MENJAHIT MERAH PUTIH

 

Bendera adalah lambang dari persatuan. Dari mulai bersatunya sekelompok orang atas dasar hobi, kegiatan, ideologi, pendidikan, asal daerah, pekerjaan hingga kesatuan atas dasar sebangsa atau senegara. Dengan bendera maka identifikasi kelompok menjadi lebih mudah.  Tanpa bendera maka yang terlihat adalah kerumunan semata. Bendera adalah identitas.

Di zaman dimana identitas menjadi sesuatu yang vital maka bendera menjadi lambang yang sakral. Menodai bendera berarti melecehkan orang-orang yang bernaung di bawahnya. Apalagi sampai membakarnya maka itu berarti membakar emosi mereka yang mengibarkannya. Sakralitas bendera juga ditunjukkan dengan disimpannya bendera di dalam tempat khusus, misalnya bendera sang saka merah putih yang menjadi bukti proklamasi RI hingga kini ditaruh dengan hati-hati di Monas agar dapat dirawat dan dilihat oleh generasi masa kini dan nanti.

Karena begitu vitalnya bendera sebagai identitas maka bentuk, warna dan desain bendera juga memerlukan perhatian khusus.  Tidak jarang ada yang mirip, untuk tidak dikatakan serupa, seperti warna bendera Indonesia dengan  Monako namun sejarah dan pemaknaan keduanya jelas berbeda dan tidak bisa diartikan duplikasi apalagi mencontek. Bendera Monako dengan warna Merah Putih sudah digunakan sejak Kerajaan ini berdiri, setidaknya sejak tahun 1339, namun dengan desain yang berubah-ubah. Bentuknya kini yang lebih sederhana mulai digunakan sejak 4 April 1881[1]. Yang menjadi  pembeda dengan bendera kita adalah ukurannya memakai rasio 4:5. Jadi bila lebar benderanya  2 meter maka panjangnya harus 2,5 meter. Sejarah bendera Indonesia juga bisa dilacak sejak era Kerajaan Majapahit di abad ke-12 atau malah ada yang berpendapat lebih jauh lagi dengan menelusuri mitologi bangsa Austronesia mengenai perlambang bumi dan langit. Hal ini didasari oleh warna merah putih yang juga banyak digunakan pada lambang bangsa Austronesia dari Tahiti hingga Madagaskar. Ada juga yang melacak jejaknya dari kitab Pararaton dimana balatentara Jayakatwang menggunakan gelang merah putih saat menyerbu Kerajaan Singhasari.Namun jelas tercatat bahwa merah putih sudah dikibarkan di banyak kerajaan yang nusantara, Kerajaan Kediri,  bendera perang Sisingamangaraja IX, pejuang Aceh,Kerajaan Bone, Kerajaan Badung, Pengeran Diponegoro hingga para mahasiswa  nasionalis mengibarkan merah putih sebagai ekspresi nasionalisme di era kebangkitan nasional awal abad ke-20. Secara resmi, merah putih menjadi bendera nasional Republik Indonesia sejak proklamasi 17 Agustus 1945[2].

Dan bicara soal bendera sang saka merah putih yang menjadi bukti otentik proklamasi kemerdekaan kita ada fakta menarik yang saya dapat dari situs intisari.com. Tersebutlah nama Bu Fatmawati yang dikenal dan dikenang orang sebagai ibu negara pertama yang menjahit merah putih guna dikibarkan bila waktunya tiba.  Beberapa sebelum proklamasi, ada seorang tentara Peta bernama Lukas Kustaryo datang dari Bayah untuk menyampaikan pesan dari Tan Malaka buat Bung Karno. Setibanya di Pegangsaan Timur no 56, Lukas melihat bu Fat sedang menjahit bendera namun ukurannya kecil dan ia merasa ukuran yang kecil ini tidak memberi kesan megah sebagai bangsa yang besar seperti Indonesia. Ia pun mengusulkan ukuran yang lebih besar[3]. Setelah mencari, Bu Fat menemukan kain seprai berwarna putih  namun tidak ada kain merah, akhirnya Lukas Kustaryo menyusuri jalan untuk membeli kain. Setibanya di stasiun Manggarai ia lihat kain merah besar di depan  warung soto, ia pun menghampiri dan membeli kain tersebut seharga 500 rupiah sebagai penggantinya. Pedagang tersebut memberikannya walau tak mengerti kenapa kainnya dihargai sedemikian mahal. Jadilah kain tersebut diserahkan kepada Bu Fat untuk dijahit sebagai bendera kita.

Ibu Fat menjahit di tengah ketegangan antara kaum muda yang ingin Bung Karno secepatnya memproklamasikan kemerdekaan dan kekukuhan Soekarno untuk menunggu waktu yang tepat. Banyak hal yang membuat Bung Karno bersikap demikian, salah satunya kekuatan tentara Jepang yang dikhawatirkan akan menimbulkan pertumpahan darah di kalangan anak bangsa. Karena keteguhan sikap Bung Karno hingga para pemuda mengamankannya bersama keluarga ke pinggiran Jakarta  di Rengasdengklok. Para pemuda mengklaim bahwa tindakannya itu untuk menjamin kesellamatan Bung Karno agar bisa memproklamasikan kemerdekaan di saat pecah revolusi di Jakarta.   Namun kenyataannya, tak ada aksi di Jakarta selain ketegangan yang menjalar di kalangan pergerakan.  Bung Karno akhirnya kembali ke Jakarta dan setelah berdiskusi dengan semua kalangan pejuang akhirnya di bawah perlindungan Laksamana Maeda, Bung Karno merumuskan dan menanda tangani naskah proklamasi dan membacakannya di muka rumahnya.  Seperti yang sudah tertulis sebelumnya bahwa sejak itu bendera merah putih resmi menjadi bendera negara Indonesia.

Tantangan ke depan dari bendera tersebut ialah bagaimana kita menyadari  kesatuan kita sebagai saudara sedarah, sebangsa dan se tanah air bernama Indonesia?  Karena bendera hanyalah kain berwarna semata bila tidak dijiwai sebagai lambang kesatuan kita.  Persatuan adalah hal yang rentan untuk dikoyak bila diimbuhi kepentingan kelompok atau golongan sendiri saja.  Kebesaran dan kesatuan kita sebagai bangsa sewajarnya melebihi kelompok atau golongan karena kita menjadi besar justru oleh bersatunya perbedaan di antara kita dan bila kita malah tergoda membesarkan kelompok atau golongan kita sendiri maka akan tercederai  juga kesatuan di antara kita.  Sumpah pemuda di tahun 1928 adalah tonggak penting tumbuhnya semangat persatuan sebagai bangsa dan sebagai generasi masa kini tentunya sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga spirit persatuan tersebut  dengan terus menjahit dan menjahit merah dan putih yang kini ditarik kesana kemari agar tetap bersatu dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia. Inilah panggung kita bersama.

 

Merdeka!

[1] Sumber id.wikipedia.org/wiki/Bendera_Monako

[2] Sumber id.wikipedia.org/wiki/Bendera_Indonesia

[3] Sumber intisari.grid.id/amp/03918321/bendera-pusaka-indonesia-terbuat-dari-tenda-warung-soto-fakta-sejarahnya?page=all 

Iklan

APUNG

Pada suatu masa hiduplah seorang pemuda yang sakti tiada tara. Kemampuannya sudah menyatu sejak ia dilahirkan yang ditandai dengan bunyi guntur berbarengan dengan gerhana matahari.  Di saat bayi yang baru keluar dari rahim itu menangis maka gerhana pun usai dan bumi kembali disirami sinar mentari.

Ayah dan ibunya tidak menyadari kaitan antara kelahiran bayinya dengan fenomena alam tersebut. Keduanya hanya orang biasa yang berpikir sederhana.

Sampai ketika usia anak itu menginjak tujuh tahun, terjadi sebuah peristiwa yang membuat mereka percaya bahwa anaknya bukan anak biasa.

Kala itu hujan turun di sore hari, sang anak yang sedang bermain di lapangan dipanggil ibu untuk pulang. Anak itu menuruti perintah ibu. Namun belum lama ia melangkah petir menyambar pohon kelapa tepat di sisi sang anak. Tidak hanya buahnya saja yang berjatuhan, melainkan batang pohon tersebut jatuh menimpa si anak. Ibu yang menyaksikan itu menjerit dan berlari menghampiri. Belum sampai ia tiba, rongsokan batang dan buah kelapa itu terpental ke segala arah karena empasan tangan anaknya.

Ibu kaget sekaligus gembira karena anaknya tak terluka sedikitpun jua.

Sejak itu ibu dan ayah lalu mengaitkan saat kelahiran dulu dengan kejadian  itu dan mereka meyakini bahwa anaknya memiliki kesaktian yang dianugerahi Yang Maha Kuasa.

Mereka merawat anak itu dengan kasih sayang dan berusaha sekeras mungkin mencukupi kebutuhannya.

Si anak tumbuh menjadi pemuda gagah yang membanggakan orangtuanya.

Namun, hidup anak memang tidak bisa dikendalikan sepenuhnya oleh orangtua. Tiba masa pemuda itu ingin menjalani kehidupan berdasarkan sudut pandangnya. Ia minta izin untuk mengembara ke negeri seberang, orangtuanya cemas akan permintaan itu. Awalnya mereka menolak yang direspon dengan pembangkangan oleh anaknya. Hati kedua orang tua ini sedih karena kekerasan tekad anak yang tak bisa dibendung. Maka dengan berat, mereka mengizinkan anaknya berkelana.

Pemuda itu akhirnya berlayar dan bekerja di pelabuhan. Ia mulai sebagai kuli bongkar muat. Karena kekuatannya maka ia disenangi oleh atasan sebab ia bekerja tiga kali lebih cepat dan lebih banyak dibanding kuli lainnya.

Pemuda itu pun kerap diberi bonus dan itu setara dengan dua hingga tiga kali upahnya. Dengan penghasilan yang lebih banyak itu membuatnya dibenci oleh kuli lainnya. Mereka pun berniat memberi pemuda itu pelajaran dengan mengeroyoknya. Tetapi yang terjadi malah kuli-kuli tersebut yang kesakitan lantaran tak kuat memukuli tubuh pemuda itu.

Esoknya, tak ada yang bekerja selain si pemuda. Namun itu tidak menjadi masalah buatnya. Pemuda sakti itu mengerjakan seluruh tugas bongkar muat sendirian saja. Hingga malam tiba semua kerja usai dan tinggallah letih menerpa.

Ia pun tertidur.

Di saat lelap, kuli-kuli lain yang sakit tubuh dan hatinya itu kembali bersekongkol untuk menyingkirkannya. Kali ini mereka menggotong dan meletakkannya di sebuah biduk yang lalu dilepaskan ke samudera bebas. Esoknya di kala fajar tiba, pemuda itu mendapati dirinya sudah berada di lautan yang tak ia kenali letaknya. Tak ada alat bantu apapun didalam biduk selain dirinya seorang.

Ia berusaha mendayung menggunakan kedua tangannya tetapi karena tak tahu arah maka perahu kecilnya kian tersesat di samudera luas.

Seharian ia melakukannya namun tak setitikpun tanda adanya daratan di pelupuk mata. Hatinya kian gelisah, pikirannya tambah resah dan ia kian tak tahu arah.

Kesaktiannya tak ada guna, karena sendiri ia hanya sepotong kayu yang mengikuti kemana arus laut melaju.

Hingga kata ke-524 yang saya ketik ini pun, ia masih terapung di lautan raya. Entah sampai kapan akan ia temukan daratan nantinya.

 

11-18 Oktober 2018

Di hari kemerdekaan Indonesia yang ke-73 ini ada tanya yang mengganjal; Apakah seorang nasionalis itu tidak religius? apakah seorang religius sudah pasti tidak nasionalis?

Di negara yang ber-ketuhanan Yang Maha Esa ini idealnya nasionalis dan religius bukan suatu dikotomi, namun realitas sosial-politik menjadikan nasionalis-religius menjadi sebuah komoditi yang sulit dihindari.
Politik identitas berbasis agama yang sudah terbukti mengoyak kesatuan bangsa memang tidak mungkin diredam dengan kekerasan karena itu adalah pupuk yang malah menyuburkannya.
Strategi kultural yang memadukan narasi kebangsaan dan keagamaan diharapkan dapat menjaga keutuhan negeri hingga seribu tahun lagi.
#Merdeka
#DirgahayuIndonesia