arti gambaran, rupa. Sehingga pencitraan bisa diartikan sebagai upaya membentuk citra mental pribadi atau gambaran sesuatu; kesan atau gambaran visual yg ditimbulkan lewat kata atau visual. Dalam politik kontemporer, istilah pencitraan bisa diartikan upaya memoles diri dengan kosmetik berlebih yang menggambarkan kebaikan yang diinginkan. Itu artinya seorang koruptor bila memoles dirinya menjadi terlihat alim di mata masyarakat itu disebut pencitraan. Tetapi apakah bila seseorang yang baik dan memiliki reputasi baik karena kinerjanya baik dan diterima masyarakat itu juga disebut pencitraan? Dalam sejarah kepemimpinan nasional baru kali ini saya melihat seorang Gubernur  turun ke selokan hanya untuk memastikan laporan anak buahnya tentang selokan yang mampet. Sebelumnya, bahkan seorang kepala dinas pun enggan turun dari mobil mewahnya untuk merasakan sendiri masalah yang timbul di masyarakat. Apakah ini pencitraan? Tentu saja itu pencitraan, bagi mereka yang dikalahkan Jokowi. Karena opini-opini tersebut datang dari petinggi parpol berkuasa yang kalah mutlak dalam Pilgub DKI kemarin. Padahal mereka sudah dibantu birokrat, Panwaslu dan KPUD untuk mempertahankan kursi Gubernur tetapi rakyat berkehendak lain. Dan fenomena ini akhirnya membuka mata masyarakat agar mampu membedakan mana yang pencitraan dan mana yang realita. Konsistensi Jokowi sebenarnya sudah terasa   ketika ia menjabat Gubernur DKI, ia rajin blusukan karena ia meyakini untuk memahami masalah masyarakat maka pemimpin harus turun langsung ke masyarakat bukan melalui laporan-laporan birokrasi yang sering kali penuh tipu daya. Malah akibatnya banyak petinggi negara juga ikut-ikutan blusukan, lihatlah presiden dan mentri-mentri yang turun ke pasar, posko pengungsian dan lain sebagainya. Terasa janggal bila blusukan dilakukan oleh mereka karena mereka melakukan blusukan sebagai strategi memenangkan hati rakyat bukan memahami persoalan rakyat. Dalam kalimat yang singkat dan keras, mereka tidak tulus. Blusukan mereka hanya menambah beban rakyat dengan adanya voorrider yang panjangnya bukan kepalang, belum lagi sensor terhadap apa yang ingin diucapkan rakyat terhada presiden. Itu namanya blusukan yang busuk. Tidak berpengaruh apapun di hati rakyat. Jadi, apakah kinerja Jokowi selama ini hanyalah hasil pencitraan semata? Rakyat lebih tahu jawabannya ketimbang para petinggi parpol tersebut.

Ada lagi “dosa” terbaru Jokowi yang dengan gencarnya dikorek media massa belum lama ini yaitu mengenai pengadaan bus TransJakarta yang diindikasikan barang bekas. Mengenai hal ini sebenarnya sudah ada mekanismenya melalui BPKP yang akan mengaudit transaksi pengadaan bus ini. Dan Jokowi sudah membuka pintu bagi BPKP untuk menemukan penyimpangan tersebut dan mencari pelakunya sehingga bisa dikenai sanksi. Apa ini salah Jokowi? Alangkah bodohnya Gubernur bila harus turun langsung untuk hal yang menjadi ranah dinas perhubungan. Kepala Dinas Perhubungan sudah dimutasi sementara audit sedang berjalan, ini untuk menghindari upaya menghilangkan bukti-bukti berkait bila memang benar dirinya bersalah. Dan itu sudah tepat, lalu untuk apa “dosa” ini ditimpakan kepada Jokowi? Tentu saja bagi para seteru politik, salah atau benar Jokowi tetap salah. Sama seperti ketika musim hujan turun dan mengakibatkan banjir di Jakarta maka hal tersebut menjadi kesalahan Jokowi pula, padahal ia sudah mempercepat pembangunan Banjir Kanal untuk mengatur lalu lintas air berlebih. Kalau pun itu belum memberikan hasil maka itu bukan berarti Jokowi salah, tetapi banjir tidak bisa diselesaikan oleh Gubernur DKI semata karena butuh koordinasi dengan kepala-kepala daerah dari wilayah sekitar Jakarta yang memiliki rute sungai melewati Jakarta. Komunikasi kepada kepala-kepala daerah sudah diintensifkan, tinggal menunggu program tersebut dijalankan secara bersamaan di tiap daerah dan semoga banjir dapat teratasi.

Dalam hitungan jam sesudah Jokowi diberi mandat untuk menjadi Capres, Mendagri Gamawan Fauzi berkomentar bahwa Jokowi harus minta izin kepada Presiden. Bila itu menyangkut cuti sebagai juru kampanye maka hal tersebut sudah diatur dalam Undang-Undang,dan  bila SBY tidak memberikan izin maka itu akan menurunkan popularitasnya di mata rakyat karena ia telah bersikap tidak adil dalam pemberian izin. Lihatlah semua mentrinya, mereka semua menjadi jurkam bagi partainya masing-masing dan tidak masalah begitu pula dengan kepala-kepala daerah yang berasal dari PD dan sekutunya. Lalu bila hanya Jokowi yang tidak diberikan izin cuti kampanye maka PD bakal langsung anjlok perolehan suaranya dalam pemilu kali ini.
Bila yang dimaksud Gamawan  adalah pengajuan izin karena menjadi capres, apakah ini sudah diatur dalam UU? Ini adalah preseden yang belum tersentuh para legislator. Saya mengandaikan para legislator tentu tak ingin memberatkan para Ketua Umumnya untuk melaju di Pemilihan Presiden, karena yang selama ini mengajukan diri sebagai Capres ya para Ketua Umum atau Ketua Dewan Pembina dari Parpol. Atau ada pula konvensi, seperti yang sudah dilakukan Partai Golkar tahun 2004 dan kini dilakukan Partai Demokrat. Namun belum pernah ada sejarah Gubernur yang bukan Ketua Umum atau Ketua Dewan Pembina Parpol diusung sebagai capres, bukan? Baru Jokowi, capres yang didukung oleh para aktivis pro demokrasi jauh sebelum mandat Mega turun. Penggalangan dana swadaya untuk Jokowi sudah dilakukan dengan bermacam cara sejak setahun terakhir. Dan itu membuktikan dukungan untuk Jokowi tidak hanya sebatas anggota PDIP saja tetapi masyarakat yang lebih luas.  Opini yang berkembang di masyarakat  dari sentilan Gamawan tersebut tak lain upaya terakhir menjegal Jokowi sebagai capres.

Berkaca dari pengalaman Pilgub DKI, saya meyakini akal-akalan mentri tersebut dan petinggi parpol lainnya tidak akan mendapat simpati dari masyarakat luas. Karena rakyat sudah bosan dengan kinerja mentri dibawah SBY selama 10 tahun yang terlalu panjang ini. Harga-harga kebutuhan pokok semakin melesat naik, sementara gaji pokok naik setitik demi setitik. Itu baru kebutuhan dasar, belum lagi masalah lainnya seperti terpeliharanya ormas-ormas vigilante yang bertugas mengacaukan kerukunan beragama dan menghancurkan gereja-gereja. Lebih tepat bila mereka disebut milisi, lihatlah penampilannya yang sangat militeristik dengan sistem komando yang terkoordinasi rapi dengan aparat setempat. (Mendagri Gamawan Fauzi pernah kena tulahnya karena membela FPI tetapi kemudian kantornya dihancurkan FPI tetapi bodohnya ia masih membela FPI, pastilah ini pemikiran strategis.)
Milisi-milisi inilah yang perlu dikhawatirkan selama 4 bulan ke depan. Mereka bisa menyusup kedalam khotbah-khotbah di mesjid atau musholla dengan meminjam mulut para khatib atau penceramah dan kemudian menggulirkan kampanye hitam terhadap Jokowi. Hal ini bukan baru terjadi, tetapi sudah ada sejak era orba dan lebih vulgar lagi di zaman reformasi. Tahun 1999, 2004, 2009 dan kini 2014 akan banyak dipenuhi khotbah-khotbah agitatif. Biasanya argumen yang diungkap adalah PDIP itu partainya orang Kristen, maka haramlah memilih pemimpin dari PDIP. Dalih ini pasti ditertawakan oleh orang berakal tetapi bagaimana dengan pola patron masyarakat kita yang akan mengikuti apapun kata ulama atau panutannya tanpa daya kritis? Pada saat Pilgub lalu muncul isu, orangtua Jokowi itu non-muslim dan isu itu palsu.  Bisa jadi isu palsu yang lebih dahsyat akan muncul lagi kali ini. Bila soal isu tentu melibatkankan orang-orang cerdik, mereka bisa berupa akun anonim di media sosial (seperti TrioMacan2000 yang tak pernah saya ikuti karena tak jelas), mulut-mulut pengurus parpol yang memiliki capresnya sendiri, konsultan politik yang membuat jajak pendapat berdasarkan bayaran atau bisa pula lewat mulut rakyat yang terpedaya oleh isu-isu yang dilontarkan orang-orang cerdik di atas. Tapi isu itu tak akan mempan bila rakyat memahami situasi. Yang lebih dikhawatirkan lebih dari isu adalah intimidasi politis lewat tangan milisi-milisi berbaju ormas, mereka bergerak dalam tataran fisik dan itu menakutkan bagi kebanyakan rakyat. Kita lihat nanti apakah Polri benar-benar netral seperti yang diucapkan Jendral Sutarman bila intimidasi ini terjadi nanti.

OUTRO

Pada tahun 2011 saya mementaskan monolog “Hitler For President” di beberapa tempat, visi saya dengan pentas tersebut adalah masyarakat dapat membedakan mana pemimpin yang bijak dan mana pemimpin yang menjebak. Di lakon tersebut, Hitler (manifestasi dari rasialisme) tampak seperti seorang santo, seorang  kudus. Dan ia juga berapi-api layaknya Soekarno. Tetapi ia tetap Hitler, yang akan membantai mereka yang berseberangan dengan tujuannya membentuk Ras Murni Arya. Jangan mudah tertipu dengan penampilan, itu harapan saya bagi rakyat banyak sebagaimana juga jangan mudah terhasut dengan provokasi dan agitasi yang mengkotakkan kita berdasarkan agama, suku dan ras. Karena Republik Indonesia adalah negeri untuk bangsa Indonesia.

15 Maret 2014

22:50 WiB