(NONTON) TEATER ZAMAN NOW

Beberapa hari lalu saya mendapat undangan untuk menjadi penyaksi pentas teater dari Kang Ari Jogaiswara dalam rangkaian acara 6th Online Performance Art Festival yang berlangsung dari tanggal 30 November hingga 3 Desember 2017.

Pentas yang dirujuk dalam undangan di atas dilakonkan oleh ETA:Inquiries in Theater and Performance dengan tajuk Defacement in the Side dan berlangsung pada hari kamis 30 November 2017 jam 12:00 WIB. Mengambil lokasi di ruang parkir pada suatu tempat di Kota Bandung dan saya menyaksikannya di rumah saya yang berjarak sekitar 171 kilometer dari tempat pementasan secara langsung.

Ruang, waktu dan aktor adalah tiga prasyarat mutlak bagi kehadiran sebuah pertunjukan teater. Setidaknya hal tersebut valid sejak berabad lampau hingga revolusi teknologi informasi mendekontruksikan (dalam artian harfiah mengurangi susunan bentuk) prasyarat di atas.

Teater sendiri berarti ruang tempat pertunjukan dimana didalamnya terdapat aktor (baik pelakon atau pun penonton) yang terikat dalam kesatuan waktu dan berjibaku guna memproduksi makna.  Pemahaman dengan bau barat yang kental ini tidak hanya menjadi pondasi bagi konstruksi teater literer dari era Shakespeare hingga absurdisme tetapi juga teater tradisi yang berserakan di seluruh penjuru bumi.

Dalam kesatuan ruang dan waktu, penonton dan pelakon memiliki hubungan resiprokal dalam mengolah, menyusun dan memproduksi makna lewat bahasa (baik lisan atau gerakan) yang tersampaikan selama pertunjukan mengalir.

Lalu, bagaimana bila pelakon tak memiliki penonton? Dalam konteks yang mirip saya pernah mempertanyakan itu dalam lakon The Show Must Go On di tahun 2003 dimana pertunjukan terhenti karena ketiadaan penonton, apakah teater akan punah dengan sendirinya bila pelakon tidak ada penonton?

Tentu saja itu hanya mimpi buruk, kenyataannya gedung pertunjukan dipadati penonton yang rela membayar ratusan ribu rupiah untuk duduk manis dan mendapat pencerahan dari pertunjukan yang pelakonnya tidak sedikit dikenal orang sebagai selebritas. Begitu juga yang terjadi di kota-kota kecil hingga ke dusun-dusun terpencil di nusantara, pembedanya hanya tidak ada selebritas yang sudi bermain di sana.

Kembali kepada pertanyaan di paragraf sebelumnya yang menjadi relevan di masa teknologi informasi yang tanpa disadari telah mengalienasi penggunanya dari lingkungan sosialnya. Bagaimana menghadirkan tontonan teater bagi publik yang asyik dengan kesendiriannya?

6th Online Performance Art Festival mungkin adalah salah satu jawaban atas tanda tanya di atas. Dalam  Defacement in the Side, terlihat seorang lelaki yang duduk di meja pada sebuah area parkir sambil membuat topeng di wajahnya. Tak lama datang seorang perempuan yang ikut duduk dan melakukan aktivitas yang sama dengan lelaki sebelumnya. Lalu perempuan ketiga muncul dan melakukan aksi serupa dengan dua pelakon tadi. Mereka bertiga melakukan aksi tanpa dialog, si lelaki yang sudah selesai dengan topengnya segera melepaskan dan meletakkan di sebuah bola hitam. Kemudian ia memotong topeng itu tembus ke bola hitam tadi yang ternyata adalah buah semangka berlapis kain. Hasil potongan tadi dimakan oleh si lelaki sambil berjalan menjauh entah kemana. Dua perempuan yang ada masih menyelesaikan topeng mereka dan begitu selesai salah satu dari perempuan itu menaruh topeng itu di potongan semangka yang tersisa begitu juga dengan perempuan terakhir. Itulah akhir dari pertunjukan ini yang berlangsung sekitar 23 menit. Dan saya menyaksikan langsung di rumah saya yang berjarak 171 kilometer jauhnya secara bersamaan waktunya.

eta, opaf

Bagaimana memproduksi makna dari pelakon dan penonton yang terpisah ini? Tentunya ada independensi pemaknaan dari penyaksi walau ada sedikit petunjuk dari pelakon dalam kata pengantarnya di laman milik penyelenggara program ini. Kebebasan dan kemandirian pemaknaan ini tetap berbasis dari aksi yang dilakukan, serupa dengan menyaksikan pentas teater pada umumnya, namun independensi tersebut bisa tak berguna bila tak ada rujukan empirik dari otak atas peristiwa serupa. Karena otak kita yang super ini tetap membutuhkan adaptasi terhadap segala sesuatu yang baru sebelum mulai mengolah lema visual menjadi arti. Sampai disini ternyata masih tak ada bedanya dengan menonton teater seperti biasanya.

Faktor pembedanya adalah dekonstruksi terhadap prasyarat utama terjadinya teater. Dekonstruksi disini tidak seruwet dalam alam pikir Derrida, tetapi dalam arti mengurangi bentuk dari susunan prasyarat tadi. Dan yang berkurang adalah transfer emosi dari pelakon. Ini akan terasa bila anda menyaksikan teater literer secara daring. Ada emosi yang tidak terunggah dan terunduh dengan sempurna dalam proses ini, setidaknya hingga kini dan entahlah di masa nanti. Dekonstruksi tersebut terjadi karena ketidaksatuan ruang antara pelakon dengan penonton. Beberapa tahun lalu pernah tergagas oleh saya untuk memisah antar pelakon dalam ruang yang berbeda dan disatukan lewat daring, tetapi karena infrastruktur yang belum memadai maka saya memendam gagasan itu untuk nanti, entah kapan persisnya.

ETA:Inquiries in Theater and Performance telah memotret tentang realitas hipokrit yang kita kunyah setiap hari dan saya sebagai penyaksi memilih menuliskan soal gagasan menonton teater zaman now, setidaknya bagi mereka yang teralienasi dalam genggaman teknologi.

 

ANTARA DANDHY, SUU KYI DAN MEGAWATI.

Sebenarnya artikel ini tidak akan ada jika saja komentar saya pada tulisan Dandhy yang berjudul “Antara Suu Kyi dan Megawati” di acehkita.com tidak mengalami kendala pemuatan. Tetapi karena begitu saya meng-klik submit untuk memposting komentar ternyata keluar notifikasi error 508 yang berarti komentar saya tidak bisa diproses lebih lanjut karena masalah pada server maka saya merasa perlu untuk menulis kolom dengan judul “ANTARA DANDHY, SUU KYI DAN MEGAWATI”.

Saya mengetahui tulisan Dandhy setelah membaca cuitan Coen Pontoh yang mengabarkan pemidanaan Dandhy karena tulisannya dan tersedia pula pranala sumber artikelnya. Yang membuat saya tertarik membacanya justru karena ada pelaporan dari Repdem Jatim dengan tuduhan pencemaran nama baik terhadap Megawati, Jokowi dan PDI Perjuangan. Tanpa adanya laporan tersebut bisa dipastikan saya tidak niat membaca artikel Dandhy. Saya membacanya sekali pada kemarin dan malam ini begitu saya berniat membacanya lagi untuk berjaga-jaga bila ada kutipan yang keliru ternyata yang keluar notifikasi error 403 yang berarti laman tersebut dibatasi aksesnya oleh administrator.

Maka menjadi sedikit was-was juga saya menuliskan ini karena bila terjadi salah kutip bisa jadi saya dipidanakan, tetapi yang membuat saya sedikit lega adalah peluang tulisan ini dibaca oleh Dandhy atau pihak-pihak lain adalah kecil karena tingkat popularitas penulis mendasari tingginya jumlah pembaca. Maka sebagai orang yang tidak dikenal saya merasa bebas menulis apa pun yang hinggap di kepala saya.

Dandhy Laksono adalah jurnalis dan aktivis yang juga aktif membagikan kepingan opini di media sosial, saya bukan pengikutnya tetapi banyak kawan yang membagikan cuitannya yang mau tidak mau tetap terbaca oleh saya. Tetapi walau begitu saya tetap tidak merasa perlu mengikutinya di twitter atau pun facebook. Tak penting untuk diurai alasannya, yang jelas saya memang seorang pemilih dalam berbagai hal.

Dalam kolom Suu Kyi dan Megawati, Dandhy melakukan studi komparasi antara kedua nama tersebut. Walau, seperti yang ia tulis juga, ada perbedaan konteks dan waktu. Keduanya adalah korban dari kesewenang-wenangan rezim militer yang kemudian mendapat peluang untuk berkuasa. Dan, dalam tulisan Dandhy, ironisnya baik Suu Kyi mau pun Megawati sama-sama tak bersuara atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukan militer terhadap sipil. Mereka dianalogikan menari dalam irama para jendral. Terdapat banyak paparan data-data jumlah korban yang memang tak bisa dipungkiri terjadi dan dijadikan pendukung atas riset perbandingan tersebut.

Namun hal ini justru dijadikan landasan Repdem Jatim dalam mempolisikan Dandhy karena data-data yang dipilih adalah yang hanya mendukung penguatan opini bahwa terjadi peningkatan jumlah orang Papua yang tewas sejak Megawati dengan PDIP-nya menang pemilu 2014. Dandhy dianggap mengabaikan data-data jumlah infrastruktur yang dibangun di tanah Papua, divestasi 51% saham Freeport atau meningkatnya jumlah TPN-OPM yang bergabung ke Indonesia.

Sampai disini, dimana posisi saya ?

Untuk menegaskan hal itu saya perlu kembali kepada tulisan Dandhy.

Dalam perspektif saya, Dandhy sebenarnya ingin menunjukan betapa demokrasi di Asia, dalam hal ini di Burma dan Indonesia,  telah dikotori oleh militerisme. Kedua pemimpin sipil yang juga sama-sama perempuan dan putri dari penguasa sebelumnya yang juga pemenang pemilu yang diselenggarakan secara demokratis itu adalah contoh aktual dari ketidakberdayaan sipil dalam hegemoni militer. Itu yang saya tangkap dengan yang dimaksud Dandhy lewat frasa “menari dalam irama para jendral”.

Begitu kuatnya militerisme sehingga pemimpin sipil terpilih pun tidak dapat berbuat banyak untuk mewujudkan janji kampanyenya karena realitas poitik yang mengharuskannya berkompromi. Tetapi itu pun bukan suatu dosa selama dilakukan oleh politisi.

Pemimpin sipil seperti diberkahi kekuasaan yang tanggung. Karena kekuatan riil masih digenggam para jendral baik yang aktif maupun yang sudah purnawirawan. Pemilu seolah menjadi basa-basi politik, apalagi kini para elit militer, yang karena dihapuskannya dwi fungsi ABRI dan kursi gratis fraksi ABRI di MPR, membuat mereka mendirikan kendaraan politik sendiri dan menerapkan strategi perangnya masing-masing.

Tadinya saya mengira Dandhy akan menguliti bahaya militerisme lewat pintu Suu Kyi dan Megawati, tetapi ternyata Dandhy berhenti kepada mereka berdua dan malah ‘menelanjangi’nya. Ini menjadikan kolom Dandhy terasa tanggung. Mirip seperti kekuasaan sipil di tengah hegemoni militer. Dandhy begitu gagah menuliskan ‘dosa’ pemimpin sipil dan terkesan takut ketika berhadapan dengan realitas militer dalam politik. Saya bisa menerima kenyataan itu bila alasannya Dandhy masih ingin ‘hidup’  karena itu manusiawi. Tetapi saya merasa mual bila ternyata sasaran tembaknya adalah kedua pemimpin sipil tersebut dengan mengabaikan bahaya militerisme bagi demokrasi. Bila alasan terakhir itu benar maka Dandhy hanya memanfaatkan momentum Rohingya di era Jokowi ini untuk melemahkan kekuatan sipil dalam demokrasi kita. Dalam kata lain, buat apa memilih pemimpin sipil bila nantinya tak berdaya maka lebih baik pilih yang berlatar belakang militer sekalian. Pesan yang sesat seperti itu bisa saja muncul dari pembaca. Padahal militerisme menelurkan solusi kekerasan dalam mengatasi persoalan dan itu racun bagi terbentuknya masyarakat yang demokratik. Tengoklah banyaknya ormas-ormas paramiliter yang kerap bertempur demi kepentingan sepihak dan mengorbankan kepentingan orang banyak. Apa solusi militeristik seperti itu yang akan kita wariskan kepada generasi nanti dalam mengelola negeri? Sikap tanggung Dandhy dalam menelanjangi bahaya militerisme membuat harapan saya buram dalam menjawab pertanyaan tadi.

Namun walau saya tidak sepakat dengan sikap tanggung Dandhy saya juga tetap mendukungnya untuk tidak dipidanakan. Pelaporan Repdem Jawa Timur membuat seolah-olah Dandhy berada satu lingkaran dengan Jonru atau Alfian Tanjung. Padahal mereka berbeda. Setidaknya dalam cara mereka melontarkan tuduhannya. Dandhy ditopang data-data dan bukti dokumentasi, sedangkan Jonru dan Alfian Tanjung berbasis rumor a la intelijen militer tanpa dukungan data yang bisa dipertanggungjawabkan. Bila Dandhy masih memiliki spirit anti-militerisme sedangkan Jonru dan Alfian Tanjung malah menjadi ‘alat’ para jendral  dalam menggembar-gemborkan sikap anti komunisme. Semestinya Repdem menjawab Dandhy dengan tulisan tanpa perlu melaporkan, walau melaporkan adalah hak konstitusi warganegara yang dijamin setara dalam hukum. Akan menjadi elok pertarungan ini bila diteruskan dari pena ke pena. Tetapi bila kapasitas Repdem memang belum memadai untuk membuat tulisan yang menjawab Dandhy maka pihak Dandhy pun, yang didukung banyak hashtag media sosial, juga tak perlu bersikap defensif dengan mengatakan bahwa hal ini adalah serangan terhadap kebebasan beropini karena kebebasan pun masih dibatasi oleh aturan hukum. Agar tak ada orang seperti Jonru atau Alfian Tanjung yang hanya bisa menghina tanpa pembuktian dan berdalih bahwa itu kebebasan beropini.

Sampai  disini tentu ada penilaian terbersit bahwa saya membela kubu Megawati. Karena saya seolah memojokkan Dandhy. Bila anda berpikir begitu maka ada yang perlu anda ketahui, bahwa pada tahun 2003 saya pernah melukis wajah Megawati di atas kloset jongkok dan meletakkannya di pertigaan jalan arah masuk ke jalan rumah saya, hal tersebut saya lakukan sebagai respon lemahnya Megawati sebagai Presiden menghadapi para jendralnya. Tentu saja aksi itu tidak menjadi kontroversial karena popularitas saya tidak sebanding dengan Dandhy, Jonru atau Alfian Tanjung.

Pada sisi yang lain bisa saja ada anggapan bahwa saya membela Dandhy. Perlu saya tegaskan, bahwa sampai detik dimana saya menuliskan kalimat ini pun saya tidak menjadi pengikut akun Dandhy di media sosial.

Saya juga tidak sedang membicarakan krisis Rohingya, karena pemakaian nama Aung San Suu Kyi pun disebabkan namanya ditulis dalam kolom Dandhy sebagaimana nama Megawati. Itulah kenapa  saya menggunakan judul “ANTARA DANDHY, SUU KYI DAN MEGAWATI” untuk melansir betapa berbahayanya militerisme bagi demokrasi kita kini dan mendatang dengan umpan nama-nama beken ini.

 

Saya dikibuli Orde Baru. Mereka mencekoki saya dengan pemahaman bahwa kiri itu komunis dan kanan adalah fundamentalis.
Reformasi membuka mata saya bahwa kiri adalah sosialis yang berpihak kepada kepentingan rakyat dan kanan itu kapitalis yang membela pemodal belaka.

Diadaptasi dari ucapan Romo Mudji pada sebuah program dialog di SCTV pada medio 1998.

MAS ANAS INGIN JADI MASINIS

Catatan: Nama, ruang waktu dan peristiwa dalam cerita berikut ini adalah fiktif belaka. Kalaupun ada kesamaan nama, ruang waktu dan peristiwa dalam cerita berikut ini dengan realita yang terjadi adalah diluar tanggung jawab saya. Itu adalah wilayah persepsi anda dalam menerjemahkan cerita berikut ini menjadi bentuk yang sesuai persepsi anda dan itu menjadi ranah privat anda sendiri. Karena seperti yang sudah saya tulis di awal alinea ini: Catatan: Nama, ruang waktu dan peristiwa dalam cerita berikut ini adalah fiktif belaka. Titik tekan dari paragraf ini sama dengan sebelumnya, yaitu sesuai dengan yang tertera di pembuka atas: Catatan: Nama, ruang waktu dan peristiwa dalam cerita berikut ini adalah fiktif belaka. Kelihatannya saya jadi seperti berkelit dari tanggung jawab besar para penulis pada umumnya yaitu mempertanggung jawabkan karyanya sebagai proses otentik yang dilakukannya. Padahal bukan itu pula maksud saya, karena ada bagian yang masih menjadi otoritas kita sendiri yaitu pada masa proses ide hingga mewujud. Sesudahnya pada saat pembaca memahami jalan ceritanya itu sudah bukan menjadi wilayah penulisnya, dalam hal ini ya …saya. Tapi lantas timbul tanda tanya, kenapa pula hal tersebut yaitu: Catatan: Nama, ruang waktu dan peristiwa dalam cerita berikut ini adalah fiktif belaka; Menjadi begitu penting untuk dititik-tekani oleh penulisnya, dalam konteks ini ya…. saya lagi.? Ini menjadi pertanyaan bagus untuk dicatat oleh penulis cerita dengan catatan pembuka yang tidak jelas, dalam masalah ini yang dimaksud itu ya… saya dong. mas-anas Baiklah, gambar diatas menjadi semacam moderator untuk mengendalikan fokus dan menutup catatan tak berguna ini yang digunakan oleh penulis untuk membahas hal yang tidak relevan untuk dititik-tekankan dengan berlebihan. Salam dari penulis, Yaitu saya sendiri. 🙂 countdown
Mas Anas ingin jadi masinis, bu!

Itu lah cita-cita Mas Anas Uban. Ucapan itu terlontar disaat ulang tahunnya yang kesepuluh disaat ibu dari seorang temannya yang hadir menanyakan cita-citanya. Kejadian itu begitu membekas di batinnya hingga kini. Omongan itu didahului oleh pemberian hadiah oleh ayah dan ibunya berupa miniatur kereta api beserta jalurnya yang hanya berputar saja. Tetapi itu kado yang diidamkan Anas, Ini nama pemberian saat lahir namun saat usianya 17 tahun dan hendak mengurus KTP ia merasa janggal dengan namanya yang cuma Anas dan akhirnya ia menambahkan nama baru yang mengapit namanya, ia begitu terpikat dengan kereta api saat bepergian untuk pertama kalinya beserta kedua orang tuanya saat pulang kampung jelang lebaran dan waktu itu usia Anas masih 9 tahun. Butuh waktu satu tahun bagi Anas untuk mentransformasikan ketertarikannya akan kereta api menjadi sebuah cita-cita. Masinis. Sang pengendali kereta. Betapa gagahnya sang masinis. Itulah yang ada dibenak Mas Anas sejak ia 9 tahun. Keluarganya sendiri tidak ada yang pernah bekerja di kereta api sejak kendaraan  massal itu berada di negeri ini. Jadi ini bukan soal genetis. Anas adalah anak tunggal dari Susilo dengan Ani yang lahir bukan dari jalur pernikahan yang resmi. Ani, ibu Anas, saat itu berusia 17 tahun ketika terpikat dengan kegagahan Susilo yang selalu merayunya. Dengan pengalaman yang masih dangkal dalam menghadapi pria ia meladeni dan asyik masyuk dengan segala puja dan rayu Susilo. Kedekatan mereka membuahkan kehamilan sementara Ani masih belum lagi lulus sekolah. Susilo, dengan desakan keluarga , melamar Ani untuk mempertanggung jawabkan kehamilan Ani. Ani putus sekolah karena ia merasa malu dengan tatapan mata kawan-kawan dan guru-gurunya yang aneh menatapnya. Ia menikah diam-diam dan mereka berdua tinggal di tempat baru dengan modal tanah berukuran 9X21 meter pemberian ayah Ani dan rumah berukuran 7X7 meter yang pembangunannya didanai orang tua Susilo.

denah-rumah

catatan: (waduh catatan lagi…) gambar diatas nirskala. (ooh, kirain apa.. tenang deh).

Dirumah yang digambarkan diatas sebelah kanan anda itulah Mas Anas lahir dan dibesarkan. Nama kotanya Tan Erang. Provinsi Banen. Rumah itu jauh dari hiruk pikuk kendaraan a la kota besar. Masih banyak burung berkicau di kala fajar dan kunang-kunang di saat senja. Walau ada pula pembangunan khas negara berkembang seperti pembuatan kota-kota baru dengan fasilitas yang otonom. Namun di Kota Tan Erang percepatan pembangunan hanya berkisar rata-rata 2,1 % per tahun. Kemajuan zaman kurang terendus dengan baik bagi warganya. Dengan karakter kota seperti itulah Mas Anas mengucapkan cita-citanya tersebut,”Mas Anas ingin jadi masinis”. Adalah hal yang diluar kebiasaan warga kota tersebut untuk melihat kereta api kecuali yang sering bepergian sepanjang tahun. Peristiwa mudik saat Mas Anas berusia 9 tahun itu begitu membekas luar biasa dan itulah pemicu ucapannya yang menjadi pembuka cerita ini;”Mas Anas ingin jadi masinis”.

Sebelum cerita ini saya lanjutkan, saya ingin memberi anda kesempatan untuk  mengambil kopi, mungkin, atau apapun yang nikmat didalam gelas. Tetapi bila anda bertekad untuk tetap membaca cerita maka tak ada salahnya bila saya yang akan mengambil kesempatan yang sudah saya berikan untuk dimanfaatkan mengambil teh sebelum saya lanjutkan kisah ini.

……

Baiklah sampai dimana tadi…

oalaah, ternyata belum kemana-mana toh.

Hehehehe.

….

Kini, Mas Anas telah menjadi masinis. Kereta Rel Diesel jurusan Tan Erang-Kotak. Sudah 9 tahun ia menjadi masinis. Dengan rute yang sama selama ini. Tiada yang beda satupun jua.

Selesai.

Dan respon pun bermunculan.

Dan respon pun bermunculan.

Cerita macam apa ini? Tidak ada kisah yang ternarasikan didalamnya, alurnya tidak dituntaskan, profil tokoh yang tidak lengkap. Mau dibawa kemana pembaca dengan rancangan cerita ini?”

Denny Aje, Sastrawan berpengaruh via email.

Memalukan, strukturnya memalukan. Tidak membawa cerita pada konstruksi yang kokoh namun melunturkan hubungan di semua tokoh. Dan yang disebut tokoh sendiri juga belum kokoh pula

Said Saleem, Kritikus Sastra yang juga berpengaruh via sms.

Belum rampung. Basisnya lumayan, tetapi plotnya tidak fokus akibatnya cerita tidak berkembang biak. Ini baru konsep sepertinya. Saya malas membacanya

Bani Susastra, entah siapa tapi omongannya berpengaruh juga bagi banyak orang via telepon.

Kolam Iklan menyediakan aksesoris keluarga anda lewat pembelian online. Kunjungi http://www.kolamiklan.tk dan buktikan sendiri

-Walah, ini spam. Dari orang yang menamakan dirinya Kolam Iklan. Hadeuh… mengganggu. Sama seperti cerita ini.

Andai Hugo Chávez Presiden Indonesia.

Pagi ini, 6 Maret 2013, tiba dengan mengejutkan. Tersiar warta di sosial media: Hugo Chávez Dies by Cancer. Aku pun sempat kaget dan bertanya-tanya membacanya. Tak ada satu kawan pun yang mengkonfirmasi pertanyaanku: apa berita ini benar? Karena tautan yang tersebar di sosial media berasal dari pers Amerika. Saya lebih percaya bila berita itu tersiar dari kedutaan Venezuela atau langsung dari Mentri Luar Negeri Venezuela. Televisi kunyalakan tetapi berita yang tersebar masih soal Anas, Raffi, korupsi, narkotika, kecelakaan, gosip-gosip dan berita-berita sejenis yang membosankan. Tetapi akhirnya ada juga video berita yang menggambarkan Wakil Presiden terpilih Venezuela, Maduro, menyampaikan berita kematian tesebut.

Hugo Chávez meninggal karena kanker yang sudah lama menggerogoti kesehatannya. Saya berduka sedalam-dalamnya. Bendera Merah Putih sudah berkibar setengah tiang.

chavez1229

Sesudah Fidel Castro mundur dari pentas politik dunia, maka Chávez adalah harapan. Tidak hanya bagi Venezuela tetapi juga bagi seluruh dunia. Harapan bagi terciptanya keseimbangan dunia.  Yang sejak Perang Dunia kedua berakhir menjadi lahan penindasan global oleh para pemilik modal.

Tak terkecuali harapan bagi rakyat Indonesia. Sejak Soekarno digulingkan militer dengan bantuan Amerika Serikat, maka adalah hampa makna tujuan negara seperti yang tertulis di Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Sejak rezim militer Orde Baru berkuasa dengan semena-mena, rakyat adalah penonton setia hasil pembangunan. Kekayaan alam negeri ini telah dialihkan ke luar negeri dan remah-remahnya masuk ke kantong-kantong pembesar. Tanpa ada secuilpun yang tersisa bagi rakyat.

Padahal di UUD 1945 masih ada pasal 33 yang mengatur bahwa seluruh kekayaan negeri ini dikuasai negara dan dipergunakan sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat. Tetapi prakteknya ternyata semua digadaikan demi utang yang bocor hingga 40%. Tingkat kebocoran yang tinggi ini memperjelas tidak adanya transparansi penggunaan, laporan dan pengawasan atas utang luar negeri itu. Namun tentu saja hal itu tidak menjadi soal bagi negara-negara donor karena mereka memang ingin melihat jatuhnya negeri bernama Indonesia karena utang yang melimpah dan tata kelola yang koruptif. Begitu negeri ini jatuh, maka negara ini akan menjadi murah untuk dimiliki.

Sejatinya Pasal 33 UUD 1945 adalah pasal yang membela kepentingan rakyat, namun menjadi tak berguna melihat ulah eksekutif yang terus menerus memperpanjang kontrak-kontrak karya pertambangan dengan pihak asing.

Presiden pertama Indonesia, Soekarno, sudah memulai langkah yang cantik ketika di tahun 50-an mencanangkan nasionalisasi atas perusahaan-perusahaan asing di bidang pertambangan. Resikonya jelas besar, dimusuhi negara adidaya dan banyak sekutunya. Tetapi itu harga yang sebanding untuk mendapatkan cinta dari ratusan juta jiwa yang lahir, besar dan mati di negeri ini.

Langkah piawai Soekarno digantikan langkah cari aman Jendral Besar Soeharto. Dan setelah reformasi ternyata langkah cari aman tersebut tak tergantikan. Malah Presiden terkini Jendral SBY tidak hanya bergerak ke arah cari aman tetapi ironisnya membuat pencitraan seolah bekerja bagi rakyat. Rakyat yang mana?? Entahlah, mungkin hanya sebatas rakyat Indonesia yang memiliki kartu anggota Partai Demokrat semata. Padahal ia dipilih dan diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Sebagai rakyat kecil, saya memimpikan seorang Presiden dengan karakteristik almarhum Hugo Chávez. Berani menolak kepentingan asing demi rakyatnya. Keberanian bersikap ini tidak ada kaitannya dengan jenjang kepangkatan dalam militer. Chávez belum lagi menjadi Jendral, apalagi Jendral Besar seperti Soeharto, tetapi memiliki keberanian untuk bersikap mendukung rakyatnya. Nyalinya dalam membela kepentingan rakyat sungguh luar biasa, ini yang tak dimiliki Presiden Jendral SBY.

Disaat harga minyak dunia melambung, maka pemasukan negara melimpah dan dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk pembangunan fisik juga harga-harga bahan makanan yang terjangkau. Itulah yang terjadi di Venezuela.

Berbeda dengan Indonesia, di saat harga minyak dunia melambung maka subsidi dihapus akibatnya semua harga-harga meroket dan daya beli masyarakat menjadi tiada. Disaat itulah negara malah asyik sendiri dengan argumennya dan membuang amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 ke tempat sampah.

Negara tidak hadir dalam segala penderitaan rakyat. Pendidikan hanya melayani orang kaya. Bagi si miskin dilarang sakit jika tak ingin cepat mati. Negara seperti ini tidak memiliki arti apa pun bagi rakyat kecuali menanti saatnya bom ini meledak dan merontokkan kekaisaran militer-kapitalistik.

Andai Hugo Chávez menjadi Presiden RI keadaan pasti berbeda. Tetapi beliau telah wafat dan kalaupun ia masih hidup tentu harapanku juga sebatas angan. Mungkin aku harus lebih realistis. Andai saja Jendral SBY memiliki setitik nyali Hugo Chávez, oh maaf, kenapa aku malah jauh bermimpi? Tentu saja tidak mungkin. Air dan minyak tidak pernah bercampur. Penakut dan pemberani adalah spesies yang berbeda dan memiliki habitatnya sendiri.

Aku jadi sedih, mungkin itu sebabnya langit masih dinaungi mendung. Aku berduka atas kematian Hugo Chávez, Pemimpin yang berani dan melindungi kepentingan rakyatnya. Bendera setengah tiang sudah berkibar.

            “Hasta la victoria siempre!! Viviremos y venceremos!!!”

                                                                                    -Hugo Chávez.

LETS GET TOGETHER AND CARE FOR JAKARTA

Mungkin bagi beberapa orang, judul tulisan ini mengarah kepada dukungan untuk salah satu cagub DKI Jakarta, karena sekarang ini adalah musim kampanye putaran kedua Pilkada Jakarta.

Tetapi sebenarnya ini adalah tulisan Marylin Ardipradja yang kutemukan di lembar Koran JAKARTA EXPAT edisi 16 December 2009- 5 January 2010 silam. Sudah lama memang, tetapi masih aktual untuk di baca dan sebisa mungkin diterapkan.

MARYLIN ARDIPRADJA

Aku tak akan menerjemahkan atau mengedit sepatah kata pun,karena tugasku kali ini hanya membantu publikasi ajakan yang berguna bagi lingkungan hidup.

Berikut adalah tulisannya,

LETS GET TOGETHER AND CARE FOR JAKARTA

By: Marylin Ardipradja

Expatriates living in Indonesia are generally well informed about environmental issues and would like to apply the same standards of care for the environment eherever they live. It may be a little more difficult to apply the principles of reduce, reuse and recycle in Jakarta, but we should all try to do our part to make the city as clean and green as possible, so here is a plan:

  • Reduce your use of plastic bags by taking your own reusable canvas tote bags when you go  shopping, or at least shop at stores and supermarkets that provide biodegradable plastic bags made from cassava.
  • Carpool whenever possible. Sharing a car to go to work or to go out with friends reduces traffic and uses less gas.
  • Sort your trash into organic trash and recycleable trash, such as paper, plastic, aluminium cans and milk cartons. Scavengers will come to look through the trash in the container in front of your house and will make less if your trash is already sorted.
  • Recycle plastic pouches used for cleaning products through collection points provided by XS Project and buy products made under supervision of the foundation. (www.xsprojectgroup.com)
  • Purchase recycled products such as bags and accessories made from disposable materials like billboard vinyl, paper and toothpaste tubes that are handmade locally by small home industries, such as Dyrt Design. (www.dyrtdesign.com)
  • What sould you do with e-waste, i.e. broken or unwanted electrical or electronic devices, which are considered toxic and are not biodegradable? The answer is you can sell or give e-waste to repair shop, to be used as spare parts, or, if your company produces large volumes of hazardous waste, you can contact P.T Prasadha Pamunah Limbah Industri (www.ppli-indo.com).
  • Nokia Indonesia, in cooperation with TESAMM Indonesia, an e-waste recycling company, encourages cell phone owners to drop used phones, Nokia or others, into one of the boxes provided by Nokia Care Centers throughout Indonesia.
  • Drop off points for used batteries and CDs include P.T Intimedia, Gedung Rifa, Lt. 4, Jl.Prof.Dr.Satrio Blok C-4 Kav.6-7, Casablanca, South Jakarta or Sekolah Cikal, Jl.T.B Simatupang Kav.18, South Jakarta.
  • TetraPak containers can be recycled into durable paper and in Bandung they are even made into shoe soles. Drop off points for recycling TetraPak containers include KPAI,an NGO focusing on environmental awareness education, Jl.Raya Warung Buncit No.2B, South Jakarta (Aulia 081213130153) or Citra Garden II, Blok 3 no. 6, West Jakarta (Yanti 0818828526).
  • Make biopore absorption holes in your garden to increase the ability of the ground to absorb water, reduce floods and provide natural organic fertilizer for your plants. You can placepre-composted garden waste into these holes, or simply put leaves and grass clippings and even organic waste into the biopore holes to naturally compost there. You can buy a biopore hole-maker from Father Andang 0818754842 or Dr.Kusumo Nugroho 0811942232.
  • Take action against climate change by planting a tree with Yayasan Tanam Pohon Indonesia. This is a non-profit voluntary organization and its mission is to react to problems caused by deforestation in Indonesia, to raise awareness of environmental issues and the role forests play, to take action against climate change, to educate children on these issues and to plant trees. (www.onemilliontrees.org)
  • When buying wood products, look for products with a certification label, such as “Forest Stewardship Council”, to ensure that the wood comes from sustainably managed forests. The website www.fsc-info.org shows which manufacturers in Indonesia sell FSC certified products.
  • Coffee is often grown on plantations planted in previously forests areas, including national parks. Choose environment-friendly coffee such as Merdeka Coffee (www.merdekacoffee.com) or Sekar Sedayu brand from Lampung.
  • Become a wildlife “foster parent” by adopting a Javan rhino (www.rhinocare.info) or a Sumatran tiger, elephant, orangutan or rhino (www.savesumatra.org). By sponsoring wild animals you contribute money to save the species from extinction and to help conserve their natural habitat.
  • Do not buy exotic pets that have been caught in the wild as these creatures should live in their own natural habitat. It is also against the law to purchase souvenirs made from parts of endangered species such as elephants, orangutans, rhinos and tigers.
  • It’s fun to explore some of Jakarta’s neighboorhoods, such as Kemang and Menteng, using the green maps developed by Green Maps Indonesia. The maps feature icons that show locations that have environmentally friendly credentials and can be down loaded at http://www.greenmap.org/greenhouse/en/node/4611.
  • To keep abreast of environmental issues in Indonesia, join the Green Lifestyle community, a mailing list to share information and tips on maintaining a green lifestyle in Indonesia’s cities. Send questions or comments to greenlifestyle@gmail.com or greenLifestyle@googlegroups.com.

 

Marylin Ardipradja is an Orientation Consultant, advising newly-arrived expats. She can be contacted through Collier’s International Expatriate Services. Telp: (021) 521400.

 

MEMBACA PEREMPUAN

Membaca judulnya mungkin banyak yang mengira tulisan ini mengenai rahasia membaca karakter perempuan. Tapi saya bukan psikolog atau pun paranormal, tulisan ini pun digagas lewat kehadiran buku-buku kiriman Olin Monteiro pada Jum’at sore ketika aku hendak pergi. Tak sempat kubaca buku itu namun masih mampu meluangkan waktu berterima kasih lewat facebook dan twitter.

Pukul dua malam aku baru tiba di rumah, ku coba membaca buku-buku itu tetapi benakku sedang berkelana hingga fajar. Dan ketika bangun tidur jam dua siang kala kudapati tak ada rencana bepergian malamnya maka kuputuskan untuk membaca buku-buku itu hingga senja terlarut dalam imaji dan berakhir waktu purnama telah tiba di ambang jendela sementara sayup kudengar kisah Marsinah di sebuah tv berita petang itu.

7 PEREMPUAN URBAN: Sebuah catatan.

Ini buku pertama yang kubaca. Buku yang berisi catatan dari tujuh perempuan urban. Catatan-catatan dari sudut pandang yang berbeda mengenai banyak hal. Namun tentu saja dari perspektif perempuan. Kisah tentang perempuan memang akan selalu berbeda bila dilihat dari lokusnya.

Karena problematika perempuan urban tentulah banyak berbeda dengan masalah perempuan desa, walau paradigma keseluruhannya mengenai dominasi patriarki.

Lingkungan urban menelurkan gugatan atas kondisi zaman. Mungkin ada banyak hal yang mengakibatkan itu, seperti tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi yang membuat perempuan urban lebih kritis dalam memandang realitas zaman.

Heni Wiradimaja, pebisnis restoran, berfantasi tentang kota yang nyaman. Lebih tepat mungkin ironi dari kenyataan kota metropolitan yang selama ini menjadi tempatnya tinggal.

Ine Febriyanti, aktris, mepertanyakan pujian atas permainannya di panggung agar dirinya tak terjebak menjadi besar kepala karena misteri panggung kehidupan akan tetap menyala.

Kiki Febriyanti, pekerja film, melalui tiga tulisannya juga menyoroti dominasi patriarki dalam perjalanannya di kereta api, mengenai kenikmatan secangkir kopi dan juga tentang fundamentalisme agama yang mengarah diskriminatif.

Lulu Ratna, pegiat film pendek, bicara tentang transportasi kota, film dan juga diskrimasi gender di halte busway.

Nina Masjhur, fotografer, mengkritisi displin lalu lintas pesepeda motor dan displin kebersihan warga kota serta kemajuan teknologi informasi yang malah menjauhkan yang dekat.

Raisa Kamila, mahasiswi, yang lahir dan besar di Atjeh,  bertutur tentang fantasi perempuan ideal di bawah perspektif laki-laki serta dilematika Pemerintah dalam menjaga tradisi namun membuka gerbang bagi wisatawan luar negeri dengan tradisi baratnya.

Olin Monteiro, penulis dan aktivis perempuan, berbicara mengenai sejarah, baik perjalanan hidupnya maupun perjalanan negara sebagai sebuah bangsa lewat film “Ruma Maida”.

Tujuh perempuan urban mencatat gugatan dalam bahasa yang santun tanpa pretensi meluap. Tujuh perempuan urban dengan tujuh sudut pandang berbeda dalam memandang detail kehidupan dari yang remeh hingga yang berat.

BIRU HITAM MERAH KESUMBA.

Puisi yang menarik adalah puisi yang mampu merangsang imaji. Itu titik tolakku dalam membaca puisi-puisi selama ini. Tak ada pretensi sedikitpun untuk menuliskan berbusa-busa teori sastra karena itu sudah tersedia di dalam tulisan pengantar buku ini.

Tak peduli apakah pembaca memahami dunia si penulis puisi tetapi begitu karya telah dibeberkan kepada publik maka intepretasi pembaca menjadi beragam.

Tadinya kubayangkan Biru Hitam Merah Kesumba melambangkan empat penulisnya; Lulu Ratna, Olin Monteiro, Oppie Andaresta dan Vivian Idris. Namun setelah membacanya maka Biru Hitam Merah Kesumba adalah kumpulan nuansa yang tercipta dari kompilasi puisi dari perempuan yang menyebut diri bukan penyair.

Lulu Ratna,  banyak menuliskan puisi tentang perjalanan tubuhnya juga pergulatan jiwanya. Karena itu banyak nama tempat memenuhi kosakatanya. Cibeo, Cirebon, Brebes, Pekalongan, Blok M dan lain-lain adalah sekian nama tempat yang tertulis dalam puisinya.

Perjalanan memang stimulan ampuh untuk menemukan diri sendiri dan merangkainya dalam puisi.

Hal yang serupa juga tercermin dalam puisi-puisi Olin Monteiro. Perjalananannya sebagai aktivis perempuan di tempat-tempat yang jauh mampu menemukan relasi kuat antara kerinduan dalam dirinya dengan subyek-subyek dan juga lokasi yang dijumpainya.

Oppie Andaresta sedikit berbeda dalam cara penulisan puisinya. Oppie cenderung naratif dalam berpuisi. Rentang tema yang digelarnya juga bermula dari dirinya dan melebar hingga masalah TKI. Gaya narasi ini mungkin dipengaruhi gayanya dalam menuliskan lagu.

Vivian Idris, pekerja film, mampu merubah kata-kata dalam puisinya menjadi imaji yang hidup dalam benakku. Walau sebagian besar bertema personal namun ia pun juga memotret situasi zaman kala perubahan terjadi.

Itulah empat perempuan yang mengklaim diri sebagai bukan penyair. Kupikir itu hanya klaim sepihak, karena buatku mereka adalah penyair.

PEREMPUAN, LANGIT KE TIMUR.

Kutemukan sisi yang berbeda dari Olin Monteiro, penulis buku ini. Banyak puisinya yang singkat dan memuai di otakku. Walau perjalanannya masih melatari sebagian besar puisinya namun tema yang disodorkan jauh lebih beragam.

Mungkin ini adalah kumpulan puisi dalam masa-masa paling produktif dalam hidupnya, karena ia merangkai kata dimanapun dan kapanpun.

Sejujurnya, banyak dari puisinya yang membuatku ingin pergi ke tanah Timor, tempat kelahiran kedua orang tuaku yang tak pernah kudatangi.

MEMBACA PEREMPUAN.

Membaca ketiga buku ini serasa membaca problematika perempuan dalam menatap persoalan di sekitar kita. Dan ini membuatku belajar pula mengenai perspektif perempuan. Menolongku memahami perempuan.

Walau tetap saja tak bisa kurasa ,bahkan dalam imajinasi terliar sekalipun, mengenai pms dan mengandung rahim.

Tetapi sebagai penyeimbang perspektif  yang didominasi sudut pandang lelaki maka buku-buku ini patut dikonsumsi.

05-05-2012

20:30 WiB