TIDUR DI PUNGGUNG LEMBU

Saya tidak sedang membahas gembala dengan memakai judul di atas. Lembu yang saya maksud adalah nama sebuah gunung yang berada di Desa Panyindangan, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta di Provinsi Jawa Barat. Berjarak sekitar 94 kilometer dari rumahku (berdasarkan perhitungan google map) dan memiliki ketinggian 792 mdpl. Jangan remehkan ketinggiannya karena jalur menuju puncaknya didominasi tanjakan yang jelas menguras energi para pendaki. Mengutip ujaran mereka maka jalur Gunung Lembu itu “gak ada bonusnya.

Gunung Lembu menjadi tujuan perjalanan saya menutup tahun 2017 berdasarkan referensi dari sekelompok pendaki yang tahun lalu saya temui di Gunung Guntur. Anda bisa membacanya di tulisan “Gintur di Guntur Lagi” pada blog ini.

di gerbang gunung Lembu

di gerbang gunung Lembu

Terdapat tiga gunung yang berdekatan di Purwakarta yaitu Gunung Lembu, Gunung Bongkok dan Gunung Parang. Pilihan saya jatuh pada gunung Lembu karena di puncaknya bisa melihat matahari terbit dan tenggelam dengan lanskap Danau Jatiluhur di bawahnya. Dan memang pilihan saya tak salah. Karenanya saya mulai mencari informasi mengenai rute perjalanan dan transportasi yang digunakan.

Ada banyak informasi mengenai rute ke gunung Lembu, salah satunya yang lumayan lengkap ada di blog dianjuarsa.com bahkan ia mengurai biaya yang dikeluarkan.  Dari situ saya mendesain perjalanan saya.

Bis Warga Baru jurusan Jakarta−Purwakarta menjadi kendaraan yang saya tumpangi. Dengan tarif 20.000 rupiah dan kursi empuk membuat saya nyaman untuk tidur selama perjalanan. Berangkat dari Terminal Kampung Rambutan pada jam 08:45 WIB dan setibanya di pertigaan Ciganea saya dibangunkan kenek yang menyarankan saya berganti kendaraan umum, saat itu jam 10:40 WIB. Turun dari bis ada seorang tukang ojek menghampiri dan menanyakan tujuan saya. Begitu tahu saya hendak ke gunung Lembu ia menawarkan mengantar dengan tarif 70.000 rupiah, saya pun meminta harga yang lebih rendah dan kami pun sepakat dengan harga 50.000 rupiah. Tetapi rupanya ia tak tahu jalan menuju gunung Lembu, alhasil kami menuju arah yang salah hingga akhirnya kami bertanya−tanya kepada penduduk lokal hingga berkali−kali demi mendapat kepastian arah. Nyaris dua jam ia membawa saya hingga ke tempat pendaftaran di muka kantor kepala desa Panyindangan. Kami berdua sama−sama baru kesini dan sama−sama penat dan lapar dengan jauhnya perjalanan. Saya pun mengajaknya makan di warung yang juga menjadi tempat pendaftaran bagi para pendaki. Dua porsi nasi timbel dengan lauk ayam goreng, tempe orek,  telor dadar dan mie cukup mengisi perut kami dengan harga 28.000 rupiah saja.

bebatuan di jalur gunung Lembu

bebatuan di jalur gunung Lembu

Sesudah makan dan mendaftar dengan biaya 10.000 rupiah (sudah termasuk asuransi) maka tepat jam 13:00 WIB saya memulai pendakian. Benarlah apa yang diucapkan para pendaki sebelumnya bahwa jalur gunung Lembu “gak ada bonusnya” dan itu sudah berlangsung dari titik 0. Ada setidaknya tiga lokasi untuk tenda yaitu di Pasir Rompang, Lapang Kapal dan puncak. Dan diantara jalur perkemahan juga terdapat dua petilasan yaitu milik mbah Suryakencana dan Mbah Jonggrang. Dian Juarsa memberi peringatan dalam tulisannya agar tidak menduduki petilasan tersebut dengan alasan apapun.

jalur gak ada bonus

jalur gak ada bonus

Menjelang puncak, anda akan disuguhi pemandangan bagan−bagan yang mengapung di atas Jatiluhur pada sisi kanan arah perjalanan dan lanskap gunung Parang di sebelah kiri.  Berhentilah sejenak untuk menikmati keindahannya. Akan memakan waktu sekitar 100 menit dengan perjalanan yang santai untuk tiba di puncak yang siang itu sudah dipenuhi tenda para pendaki. Saya memilih tempat yang berjarak sekitar 20 meter sebelum puncak dimana masih lapang untuk membangun tenda. Sama seperti perjalanan saya sebelumnya, tenda yang saya bawa terbuat dari banner yang saya bentuk menjadi tenda layak ditiduri. Selesai mendirikan tenda hujan turun dengan rimbunnya disertai desir petir yang sesekali membuas. Saya pun hanya bisa rebahan di dalam tenda sambil sesekali melirik sinyal ponsel yang timbul−tenggelam tanpa kejelasan. Hingga sore hujan tak reda begitu juga dengan rombongan pendaki yang baru tiba. Lepas maghrib hujan sesekali berhenti dan tercatat ada tiga tenda baru di sekitar saya. Dua tenda milik rombongan dari Purwakarta dan yang terdekat dengan tenda saya adalah dua orang bersaudara yang berasal dari Sunter, Jakarta Utara. Tak banyak obrolan yang kami lakukan karena mereka masih menunggu teman−temannya yang masih di pos 1.  Namun dari cara si kakak yang mempersiapkan segalanya maka jelaslah bahwa si kakak sedang mengajarkan adiknya yang baru kuliah di Bekasi untuk bersahabat dengan alam. Karena letak tenda kami yang berdekatan, si kakak menganjurkan untuk membangun ruang dapur bersama dengan saya, ia mengeluarkan terpal untuk diikat di batang pohon sebagai atap dapur kami. Ia juga menawarkan kompornya bila saya hendak masak, tetapi karena saya sudah membawa kompor kaleng rakitan berbahan bakar spirtus yang tidak mungkin saya sia−siakan maka tawarannya saya tolak.

ambil nafas dan foto

ambil nafas dan foto

Malam tiba bersama dengan kabut, si kakak yang selesai dengan tendanya turun ke bawah untuk menjemput kawan−kawannya. Sang adik berbincang dengan saya yang sedang memasak mi instan, ia sungkan kutawari makan. Ia memilih tidur saat aku sedang bertempur dengan mi. Hujan tidak benar−benar reda sesungguhnya. Para penghuni dua tenda lainnya juga memilih ngobrol di dalam tenda masing−masing. Selesai makan saya membikin kopi agar hangat tetap betah di dalam raga. Hanya ada saya, secangkir kopi, gerimis dan rombongan pendaki yang lalu lalang pada senja terakhir di tahun 2017 itu.

pemandangan jelang puncak

pemandangan jelang puncak

Tenggelamnya matahari memang tak bisa disaksikan namun harapanku bertumpu pada terbitnya sang surya, karenanya agar tak terlewatkan saya memutuskan tidur segera. Apalagi sinyal ponsel seperti letih mendaki maka tak ada yang bisa dilakukan kecuali tidur di punggung Lembu.

Jatiluhur dari atas

Jatiluhur dari atas

Sempat beberapa kali terbangun karena bunyi notifikasi medsos dan suara kawan−kawan si kakak yang sudah tiba. Namun yang paling mengganggu adalah saat tengah malam ada letusan kembang api dari puncak (perkiraan lokasi berdasarkan bunyinya yang terasa dekat) yang besar kemungkinan dibawa pendaki lain. Bukanlah tindak kriminal meledakkan kembang api apalagi di malam pergantian tahun, tetapi bukankah kita mendaki untuk menyepi?

zoom in

zoom in

Pertanyaan di atas sebenarnya juga otokritik. Kenapa saya masih membiarkan internet tetap nyala di ponsel? Akibatnya fatal, tepat jam 00:00 ponselku mati karena kehabisan daya. Padahal ia masih kubutuhkan untuk esok. Saya membawa ponsel cadangan sebenarnya,  tetapi kualitas gambar dan kondisi baterainya lemah. Mau tidak mau saya harus merasakan konsekwensi kelalaian yang saya lakukan.

siluet

siluet

Sekitar jam tiga dini hari, saya terbangun. Dingin yang menyelinap memaksaku bergegas dan menyalakan kompor untuk memasak air dan makanan. Dari cahaya bulan yang teriris pepohonan aku bisa melihat si kakak yang juga terbangun karena dingin. Ia tidur di luar karena di dalam tenda sudah penuh dan setelah berbincang sebentar ia merapat dan rebah di antara pepohonan dan temannya yang sudah lelap dalam kantong tidur.  Sumber panas dari kompor cukup menghangatkanku. Setelah makan dan minum kopi, aku lekas berkemas untuk pindah ke Batu Lembu yang berjarak sekitar 20 menit dari puncak ke arah bawah.

di Batu Lembu

di Batu Lembu

Matahari sudah menyembul saat kakiku melangkah. Tiba di pos 3 yang berada di Batu Lembu nampak sudah puluhan orang sudah berjejal di sana. Batu Lembu adalah titik terbaik di gunung ini untuk menyaksikan matahari terbit. Luasnya tidak seberapa namun curam dan di tepiannya hanya ada pagar besi yang tidak rapat. Konon, bila dilihat dari arah timur maka gunung ini menyerupai Lembu yang sedang duduk dan Batu Lembu itu laksana hidungnya dan karena itulah penduduk sekitar menamainya gunung Lembu. Ditinjau dari perspektif geologi, gunung Lembu dan kawasan sekitarnya sebenarnya sebuah gunung yang lebih tinggi lagi. Erupsi maha dahsyat ribuan tahun silam membuat ketinggiannya terpotong dan lava yang tersumbat secara alamiah mengeras dan membentuk menjadi gunung−gunung. Itulah kenapa banyak sekali batu besar di gunung dan tidak memiliki mata air. Informasi ini saya dapat di pos pendaftaran.

mentari terbit

mentari terbit

Kembali ke Batu Lembu, saya senang sekali bisa menjadi bagian dari orang−orang yang sudah berjuang tiba di sini untuk menyaksikan fajar merekah untuk pertama kalinya di tahun 2018. Ini adalah situasi yang tidak bisa digambarkan lewat kata. Karena ini adalah harta yang tak akan bisa dicuri siapapun juga. Terlalu berharga untuk dikonversi menjadi kalimat. Begitu pula keberadaan gunung Lembu ini yang berharga tidak hanya bagi manusia tetapi juga hewan dan tumbuhan yang ada di sana. Sayangnya banyak ulah merusak para pendaki lewat mencoret bebatuan dan membuang sampah sembarangan. Saya pun termasuk. Namun sampah yang saya tinggalkan adalah tenda dengan harapan bisa digunakan oleh pendaki perorangan yang tidak membawa tenda. Selain itu juga mengurangi banyak beban yang harus saya pikul dalam perjalanan pulang.

Saya tidak berlama di Batu Lembu, saat matahari sudah mulai membulat saya berangkat. Lewat ponsel orang yang berada di sebelah saya tahu kini jam 05:50 WIB. Perjalanan turun selalu lebih cepat dari mendaki. Pagi itu juga banyak remaja yang baru tiba. Kebanyakan dari mereka tidak merencanakan berkemah, ini terlihat dari minimalnya barang yang dibawa. Bahkan ada juga yang hanya membawa ponsel di tangan dan bersendal jepit.

Tiba di bawah tepat jam 07:00 WIB. Saya bertemu empat pemuda dari Bekasi yang juga baru turun. Inilah enaknya naik gunung, walau pergi sendiri saya tidak takut kesepian. Mereka menawarkan tumpangan sampai di jalan raya terdekat.  Setelah sarapan dan minum kopi, satu setengah jam kemudian kami ke tempat parkir dan disana bertemu lagi dengan empat pemuda lainnya yang juga berasal dari Bekasi. Dengan mengendarai empat motor kami bersembilan meninggalkan desa Panyindangan. Ternyata jalur mereka berbeda dengan rute yang saya lewati sebelumnya namun membawa saya mengetahui keberadaan stasiun Sukatani.

Dari situ saya mengusulkan rute baru bagi pendaki gunung Lembu atau gunung Parang. Bila biasanya mereka yang menggunakan kereta akan melanjutkan dengan menyewa angkot dengan harga antara 250.000−400.000 rupiah (berdasarkan informasi yang saya kumpulkan selama di gunung) maka ada opsi lain yaitu dengan menumpang kereta lokal Purwakarta−Cibatu dan turun di Stasiun Sukatani dengan waktu  tempuh 27 menit. Dari stasiun Sukatani bisa dilanjutkan dengan ojek (walau sebenarnya tidak ada tukang ojek apalagi pangkalannya di desa ini, namun pemuda setempat mau mengantar dengan tarif yang disepakati bersama dalam kisaran 15−25 ribu saja) hingga di desa Panyindangan. Rute ini akan lebih cepat dan murah dibanding menyewa angkot dari stasiun Purwakarta. Namun anda harus tiba tepat waktu yaitu sebelum jam 15:45 WIB karena jadwalnya hanya sekali sehari.

stasiun purwakarta

Stasiun purwakarta

Kembali ke perjalanan, saya diantar sampai pertigaan Ciganea, tempat saya tiba sehari sebelumnya. Dengan angkot kulanjutkan  menuju  stasiun Purwakarta.  Dan ada yang menarik perhatian saat angkot ini sudah di tengah Purwakarta yaitu kerumunan orang di tempat yang sopir angkot sebut sebagai Situ Buleud. Berbentuk lingkaran yang ditengahnya terdapat kolam dengan patung−patung menghadap ke empat penjuru mata angin. Ingin saya melihat tempat itu namun saya harus memastikan jadwal  kereta dahulu. Saya beruntung karena sesampainnya di stasiun, petugas menjawab bahwa loket baru dibuka mulai jam 13:00 WIB dan itu artinya saya mendapat waktu 3 jam untuk menelusuri Situ Buleud. Aku lalu bergegas memutari Situ Buleud atau yang biasa disebut juga Taman Air mancur Sri Baduga. Aneka sosok dari cerita pewayangan memenuhi pagarnya, dan juga patung besar di muka taman. Soal patung−patung ini memang seakan menjadi ciri Purwakarta. Nyaris di setiap sudut jalan akan di temui karya seni rupa dengan model  tokoh pewayangan. Menjadikan Purwakarta menjadi kabupaten dengan cita rasa artistik yang tinggi. Walau tak mendapat kesempatan memasuki Taman tersebut tetapi cukuplah bisa berfoto dengan latar banner Taman Air Mancur yang disediakan di muka gerbang taman.

di muka taman air mancur Sri Baduga

di muka taman air mancur Sri Baduga

Perjalanan singkat ini harus kuakhiri di awal tahun karena memang rencana dan logistik yang saya bawa hanya untuk perjalanan singkat. Biar singkat tetapi akan melekat dalam ingat. Bak gembala tertidur di punggung lembu dan bermimpi bertemu bidadari.

 

Iklan


Liberty Manik menciptakan lagu ini yang diperdengarkan pertama kali pada tahun 1947 di RRI Jakarta.
Dan berkaitan dengan peringatan hari Sumpah Pemuda maka saya menyodorkan kembali lagu tersebut dengan harapan bisa mengingatkan kita akan tekad untuk bersatu dari para pemuda Indonesia 89 tahun lampau.

GINTUR DI GUNTUR

 

 

Gintur                   : tidur. (dikutip dari Kamus Prokem)

Guntur                 : suara menggelegar di udara (disebabkan oleh halilintar); guruh. (dikutip dari KBBI)

 

Definisi judul di atas menjadi relevan saya tulis karena ada beberapa hal yang bertaut erat dengan isi tulisan. Kata gintur akrab bagi mereka yang lahir di tahun 70-80an, diambil dari bahasa prokem yang tak mudah dimengerti oleh generasi sesudahnya, karena generasi berikutnya memiliki bahasa slang tersendiri dengan rumusan yang berbeda. Kata tidur kini lebih banyak disebut “durti” bagi generasi muda kini sebagai penanda komunikasi. Dan tentu saja baik bahasa prokem era 70-80an dengan bahasa slang masa kini tidak termasuk dalam kaidah berbahasa yang baik dan benar. Namun bila itu efektif tentu tidak penting lagi kaidah-kaidah berbahasa yang baku tersebut.

Kata guntur sendiri bila dibaca dari Kamus Besar Bahasa Indonesia tentu terdengar menyeramkan, tetapi yang saya maksudkan disini adalah nama sebuah gunung yang terletak di Garut, Provinsi Jawa Barat. Walau saya melakukan perjalanan ke gunung Guntur di awal musim hujan namun tidak ada halilintar yang menakutkan.

Gunung Guntur menggoda benak saya sejak sekitar tiga tahun lalu, melalui sebuah acara tv saya menemukan pesona Gunung Guntur. Yang menggoda adalah anda harus melewati areal kering pertambangan pasir sebelum akhirnya menemukan sumber air dan puncak yang beruntun.

Ada empat puncak di Gunung Guntur dan tiap puncak hanya terseling palung yang lumayan dalam untuk kemudian menanjak kembali menuju puncak berikutnya.

Namun sebelum sampai di puncak, ada baiknya saya urutkan dahulu kronologis rute menuju Gunung Guntur.

Saya memilih moda transportasi bis untuk menuju Garut. Ada beberapa pilihan terminal. Kalideres, Ciputat dan Kampung Rambutan. Karena saya ingin tiba di Garut pagi hari maka pilihan saya jatuh pada terminal Kampung Rambutan, karena dari sini ada jadwal keberangkatan tengah malam. Tetapi perlu dibaca rutenya karena ternyata ada trayek Jakarta-Garut yang melewati Puncak-Ciawi-Cianjur dan memerlukan waktu 10 jam, sebaiknya pilih trayek Jakarta-Garut via tol Cipularang yang menghemat hingga setengah waktu perjalanan.

Sebelumnya saya sebenarnya ingin menaiki rute truk pasar dari Pasar Induk Tanah tinggi, Tangerang namun dengan keluarnya edaran kemenhub soal pelarangan truk melintas di Jalan tol selama libur tahun baru membuat saya berpikir kembali mencoba rute ini.

SPBU Tanjung yang terletak di Jalan Otista, Tarogong Kaler adalah titik pemberhentiannya. Pada lanskap belakang SPBU ini terhampar Gunung Guntur. Akses menuju Gunung ini terletak sekitar 20 meter di sisi kiri SPBU menghadap jalan. Ada sebuah gapura dengan tulisan yang kecil, rapat dan tidak terlalu terlihat dari seberang jalan menandakan jalur masuk menuju Gunung Guntur. Anda bisa menaiki ojek yang banyak mangkal di gerbang ini, dengan membayar biaya sekitar 15ribu rupiah anda akan diantar ke pos pertama tempat pendaftaran bagi para pendaki. Biaya ojek ini sebenarnya hanya 10ribu rupiah, seolah deja vu dengan kejadian 365 hari sebelumnya di tempat yang berbeda.

Pos pendaftaran ini adalah sebuah rumah yang dihibahkan oleh seorang warga bernama Ibu Tati. Di rumah ini para pendaki wajib mendaftarkan diri dengan mengisi formulir serta menitipkan KTP. Bagi pendaki dalam kelompok besar maka akan dikenakan retribusi sebesar 5.000-7.500 rupiah, sedangkan bagi pendaki yang datang sendiri justru gratis.

Jarak dari gerbang di samping SPBU Tanjung hingga ke pos pendaftaran ini sejauh tiga puluh menit berjalan kaki, dari situ sesudah mendaftarkan diri maka kita mulai menuju pos 3 tempat perkemahan yang bila ditempuh dengan berjalan kaki secara santai menghabiskan dua jam perjalanan. Sebenarnya ada beberapa truk tambang pasir yang bisa membantu kita menghemat waktu dan tenaga, namun sejak kasus terbunuhnya Salim Kancil di Lumajang yang berimbas pada penutupan tambang-tambang ilegal di seluruh Indonesia maka tertutup sudah peluang kita menghemat waktu juga tenaga. Kalaupun masih ada jumlahnya berkurang jauh dibandingkan dahulu. Kebetulan sekali perjalanan saya menuju pos 3 dibantu oleh truk yang membawa rombongan relawan Gunung Guntur. Ada seorang perempuan berhijab yang sebelumnya menerima saya di pos pendaftaran berteriak kencang, “Oom Boyyy, ayo naikk…” Teriakan ini menyadarkan saya bahwa ada rentang usia antara saya dengan para pendaki lainnya. Dan memang, di truk itu para pendaki terlihat lebih muda usianya, perkiraan saya antara 17-25 tahun usia mereka. Yang terlihat tua hanya supir truk dan dua orang pekerja tambang dan….. saya.

DSC_0002589-truk

selfie di atas truk tumpangan

Truk mengantar kami di perbatasan jalur tambang dengan jalur pendakian. Kami pun turun, beristirahat sebentar sekedar merapikan peralatan yang dibawa untuk kemudian dipandu para relawan saya pun mulai menuju pos 3. Treknya berupa tanjakan berbatu dengan elevasi sekitar 71-76 derajat (estimasi saya). Sangat menguras tenaga bagi pengelana seperti saya. Setiap sekitar 20 menit kami beristirahat di saung-saung terdekat sekedar melepas penat. Terus terang saya tak kuat mengikuti semangat mereka, makanya saya memutuskan beristirahat lebih lama agar mereka tidak terbebani dengan saya, lagi pula di belakang saya masih ada banyak rombongan pendaki lain yang bisa membantu saya menemukan jalan.

DSC_0002593-trek batu

trek batu

Jam empat sore saya tiba juga di pos 3, saya mendaftar ulang di pos relawan kemudian mengisi perbekalan air karena sumber di atas tidak ada. Sebenarnya sempat ada yang menawarkan jalur pendakian lain kepada saya, tanpa melewati pos 3 langsung ke puncak namun masalahnya bila air tidak cukup maka harus kembali turun ke pos 3. Jalur ini ada yang menyebutnya jalur ilegal, melewati jalan berpasir dengan kemiringan yang serupa. Disebut ilegal karena para pendaki di jalur ini tidak akan terdeteksi keberadaannya oleh pos relawan di pos 3.

DSC_0002614-rambu.jpg

pos tiga

Setelah mengisi air, saya melihat situasi di pos 3 yang sudah ramai oleh warna-warni tenda para pendaki. Suasana sore itu sempat riuh oleh kehadiran seekor babi bernama Berry peliharaan Polisi Hutan yang wara-wiri mencari makanan sisa para pendaki. Banyak pendaki yang memotretnya, termasuk saya.

DSC_0002594-berry

seekor babi bernama Berry

Selanjutnya saya memutuskan menuju Puncak mumpung langit masih cukup terang. Hal ini penting karena saya tidak membawa senter untuk menjadi mata saya di malam hari. Ada beberapa jalur menuju puncak satu, namun sebaiknya tidak mengikuti rute berkerikil karena itu adalah jalur turun yang malah menyulitkan bagi mereka yang hendak mendaki. Saya mengikuti anjuran beberapa relawan yang saya temui untuk mengikuti barisan pohon pinus karena lebih sedikit berkerikil sehingga tidak terlalu menyulitkan kaki untuk mendaki. Sayangnya pada jarak sekitar 1300 meter dari puncak, langit mulai gelap dan rombongan pendaki yang terdahulu sudah sampai di puncak sementara rombongan di bawah belum muncul lagi. Jam 6 sore saya memutuskan demi keselamatan untuk menghentikan pendakian dan membangun tenda di tepi jalan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tendarurat

 

Tenda yang saya bangun adalah buatan dari bahan banner yang dijahit tangan dengan bentuk sederhana, lagipula karena hanya saya sendiri maka tak perlu rapi yang penting bisa jadi tempat untuk tidur dan aman dari hujan atau kabut. Jam tujuh malam, tenda sudah berdiri.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

lanskap Garut di malam hari dari muka tenda

Berikutnya adalah waktu makan malam, dengan menu sederhana namun kaya karbohidrat. Setelah makan, saya mengantuk dan tidur. Tidur kali ini begitu nikmatnya walau dibawah tenda terasa sekali batu-batu menyembul ditambah kemiringan yang cukup menyulitkan, tetapi saya berhasil tidur lelap di Gunung Guntur. Bila memakai bahasa prokem; Gintur di Guntur. Sekitar jam dua belas malam saya dikagetkan dengan suara kembang api diikuti dengan teriakan riuh para pendaki di pos 3. Kembang api cukup mengganggu, karena bukankah kita ingin menyepi dan menyatu dengan alam? Bunyi kembang api mengembalikan memori akan lanskap perkotaan. Dan memang, para relawan juga mencari dan menyita kembang api dari pemiliknya agar tidak terulang lagi.

Fajar pertama di tahun 2016 begitu indahnya, ini sekaligus penanda waktunya saya meneruskan pendakian ke puncak 1. Jam menunjukkan setengah enam pagi, dan saya mulai melangkah lagi. Saya tetap pada kecepatan yang santai, karena dalam mendaki bukan kecepatan yang utama tetapi keselamatan. Yang perlu diwaspadai dari pendakian ini adalah batu-batu yang berguling dengan cepat, bila tidak cekatan bisa berakibat jatuhnya korban. Di pos 3 relawan juga terpampang foto-foto para pendaki yang tertimpa batu-batu. Bahkan pernah ada yang sampai tewas.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

fajar pertama 2016

Di tengah pendakian, saya disusul oleh seorang anak muda bernama Iksan yang asli Kemayoran. Dari bawah saya melihat ia mendaki sambil bertelanjang dada. Ia menyusul saya dan saya pun menyodorkan air minum baginya. Kami pun berbincang sepanjang perjalanan menuju puncak. Banyak wawasan yang terkuak lebar dari perbincangan dengannya. Ia memanggil saya dengan “Pak”, entah dari mana ia punya gagasan memanggil saya dengan sebutan itu, bisa jadi dari beberapa jenggot putih yang menyembul di bawah dagu saya. Namun beda generasi ini tidak membuat kami jadi canggung, karena kami berada dalam posisi yang sama; dalam pendakian. Walau ia lebih muda tetapi saya banyak belajar darinya dan ia pun juga mau bersabar untuk saya ketika letih mulai merintih.

DSC_0002600-bulan

secuil bulan di atas puncak

Jam delapan pagi saya sampai di puncak satu, ditemani iksan. Ia menawarkan pendakian ke puncak 2 yang terletak di depan mata, tetapi saya menolak karena saya tahu batas daya tahan tubuh saya sudah terlewati dan saya tidak mau memaksakan diri mendaki puncak 2. Seperti yang dia katakan pula bahwa terkadang gunung itu menipu, apa yang terlihat dekat belum tentu dekat. Di puncak saya meminta air panas dari rombongan pendaki yang sedang membereskan tenda hendak turun, berbekal air panas tersebut tersajilah kopi panas dan mi instan sebagai kawan sarapan. Sayangnya Iksan bergegas turun karena saya tidak melanjutkan perjalanan ke puncak 2. Kami pun berpisah di atas.

DSC_0002605-puncak

di puncak 1 dengan latar puncak 2

DSC_0002606-kopi

secangkir kopi panas di puncak 1

Tiga jam di puncak saya memutuskan untuk turun karena kabut sudah mulai berhamburan. Dengan semakin banyaknya kabut maka akan menyulitkan mata untuk memandang dan itu lebih membahayakan ketimbang hujan.

DSC_0002602-kabut

kabut berhamburan

Perjalanan turun jauh lebih cepat karena ada jalur khusus yang disediakan oleh alam berupa jalan berkerikil yang dilalui dengan cara seperti ber-ski. Tumit sepatu menjadi andalan karena dari bagian kaki ini kita bisa meluncur pesat sekaligus berhenti. Mulanya saya terjatuh, dan sebagian esar pendaki yang turun lewat jalur itu juga mengalami jatuh pada awalnya, namun perlahan tubuh akan menyesuaikan diri dan menemukan ritmenya untuk menjaga keseimbangan saat meluncur turun.

DSC_0002611-trek turun

jalur ski-kerikil

Satu jam setengah perjalanan turun ini dan di penghujungnya hujan turun kian deras, ini menghentikan perjalanan saya karena jalur dari pos 3 menuju pos pendaftaran yang dipenuhi trek berbatu akan licin dan cukup berisiko tinggi.

Satu setengah jam saya tertahan di pos 3, hingga akhirnya jam setengah tiga sore saat hujan mulai mereda saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Beberapa kali terjatuh karena licin membuat kaki saya sedikit terkilir dan itu membuat tempo perjalanan melambat. Ada seorang anak muda bernama Kiki yang menemani perjalanan kali ini, ia mau bersabar dengan berjalan pelan-pelan sambil bercerita seputar Gunung Guntur. Ia yang memanggil saya dengan sebutan “pak” ini tinggal tidak jauh dari Gunung Guntur, hanya dua kali naik angkot. Darinya saya tahu bahwa para relawan yang berjaga di pos pendaftaran dan pos tiga ternyata banyak yang berasal dari daerah lain seperti Jatinangor, Sumedang bahkan Cirebon.

Jelang pos pendaftaran kami berdua berpapasan dengan rombongan off-roader yang melaju ke atas, entah dalam rangka apa yang jelas jumlahnya ada belasan mobil. Tiba di pos pendaftaran saya mengambil kembali KTP sembari membuang sampah saya dari atas di tempat yang disediakan dan berpisah dengan Kiki demi meneruskan perjalanan ke SPBU Tanjung.

Saya merasa paling tua dalam pendakian kali ini namun saya belajar banyak dari mereka yang berusia lebih muda karena menjadi tua belum tentu lebih tahu begitu juga sebaliknya yang muda belum tentu tidak tahu apa-apa.