Menuju Teater Tanpa Penonton 4.0

Bagi mereka yang sudah berteater sejak dasawarsa 70-an, atau malah sebelumnya, pasti akan mengira ini topik usang dan plagiasi dari yang sudah digagas almarhum Danarto sejak 1978 lewat karya pertamanya Bel Geduwel Beh di seluruh area Taman Ismail Marzuki. Walau sebenarnya Danarto juga hanya memodernisasi gagasan teater tradisi yaitu meleburkan batas antara pemain dan penonton.
Tetapi bukan itu maksud dari tulisan ini. Baiklah, saya akui bahwa saya mencuri judul dari tulisan Danarto pada buku Pertemuan Teater 80 dan tujuan pencurian ini semata untuk mem-postmodernisasi gagasan Danarto yang, seperti saya tulis sebelumnya, memodernisasi gagasan teater tradisi.
Sejatinya tulisan ini mengarah pada bentuk dekonstruksi dari modernisasi atas tradisi itu sendiri.
Pada Danarto, batasan antara pemain dan penonton dihilangkan dengan cara memberikan ruang bagi penonton untuk menyerang pertunjukan. Karena roh dan daging dari pertunjukan adalah penonton. Isi pertunjukan sejatinya adalah kisah dari penonton, maka sesudah membayar untuk menyaksikan kisah mereka dibawakan tentu menjadi logis bila penonton berhak menyerang pertunjukan bila tidak sesuai dengan apa yang mereka pikir tidak sesuai, tidak menarik atau mungkin melenceng dari narasi yang mereka ingini. Karena teater butuh penonton, sebagaimana penonton butuh teater untuk melihat kisahnya.
Selain Danarto, tercatat nama Teater Kubur pada 1987 juga memainkan lakon Kucak Kacik dengan konsep teater tanpa penonton. Dindon memboyong banyak penonton untuk menjadi penyaksi sekaligus menjadi pengisi.
Bila kita bergerak mundur ke era pra-teater modern, maka semua teater rakyat di berbagai kultur di nusantara ini juga bergerak dalam spirit teater tanpa penonton. Pada pertengahan 90-an, saya pernah menyaksikan pertunjukan lenong pada sebuah hajatan di muka rumah keluarga yang berdarah Betawi. Batas antara penonton dengan pemain adalah ruang antara yang imajiner, entah mengapa semua penonton seolah tertib berdiri mengelilingi pemain walaupun tidak ada stage manager yang mengaturnya. Pada adegan banyolan, tokoh pembantu melemparkan pantun ke penonton yang bisa dibalas pula oleh penonton dengan pantun. Atau bisa juga dibalas oleh pemain lain yang belum dapat giliran masuk. Tidak hanya pada sesi banyolan saja, pada adegan perkelahian juga penonton bebas memberikan dukungan pada jawara pujaannya dan mencemooh jagoan yang tidak disenanginya. Pada lenong, yang kini mulai jarang saya saksikan lagi di hajatan warga Betawi di Tangerang, penonton bisa menyerang pemain walau koridor alur tetap utuh tidak diutak-atik dan ini membutuhkan pemain yang lentur dalam berimprovisasi dan disiplin menjaga plot.
Contoh lain dari teater tradisi di kultur lain juga memiliki kemiripan dengan lenong dan gagasan Teater tanpa penonton a la Danarto.
Lalu apa dekonstruksi yang ditawarkan oleh saya?
Idenya dilatari oleh upaya preventif global untuk mencegah penyebaran Covid-19 dimana social distancing menjadi strateginya. Menjaga jarak, tidak bepergian untuk hal yang tidak darurat, dan bekerja dari rumah adalah elemen-elemen social distancing yag menjadi kunci dari dekonstruksi. Teater tanpa penonton pada era ini tidaklah sama dengan gagasan modernisasi tradisi-nya Danarto. Karena memang ketidakhadiran secara fisik dari penonton adalah roh dan daging dari teater tanpa penonton kini.
Bila penonton tidak hadir, lalu siapa yang menjadi penyaksi sebuah pertunjukan? Kehadiran penonton secara fisik adalah sesuatu yang tidak pernah diperbaharui oleh pelaku teater sejak era Yunani kuno hingga kini. Argumentasinya adalah agar penonton bisa meresepsi secara emosional apa yang dihadirkan aktor lewat tubuhnya dan keseluruhan perangkat yang mengiringinya. Bila sebuah tragedi yang dibawakan aktor mampu membawa emosi penonton dalam suasana duka maka pertunjukan itu berhasil, begitu pula bila komedi mampu menghadirkan tawa.
Atau, karena teater tidak hanya media bagi literasi, jika tubuh aktor mampu menenggelamkan penonton dalam alienasi maka pertunjukan itu juga bisa disebut berhasil.
Penonton adalah tujuan dari semua bentuk pertunjukan teater.
Lalu bagaimana bila kehadiran penonton malah beresiko menyebarkan dan tertularnya mereka akan korona virus?

Maka penonton masih dapat hadir namun tidak secara fisik.
Teknologi informasi adalah medium yang digunakan penonton untuk bisa menyaksikan sebuah pertunjukan, melalui jaringan internet berkecepatan tinggi maka setiap detik adegan adalah detik yang sama dengan detak jantung penonton.
Pada 2018 di Bentara Budaya Jakarta, saya menyaksikan pertunjukan Teater Mandiri. Namun karena ketersediaan kursi yang terbatas maka saya tidak bisa masuk dan menonton dari halaman Bentara Budaya dengan bantuan sudut pandang kamera video yang merekam adegan demi adegan dan ditembakkan ke layar putih. Saya masih bisa tertawa sebagaimana gelak dari penonton di dalam kala dialog yang diucapkan begitu lucu. Saya juga masih bisa merasakan pergerakan alur seperti halnya para penyaksi di dalam sana. Tetapi memang ada yang hilang dari apa yang saya rasakan secara empiris. Saya merindukan kesatuan kosmis antara saya sebagai penonton dengan ruang serta waktu yang diciptakan pemain. Sebagai penonton yang berada di luar maka kerap tergoda untuk menatap uniknya puncak Menara Kompas atau lampu kecil yang menyala jauh dari posisi saya. Semesta yang saya alami berbeda dengan semesta yang digelar Teater Mandiri.

Enter Teater
Enter teater now


Ini tantangan yang harus dipecahkan bagi konsepsi dekonstruksi yang saya ajukan. Harapannya tentu di masa depan internet tidak hanya mampu mengirimkan data berupa suara, teks dan gambar saja namun juga bisa mengirim aroma dan sensasi psikologis semacam rasa sakit dan lain sebagainya. Bukan tak mungkin impian itu akan terwujud dalam waktu singkat dengan memanfaatkan teknologi Internet Of Things (IoT) yaitu dengan memanipulasi benda-benda elektronik di sekitar penonton untuk dikendalikan dari jarak jauh dan memainkan perannya sebagaimana perangkat teater konvensional semacam tata lampu, efek suara, atau malah bebauan.
Bila hal itu belum dapat terwujud kini lalu apa bedanya menyaksikan teater tanpa penonton dengan menyaksikan dokumentasi pertunjukan teater?
Konsep ini mau tak mau harus merevisi elemen pertunjukan yang umurnya sudah mencapai milenium yaitu: interaksi penonton.
Revisi yang dimaksud adalah membebaskan penonton untuk memberi efek tersendiri selama pertunjukan berlangsung dan bersifat sporadis. Melalui layar sentuh mereka bisa saja memperbesar area tertentu untuk fokus pada seorang aktor atau malah pada properti. Sporadis yang dimaksud adalah apa yang dilakukan oleh seorang penonton di titik A tidak berpengaruh pada apa yang dilakukan oleh penonton lain di titik B walau pun diantara keduanya bisa terkoneksi. Ini untuk menyelamatkan alur dan pesan yang ingin disampaikan pementasan itu. Interaksi bisa dilebarkan menjadi interreaksi atau bahkan interkoneksi. Interreaksi adalah respon diantara penonton yang bisa berupa pujian, kritikan, ikon, meme dan lain sebagainya yang terbaca pula oleh pemain. Seperti kolom komentar pada live streaming. Interkoneksi adalah aksi sepihak yang terkoordinir secara spontan oleh penonton misalnya untuk memboikot pertunjukan jika dirasa pementasan tidak berjalan seperti yang mereka harapkan. Kejam sekali memang, tetapi ini adalah era liberalisasi teknologi informasi dimana setiap orang berhak berkomentar secara frontal dan dangkal sekalipun. Karena itu maka teater dituntut pula untuk memiliki stamina yang elastis sekaligus tahan banting. Bukan tidak mungkin alur bisa diubah secara kilat bila melihat grafik penonton yang menurun. Ini tantangan yang radikal, bukan?
Bagi pelaku teater sebenarnya ini juga peluang untuk menciptakan konsep artistik yang tidak hanya futuristik, dalam artian belum terpikirkan hingga kini oleh penata artistik lainnya, namun juga tetap estetik.
Konsep artistik bisa saja berupa platform dengan memberi rung imajiner bagi penonton mendesain artistik semampunya dengan resiko banalitas namun dilokalisir dengan metode sporadis yang bisa diprogram pada platform.
Musik atau efek bebunyian bisa dilakukan dengan IoT, dengan mengambil alih kendali pemutar musik atau piranti lain yang bisa digunakan di lokasi penonton sehingga musik atau efek bebunyian yang dihadirkan akan berbeda antara satu penonton dengan yang lainnya.
Begitu juga dengan cahaya lampu yang dikendalikan jarak jauh. Akan lebih baik bila lampu yang ada di lokasi penonton bisa dinaik turunkan daya listriknya seperti dimmer tetapi bila tidak dimungkinkan maka gelap dan terang adalah dua hal yang bisa dimainkan.
Bagaimana dengan aktor? Mungkin pada tahap awal aktor bisa tetap berperan seperti biasa namun bukan tidak mungkin di kemudian waktu para penonton bisa mengganti wajah aktor dengan wajah penonton dengan menerapkan teknologi Artificial Intelligence dimana sistem komputasi penonton sudah memenuhi syarat untuk bisa melakukan itu.
Bagaimana dengan unsur-unsur lainnya? Ini adalah dekonstruksi dengan probabilitas tanpa batas. Hingga malam ini saat menulis tidak semua kemungkinan sanggup saya bayangkan. Ada banyak potensi dan peluang isian ide untuk mendekonstruksi teater tanpa penonton untuk dipikirkan bersama-sama dengan mereka yang tertarik dengan gagasan ini.

Sekitar tahun 2010, saya pernah merencanakan sebuah pertunjukan kolaborasi dengan berbagai pemain di berbagai lokasi dengan perantaraan internet. Setiap adegan yang ditampilkan setiap pemain di setiap tempat saling terikat dalam hukum kausalitas sebab-akibat atau aksi-reaksi. Tetapi gagasan ini masih serupa gas yang tidak terlihat, karena keterbatasan dalam banyak hal. Bisa jadi itu titik awal dalam mengaplikasikan teknologi informasi dalam mengerutkan ruang dan waktu pertunjukan. Walaupun pada saat itu saya pun belum terpikirkan untuk mendekonstruksi kehadiran penonton.

Mungkin titik awal itu bisa direalisasikan menuju teater tanpa penonton 4.0. Jika tidak, ya kembali saja ke masa 40 tahun lalu. Masa Bel Geduwel Beh.

Tiit...tiit oleh Boy Mihaballo
pariwara

UNDERSCORE: Antara kuno yang kekinian dan kini yang kekunoan

Pada pembukaan acara Djakarta Teater Platform 2019, dipentaskan Underscore: Copy Paste SAE oleh Artery Performa,  sebuah lakon yang merupakan reenactment atas tiga karya Teater SAE; Pertumbuhan di Atas Meja Makan (1991), Biografi Yanti setelah 12 Menit (1992), dan Migrasi dari Ruang Tamu (1993). Reenactment dapat diartikan pemeragaan kembali sebuah lakon yang sudah dipentaskan jauh sebelumnya. Mengambil contoh yang dilakukan oleh Takao Kawaguchi yang melakukan reenactment atas karya-karya Kazuo Ohno, inilah pemantik dari gagasan pemeragaan kembali lakon Teater SAE seperti yang diakui oleh Dendi Madiya, sutradara Artery Performa. Dan lewat pemilihan judul Underscore: Copy Paste SAE termaktub sebuah pengakuan gagasan dramaturgis SAE sekaligus penelusuran jawaban atas pertanyaan; mengapa tubuh-tubuh atau strategi dramaturgi Teater SAE biisa bersirkulasi hingga kini?

Gagasan dramaturgis Teater SAE bisa ditelisik dari beberapa hal; a. Irama permainan nan meditatif, seolah pemain menggiring pada upaya perlambatan waktu. b. Teater buku, ini istilah Afrizal Malna, penulis naskah lakon-lakon Teater SAE dimana didalamnya termuat beragam kutipan dan data dari berbagai tokoh dan buku. c. Tubuh histeris-eksplosif, seperti yang diungkap Boedi S.Otong, sutradara Teater SAE bahwa tubuh dengan problem kepribadian seperti itu rahasia proses kreatif mereka. d. Properti dan aktor adalah teks, hal ini bersenyawa dengan naskah dan juga bisa dilacak jejaknya pada puisi-puisi Afrizal Malna, dimana segala barang yang selama ini dianggap tak penting karena fungsinya pada ranah domestik atau malah privat justrus ditematkan sejajar dengan manusia dalam memberi makna.

Teater SAE, yang didirikan pada 1977, adalah grup teater eksperimental generasi 80-an sebagaimana Teater Kubur dan Bandar Teater Jakarta. Mereka dibesarkan dalam forum Festival Teater Remaja Jakarta dan setelah merajai berkali-kali kemudian berkewajiban mengisi panggung TIM dengan lakonnya. Ini salah satu pembeda dengan teater eksperimental era sebelumnya seperti Bengkel  Teater Rendra yang memperkenalkan lakon-lakon minikata pada medio 60-an, atau Teater Mandiri Putu Wijaya yang bermain-main antara tradisi dan modern tanpa batas pada dekade 70-an. Kedua generasi teater eksperimental sebelumnya itu tidak tumbuh dalam etos festival,selain itu mereka kerap dihantui pelarangan oleh penguasa Orde Baru karena begitu vulgarnya dalam mengkritik kebijakan Soeharto. Inilah yang dicermati oleh teater generasi 80-an yang lahir dan disuapi oleh anggaran negara lewat festival agar lincah dalam menghadapi ketatnya aturan negara di dunia seni pertunjukan saat itu. Ekspresi artistik dan kritik harus tersalurkan tanpa perlu menggelitik telinga penguasa. Bahasa tubuh menjadi sarana untuk mengejawantahkan hasrat artistik dan kritik mereka. Dengan begitu tak mudah bagi intel tentara untuk mengidentifikasikan apakah lakon yang dilihat berbahaya atau tidak. Seperti dikatakan Malhamang Zamzam, sutradara Bandar Teater Jakarta bahwa di masa itu setidaknya selalu ada dua orang intel yang bertugas menonton pertunjukan teater. Itulah kenapa perlakuan berbeda yang diterima Teater Koma, Teater Mandiri atau Bengkel Teater Rendra yang kerap tidak mendapat izin pentas karena dengan mudahnya pihak keamanan menemukan kalimat yang ‘berpotensi mengganggu stabilitas keamanan’ pada naskah yang dilampirkan untuk memperoleh perizinan. Metode yang digunakan Teater SAE, Teater Kubur dan Bandar Teater Jakarta lewat eksperimentasi bahasa tubuh dan benda-benda membuat mereka aman dari pantauan penguasa dan bisa berkiprah di gedung-gedung pertunjukan tanpa kendala.

Kembali kepada upaya pencarian jawaban atas pertanyaan Artery Performa; kenapa tubuh atau gagasan dramaturgis Teater SAE (dan Teater Kubur serta Bandar Teater Jakarta) bisa bersirkulasi bahkan kepada mereka yang tak bersentuhan secara langsung dengan generasi 80-an? Saya menduga bahwa hal itu tak bisa dilepaskan dari tubuh bangsa ini yang masih (dan mungkin selalu) berada dalam ketegangan beragam kepentingan, tubuh yang belum menemukan tubuh yang seutuhnya, tubuh yang kadang meletup dalam konflik privat yang dibesarkan secara massal atas nama spirit korsa atau primordialisme. Tubuh-tubuh inilah yang menjadi obyek sekaligus subyek teater eksperimental Indonesia dari masa ke masa, sehingga bila ada seolah pengulangan (atau memang repetisi sepenuhnya) dalam eksplorasi itu bukanlah suatu aib. Yang menjadi noda dalam sejarah artistik ialah bila repetisi itu dimotori oleh semangat peniruan tanpa memperhitungkan situasi dan kondisi zaman yang bergerak. Generasi kini tidak mungkin meng-copy paste produk zaman 80-an tanpa upaya memahami peta sosial-politik-budaya pada era tersebut. Dan bila terjebak pada eksplorasi yang sudah pernah dilakukan oleh generasi sebelumnya maka teater eksperimental masa kini telah berdosa dengan ruang dan waktu yang melingkupi mereka. Teks-teks Teater SAE, misalnya,  pada masanya direspon dengan tegang oleh penonton tetapi malah diketawai oleh publik masa kini karena teks-teks itu mendahului zamannya sehingga wajarlah bila publik masa kini menyambutnya dengan tawa.  Pertanyaan besarnya bagi teater eksperimetal masa kini adalah: bagaimana cara kita mengeskplorasi hasrat artistik dan kritik di zaman pasca-modernis ini dengan publik yang terserpih sporadis di jagad digital?

Itu perlu dijawab dalam tindakan agar yang kini tidak menjadi kekunoan karena yang kuno telah kekinian.

Cipondoh, 10 Juli 2019

FROGMAN: FRAGMEN INGATAN

 

Dalam rangkaian program Djakarta Teater Platform yang digagas Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, saya berkesempatan menjadi penyaksi dari sebuah pertunjukan teater yang menggabungkan teknologi dengan teater. Curious Directive, sebuah kelompok teater dari Norwich, memboyong teknologi realitas virtual 360 derajat ke dalam lakon Frogman. Pentas yang berlangsung dari tanggal 24 (khusus media massa) hingga 28 Oktober 2018 ini diadakan di Studio Tom Fakultas Film dan TV Institut Kesenian Jakarta. Setiap harinya terdapat dua kali mereka memainkannya yaitu pada jam empat sore dan delapan malam dengan durasi satu jam.  Saya adalah satu dari  500 penonton beruntung  yang menyaksikan mereka. Ditulis beruntung karena hanya tersedia 50 kursi untuk setiap pertunjukan ini, dan  itu juga harus melalui pemesanan daring. Dan pesanan saya yang gagal karena tidak mendapat surel notifikasi, ini masalah serius bagi tim publikasi karena ini bisa berdampak kepada  kegagalan calon penonton untuk menyaksikan pertunjukan yang sudah dipesannya, akhirnya terobati dengan bantuan alam. Jakarta yang diguyur hujan malam itu bisa jadi membuat batal hadirnya sejumlah pemesan tempat yang membuat saya yang mengantri di ruang tunggu bisa menjadi penonton.

Kenapa saya harus berpanjang kata dengan problematika sebagai calon penonton di tepian alinea di atas?  Ini penting karena eksistensi penonton pada lakon Frogman tidak sebatas menjadi saksi eksklusif dari pertunjukan ini semata tetapi juga difungsikan sebagai pemain yang berperan sebagai juri dalam sebuah investigasi kasus hilangnya seorang gadis bernama Ashleigh Richardson di tahun 1995.

pengarahan oleh Jack Lowe sebelum masuk Studio

Seluruh penonton yang terbatas ini diposisikan duduk dalam formasi elips memanjang dengan kursi putar, headphone dan headset VR sebagai peranti pendukungnya. Sebelum memasuki studio kami di beri pengarahan oleh sutradara Jack Lowe tentang cara penggunaan peranti tersebut agar dapat maksimal bermain sebagai juri. Saya yang mendapat kursi juri nomor 26, duduk di sudut kiri arah masuk studio dan berbatasan dengan karpet tebal yang berfungsi sebagai panggung sekaligus sebagai penanda visual seolah pasir pantai.

Adegan dibuka dengan kehadiran tokoh Meera yang tiba-tiba, karena sebelumnya kami diberi kesempatan untuk mencoba headset VR untuk adaptasi dan ketika melepaskannya ternyata sudah ada Tessa Parr yang memerankan Meera. Ini adalah sebuah interogasi terhadap saksi kunci berkaitan dengan kasus hilangnya seorang gadis di tahun 1995. Adegan interogasi berlangsung dalam bahasa Inggris dan mungkin menyulitkan bagi yang tidak memahami bahasa itu untuk menemukan relasi dengan pemaparan bukti-bukti berupa ingatan masa lampau Meera dua puluh tiga tahun silam. Ashleigh Richardson adalah seorang gadis yang suka merundung di sekolah, ia dijauhi banyak anak-anak kecuali Meera dan fakta tersebut tercetus saat bukti ingatan Meera dikupas. Pribadi Ashleigh yang suka merundung ini dilatar belakangi oleh kehidupan rumah tangga yang tak harmonis yang membuatnya suka keluar dari rumah di tengah malam dan mengunjungi kamar Meera lewat jendela. Meera dan Ashleigh menjadi karib saat malam, mereka saling berbagi cerita dan pengalaman. Lewat Asheigh, Meera diajari bagaimana menyelam  dan bernafas dalam air. Dan Meera menjadi tempat Ashleigh berkeluh kesah tanpa rahasia. Hingga suatu waktu, Ashleigh mengatakan bahwa ia akan dipindahkan ke sekolah seni di Melborne namun ia tak mau dan esoknya ia menghilang hingga dua puluh tiga tahun kemudian kasus hilangnya ia diangkat kembali. Fragmentasi interogasi dan paparan bukti-bukti mewajibkan kami untuk bolak-balik memasuki alam nyata dan virtual. Hal ini diperlukan agar kami selaku juri mendapat gambaran utuh sebab akibat peristiwanya dikarenakan rentang yang lama dari kejadian dan proses interogasi.  Alur kronologis dengan lompatan waktu seperti ini memang berpotensi membingungkan penonton bila fokus teralihkan oleh hal-hal vital seperti buang air kecil oleh karenanya panitia mempersilakan penonton untuk ke kamar mandi sebelum memasuki studio agar tetap fokus selama pentas. Dan dengan perangkat yang disediakan juga menyegarkan visual penonton bila sudah kebingungan oleh dialog Meera yang tanpa translasi itu.  Yang juga menarik tentunya kekuatan peran Meera yang dengan gestur dan mimik meyakinkan dalam merespon pertanyaan dari interogator yang hanya terdengar suaranya saja tanpa ujud. Sendirian, Tessa  berusaha menghadirkan serpihan kenangan-kenangan tentang Ashleigh. Perubahan tanggapan Meera berangsur terjadi pada setiap potongan interogasi yang diselingi pemaparan bukti masa lalu dan itu membuat kami sebagai juri menjadi ikut terbawa oleh keyakinan Meera bahwa Ashleigh sesungguhnya masih hidup dan bukanlah hilang tenggelam sebagaimana hasil penyelidikan polisi yang kurang bukti karena mayatnya tidak pernah ditemukan. Meera akhirnya mengingat bahwa Ashleigh tersenyum padanya sebelum menceburkan diri ke laut dan ia juga mengetahui Ashleigh sanggup menahan nafas dalam air. Fakta-fakta tersebut ditambah motivasi keengganan Ashleigh pindah ke Melbourne membuat kami, atau setidaknya saya selaku salah satu juri, percaya dengan analisis Meera dewasa yang tentunya berbeda dengan pemahaman Meera remaja yang tahunya Ashleigh hilang sesuai keterangan polisi.

Ingatan dalam lakon Frogman adalah bukti-bukti yang disodorkan kepada kami dalam bentuk akting Tessa dalam mengingat masa lalunya dan film-film masa lalu serta lanskap bawah laut yang tersaji melalui realitas virtual. “Because it’s about memory,” ungkap Jack Lowe yang saya temui seusai pentas menyikapi tanda tanya saya mengenai gagasan penggunaan realitas virtual dalam pementasannya.

Jack Lowe

Memori atau ingatan masa lalu inilah yang coba dihadirkan dengan menggunakan teknologi realitas virtual, Jack menambahkan penjelasannya.  Untuk mendukung ingatan masa lalu yang semirip mungkin dengan masa itu maka dalam realitas virtual dihadirkan Meera remaja yang sedang menggandrungi lagu When I Came Around milik Green Day, kaset video Dumb And Dumber, ETThe Lion King atau juga video game Sega. Dengan visual yang kadang kabur atau saling menindih antara satu ingatan dengan ingatan lain maka seolah melalui teknologi kita diajak menyelami ingatan Meera. Tidak hanya itu, melalui realitas virtual kami juga diajak menelusuri terumbu karang yang pengambilan gambarnya dilakukan di Raja Ampat, Papua. Alam bawah laut ditampilkan untuk menjejaki proses pencarian korban dan juga kenangan Ashleigh saat menyelam.

Pemanfaatan teknologi dalam panggung teater seusia dengan kemajuan teknologi itu sendiri. Beberapa bulan lalu saya berkesempatan menyaksikan pentas teater yang menggunakan film yang dibuat khusus untuk pertunjukan teater itu sendiri dimana adegan dalam film diisi suara oleh para aktor dengan pemanggungan yang berbeda dari adegan di film. Begitu juga saat grup teater Kain Hitam Gesbica mementaskan Syekh Siti Jenar juga menggunakan film sebagai bahasa surealis untuk mendukung akting pemainnya. Bisa dikatakan dalam tahun ini saja sudah banyak panggung teater yang dikombinasikan dengan multimedia berupa film atau video mapping. Rita Matu Mona dari Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta yang bertemu di saat antrian masuk menuturkan bahwa ini adalah bagian dari program Djakarta Teater Platform yang tahun ini banyak mengedepankan pertunjukan dengan pemanfaatan teknologi terkini dalam teater hal ini dilakukan sebagai studi dan pembacaan zaman yang memasuki era baru nan virtual. Hal ini menjadi vital guna menentukan peta Indonesia dalam teater dunia. Diharapkan hal tersebut menjadi stimulasi yang memantik kreator teater nasional dalam mengeksplorasi teknologi guna kebutuhan pemanggungan.

Dunia sudah melampaui apa yang sanggup dibayangkan fantasi manusia. Penyebaran teknologi yang meluas hingga ke genggaman publik selama ini hanya disikapi sebagai upaya eskapisme masyarakat dari realitas pahit yang dihadapi. Dengan bermain game daring mereka bisa melepas lelah dari kehidupan nyata untuk sementara dan sebatas menyegarkan sedikit demi sedikit, kecuali mereka yang sudah tingkat pecandu akut, ingatan mereka. Namun sebagaimana hal lainnya maka teknologi pun bersisi positif dan negatif.  Untuk Jack Lowe dengan Frogman-nya adalah contoh pemanfaatan yang positif namun di ruang publik yang terjadi kebanyakan sisi negatif dan satu contoh negatif saya alami sendiri saat usai menyaksikan Frogman.

Malam itu, Jakarta diguyur hujan dengan kilat dan angin berkoalisi di dalamnya. Saya terjebak satu jam lebih tak bisa keluar dari Studio TOM tempat pertunjukan berlangsung, sementara aplikasi angkutan daring juga tak membuahkan hasil karena gangguan sinyal. Setelah hujan sedikit reda saya memberanikan diri untuk ke jalan raya sambil terus mencoba aplikasi angkutan daring namun karena tak jua berhasil dan jarak ke stasiun Cikini juga kian dekat maka saya putuskan untuk fokus berjalan di tengah gerimis yang tak henti. Sesampainya di stasiun Cikini, angin besar menumbangkan sebatang pohon besar yang menimpa enam remaja di bawahnya, untungnya karena ada pagar berlapis membuat lima remaja selamat dan hanya satu yang terkena dahan mengakibatkan ia pingsan. Melihat itu saya berlari menghampiri korban dan membantu menggotongnya. Ironisnya beberapa tukang ojek, yang pastinya tinggal di sekitar lokasi, yang sebelumnya saya lihat sedang asyik bermain game di ponsel mereka(asumsi saya atas bahasa tubuh mereka)  hanya berdiri di tempat sambil berteriak  seolah memberi instruksi kepada kami yang bergerak menggotong korban kesana kemari.

Korban pohon tumbang di Stasiun Cikini

Entah apakah mereka  belum move on dari realitas virtual di ponsel mereka atau memang tak berani menghadapi realitas di depan mata tetapi saya berani beropini bahwa mereka terlalu larut dengan dunia virtual sehingga melupakan melakukan virtue  (kebajikan) dalam dunia.  Kemajuan teknologi memang tidak diimbangi dengan kemajuan akal budi namun bukan tidak mungkin di masa mendatang keduanya beriringan.

Kembali ke Frogman, yang diklaim oleh Jack Lowe sebagai yang pertama di dunia dalam pemanfaatan teknologi virtual realitas di panggung teater,  adalah upaya awal yang patut diapresiasi walau dalam pemkiran saya hal ini masih bisa dieksplorasi lebih lanjut karena Jack masih memberi batas tegas antara realitas panggung dan realitas virtual dan bila dinding teritori ini dibongkar maka revolusi akan terjadi. Ide di atas ide adalah suatu yang wajar terjadi sepanjang ide baru tidak berdiri menindas ide sebelumnya melainkan serupa tongkat estafet yang mebuat dinamika peradaban ke arah yang sesuai perkembangan zaman. Gagasan Jack bila diteruskan dengan menghadirkan tokoh virtual ke dalam realitas panggung tentulah revolusioner, bisa jadi ia berbentuk hologram seperti wawancara sebuah stasiun televisi dengan buronan pendiri wikileaks, Assange, beberapa tahun lalu. Atau bisa juga karakter virtual ini terlihat nyata dalam realitas panggung yang disimak melalui perangkat ponsel seperti pokemon. Mungkin inilah manifestasi dramaturgi baru; bertolak dari yang tak ada, meminjam tema diskusi publik dengan pembicara Cecil Mariani dan Dea Aulia Widyaevan masih dalam lingkup acara Djakarta Teater Platform juga. Apa pun eksplorasi  yang dipilih tentunya harus didasarkan atas kebutuhan panggung, kemampuan penggunaan teknologi dan tentunya yang  tidak boleh dilupakan adalah cara kita memperlakukan ingatan sebagai subyek sekaligus obyek dari gagasan yang ingin disampaikan. Karena tanpa ingatan manusia didefinisikan gila dan surplus ingatan juga berpotensi menimbulkan kegilaan.

Saya harap anda tidak lelah membaca tulisan ini karena di media pribadi yang bebas dari unsur kapitalisasi maka kebebasan adalah hal yang hakiki, tentu berbeda dengan media massa yang dipagari sensor dan tuntutan perspektif yang sepaham dengan redaksi.

Jika pun anda lelah, maka anda beruntung. Karena saya juga letih dan mengakhiri tulisan ini sampai disini.

SUREALISME DALAM LAKON SYEKH SITI JENAR

Pada 14 dan 15 september kemarin, Teater Kain Hitam Gesbica dari UIN Maulana Hasanudin Serang mengadakan pertunjukan teater dengan lakon Syekh Siti Jenar karya Vredy Kastam Marta di Gedung Kesenian Tangerang. Pentas kali ini terjadi di tengah lawatan Teater Kain Hitam Gesbica menyapa beberapa kota di pulau Jawa sejak agustus hingga awal oktober nanti.

Dengan sutradara Opik Pria Pamungkas, rombongan besar Teater Kain Hitam berhasil memikat ribuan penonton yang didominasi pelajar se-kota Tangerang selama dua hari pementasannya. Padahal, ini juga diakui oleh sutradara, tema pada lakon ini termasuk berat untuk diapresiasi penonton usia remaja. Tetapi hingga akhir pentas semua penonton bergeming di tempatnya duduk. Ini membuktikan ada hal selain tema yang mampu membawa penonton terkesima.

Panggung ditata dengan latar kain putih besar dan level yang dibuat berundak-undak hingga ke depan panggung. Dari sini bisa dibaca bahwa tata artistik ini dibuat sederhana agar memberi peluang kepada layar putih besar tersebut untuk elastis mengikuti sajian multimedia. Dan dibantu cahaya berwarna-warni yang fokus pada beberapa titik bloking pemain ditambah kostum yang terdiri dari kombinasi busana khas ulama dan umara pada era Kerajaan Demak serta kostum unik yang menggambarkan tokoh-tokoh absurd.

Saya sedang menggambarkan bahwa konsep artistik yang dimanifestasikan dalam tata panggung, lampu, kostum dan multimedia jelas merujuk pada apa yang disebut sutradara sebagai surealisme. Karena surealisme memang menuntut plastisitas ruang dan dipenuhi simbol-simbol yang seringkali tidak perlu masuk akal. Surealisme menuntut dan menuntun kita kepada alam mimpi, dunia bawah sadar.

Sejak dikumandangkan kepada dunia sebagai sebuah gerakan revolusioner  pasca perang dunia ke 1, surealisme memang  dimaksudkan sebagai antitesis dari realisme yang melulu harus rasional. Surealisme berpijak kepada alam mimpi, dimana segala realitas bergerak tanpa komado logika. Surealisme memandang dunia realisme telah gagal menjunjung kemanusiaan. Dan karenanya manusia harus kembali menjadi subyek dari peradaban dan alam bawah sadar adalah medium paling murni untuk menunjukan kemanusiaan kembali. Aplikasinya berpola spontanitas, pergerakan yang tanpa membutuhkan persetujuan dari sisi otak yang mengolah logika. Contoh yang paling tepat dalam mengenali surealisme ada dalam seni rupa karya beberapa seniman di era 1920-an. Salvador Dali, pelukis berkumis melintang anti gravitasi, dipandang sebagai pelukis yang memakai surealisme sebagai perwujudan artistiknya. Misalnya, salah satu karyanya yang terkenal dimana terdapat jam yang meleleh adalah presentasi dari apa yang ada dalam dunia bawah sadarnya. Secara visual juga terlihat seperti berada dalam dunia antah berantah yang entah dimana atau kapan. Penikmat karyanya seolah diajak tidak kemana-mana selain masuk kedalam alam mimpi Dali dan anda bisa menikmati walau itu adalah presentasi mimpinya. Memang begitulah surealisme.

Lalu bagaimana dalam seni pertunjukan teater? Apakah surealisme turut memberi bab khusus dalam sejarahnya?

Untuk menjawab itu kita mesti sepakat dulu bahwa substansi surealisme adalah menolak realisme, bila hal ini sudah kita lalui maka kita coba telusuri jejak surealisme dalam teater.

Balet Parade, sebuah karya kolaboratif Jean Cocteau dengan komposer Erik Satie dipadu desain set dan busana kubisme Pablo Picasso dan koreografi Leonide Massine pada  tahun 1917 bagi saya adalah contoh pertama dari surealisme dalam teater. Di catatan program ini pula kata surealisme diciptakan oleh Guillaume Apollinaire yang menulis,”..  sejenis surrealisme  (une sorte de surrealisme)..” dan itu tercatat tiga tahun sebelum  kata surealisme menjadi manifesto kebudayaan dengan pusat pergerakannya di Paris. Terhadap pertunjukan ini perhatian banyak tertuju kepada visual busana kubisme yang terbuat dari kardus keras dan  seolah membawa penonton ke arah dunia antah berantah.

Bukan maksud saya menjadikan Parade sebagai acuan dalam menilai surrealisme dalam teater karena setiap karya jelas memiliki gen dan dna yang berbeda. Parade lebih dimaksudkan sebagai catatan sejarah dan dari sana kita bisa mengambil unsur-unsur yang menjadikan pentas tersebut sebagai surrealisme. Namun yang menyolok dari itu  adalah upaya menghadirkan nuansa alam mimpi kedalam panggung.

Tokoh-tokoh surrealisme seperti Andre Breton atau, menyebut yang terkenal, Salvador Dali banyak terilhami dari kajian Freud tentang psikoanalisis yang memang muncul  sezaman dengan mereka. Psikoanalisis berkutat pada studi alam bawah sadar. Buku karya Freud seperti  The Interpretation of Dreams adalah santapan para pelopor surealisme sebagai pondasi paradigma pemikiran mereka.  Mimpi adalah landasan ide dari semua seniman surealisme.

Saya rasa sudah cukup bahasan mengenai surealisme dan kini saatnya anda membaca pengamatan saya mengenai surealisme dalam lakon Syekh Siti Jenar.

Syekh Siti Jenar dalam kisah yang ditulis Vredy Kastam Marta memang berpeluang untuk disandingkan dengan surealisme dalam penggarapannya. Sebabnya karena sebagai tokoh yang dikenal sebagai sufi maka lekat sekali penolakannya terhadap reralisme yang mengagungkan logika matematis khas otak kiri  selain itu ada adegan dimana Syekh Siti Jenar sedang berdialog dengan karakter yang sulit dibayangkan dalam realisme.

Untuk memvisualkan peluang tersebut, sutradara menggunakan multimedia yang dipadukan dengan busana dan musik. Tentu saja ini dalam konteks peran yang tak riil dan teknis artistik. Dan strategi ini berhasil dengan pembuktian tiadanya satu dari ribuan penonton selama dua hari itu yang keluar sebelum usai. Multimedia berhasil memikat mata dengan visual yang secara psikologis menenangkan organ mata seperti pada penampakan awan di angkasa atau suasana purnama, sebagai contoh. Busana tak biasa yang dikenakan kelompok perempuan pun mampu menggiring interpretasi penonton ke arah alam tak biasa. Diimbuhi musik yang mengambil irama sunda yang cenderung menenangkan turut andil dalam membuai penonton untuk tetap fokus selama acara.

Tetapi apakah itu bisa disebut surealisme sebagaimana yang diinginkan sutradara?

Seperti sebelumnya saya tulis bahwa substansi surealisme adalah antitesis realisme. Namun juga dalam alinea sebelum ini juga saya tulis bahwa naskah ini berpeluang untuk disandingkan dengan surealisme dalam penggarapannya. Tetapi secara utuh memang sulit untuk mengatakan bahwa lakon ini digarap dalam estetika alam bawah sadar a la surealisme. Ada beberapa bagian yang memang bisa dikategorikan begitu seperti yang saya urai di paragraf di atas namun yang sebagian itu tidak bisa dijadikan penilaian untuk keseluruhan.

Malah ada beberapa contoh yang saya tulis sebelumnya bila digarap dengan detil bisa jadi semakin mengentalkan estetika alam mimpi. Misalnya visual awan di langit, bila animasi ini digarap utuh tanpa sambungan dan menampilkan sudut elevasi yang perlahan meninggi tentu akan membuat penonton seolah diajak terbang. Atau saat penggambaran konflik yang terlalu landai terasa tidak menyatu dengan adegan yang berrlangsung di depannya, andai perang ditampilkan sebagai kolase yang ritmenya terus mengikuti irama dialog pemeran pasti akan membuat penonton terjebak dalam konflik.

Busana pada tokoh seperti malaikat seharusnya bisa lebih bebas tidak terbelenggu imaji standar dengan pemakaian sayap. Ada pilihan resiko yang berakibat kebingungan di mata penonton tetapi jika targetnya suasana bawah sadar maka sejatinya ada kemerdekaan tanpa batas bagi perancang kostum untuk menggiring ke nuansa mimpi. Begitu juga dengan karakter lain yang tidak riil.

Musik sebenarnya cukup menarik dengan menampilkan irama sunda, tetapi bila jiwa sufi atau alam mimpi maka gamelan jawa yang lebih tenang dan mengayunkan kesadaran tentu lebih cocok dengan beberapa adegan, apalagi ruangnya juga terjadi di Kerajaan Demak yang berlokasi di Jawa Tengah kini. Gamelan Jawa sudah terbukti sejak Claude Debussy mendengarnya di Paris Universal Expo tahun 1899 yang berciri impresionis, intuitif dan keterbukaan cocok untuk disandingkan dengan surealisme walau disaat itu ide surealisme masih berupa spermatozoa.

Apa pun pilihan yang ditempuh sutradara memiliki resikonya sendiri dan bagi penonton lakon Syekh Siti Jenar selama dua malam itu tidaklah penting seberapa kadar surealisme dalam pertunjukan tersebut,  selama kebutuhan artistik mereka terpenuhi maka tak ada alasan untuk meninggalkan pementasan.

Dan ini memang bukan tulisan untuk mereka, tetapi kepada sutradara yang menggunakan konsep surealisme dalam pementasannya.

atletas en parodia

Tiba-tiba Kota Tangerang menjadi salah satu tempat perhelatan Asian Games. Terlihat atlet-atlet dari beragam cabang olahraga memenuhi panggung di tepian Cisadane pada malam kamis tanggal 29 Agustus lalu.  Warga kota Tangerang yang saat itu sedang berada di Festival  Cisadane dapat menjadi penyaksi dari aksi pemanah, pebulutangkis, pelari, pecatur dan lain-lainnya. Liputan langsung dari stasiun televisi pun tak mau ketinggalan guna mendapat wawancara eksklusif dengan mereka. Sayangnya di penghujung pentas ternyata semua atlet termasuk jurnalis tersebut adalah pasien RSJ atau Rumah Sakit Jiwa yang ditandai dengan kehadiran dokter yang bermaksud memberikan obat pada mereka.

teater atlet festival cisadane

Namun jangan tersesat dengan paragraf di atas, karena sejatinya Kota Tangerang tidak termasuk dari kota tempat penyelenggaraan pesta olahraga Asia tersebut. Aksi para atlet di atas adalah bagian dari pertunjukan teater yang berlangsung  di panggung festival Cisadane. Menampilkan para pelajar kota Tangerang yang tergabung dalam Komunitas Teater Pelajar dibawah asuhan komite teater Dewan Kesenian Tangerang. Lakon mereka malam itu “Parodi Atlet atawa Er-Es-Je” sebuah karya komedi yang dimaksudkan untuk menghibur warga kota yang berlalu lalang di gelaran itu.

Pentas ini terasa aktual dengan menyodorkan isu terkini yang bertaut dengan ajang Asian Games namun dalam kemasan parodi. Parodi yang berasal dari kata parodia yang secara harfiah berarti “lagu samping” adalah gaya yang muncul di seni musik eropa pada abad pertengahan dimana sederhananya diartikan lirik alternatif untuk struktur melodi yang sama. Pada perkembangannya bentuk parodi tidak hanya dipakai pada musik semata namun juga menyebar ke seni lainnya. Yang terkenal  memakai parodi di Indonesia adalah kelompok Padhyangan dari Bandung yang mencuat di era 90-an dengan lagu-lagu terkenal yang diganti liriknya. Tidak hanya lagu, mereka juga melakukan parodi di video klipnya

Sementara dalam lakon yang dimainkan KTEPEL (Komunitas Teater Pelajar) unsur parodi melekat daam aksi para atlet dan Asian Games. Tidak bermaksud merendahkan perjuangan para atlet yang berlaga di Jakarta-Palembang namun mencoba menghibur dengan isu aktual agar dapat dinikmati masyarakat yang antusias dengan Asian Games. Dan tidak bermaksud merendahkan perjuangan para pelajar yang bermain malam itu namun dalam kacamata seorang penonton yang hadir bahwa tidak ada karakter yang menonjol dari mereka. Toto Widayanto, warga Cimone yang menjadi satu dari ratusan penyaksi melihat bahwa tidak adanya yang menonjol malam itu adalah yang paling menonjol dari pertunjukan itu.

“Padahal jika ada karakter yang mencuat mungkin akan lebih menyedot perhatian publik yang lalu lalang,” ucap lelaki yang biasa disapa TW ini. Minimalnya lahan untuk penonton juga menjadi perhatiannya dan ia mengusulkan kepada pemerintah kota selaku penyelenggara untuk meninggikan saja panggungnya agar lalulintas publik tidak terganggu atau mengganggu penonton yang ingin menyaksikan.

Menjawab kritik di atas, Eb Magor selaku penulis dan sutradara pertunjukan mengatakan bahwa proses berlangsung selama sebulan dan prioritas baginya adalah agar para pelajar dapat menikmati apa itu teater. “Proses teater harus mengikuti perkembangan zaman dan tidak mungkin bagi saya untuk memakai proses seperti yang pernah saya terima dahulu karena zaman sudah berubah,” terang Magor seraya menyontohkan bagaimana kerasnya proses berteater di era lampau yang dialaminya.

“Menjadi aktor adalah soal disiplin dan ini bisa diterapkan dalam panggung kehidupan. Ini juga jembatan bagi mereka untuk menjadi aktor di kehidupan mereka nantinya,” kembali dijelaskan oleh Magor perihal pendekatan dan metode yang dilatihnya selama proses bersama para pelajar ini.

Terlepas dari pengamatan intrinsik dalam pentas ini memang tidak bisa dipungkiri bahwa publik lumayan menyemut di muka panggung malam itu berdesakan dengan mereka yang ingin lewat dan kendaraan yang parkir atau pun melintas di jalan itu.

nb

Judul diambil dari bahasa Spanyol yang artinya Atlet dalam parodi.

(NONTON) TEATER ZAMAN NOW

Beberapa hari lalu saya mendapat undangan untuk menjadi penyaksi pentas teater dari Kang Ari Jogaiswara dalam rangkaian acara 6th Online Performance Art Festival yang berlangsung dari tanggal 30 November hingga 3 Desember 2017.

Pentas yang dirujuk dalam undangan di atas dilakonkan oleh ETA:Inquiries in Theater and Performance dengan tajuk Defacement in the Side dan berlangsung pada hari kamis 30 November 2017 jam 12:00 WIB. Mengambil lokasi di ruang parkir pada suatu tempat di Kota Bandung dan saya menyaksikannya di rumah saya yang berjarak sekitar 171 kilometer dari tempat pementasan secara langsung.

Ruang, waktu dan aktor adalah tiga prasyarat mutlak bagi kehadiran sebuah pertunjukan teater. Setidaknya hal tersebut valid sejak berabad lampau hingga revolusi teknologi informasi mendekontruksikan (dalam artian harfiah mengurangi susunan bentuk) prasyarat di atas.

Teater sendiri berarti ruang tempat pertunjukan dimana didalamnya terdapat aktor (baik pelakon atau pun penonton) yang terikat dalam kesatuan waktu dan berjibaku guna memproduksi makna.  Pemahaman dengan bau barat yang kental ini tidak hanya menjadi pondasi bagi konstruksi teater literer dari era Shakespeare hingga absurdisme tetapi juga teater tradisi yang berserakan di seluruh penjuru bumi.

Dalam kesatuan ruang dan waktu, penonton dan pelakon memiliki hubungan resiprokal dalam mengolah, menyusun dan memproduksi makna lewat bahasa (baik lisan atau gerakan) yang tersampaikan selama pertunjukan mengalir.

Lalu, bagaimana bila pelakon tak memiliki penonton? Dalam konteks yang mirip saya pernah mempertanyakan itu dalam lakon The Show Must Go On di tahun 2003 dimana pertunjukan terhenti karena ketiadaan penonton, apakah teater akan punah dengan sendirinya bila pelakon tidak ada penonton?

Tentu saja itu hanya mimpi buruk, kenyataannya gedung pertunjukan dipadati penonton yang rela membayar ratusan ribu rupiah untuk duduk manis dan mendapat pencerahan dari pertunjukan yang pelakonnya tidak sedikit dikenal orang sebagai selebritas. Begitu juga yang terjadi di kota-kota kecil hingga ke dusun-dusun terpencil di nusantara, pembedanya hanya tidak ada selebritas yang sudi bermain di sana.

Kembali kepada pertanyaan di paragraf sebelumnya yang menjadi relevan di masa teknologi informasi yang tanpa disadari telah mengalienasi penggunanya dari lingkungan sosialnya. Bagaimana menghadirkan tontonan teater bagi publik yang asyik dengan kesendiriannya?

6th Online Performance Art Festival mungkin adalah salah satu jawaban atas tanda tanya di atas. Dalam  Defacement in the Side, terlihat seorang lelaki yang duduk di meja pada sebuah area parkir sambil membuat topeng di wajahnya. Tak lama datang seorang perempuan yang ikut duduk dan melakukan aktivitas yang sama dengan lelaki sebelumnya. Lalu perempuan ketiga muncul dan melakukan aksi serupa dengan dua pelakon tadi. Mereka bertiga melakukan aksi tanpa dialog, si lelaki yang sudah selesai dengan topengnya segera melepaskan dan meletakkan di sebuah bola hitam. Kemudian ia memotong topeng itu tembus ke bola hitam tadi yang ternyata adalah buah semangka berlapis kain. Hasil potongan tadi dimakan oleh si lelaki sambil berjalan menjauh entah kemana. Dua perempuan yang ada masih menyelesaikan topeng mereka dan begitu selesai salah satu dari perempuan itu menaruh topeng itu di potongan semangka yang tersisa begitu juga dengan perempuan terakhir. Itulah akhir dari pertunjukan ini yang berlangsung sekitar 23 menit. Dan saya menyaksikan langsung di rumah saya yang berjarak 171 kilometer jauhnya secara bersamaan waktunya.

eta, opaf

Bagaimana memproduksi makna dari pelakon dan penonton yang terpisah ini? Tentunya ada independensi pemaknaan dari penyaksi walau ada sedikit petunjuk dari pelakon dalam kata pengantarnya di laman milik penyelenggara program ini. Kebebasan dan kemandirian pemaknaan ini tetap berbasis dari aksi yang dilakukan, serupa dengan menyaksikan pentas teater pada umumnya, namun independensi tersebut bisa tak berguna bila tak ada rujukan empirik dari otak atas peristiwa serupa. Karena otak kita yang super ini tetap membutuhkan adaptasi terhadap segala sesuatu yang baru sebelum mulai mengolah lema visual menjadi arti. Sampai disini ternyata masih tak ada bedanya dengan menonton teater seperti biasanya.

Faktor pembedanya adalah dekonstruksi terhadap prasyarat utama terjadinya teater. Dekonstruksi disini tidak seruwet dalam alam pikir Derrida, tetapi dalam arti mengurangi bentuk dari susunan prasyarat tadi. Dan yang berkurang adalah transfer emosi dari pelakon. Ini akan terasa bila anda menyaksikan teater literer secara daring. Ada emosi yang tidak terunggah dan terunduh dengan sempurna dalam proses ini, setidaknya hingga kini dan entahlah di masa nanti. Dekonstruksi tersebut terjadi karena ketidaksatuan ruang antara pelakon dengan penonton. Beberapa tahun lalu pernah tergagas oleh saya untuk memisah antar pelakon dalam ruang yang berbeda dan disatukan lewat daring, tetapi karena infrastruktur yang belum memadai maka saya memendam gagasan itu untuk nanti, entah kapan persisnya.

ETA:Inquiries in Theater and Performance telah memotret tentang realitas hipokrit yang kita kunyah setiap hari dan saya sebagai penyaksi memilih menuliskan soal gagasan menonton teater zaman now, setidaknya bagi mereka yang teralienasi dalam genggaman teknologi.

 

LUCY IN THE SKY WITH KORAN KAMI

Waktu pertama membaca cuitan Tommy F.Awuy tentang kolaborasi seni terbesar di akhir tahun ini saya sudah tertarik untuk menyaksikannya. Bukan karena promosi yang bombastis tadi tetapi karena ada kalimat Lucy In The Sky dalam judulnya.

Sebagai generasi pra milenial, saya turut terkena demam The Beatles yang bangkit kembali pada era 80an lewat Bharata Band.  Lagu Lucy In The Sky With Diamond menjadi salah satu lagu yang turut dipelajari oleh saya dan teman-teman bermodalkan buku lagu The Beatles yang kami peroleh dari hasil bajakan.

Aria Baron, Nana Soebianto dan Tommy F.Awuy membawakan Lucy In The Sky With Diamond

Dari komik The Beatles yang hadir di Majalah Hai pada saat itu, saya mengetahui bahwa lagu tersebut dicurigai sebagai kepanjangan dari LSD namun John Lennon membantahnya dengan berdalih bahwa judul lagu itu bersumber dari gambar yang dibuat anaknya Julian Lennon.

Terlepas dari pro kontra kandungan LSD di dalam lagu tersebut, saya pikir pola lagu yang dibuat John dan paul ini memang menyimpang dari pola lagu pop masa itu. Tercatat 3 kali nada dasarnya berubah dimana jembatan tiap nada dasar mengalir dan menyatu di bawah rezim teks yang surealistik. Besar kemungkinan pengaruh yang dominan dari era psikedelik yang ditandai dengan meluasnya pemakaian acid pada generasi bunga. Efek dari pemakaian acid ini memang membuat penggunanya berada diantara mimpi dan realita, kebanyakan lebih condong ke mimpinya. Tapi inilah salah satu bentuk perlawanan generasi bunga terhadap kemapanan yang berujung pada dehumanisasi. Manusia dinilai berdasarkan warna kulit, tingkat ekonomi dan status sosialnya. Manusia menjadi begitu mekanistik dan melupakan alam. Dalam situasi zaman seperti itulah seni dan gaya hidup menjadi alat protes mereka. Inilah kritik generasi pemimpi terhadap zamannya.

episode transisi

The Beatles dengan Lucy-nya berada dalam garda depan musik pop psikedelik. Konser Woodstock tahun 1969 menjadi kongres generasi bunga dimana cinta dan perdamaian menjadi narasi yang digemakan.

adegan yang mengingatkan memori pahit tentang identitas sebagai pribumi

Disaat menuliskan ini, hujan sedang turun, namun kepalaku menghangat membayangkan betapa merdekanya generasi pemimpi mempresentasikan eksistensinya. Dan kehangatan dalam kepala itu pula yang saya rasakan saat menyaksikan karya Bre Redana yang bertajuk Koran Kami With Lucy In The Sky.

Terlambat datang karena dihadang hujan, begitu tiba sudah disambut nyanyian Lucy In The Sky With Diamond dimana Tommy F Awuy bak konduktor yang mengajak penonton turut bernyanyi. Sementara Aria Baron mengiringi dengan gitarnya.  Sesudahnya potongan Koran Kami dibacakan bergantian oleh dua wartawan Kompas untuk  memperkenalkan tokoh ceritanya kepada penonton yang sebagian besar akrab dengan gambaran tokoh yang dibacakan. Bagian ini memang prosa yang menyelami realita dalam ruang dan waktu cerita. Setelah penonton mengenali tokoh dan alurnya maka adegan berikutnya adalah transisi kepemimpinan yang berdarah dalam format teater. Saya sendiri lebih memaknai adegan ini sebagai puisi visual yang menghadirkan tragedi dalam rupa mimpi. Namun cerita belum berakhir, masih ada Whiter Shade of pale milik procol Harum yang dinyanyikan duet oleh Nana Soebianto dan Tommy serta pembacaan irisan novel oleh dua jurnalis Kompas lainnya untuk memungkasi alur kisah Koran Kami.

Strategi kolaborasi lintas disiplin seni pada karya ini memang menjadi suatu kebutuhan untuk memberikan ruang kepada jaringan perkawanan Bre Redana yang luas. Sebagai wartawan, ia mengenal dan dikenal banyak figur populer dalam masyarakat kita. Dan pentas perpisahan dari jurnalis ini membuktikan luasnya pergaulan yang ia jalani selama ini.

Bre Redana pamit pensiun

Dalam perjalanan pulang dari Bentara Budaya Jakarta, tempat karya ini dipentaskan, kepala saya yang menghangat ini memikirkan apa yang harus dikritisi dari pertunjukan ini. Namun sampai saya menuliskan kata ke 546  ini tak jua saya temukan kritik yang sepadan. Saya malah menemukan dalih kenapa saya tak bisa membuat tulisan kritik. Karena untuk menghasilkan kritik maka saya harus mengetahui prosesnya dari awal hingga akhir agar mendapat gambaran yang luas mengenai muatan yang akan diangkat dari pentas ini. Lalu sebagai karya dari seorang pemimpi maka kritik yang seimbang haruslah muncul dari seorang yang realistis, dalam artian emoh bermimpi. Sebagaimana barok sebagai kritik terhadap rennaisans, klasik sebagai kritik terhadap barok, romantik sebagai kritik terhadap klasik. Maka sulitlah bagi pemimpi untuk mengkritisi pemimpi lainnya. Kalaupun mau dicari-cari adalah kurangnya bir yang disajikan. Saya kehabisan ketika hendak mencicipinya, padahal Bre dan bir adalah satu kesatuan dan acara belum berakhir selama beliau masih berada di Bentara Budaya Jakarta.

Tetapi saya harus mengakhiri menjadi penyaksi dan bergegas pulang, bukan karena ketiadaan bir tetapi saya sudah membeli tiket kereta pulang dan berdasarkan perhitungan maka bila saya pulang lebih dahulu akan sempat bersua kereta terakhir hari ini. Dan di sepanjang perjalanan hingga tiba di rumah, kepala saya masih menghangat dan mengingat.

Mas Bre, jika anda membaca ini maka anda berutang segelas bir untuk mendinginkan kepala saya.

 

 

30 November 2017

01:56 WIB