atletas en parodia

Tiba-tiba Kota Tangerang menjadi salah satu tempat perhelatan Asian Games. Terlihat atlet-atlet dari beragam cabang olahraga memenuhi panggung di tepian Cisadane pada malam kamis tanggal 29 Agustus lalu.  Warga kota Tangerang yang saat itu sedang berada di Festival  Cisadane dapat menjadi penyaksi dari aksi pemanah, pebulutangkis, pelari, pecatur dan lain-lainnya. Liputan langsung dari stasiun televisi pun tak mau ketinggalan guna mendapat wawancara eksklusif dengan mereka. Sayangnya di penghujung pentas ternyata semua atlet termasuk jurnalis tersebut adalah pasien RSJ atau Rumah Sakit Jiwa yang ditandai dengan kehadiran dokter yang bermaksud memberikan obat pada mereka.

teater atlet festival cisadane

Namun jangan tersesat dengan paragraf di atas, karena sejatinya Kota Tangerang tidak termasuk dari kota tempat penyelenggaraan pesta olahraga Asia tersebut. Aksi para atlet di atas adalah bagian dari pertunjukan teater yang berlangsung  di panggung festival Cisadane. Menampilkan para pelajar kota Tangerang yang tergabung dalam Komunitas Teater Pelajar dibawah asuhan komite teater Dewan Kesenian Tangerang. Lakon mereka malam itu “Parodi Atlet atawa Er-Es-Je” sebuah karya komedi yang dimaksudkan untuk menghibur warga kota yang berlalu lalang di gelaran itu.

Pentas ini terasa aktual dengan menyodorkan isu terkini yang bertaut dengan ajang Asian Games namun dalam kemasan parodi. Parodi yang berasal dari kata parodia yang secara harfiah berarti “lagu samping” adalah gaya yang muncul di seni musik eropa pada abad pertengahan dimana sederhananya diartikan lirik alternatif untuk struktur melodi yang sama. Pada perkembangannya bentuk parodi tidak hanya dipakai pada musik semata namun juga menyebar ke seni lainnya. Yang terkenal  memakai parodi di Indonesia adalah kelompok Padhyangan dari Bandung yang mencuat di era 90-an dengan lagu-lagu terkenal yang diganti liriknya. Tidak hanya lagu, mereka juga melakukan parodi di video klipnya

Sementara dalam lakon yang dimainkan KTEPEL (Komunitas Teater Pelajar) unsur parodi melekat daam aksi para atlet dan Asian Games. Tidak bermaksud merendahkan perjuangan para atlet yang berlaga di Jakarta-Palembang namun mencoba menghibur dengan isu aktual agar dapat dinikmati masyarakat yang antusias dengan Asian Games. Dan tidak bermaksud merendahkan perjuangan para pelajar yang bermain malam itu namun dalam kacamata seorang penonton yang hadir bahwa tidak ada karakter yang menonjol dari mereka. Toto Widayanto, warga Cimone yang menjadi satu dari ratusan penyaksi melihat bahwa tidak adanya yang menonjol malam itu adalah yang paling menonjol dari pertunjukan itu.

“Padahal jika ada karakter yang mencuat mungkin akan lebih menyedot perhatian publik yang lalu lalang,” ucap lelaki yang biasa disapa TW ini. Minimalnya lahan untuk penonton juga menjadi perhatiannya dan ia mengusulkan kepada pemerintah kota selaku penyelenggara untuk meninggikan saja panggungnya agar lalulintas publik tidak terganggu atau mengganggu penonton yang ingin menyaksikan.

Menjawab kritik di atas, Eb Magor selaku penulis dan sutradara pertunjukan mengatakan bahwa proses berlangsung selama sebulan dan prioritas baginya adalah agar para pelajar dapat menikmati apa itu teater. “Proses teater harus mengikuti perkembangan zaman dan tidak mungkin bagi saya untuk memakai proses seperti yang pernah saya terima dahulu karena zaman sudah berubah,” terang Magor seraya menyontohkan bagaimana kerasnya proses berteater di era lampau yang dialaminya.

“Menjadi aktor adalah soal disiplin dan ini bisa diterapkan dalam panggung kehidupan. Ini juga jembatan bagi mereka untuk menjadi aktor di kehidupan mereka nantinya,” kembali dijelaskan oleh Magor perihal pendekatan dan metode yang dilatihnya selama proses bersama para pelajar ini.

Terlepas dari pengamatan intrinsik dalam pentas ini memang tidak bisa dipungkiri bahwa publik lumayan menyemut di muka panggung malam itu berdesakan dengan mereka yang ingin lewat dan kendaraan yang parkir atau pun melintas di jalan itu.

nb

Judul diambil dari bahasa Spanyol yang artinya Atlet dalam parodi.

Iklan

BIG BANG di Nebula

Ini bukan tulisan tentang astronomi, walau judulnya diambil dari terminologi astronomi. Big Bang atau dentuman besar yang menjadi pembuka bukanlah teori penciptaan galaksi a la Stephen Hawking melainkan adalah judul lakon yang dimainkan oleh Teater Nebula. Dengan subjudul Cinta Yang Tak Terucap, pementasan ini dimainkan pada hari minggu, 16 Oktober 2016 bertempat di Gedung Pertunjukan Sitihinggil yang berlokasi di Tanah Tinggi Kota Tangerang.

qr code lokasi

QR Code Lokasi Sitihinggil

Naskah ini juga menjadi penanda kehadiran Teater Nebula dalam panggung teater. Big Bang atawa Cinta yang Tak Terucap adalah lakon yang didasarkan pada kisah nyata Anto Malaya, yang juga menjadi sutradara juga penulis naskah serta aktor, dalam menghadapi anaknya yang berkebutuhan khusus. Autistik atau autisme menjadi pondasi dari tema dan pergulatan batin sang ayah menjadi inti dari keseluruhan narasi.

Adalah sebuah keluarga kecil yang memiliki problematika besar. Ibu, Bapak dan Anak yang berkebutuhan khusus. Dalam naskah yang disusun Edian Munaedi berdasarkan pengalaman sutradara pada upayanya menyelami dunia anaknya, cerita dibangun dengan pendekatan non-linear demi efek dramatisasi yang lebih kuat. Alur bergerak melompat antara masa lalu dan masa kini, dari alam sadar ke dunia bawah sadar dan dengan konstruksi demikian penulis mencoba untuk tidak terperangkap menulis biografi sang sutradara semata tetapi lebih dari untuk membagikan pengalaman batin menuju  jiwa penonton dalam bentuk komunikasi verbal-non verbal juga semiotika atau penanda.

Autisme merupakan gangguan perkembangan yang komplek dan muncul selama tiga tahun kehidupan pertama sebagai akibat gangguan neurologis yang mempengaruhi fungsi otak (The Autism Society of America:2004). Autistik atau autisme berarti gangguan perkembangan yang secara signifikan mempengaruhi komunikasi verbal dan non verbal, dan interaksi sosial…dan dengan keadaan ini sangat mempengaruhi performa pendidikannya (The Individuals With Diabiliies Education Act:1997) . Anak berkebutuhan khusus hidup dalam dunianya sendiri, mereka tidak memiliki kemampuan emosional dan sosial dalam merespon orang lain. Para ahli medis juga masih belum menemukan terapi yang tepat untuk menyembuhkannya. Untuk mengatasi performa dalam pendidikannya, para orangtua akan menyekolahkan mereka pada sekolah khusus. Tetapi bagaimana dengan mereka yang hidup dalam kemiskinan?

Hal inilah yang dialami oleh keluarga kecil dalam lakon Big Bang. Dalam ketiadaan materi mereka melimpahkan kasih sayang kepada bayinya, hingga bertahun-tahun sesudahnya ketika didapati bahwa si anak tidak kunjung berubah dan kian ‘terperangkap’ dalam dunianya yang tidak bisa dimasuki kedua orangtuanya.

dsc_0003086

Frustrasi membenamkan kesadaran si bapak yang goyah dari tabah, sementara ibu terus berusaha menjaga keseimbangan antara dunia si bapak dan dunia si anak. Akting memikat ditampilkan EB Magor dan Dian Mariyana sebagai pemeran bapak dan ibu kala putus asa meraksasa. Ritme berhasil dimainkan diantara amarah sehingga dialog yang penuh dengan ketegangan tidak menguras energi penonton yang memadati selama dua hari pementasan itu. Emosi yang kontras pada keduanya membuat adegan berhasil mengantarkan suasana kejiwaan yang saling melengkapi untuk sampai ke publik. Butuh riset dan kematangan agar aktor dapat sampai pada situasi demikian.  Riset diperlukan agar mampu menyelami kondisi psikologis para orangtua dengan anak berkebutuhan khusus, dan kematangan yang membuat kendali pemeranan tidak terjebak pada upaya melisankan tulisan semata.
Tidak bisa dikesampingkan pula adalah Achmad Soleh Siregar yang sukses memainkan peran sebagai anak yang berkomunikasi dalam bahasa non verbal nyaris di sepanjang pertunjukkan. Butuh fokus dan stamina yang besar untuk mampu menjaga peran tetap pada relnya. Konsentrasi pada bahasa non verbal juga membutuhkan riset yang dalam sehingga penonton dapat mendiferensiasi dengan jelas walau tanpa keterangan secuilpun. Stamina panjang jelas berpengaruh dalam menjaga kontinuitas peran karena bahasa non-verbal membutuhkan tenaga yang tak ada habisnya.
Peran sutradara dalam membangun suasana kerjasama pemain dan artistik pada ruang dan set yang minimalis memerlukan strategi yang tepat. Kalaupun ada kebocoran pada cahaya yang sesekali terjadi tidak menjadi suatu problematika yang perlu dibahas. Konsep lampu yang membagi area menjadi penanda waktu yang berbeda pada ruang yang tidak luas memang beresiko pada pembiasan cahaya.

Selama durasi 60 menit pementasan sebenarnya saya berusaha menemukan Big Bang sebagaimana judul lakon, bila dalam teori Hawking pemicunya adalah benturan gas-gas yang memadat dan serpihannya membentuk semesta, tetapi dalam kisah ini tak terasakan adanya dentuman besar karena benturan. Konflik batin bapak tidak menimbulkan benturan kala berhadapan dengan ibu, begitu pun saat bapak berhadapan dengan anak. Yang terjadi kala berhadapan dengan anaknya adalah aksi ofensif bapak yang menelurkan frustrasi karena gagal memasuki dunia anaknya dan ketidakberhasilan upaya hegemoni realitas normalnya kepada anak. Usaha membunuh anaknya pun yang berlangsung terlalu cepat tidak melahirkan dentuman besar. Yang terjadi sebenarnya kelahiran kembali si bapak dalam relasinya dengan anak, hal ini terucap dengan jelasnya dalam kalimat penutup ibu,”Selamat datang kembali, suamiku.”

Bila dalam Big Bang terjadi proses perubahan bentuk yang menelurkan kehidupan, maka dalam lakon ini lebih tepat Reborn atau kelahiran kembali dimana yang terjadi adalah proses perubahan pemaknaan tanpa mengubah bentuk sama sekali.
Dan dengan begitu maka lakon ini dapat menjadi sebuah teater penguatan bagi para orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, teater yang memberikan motivasi untuk menguatkan hati dan jiwa para orangtua yang dalam hidupnya pernah atau malah sedang mengalami keputus asaan dalam menghadapi dunia anak yang tidak dimengertinya sama sekali. Sehingga setiap orangtua dapat lahir kembali dan meyakini bahwa mereka dicintai anaknya walau kata tersebut tak pernah terucap dari mulut mereka.

MENYAKSIKAN GERHANA DI SITIHINGGIL

MENYAKSIKAN
Menjadi saksi kadang adalah situasi yang tidak diinginkan setiap orang, apalagi bila harus bersaksi di pengadilan atas sebuah kasus pidana. Dalam persidangan pernyataan seorang saksi akan diuji kebenarannya dan seringkali harus dikaitkan dengan preferensi subyektif dari sang saksi yang bisa saja melewati penggalian yang kasar. Itulah kenapa banyak orang yang sebisa mungkin tidak dilibatkan menjadi saksi atas sebuah peristiwa pidana yang dilihatnya. Namun dalam peristiwa kesenian maka menjadi saksi adalah suatu hal yang sedapat mungkin tidak untuk dilewatkan bagi kebanyakan orang. Menonton pertunjukan seni sejatinya adalah menjadi saksi atas peristiwa kesenian. Banyak peristiwa kesenian yang terjadi sepanjang tahun di berbagai tempat namun mayoritas tak terjaring oleh media massa. Hal ini tidak sepenuhnya menjadi kesalahan pers, bisa jadi karena informasi yang tidak sampai kepada media atau mungkin juga karena jumlah peristiwa kesenian yang terjadi tidak sanggup untuk diliput oleh jurnalis itu sendiri. Karena tidak semua pewarta dapat menjadi saksi peristiwa kesenian maka kehadiran penonton dengan piranti berupa kamera ponsel dan akun media sosial adalah sebuah alternatif bagi publik yang tidak sempat menjadi saksi dalam peristiwa kesenian tersebut. Dan melalui tulisan ini, saya sedang memaparkan kesaksian saya kala diundang untuk menonton sebuah pertunjukan teater.
Bertempat di Wisma Sitihinggil, sebuah ruang alternatif untuk pementasan kesenian yang terletak di tengah-tengah kepungan rumah-rumah masyarakat di wilayah Tanah Tinggi di Kota Tangerang. Tempat ini belum lama berdiri, setidaknya dari yang saya tahu dari kawan-kawan seniman, usianya belum lagi setahun. Namun dari tempat inilah kesaksian saya mulai melaju.
Minggu, 10 April 2016. Kebanyakan orang mungkin sedang menikmati masa liburnya, tapi tidak dengan Teater Cahaya UMT. Selama tiga hari dimulai dari tanggal 8 hingga 10 April mereka memainkan lakon Gerhana. Dan kabarnya selama tiga hari itu pula penonton memadati Wisma Sitihinggil yang berkapasitas sekitar 50-70 orang penonton itu. Saya sebetulnya sudah mendapat kabar untuk hadir pada gladi resik namun karena mendadaknya berita maka saya mencoba meluangkan waktu pada hari terakhir untuk menghadirinya.
Hal ini menjadi penting bagi saya, karena menonton peristiwa kesenian adalah sebuah kebutuhan rohani bagi jiwa saya. Mengapresiasi sebuah pementasan pada substansinya adalah memberikan makanan dengan menu artistik dan estetik bagi pikiran saya. Dengan menonton pun maka saya menjadi saksi, dan dengan demikian maka saya harus memberikan kesaksian kepada publik dalam cara yang bisa saya lakukan, yaitu menulis.
Karenanya untuk memenuhi rasa lapar pikiran saya terhadap pertunjukan seni ini pun saya bergegas menuju tempat yang dituju. Lewat Jalan Jendral Soedirman, tepatnya di muka gerbang Komplek Kehakiman di seberang Komplek Pusat Pemerintahan Kota Tangerang saya berjalan terus menuju Mesjid Al-Muhajirin. Mesjid ini menjadi penanda lokasi karena Wisma Sitihinggil terletak di sekitar Komplek Mesjid tersebut. Bagi anda yang belum pernah ke tempat ini sebaiknya banyak bertanya karena jalan menuju lokasi lumayan jauh dari pinggir jalan raya.

GERHANA
Lakon Gerhana ditulis oleh Sutradara Teater Cahaya UMT yaitu Intan Sari Ramdhani berdasarkan cerita pendek berjudul sama karya Mohammad Ali. Saya belum membaca cerita pendek tersebut namun berdasarkan keterangan Madin Tyasawan, supervisor Produksi dalam pentas ini, cerita yang ditulis tidak mengubah banyak dari cerita pendek. Kalau pun ada perbedaan tentunya dalam misi meruangkan peristiwa yang terjadi dalam cerpen tersebut.
Ceritanya sendiri bagi saya realistis, adalah Sali yang kalap karena pada suatu pagi ia mendapati pohon pepaya satu-satunya yang tumbuh di pekarangan rumahnya dalam keadaan roboh melintang di tanah. Ia marah dan merasakan ketidakadilan. Sali lantas bergegas mengadukan peristiwa itu ke pihak yang berwenang. Dari Pak Lurah, kecamatan hingga kepolisian ia datangi. Namun aduannya dianggap terlalu remeh untuk ditindak lanjuti. Padahal tempat-tempat yang didatanginya adalah tempat yang sepengetahuannya bisa untuk mengadukan permasalahan dan mendapat solusi yang berkeadilan. Cemooh dan bentakan kemarahan yang didapatnya membuatnya limbung akan pencarian keadilan. Ia menanggung beban berat atas tumbangnya pohon pepaya miliknya, dan.. sebaiknya saya tidak perlu rinci dalam hal ini karena akan merusak imaji publik yang belum dan ingin menyaksikan lakon ini.

Sali diancam Polisi

Sali diancam Polisi

Lakon ini dipenuhi banyak unsur simbolik. Dimulai dari pemberian judul yang setahu saya tidak sekalipun terucapkan. Tentu ini memancing pertanyaan dari penonton. Apa relasi Gerhana dengan situasi yang terjadi? Gerhana adalah fenomena alam dimana posisi bumi dan bulan berada dalam satu garis lurus dengan matahari. Bila gerhana matahari maka bumi dalam keadaan gulita sesaat, sedangkan dalam gerhana bulan maka bulan akan menghilang sejenak. Ketiadaan bulan atau matahari yang sesaat tersebut menimbulkan imajinasi bagi nenek moyang yang mendiami nusantara ini untuk menciptakan narasi-narasi menggemparkan yang disebut dengan mitos. Pada saat gerhana matahari total tahun 1983, saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar ikut merasakan mitos yang dirakit oleh kekuasaan pada waktu itu untuk menimbulkan ketakutan pada publik yang akhirnya bersembunyi di rumah masing-masing dan menutup pintu juga jendela. Reaksi yang berbeda justru terjadi pada maret 2016, kala gerhana matahari kembali melintasi negeri ini. Gerhana menjadi sebuah peristiwa yang harus dirayakan, berbondong-bondong publik dari mancanegara juga mengunjungi titik-titik perlintasan. Walaupun begitu, masih banyak juga masyarakat tidak peduli terhadap fenomena alam tersebut dan memilih terus bekerja seperti biasa. Pilihan akan pemaknaan gerhana memang menjadi hak setiap orang, tidak terkecuali gerhana dalam lakon pementasan ini. Simbolisme berlanjut dalam penamaan peran utama yaitu Sali yang memiliki makna teguh atau kuat. Bagi masyarakat di dunia timur, nama adalah doa, adalah harapan dari si pemberi nama terhadap orang yang dinamai. Tidak terkecuali bagi penulis lakon ini yang berharap nama Sali dapat menyiratkan harapan sang penulis terhadap peristiwa. Terus terang saya belum mengkonfirmasi hal ini kepada si penulis cerita, bisa dikatakan ini tafsir dari saya sebagai penyaksi. Simbolisme juga kuat dalam penataan set yang memiliki konsep set bertumbuh. Ruang yang diciptakan dalam panggung bisa dibilang tidak mencoba menjiplak sepenuhnya akan realita, namun dengan berbagai penanda yang akrab dalam benak penonton. Strategi penataan set demikian kiranya sebagai upaya beradaptasi dengan ruang yang ada. Dan itu sudah maksimal dimata saya.
Perlu diketahui bagi publik yang belum dan ingin menyaksikan lakon ini bahwa cerita ini akan dibawa kembali pada Fesdrak 2016 yang juga berlangsung di Wisma Sitihinggil pada minggu ketiga bulan Mei hingga awal Juni 2016. Dan karenanya pementasan ini menjadi penting bagi Teater Cahaya UMT dan Wisma Sitihinggil untuk menguji coba lakon di ruang pentas alternatif ini.

DI SITIHINGGIL
Pada alinea kedua dan paragraf di atas ini saya tuliskan Wisma Sitihinggil sebagai ruang alternatif pertunjukan seni dan ini adalah kesengajaan dari saya untuk menggambarkan impresi kegembiraan dari saya akan terciptanya ruang pertunjukan baru di kota Tangerang. Ini menjadi penting bagi saya yang juga pelaku kesenian karena dengan demikian membuka peluang bagi saya dan pelaku seni lain untuk berkiprah di sini. Lokasinya yang rapat dengan rumah-rumah penduduk sekitar menebar benih kesempatan bagi publik untuk berkenalan dengan pertunjukan seni dan menjadi penyaksi. Bagi saya ini positif karena semakin banyak ruang pertunjukan maka semakin banyak pilihan bagi publik untuk menyaksikan pertunjukan seni yang beragam.
Dari penuturan Madin Tyasawan dan Eb Magor, Wisma Sitihinggil dimiliki dan dikelola secara mandiri. Saya kagum mendengar ini, karena butuh ‘kegilaan’ untuk membuka ruang pertunjukan tanpa dukungan pemerintah. Di kota lain mungkin hal ini biasa, tetapi di Tangerang ini langka.
Karenanya saya berharap Wisma Sitihinggil dapat terus konsisten menyajikan pementasan bagi publik Tangerang dan sekitarnya, dengan atau tanpa APBD.

TITIK
Sebelum mencapai titik maka perlu kiranya saya mengantarkan konklusi atas kesaksian saya ini. Gerhana masa kini adalah momentum perayaan penyatuan harmoni antara manusia dengan ruang semesta. Ini adalah sebuah keindahan, dan itu pula yang sudah dilakukan dengan maksimal oleh Teater Cahaya UMT pada pementasan kali ini di ruang bernama Wisma Sitihinggil.