TIDUR DI PUNGGUNG LEMBU

Saya tidak sedang membahas gembala dengan memakai judul di atas. Lembu yang saya maksud adalah nama sebuah gunung yang berada di Desa Panyindangan, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta di Provinsi Jawa Barat. Berjarak sekitar 94 kilometer dari rumahku (berdasarkan perhitungan google map) dan memiliki ketinggian 792 mdpl. Jangan remehkan ketinggiannya karena jalur menuju puncaknya didominasi tanjakan yang jelas menguras energi para pendaki. Mengutip ujaran mereka maka jalur Gunung Lembu itu “gak ada bonusnya.

Gunung Lembu menjadi tujuan perjalanan saya menutup tahun 2017 berdasarkan referensi dari sekelompok pendaki yang tahun lalu saya temui di Gunung Guntur. Anda bisa membacanya di tulisan “Gintur di Guntur Lagi” pada blog ini.

di gerbang gunung Lembu

di gerbang gunung Lembu

Terdapat tiga gunung yang berdekatan di Purwakarta yaitu Gunung Lembu, Gunung Bongkok dan Gunung Parang. Pilihan saya jatuh pada gunung Lembu karena di puncaknya bisa melihat matahari terbit dan tenggelam dengan lanskap Danau Jatiluhur di bawahnya. Dan memang pilihan saya tak salah. Karenanya saya mulai mencari informasi mengenai rute perjalanan dan transportasi yang digunakan.

Ada banyak informasi mengenai rute ke gunung Lembu, salah satunya yang lumayan lengkap ada di blog dianjuarsa.com bahkan ia mengurai biaya yang dikeluarkan.  Dari situ saya mendesain perjalanan saya.

Bis Warga Baru jurusan Jakarta−Purwakarta menjadi kendaraan yang saya tumpangi. Dengan tarif 20.000 rupiah dan kursi empuk membuat saya nyaman untuk tidur selama perjalanan. Berangkat dari Terminal Kampung Rambutan pada jam 08:45 WIB dan setibanya di pertigaan Ciganea saya dibangunkan kenek yang menyarankan saya berganti kendaraan umum, saat itu jam 10:40 WIB. Turun dari bis ada seorang tukang ojek menghampiri dan menanyakan tujuan saya. Begitu tahu saya hendak ke gunung Lembu ia menawarkan mengantar dengan tarif 70.000 rupiah, saya pun meminta harga yang lebih rendah dan kami pun sepakat dengan harga 50.000 rupiah. Tetapi rupanya ia tak tahu jalan menuju gunung Lembu, alhasil kami menuju arah yang salah hingga akhirnya kami bertanya−tanya kepada penduduk lokal hingga berkali−kali demi mendapat kepastian arah. Nyaris dua jam ia membawa saya hingga ke tempat pendaftaran di muka kantor kepala desa Panyindangan. Kami berdua sama−sama baru kesini dan sama−sama penat dan lapar dengan jauhnya perjalanan. Saya pun mengajaknya makan di warung yang juga menjadi tempat pendaftaran bagi para pendaki. Dua porsi nasi timbel dengan lauk ayam goreng, tempe orek,  telor dadar dan mie cukup mengisi perut kami dengan harga 28.000 rupiah saja.

bebatuan di jalur gunung Lembu

bebatuan di jalur gunung Lembu

Sesudah makan dan mendaftar dengan biaya 10.000 rupiah (sudah termasuk asuransi) maka tepat jam 13:00 WIB saya memulai pendakian. Benarlah apa yang diucapkan para pendaki sebelumnya bahwa jalur gunung Lembu “gak ada bonusnya” dan itu sudah berlangsung dari titik 0. Ada setidaknya tiga lokasi untuk tenda yaitu di Pasir Rompang, Lapang Kapal dan puncak. Dan diantara jalur perkemahan juga terdapat dua petilasan yaitu milik mbah Suryakencana dan Mbah Jonggrang. Dian Juarsa memberi peringatan dalam tulisannya agar tidak menduduki petilasan tersebut dengan alasan apapun.

jalur gak ada bonus

jalur gak ada bonus

Menjelang puncak, anda akan disuguhi pemandangan bagan−bagan yang mengapung di atas Jatiluhur pada sisi kanan arah perjalanan dan lanskap gunung Parang di sebelah kiri.  Berhentilah sejenak untuk menikmati keindahannya. Akan memakan waktu sekitar 100 menit dengan perjalanan yang santai untuk tiba di puncak yang siang itu sudah dipenuhi tenda para pendaki. Saya memilih tempat yang berjarak sekitar 20 meter sebelum puncak dimana masih lapang untuk membangun tenda. Sama seperti perjalanan saya sebelumnya, tenda yang saya bawa terbuat dari banner yang saya bentuk menjadi tenda layak ditiduri. Selesai mendirikan tenda hujan turun dengan rimbunnya disertai desir petir yang sesekali membuas. Saya pun hanya bisa rebahan di dalam tenda sambil sesekali melirik sinyal ponsel yang timbul−tenggelam tanpa kejelasan. Hingga sore hujan tak reda begitu juga dengan rombongan pendaki yang baru tiba. Lepas maghrib hujan sesekali berhenti dan tercatat ada tiga tenda baru di sekitar saya. Dua tenda milik rombongan dari Purwakarta dan yang terdekat dengan tenda saya adalah dua orang bersaudara yang berasal dari Sunter, Jakarta Utara. Tak banyak obrolan yang kami lakukan karena mereka masih menunggu teman−temannya yang masih di pos 1.  Namun dari cara si kakak yang mempersiapkan segalanya maka jelaslah bahwa si kakak sedang mengajarkan adiknya yang baru kuliah di Bekasi untuk bersahabat dengan alam. Karena letak tenda kami yang berdekatan, si kakak menganjurkan untuk membangun ruang dapur bersama dengan saya, ia mengeluarkan terpal untuk diikat di batang pohon sebagai atap dapur kami. Ia juga menawarkan kompornya bila saya hendak masak, tetapi karena saya sudah membawa kompor kaleng rakitan berbahan bakar spirtus yang tidak mungkin saya sia−siakan maka tawarannya saya tolak.

ambil nafas dan foto

ambil nafas dan foto

Malam tiba bersama dengan kabut, si kakak yang selesai dengan tendanya turun ke bawah untuk menjemput kawan−kawannya. Sang adik berbincang dengan saya yang sedang memasak mi instan, ia sungkan kutawari makan. Ia memilih tidur saat aku sedang bertempur dengan mi. Hujan tidak benar−benar reda sesungguhnya. Para penghuni dua tenda lainnya juga memilih ngobrol di dalam tenda masing−masing. Selesai makan saya membikin kopi agar hangat tetap betah di dalam raga. Hanya ada saya, secangkir kopi, gerimis dan rombongan pendaki yang lalu lalang pada senja terakhir di tahun 2017 itu.

pemandangan jelang puncak

pemandangan jelang puncak

Tenggelamnya matahari memang tak bisa disaksikan namun harapanku bertumpu pada terbitnya sang surya, karenanya agar tak terlewatkan saya memutuskan tidur segera. Apalagi sinyal ponsel seperti letih mendaki maka tak ada yang bisa dilakukan kecuali tidur di punggung Lembu.

Jatiluhur dari atas

Jatiluhur dari atas

Sempat beberapa kali terbangun karena bunyi notifikasi medsos dan suara kawan−kawan si kakak yang sudah tiba. Namun yang paling mengganggu adalah saat tengah malam ada letusan kembang api dari puncak (perkiraan lokasi berdasarkan bunyinya yang terasa dekat) yang besar kemungkinan dibawa pendaki lain. Bukanlah tindak kriminal meledakkan kembang api apalagi di malam pergantian tahun, tetapi bukankah kita mendaki untuk menyepi?

zoom in

zoom in

Pertanyaan di atas sebenarnya juga otokritik. Kenapa saya masih membiarkan internet tetap nyala di ponsel? Akibatnya fatal, tepat jam 00:00 ponselku mati karena kehabisan daya. Padahal ia masih kubutuhkan untuk esok. Saya membawa ponsel cadangan sebenarnya,  tetapi kualitas gambar dan kondisi baterainya lemah. Mau tidak mau saya harus merasakan konsekwensi kelalaian yang saya lakukan.

siluet

siluet

Sekitar jam tiga dini hari, saya terbangun. Dingin yang menyelinap memaksaku bergegas dan menyalakan kompor untuk memasak air dan makanan. Dari cahaya bulan yang teriris pepohonan aku bisa melihat si kakak yang juga terbangun karena dingin. Ia tidur di luar karena di dalam tenda sudah penuh dan setelah berbincang sebentar ia merapat dan rebah di antara pepohonan dan temannya yang sudah lelap dalam kantong tidur.  Sumber panas dari kompor cukup menghangatkanku. Setelah makan dan minum kopi, aku lekas berkemas untuk pindah ke Batu Lembu yang berjarak sekitar 20 menit dari puncak ke arah bawah.

di Batu Lembu

di Batu Lembu

Matahari sudah menyembul saat kakiku melangkah. Tiba di pos 3 yang berada di Batu Lembu nampak sudah puluhan orang sudah berjejal di sana. Batu Lembu adalah titik terbaik di gunung ini untuk menyaksikan matahari terbit. Luasnya tidak seberapa namun curam dan di tepiannya hanya ada pagar besi yang tidak rapat. Konon, bila dilihat dari arah timur maka gunung ini menyerupai Lembu yang sedang duduk dan Batu Lembu itu laksana hidungnya dan karena itulah penduduk sekitar menamainya gunung Lembu. Ditinjau dari perspektif geologi, gunung Lembu dan kawasan sekitarnya sebenarnya sebuah gunung yang lebih tinggi lagi. Erupsi maha dahsyat ribuan tahun silam membuat ketinggiannya terpotong dan lava yang tersumbat secara alamiah mengeras dan membentuk menjadi gunung−gunung. Itulah kenapa banyak sekali batu besar di gunung dan tidak memiliki mata air. Informasi ini saya dapat di pos pendaftaran.

mentari terbit

mentari terbit

Kembali ke Batu Lembu, saya senang sekali bisa menjadi bagian dari orang−orang yang sudah berjuang tiba di sini untuk menyaksikan fajar merekah untuk pertama kalinya di tahun 2018. Ini adalah situasi yang tidak bisa digambarkan lewat kata. Karena ini adalah harta yang tak akan bisa dicuri siapapun juga. Terlalu berharga untuk dikonversi menjadi kalimat. Begitu pula keberadaan gunung Lembu ini yang berharga tidak hanya bagi manusia tetapi juga hewan dan tumbuhan yang ada di sana. Sayangnya banyak ulah merusak para pendaki lewat mencoret bebatuan dan membuang sampah sembarangan. Saya pun termasuk. Namun sampah yang saya tinggalkan adalah tenda dengan harapan bisa digunakan oleh pendaki perorangan yang tidak membawa tenda. Selain itu juga mengurangi banyak beban yang harus saya pikul dalam perjalanan pulang.

Saya tidak berlama di Batu Lembu, saat matahari sudah mulai membulat saya berangkat. Lewat ponsel orang yang berada di sebelah saya tahu kini jam 05:50 WIB. Perjalanan turun selalu lebih cepat dari mendaki. Pagi itu juga banyak remaja yang baru tiba. Kebanyakan dari mereka tidak merencanakan berkemah, ini terlihat dari minimalnya barang yang dibawa. Bahkan ada juga yang hanya membawa ponsel di tangan dan bersendal jepit.

Tiba di bawah tepat jam 07:00 WIB. Saya bertemu empat pemuda dari Bekasi yang juga baru turun. Inilah enaknya naik gunung, walau pergi sendiri saya tidak takut kesepian. Mereka menawarkan tumpangan sampai di jalan raya terdekat.  Setelah sarapan dan minum kopi, satu setengah jam kemudian kami ke tempat parkir dan disana bertemu lagi dengan empat pemuda lainnya yang juga berasal dari Bekasi. Dengan mengendarai empat motor kami bersembilan meninggalkan desa Panyindangan. Ternyata jalur mereka berbeda dengan rute yang saya lewati sebelumnya namun membawa saya mengetahui keberadaan stasiun Sukatani.

Dari situ saya mengusulkan rute baru bagi pendaki gunung Lembu atau gunung Parang. Bila biasanya mereka yang menggunakan kereta akan melanjutkan dengan menyewa angkot dengan harga antara 250.000−400.000 rupiah (berdasarkan informasi yang saya kumpulkan selama di gunung) maka ada opsi lain yaitu dengan menumpang kereta lokal Purwakarta−Cibatu dan turun di Stasiun Sukatani dengan waktu  tempuh 27 menit. Dari stasiun Sukatani bisa dilanjutkan dengan ojek (walau sebenarnya tidak ada tukang ojek apalagi pangkalannya di desa ini, namun pemuda setempat mau mengantar dengan tarif yang disepakati bersama dalam kisaran 15−25 ribu saja) hingga di desa Panyindangan. Rute ini akan lebih cepat dan murah dibanding menyewa angkot dari stasiun Purwakarta. Namun anda harus tiba tepat waktu yaitu sebelum jam 15:45 WIB karena jadwalnya hanya sekali sehari.

stasiun purwakarta

Stasiun purwakarta

Kembali ke perjalanan, saya diantar sampai pertigaan Ciganea, tempat saya tiba sehari sebelumnya. Dengan angkot kulanjutkan  menuju  stasiun Purwakarta.  Dan ada yang menarik perhatian saat angkot ini sudah di tengah Purwakarta yaitu kerumunan orang di tempat yang sopir angkot sebut sebagai Situ Buleud. Berbentuk lingkaran yang ditengahnya terdapat kolam dengan patung−patung menghadap ke empat penjuru mata angin. Ingin saya melihat tempat itu namun saya harus memastikan jadwal  kereta dahulu. Saya beruntung karena sesampainnya di stasiun, petugas menjawab bahwa loket baru dibuka mulai jam 13:00 WIB dan itu artinya saya mendapat waktu 3 jam untuk menelusuri Situ Buleud. Aku lalu bergegas memutari Situ Buleud atau yang biasa disebut juga Taman Air mancur Sri Baduga. Aneka sosok dari cerita pewayangan memenuhi pagarnya, dan juga patung besar di muka taman. Soal patung−patung ini memang seakan menjadi ciri Purwakarta. Nyaris di setiap sudut jalan akan di temui karya seni rupa dengan model  tokoh pewayangan. Menjadikan Purwakarta menjadi kabupaten dengan cita rasa artistik yang tinggi. Walau tak mendapat kesempatan memasuki Taman tersebut tetapi cukuplah bisa berfoto dengan latar banner Taman Air Mancur yang disediakan di muka gerbang taman.

di muka taman air mancur Sri Baduga

di muka taman air mancur Sri Baduga

Perjalanan singkat ini harus kuakhiri di awal tahun karena memang rencana dan logistik yang saya bawa hanya untuk perjalanan singkat. Biar singkat tetapi akan melekat dalam ingat. Bak gembala tertidur di punggung lembu dan bermimpi bertemu bidadari.

 

Iklan

Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan Indonesia yang diciptakan WR Supratman jelang Kongres Pemuda II di Batavia.
Sepengetahuan saya penggunaan lagu ini diatur oleh Undang-Undang sejak Kabinet Juanda pada masa Presiden Soekarno.
Saya tidak ingin merubah aransemen instrumental lagu ini yang sudah bermukim dalam pikiran saya karena sejak masih kecil dulu selalu mendengar aransemen lagu ini dibawakan oleh orkes terompet di TVRI saat akan memulai siarannya, yang saya coba tawarkan adalah memainkannya dengan gitar dan menambahnya dengan ritme mulut a la beatbox agar ada semangat kekinian. Harus saya akui bahwa beatbox yang saya mainkan disini tidak variatif bahkan ada beberapa saat melenceng dari ketukan, buat saya itu tidak terlalu penting karena yang menjadi pokok muatan dalam video ini adalah reaktualisasi nasionalisme.
Merdeka! Baca lebih lanjut

TEATER DAN DEMOKRATISASI

Bertempat di pelataran parkir sebuah ruko di pinggir jalan kecil, sekelompok orang yang tergabung dalam Forum Experimëntal Teater [FEëT] mengadakan pementasan teater berjudul “HITLER FOR PRESIDENT” pada tanggal cantik 11-11-11 lalu. Pentas sederhana ditemani purnama ini berlangsung dalam suasana minimalis, disaksikan para seniman teater juga publik yang tahu dan juga yang tidak tahu tentang seni teater.

Pementasan perdana ini menjadi sebuah tontonan dan mampu menyedot perhatian banyak orang yang lalu lalang di jalan tepian kali Sipon itu.  Terlihat banyaknya kendaraan bermotor yang menghentikan kendaraannya dan menyimak jalannya pementasan. Jalan kecil itu mendadak macet sepanjang durasi pentas. Ini menjadi indikasi betapa masyarakat membutuhkan tontonan berbeda dan menghibur pula. Itu pula yang menjadikan pentas ini menjadi penting untuk disaksikan masyarakat sebanyak mungkin. Pertautan dua unsur ini (publik dan teater) menemui jalannya pada malam itu.

Hal serupa juga terjadi pada pementasan “HITLER FOR PRESIDENT” di perkampungan nelayan Tanjung Pasir, Kabupaten Tangerang pada minggu 4 Desember 2011. Panggung yang didirikan di tepi jalan menuju Tempat Pelelangan Ikan tersebut mampu menarik massa yang lalu lalang untuk berhenti dan menyimak jalannya pertunjukan. Puluhan ibu-ibu yang tinggal di sekitar panggung tampak asyik menonton dari deretan warung-warung yang ada. Anak-anak malah lebih antusias lagi, mereka menyemut di depan panggung dan bahkan ikut bernyanyi lagu Indonesia Raya di atas panggung. Seakan panggung tidak hanya otonomi pengisi acara semata tetapi juga penonton pun ikut memilikinya.

Dalam pentas di ruang yang lain, Keluarga AnakLangit pada Sabtu 17 Desember 2011, HITLER FOR PRESIDENT tampil lugas dan penuh luapan sebagaimana Hitler dalam sejarah. Disaksikan anak-anak jalanan dan juga kawan-kawan dari beragam komunitas, meluncurlah hal-hal yang menjadi keseharian para penonton dengan problematika aktualnya. Ini dilakukan agar petautan erat antara publik dan teater tetap menemui koneksinya.

Hitler on Klangit

Hitler on Klangit

Namun selain sebagai tontonan, teater juga dapat berperan dalam banyak hal. Seperti lakon dengan judul politis ini “HITLER FOR PRESIDENT” tentu memiliki tendensi berbau politis dalam mengkomunikasikan gagasan-gagasan teaternya pada publik. Namun kecenderungan politis seperti apa yang dimiliki naskah ini? Tentu saja bukanlah tendensi politis untuk berkuasa karena FEëT bukanlah parpol, tetapi lebih kepada penyadaran demokratisasi bagi masyarakat.

Hal tersebut diungkapkan oleh sutradara merangkap aktor pada pentas tersebut, Boy Mihaballo. Teater sebagaimana seni lainnya memiliki pengaruh yang besar bagi masyarakat karena sifatnya yang komunikatif. Dan dampak positif tersebut bisa dimanfaatkan untuk tujuan demokratisasi. Demokratisasi adalah upaya penyadaran akan hak-hak demokrasi publik. Dan hak-hak demokratik rakyat yang terutama adalah memahami bahwa suara rakyat adalah suara kedaulatan tertinggi dalam sebuah negara demokrasi. Agar suara rakyat dapat diimplementasikan dalam bentuk kebijakan yang pro rakyat tentu saja suara rakyat tersebut harus berada dalam pola pikir rasional. Hanya dengan rasionalitas saja maka suara rakyat dapat dipertahankan ketika berhadapan dengan kebijakan pemimpin yang irasional, karena tidak pro-rakyat.

Rasionalitas yang diharapkan ini tercermin dalam pentas yang memunculkan seorang Hitler, pemimpin rasis Jerman pada Perang Dunia II, berkampanye demi pencalonannya sebagai presiden Republik Indonesia 2014. Jejak dan dosa yang menemani riwayatnya dilupakan begitu saja dan ia mengharap rakyat dapat terbuai dalam janji-janji politiknya yang rasional dan manis tersebut. Bila seorang “penjahat politik” berjanji dengan begitu masuk akal apakah anda tetap akan memilihnya?

Disini yang diuji adalah akal sehat dari publik yang tak terdistorsi oleh politik uang, fanatisme ideologi/dogma/suku dan apatisme. Sesuatu yang ideal dalam tatanan kenegaraan. Tetapi bukanlah suatu ilusi pula untuk diwujudkan. Hanya masalah konsistensi dan stamina semata. Karena demokrasi adalah sebuah proses yang harus terus dijalani.

Ujian bagi nalar publik bisa dimunculkan dalam bentuk simulasi dan diskusi dan kedua hal tersebut telah terangkum dalam pentas berdurasi sekitar 30 menit tersebut.

Timbul pertanyaan; kenapa Hitler? Sosok Hitler adalah personifikasi dari kekuasaan yang cenderung rakus. Dan, ini yang terpenting, visualnya unik. Tak ada dalam sejarah sosok penguasa yang lebih unik dari Hitler. Kumisnya yang hanya sepotong di tengah menjadikannya figur yang karikatural.

Lakon bergaya realis ini memang memiliki potensi untuk menarik publik tersedot ke dalam setiap bagiannya. Bahkan lebih dari itu dengan menyimak begitu banyaknya unsur sejarah, antropologi, linguistik, politik dan lain sebagainya dapat tercermin dalam pentas tersebut. Pentas ini tidak semata global dalam pemilihan tokoh sentralnya  tetapi dimanifestasikan dalam muatan lokal.

Dengan kian banyaknya ruang dan waktu yang disediakan untuk “Hitler” (walau untuk itu harus menumpang pada cara-acara kawan) maka akan semakin tersebarlah demokratisasi bagi masyarakat. Lakon yang komunikatif ini menjadi menarik karena gaya orator tokoh yang mampu memikat massa seperti layaknya Soekarno di era Perang Revolusi ’45.

Namun sekomunikatif apapun pertunjukan ini adalah sebuah eksplorasi kecil dari perjalanan panjang Forum Experimëntal Teater yang kerap ‘membingungkan’ publik dengan pilihan bahasa tubuh/simbol selama ini.  Sebagai bagian dari proses yang terus berlangsung maka pilihan gaya komunikasi kali ini memiliki relevansi dengan tema dan publik yang dituju.

Ya semoga saja di era transparansi sekarang ini maka menjadi peluang yang baik bagi terciptanya proses demokratisasi di tengah masyarakat, sehingga publik pun tak harus bersikap reaksioner bila melihat “Hitler-Hitler” masa kini berkoar-koar di depan mata.