DISANA GUNUNG, DI SITU GUNUNG

Awalnya saya ingin menaiki gunung Gede-Pangrango yang berada di Sukabumi. Namun saat riset di https://booking.gedepangrango.org ternyata gunung tersebut  ditutup hingga bulan maret 2019. Batalnya rencana ke gunung Gede-Pangrango tersebut menyebabkan aku harus mencari substitusinya dalam waktu singkat. Pilihan yang diambil adalah ke Situ Gunung yang juga berada di dalam kawasan Taman Nasional Gede-Pangrango.

KRONOLOGIKA

Berangkat tanggal 31 Desember 2018 jam 5 pagi, masih sempat kunikmati matahari terbit yang terakhir di tahun itu di stasiun Poris. Dengan kereta kulintasi jalur hingga ke Bogor. Di perjalanan ini saya bertemu dengan kakak yang hendak berangkat kerja. Ia menanyakan rencanaku untuk mengetahui  tujuan dan berapa lama di tempat tujuan. Kami berbincang hingga stasiun Cawang yang menjadi  rute  rutinnya tiba. Dan selanjutnya hingga Bogor kuhemat energi dengan tidur.

Sekitar jam 8 tiba di Bogor aku mencari angkot 03 jurusan terminal Baranangsiang untuk melanjutkan perjalanan. Sesampainya di muka terminal, ku isi dulu perut dengan gado-gado sambil membeli air mineral ukuran 1,5 liter guna bekal nanti di tenda.

Setengah jam kemudian sesudah kenyang aku menghentikan mobil elf jurusan Sukabumi. Dengan waktu tempuh sekitar 2 jam lebih maka kembali kuhemat tenaga dengan tidur. Hingga kemudian tiba di persimpangan jalan dengan Polsek Cisaat di tepinya saya pun turun.  Melihat beberapa polisi berbincang di muka polsek, kuhampiri guna menanyakan arah tujuan. Dengan ramah mereka menunjukkan jalan di sebelah polsek yang menuju arah Pasar Cisaat, tempat angkot berwarna merah siap mengantar siapa pun yang hendak ke Situ Gunung. Pasar Cisaat berjarak sekitar 200 meter dari polsek Cisaat, yang dimaksud terminal disini adalah sebuah putaran dimana angkot jurusan Cisaat memutar balik. Dan angkot berwarna merah adalah kendaraan umum dengan rute Situ Gunung-Cisaat.

Saya tidak tahu berapa ongkosnya untuk itu saya memberikan 50.000 kepada sopir yang memberi kembalian 35.000. Baiklah, dengan penumpang yang dari jauh dan tinggal seorang maka saya menjadi target empuk sopir untuk menarik tarif melebihi semestinya. Taksiran saya sewajarnya tarif maksimal 10.000 tapi tak mengapa bila itu memberi manfaat baginya.

Siang itu, depan gerbang Taman Nasional Gede-Pangrango sudah mulai dipadati kendaraan pribadi. Angkot yang saya tumpangi juga memilih berputar sebelum gerbang, sekitar 100 meter jauhnya. Saya pun turun dan berjalan dari situ. Di depan loket, seorang petugas yang melihat menanyakan apa saya hendak berkemah dan ketika saya mengiyakan ia segera meminta saya ke sebuah tempat berjarak 20 meter untuk menemui seseorang disana.

Di tempat yang ditunjukan saya menuju dan di dalamnya ada dua orang yang meminta saya membayar 35.000 sembari menyebut bahwa yang tertera dalam tiket adalah 29.000 dan ditambah 6.000 untuk biaya lokasi kemah. [1] Baiklah, bau pungli merebak dan saya masih anggap itu sumbangan sukarela tetapi yang sedikit mengecewakan adalah tidak dicatatnya saya sebagai wisatawan yang hendak berkemah. Ini di luar kebiasaan,  di tempat lain biasanya para pendaki wajib mendaftarkan diri lengkap dengan alamat dan melampirkan kopi KTP atau malah menahan KTP asli untuk selanjutnya memaksa kita untuk melapor kembali saat hendak pulang. Ini bertujuan untuk mengetahui dengan pasti berapa orang yang mendaki dan kembali dengan selamat sehingga nilai pertanggungan jiwa melalui asuransi bila pendaki terluka atau meninggal bisa diklaim karena data diri tercatat di petugas. Hal inilah yang mengecewakan, karena walau saya resmi membayar namun bila terjadi kecelakaan atau yang lebih parah maka akan sulit bagiku untuk mengklaim asuransi karena bukti berupa selembar tiket kosong yang kemudian rentan robek karena hujan atau bahkan hilang dan tidak adanya data diri saya di buku pengelola.

Dari ruangan itu juga  ditunjukkan jalan menuju area perkemahan Bagedor yang tidak jauh letaknya dari gerbang. Sekitar 10 menit berjalan menaiki tangga batu tibalah di area yang dimaksud. Namun kakiku  ingin menjelajahi wilayah perkemahan tersebut sehingga terus ke atas. Tiba saya di Bungbuoy, yang berjarak 10 menit dari Bagedor. Di Bungbuoy situasinya lebih nyaman dengan tenda-tenda besar tertata rapi walau kamar mandinya maih belum selesai. Dibanding dengan Bagedor maka aku lebih memilih Bungbuoy dan  segera kutemukan lokasi tenda yang terletak di muka area tersebut. Dengan bantuan dahan-dahan yang banyak ditemukan saya segera membangun tiang untuk tenda. Sayangnya begitu tenda hampir berdiri seorang karyawan, yang sebelumnya kutemui di kamar mandi yang belum jadi tadi, meminta untuk tidak mendirikan tenda di wilayah itu karena Bungbuoy sudah disewa untuk acara pada malam harinya. Ia meminta saya kembali ke Bagedor, dan dengan sedikit kesal kubongkar kembali tenda yang nyaris berdiri dan balik ke Bagedor.

Saya menemukan lokasi yang cocok walau tidak sesuai ekspektasi. Karena tenda yang ideal buatku harus agak menjauh dari tenda lainnya agar terasa kesepiannya. Di Bagedor lumayan agak rapat posisinya. Saya memilih di ujung dalam bagian atas tepat disamping tangga semen menuju area tengah. Ada empat undakan yang bisa menjadi opsi bagi para pekemah untuk memarkirkan tendanya dan kupilih paling atas walau resikonya jauh dari kamar mandi yang berada di undakan bawah.

Ada tiga tenda yang menjadi tetangga. Dua tenda sedang sepi sedang satu tenda ramai diisi satu keluarga yang datang dari Cengkareng. Dengan formasi ayah-ibu dan tiga anak remaja maka tenda tersebut cukup sesak namun disitulah yang menjadi tujuan si bapak yang ingin keakraban antar keluarga terjalin makin erat. Si bapak punya cerita menarik bahwa ia masuk di pagi hari saat petugas loket belum hadir dan ia langsung ke area perkemahan. Ia masuk tanpa dikenakan biaya dan itu karena kesalahan petugas. Ia ingin membayar tapi kepada siapa ia tak temukan orangnya, namun begitu mengetahui bahwa membayar pun tak akan dicatat maka ia santai saja menikmati liburan keluarganya.

Tenda kubuat sendiri dan berupa bivak yang hanya memerlukan dua tiang sebagai titik tumpunya.  Sudah kutemukan satu batang pohon yang kuat dengan tinggi semeter maka tinggal kucari satu dahan tambahan untuk tiang belakang tenda yang kutemukan tidak jauh dari lokasi. Setelah tegak berdiri rupanya alam perlu mengujinya dengan menurunkan hujan. Lumayan deras dan memaksaku berdiam di dalam tenda yang rupanya tertembus butiran hujan.Alhasil hujan membuat saya harus mengevaluasi posisi plastik penutup atap agar arah jatuhnya air mulus ke tanah. Hingga sore belumlah reda, jadwal minum kopi pun berlangsung di tengah hujan.  Tak ada foto-foto saat  itu karena tidak memungkinkan. Lebih baik waktu kugunakan untuk memasak mi instan. Kali ini kugunakan kompor dari kaleng bekas cat dengan bahan bakar briket yang kubuat sendiri dari sampah daun, kertas dan ranting. Dengan empat buah briket ukuran 4 cm dan diameter 2,5 cm cukup untuk memasak mi dan air panas untuk kopi. Hanya memakan waktu kurang dari 10 menit mi telah siap saji dan kopi sudah diseduh untuk dinikmati.

Karena malam masih dihiasi hujan walau agak mereda, maka saya banyak mengisinya dengan tidur. Hingga tengah malam saya dikagetkan oleh letusan kembang api tanpa henti dari berbagai lokasi yang tentunya tak dekat dari sini. Ini hal yang sulit dihindari, walau ke puncak gunung sepi pun bunyi kembang api selalu mengikuti.[2]

Jam setengah empat alarm di hpku berbinar, membangunkanku untuk segera bersiap menyambut datangnya matahari pertama di tahun ini. Kunyalakan kompor sembari berbenah sedikit demi sedikit guna menghindari  keterlambatan menjemput matahari. Sesudah menyantap mi instan dan menyeruput kopi, aku masih harus menunggu hujan lebih reda lagi sembari menyalakan api di briket untuk menghangatkan diri.

Dua jam kemudian aku pun keluar dari tenda menuju jembatan gantung. Hanya butuh 15 menit dengan berjalan santai, aku tiba di jembatan gantung terpanjang di Indonesia. Berada di ketinggian 600 mdpl dan memanjang 240 meter, jembatan ini menjadi idola baru di kalangan wisatawan.

Belum lama diresmikan dan tiap hari selalu dipenuhi orang yang ingin menyeberang. Sayangnya langit begitu tebal dengan awan, sehingga matahari terlambat saat aku sudah di tempat.  Tidak lama aku di sana dan kulanjutkan berjalan menuju Curug Sawer yang berada di ketinggian 1018 mdpl dan hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit saja dengan berjalan santai, mau tak mau memang harus berjalan santai karena jalan terus menanjak. Air yang deras tumpah dari atas membuat saya tak berani mendekat karena cipratan air dan udara dingin yang ditimbulkannya.  Tidak lama saya di situ untuk kemudian kembali ke jembatan gantung untuk melihat apa matahari sudah mendekat. Namun hingga jam 6 lebih 45 menit matahari belum terlihat, ia sungguh telat.

Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke gerbang untuk menuju persinggahan lain yaitu danau situ gunung. Bila anda berada di gerbang maka jalur menuju danau situ gunung berada di sisi kiri sedangkan yang ke curug sawer lewat sisi kanan. Maka untuk ke danau saya harus kembali ke gerbang walau di peta terlihat ada jalan dari Curug Sawer langsung ke danau namun lebih ku pilih kembali ke gerbang karena seperti tadi yang sudah kutulis; aku harus menjemput matahari di atas jembatan.

Jalan menuju danau sudah bagus dibanding jalan ke Curug Sawer yang masih setengah mulus dan sisanya jalan berbatu. Karena jalan yang bagus itu banyak pelancong memilih naik kendaraan untuk merapat ke danau padahal suasana di jalan tak kalah apik apalagi dengan pohon-pohon yang siap menyetor oksigen kepada kita.

Sekitar setengah jam waktu yang diperlukan dengan berjalan santai dari gerbang menuju danau situ gunung. Belum banyak aktivitas atau pun orang di jam 7 pagi itu di danau. Aku segera menghampiri air melewati jembatan ponton danau menuju pulau kecil yang kurang tertata untuk menyentuh air danau.   Hutan melingkari danau namun masih kulihat matahari hingga jam 8 di sana. Sesudah sarapan aku bergegas menuju lokasi lainnya yaitu Curug Cimanaracun yang berada di ketinggian 1600 mdpl, atas saran pemilik warung aku memilih jalan di luar danau yang katanya tidak banyak percabangan tidak seperti di jalan dalam lingkungan danau. Jalan menuju Curug Cimanaracun sedang dalam proses pengerasan. Pagi itu baru sekitar 50 meter jalan sudah jadi dan sisanya masih jalan berbatu. Tidak butuh waktu lama seperti yang sudah-sudah, 15 menit kemudian tibalah aku di Curug Cimanaracun. Air terjun ini tidaklah sederas Curug Sawer, ukurannya juga lebih kecil dan lebih sepi. Maka kumanfaatkan waktu sebentar untuk meluruskan kaki di situ.

Begitu kaki sudah lebih enak aku kembali melanjutkan penjelajahan. Ada dua opsi; pertama adalah kembali melewati jalan sebelumnya atau terus maju merangsek hutan  menuju danau kembali. Yang kupilih adalah terus maju melewati jalan setapak. Jalan setapak yang kumaksud adalah dalam arti sebenarnya, jalan yang hanya berukuran setapak kaki manusia dewasa. Jadi bila anda berjalan maka kaki satunya lagi terpaksa menginjak pepohonan kecil di sepanjang jalur itu.

Jalurnya tidak seramah jalur sebelumnya memang. Banyak pohon tumbang dan elevasi jalan yang hampir 71 derajat memaksa saya lebih berhati-hati lagi agar tidak tergelincir.  Untuk anda yang berniat menjelajahi jalur ini sebaiknya tidak membawa anak kecil atau beban berat supaya lebih aman.

Jam 9 pagi akhirnya sinar matahari menyembul di dedaunan dan bersamaan juga dengan berakhirnya jalur curam yang menuju danau. Aku segera turun merambati jalan seraya berpegang di dahan bambu. Tiba di sisi danau kulihat banyak orang sedang memancing.  Dan karena matahari sedang memanas maka kusempatkan untuk rehat sambil mengeringkan semua yang basah sedari malam di pintu air danau. Lumayan lama aku berjemur, hingga jam 10 aku kembali menyisiri sisi danau menuju akses masuk danau.   Penjelajahan pun berakhir dan aku masih mendapati orang-orang yang menyemut masuk di gerbang Taman Nasional Gede-Pangrango.

Walau tidak jadi ke Gunung Gede-Pangrango  namun itu terobati dengan penjelajahan kali ini karena biarpun tidak jadi kegunung nun disana namun sukses ke situ gunung.

 

 

CELAH

Manajemen Taman Nasional Gede-Pangrango perlu penanganan lebih profesional lagi dalam beberapa hal yang berpotensi membuka celah kerugian baik secara moril maupun materil bagi pengelola.

Pungutan tak jelas saat di loket untuk berkemah yang sudah terjadi bertahun-tahun harus segera diberantas agar pengunjung dan pengelola sama-sama diuntungkan. Pengunjung mendapat harga yang tegas beserta hak dan kewajiban yang juga jelas. Pengelola juga mendapat pemasukan yang legal tanpa setetes pun rasa sesal.

Pendaftaran pengunjung yang hendak berkemah juga harus diatur agar identitas mereka yang berkemah menjadi jelas guna keperluan administatif bila terjadi bencana. Padahal bila ke puncak Gede Pangrango saja diwajibkan mengikuti tes kesehatan bagi seluruh pendaki, selain tidak boleh sendiri dan sudah mendaftar. Itu contoh yang bagus untuk meminimalisir korban bila ada bencana.

Selain itu, pengelola juga wajib menjaga area kerjanya 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Memang harus ada pengaturan jam kerja agar pelayanan kepada pengunjung maksimal. Celah untuk hal ini biasanya menguntungkan pengunjung, karena semua loket di pagi hari tiada yang menjaga maka siapa pun bia masuk tanpa pengawasan.

 

ADVIS TRANSPORTASI

Karena saya tinggal di Tangerang maka pilihan moda transportasi lumayan beragam namun saya memilih yang lebih cepat yaitu kereta api. Di Stasiun Poris aku bermula, dengan 8.000 rupiah sudah kumiliki tiket Poris-Bogor. Dari stasiun Paledang Bogor saya melanjutkan dengan menumpang angkutan kota nomor 03 jurusan Terminal Baranangsiang dengan biaya 5.000 rupiah. Di muka terminal kuteruskan dengan menaiki elf jurusan Sukabumi dengan ongkos 30.000 rupiah, di kendaraan ini anda harus meminta sopir menurunkan anda di Polsek Cisaat. Di pasar Cisaat perjalanan disambung dengan angkutan kota yang ke arah Situ Gunung dengan tarif 10.000 rupiah. Dari rangkaian perjalanan di atas bila dihitung pulang-pergi akan terkumpul 106.000 rupiah untuk transportasi.

https://platform.twitter.com/widgets.js

Anda perlu menambah anggaran untuk tiket masuk dan konsumsi serta cinderamata yang hendak dibeli. Sekadar gambaran, dengan 25 ribu anda bisa membeli nasi dengan sepotong ayam goreng dan dua tempe di warung dalam lokasi Taman Nasional Gede Pangrango ini. Tentu akan lebih murah bila anda membawa sendiri bahan makanan beserta alat memasaknya. Dan kembali saya ingatkan untuk memakai kompor briket seperti yang sudah kubahas sebelumnya. Karena murah dan ramah lingkungan.

 

 

[1] Hal tersebut pernah dibahas dalam sebuah blog yang menjadi rujukan saya untuk meriset Situ Gunung. Berarti pungli sudah berjalan bertahun-tahun tanpa ada upaya pembersihan. Bila dalam setahun ada 10.000 orang yang mendaftar berarti ada 60 juta rupiah dana menguap tak jelas.

[2] Deja Vu dengan pendakian sebelumnya ke Gunung Guntur di Garut atau Gunung Lembu di Purwakarta yang diimbuhi letusan kembang api di tengah malam, sama dengan di kota-kota.

 

 

BAD NEWS IS A GOOD NEWS BUT DISASTER IS AN UNEXPECTED NEWS

 

Maaf jika saya menuliskan judul tulisan ini dalam bahasa Inggris, bukan karena saya ingin mengikuti tren berbahasa yang mulai mencampur bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari atau ingin dianggap pintar karena menguasai bahasa internasional.  Judul tersebut saya kutip dari frasa ironis yang umum dalam dunia jurnalistik; bad news is a good news. Berita buruk adalah kabar baik. Ini bukan berarti para jurnalis menari di atas penderitaan orang lain tetapi  kewajiban insan pers untuk mewartakan kejadian menuntut mereka harus siap bahkan dengan kabar terburuk sekali pun. Wartawan juga manusia dan di saat memberitakan tragedi maka hati mereka juga tersentuh namun profesionalisme  dan kode etik  membuat mereka harus obyektif dalam mengabarkannya.  Dalam setiap kabar buruk ada berita yang harus disebarkan dan itulah tugas setiap jurnalis.  Kekuatan media massa memang sudah diakui sebagai pilar ke-empat sesudah trias politica; yudikatif, legislatif dan eksekutif. Hubungan diantara mereka semua serupa kekasih gelap, saling mencumbu namun tak ada yang mengaku. Karena di era demokrasi ini faktor popularitas yang disokong pers akan mendongkrak tingkat elektabilitas.

Bencana pohon tumbang

Namun sebagaimana para pesohor yang terlebih dahulu bersimbiosis mutualisme dengan pers, maka kabar buruk pun bisa diposisikan sebagai kabar baik. Berada  didalam jangkauan radar media massa terus menerus bisa menambah atau minimal mempertahankan popularitas dan untuk itu para pesohor tak jarang memakai cerita yang menguras emosi publik untuk dikonversi sebagai berita. Sejalan dengan trik selebritas tersebut kini juga banyak  politikus menggunakan cerita  untuk membentuk citra dan dikemas dalam bentuk berita. Apakah ini salah? Bila merunut pada aspek yuridis maka yang dimaksud sebagai tugas pers adalah memberitakan dengan porsi perimbangan melalui konfirmasi dan klarifikasi serta sesuai dengan fakta dan bukti nyata. Maka bila sebuah berita, walau sensasional sekali pun, bila sudah melalui tahapan-tahapan tadi layak disebut berita yang valid. Namun bagaimana bila fakta dan bukti adalah hasil konstruksi yang disertai konfirmasi dan klarifikasi dari sumber imitasi yang hanya menghasilkan berita palsu, apakah kesalahan layak ditanggung media massa yang memuat berita? Tentu saja tidak demikian, namun media bersangkutan wajib memuat sanggahan dari sumber otentik yang terkait dan menuliskan ralat atas pemuatan berita palsu itu. Namun publikasi atas solusi masalah tersebut masih belum meluas, maka tak heran sering terjadi pengerahan massa untuk mengancam redaksi atas kabar bohong yang disebarkan walau tak dipungkiri juga aksi massa tersebut juga bisa bertujuan ganda untuk mengintimidasi redaksi. Bingkai pemberitaan menjadi cara ampuh untuk mengeksplorasi atau mengeksploitasi popularitas, dan karena itu mengokupasi redaksi menjadi jalan cepat menuju pembingkaian yang bagus. Di masa huru-hara 1965, tentara segera merebut pemberitaan untuk melokalisir berita dari Dewan Revolusi dan memenangkan opini dari masyarakat dan cara itu berhasil sehingga publik disajikan kabar dari pihak militer semata dan mudah untuk dimobilisasi sesuai kepentingan militer kala itu. Di masa orde baru, lewat Departemen Penerangan, negara mengontrol ketat pemberitaan dengan regulasi akibatnya pencabutan SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) menjadi hal yang dihindari media massa.  Banyak dari contoh pencabutan SIUPP (Sebelumnya bernama SIT atau Surat Izin Terbit)  terjadi karena pewartaan negatif terhadap negara dan keluarga Cendana. Di era reformasi yang diwarnai dengan kendornya regulasi maka euforia informasi terjadi melampaui batas, akibatnya banyak penerbitan baru muncul bak nyanyian katak menjelang hujan. Semua bisa memiliki media massa dengan aturan yang mudah.  Dan di zaman revolusi teknologi malah setiap orang bisa memiliki medianya sendiri-sendiri dan dipublisir melalui internet. Namun ironisnya, kuantitas media tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas media itu sendiri. Karena untuk bisa meluas, banyak media menggunakan jurus tukang koran di bis kota (di era 70-80an).  Pada masa lalu, tukang koran sering menggunakan judul-judul bombastis yang bisa saja dipelintir untuk diteriakkan dan menarik perhatian orang untuk membeli. Contoh menarik dan nyata bisa disimak dalam salah satu adegan di film Warkop DKI yang saya lupa judulnya namun menggambarkan polah tukang koran yang mengibuli pembeli dengan promosinya. Hal serupa terjadi dengan media masa kini yang  demi mengejar pengunjung situs menuliskan judul yang se-provokatif mungkin. Tak jarang kaitan antara judul dengan isi justru tidak terkoneksi, tetapi bila itu berhasil menarik pembaca tidaklah soal bagi mereka. Segmentasi dan fragmentasi publik sudah demikian tajamnya maka berita dari media A hanya untuk kalangan tertentu saja sebagaimana pemberitaan dari media B yang terfokus untuk golongannya juga. Setiap berita memiliki massanya tersendiri. Dan tentunya seperti media konvensional, memiliki efek popularitasnya tersendiri. Ini adalah basis bagi tokoh publik atau politisi untuk meningkatkan nilai keterpilihannya. Dalam peristiwa politik internasional,  kesuksesan Donald Trump terpillih sebagai Presiden Amerika Serikat ditengah tuduhan cabul dari banyak perempuan terhadapnya tak menyurutkan citranya. Donald Trump memiliki media dan tentunya uang, semuanya ia kerahkan untuk membingkai dirinya dalam pemberitaan yang  membuat publik Amerika percaya bahwa Trump dibutuhkan Paman Sam. Setidaknya bagi pemilihnya. Okupasi Trump atas media berlangsung halus dan berbungkus bisnis dengan nilai ekonomi yang tentunya  tidak sedikit. Pola relasi seperti ini yang marak terjadi sejak era revolusi teknologi informasi terjadi. Tidak mungkin lagi menggunakan cara kasar seperti masa lalu karena akan dianggap tidak demokratis. Sementara dalam kasus domestik, banyak elit partai politik yang dikenal juga sebagai saudagar media. Dengan memiliki medianya sendiri maka akan terjaga citra baik darinya selain itu juga sebagai sarana publikasi atas kinerja positifnya sekaligus menyebarkan prestasi buruk dari lawan politik. Hal ini lumrah terjadi karena memang relasi mesra antara pers sebagai kekuatan ke-empat dengan trias politika sebagaimana yang saya tulis sebelumnya.

Wah, panjang sekali alinea di atas. Padahal saya belum memasuki inti persoalan seperti yang tersirat dalam judul.

Kabar buruk adalah kabar baik dalam politik, dengan menyebarkan berita buruk atas nasib rakyat akan menebarkan ketidakpercayaan atas kesanggupan penguasa dalam menguasai dan menyelesaikan masalah bangsa. Kenaikan harga BBM bisa berdampak naiknya pula popularitas penantang penguasa. Semakin rendah daya beli masyarakat maka bisa menurunkan tingkat elektabilitas penguasa. Frasa bad news is a good news mendapatkan aktualisasinya dalam medan politik. Satu kabar buruk dapat merontokkan sembilan kabar baik bila di eksplotasi  dan mampu memobilisasi massa untuk bergerak. Kita tidak bicara etika disini, namun  logika matematis. Jangan biarkan hati bersuara karena ini masalah kursi untuk kuasa. Tak heran eksplotasi kabar buruk juga bisa memakai tenaga-tenaga cendekiawan atau bahkan ulama untuk bisa menggerakkan massa demi tercapainya tujuan politis. Kasus Ahok yang disangkakan menista agama sejatinya adalah peristiwa politik untuk menyingkirkan Ahok dari peta  politik. Karena setiap politikus tidak boleh salah namun tetap tak berdaya bila kekuatan massa bergerak. Ahok menjadi salah karena publikasi massif bahwa  ia menista agama membuat publik percaya dan marah sehingga turun ke jalan. Walau bukti-bukti tak cukup kuat namun demonstrasi besar yang terjadi setiap persidangan tak urung membuat majelis hakim juga terintimidasi, itulah kenapa proses peradilannya menjadi lebih cepat dari biasanya. Aksi massa adalah segalanya. Dan untuk menggerakkan massa perlu publikasi pembingkaian berita lewat media. Inilah hebatnya revolusi teknologi informasi. Seperti di beberapa negara Arab beberapa tahun lalu yang dilanda revolusi musim semi karena pemberitaan massif lewat media sosial atas kematian seorang rakyat yang meluas menjadi pembangkangan sipil. Kabar buruk menjadi berita baik bagi politik.

Tetapi, bagaimana jika kabar itu terlalu buruk, misalnya bencana alam atau kecelakaan massal? Apakah itu bisa menjadi kabar yang lebih baik lagi bagi penantang penguasa untuk merebut jabatan politis?

Di Indonesia yang sedang menjadi bulan-bulanan bencana belakangan ini justru berlaku negasi atas tanda tanya tadi.  Saat gempa Lombok terjadi, semua media berduyun-duyun ke sana untuk mendapat akses dan liputan terkini dari lokasi. Negara juga sigap lewat institusi yang dibentuknya untuk penanggulangan bencana.  Empati  publik menimbulkan solidaritas masyarakat. Semua bersatu dalam pemberitaan dan penguasa hadir didalamnya untuk melaksanakan tugasnya sekaligus juga memberikan citra positif atas kinerjanya. Tak ada ruang untuk mempolitisir masalah ini. Bukti saat peristiwa musibah tenggelamnya kapal di Danau Toba dimana seorang Ratna Sarumpaet berusaha membuka isolasi  atas isu politik terhadap musibah ini juga menimbulkan antipati dari publik. Usaha politisasi itu pun gagal. Dan ia mencobanya kembali saat publik terpaku dengan gempa Lombok, namun  kegagalannya lebih besar lagi karena ia mengakui bahwa kasus pengeroyokannya adalah berita palsu. Tetapi harus diakui bahwa terjadi  peralihan atas interes masyarakat ke politik. Media kembali memunculkan isu politik, walau negatif namun itu bisa positif karena di masa kampanye yang panjang ini dan di tengah konsentrasi  massa akan bencana akhirnya bisa juga menoleh ke politik.  Walau tak lama karena kini terjadi lagi bencana dan ini diluar kemampuan manusia, penguasa kembali mendapat kesempatan publikasi besar-besaran lagi dan menenggelamkan penantangnya. Maka perlu ada ‘Ratna Sarumpaet’ lain untuk memecah isolasi berita serupa. Masalahnya, pengorbanan yang besar walau memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi namun juga mengandung resiko kegagalan yang dahsyat pula.  Itulah bencana, berita yang tidak diperkirakan namun tak bisa ditolak kedatangannya oleh semua kekuatan di dalam dunia.