Dee

Pertama kali mendengar lagu ini saya terkesan dengan melodi dan tehnik pengolahannya. Begitu impresif. Tadinya saya mengira judulnya mencomot dari tangga nada yang digunakan. Tetapi setelah mencari tahu saya malah semakin terkesan.

Dee adalah lagu berdurasi 51 detik yang diciptakan oleh Randy Rhoads (1956-1982), gitaris Quiet Riot dan Ozzy Osbourne, dan dimasukkan ke dalam album Blizzard of Ozz yang dirilis pada 1981. Ozzy mengatakan bahwa jika Randy menginginkan lagu itu masuk ke dalam album maka itulah yang terjadi. Suatu bentuk kepercayaan yang tinggi dari Ozzy terhadap Randy.

Judul lagu ini diambil dari nama gadis ibu Randy, Delores (meninggal tahun 2015), yang menjadi orang yang berperan penting terhadap kecintaan Randy dengan musik. Dee, atau Delores, adalah guru musik pertamanya dan yang membelikan gitar saat Randy masih anak-anak. Maka wajar saja jika tehnik pengolahan melodi pada Dee memiliki ciri-ciri musik klasik, walaupun ada bagian yang Randy sebut berbau jazz pula. Dee menjadi semacam rekam jejak pengaruh musik yang membuat Randy Rhoads menjadi gitaris.

Tetapi yang terutama, Dee adalah monumen cinta Randy Rhoads kepada ibunya, Delores.

Pariwara buku Tiit...Tiit
Pariwara

Bunda Maia, Bunda Maria, dan huruf R yang tercecer

Ini bukan fiksi, tetapi opini. Dan diawali dengan tak sengaja, saat menyaksikan acara Indonesia Idol di televisi dan para juri sedang mencoba kemampuan trio penyanyi tenor yang saya tidak kenal. Bunda Maia, salah seorang juri, mencontohkan bentuk yang diinginkannya untuk dinyanyikan trio tersebut. Dan Bunda Maia mencomot empat not awal dari lagu Hallelujah karya George Friedrich Handel untuk Oratorio Messiah dan diganti teksnya menjadi “Cendol Dawet”.


Dalam sejarah musik, ini disebut Parodia atau secara harfiah berarti “Lagu Samping” dalam pengertian sebuah melodi populer yang diubah liriknya.


Kembali ke peristiwa di tv, trio tersebut mengikuti permintaan juri untuk menyanyikan lirik Cendol Dawet menggantikan teks Hallelujah. Dan semua puas, semua terhibur. Memang itulah esensi televisi.


Cendol Dawet adalah permainan teks yang dipopulerkan oleh penggemar Didi Kempot dalam merespon musik sembari menari dan tentunya puas terhibur. Dalam permintaan Bunda Maia, kata tersebut menggantikan teks Hallelujah dari bahasa Ibrani yang berarti Pujilah Tuhan. Disini yang profan menggantikan teks gerejawi.


Apakah ini artinya Bunda Maia telah melakukan penghinaan terhadap iman Kekristenan?


Sebelum saya jawab, akan lebih baik kita untuk mengenal secara singkat George Friedrich Handel. Beliau dilahirkan di kota Halle pada 23 Februari 1685. Ia sezaman dengan Johann Sebastian Bach. Mereka adalah komponis besar di era musik Barok. Perbedaannya adalah bila Johann Sebastian Bach banyak menciptakan karya-karya untuk gereja, sedangkan Handel besar dalam karya Opera dan Oratorio bagi teater sekuler. Makna teater sekuler disini adalah teater yang memainkan karya-karya yang tidak bersumber dari kitab suci.


Namun karier Handel menemui senjakalanya walau begitu ia tetap berusaha menghidupkan teaternya. Hingga kemudian Charles Jensen memberikan libretto yang berbasis kisah Yesus dari Alkitab dan meminta Handel untuk menggarapnya. Butuh 24 hari baginya untuk membuat naskah oratorio 260 halaman berjudul Messiah ini dan dipentaskan pertama kali saat perayaan Paskah 13 April 1742. Ini adalah titik balik karier Handel. Messiah sukses dipanggungkan dan menyentuh hati siapapun penyaksinya. Bahkan Raja George II sampai berdiri saat musik intro Hallelujah dimainkan. Berbagai pujian mengalir tidak hanya dari publik namun juga dari sesama komponis, minus Bach karena walau hidup sezaman dan berasal dari negara yang sama tetapi Handel dan Bach bagai hidup di dunia yang paralel.


Lagu Hallelujah sebenarnya adalah lagu yang memuat kesimpulan dari bagian kedua naskah oratorio ini. Di zaman sekarang justru dipisahkan dan berdiri sendiri sebagai karya paduan suara atau orkestra instrumental.


Sesudah mengenal secara ringkas biografi Handel dan karya besarnya oratorio Messiah, kita kembali ke bahasan Bunda Maia yang dalam judul tulisan ini disandingkan dengan Bunda Maria serta kalimat absurd mengenai huruf yang tercecer.


Judul tersebut adalah permainan kata dimana antara Bunda Maia dan Bunda Maria ternyata hanya selisih satu huruf; R.


Huruf R dalam Alfabet Fonetik internasional menandakan bunyi konsonan getar rongga-gigi. Dan hanya huruf R yang memang memerlukan getar dalam pengucapannya. Bila tidak bergetar maka akan terdengar seperti L dan orang yang melafalkan demikian dikatakan cadel. Semua manusia pada awalnya pun cadel namun berkat bimbingan orang tua dan tentunya kemampuan rongga-gigi dalam menggetarkan huruf itu yang membuat kebanyakan orang menjadi mampu membunyikan secara benar.

Bunda Maria, Bunda Maia dan huruf R yang tercecer


Bila dalam teks Bunda Maria dihilangkan huruf yang mengharuskan getaran rongga-gigi maka akan menjadi Bunda Maia. Ini hipotesis yang anarkis, bisa juga mengada-ada.


Tetapi sebelum anda memutuskan untuk mengakhiri pembacaan sampai di alinea ini maka pertimbangkanlah untuk memahami arah dari konteks judul tulisan ini.


Bunda Maria adalah ikon bagi Kekristenan karena ia adalah ibu yang melahirkan Yesus. Tentu sudah jamak bila mendengar Yesus lalu identik dengan kekristenan karena itu saya mencoba menggunakan yang lain yaitu Bunda Maria dan alasan lainnya disebabkan kedekatan huruf dengan Bunda Maia. Bukan alasan yang bersifat teologis, tetapi fonetis.


Tetapi tidak sesimpel itu pula, karena Bunda Maia disini bisa mewakili area profan dan Bunda Maria merepresentasikan wilayah gerejawi.


Antara yang profan dan gerejawi memiliki kaitan yang unik. Kadang konfrontatif seperti terjadi di era abad kegelapan Eropa dimana Paus memegang otoritas yang melebihi Raja dan kerap melarang segala bentuk seni profan karena dianggap membuai masyarakat dan melupakan Tuhan.


Namun kemudian, sesudah munculnya abad Renaissance, hubungan yang profan dan gerejawi sering komplementer. Sesudah Marthin Luther melakukan gerakan Reformasi dan melahirkan Protestan maka banyak lagu-lagu profan yang diubah liriknya untuk dipakai dalam ibadah gerejawi. Hal ini dilakukan agar kekristenan bisa membumi dan dimengerti oleh masyarakat jelata bahkan yang buta huruf sekalipun. Hal ini terus berlangsung hingga kini, contoh lagu yang dipakai misalnya Morning Has Broken karya monumental Cat Stevens, yang kemudian mualaf dan berganti nama menjadi Yusuf Islam, juga diubah liriknya dan dipakai dalam liturgi gereja.


Bila yang profan bisa diparodiakan menjadi gerejawi, tentu adalah bisa bila yang terjadi sebaliknya.


Tetapi apakah itu tidak melecehkan kekristenan?


Saya menjawab tidak dalam kapasitas teologis namun logis. Hal tersebut tidak melecehkan karena lagu-lagu gereja adalah upaya manusia untuk membantu ayat-ayat kitab suci atau iman kekristenan agar bisa lebih mudah diterima masyarakat namun yang utama adalah keimanan itu sendiri tumbuh dan berkembang dari kemampuan meresepsi setiap umat Kristen akan kepercayaan terhadap Kristus dan memanifestasikan dalam laku sehari-hari. Dengan kata lain, lagu memang membantu tetapi bukan yang utama apalagi yang terutama.


Itulah mengapa ada banyak upaya menggetarkan iman Kekristenan yang tidak ditanggapi dengan kemarahan atau aksi balasan. Yesus sendiri sudah mengajarkan untuk mengasihi musuh maka menjadi aneh bila umatnya marah-marah atau bahkan sampai membalas bila ada yang menggetarkan situasi melalui isu atau narasi adu domba.


Apakah aksi Bunda Maia termasuk getaran dalam relasi antar umat beragama? Tidak, walau memiliki potensi tersebut apabila terdengar di telinga puritan atau kelompok garis keras, yang sejatinya ada di tiap agama dan ideologi. Secara kuantitas mereka tidak banyak namun suara mereka lebih keras dari mayoritas moderat dan resonansinya bisa menggetarkan kerukunan beragama.

Pariwara buku tiit-tiit
Pariwara


Karena itu bila Bunda Maia membaca tulisan ini, saya berharap sebagai figur yang dikenal luas oleh publik untuk bisa lebih berhati-hati agar setiap ucapannya tidak mencecerkan getaran yang tentunya tidak perlu. Mungkin Bunda Maia bisa meneladani Bunda Maria yang mencoba tetap tenang walau hatinya tergetar di saat menyaksikan Yesus disiksa dan disalibkan di depan matanya sendiri.

Cipondoh, 16 Maret 2020

Cinta

Masih dalam rangkaian merayakan bulan penuh cinta ini saya memainkan lagu lawas milik Vina Panduwinata yang berjudul Cinta.
Lagu ini sering saya dengar waktu kecil dari radio tetangga dan terdengar melodius sehingga tersimpan rapi dalam memori saya.
Selamat merayakan cinta.


Sejujurnya saya tak suka lagunya Ahmad Dhani di dunia politik yang berkemasan kebencian namun telinga saya menikmati karya musiknya yang dipenuhi melodi rasa cinta.
Karena itu saya harus memisahkan karya dan penciptanya yang tak terintegrasi utuh ini melalui aransemen bergaya fingerstyle dan membuang seluruh teks-teks ke kertas-kertas kosong tak terbaca.
Pilihan membawakan karya Ahmad Dhani yang ini bukan tanpa alasan namun diiringi harapan kiranya cinta kan membawa penciptanya kembali ke habitatnya, Republik Cinta.

 

SUREALISME DALAM LAKON SYEKH SITI JENAR

Pada 14 dan 15 september kemarin, Teater Kain Hitam Gesbica dari UIN Maulana Hasanudin Serang mengadakan pertunjukan teater dengan lakon Syekh Siti Jenar karya Vredy Kastam Marta di Gedung Kesenian Tangerang. Pentas kali ini terjadi di tengah lawatan Teater Kain Hitam Gesbica menyapa beberapa kota di pulau Jawa sejak agustus hingga awal oktober nanti.

Dengan sutradara Opik Pria Pamungkas, rombongan besar Teater Kain Hitam berhasil memikat ribuan penonton yang didominasi pelajar se-kota Tangerang selama dua hari pementasannya. Padahal, ini juga diakui oleh sutradara, tema pada lakon ini termasuk berat untuk diapresiasi penonton usia remaja. Tetapi hingga akhir pentas semua penonton bergeming di tempatnya duduk. Ini membuktikan ada hal selain tema yang mampu membawa penonton terkesima.

Panggung ditata dengan latar kain putih besar dan level yang dibuat berundak-undak hingga ke depan panggung. Dari sini bisa dibaca bahwa tata artistik ini dibuat sederhana agar memberi peluang kepada layar putih besar tersebut untuk elastis mengikuti sajian multimedia. Dan dibantu cahaya berwarna-warni yang fokus pada beberapa titik bloking pemain ditambah kostum yang terdiri dari kombinasi busana khas ulama dan umara pada era Kerajaan Demak serta kostum unik yang menggambarkan tokoh-tokoh absurd.

Saya sedang menggambarkan bahwa konsep artistik yang dimanifestasikan dalam tata panggung, lampu, kostum dan multimedia jelas merujuk pada apa yang disebut sutradara sebagai surealisme. Karena surealisme memang menuntut plastisitas ruang dan dipenuhi simbol-simbol yang seringkali tidak perlu masuk akal. Surealisme menuntut dan menuntun kita kepada alam mimpi, dunia bawah sadar.

Sejak dikumandangkan kepada dunia sebagai sebuah gerakan revolusioner  pasca perang dunia ke 1, surealisme memang  dimaksudkan sebagai antitesis dari realisme yang melulu harus rasional. Surealisme berpijak kepada alam mimpi, dimana segala realitas bergerak tanpa komado logika. Surealisme memandang dunia realisme telah gagal menjunjung kemanusiaan. Dan karenanya manusia harus kembali menjadi subyek dari peradaban dan alam bawah sadar adalah medium paling murni untuk menunjukan kemanusiaan kembali. Aplikasinya berpola spontanitas, pergerakan yang tanpa membutuhkan persetujuan dari sisi otak yang mengolah logika. Contoh yang paling tepat dalam mengenali surealisme ada dalam seni rupa karya beberapa seniman di era 1920-an. Salvador Dali, pelukis berkumis melintang anti gravitasi, dipandang sebagai pelukis yang memakai surealisme sebagai perwujudan artistiknya. Misalnya, salah satu karyanya yang terkenal dimana terdapat jam yang meleleh adalah presentasi dari apa yang ada dalam dunia bawah sadarnya. Secara visual juga terlihat seperti berada dalam dunia antah berantah yang entah dimana atau kapan. Penikmat karyanya seolah diajak tidak kemana-mana selain masuk kedalam alam mimpi Dali dan anda bisa menikmati walau itu adalah presentasi mimpinya. Memang begitulah surealisme.

Lalu bagaimana dalam seni pertunjukan teater? Apakah surealisme turut memberi bab khusus dalam sejarahnya?

Untuk menjawab itu kita mesti sepakat dulu bahwa substansi surealisme adalah menolak realisme, bila hal ini sudah kita lalui maka kita coba telusuri jejak surealisme dalam teater.

Balet Parade, sebuah karya kolaboratif Jean Cocteau dengan komposer Erik Satie dipadu desain set dan busana kubisme Pablo Picasso dan koreografi Leonide Massine pada  tahun 1917 bagi saya adalah contoh pertama dari surealisme dalam teater. Di catatan program ini pula kata surealisme diciptakan oleh Guillaume Apollinaire yang menulis,”..  sejenis surrealisme  (une sorte de surrealisme)..” dan itu tercatat tiga tahun sebelum  kata surealisme menjadi manifesto kebudayaan dengan pusat pergerakannya di Paris. Terhadap pertunjukan ini perhatian banyak tertuju kepada visual busana kubisme yang terbuat dari kardus keras dan  seolah membawa penonton ke arah dunia antah berantah.

Bukan maksud saya menjadikan Parade sebagai acuan dalam menilai surrealisme dalam teater karena setiap karya jelas memiliki gen dan dna yang berbeda. Parade lebih dimaksudkan sebagai catatan sejarah dan dari sana kita bisa mengambil unsur-unsur yang menjadikan pentas tersebut sebagai surrealisme. Namun yang menyolok dari itu  adalah upaya menghadirkan nuansa alam mimpi kedalam panggung.

Tokoh-tokoh surrealisme seperti Andre Breton atau, menyebut yang terkenal, Salvador Dali banyak terilhami dari kajian Freud tentang psikoanalisis yang memang muncul  sezaman dengan mereka. Psikoanalisis berkutat pada studi alam bawah sadar. Buku karya Freud seperti  The Interpretation of Dreams adalah santapan para pelopor surealisme sebagai pondasi paradigma pemikiran mereka.  Mimpi adalah landasan ide dari semua seniman surealisme.

Saya rasa sudah cukup bahasan mengenai surealisme dan kini saatnya anda membaca pengamatan saya mengenai surealisme dalam lakon Syekh Siti Jenar.

Syekh Siti Jenar dalam kisah yang ditulis Vredy Kastam Marta memang berpeluang untuk disandingkan dengan surealisme dalam penggarapannya. Sebabnya karena sebagai tokoh yang dikenal sebagai sufi maka lekat sekali penolakannya terhadap reralisme yang mengagungkan logika matematis khas otak kiri  selain itu ada adegan dimana Syekh Siti Jenar sedang berdialog dengan karakter yang sulit dibayangkan dalam realisme.

Untuk memvisualkan peluang tersebut, sutradara menggunakan multimedia yang dipadukan dengan busana dan musik. Tentu saja ini dalam konteks peran yang tak riil dan teknis artistik. Dan strategi ini berhasil dengan pembuktian tiadanya satu dari ribuan penonton selama dua hari itu yang keluar sebelum usai. Multimedia berhasil memikat mata dengan visual yang secara psikologis menenangkan organ mata seperti pada penampakan awan di angkasa atau suasana purnama, sebagai contoh. Busana tak biasa yang dikenakan kelompok perempuan pun mampu menggiring interpretasi penonton ke arah alam tak biasa. Diimbuhi musik yang mengambil irama sunda yang cenderung menenangkan turut andil dalam membuai penonton untuk tetap fokus selama acara.

Tetapi apakah itu bisa disebut surealisme sebagaimana yang diinginkan sutradara?

Seperti sebelumnya saya tulis bahwa substansi surealisme adalah antitesis realisme. Namun juga dalam alinea sebelum ini juga saya tulis bahwa naskah ini berpeluang untuk disandingkan dengan surealisme dalam penggarapannya. Tetapi secara utuh memang sulit untuk mengatakan bahwa lakon ini digarap dalam estetika alam bawah sadar a la surealisme. Ada beberapa bagian yang memang bisa dikategorikan begitu seperti yang saya urai di paragraf di atas namun yang sebagian itu tidak bisa dijadikan penilaian untuk keseluruhan.

Malah ada beberapa contoh yang saya tulis sebelumnya bila digarap dengan detil bisa jadi semakin mengentalkan estetika alam mimpi. Misalnya visual awan di langit, bila animasi ini digarap utuh tanpa sambungan dan menampilkan sudut elevasi yang perlahan meninggi tentu akan membuat penonton seolah diajak terbang. Atau saat penggambaran konflik yang terlalu landai terasa tidak menyatu dengan adegan yang berrlangsung di depannya, andai perang ditampilkan sebagai kolase yang ritmenya terus mengikuti irama dialog pemeran pasti akan membuat penonton terjebak dalam konflik.

Busana pada tokoh seperti malaikat seharusnya bisa lebih bebas tidak terbelenggu imaji standar dengan pemakaian sayap. Ada pilihan resiko yang berakibat kebingungan di mata penonton tetapi jika targetnya suasana bawah sadar maka sejatinya ada kemerdekaan tanpa batas bagi perancang kostum untuk menggiring ke nuansa mimpi. Begitu juga dengan karakter lain yang tidak riil.

Musik sebenarnya cukup menarik dengan menampilkan irama sunda, tetapi bila jiwa sufi atau alam mimpi maka gamelan jawa yang lebih tenang dan mengayunkan kesadaran tentu lebih cocok dengan beberapa adegan, apalagi ruangnya juga terjadi di Kerajaan Demak yang berlokasi di Jawa Tengah kini. Gamelan Jawa sudah terbukti sejak Claude Debussy mendengarnya di Paris Universal Expo tahun 1899 yang berciri impresionis, intuitif dan keterbukaan cocok untuk disandingkan dengan surealisme walau disaat itu ide surealisme masih berupa spermatozoa.

Apa pun pilihan yang ditempuh sutradara memiliki resikonya sendiri dan bagi penonton lakon Syekh Siti Jenar selama dua malam itu tidaklah penting seberapa kadar surealisme dalam pertunjukan tersebut,  selama kebutuhan artistik mereka terpenuhi maka tak ada alasan untuk meninggalkan pementasan.

Dan ini memang bukan tulisan untuk mereka, tetapi kepada sutradara yang menggunakan konsep surealisme dalam pementasannya.