(NONTON) TEATER ZAMAN NOW

Beberapa hari lalu saya mendapat undangan untuk menjadi penyaksi pentas teater dari Kang Ari Jogaiswara dalam rangkaian acara 6th Online Performance Art Festival yang berlangsung dari tanggal 30 November hingga 3 Desember 2017.

Pentas yang dirujuk dalam undangan di atas dilakonkan oleh ETA:Inquiries in Theater and Performance dengan tajuk Defacement in the Side dan berlangsung pada hari kamis 30 November 2017 jam 12:00 WIB. Mengambil lokasi di ruang parkir pada suatu tempat di Kota Bandung dan saya menyaksikannya di rumah saya yang berjarak sekitar 171 kilometer dari tempat pementasan secara langsung.

Ruang, waktu dan aktor adalah tiga prasyarat mutlak bagi kehadiran sebuah pertunjukan teater. Setidaknya hal tersebut valid sejak berabad lampau hingga revolusi teknologi informasi mendekontruksikan (dalam artian harfiah mengurangi susunan bentuk) prasyarat di atas.

Teater sendiri berarti ruang tempat pertunjukan dimana didalamnya terdapat aktor (baik pelakon atau pun penonton) yang terikat dalam kesatuan waktu dan berjibaku guna memproduksi makna.  Pemahaman dengan bau barat yang kental ini tidak hanya menjadi pondasi bagi konstruksi teater literer dari era Shakespeare hingga absurdisme tetapi juga teater tradisi yang berserakan di seluruh penjuru bumi.

Dalam kesatuan ruang dan waktu, penonton dan pelakon memiliki hubungan resiprokal dalam mengolah, menyusun dan memproduksi makna lewat bahasa (baik lisan atau gerakan) yang tersampaikan selama pertunjukan mengalir.

Lalu, bagaimana bila pelakon tak memiliki penonton? Dalam konteks yang mirip saya pernah mempertanyakan itu dalam lakon The Show Must Go On di tahun 2003 dimana pertunjukan terhenti karena ketiadaan penonton, apakah teater akan punah dengan sendirinya bila pelakon tidak ada penonton?

Tentu saja itu hanya mimpi buruk, kenyataannya gedung pertunjukan dipadati penonton yang rela membayar ratusan ribu rupiah untuk duduk manis dan mendapat pencerahan dari pertunjukan yang pelakonnya tidak sedikit dikenal orang sebagai selebritas. Begitu juga yang terjadi di kota-kota kecil hingga ke dusun-dusun terpencil di nusantara, pembedanya hanya tidak ada selebritas yang sudi bermain di sana.

Kembali kepada pertanyaan di paragraf sebelumnya yang menjadi relevan di masa teknologi informasi yang tanpa disadari telah mengalienasi penggunanya dari lingkungan sosialnya. Bagaimana menghadirkan tontonan teater bagi publik yang asyik dengan kesendiriannya?

6th Online Performance Art Festival mungkin adalah salah satu jawaban atas tanda tanya di atas. Dalam  Defacement in the Side, terlihat seorang lelaki yang duduk di meja pada sebuah area parkir sambil membuat topeng di wajahnya. Tak lama datang seorang perempuan yang ikut duduk dan melakukan aktivitas yang sama dengan lelaki sebelumnya. Lalu perempuan ketiga muncul dan melakukan aksi serupa dengan dua pelakon tadi. Mereka bertiga melakukan aksi tanpa dialog, si lelaki yang sudah selesai dengan topengnya segera melepaskan dan meletakkan di sebuah bola hitam. Kemudian ia memotong topeng itu tembus ke bola hitam tadi yang ternyata adalah buah semangka berlapis kain. Hasil potongan tadi dimakan oleh si lelaki sambil berjalan menjauh entah kemana. Dua perempuan yang ada masih menyelesaikan topeng mereka dan begitu selesai salah satu dari perempuan itu menaruh topeng itu di potongan semangka yang tersisa begitu juga dengan perempuan terakhir. Itulah akhir dari pertunjukan ini yang berlangsung sekitar 23 menit. Dan saya menyaksikan langsung di rumah saya yang berjarak 171 kilometer jauhnya secara bersamaan waktunya.

eta, opaf

Bagaimana memproduksi makna dari pelakon dan penonton yang terpisah ini? Tentunya ada independensi pemaknaan dari penyaksi walau ada sedikit petunjuk dari pelakon dalam kata pengantarnya di laman milik penyelenggara program ini. Kebebasan dan kemandirian pemaknaan ini tetap berbasis dari aksi yang dilakukan, serupa dengan menyaksikan pentas teater pada umumnya, namun independensi tersebut bisa tak berguna bila tak ada rujukan empirik dari otak atas peristiwa serupa. Karena otak kita yang super ini tetap membutuhkan adaptasi terhadap segala sesuatu yang baru sebelum mulai mengolah lema visual menjadi arti. Sampai disini ternyata masih tak ada bedanya dengan menonton teater seperti biasanya.

Faktor pembedanya adalah dekonstruksi terhadap prasyarat utama terjadinya teater. Dekonstruksi disini tidak seruwet dalam alam pikir Derrida, tetapi dalam arti mengurangi bentuk dari susunan prasyarat tadi. Dan yang berkurang adalah transfer emosi dari pelakon. Ini akan terasa bila anda menyaksikan teater literer secara daring. Ada emosi yang tidak terunggah dan terunduh dengan sempurna dalam proses ini, setidaknya hingga kini dan entahlah di masa nanti. Dekonstruksi tersebut terjadi karena ketidaksatuan ruang antara pelakon dengan penonton. Beberapa tahun lalu pernah tergagas oleh saya untuk memisah antar pelakon dalam ruang yang berbeda dan disatukan lewat daring, tetapi karena infrastruktur yang belum memadai maka saya memendam gagasan itu untuk nanti, entah kapan persisnya.

ETA:Inquiries in Theater and Performance telah memotret tentang realitas hipokrit yang kita kunyah setiap hari dan saya sebagai penyaksi memilih menuliskan soal gagasan menonton teater zaman now, setidaknya bagi mereka yang teralienasi dalam genggaman teknologi.

 

Iklan

LUCY IN THE SKY WITH KORAN KAMI

Waktu pertama membaca cuitan Tommy F.Awuy tentang kolaborasi seni terbesar di akhir tahun ini saya sudah tertarik untuk menyaksikannya. Bukan karena promosi yang bombastis tadi tetapi karena ada kalimat Lucy In The Sky dalam judulnya.

Sebagai generasi pra milenial, saya turut terkena demam The Beatles yang bangkit kembali pada era 80an lewat Bharata Band.  Lagu Lucy In The Sky With Diamond menjadi salah satu lagu yang turut dipelajari oleh saya dan teman-teman bermodalkan buku lagu The Beatles yang kami peroleh dari hasil bajakan.

Aria Baron, Nana Soebianto dan Tommy F.Awuy membawakan Lucy In The Sky With Diamond

Dari komik The Beatles yang hadir di Majalah Hai pada saat itu, saya mengetahui bahwa lagu tersebut dicurigai sebagai kepanjangan dari LSD namun John Lennon membantahnya dengan berdalih bahwa judul lagu itu bersumber dari gambar yang dibuat anaknya Julian Lennon.

Terlepas dari pro kontra kandungan LSD di dalam lagu tersebut, saya pikir pola lagu yang dibuat John dan paul ini memang menyimpang dari pola lagu pop masa itu. Tercatat 3 kali nada dasarnya berubah dimana jembatan tiap nada dasar mengalir dan menyatu di bawah rezim teks yang surealistik. Besar kemungkinan pengaruh yang dominan dari era psikedelik yang ditandai dengan meluasnya pemakaian acid pada generasi bunga. Efek dari pemakaian acid ini memang membuat penggunanya berada diantara mimpi dan realita, kebanyakan lebih condong ke mimpinya. Tapi inilah salah satu bentuk perlawanan generasi bunga terhadap kemapanan yang berujung pada dehumanisasi. Manusia dinilai berdasarkan warna kulit, tingkat ekonomi dan status sosialnya. Manusia menjadi begitu mekanistik dan melupakan alam. Dalam situasi zaman seperti itulah seni dan gaya hidup menjadi alat protes mereka. Inilah kritik generasi pemimpi terhadap zamannya.

episode transisi

The Beatles dengan Lucy-nya berada dalam garda depan musik pop psikedelik. Konser Woodstock tahun 1969 menjadi kongres generasi bunga dimana cinta dan perdamaian menjadi narasi yang digemakan.

adegan yang mengingatkan memori pahit tentang identitas sebagai pribumi

Disaat menuliskan ini, hujan sedang turun, namun kepalaku menghangat membayangkan betapa merdekanya generasi pemimpi mempresentasikan eksistensinya. Dan kehangatan dalam kepala itu pula yang saya rasakan saat menyaksikan karya Bre Redana yang bertajuk Koran Kami With Lucy In The Sky.

Terlambat datang karena dihadang hujan, begitu tiba sudah disambut nyanyian Lucy In The Sky With Diamond dimana Tommy F Awuy bak konduktor yang mengajak penonton turut bernyanyi. Sementara Aria Baron mengiringi dengan gitarnya.  Sesudahnya potongan Koran Kami dibacakan bergantian oleh dua wartawan Kompas untuk  memperkenalkan tokoh ceritanya kepada penonton yang sebagian besar akrab dengan gambaran tokoh yang dibacakan. Bagian ini memang prosa yang menyelami realita dalam ruang dan waktu cerita. Setelah penonton mengenali tokoh dan alurnya maka adegan berikutnya adalah transisi kepemimpinan yang berdarah dalam format teater. Saya sendiri lebih memaknai adegan ini sebagai puisi visual yang menghadirkan tragedi dalam rupa mimpi. Namun cerita belum berakhir, masih ada Whiter Shade of pale milik procol Harum yang dinyanyikan duet oleh Nana Soebianto dan Tommy serta pembacaan irisan novel oleh dua jurnalis Kompas lainnya untuk memungkasi alur kisah Koran Kami.

Strategi kolaborasi lintas disiplin seni pada karya ini memang menjadi suatu kebutuhan untuk memberikan ruang kepada jaringan perkawanan Bre Redana yang luas. Sebagai wartawan, ia mengenal dan dikenal banyak figur populer dalam masyarakat kita. Dan pentas perpisahan dari jurnalis ini membuktikan luasnya pergaulan yang ia jalani selama ini.

Bre Redana pamit pensiun

Dalam perjalanan pulang dari Bentara Budaya Jakarta, tempat karya ini dipentaskan, kepala saya yang menghangat ini memikirkan apa yang harus dikritisi dari pertunjukan ini. Namun sampai saya menuliskan kata ke 546  ini tak jua saya temukan kritik yang sepadan. Saya malah menemukan dalih kenapa saya tak bisa membuat tulisan kritik. Karena untuk menghasilkan kritik maka saya harus mengetahui prosesnya dari awal hingga akhir agar mendapat gambaran yang luas mengenai muatan yang akan diangkat dari pentas ini. Lalu sebagai karya dari seorang pemimpi maka kritik yang seimbang haruslah muncul dari seorang yang realistis, dalam artian emoh bermimpi. Sebagaimana barok sebagai kritik terhadap rennaisans, klasik sebagai kritik terhadap barok, romantik sebagai kritik terhadap klasik. Maka sulitlah bagi pemimpi untuk mengkritisi pemimpi lainnya. Kalaupun mau dicari-cari adalah kurangnya bir yang disajikan. Saya kehabisan ketika hendak mencicipinya, padahal Bre dan bir adalah satu kesatuan dan acara belum berakhir selama beliau masih berada di Bentara Budaya Jakarta.

Tetapi saya harus mengakhiri menjadi penyaksi dan bergegas pulang, bukan karena ketiadaan bir tetapi saya sudah membeli tiket kereta pulang dan berdasarkan perhitungan maka bila saya pulang lebih dahulu akan sempat bersua kereta terakhir hari ini. Dan di sepanjang perjalanan hingga tiba di rumah, kepala saya masih menghangat dan mengingat.

Mas Bre, jika anda membaca ini maka anda berutang segelas bir untuk mendinginkan kepala saya.

 

 

30 November 2017

01:56 WIB

 

MENGUBURKAN HANTU

Di rumah kami.

 

30 September selalu menjadi hari yang bersejarah bagi keluarga kami. Karena pada hari itu mama berulang tahun. Pada tahun 2017 ini ia berusia 74 tahun, sebuah anugerah yang tak ternilai bisa melewati rentang waktu yang panjang karena tidak semua orang diberi kesempatan melaluinya. Bapak saya pun hanya sampai usia 70 tahun pada 14 tahun lampau. Dan karenanya ulang tahun mama kami upayakan dilimpahi kebahagiaan dengan kedatangan semua anak, cucu bahkan cicitnya.

Tetapi 74 tahun bukanlah perkara mudah bagi mama. Sejak beberapa tahun lalu ia mengalami kesulitan dalam membedakan ruang dan waktu. Awalnya kami tidak mengenali gejala tersebut, yang kami tahu ia sering marah tanpa alasan yang sanggup kami mengerti. Kami pun sebagai anak-anaknya juga merespon dengan amarah karena sepertinya ia tidak mengerti penjelasan paling sederhana yang kami berikan.

Dari berbagai literatur dan juga cerita-cerita, kami akhirnya menyadari bahwa mama sedang berproses menuju demensia. Ia mengalami apa yang disebut disorientasi pada ruang dan waktu. Ciri-cirinya adalah membaurnya masa kecil di kampung dahulu dengan masa kini bersama kami. Pada proses selanjutnya ia bisa mengalami kesulitan mengenali orang, dan itu sudah terjadi karena ia kerap menanyakan keberadaan saya kepada saya sendiri yang sedang berbicara dengannya. Untuk antisipasi itu saya membuat bros bergambar wajah saya dan memberikan untuknya.

Tetapi memahami situasi adalah hal yang berbeda dengan kemampuan mengendalikan situasi. Belakangan ia mulai sering bertanya,”Bapak ada?” dan setiap kali kami berkata sejujurnya maka tidak sampai lima menit ia kembali menanyakan hal yang sama. Tak menjadi masalah memang menjawab pertanyaan mudah tersebut namun bila intensitasnya meluber tanpa kenal waktu tentu berpengaruh terhadap sikap kami.

Saya memilih untuk bersikap jujur untuk menjawab pertanyaan itu, karena membohonginya walau dengan niat baik sekali pun hanya akan berdampak buruk bagi semuanya.  Yang perlu ditambah dosisnya adalah kesabaran dan itu sejatinya saya pelajari disaat ia kerap histeris ingin bertemu bapak tanpa ada satupun yang bisa kami lakukan kecuali menenangkannya.

Sebagai anak kini saya mulai memahami perjuangan mama kala merawat saya waktu bayi, karena kesabaran adalah upaya tak kenal lelah yang dibangun setiap saat demi harapan yang lebih baik di masa nanti.Dan saya tak boleh berhenti menguburkan bapak setiap hari.

 

Di rumah kita.

 

Di rumah yang lebih luas dari milik kami, yaitu rumah kita sebagai bangsa. 30 September juga dicatat sebagai hari yang bersejarah. Waktu rezim orde baru, kami diwajibkan menonton film tentang G30S yang disutradarai Arifin C.Noer. Ruang kelas akan diubah menjadi bioskop mini dan setelah upacara kami pun menyaksikannya dari awal hingga akhir.

Kami selalu diingatkan bahaya laten komunisme. Kami senantiasa ditanamkan ingatan bahwa PKI itu tak bertuhan. Kami diberi kesadaran bahwa mereka itu lebih jahat dari penjahat yang paling sadis.

30 September menjadi hari nasional memaki PKI.

Tetapi reformasi membuka mata kami. Kisah kekejaman komunis mendapat sanggahan dari informasi yang dulu dituduh subversi. Film yang dulu wajib pun tak lagi menjadi keharusan. Walau PKI sebagai sebuah organisasi masih dilarang berdasarkan ketetapan MPRS tahun 1966.

Fakta yang tak bisa ditutupi bahkan di masa orde baru adalah kisah pembantaian anggota dan orang-orang yang dicurigai terkait dengan PKI sesudah keluarnya Supersemar.  Resminya lewat nama Operasi Trisula namun pergerakan di lapangan melibatkan elemen-elemen sipil yang sejak sebelumnya berseteru dengan PKI dan ormas-ormasnya. Tak ada jumlah pasti berapa korban pembantaian ini. Namun jumlahnya bisa dipastikan setara dengan jumlah suara yang diperoleh PKI saat pemilu 1955 atau setidaknya dari data jumlah anggota PKI tahun 1966.

Yang bisa dipetik dari alinea di atas adalah PKI sudah mati. Ideologinya dinyatakan terlarang, anggotanya sudah habis, yang masih hidup sudah berusia lanjut, dan lainnya dalam jumlah yang tak banyak tersebar di berbagai negara sebagai eksil.

Dengan konfigurasi seperti itu, bagaimana menerangkan dengan nalar bahwa PKI hidup kembali dan jumlah anggotanya mencapai 60 juta jiwa? Angka fantastis, bahkan jauh melebihi jumlah anggota parpol papan atas. Angka tersebut didapat dari ujaran Mayor Jendral Purnawirawan Kivlan Zen yang kemudian viral lewat mulut penceramah seperti Ustad Tanjung dan menyebar melalui pesan-pesan anonim di media sosial. Tidak ada keterangan rinci dari Kivlan sebagai sumber utama isu kebangkitan PKI mengenai data jumlah anggota ini.

Perlu diketahui, Kivlan adalah mantan Pangkostrad era Jendral Besar Soeharto berkuasa. Ia adalah karib dari Prabowo Subianto. Dan di era orde baru, Gus Dur pernah menyebut Mayjen K sebagai biang keladi pembantaian ulama di Banyuwangi dengan sandi Naga Hijau. Kivlan membantahnya dan Gus Dur dengan arif menyelesaikan tuduhannya bahwa yang disebutnya adalah Mayjen Kunyuk. Di era reformasi, kiprah Kivlan, yang juga Komisaris beberapa perusahaan, lebih banyak muncul di belakang. Belakangan ia menyerukan kebangkitan PKI, dengan menggunakan tangan kanan (ulama) dan dikombinasikan dengan kepalan kiri (ormas) untuk menggempur perhatian publik.

Di lain pihak, Panglima TNI juga menyerukan wajib menonton film propaganda yang belasan tahun teronggok di laci lemari kepada seluruh jajarannya yang kemudian merangkul para guru untuk memutar di sekolah. Padahal Menteri Pendidikan tidak mengharuskan para siswa menonton karena banyaknya muatan kekerasan dalam film tersebut. Belum lagi keberatan dari KPAI bahwa film tersebut tidak layak ditonton anak-anak. Maka seruan Panglima mestinya hanya kewajiban di barak saja, tidak meluber ke ruang sipil.

Belum cukup dengan aksi tersebut, pada 22 September 2017 Panglima kembali menggulirkan isu impor 5000 senjata oleh institusi non militer. Akibatnya ranah dunia maya diputar balik ke tahun 1965 saat Angkatan V digulirkan PKI yang menuntut buruh dan tani dipersenjatai. Apakah aksi Panglima dan Kivlan Zen berkaitan? Tentu hanya TNI dan aparat yang dapat menjawabnya sementara publik kembali berspekulasi  tanpa kalkulasi bahwa ini hanya menimbulkan kegaduhan tak perlu bahkan disintegrasi tanpa disadari.

Siklus politik yang menghangat dan kemudian memanas jelang pemilihan adalah hal yang biasa terjadi. Yang perlu diwaspadai oleh publik adalah eksploitasi politik yang dilakukan banyak pihak dengan menggunakan semua cara  bahkan hal yang tak masuk akal sekalipun.

Komunisme sudah tak laku lagi di dunia. Di Indonesia sudah dibantai sejak lama. Siapa yang diuntungkan dengan isu kebangkitan mayat hidup bernama PKI?

Militer adalah salah satunya. Sejak orde baru, militer telah memposisikan diri sebagai benteng pertahanan kapitalisme. Pada masa Presiden Soekarno tak terhitung aksi-aksi massa menuntut  nasionalisasi yang membuat cemas para pemodal. Dan setelah orde lama tumbang maka runtuh pula aksi-aksi sepihak tersebut. Malah yang terjadi adalah penguasaan swasta atas tambang-tambang potensial seperti yang dilakukan Freeport di Papua. Stabilitas yang dijanjikan rezim militer saat itu membuat kapitalisme internasional berjaya menguasai sumber-sumber daya dan memindahkan kekayaan nusantara ke dalam rekening mereka. Di tahun 1998 aksi-aksi penguasaan lahan-lahan milik pengusaha besar kembali terjadi walau kini beralih kepada upaya reformasi agraria.

Dengan menguatnya isu PKI maka figur militer dengan jaminan stabilitasnya dapat menjadi opsi politik yang prospektif di pilpres 2019.  Tetapi perwira aktif dilarang berpolitik praktis karenanya bisa jadi isu ini menjadi investasi politis Panglima di masa pensiunnya tahun depan.

Di lain pihak, partai politik pun juga diuntungkan dengan rumor tersebut. Tentunya partai-partai yang tidak mendapat posisi eksekusi di periode ini. Karenanya banyak elit-elit partai yang sibuk menghidupkan hantu PKI demi terjaganya kegaduhan politik.

Keriuhan akan mengurangi tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah dan setiap suara yang berkurang adalah peluang bagi partai politik lain untuk mendulang kejayaan. Dan kesemuanya dikonsolidasikan dibawah rumor bangkitnya hantu PKI.

Para pengamat akan mengatakan hal ini biasa, tetapi yang kurang diperhitungkan adalah dampak multiplikasinya di publik. Disintegrasi, radikalisme hingga terorisme dapat tumbuh berkembang dalam suasana yang berpondasi rumor tanpa konfirmasi. Hal tersebut sudah terjadi selama ini dan mereka yang kemarin bersikap layaknya fasis berteriak bahwa Perppu ormas mengebiri demokrasi. Mereka yang dulu bersuara bahwa demokrasi adalah jalan barat menguasai negeri kini berjuang seolah pembela hak-hak demokrasi.

Inilah wajah politik negeri. Harus beraksi, walau tak berisi. Mesti glamor, biarpun sebatas rumor.

Tetapi publik selalu menjadi harapan bagi tumbuhnya tata masyarakat yang lebih baik di masa depan. Kesabaran menjadi perjuangan tanpa henti untuk tumbuhnya harapan dan kejujuran adalah pondasi di segala sisi.

Militerisme dan PKI adalah hantu yang tak perlu dibangunkan lagi. Karena  demokrasi sudah menjadi jalan  untuk meraih kekuasaan dan Pancasila adalah landasan filosofis dalam berpolitik dan bernegara.  Untuk itu menjadi kewajiban kita untuk membenamkan irasionalitas dan menjaga nalar agar tetap sehat. Kita tak boleh berhenti melakukannya setiap hari.