UNDERSCORE: Antara kuno yang kekinian dan kini yang kekunoan

Pada pembukaan acara Djakarta Teater Platform 2019, dipentaskan Underscore: Copy Paste SAE oleh Artery Performa,  sebuah lakon yang merupakan reenactment atas tiga karya Teater SAE; Pertumbuhan di Atas Meja Makan (1991), Biografi Yanti setelah 12 Menit (1992), dan Migrasi dari Ruang Tamu (1993). Reenactment dapat diartikan pemeragaan kembali sebuah lakon yang sudah dipentaskan jauh sebelumnya. Mengambil contoh yang dilakukan oleh Takao Kawaguchi yang melakukan reenactment atas karya-karya Kazuo Ohno, inilah pemantik dari gagasan pemeragaan kembali lakon Teater SAE seperti yang diakui oleh Dendi Madiya, sutradara Artery Performa. Dan lewat pemilihan judul Underscore: Copy Paste SAE termaktub sebuah pengakuan gagasan dramaturgis SAE sekaligus penelusuran jawaban atas pertanyaan; mengapa tubuh-tubuh atau strategi dramaturgi Teater SAE biisa bersirkulasi hingga kini?

Gagasan dramaturgis Teater SAE bisa ditelisik dari beberapa hal; a. Irama permainan nan meditatif, seolah pemain menggiring pada upaya perlambatan waktu. b. Teater buku, ini istilah Afrizal Malna, penulis naskah lakon-lakon Teater SAE dimana didalamnya termuat beragam kutipan dan data dari berbagai tokoh dan buku. c. Tubuh histeris-eksplosif, seperti yang diungkap Boedi S.Otong, sutradara Teater SAE bahwa tubuh dengan problem kepribadian seperti itu rahasia proses kreatif mereka. d. Properti dan aktor adalah teks, hal ini bersenyawa dengan naskah dan juga bisa dilacak jejaknya pada puisi-puisi Afrizal Malna, dimana segala barang yang selama ini dianggap tak penting karena fungsinya pada ranah domestik atau malah privat justrus ditematkan sejajar dengan manusia dalam memberi makna.

Teater SAE, yang didirikan pada 1977, adalah grup teater eksperimental generasi 80-an sebagaimana Teater Kubur dan Bandar Teater Jakarta. Mereka dibesarkan dalam forum Festival Teater Remaja Jakarta dan setelah merajai berkali-kali kemudian berkewajiban mengisi panggung TIM dengan lakonnya. Ini salah satu pembeda dengan teater eksperimental era sebelumnya seperti Bengkel  Teater Rendra yang memperkenalkan lakon-lakon minikata pada medio 60-an, atau Teater Mandiri Putu Wijaya yang bermain-main antara tradisi dan modern tanpa batas pada dekade 70-an. Kedua generasi teater eksperimental sebelumnya itu tidak tumbuh dalam etos festival,selain itu mereka kerap dihantui pelarangan oleh penguasa Orde Baru karena begitu vulgarnya dalam mengkritik kebijakan Soeharto. Inilah yang dicermati oleh teater generasi 80-an yang lahir dan disuapi oleh anggaran negara lewat festival agar lincah dalam menghadapi ketatnya aturan negara di dunia seni pertunjukan saat itu. Ekspresi artistik dan kritik harus tersalurkan tanpa perlu menggelitik telinga penguasa. Bahasa tubuh menjadi sarana untuk mengejawantahkan hasrat artistik dan kritik mereka. Dengan begitu tak mudah bagi intel tentara untuk mengidentifikasikan apakah lakon yang dilihat berbahaya atau tidak. Seperti dikatakan Malhamang Zamzam, sutradara Bandar Teater Jakarta bahwa di masa itu setidaknya selalu ada dua orang intel yang bertugas menonton pertunjukan teater. Itulah kenapa perlakuan berbeda yang diterima Teater Koma, Teater Mandiri atau Bengkel Teater Rendra yang kerap tidak mendapat izin pentas karena dengan mudahnya pihak keamanan menemukan kalimat yang ‘berpotensi mengganggu stabilitas keamanan’ pada naskah yang dilampirkan untuk memperoleh perizinan. Metode yang digunakan Teater SAE, Teater Kubur dan Bandar Teater Jakarta lewat eksperimentasi bahasa tubuh dan benda-benda membuat mereka aman dari pantauan penguasa dan bisa berkiprah di gedung-gedung pertunjukan tanpa kendala.

Kembali kepada upaya pencarian jawaban atas pertanyaan Artery Performa; kenapa tubuh atau gagasan dramaturgis Teater SAE (dan Teater Kubur serta Bandar Teater Jakarta) bisa bersirkulasi bahkan kepada mereka yang tak bersentuhan secara langsung dengan generasi 80-an? Saya menduga bahwa hal itu tak bisa dilepaskan dari tubuh bangsa ini yang masih (dan mungkin selalu) berada dalam ketegangan beragam kepentingan, tubuh yang belum menemukan tubuh yang seutuhnya, tubuh yang kadang meletup dalam konflik privat yang dibesarkan secara massal atas nama spirit korsa atau primordialisme. Tubuh-tubuh inilah yang menjadi obyek sekaligus subyek teater eksperimental Indonesia dari masa ke masa, sehingga bila ada seolah pengulangan (atau memang repetisi sepenuhnya) dalam eksplorasi itu bukanlah suatu aib. Yang menjadi noda dalam sejarah artistik ialah bila repetisi itu dimotori oleh semangat peniruan tanpa memperhitungkan situasi dan kondisi zaman yang bergerak. Generasi kini tidak mungkin meng-copy paste produk zaman 80-an tanpa upaya memahami peta sosial-politik-budaya pada era tersebut. Dan bila terjebak pada eksplorasi yang sudah pernah dilakukan oleh generasi sebelumnya maka teater eksperimental masa kini telah berdosa dengan ruang dan waktu yang melingkupi mereka. Teks-teks Teater SAE, misalnya,  pada masanya direspon dengan tegang oleh penonton tetapi malah diketawai oleh publik masa kini karena teks-teks itu mendahului zamannya sehingga wajarlah bila publik masa kini menyambutnya dengan tawa.  Pertanyaan besarnya bagi teater eksperimetal masa kini adalah: bagaimana cara kita mengeskplorasi hasrat artistik dan kritik di zaman pasca-modernis ini dengan publik yang terserpih sporadis di jagad digital?

Itu perlu dijawab dalam tindakan agar yang kini tidak menjadi kekunoan karena yang kuno telah kekinian.

Cipondoh, 10 Juli 2019

LUCY IN THE SKY WITH KORAN KAMI

Waktu pertama membaca cuitan Tommy F.Awuy tentang kolaborasi seni terbesar di akhir tahun ini saya sudah tertarik untuk menyaksikannya. Bukan karena promosi yang bombastis tadi tetapi karena ada kalimat Lucy In The Sky dalam judulnya.

Sebagai generasi pra milenial, saya turut terkena demam The Beatles yang bangkit kembali pada era 80an lewat Bharata Band.  Lagu Lucy In The Sky With Diamond menjadi salah satu lagu yang turut dipelajari oleh saya dan teman-teman bermodalkan buku lagu The Beatles yang kami peroleh dari hasil bajakan.

Aria Baron, Nana Soebianto dan Tommy F.Awuy membawakan Lucy In The Sky With Diamond

Dari komik The Beatles yang hadir di Majalah Hai pada saat itu, saya mengetahui bahwa lagu tersebut dicurigai sebagai kepanjangan dari LSD namun John Lennon membantahnya dengan berdalih bahwa judul lagu itu bersumber dari gambar yang dibuat anaknya Julian Lennon.

Terlepas dari pro kontra kandungan LSD di dalam lagu tersebut, saya pikir pola lagu yang dibuat John dan paul ini memang menyimpang dari pola lagu pop masa itu. Tercatat 3 kali nada dasarnya berubah dimana jembatan tiap nada dasar mengalir dan menyatu di bawah rezim teks yang surealistik. Besar kemungkinan pengaruh yang dominan dari era psikedelik yang ditandai dengan meluasnya pemakaian acid pada generasi bunga. Efek dari pemakaian acid ini memang membuat penggunanya berada diantara mimpi dan realita, kebanyakan lebih condong ke mimpinya. Tapi inilah salah satu bentuk perlawanan generasi bunga terhadap kemapanan yang berujung pada dehumanisasi. Manusia dinilai berdasarkan warna kulit, tingkat ekonomi dan status sosialnya. Manusia menjadi begitu mekanistik dan melupakan alam. Dalam situasi zaman seperti itulah seni dan gaya hidup menjadi alat protes mereka. Inilah kritik generasi pemimpi terhadap zamannya.

episode transisi

The Beatles dengan Lucy-nya berada dalam garda depan musik pop psikedelik. Konser Woodstock tahun 1969 menjadi kongres generasi bunga dimana cinta dan perdamaian menjadi narasi yang digemakan.

adegan yang mengingatkan memori pahit tentang identitas sebagai pribumi

Disaat menuliskan ini, hujan sedang turun, namun kepalaku menghangat membayangkan betapa merdekanya generasi pemimpi mempresentasikan eksistensinya. Dan kehangatan dalam kepala itu pula yang saya rasakan saat menyaksikan karya Bre Redana yang bertajuk Koran Kami With Lucy In The Sky.

Terlambat datang karena dihadang hujan, begitu tiba sudah disambut nyanyian Lucy In The Sky With Diamond dimana Tommy F Awuy bak konduktor yang mengajak penonton turut bernyanyi. Sementara Aria Baron mengiringi dengan gitarnya.  Sesudahnya potongan Koran Kami dibacakan bergantian oleh dua wartawan Kompas untuk  memperkenalkan tokoh ceritanya kepada penonton yang sebagian besar akrab dengan gambaran tokoh yang dibacakan. Bagian ini memang prosa yang menyelami realita dalam ruang dan waktu cerita. Setelah penonton mengenali tokoh dan alurnya maka adegan berikutnya adalah transisi kepemimpinan yang berdarah dalam format teater. Saya sendiri lebih memaknai adegan ini sebagai puisi visual yang menghadirkan tragedi dalam rupa mimpi. Namun cerita belum berakhir, masih ada Whiter Shade of pale milik procol Harum yang dinyanyikan duet oleh Nana Soebianto dan Tommy serta pembacaan irisan novel oleh dua jurnalis Kompas lainnya untuk memungkasi alur kisah Koran Kami.

Strategi kolaborasi lintas disiplin seni pada karya ini memang menjadi suatu kebutuhan untuk memberikan ruang kepada jaringan perkawanan Bre Redana yang luas. Sebagai wartawan, ia mengenal dan dikenal banyak figur populer dalam masyarakat kita. Dan pentas perpisahan dari jurnalis ini membuktikan luasnya pergaulan yang ia jalani selama ini.

Bre Redana pamit pensiun

Dalam perjalanan pulang dari Bentara Budaya Jakarta, tempat karya ini dipentaskan, kepala saya yang menghangat ini memikirkan apa yang harus dikritisi dari pertunjukan ini. Namun sampai saya menuliskan kata ke 546  ini tak jua saya temukan kritik yang sepadan. Saya malah menemukan dalih kenapa saya tak bisa membuat tulisan kritik. Karena untuk menghasilkan kritik maka saya harus mengetahui prosesnya dari awal hingga akhir agar mendapat gambaran yang luas mengenai muatan yang akan diangkat dari pentas ini. Lalu sebagai karya dari seorang pemimpi maka kritik yang seimbang haruslah muncul dari seorang yang realistis, dalam artian emoh bermimpi. Sebagaimana barok sebagai kritik terhadap rennaisans, klasik sebagai kritik terhadap barok, romantik sebagai kritik terhadap klasik. Maka sulitlah bagi pemimpi untuk mengkritisi pemimpi lainnya. Kalaupun mau dicari-cari adalah kurangnya bir yang disajikan. Saya kehabisan ketika hendak mencicipinya, padahal Bre dan bir adalah satu kesatuan dan acara belum berakhir selama beliau masih berada di Bentara Budaya Jakarta.

Tetapi saya harus mengakhiri menjadi penyaksi dan bergegas pulang, bukan karena ketiadaan bir tetapi saya sudah membeli tiket kereta pulang dan berdasarkan perhitungan maka bila saya pulang lebih dahulu akan sempat bersua kereta terakhir hari ini. Dan di sepanjang perjalanan hingga tiba di rumah, kepala saya masih menghangat dan mengingat.

Mas Bre, jika anda membaca ini maka anda berutang segelas bir untuk mendinginkan kepala saya.

 

 

30 November 2017

01:56 WIB