Menuju Teater Tanpa Penonton 4.0

Bagi mereka yang sudah berteater sejak dasawarsa 70-an, atau malah sebelumnya, pasti akan mengira ini topik usang dan plagiasi dari yang sudah digagas almarhum Danarto sejak 1978 lewat karya pertamanya Bel Geduwel Beh di seluruh area Taman Ismail Marzuki. Walau sebenarnya Danarto juga hanya memodernisasi gagasan teater tradisi yaitu meleburkan batas antara pemain dan penonton.
Tetapi bukan itu maksud dari tulisan ini. Baiklah, saya akui bahwa saya mencuri judul dari tulisan Danarto pada buku Pertemuan Teater 80 dan tujuan pencurian ini semata untuk mem-postmodernisasi gagasan Danarto yang, seperti saya tulis sebelumnya, memodernisasi gagasan teater tradisi.
Sejatinya tulisan ini mengarah pada bentuk dekonstruksi dari modernisasi atas tradisi itu sendiri.
Pada Danarto, batasan antara pemain dan penonton dihilangkan dengan cara memberikan ruang bagi penonton untuk menyerang pertunjukan. Karena roh dan daging dari pertunjukan adalah penonton. Isi pertunjukan sejatinya adalah kisah dari penonton, maka sesudah membayar untuk menyaksikan kisah mereka dibawakan tentu menjadi logis bila penonton berhak menyerang pertunjukan bila tidak sesuai dengan apa yang mereka pikir tidak sesuai, tidak menarik atau mungkin melenceng dari narasi yang mereka ingini. Karena teater butuh penonton, sebagaimana penonton butuh teater untuk melihat kisahnya.
Selain Danarto, tercatat nama Teater Kubur pada 1987 juga memainkan lakon Kucak Kacik dengan konsep teater tanpa penonton. Dindon memboyong banyak penonton untuk menjadi penyaksi sekaligus menjadi pengisi.
Bila kita bergerak mundur ke era pra-teater modern, maka semua teater rakyat di berbagai kultur di nusantara ini juga bergerak dalam spirit teater tanpa penonton. Pada pertengahan 90-an, saya pernah menyaksikan pertunjukan lenong pada sebuah hajatan di muka rumah keluarga yang berdarah Betawi. Batas antara penonton dengan pemain adalah ruang antara yang imajiner, entah mengapa semua penonton seolah tertib berdiri mengelilingi pemain walaupun tidak ada stage manager yang mengaturnya. Pada adegan banyolan, tokoh pembantu melemparkan pantun ke penonton yang bisa dibalas pula oleh penonton dengan pantun. Atau bisa juga dibalas oleh pemain lain yang belum dapat giliran masuk. Tidak hanya pada sesi banyolan saja, pada adegan perkelahian juga penonton bebas memberikan dukungan pada jawara pujaannya dan mencemooh jagoan yang tidak disenanginya. Pada lenong, yang kini mulai jarang saya saksikan lagi di hajatan warga Betawi di Tangerang, penonton bisa menyerang pemain walau koridor alur tetap utuh tidak diutak-atik dan ini membutuhkan pemain yang lentur dalam berimprovisasi dan disiplin menjaga plot.
Contoh lain dari teater tradisi di kultur lain juga memiliki kemiripan dengan lenong dan gagasan Teater tanpa penonton a la Danarto.
Lalu apa dekonstruksi yang ditawarkan oleh saya?
Idenya dilatari oleh upaya preventif global untuk mencegah penyebaran Covid-19 dimana social distancing menjadi strateginya. Menjaga jarak, tidak bepergian untuk hal yang tidak darurat, dan bekerja dari rumah adalah elemen-elemen social distancing yag menjadi kunci dari dekonstruksi. Teater tanpa penonton pada era ini tidaklah sama dengan gagasan modernisasi tradisi-nya Danarto. Karena memang ketidakhadiran secara fisik dari penonton adalah roh dan daging dari teater tanpa penonton kini.
Bila penonton tidak hadir, lalu siapa yang menjadi penyaksi sebuah pertunjukan? Kehadiran penonton secara fisik adalah sesuatu yang tidak pernah diperbaharui oleh pelaku teater sejak era Yunani kuno hingga kini. Argumentasinya adalah agar penonton bisa meresepsi secara emosional apa yang dihadirkan aktor lewat tubuhnya dan keseluruhan perangkat yang mengiringinya. Bila sebuah tragedi yang dibawakan aktor mampu membawa emosi penonton dalam suasana duka maka pertunjukan itu berhasil, begitu pula bila komedi mampu menghadirkan tawa.
Atau, karena teater tidak hanya media bagi literasi, jika tubuh aktor mampu menenggelamkan penonton dalam alienasi maka pertunjukan itu juga bisa disebut berhasil.
Penonton adalah tujuan dari semua bentuk pertunjukan teater.
Lalu bagaimana bila kehadiran penonton malah beresiko menyebarkan dan tertularnya mereka akan korona virus?

Maka penonton masih dapat hadir namun tidak secara fisik.
Teknologi informasi adalah medium yang digunakan penonton untuk bisa menyaksikan sebuah pertunjukan, melalui jaringan internet berkecepatan tinggi maka setiap detik adegan adalah detik yang sama dengan detak jantung penonton.
Pada 2018 di Bentara Budaya Jakarta, saya menyaksikan pertunjukan Teater Mandiri. Namun karena ketersediaan kursi yang terbatas maka saya tidak bisa masuk dan menonton dari halaman Bentara Budaya dengan bantuan sudut pandang kamera video yang merekam adegan demi adegan dan ditembakkan ke layar putih. Saya masih bisa tertawa sebagaimana gelak dari penonton di dalam kala dialog yang diucapkan begitu lucu. Saya juga masih bisa merasakan pergerakan alur seperti halnya para penyaksi di dalam sana. Tetapi memang ada yang hilang dari apa yang saya rasakan secara empiris. Saya merindukan kesatuan kosmis antara saya sebagai penonton dengan ruang serta waktu yang diciptakan pemain. Sebagai penonton yang berada di luar maka kerap tergoda untuk menatap uniknya puncak Menara Kompas atau lampu kecil yang menyala jauh dari posisi saya. Semesta yang saya alami berbeda dengan semesta yang digelar Teater Mandiri.

Enter Teater
Enter teater now


Ini tantangan yang harus dipecahkan bagi konsepsi dekonstruksi yang saya ajukan. Harapannya tentu di masa depan internet tidak hanya mampu mengirimkan data berupa suara, teks dan gambar saja namun juga bisa mengirim aroma dan sensasi psikologis semacam rasa sakit dan lain sebagainya. Bukan tak mungkin impian itu akan terwujud dalam waktu singkat dengan memanfaatkan teknologi Internet Of Things (IoT) yaitu dengan memanipulasi benda-benda elektronik di sekitar penonton untuk dikendalikan dari jarak jauh dan memainkan perannya sebagaimana perangkat teater konvensional semacam tata lampu, efek suara, atau malah bebauan.
Bila hal itu belum dapat terwujud kini lalu apa bedanya menyaksikan teater tanpa penonton dengan menyaksikan dokumentasi pertunjukan teater?
Konsep ini mau tak mau harus merevisi elemen pertunjukan yang umurnya sudah mencapai milenium yaitu: interaksi penonton.
Revisi yang dimaksud adalah membebaskan penonton untuk memberi efek tersendiri selama pertunjukan berlangsung dan bersifat sporadis. Melalui layar sentuh mereka bisa saja memperbesar area tertentu untuk fokus pada seorang aktor atau malah pada properti. Sporadis yang dimaksud adalah apa yang dilakukan oleh seorang penonton di titik A tidak berpengaruh pada apa yang dilakukan oleh penonton lain di titik B walau pun diantara keduanya bisa terkoneksi. Ini untuk menyelamatkan alur dan pesan yang ingin disampaikan pementasan itu. Interaksi bisa dilebarkan menjadi interreaksi atau bahkan interkoneksi. Interreaksi adalah respon diantara penonton yang bisa berupa pujian, kritikan, ikon, meme dan lain sebagainya yang terbaca pula oleh pemain. Seperti kolom komentar pada live streaming. Interkoneksi adalah aksi sepihak yang terkoordinir secara spontan oleh penonton misalnya untuk memboikot pertunjukan jika dirasa pementasan tidak berjalan seperti yang mereka harapkan. Kejam sekali memang, tetapi ini adalah era liberalisasi teknologi informasi dimana setiap orang berhak berkomentar secara frontal dan dangkal sekalipun. Karena itu maka teater dituntut pula untuk memiliki stamina yang elastis sekaligus tahan banting. Bukan tidak mungkin alur bisa diubah secara kilat bila melihat grafik penonton yang menurun. Ini tantangan yang radikal, bukan?
Bagi pelaku teater sebenarnya ini juga peluang untuk menciptakan konsep artistik yang tidak hanya futuristik, dalam artian belum terpikirkan hingga kini oleh penata artistik lainnya, namun juga tetap estetik.
Konsep artistik bisa saja berupa platform dengan memberi rung imajiner bagi penonton mendesain artistik semampunya dengan resiko banalitas namun dilokalisir dengan metode sporadis yang bisa diprogram pada platform.
Musik atau efek bebunyian bisa dilakukan dengan IoT, dengan mengambil alih kendali pemutar musik atau piranti lain yang bisa digunakan di lokasi penonton sehingga musik atau efek bebunyian yang dihadirkan akan berbeda antara satu penonton dengan yang lainnya.
Begitu juga dengan cahaya lampu yang dikendalikan jarak jauh. Akan lebih baik bila lampu yang ada di lokasi penonton bisa dinaik turunkan daya listriknya seperti dimmer tetapi bila tidak dimungkinkan maka gelap dan terang adalah dua hal yang bisa dimainkan.
Bagaimana dengan aktor? Mungkin pada tahap awal aktor bisa tetap berperan seperti biasa namun bukan tidak mungkin di kemudian waktu para penonton bisa mengganti wajah aktor dengan wajah penonton dengan menerapkan teknologi Artificial Intelligence dimana sistem komputasi penonton sudah memenuhi syarat untuk bisa melakukan itu.
Bagaimana dengan unsur-unsur lainnya? Ini adalah dekonstruksi dengan probabilitas tanpa batas. Hingga malam ini saat menulis tidak semua kemungkinan sanggup saya bayangkan. Ada banyak potensi dan peluang isian ide untuk mendekonstruksi teater tanpa penonton untuk dipikirkan bersama-sama dengan mereka yang tertarik dengan gagasan ini.

Sekitar tahun 2010, saya pernah merencanakan sebuah pertunjukan kolaborasi dengan berbagai pemain di berbagai lokasi dengan perantaraan internet. Setiap adegan yang ditampilkan setiap pemain di setiap tempat saling terikat dalam hukum kausalitas sebab-akibat atau aksi-reaksi. Tetapi gagasan ini masih serupa gas yang tidak terlihat, karena keterbatasan dalam banyak hal. Bisa jadi itu titik awal dalam mengaplikasikan teknologi informasi dalam mengerutkan ruang dan waktu pertunjukan. Walaupun pada saat itu saya pun belum terpikirkan untuk mendekonstruksi kehadiran penonton.

Mungkin titik awal itu bisa direalisasikan menuju teater tanpa penonton 4.0. Jika tidak, ya kembali saja ke masa 40 tahun lalu. Masa Bel Geduwel Beh.

Tiit...tiit oleh Boy Mihaballo
pariwara


Sejujurnya saya tak suka lagunya Ahmad Dhani di dunia politik yang berkemasan kebencian namun telinga saya menikmati karya musiknya yang dipenuhi melodi rasa cinta.
Karena itu saya harus memisahkan karya dan penciptanya yang tak terintegrasi utuh ini melalui aransemen bergaya fingerstyle dan membuang seluruh teks-teks ke kertas-kertas kosong tak terbaca.
Pilihan membawakan karya Ahmad Dhani yang ini bukan tanpa alasan namun diiringi harapan kiranya cinta kan membawa penciptanya kembali ke habitatnya, Republik Cinta.

 

FROGMAN: FRAGMEN INGATAN

 

Dalam rangkaian program Djakarta Teater Platform yang digagas Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, saya berkesempatan menjadi penyaksi dari sebuah pertunjukan teater yang menggabungkan teknologi dengan teater. Curious Directive, sebuah kelompok teater dari Norwich, memboyong teknologi realitas virtual 360 derajat ke dalam lakon Frogman. Pentas yang berlangsung dari tanggal 24 (khusus media massa) hingga 28 Oktober 2018 ini diadakan di Studio Tom Fakultas Film dan TV Institut Kesenian Jakarta. Setiap harinya terdapat dua kali mereka memainkannya yaitu pada jam empat sore dan delapan malam dengan durasi satu jam.  Saya adalah satu dari  500 penonton beruntung  yang menyaksikan mereka. Ditulis beruntung karena hanya tersedia 50 kursi untuk setiap pertunjukan ini, dan  itu juga harus melalui pemesanan daring. Dan pesanan saya yang gagal karena tidak mendapat surel notifikasi, ini masalah serius bagi tim publikasi karena ini bisa berdampak kepada  kegagalan calon penonton untuk menyaksikan pertunjukan yang sudah dipesannya, akhirnya terobati dengan bantuan alam. Jakarta yang diguyur hujan malam itu bisa jadi membuat batal hadirnya sejumlah pemesan tempat yang membuat saya yang mengantri di ruang tunggu bisa menjadi penonton.

Kenapa saya harus berpanjang kata dengan problematika sebagai calon penonton di tepian alinea di atas?  Ini penting karena eksistensi penonton pada lakon Frogman tidak sebatas menjadi saksi eksklusif dari pertunjukan ini semata tetapi juga difungsikan sebagai pemain yang berperan sebagai juri dalam sebuah investigasi kasus hilangnya seorang gadis bernama Ashleigh Richardson di tahun 1995.

pengarahan oleh Jack Lowe sebelum masuk Studio

Seluruh penonton yang terbatas ini diposisikan duduk dalam formasi elips memanjang dengan kursi putar, headphone dan headset VR sebagai peranti pendukungnya. Sebelum memasuki studio kami di beri pengarahan oleh sutradara Jack Lowe tentang cara penggunaan peranti tersebut agar dapat maksimal bermain sebagai juri. Saya yang mendapat kursi juri nomor 26, duduk di sudut kiri arah masuk studio dan berbatasan dengan karpet tebal yang berfungsi sebagai panggung sekaligus sebagai penanda visual seolah pasir pantai.

Adegan dibuka dengan kehadiran tokoh Meera yang tiba-tiba, karena sebelumnya kami diberi kesempatan untuk mencoba headset VR untuk adaptasi dan ketika melepaskannya ternyata sudah ada Tessa Parr yang memerankan Meera. Ini adalah sebuah interogasi terhadap saksi kunci berkaitan dengan kasus hilangnya seorang gadis di tahun 1995. Adegan interogasi berlangsung dalam bahasa Inggris dan mungkin menyulitkan bagi yang tidak memahami bahasa itu untuk menemukan relasi dengan pemaparan bukti-bukti berupa ingatan masa lampau Meera dua puluh tiga tahun silam. Ashleigh Richardson adalah seorang gadis yang suka merundung di sekolah, ia dijauhi banyak anak-anak kecuali Meera dan fakta tersebut tercetus saat bukti ingatan Meera dikupas. Pribadi Ashleigh yang suka merundung ini dilatar belakangi oleh kehidupan rumah tangga yang tak harmonis yang membuatnya suka keluar dari rumah di tengah malam dan mengunjungi kamar Meera lewat jendela. Meera dan Ashleigh menjadi karib saat malam, mereka saling berbagi cerita dan pengalaman. Lewat Asheigh, Meera diajari bagaimana menyelam  dan bernafas dalam air. Dan Meera menjadi tempat Ashleigh berkeluh kesah tanpa rahasia. Hingga suatu waktu, Ashleigh mengatakan bahwa ia akan dipindahkan ke sekolah seni di Melborne namun ia tak mau dan esoknya ia menghilang hingga dua puluh tiga tahun kemudian kasus hilangnya ia diangkat kembali. Fragmentasi interogasi dan paparan bukti-bukti mewajibkan kami untuk bolak-balik memasuki alam nyata dan virtual. Hal ini diperlukan agar kami selaku juri mendapat gambaran utuh sebab akibat peristiwanya dikarenakan rentang yang lama dari kejadian dan proses interogasi.  Alur kronologis dengan lompatan waktu seperti ini memang berpotensi membingungkan penonton bila fokus teralihkan oleh hal-hal vital seperti buang air kecil oleh karenanya panitia mempersilakan penonton untuk ke kamar mandi sebelum memasuki studio agar tetap fokus selama pentas. Dan dengan perangkat yang disediakan juga menyegarkan visual penonton bila sudah kebingungan oleh dialog Meera yang tanpa translasi itu.  Yang juga menarik tentunya kekuatan peran Meera yang dengan gestur dan mimik meyakinkan dalam merespon pertanyaan dari interogator yang hanya terdengar suaranya saja tanpa ujud. Sendirian, Tessa  berusaha menghadirkan serpihan kenangan-kenangan tentang Ashleigh. Perubahan tanggapan Meera berangsur terjadi pada setiap potongan interogasi yang diselingi pemaparan bukti masa lalu dan itu membuat kami sebagai juri menjadi ikut terbawa oleh keyakinan Meera bahwa Ashleigh sesungguhnya masih hidup dan bukanlah hilang tenggelam sebagaimana hasil penyelidikan polisi yang kurang bukti karena mayatnya tidak pernah ditemukan. Meera akhirnya mengingat bahwa Ashleigh tersenyum padanya sebelum menceburkan diri ke laut dan ia juga mengetahui Ashleigh sanggup menahan nafas dalam air. Fakta-fakta tersebut ditambah motivasi keengganan Ashleigh pindah ke Melbourne membuat kami, atau setidaknya saya selaku salah satu juri, percaya dengan analisis Meera dewasa yang tentunya berbeda dengan pemahaman Meera remaja yang tahunya Ashleigh hilang sesuai keterangan polisi.

Ingatan dalam lakon Frogman adalah bukti-bukti yang disodorkan kepada kami dalam bentuk akting Tessa dalam mengingat masa lalunya dan film-film masa lalu serta lanskap bawah laut yang tersaji melalui realitas virtual. “Because it’s about memory,” ungkap Jack Lowe yang saya temui seusai pentas menyikapi tanda tanya saya mengenai gagasan penggunaan realitas virtual dalam pementasannya.

Jack Lowe

Memori atau ingatan masa lalu inilah yang coba dihadirkan dengan menggunakan teknologi realitas virtual, Jack menambahkan penjelasannya.  Untuk mendukung ingatan masa lalu yang semirip mungkin dengan masa itu maka dalam realitas virtual dihadirkan Meera remaja yang sedang menggandrungi lagu When I Came Around milik Green Day, kaset video Dumb And Dumber, ETThe Lion King atau juga video game Sega. Dengan visual yang kadang kabur atau saling menindih antara satu ingatan dengan ingatan lain maka seolah melalui teknologi kita diajak menyelami ingatan Meera. Tidak hanya itu, melalui realitas virtual kami juga diajak menelusuri terumbu karang yang pengambilan gambarnya dilakukan di Raja Ampat, Papua. Alam bawah laut ditampilkan untuk menjejaki proses pencarian korban dan juga kenangan Ashleigh saat menyelam.

Pemanfaatan teknologi dalam panggung teater seusia dengan kemajuan teknologi itu sendiri. Beberapa bulan lalu saya berkesempatan menyaksikan pentas teater yang menggunakan film yang dibuat khusus untuk pertunjukan teater itu sendiri dimana adegan dalam film diisi suara oleh para aktor dengan pemanggungan yang berbeda dari adegan di film. Begitu juga saat grup teater Kain Hitam Gesbica mementaskan Syekh Siti Jenar juga menggunakan film sebagai bahasa surealis untuk mendukung akting pemainnya. Bisa dikatakan dalam tahun ini saja sudah banyak panggung teater yang dikombinasikan dengan multimedia berupa film atau video mapping. Rita Matu Mona dari Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta yang bertemu di saat antrian masuk menuturkan bahwa ini adalah bagian dari program Djakarta Teater Platform yang tahun ini banyak mengedepankan pertunjukan dengan pemanfaatan teknologi terkini dalam teater hal ini dilakukan sebagai studi dan pembacaan zaman yang memasuki era baru nan virtual. Hal ini menjadi vital guna menentukan peta Indonesia dalam teater dunia. Diharapkan hal tersebut menjadi stimulasi yang memantik kreator teater nasional dalam mengeksplorasi teknologi guna kebutuhan pemanggungan.

Dunia sudah melampaui apa yang sanggup dibayangkan fantasi manusia. Penyebaran teknologi yang meluas hingga ke genggaman publik selama ini hanya disikapi sebagai upaya eskapisme masyarakat dari realitas pahit yang dihadapi. Dengan bermain game daring mereka bisa melepas lelah dari kehidupan nyata untuk sementara dan sebatas menyegarkan sedikit demi sedikit, kecuali mereka yang sudah tingkat pecandu akut, ingatan mereka. Namun sebagaimana hal lainnya maka teknologi pun bersisi positif dan negatif.  Untuk Jack Lowe dengan Frogman-nya adalah contoh pemanfaatan yang positif namun di ruang publik yang terjadi kebanyakan sisi negatif dan satu contoh negatif saya alami sendiri saat usai menyaksikan Frogman.

Malam itu, Jakarta diguyur hujan dengan kilat dan angin berkoalisi di dalamnya. Saya terjebak satu jam lebih tak bisa keluar dari Studio TOM tempat pertunjukan berlangsung, sementara aplikasi angkutan daring juga tak membuahkan hasil karena gangguan sinyal. Setelah hujan sedikit reda saya memberanikan diri untuk ke jalan raya sambil terus mencoba aplikasi angkutan daring namun karena tak jua berhasil dan jarak ke stasiun Cikini juga kian dekat maka saya putuskan untuk fokus berjalan di tengah gerimis yang tak henti. Sesampainya di stasiun Cikini, angin besar menumbangkan sebatang pohon besar yang menimpa enam remaja di bawahnya, untungnya karena ada pagar berlapis membuat lima remaja selamat dan hanya satu yang terkena dahan mengakibatkan ia pingsan. Melihat itu saya berlari menghampiri korban dan membantu menggotongnya. Ironisnya beberapa tukang ojek, yang pastinya tinggal di sekitar lokasi, yang sebelumnya saya lihat sedang asyik bermain game di ponsel mereka(asumsi saya atas bahasa tubuh mereka)  hanya berdiri di tempat sambil berteriak  seolah memberi instruksi kepada kami yang bergerak menggotong korban kesana kemari.

Korban pohon tumbang di Stasiun Cikini

Entah apakah mereka  belum move on dari realitas virtual di ponsel mereka atau memang tak berani menghadapi realitas di depan mata tetapi saya berani beropini bahwa mereka terlalu larut dengan dunia virtual sehingga melupakan melakukan virtue  (kebajikan) dalam dunia.  Kemajuan teknologi memang tidak diimbangi dengan kemajuan akal budi namun bukan tidak mungkin di masa mendatang keduanya beriringan.

Kembali ke Frogman, yang diklaim oleh Jack Lowe sebagai yang pertama di dunia dalam pemanfaatan teknologi virtual realitas di panggung teater,  adalah upaya awal yang patut diapresiasi walau dalam pemkiran saya hal ini masih bisa dieksplorasi lebih lanjut karena Jack masih memberi batas tegas antara realitas panggung dan realitas virtual dan bila dinding teritori ini dibongkar maka revolusi akan terjadi. Ide di atas ide adalah suatu yang wajar terjadi sepanjang ide baru tidak berdiri menindas ide sebelumnya melainkan serupa tongkat estafet yang mebuat dinamika peradaban ke arah yang sesuai perkembangan zaman. Gagasan Jack bila diteruskan dengan menghadirkan tokoh virtual ke dalam realitas panggung tentulah revolusioner, bisa jadi ia berbentuk hologram seperti wawancara sebuah stasiun televisi dengan buronan pendiri wikileaks, Assange, beberapa tahun lalu. Atau bisa juga karakter virtual ini terlihat nyata dalam realitas panggung yang disimak melalui perangkat ponsel seperti pokemon. Mungkin inilah manifestasi dramaturgi baru; bertolak dari yang tak ada, meminjam tema diskusi publik dengan pembicara Cecil Mariani dan Dea Aulia Widyaevan masih dalam lingkup acara Djakarta Teater Platform juga. Apa pun eksplorasi  yang dipilih tentunya harus didasarkan atas kebutuhan panggung, kemampuan penggunaan teknologi dan tentunya yang  tidak boleh dilupakan adalah cara kita memperlakukan ingatan sebagai subyek sekaligus obyek dari gagasan yang ingin disampaikan. Karena tanpa ingatan manusia didefinisikan gila dan surplus ingatan juga berpotensi menimbulkan kegilaan.

Saya harap anda tidak lelah membaca tulisan ini karena di media pribadi yang bebas dari unsur kapitalisasi maka kebebasan adalah hal yang hakiki, tentu berbeda dengan media massa yang dipagari sensor dan tuntutan perspektif yang sepaham dengan redaksi.

Jika pun anda lelah, maka anda beruntung. Karena saya juga letih dan mengakhiri tulisan ini sampai disini.

Di hari kemerdekaan Indonesia yang ke-73 ini ada tanya yang mengganjal; Apakah seorang nasionalis itu tidak religius? apakah seorang religius sudah pasti tidak nasionalis?

Di negara yang ber-ketuhanan Yang Maha Esa ini idealnya nasionalis dan religius bukan suatu dikotomi, namun realitas sosial-politik menjadikan nasionalis-religius menjadi sebuah komoditi yang sulit dihindari.
Politik identitas berbasis agama yang sudah terbukti mengoyak kesatuan bangsa memang tidak mungkin diredam dengan kekerasan karena itu adalah pupuk yang malah menyuburkannya.
Strategi kultural yang memadukan narasi kebangsaan dan keagamaan diharapkan dapat menjaga keutuhan negeri hingga seribu tahun lagi.
#Merdeka
#DirgahayuIndonesia

http://Bermain gitar klasik (walau yang dimainkan karya zaman barok, romantik atau kontemporer) itu sungguh sulit.

Tetapi lebih sulit menemukan orang yang mau mendengarkannya. Padahal dibanding karya untuk piano atau biola maka durasi komposisi untuk gitar relatif lebih singkat durasinya.

Contohnya karya Francisco Tarrega berikut ini, yang diinspirasikan dari perjalanannya ke Granada dimana ia banyak mendengar struktur ritmis dan melodis Arab dan digubah dalam Capricho Arabe (dalam sebuah buku partitur gitar tertulis Caprichio Arabe).