DISANA GUNUNG, DI SITU GUNUNG

Awalnya saya ingin menaiki gunung Gede-Pangrango yang berada di Sukabumi. Namun saat riset di https://booking.gedepangrango.org ternyata gunung tersebut  ditutup hingga bulan maret 2019. Batalnya rencana ke gunung Gede-Pangrango tersebut menyebabkan aku harus mencari substitusinya dalam waktu singkat. Pilihan yang diambil adalah ke Situ Gunung yang juga berada di dalam kawasan Taman Nasional Gede-Pangrango.

KRONOLOGIKA

Berangkat tanggal 31 Desember 2018 jam 5 pagi, masih sempat kunikmati matahari terbit yang terakhir di tahun itu di stasiun Poris. Dengan kereta kulintasi jalur hingga ke Bogor. Di perjalanan ini saya bertemu dengan kakak yang hendak berangkat kerja. Ia menanyakan rencanaku untuk mengetahui  tujuan dan berapa lama di tempat tujuan. Kami berbincang hingga stasiun Cawang yang menjadi  rute  rutinnya tiba. Dan selanjutnya hingga Bogor kuhemat energi dengan tidur.

Sekitar jam 8 tiba di Bogor aku mencari angkot 03 jurusan terminal Baranangsiang untuk melanjutkan perjalanan. Sesampainya di muka terminal, ku isi dulu perut dengan gado-gado sambil membeli air mineral ukuran 1,5 liter guna bekal nanti di tenda.

Setengah jam kemudian sesudah kenyang aku menghentikan mobil elf jurusan Sukabumi. Dengan waktu tempuh sekitar 2 jam lebih maka kembali kuhemat tenaga dengan tidur. Hingga kemudian tiba di persimpangan jalan dengan Polsek Cisaat di tepinya saya pun turun.  Melihat beberapa polisi berbincang di muka polsek, kuhampiri guna menanyakan arah tujuan. Dengan ramah mereka menunjukkan jalan di sebelah polsek yang menuju arah Pasar Cisaat, tempat angkot berwarna merah siap mengantar siapa pun yang hendak ke Situ Gunung. Pasar Cisaat berjarak sekitar 200 meter dari polsek Cisaat, yang dimaksud terminal disini adalah sebuah putaran dimana angkot jurusan Cisaat memutar balik. Dan angkot berwarna merah adalah kendaraan umum dengan rute Situ Gunung-Cisaat.

Saya tidak tahu berapa ongkosnya untuk itu saya memberikan 50.000 kepada sopir yang memberi kembalian 35.000. Baiklah, dengan penumpang yang dari jauh dan tinggal seorang maka saya menjadi target empuk sopir untuk menarik tarif melebihi semestinya. Taksiran saya sewajarnya tarif maksimal 10.000 tapi tak mengapa bila itu memberi manfaat baginya.

Siang itu, depan gerbang Taman Nasional Gede-Pangrango sudah mulai dipadati kendaraan pribadi. Angkot yang saya tumpangi juga memilih berputar sebelum gerbang, sekitar 100 meter jauhnya. Saya pun turun dan berjalan dari situ. Di depan loket, seorang petugas yang melihat menanyakan apa saya hendak berkemah dan ketika saya mengiyakan ia segera meminta saya ke sebuah tempat berjarak 20 meter untuk menemui seseorang disana.

Di tempat yang ditunjukan saya menuju dan di dalamnya ada dua orang yang meminta saya membayar 35.000 sembari menyebut bahwa yang tertera dalam tiket adalah 29.000 dan ditambah 6.000 untuk biaya lokasi kemah. [1] Baiklah, bau pungli merebak dan saya masih anggap itu sumbangan sukarela tetapi yang sedikit mengecewakan adalah tidak dicatatnya saya sebagai wisatawan yang hendak berkemah. Ini di luar kebiasaan,  di tempat lain biasanya para pendaki wajib mendaftarkan diri lengkap dengan alamat dan melampirkan kopi KTP atau malah menahan KTP asli untuk selanjutnya memaksa kita untuk melapor kembali saat hendak pulang. Ini bertujuan untuk mengetahui dengan pasti berapa orang yang mendaki dan kembali dengan selamat sehingga nilai pertanggungan jiwa melalui asuransi bila pendaki terluka atau meninggal bisa diklaim karena data diri tercatat di petugas. Hal inilah yang mengecewakan, karena walau saya resmi membayar namun bila terjadi kecelakaan atau yang lebih parah maka akan sulit bagiku untuk mengklaim asuransi karena bukti berupa selembar tiket kosong yang kemudian rentan robek karena hujan atau bahkan hilang dan tidak adanya data diri saya di buku pengelola.

Dari ruangan itu juga  ditunjukkan jalan menuju area perkemahan Bagedor yang tidak jauh letaknya dari gerbang. Sekitar 10 menit berjalan menaiki tangga batu tibalah di area yang dimaksud. Namun kakiku  ingin menjelajahi wilayah perkemahan tersebut sehingga terus ke atas. Tiba saya di Bungbuoy, yang berjarak 10 menit dari Bagedor. Di Bungbuoy situasinya lebih nyaman dengan tenda-tenda besar tertata rapi walau kamar mandinya maih belum selesai. Dibanding dengan Bagedor maka aku lebih memilih Bungbuoy dan  segera kutemukan lokasi tenda yang terletak di muka area tersebut. Dengan bantuan dahan-dahan yang banyak ditemukan saya segera membangun tiang untuk tenda. Sayangnya begitu tenda hampir berdiri seorang karyawan, yang sebelumnya kutemui di kamar mandi yang belum jadi tadi, meminta untuk tidak mendirikan tenda di wilayah itu karena Bungbuoy sudah disewa untuk acara pada malam harinya. Ia meminta saya kembali ke Bagedor, dan dengan sedikit kesal kubongkar kembali tenda yang nyaris berdiri dan balik ke Bagedor.

Saya menemukan lokasi yang cocok walau tidak sesuai ekspektasi. Karena tenda yang ideal buatku harus agak menjauh dari tenda lainnya agar terasa kesepiannya. Di Bagedor lumayan agak rapat posisinya. Saya memilih di ujung dalam bagian atas tepat disamping tangga semen menuju area tengah. Ada empat undakan yang bisa menjadi opsi bagi para pekemah untuk memarkirkan tendanya dan kupilih paling atas walau resikonya jauh dari kamar mandi yang berada di undakan bawah.

Ada tiga tenda yang menjadi tetangga. Dua tenda sedang sepi sedang satu tenda ramai diisi satu keluarga yang datang dari Cengkareng. Dengan formasi ayah-ibu dan tiga anak remaja maka tenda tersebut cukup sesak namun disitulah yang menjadi tujuan si bapak yang ingin keakraban antar keluarga terjalin makin erat. Si bapak punya cerita menarik bahwa ia masuk di pagi hari saat petugas loket belum hadir dan ia langsung ke area perkemahan. Ia masuk tanpa dikenakan biaya dan itu karena kesalahan petugas. Ia ingin membayar tapi kepada siapa ia tak temukan orangnya, namun begitu mengetahui bahwa membayar pun tak akan dicatat maka ia santai saja menikmati liburan keluarganya.

Tenda kubuat sendiri dan berupa bivak yang hanya memerlukan dua tiang sebagai titik tumpunya.  Sudah kutemukan satu batang pohon yang kuat dengan tinggi semeter maka tinggal kucari satu dahan tambahan untuk tiang belakang tenda yang kutemukan tidak jauh dari lokasi. Setelah tegak berdiri rupanya alam perlu mengujinya dengan menurunkan hujan. Lumayan deras dan memaksaku berdiam di dalam tenda yang rupanya tertembus butiran hujan.Alhasil hujan membuat saya harus mengevaluasi posisi plastik penutup atap agar arah jatuhnya air mulus ke tanah. Hingga sore belumlah reda, jadwal minum kopi pun berlangsung di tengah hujan.  Tak ada foto-foto saat  itu karena tidak memungkinkan. Lebih baik waktu kugunakan untuk memasak mi instan. Kali ini kugunakan kompor dari kaleng bekas cat dengan bahan bakar briket yang kubuat sendiri dari sampah daun, kertas dan ranting. Dengan empat buah briket ukuran 4 cm dan diameter 2,5 cm cukup untuk memasak mi dan air panas untuk kopi. Hanya memakan waktu kurang dari 10 menit mi telah siap saji dan kopi sudah diseduh untuk dinikmati.

Karena malam masih dihiasi hujan walau agak mereda, maka saya banyak mengisinya dengan tidur. Hingga tengah malam saya dikagetkan oleh letusan kembang api tanpa henti dari berbagai lokasi yang tentunya tak dekat dari sini. Ini hal yang sulit dihindari, walau ke puncak gunung sepi pun bunyi kembang api selalu mengikuti.[2]

Jam setengah empat alarm di hpku berbinar, membangunkanku untuk segera bersiap menyambut datangnya matahari pertama di tahun ini. Kunyalakan kompor sembari berbenah sedikit demi sedikit guna menghindari  keterlambatan menjemput matahari. Sesudah menyantap mi instan dan menyeruput kopi, aku masih harus menunggu hujan lebih reda lagi sembari menyalakan api di briket untuk menghangatkan diri.

Dua jam kemudian aku pun keluar dari tenda menuju jembatan gantung. Hanya butuh 15 menit dengan berjalan santai, aku tiba di jembatan gantung terpanjang di Indonesia. Berada di ketinggian 600 mdpl dan memanjang 240 meter, jembatan ini menjadi idola baru di kalangan wisatawan.

Belum lama diresmikan dan tiap hari selalu dipenuhi orang yang ingin menyeberang. Sayangnya langit begitu tebal dengan awan, sehingga matahari terlambat saat aku sudah di tempat.  Tidak lama aku di sana dan kulanjutkan berjalan menuju Curug Sawer yang berada di ketinggian 1018 mdpl dan hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit saja dengan berjalan santai, mau tak mau memang harus berjalan santai karena jalan terus menanjak. Air yang deras tumpah dari atas membuat saya tak berani mendekat karena cipratan air dan udara dingin yang ditimbulkannya.  Tidak lama saya di situ untuk kemudian kembali ke jembatan gantung untuk melihat apa matahari sudah mendekat. Namun hingga jam 6 lebih 45 menit matahari belum terlihat, ia sungguh telat.

Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke gerbang untuk menuju persinggahan lain yaitu danau situ gunung. Bila anda berada di gerbang maka jalur menuju danau situ gunung berada di sisi kiri sedangkan yang ke curug sawer lewat sisi kanan. Maka untuk ke danau saya harus kembali ke gerbang walau di peta terlihat ada jalan dari Curug Sawer langsung ke danau namun lebih ku pilih kembali ke gerbang karena seperti tadi yang sudah kutulis; aku harus menjemput matahari di atas jembatan.

Jalan menuju danau sudah bagus dibanding jalan ke Curug Sawer yang masih setengah mulus dan sisanya jalan berbatu. Karena jalan yang bagus itu banyak pelancong memilih naik kendaraan untuk merapat ke danau padahal suasana di jalan tak kalah apik apalagi dengan pohon-pohon yang siap menyetor oksigen kepada kita.

Sekitar setengah jam waktu yang diperlukan dengan berjalan santai dari gerbang menuju danau situ gunung. Belum banyak aktivitas atau pun orang di jam 7 pagi itu di danau. Aku segera menghampiri air melewati jembatan ponton danau menuju pulau kecil yang kurang tertata untuk menyentuh air danau.   Hutan melingkari danau namun masih kulihat matahari hingga jam 8 di sana. Sesudah sarapan aku bergegas menuju lokasi lainnya yaitu Curug Cimanaracun yang berada di ketinggian 1600 mdpl, atas saran pemilik warung aku memilih jalan di luar danau yang katanya tidak banyak percabangan tidak seperti di jalan dalam lingkungan danau. Jalan menuju Curug Cimanaracun sedang dalam proses pengerasan. Pagi itu baru sekitar 50 meter jalan sudah jadi dan sisanya masih jalan berbatu. Tidak butuh waktu lama seperti yang sudah-sudah, 15 menit kemudian tibalah aku di Curug Cimanaracun. Air terjun ini tidaklah sederas Curug Sawer, ukurannya juga lebih kecil dan lebih sepi. Maka kumanfaatkan waktu sebentar untuk meluruskan kaki di situ.

Begitu kaki sudah lebih enak aku kembali melanjutkan penjelajahan. Ada dua opsi; pertama adalah kembali melewati jalan sebelumnya atau terus maju merangsek hutan  menuju danau kembali. Yang kupilih adalah terus maju melewati jalan setapak. Jalan setapak yang kumaksud adalah dalam arti sebenarnya, jalan yang hanya berukuran setapak kaki manusia dewasa. Jadi bila anda berjalan maka kaki satunya lagi terpaksa menginjak pepohonan kecil di sepanjang jalur itu.

Jalurnya tidak seramah jalur sebelumnya memang. Banyak pohon tumbang dan elevasi jalan yang hampir 71 derajat memaksa saya lebih berhati-hati lagi agar tidak tergelincir.  Untuk anda yang berniat menjelajahi jalur ini sebaiknya tidak membawa anak kecil atau beban berat supaya lebih aman.

Jam 9 pagi akhirnya sinar matahari menyembul di dedaunan dan bersamaan juga dengan berakhirnya jalur curam yang menuju danau. Aku segera turun merambati jalan seraya berpegang di dahan bambu. Tiba di sisi danau kulihat banyak orang sedang memancing.  Dan karena matahari sedang memanas maka kusempatkan untuk rehat sambil mengeringkan semua yang basah sedari malam di pintu air danau. Lumayan lama aku berjemur, hingga jam 10 aku kembali menyisiri sisi danau menuju akses masuk danau.   Penjelajahan pun berakhir dan aku masih mendapati orang-orang yang menyemut masuk di gerbang Taman Nasional Gede-Pangrango.

Walau tidak jadi ke Gunung Gede-Pangrango  namun itu terobati dengan penjelajahan kali ini karena biarpun tidak jadi kegunung nun disana namun sukses ke situ gunung.

 

 

CELAH

Manajemen Taman Nasional Gede-Pangrango perlu penanganan lebih profesional lagi dalam beberapa hal yang berpotensi membuka celah kerugian baik secara moril maupun materil bagi pengelola.

Pungutan tak jelas saat di loket untuk berkemah yang sudah terjadi bertahun-tahun harus segera diberantas agar pengunjung dan pengelola sama-sama diuntungkan. Pengunjung mendapat harga yang tegas beserta hak dan kewajiban yang juga jelas. Pengelola juga mendapat pemasukan yang legal tanpa setetes pun rasa sesal.

Pendaftaran pengunjung yang hendak berkemah juga harus diatur agar identitas mereka yang berkemah menjadi jelas guna keperluan administatif bila terjadi bencana. Padahal bila ke puncak Gede Pangrango saja diwajibkan mengikuti tes kesehatan bagi seluruh pendaki, selain tidak boleh sendiri dan sudah mendaftar. Itu contoh yang bagus untuk meminimalisir korban bila ada bencana.

Selain itu, pengelola juga wajib menjaga area kerjanya 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Memang harus ada pengaturan jam kerja agar pelayanan kepada pengunjung maksimal. Celah untuk hal ini biasanya menguntungkan pengunjung, karena semua loket di pagi hari tiada yang menjaga maka siapa pun bia masuk tanpa pengawasan.

 

ADVIS TRANSPORTASI

Karena saya tinggal di Tangerang maka pilihan moda transportasi lumayan beragam namun saya memilih yang lebih cepat yaitu kereta api. Di Stasiun Poris aku bermula, dengan 8.000 rupiah sudah kumiliki tiket Poris-Bogor. Dari stasiun Paledang Bogor saya melanjutkan dengan menumpang angkutan kota nomor 03 jurusan Terminal Baranangsiang dengan biaya 5.000 rupiah. Di muka terminal kuteruskan dengan menaiki elf jurusan Sukabumi dengan ongkos 30.000 rupiah, di kendaraan ini anda harus meminta sopir menurunkan anda di Polsek Cisaat. Di pasar Cisaat perjalanan disambung dengan angkutan kota yang ke arah Situ Gunung dengan tarif 10.000 rupiah. Dari rangkaian perjalanan di atas bila dihitung pulang-pergi akan terkumpul 106.000 rupiah untuk transportasi.

https://platform.twitter.com/widgets.js

Anda perlu menambah anggaran untuk tiket masuk dan konsumsi serta cinderamata yang hendak dibeli. Sekadar gambaran, dengan 25 ribu anda bisa membeli nasi dengan sepotong ayam goreng dan dua tempe di warung dalam lokasi Taman Nasional Gede Pangrango ini. Tentu akan lebih murah bila anda membawa sendiri bahan makanan beserta alat memasaknya. Dan kembali saya ingatkan untuk memakai kompor briket seperti yang sudah kubahas sebelumnya. Karena murah dan ramah lingkungan.

 

 

[1] Hal tersebut pernah dibahas dalam sebuah blog yang menjadi rujukan saya untuk meriset Situ Gunung. Berarti pungli sudah berjalan bertahun-tahun tanpa ada upaya pembersihan. Bila dalam setahun ada 10.000 orang yang mendaftar berarti ada 60 juta rupiah dana menguap tak jelas.

[2] Deja Vu dengan pendakian sebelumnya ke Gunung Guntur di Garut atau Gunung Lembu di Purwakarta yang diimbuhi letusan kembang api di tengah malam, sama dengan di kota-kota.

 

 

TIDUR DI PUNGGUNG LEMBU

Saya tidak sedang membahas gembala dengan memakai judul di atas. Lembu yang saya maksud adalah nama sebuah gunung yang berada di Desa Panyindangan, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta di Provinsi Jawa Barat. Berjarak sekitar 94 kilometer dari rumahku (berdasarkan perhitungan google map) dan memiliki ketinggian 792 mdpl. Jangan remehkan ketinggiannya karena jalur menuju puncaknya didominasi tanjakan yang jelas menguras energi para pendaki. Mengutip ujaran mereka maka jalur Gunung Lembu itu “gak ada bonusnya.

Gunung Lembu menjadi tujuan perjalanan saya menutup tahun 2017 berdasarkan referensi dari sekelompok pendaki yang tahun lalu saya temui di Gunung Guntur. Anda bisa membacanya di tulisan “Gintur di Guntur Lagi” pada blog ini.

di gerbang gunung Lembu

di gerbang gunung Lembu

Terdapat tiga gunung yang berdekatan di Purwakarta yaitu Gunung Lembu, Gunung Bongkok dan Gunung Parang. Pilihan saya jatuh pada gunung Lembu karena di puncaknya bisa melihat matahari terbit dan tenggelam dengan lanskap Danau Jatiluhur di bawahnya. Dan memang pilihan saya tak salah. Karenanya saya mulai mencari informasi mengenai rute perjalanan dan transportasi yang digunakan.

Ada banyak informasi mengenai rute ke gunung Lembu, salah satunya yang lumayan lengkap ada di blog dianjuarsa.com bahkan ia mengurai biaya yang dikeluarkan.  Dari situ saya mendesain perjalanan saya.

Bis Warga Baru jurusan Jakarta−Purwakarta menjadi kendaraan yang saya tumpangi. Dengan tarif 20.000 rupiah dan kursi empuk membuat saya nyaman untuk tidur selama perjalanan. Berangkat dari Terminal Kampung Rambutan pada jam 08:45 WIB dan setibanya di pertigaan Ciganea saya dibangunkan kenek yang menyarankan saya berganti kendaraan umum, saat itu jam 10:40 WIB. Turun dari bis ada seorang tukang ojek menghampiri dan menanyakan tujuan saya. Begitu tahu saya hendak ke gunung Lembu ia menawarkan mengantar dengan tarif 70.000 rupiah, saya pun meminta harga yang lebih rendah dan kami pun sepakat dengan harga 50.000 rupiah. Tetapi rupanya ia tak tahu jalan menuju gunung Lembu, alhasil kami menuju arah yang salah hingga akhirnya kami bertanya−tanya kepada penduduk lokal hingga berkali−kali demi mendapat kepastian arah. Nyaris dua jam ia membawa saya hingga ke tempat pendaftaran di muka kantor kepala desa Panyindangan. Kami berdua sama−sama baru kesini dan sama−sama penat dan lapar dengan jauhnya perjalanan. Saya pun mengajaknya makan di warung yang juga menjadi tempat pendaftaran bagi para pendaki. Dua porsi nasi timbel dengan lauk ayam goreng, tempe orek,  telor dadar dan mie cukup mengisi perut kami dengan harga 28.000 rupiah saja.

bebatuan di jalur gunung Lembu

bebatuan di jalur gunung Lembu

Sesudah makan dan mendaftar dengan biaya 10.000 rupiah (sudah termasuk asuransi) maka tepat jam 13:00 WIB saya memulai pendakian. Benarlah apa yang diucapkan para pendaki sebelumnya bahwa jalur gunung Lembu “gak ada bonusnya” dan itu sudah berlangsung dari titik 0. Ada setidaknya tiga lokasi untuk tenda yaitu di Pasir Rompang, Lapang Kapal dan puncak. Dan diantara jalur perkemahan juga terdapat dua petilasan yaitu milik mbah Suryakencana dan Mbah Jonggrang. Dian Juarsa memberi peringatan dalam tulisannya agar tidak menduduki petilasan tersebut dengan alasan apapun.

jalur gak ada bonus

jalur gak ada bonus

Menjelang puncak, anda akan disuguhi pemandangan bagan−bagan yang mengapung di atas Jatiluhur pada sisi kanan arah perjalanan dan lanskap gunung Parang di sebelah kiri.  Berhentilah sejenak untuk menikmati keindahannya. Akan memakan waktu sekitar 100 menit dengan perjalanan yang santai untuk tiba di puncak yang siang itu sudah dipenuhi tenda para pendaki. Saya memilih tempat yang berjarak sekitar 20 meter sebelum puncak dimana masih lapang untuk membangun tenda. Sama seperti perjalanan saya sebelumnya, tenda yang saya bawa terbuat dari banner yang saya bentuk menjadi tenda layak ditiduri. Selesai mendirikan tenda hujan turun dengan rimbunnya disertai desir petir yang sesekali membuas. Saya pun hanya bisa rebahan di dalam tenda sambil sesekali melirik sinyal ponsel yang timbul−tenggelam tanpa kejelasan. Hingga sore hujan tak reda begitu juga dengan rombongan pendaki yang baru tiba. Lepas maghrib hujan sesekali berhenti dan tercatat ada tiga tenda baru di sekitar saya. Dua tenda milik rombongan dari Purwakarta dan yang terdekat dengan tenda saya adalah dua orang bersaudara yang berasal dari Sunter, Jakarta Utara. Tak banyak obrolan yang kami lakukan karena mereka masih menunggu teman−temannya yang masih di pos 1.  Namun dari cara si kakak yang mempersiapkan segalanya maka jelaslah bahwa si kakak sedang mengajarkan adiknya yang baru kuliah di Bekasi untuk bersahabat dengan alam. Karena letak tenda kami yang berdekatan, si kakak menganjurkan untuk membangun ruang dapur bersama dengan saya, ia mengeluarkan terpal untuk diikat di batang pohon sebagai atap dapur kami. Ia juga menawarkan kompornya bila saya hendak masak, tetapi karena saya sudah membawa kompor kaleng rakitan berbahan bakar spirtus yang tidak mungkin saya sia−siakan maka tawarannya saya tolak.

ambil nafas dan foto

ambil nafas dan foto

Malam tiba bersama dengan kabut, si kakak yang selesai dengan tendanya turun ke bawah untuk menjemput kawan−kawannya. Sang adik berbincang dengan saya yang sedang memasak mi instan, ia sungkan kutawari makan. Ia memilih tidur saat aku sedang bertempur dengan mi. Hujan tidak benar−benar reda sesungguhnya. Para penghuni dua tenda lainnya juga memilih ngobrol di dalam tenda masing−masing. Selesai makan saya membikin kopi agar hangat tetap betah di dalam raga. Hanya ada saya, secangkir kopi, gerimis dan rombongan pendaki yang lalu lalang pada senja terakhir di tahun 2017 itu.

pemandangan jelang puncak

pemandangan jelang puncak

Tenggelamnya matahari memang tak bisa disaksikan namun harapanku bertumpu pada terbitnya sang surya, karenanya agar tak terlewatkan saya memutuskan tidur segera. Apalagi sinyal ponsel seperti letih mendaki maka tak ada yang bisa dilakukan kecuali tidur di punggung Lembu.

Jatiluhur dari atas

Jatiluhur dari atas

Sempat beberapa kali terbangun karena bunyi notifikasi medsos dan suara kawan−kawan si kakak yang sudah tiba. Namun yang paling mengganggu adalah saat tengah malam ada letusan kembang api dari puncak (perkiraan lokasi berdasarkan bunyinya yang terasa dekat) yang besar kemungkinan dibawa pendaki lain. Bukanlah tindak kriminal meledakkan kembang api apalagi di malam pergantian tahun, tetapi bukankah kita mendaki untuk menyepi?

zoom in

zoom in

Pertanyaan di atas sebenarnya juga otokritik. Kenapa saya masih membiarkan internet tetap nyala di ponsel? Akibatnya fatal, tepat jam 00:00 ponselku mati karena kehabisan daya. Padahal ia masih kubutuhkan untuk esok. Saya membawa ponsel cadangan sebenarnya,  tetapi kualitas gambar dan kondisi baterainya lemah. Mau tidak mau saya harus merasakan konsekwensi kelalaian yang saya lakukan.

siluet

siluet

Sekitar jam tiga dini hari, saya terbangun. Dingin yang menyelinap memaksaku bergegas dan menyalakan kompor untuk memasak air dan makanan. Dari cahaya bulan yang teriris pepohonan aku bisa melihat si kakak yang juga terbangun karena dingin. Ia tidur di luar karena di dalam tenda sudah penuh dan setelah berbincang sebentar ia merapat dan rebah di antara pepohonan dan temannya yang sudah lelap dalam kantong tidur.  Sumber panas dari kompor cukup menghangatkanku. Setelah makan dan minum kopi, aku lekas berkemas untuk pindah ke Batu Lembu yang berjarak sekitar 20 menit dari puncak ke arah bawah.

di Batu Lembu

di Batu Lembu

Matahari sudah menyembul saat kakiku melangkah. Tiba di pos 3 yang berada di Batu Lembu nampak sudah puluhan orang sudah berjejal di sana. Batu Lembu adalah titik terbaik di gunung ini untuk menyaksikan matahari terbit. Luasnya tidak seberapa namun curam dan di tepiannya hanya ada pagar besi yang tidak rapat. Konon, bila dilihat dari arah timur maka gunung ini menyerupai Lembu yang sedang duduk dan Batu Lembu itu laksana hidungnya dan karena itulah penduduk sekitar menamainya gunung Lembu. Ditinjau dari perspektif geologi, gunung Lembu dan kawasan sekitarnya sebenarnya sebuah gunung yang lebih tinggi lagi. Erupsi maha dahsyat ribuan tahun silam membuat ketinggiannya terpotong dan lava yang tersumbat secara alamiah mengeras dan membentuk menjadi gunung−gunung. Itulah kenapa banyak sekali batu besar di gunung dan tidak memiliki mata air. Informasi ini saya dapat di pos pendaftaran.

mentari terbit

mentari terbit

Kembali ke Batu Lembu, saya senang sekali bisa menjadi bagian dari orang−orang yang sudah berjuang tiba di sini untuk menyaksikan fajar merekah untuk pertama kalinya di tahun 2018. Ini adalah situasi yang tidak bisa digambarkan lewat kata. Karena ini adalah harta yang tak akan bisa dicuri siapapun juga. Terlalu berharga untuk dikonversi menjadi kalimat. Begitu pula keberadaan gunung Lembu ini yang berharga tidak hanya bagi manusia tetapi juga hewan dan tumbuhan yang ada di sana. Sayangnya banyak ulah merusak para pendaki lewat mencoret bebatuan dan membuang sampah sembarangan. Saya pun termasuk. Namun sampah yang saya tinggalkan adalah tenda dengan harapan bisa digunakan oleh pendaki perorangan yang tidak membawa tenda. Selain itu juga mengurangi banyak beban yang harus saya pikul dalam perjalanan pulang.

Saya tidak berlama di Batu Lembu, saat matahari sudah mulai membulat saya berangkat. Lewat ponsel orang yang berada di sebelah saya tahu kini jam 05:50 WIB. Perjalanan turun selalu lebih cepat dari mendaki. Pagi itu juga banyak remaja yang baru tiba. Kebanyakan dari mereka tidak merencanakan berkemah, ini terlihat dari minimalnya barang yang dibawa. Bahkan ada juga yang hanya membawa ponsel di tangan dan bersendal jepit.

Tiba di bawah tepat jam 07:00 WIB. Saya bertemu empat pemuda dari Bekasi yang juga baru turun. Inilah enaknya naik gunung, walau pergi sendiri saya tidak takut kesepian. Mereka menawarkan tumpangan sampai di jalan raya terdekat.  Setelah sarapan dan minum kopi, satu setengah jam kemudian kami ke tempat parkir dan disana bertemu lagi dengan empat pemuda lainnya yang juga berasal dari Bekasi. Dengan mengendarai empat motor kami bersembilan meninggalkan desa Panyindangan. Ternyata jalur mereka berbeda dengan rute yang saya lewati sebelumnya namun membawa saya mengetahui keberadaan stasiun Sukatani.

Dari situ saya mengusulkan rute baru bagi pendaki gunung Lembu atau gunung Parang. Bila biasanya mereka yang menggunakan kereta akan melanjutkan dengan menyewa angkot dengan harga antara 250.000−400.000 rupiah (berdasarkan informasi yang saya kumpulkan selama di gunung) maka ada opsi lain yaitu dengan menumpang kereta lokal Purwakarta−Cibatu dan turun di Stasiun Sukatani dengan waktu  tempuh 27 menit. Dari stasiun Sukatani bisa dilanjutkan dengan ojek (walau sebenarnya tidak ada tukang ojek apalagi pangkalannya di desa ini, namun pemuda setempat mau mengantar dengan tarif yang disepakati bersama dalam kisaran 15−25 ribu saja) hingga di desa Panyindangan. Rute ini akan lebih cepat dan murah dibanding menyewa angkot dari stasiun Purwakarta. Namun anda harus tiba tepat waktu yaitu sebelum jam 15:45 WIB karena jadwalnya hanya sekali sehari.

stasiun purwakarta

Stasiun purwakarta

Kembali ke perjalanan, saya diantar sampai pertigaan Ciganea, tempat saya tiba sehari sebelumnya. Dengan angkot kulanjutkan  menuju  stasiun Purwakarta.  Dan ada yang menarik perhatian saat angkot ini sudah di tengah Purwakarta yaitu kerumunan orang di tempat yang sopir angkot sebut sebagai Situ Buleud. Berbentuk lingkaran yang ditengahnya terdapat kolam dengan patung−patung menghadap ke empat penjuru mata angin. Ingin saya melihat tempat itu namun saya harus memastikan jadwal  kereta dahulu. Saya beruntung karena sesampainnya di stasiun, petugas menjawab bahwa loket baru dibuka mulai jam 13:00 WIB dan itu artinya saya mendapat waktu 3 jam untuk menelusuri Situ Buleud. Aku lalu bergegas memutari Situ Buleud atau yang biasa disebut juga Taman Air mancur Sri Baduga. Aneka sosok dari cerita pewayangan memenuhi pagarnya, dan juga patung besar di muka taman. Soal patung−patung ini memang seakan menjadi ciri Purwakarta. Nyaris di setiap sudut jalan akan di temui karya seni rupa dengan model  tokoh pewayangan. Menjadikan Purwakarta menjadi kabupaten dengan cita rasa artistik yang tinggi. Walau tak mendapat kesempatan memasuki Taman tersebut tetapi cukuplah bisa berfoto dengan latar banner Taman Air Mancur yang disediakan di muka gerbang taman.

di muka taman air mancur Sri Baduga

di muka taman air mancur Sri Baduga

Perjalanan singkat ini harus kuakhiri di awal tahun karena memang rencana dan logistik yang saya bawa hanya untuk perjalanan singkat. Biar singkat tetapi akan melekat dalam ingat. Bak gembala tertidur di punggung lembu dan bermimpi bertemu bidadari.

 

LUCY IN THE SKY WITH KORAN KAMI

Waktu pertama membaca cuitan Tommy F.Awuy tentang kolaborasi seni terbesar di akhir tahun ini saya sudah tertarik untuk menyaksikannya. Bukan karena promosi yang bombastis tadi tetapi karena ada kalimat Lucy In The Sky dalam judulnya.

Sebagai generasi pra milenial, saya turut terkena demam The Beatles yang bangkit kembali pada era 80an lewat Bharata Band.  Lagu Lucy In The Sky With Diamond menjadi salah satu lagu yang turut dipelajari oleh saya dan teman-teman bermodalkan buku lagu The Beatles yang kami peroleh dari hasil bajakan.

Aria Baron, Nana Soebianto dan Tommy F.Awuy membawakan Lucy In The Sky With Diamond

Dari komik The Beatles yang hadir di Majalah Hai pada saat itu, saya mengetahui bahwa lagu tersebut dicurigai sebagai kepanjangan dari LSD namun John Lennon membantahnya dengan berdalih bahwa judul lagu itu bersumber dari gambar yang dibuat anaknya Julian Lennon.

Terlepas dari pro kontra kandungan LSD di dalam lagu tersebut, saya pikir pola lagu yang dibuat John dan paul ini memang menyimpang dari pola lagu pop masa itu. Tercatat 3 kali nada dasarnya berubah dimana jembatan tiap nada dasar mengalir dan menyatu di bawah rezim teks yang surealistik. Besar kemungkinan pengaruh yang dominan dari era psikedelik yang ditandai dengan meluasnya pemakaian acid pada generasi bunga. Efek dari pemakaian acid ini memang membuat penggunanya berada diantara mimpi dan realita, kebanyakan lebih condong ke mimpinya. Tapi inilah salah satu bentuk perlawanan generasi bunga terhadap kemapanan yang berujung pada dehumanisasi. Manusia dinilai berdasarkan warna kulit, tingkat ekonomi dan status sosialnya. Manusia menjadi begitu mekanistik dan melupakan alam. Dalam situasi zaman seperti itulah seni dan gaya hidup menjadi alat protes mereka. Inilah kritik generasi pemimpi terhadap zamannya.

episode transisi

The Beatles dengan Lucy-nya berada dalam garda depan musik pop psikedelik. Konser Woodstock tahun 1969 menjadi kongres generasi bunga dimana cinta dan perdamaian menjadi narasi yang digemakan.

adegan yang mengingatkan memori pahit tentang identitas sebagai pribumi

Disaat menuliskan ini, hujan sedang turun, namun kepalaku menghangat membayangkan betapa merdekanya generasi pemimpi mempresentasikan eksistensinya. Dan kehangatan dalam kepala itu pula yang saya rasakan saat menyaksikan karya Bre Redana yang bertajuk Koran Kami With Lucy In The Sky.

Terlambat datang karena dihadang hujan, begitu tiba sudah disambut nyanyian Lucy In The Sky With Diamond dimana Tommy F Awuy bak konduktor yang mengajak penonton turut bernyanyi. Sementara Aria Baron mengiringi dengan gitarnya.  Sesudahnya potongan Koran Kami dibacakan bergantian oleh dua wartawan Kompas untuk  memperkenalkan tokoh ceritanya kepada penonton yang sebagian besar akrab dengan gambaran tokoh yang dibacakan. Bagian ini memang prosa yang menyelami realita dalam ruang dan waktu cerita. Setelah penonton mengenali tokoh dan alurnya maka adegan berikutnya adalah transisi kepemimpinan yang berdarah dalam format teater. Saya sendiri lebih memaknai adegan ini sebagai puisi visual yang menghadirkan tragedi dalam rupa mimpi. Namun cerita belum berakhir, masih ada Whiter Shade of pale milik procol Harum yang dinyanyikan duet oleh Nana Soebianto dan Tommy serta pembacaan irisan novel oleh dua jurnalis Kompas lainnya untuk memungkasi alur kisah Koran Kami.

Strategi kolaborasi lintas disiplin seni pada karya ini memang menjadi suatu kebutuhan untuk memberikan ruang kepada jaringan perkawanan Bre Redana yang luas. Sebagai wartawan, ia mengenal dan dikenal banyak figur populer dalam masyarakat kita. Dan pentas perpisahan dari jurnalis ini membuktikan luasnya pergaulan yang ia jalani selama ini.

Bre Redana pamit pensiun

Dalam perjalanan pulang dari Bentara Budaya Jakarta, tempat karya ini dipentaskan, kepala saya yang menghangat ini memikirkan apa yang harus dikritisi dari pertunjukan ini. Namun sampai saya menuliskan kata ke 546  ini tak jua saya temukan kritik yang sepadan. Saya malah menemukan dalih kenapa saya tak bisa membuat tulisan kritik. Karena untuk menghasilkan kritik maka saya harus mengetahui prosesnya dari awal hingga akhir agar mendapat gambaran yang luas mengenai muatan yang akan diangkat dari pentas ini. Lalu sebagai karya dari seorang pemimpi maka kritik yang seimbang haruslah muncul dari seorang yang realistis, dalam artian emoh bermimpi. Sebagaimana barok sebagai kritik terhadap rennaisans, klasik sebagai kritik terhadap barok, romantik sebagai kritik terhadap klasik. Maka sulitlah bagi pemimpi untuk mengkritisi pemimpi lainnya. Kalaupun mau dicari-cari adalah kurangnya bir yang disajikan. Saya kehabisan ketika hendak mencicipinya, padahal Bre dan bir adalah satu kesatuan dan acara belum berakhir selama beliau masih berada di Bentara Budaya Jakarta.

Tetapi saya harus mengakhiri menjadi penyaksi dan bergegas pulang, bukan karena ketiadaan bir tetapi saya sudah membeli tiket kereta pulang dan berdasarkan perhitungan maka bila saya pulang lebih dahulu akan sempat bersua kereta terakhir hari ini. Dan di sepanjang perjalanan hingga tiba di rumah, kepala saya masih menghangat dan mengingat.

Mas Bre, jika anda membaca ini maka anda berutang segelas bir untuk mendinginkan kepala saya.

 

 

30 November 2017

01:56 WIB