ADESTE FIDELIS

Fidelis Arie Sudarwoto menjadi nama simbolik bagi perjuangan seoang suami demi kesembuhan istrinya. Bila anda rajin menyimak berita-berita pada pekan ini maka nama Fidelis Arie menyeruak di tengah gencarnya warta persidangan Basuki Tjahaja Purnama, korupsi KTP elektronik dan kabar-kabar politis lainnya. Fidelis ditahan polisi atas tuduhan kepemilikan 39 batang pohon ganja di rumahnya, ia menanam bukan untuk menjadi petani ganja atau pengedar karena jumlah yang disita tidaklah banyak. Ia menanam untuk pengobatan istrinya yang tidak tersembuhkan oleh pengobatan modern dan juga tradisional.

Dalam wawancara bersama Kompas TV, Yohana, Kakak tersangka, mengatakan bahwa pengobatan yang dijalankan Fidelis didapat dari internet dan hasilnya pun terbukti positif karena istri tersangka akhirnya bisa tidur pulas, dapat makan dan mampu bicaa kembali. Indikasi baik ini menjadikan Fidelis terus menjalankan pengobatan dengan ekstrak ganja kepada istrinya.

Sayangnya pengobatan ini terhenti setelah polisi dan BNN mendapat laporan dan mendapati 39 batang pohon ganja di bawah kepemilikan Fidelis Arie, ia pun di tahan dan sang isti yang menjadi subyek pengobatannya dipindahkan ke rumah sakit. Bukannya membaik, kondisi istrinya memburuk dan akhirnya meninggal di rumah sakit tanpa ada upaya berarti dari para dokter.

Fidelis, kemungkinan besar nama ini berasal dari bahasa latin fideles yang berarti ‘orang beriman’, adalah potret buram dari kekakuan perangkat hukum dalam menerjemahkan tindakan hukum yang tepat. Pihak polisi dan BNN berdalih bahwa berdasarkan UU No 23 Tahun 2009 di pasal 111 maka tindakan yang dilakukan Fidelis dapat dikategorikan melanggar hukum pidana. Humas BNN berkutat pada alasan bahwa selama pasal tersebut belum diubah maka tindakan Fidelis dapat dikenakan tuntutan hukum dengan mengabaikan apapun alasannya.

Pengobatan menggunakan ganja bukanlah hal baru, ada banyak contoh kasus dimana penderita kanker dan epilepsi  mendapat manfaat positif dari pengobatan ini. Sejumlah ahli farmasi pun sudah melakukan penelitian tentang manfaat ganja secara medis, tulisan mengenai laporan penelitian mereka dapat anda temukan di internet. Di banyak negara pun penggunaan ganja untuk pengobatan medis sudah disetujui dengan resiko mengubah ganja dari narkotika golongan 1 menjadi golongan 3. Negara terakhir yang menyetujui aturan ganja untuk pengobatan adalah Turki dan banyak negara lainnya akan segera menyusul.

Di Indonesia pun wacana ini sudah digulirkan berbagai pihak sejak lama, pada kabinet SBY kedua sudah ada langkah maju dari Kementrian Kesehatan untuk memulai penelitian manfaat medis dari ganja. Namun pergantian kabinet rupanya juga pergantian kebijakan dan upaya Kemenkes tidak ada warta  selanjutnya.

Apa yang sudah dilakukan Fidelis adalah dua langkah maju dari apa yang Kemenkes akan rencanakan sebelumnya. Fidelis langsung menerapkan tanpa pengetahuan yang memadai kecuali apa yang ia dapat dari internet. Ia mampu membuat istrinya bisa tidur, makan dan bicara. Hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh para dokter sebelumnya. Fidelis tentu tidak dapat dikategorikan melakukan penyalahgunaan, melainkan pembenargunaan. Ia mengolah ganja, yang adalah ciptaan Tuhan, dan menjadikannya bermanfaat sebagai bahan pengobat bagi penyakit istrinya.

Fidelis melakukannya karena rasa cinta, dengan iman yang penuh bahwa istrinya akan segera sembuh. Ia tidak berpikiran menggunakan ganja untuk meraup keuntungan sebagaimana para bandar narkotika.  Walau ia pun sadar tindakannya beresiko hukum. Namun keyakinannya untuk kesembuhan istri tercinta mengalahkan rasa takutnya akan ditangkap aparat.

Hukum memang berlaku untuk semua masyarakat tanpa kecuali, tetapi esensi hukum adalah menegakkan keadilan dan bukan penghukuman secara membabi buta. Hukum yang adil mesti mengikutsertakan hati dalam penilaiannya, tanpa keterlibatan hati maka hukum terasa kering dan tak dapat dipercaya. Dalam kasus Fidelis, hukum menjadi perangkat prosedural yang kaku dan sudah mengakibatkan jatuhnya korban yaitu istri Fidelis. Apakah ini adil?

Bagaimana mengakhiri dilematika ini? Humas BNN sebenanya sudah memberi sinyal bahwa selama belum ada perubahan dalam UU tentang Narkotika maka kepemilikan ganja untuk tujuan medis sekalipun adalah perbuatan melanggar hukum pidana. Artinya, aturan hukumnya perlu diubah. Malangnya kita tidak bisa berharap dari legislatif yang sampai saat ini masih kedodoran dalam pembahasan Undang-Undang yang masuk dalam prolegnas.Materi legislasi yang masuk dalam prolegnas pun tentu tidak mudah karena melewati seleksi ketat yang berpotensi ‘diuangkan’ oleh pihak legislatif. Karenanya tidak heran bila ada RUU yang perlu lebih dari satu periode untuk pembahasannya. Lain halnya bila RUU yang dibahas mendatangkan manfaat ekonomi bagi pihak-pihak tertentu dalam lingkaran legislator  tentu akan cepat menjadi UU. Bagaimana dengan UU Narkotika?

Realitanya akan menjadi  sulit bagi DPR periode sekarang untuk merevisinya, tetapi bukan berarti tidak mungkin karena di negara lain pun yang sudah menyetujui penggunaan ganja secara medis juga membutuhkan perjuangan yang lama. Desakan elemen masyarakat adalah alat perjuangan untuk legalisasi ganja medis. Kriminalisasi terhadap Fidelis adalah penyemangat para pejuang senyum untuk terus mendesak pemerintah memulai penelitian ganja secara medis. Wawasan masyarakat perlu dibuka bahwa ada pembenargunaan dari ganja yang selama ini tidak mereka ketahui karena ditutupi agitasi aparat yang menakut-nakuti dengan ancaman hukuman.

Ini adalah perjuangan orang-orang yang memiliki keyakinan. Sebagaimana langkah kaki orang beriman yang mantap walau banyak duri berserakan di jalanan karena seperti Fidelis,mereka melakukannya dengan kecintaan, dengan keyakinan bahwa jalan mereka adalah baik bagi orang lain yang menderita penyakit berat, dengan keimanan bahwa Tuhan sudah menyediakan obat bagi segala penyakit.Maka, datanglah wahai orang-orang yang beriman, wahai orang-orang yang berkeyakinan, dan kita suarakan bahwa Fidelis dan mereka yang bernasib sama dengan istrinya layak diselamatkan hidupnya. Karena dengan menyelamatkan mereka maka secara tidak langsung kita juga menyelamatkan hukum dari prosedural kaku dan kering yang memisahkan hukum dengan keadilan, yang menjauhkan hukum dari rasa percaya masyarakat.

 

Catatan:

Judul “Adeste Fidelis” adalah plesetan dari bahasa latin “Adeste Fideles” yang berarti “Datanglah orang-orang beriman”.

 

SAYA TIDAK PERNAH SALAH

Judul di atas bukan sebuah kekeliruan. Saya meyakini tidak ada satu pun kesalahan dalam pemilihan judul tersebut. Kalau pun terjadi perbedaan tafsir atas judul itu tidak lantas menjadikan saya sebagai yang bersalah. Bahkan bila anda menguraikan argumentasi telak yang menyalahkan saya pun juga tak akan membuat saya sebagai yang bersalah. Tapi, ini soal apa pula? Sedari alinea pertama sudah memberi penekanan terhadap kata “salah” tanpa sedikitpun keterlibatan kata “benar” beserta kronologi pemilihan judul tulisan ini bisa berpotensi membuat pembaca ,juga calon pembaca, jengah untuk melanjutkan niat membacanya, bukan? Para calon pembaca tidak salah jika memang enggan meneruskan pembacaannya begitupun juga para pembaca yang meragukan untuk membaca lebih lanjut tulisan ini. Namun ketidakmauan atau pun juga upaya meragukan diri untuk meneruskan pembacaan dari para pembaca beserta calon pembaca tidak lantas menjadikan saya sebagai pihak yang bersalah, karena ,sekali lagi, saya tidak pernah salah.

salah dia

Saya tidak sedang membicarakan kebenaran. Biarlah para nabi, seniman dan juga filsuf yang membicarakan kebenaran. Saya memilih untuk membicarakan kesalahan. Dalam hal ini saya memiliki keserupaan dengan politisi. Karena setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan adalah manusiawi pula sudah melakukan kesalahan dalam hidup. Bahkan bila sanggup mengkalkulasi, besar kemungkinan jumlah kesalahan kita lebih banyak dibanding jumlah kebenaran yang telah kita lakui. Walau tidak menutup peluang ada pula orang yang tingkat kesalahannya lebih sedikit dari orang lain. Tetapi titik tolak dari kesalahan yang menjadi sudut pandang saya adalah bahwa apapun kesalahannya, anda tidak bersalah. Ini yang menjadi sisi pembeda saya dengan politisi, walau sama-sama mengeksploitasi kesalahan.

Cobalah untuk mengingat kembali di masa-masa anda begitu belianya, pernahkah anda membolos dari sekolah misalnya? Merokok di dalam kelas, mungkin? Atau melawan guru apapun alasannya? Kalaupun contoh-contoh tersebut terlalu ekstrem untuk anda mungkin ada banyak contoh kesalahan yang pernah anda lakukan sewaktu masih bersekolah seperti menyalin jawaban ujian milik teman atau berpura-pura pingsan saat upacara agar terhindar dari keharusan ‘dijemur’ setiap senin pagi atau sabtu sore. Jika anda sudah mampu mengingat masa-masa remaja anda beserta kesalahannya maka premis utama dari tulisan ini sudah dapat dipahami oleh anda karena pasti anda akan merangkum kesemua kenangan tersebut sebagai hal yang wajar dilakukan saat masih belia. Dalam kalimat lain; Anda tidak salah. Ada banyak sasaran lain yang bisa anda tunjuk sebagai yang paling bersalah dalam menjadikan anda melakukan kesalahan pada saat itu, bukan? Sampai di tepi alinea ini sebenarnya saya bisa saja menghentikan tulisan ini karena apa yang ingin saya sampaikan sudah terwakili dalam paragraf ini, dan anda tidak bisa menyalahkan saya karena itu. Karena selain tidak salah juga bukan otoritas anda pula menyalahkan saya menghentikan tulisan di saat pokok pikiran sudah tersampaikan. Tetapi saya tidak akan menghentikan tulisan ini, selain karena baru 444 kata juga karena saya ingin menekankan kembali ketidakbersalahan saya juga anda atas kesalahan-kesalahan yang sudah atau bakal dilakukan.

Pernahkah anda membandingkan alasan-alasan yang dikemukakan para pelaku pencabulan atau pemerkosaan atas kesalahan yang mereka lakukan? Nyaris semua pelaku kemudian menyalahkan video porno yang mereka lihat sebelumnya atau malah menyalahkan korban pencabulannya karena gaya berbusana mereka yang seakan memberi undangan kepada pelaku. Saya tulis nyaris semua pelaku, lalu bagaimana dengan alasan pelaku lainnya? Sebagian kecil dari pelaku menyalahkan alkohol atau keadaan tidak sadar yang mereka alami. Semua pelaku pencabulan atau pemerkosaan menjadikan diri mereka sebagai korban dengan alasan seperti yang ditulis di atas. Kalau mereka korban lalu bagaimana dengan korban pencabulan mereka?

Sekali lagi saya ingin memberitahukan bahwa saya tidak sedang membicarakan kebenaran sebagaimana para nabi, seniman dan fisuf lakukan. Saya sedang membicarakan kesalahan dan mencoba menunjukkan bahwa dibalik kesalahan anda tidak lantas anda bersalah karena sebagai manusia adalah manusiawi menyalahkan yang lain atas kesalahan yang kita lakukan.

Ada beberapa sasaran yang bisa anda jadikan rujukan untuk disalahkan ketika anda tertangkap basah sedang melakukan kesalahan.

  1. Lingkungan.

Manusia adalah mahluk sosial. Ia tidak terpisah dari keberadaan orang-orang lain di sekitarnya. Kita sekarang ini adalah hasil akumulasi peran sosial. Bila anda terbukti bersalah anda bisa menuding lingkungan sosial anda lah yang membuat anda melakukan kesalahan. Dan ini terbukti banyak dipakai oleh mayoritas orang yang bersalah untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak bersalah.

  1. Setan.

Dalam sistem religi agama-agama di dunia terdapat kebenaran dan kesalahan yang mutlak. Kebenaran menjadi milik Yang Maha Pencipta beserta malaikat dan para nabi-nabinya. Kesalahan menjadi ranah kerja iblis atau setan. Menyorongkan kesalahan kepada setan atau iblis pun lazim dilakukan mereka yang ketahuan melakukan kesalahan. Ini lebih aman dibandingkan menyalahkan lingkungan karena sudah maklum bahwa tugas setan adalah menggoda manusia melakukan kesalahan dan adalah manusiawi jika manusia tergoda. Namun perlu lebih banyak menunjukkan perasaan menyesal agar tudingan kepada setan dapat diterima pihak lain.

  1. Khilaf.

Lupa adalah manusiawi, semua manusia mengakui itu. Dengan menyatakan bahwa kita khilaf dalam melakukan kesalahan dapat membuat kita menjadi tidak bersalah dengan cara manusiawi. Faktor ini juga lebih aman dibanding dua faktor sebelumnya karena kita menyalahkan rasa khilaf yang kita alami sendiri sebagai biang kesalahan.

  1. Situasi.

Berbeda dengan lingkungan yang berperan dalam menentukan individu maka faktor situasi lebih merujuk kepada penciptaan suasana gawat darurat yang meminta orang lain memaklumi kesalahan yang diperbuat. Biasanya situasi ekonomi yang disalahkan, misalnya seseorang kepergok mencuri dua dus mi instan karena tidak punya uang untuk membeli bahan makanan. Dalam keadaan begini kebanyakan orang akan berempati kepada si pelaku seraya turut menyalahkan situasi sebagaimana yang dikehendaki si pembuat salah.

  1. Ketidaktahuan.

Ketidaktahuan kadang menjadi pembela yang ampuh disaat melakukan kesalahan. Ketidaktahuan disini ditentukan dari apa yang menjadi patokan akan vonis salah yang kita terima. Misalkan anda dinyatakan bersalah karena merokok di ruang publik, bisa saja anda berkilah tidak tahu akan hal itu dan dalam seketika anda menjadi tidak bersalah karenanya. Menyalahkan ketidaktahuan sebenarnya tidak menyalahkan siapapun atau apapun.

  1. Peraturan

Berbeda dengan ketidak tahuan, maka Peraturan justru kebalikannya. Ada syarat yang dibutuhkan agar peraturan dapat dijadikan sasaran kesalahan yaitu memahami dengan fasih peraturan tersebut sehingga menemukan celah yang dapat anda pakai sebagai biang keladi kesalahan anda. Anda tidak bisa menyalahkan peraturan bila tidak mengetahui peraturan tersebut. Contoh mutakhirnya seperti yang terjadi di gedung DPR dimana berdasarkan UU MD3 maka pemilihan ketua dan wakil ketua komisi-komisi yang berjumlah 11 itu ditentukan melalui voting dengan sistem paket, imbasnya lima fraksi merebut semua pimpinan komisi tanpa menyisakan satupun bagi lima fraksi lainnya. Bila ada rakyat yang mempertanyakan keadilan dalam komposisi pimpinan komisi maka para wakil rakyat yang terhormat tersebut akan dengan mudahnya menyalahkan UU MD3 hasil legislator periode sebelumnya yang menjadi landasan atas tindakan politik yang dianggap tidak adil tersebut.

  1. Tuhan

Yang ini berisiko besar untuk disalahkan karena bila takarannya tidak pas dalam memainkan peran maka antipati yang terjadi. Dibutuhkan peran putus asa yang sangat dalam agar bisa menyalahkan Tuhan. Kalaupun anda mampu menunjukkan keputus asaan maka bisa saja simpati yang anda terima dan anda terbebas dari salah. Biasanya ini hanya sekali dilakukan seumur hidup. Jangan harap bila anda sekali berhasil menyalahkan Tuhan dan mengulangi hal tersebut dengan hasil yang sama apalagi di hadapan publik yang sama. Pada pengulangannya anda akan dianggap gila dan wajib dirawat psikiater.

  1. Ideologi

Anda bisa melemparkan kesalahan kepada ideologi tertentu yang relevan dengan kesalahan anda. Ideologi disini bisa berarti pemikiran mengenai sistem nilai yang diciptakan manusia. Perilaku sub-kultur seperti rajah atau tindik dapat dimasukkan dalam kategori ini. Begitu pula spirit korsa dalam militer. Para pelaku terorisme juga tanpa disadari melemparkan kesalahan yang dibuatnya kepada ideologi yang dipercayainya. Sama seperti peraturan, anda harus memahami dengan fasih ideologi/keyakinan tersebut. Namun bedanya dalam ideologi anda memang tidak ingin disalahkan karena kesalahan yang anda lakukan adalah kewajiban.

  1. Informasi

Abad ini dipenuhi lonjakan informasi yang tiada terkira sebelumnya. Luapan informasi tersebut kebanyakan malah membuat orang menjadi tidak mau tahu akan keberadaan informasi tersebut, kecuali yang bersifat praksis sehari-hari. Banjir informasi ini memilah informasi dalam oposisi biner. Jika ada informasi bahwa ganja itu buruk bagi kesehatan maka akan ada informasi tandingan bahwa ganja itu baik untuk menyembuhkan kanker.Jadi, mana kala anda didakwa melakukan kesalahan anda bisa menunjukkan bukti informasi yang bertolak belakang sebagai pembela sekaligus keranjang sampah anda. Misalnya anda ketahuan bersalah menempati lahan kosong milik orang lain, anda bisa mengajukan bukti informasi bahwa tanah tersebut boleh dipakai selama tidak dimiliki. Tidak penting bukti yang anda ajukan itu valid atau tidak yang penting adalah anda bisa melemparkan kesalahan kepada informasi racikan anda sendiri. Ini perbedaannya dengan ketidak tahuan, bila dalam ketidak tahuan anda membuang kesalahan kepada ketidak tahuan maka dalam informasi justru menciptakan apa yang anda tahu dengan tujuan orang lain menjadi tidak tahu dan anda terbebas dari salah.

Demikianlah sembilan sasaran yang bisa anda jadikan referensi pembelaan kala menghadapi situasi bersalah namun tidak menjadikan anda salah. Dalam beberapa tingkat kesalahan tentu saja tidak merubah sanksi atau hukuman yang akan anda terima namun setidaknya menyelamatkan diri anda dari tudingan sebagai pihak yang paling bersalah.

Namun untuk yang terakhir kalinya saya ingin menegaskan bahwa saya tidak sedang membicarakan kebenaran melainkan kesalahan. Dan saya tidak pernah salah.

 

URGENSI PERPPU MK

Tak ada yang tiba-tiba dalam dunia politik. Dinamika politik adalah hasil dari pertarungan strategi dari para pelakunya dalam jangka waktu yang tak terbatas. Bila politik ditujukan untuk mengupayakan kemakmuran bagi rakyatnya maka strategi politik itu akan didukung oleh rakyat, tetapi bila politik hanya menjadi alat untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan semata maka rakyat akan menunjukkan sikap apatis terhadap politik yang termanifestasikan dalam pemboikotan pemilu.

Pemilihan umum adalah pertaruhan dari segenap aktor-aktor politik guna menguji keberhasilan strategi politik yang telah dijalankannya. Komisi Pemilihan Umum sebagai lembaga negara yang bertugas menyelenggarakan pemilu idealnya harus independen dari unsur partai politik termasuk juga unsur pemerintahan. Komisioner yang duduk dalam KPU sewajibnya adalah figur-figur publik yang teruji bersih dari korupsi dan mampu berdiri netral dan bebas dari intervensi baik oleh parpol dan juga pemerintah.

Problematika muncul ketika struktur KPU terbagi menjadi Komisioner di satu pihak dengan Sekretariat Jendral di sisi yang lain. Komisioner mendaftarkan diri dan di fit & proper test oleh DPR serta dilantik oleh pemerintah, sementara Setjen KPU adalah para birokrat yang tentu saja loyalitasnya kepada negara (baca: penguasa).

Peristiwa politik jelang pemilu 2014 sudah mulai terjadi ketika tahapan verifikasi parpol berjalan, pihak setjen KPU berkeras dengan sistem yang selama ini mereka lakukan sementara para komisioner merasa sudah menjadi kewajiban mereka mengawasi kinerja setjen. Sengketa tersebut ditengahi oleh DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu) sebagai badan yang dibuat untuk mengatasi sengketa internal KPU juga KPUD.

Bila sesuatu dimulai dari fondasi yang goyah maka hasilnya pun akan tidak stabil. Dan hal tersebut sudah terjadi dalam pemilukada yang berlangsung selama ini. Dan Mahkamah Konstitusi adalah lembaga tertinggi yang dibentuk negara guna mengatasi konflik hasil pemilihan umum.

Karena itulah, KPU dan MK adalah lembaga strategis yang menjadi incaran partai politik dan pemerintah, agar legalitas formil kemenangan dalam pemilu menjadi terjamin.

Pada pemilu 2009 begitu banyak kasus terjadi dalam pileg. Modusnya bisa “kesalahan input”, atau SK yang memenangkan calon tertentu dengan pengabaian terhadap bukti faktual seperti surat suara, lagi pula biasanya kantor KPUD dimana konflik terjadi akan mengalami kebakaran yang menghanguskan seluruh isinya termasuk surat suara. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kotak suara hasil dari TPS harus dikawal begitu tiba di PPS, PPK hingga di KPUD agar tidak terjadi penggelembungan terhadap calon-calon atau partai tertentu. Banyak yang beranggapan bahwa kasus tersebut terjadi secara sporadis, walau buat saya bukan tak mungkin itu berlangsung secara sistematis dan massif. Dengan melibatkan banyak tenaga mulai dari tingkat TPS hingga ke KPU tentunya. Karena berjasanya orang-orang tersebut hingga tak aneh bila kemudian Parpol merekrut tenaga-tenaga yang sebelumnya berasal dari KPU.

Namun kini MK menjadi lebih strategis dari KPU, karena MK dapat  membatalkan Surat Keputusan KPU tanpa adanya banding atas putusan MK tersebut. Para aktor politik banyak yang kemudian berjuang masuk dalam lingkaran 9 hakim MK.

mk

Peristiwa penangkapan Akil Mochtar, Ketua MK, oleh KPK tentu saja mempunyai implikasi yang luas bagi semua pihak. Bagi masyarakat umum akan membuka mata bahwa suara yang mereka berikan selama ini dalam pemilihan kepala daerah, anggota legislatif hingga Presiden bisa saja ditiadakan oleh keputusan MK yang rentan akan suap. Bila sebelumnya rakyat sudah meragukan KPU maka kini bertambah lagi keraguan terhadap MK.

Di sisi lain, yaitu negara, akan memiliki kesempatan untuk mengkooptasi MK lewat jalur yang disebut pengawasan. Karena krisis kepercayaan masyarakat sudah begitu mengkristalnya dengan penangkapan Akil maka dibutuhkan tindakan cepat, dan bila Presiden Jendral SBY sungguh bertindak cepat dengan menandatangani Perppu maka itu adalah hal yang langka selama 9 tahun kekuasaannya, lewat Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPPU).

Kelahiran PERPPU selalu dalam kondisi darurat dimana Presiden sebagai pihak Eksekutif memiliki kewenangan untuk menelurkan keputusan vital tanpa persetujuan DPR, karena bila melalui mekanisme Undang-Undang akan memakan waktu panjang dalam pembahasannya.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa kasus yang dialami Akil adalah skenario jebakan untuk menguasai MK, biarlah pembuktian suap dan tiga linting ganja tersebut menjadi ranah yudikatif. Tetapi kasus Akil adalah kunci bagi penguasa untuk memasuki MK tanpa protes dari masyarakat.

Bisa jadi masih banyak Akil-akil yang lain dalam lembaga tinggi negara lainnya. Tetapi selama lembaga tersebut kooperatif maka belum menjadi prioritas untuk diungkap. Ini demokrasi a la penculik, dimana para aktor politik saling memegang sandera atas aktor politik lainnya. Karena itu saya lebih suka menggunakan kalimat perkartuan politik ketimbang percaturan politik.

Percayalah, demokrasi seperti ini akan menemui jalan kehancuran yang dibuatnya sendiri. Dan rakyat masih akan tegak berdiri sebagai bangsa yang dulu bernama Indonesia.

 

Kringggggggggggggg………

Dering weker menidurkanku..

“Ah, ternyata aku bermimpi buruk disaat terjaga,” ucapku dalam tidur.