LUCY IN THE SKY WITH KORAN KAMI

Waktu pertama membaca cuitan Tommy F.Awuy tentang kolaborasi seni terbesar di akhir tahun ini saya sudah tertarik untuk menyaksikannya. Bukan karena promosi yang bombastis tadi tetapi karena ada kalimat Lucy In The Sky dalam judulnya.

Sebagai generasi pra milenial, saya turut terkena demam The Beatles yang bangkit kembali pada era 80an lewat Bharata Band.  Lagu Lucy In The Sky With Diamond menjadi salah satu lagu yang turut dipelajari oleh saya dan teman-teman bermodalkan buku lagu The Beatles yang kami peroleh dari hasil bajakan.

Aria Baron, Nana Soebianto dan Tommy F.Awuy membawakan Lucy In The Sky With Diamond

Dari komik The Beatles yang hadir di Majalah Hai pada saat itu, saya mengetahui bahwa lagu tersebut dicurigai sebagai kepanjangan dari LSD namun John Lennon membantahnya dengan berdalih bahwa judul lagu itu bersumber dari gambar yang dibuat anaknya Julian Lennon.

Terlepas dari pro kontra kandungan LSD di dalam lagu tersebut, saya pikir pola lagu yang dibuat John dan paul ini memang menyimpang dari pola lagu pop masa itu. Tercatat 3 kali nada dasarnya berubah dimana jembatan tiap nada dasar mengalir dan menyatu di bawah rezim teks yang surealistik. Besar kemungkinan pengaruh yang dominan dari era psikedelik yang ditandai dengan meluasnya pemakaian acid pada generasi bunga. Efek dari pemakaian acid ini memang membuat penggunanya berada diantara mimpi dan realita, kebanyakan lebih condong ke mimpinya. Tapi inilah salah satu bentuk perlawanan generasi bunga terhadap kemapanan yang berujung pada dehumanisasi. Manusia dinilai berdasarkan warna kulit, tingkat ekonomi dan status sosialnya. Manusia menjadi begitu mekanistik dan melupakan alam. Dalam situasi zaman seperti itulah seni dan gaya hidup menjadi alat protes mereka. Inilah kritik generasi pemimpi terhadap zamannya.

episode transisi

The Beatles dengan Lucy-nya berada dalam garda depan musik pop psikedelik. Konser Woodstock tahun 1969 menjadi kongres generasi bunga dimana cinta dan perdamaian menjadi narasi yang digemakan.

adegan yang mengingatkan memori pahit tentang identitas sebagai pribumi

Disaat menuliskan ini, hujan sedang turun, namun kepalaku menghangat membayangkan betapa merdekanya generasi pemimpi mempresentasikan eksistensinya. Dan kehangatan dalam kepala itu pula yang saya rasakan saat menyaksikan karya Bre Redana yang bertajuk Koran Kami With Lucy In The Sky.

Terlambat datang karena dihadang hujan, begitu tiba sudah disambut nyanyian Lucy In The Sky With Diamond dimana Tommy F Awuy bak konduktor yang mengajak penonton turut bernyanyi. Sementara Aria Baron mengiringi dengan gitarnya.  Sesudahnya potongan Koran Kami dibacakan bergantian oleh dua wartawan Kompas untuk  memperkenalkan tokoh ceritanya kepada penonton yang sebagian besar akrab dengan gambaran tokoh yang dibacakan. Bagian ini memang prosa yang menyelami realita dalam ruang dan waktu cerita. Setelah penonton mengenali tokoh dan alurnya maka adegan berikutnya adalah transisi kepemimpinan yang berdarah dalam format teater. Saya sendiri lebih memaknai adegan ini sebagai puisi visual yang menghadirkan tragedi dalam rupa mimpi. Namun cerita belum berakhir, masih ada Whiter Shade of pale milik procol Harum yang dinyanyikan duet oleh Nana Soebianto dan Tommy serta pembacaan irisan novel oleh dua jurnalis Kompas lainnya untuk memungkasi alur kisah Koran Kami.

Strategi kolaborasi lintas disiplin seni pada karya ini memang menjadi suatu kebutuhan untuk memberikan ruang kepada jaringan perkawanan Bre Redana yang luas. Sebagai wartawan, ia mengenal dan dikenal banyak figur populer dalam masyarakat kita. Dan pentas perpisahan dari jurnalis ini membuktikan luasnya pergaulan yang ia jalani selama ini.

Bre Redana pamit pensiun

Dalam perjalanan pulang dari Bentara Budaya Jakarta, tempat karya ini dipentaskan, kepala saya yang menghangat ini memikirkan apa yang harus dikritisi dari pertunjukan ini. Namun sampai saya menuliskan kata ke 546  ini tak jua saya temukan kritik yang sepadan. Saya malah menemukan dalih kenapa saya tak bisa membuat tulisan kritik. Karena untuk menghasilkan kritik maka saya harus mengetahui prosesnya dari awal hingga akhir agar mendapat gambaran yang luas mengenai muatan yang akan diangkat dari pentas ini. Lalu sebagai karya dari seorang pemimpi maka kritik yang seimbang haruslah muncul dari seorang yang realistis, dalam artian emoh bermimpi. Sebagaimana barok sebagai kritik terhadap rennaisans, klasik sebagai kritik terhadap barok, romantik sebagai kritik terhadap klasik. Maka sulitlah bagi pemimpi untuk mengkritisi pemimpi lainnya. Kalaupun mau dicari-cari adalah kurangnya bir yang disajikan. Saya kehabisan ketika hendak mencicipinya, padahal Bre dan bir adalah satu kesatuan dan acara belum berakhir selama beliau masih berada di Bentara Budaya Jakarta.

Tetapi saya harus mengakhiri menjadi penyaksi dan bergegas pulang, bukan karena ketiadaan bir tetapi saya sudah membeli tiket kereta pulang dan berdasarkan perhitungan maka bila saya pulang lebih dahulu akan sempat bersua kereta terakhir hari ini. Dan di sepanjang perjalanan hingga tiba di rumah, kepala saya masih menghangat dan mengingat.

Mas Bre, jika anda membaca ini maka anda berutang segelas bir untuk mendinginkan kepala saya.

 

 

30 November 2017

01:56 WIB

 

DEWAN KESEPIAN

Jangan terkecoh dengan judul tulisan ini karena jika anda berasumsi bahwa saya sedang membicarakan masalah politik dalam negeri maka anda tidak sepenuhnya benar. Di masa keterbukaan seperti yang kita alami kini memang banyak hal yang bisa dipolitisasi dengan bebasnya. Tetapi sesungguhnya saya tidak sedang berselera membicarakan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, walau dari mereka selalu banyak hal yang bisa ditulis setiap minggunya.

Seperti yang saya tuliskan di atas, bahwa asumsi anda tidak sepenuhnya benar bila mengira muara tulisan ini adalah masalah politik dalam negeri, ini pun bisa diartikan bahwa asumsi tersebut juga tidak seluruhnya salah. Karena seperti yang juga sudah saya tuliskan di paragraf pertama bahwa banyak hal bisa dipolitisasi dengan bebasnya, termasuk dalam memaknai tulisan ini.
Tetapi Dewan apakah yang saya maksudkan sedari awal jika ternyata bukan DPR yang dituju? Tentu saja yang saya maksud adalah Dewan Kesepian. Ini adalah istilah yang umum digunakan untuk menyindir Dewan Kesenian. Tetapi tidak semua Dewan Kesenian itu kesepian, lagi pula saya tidak sedang menggeneralisasi semua Dewan Kesenian itu kesepian. Untuk lebih jelasnya sebaiknya anda meneruskan pembacaan ini hingga tuntas.

bos-nyantai

Namun saya menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini tentu tidak menarik perhatian bagi publik pada umumnya juga seniman-seniman yang telah mapan atau pun pelaku industri seni pada khususnya. Tulisan ini pun tidak menyasar mereka sebagai pembaca walau mereka juga memiliki hak yang setara untuk membaca lalu mengomentari atau bahkan membuat artikel balasan dari tulisan ini.

Gagasan untuk menuliskan ini bermula dari kedatangan seorang rekan perupa, sebut saja namanya Rosithan, yang selain bertujuan melakukan pendataan terhadap seniman dan budayawan di Kota Tangerang, proyek rutin tanpa tujuan jelas dari Disporbudpar Pemkot Tangerang, juga mengabarkan adanya lowongan bagi para seniman untuk mendaftarkan diri sebagai pengurus Dewan Kesenian Banten. Dari mulutnya saya mendapat informasi bahwa pemilihan dilaksanakan melalui tim seleksi yang terdiri dari 9 orang seniman dan ditargetkan pada 4 Oktober 2015 sudah dilantik oleh Gubernur definitif Provinsi Banten. Sepulangnya rekan saya tadi mulailah kegelisahan bertumbuh di benak saya. Dan pertanyaan-pertanyaan merambat dengan pesat di dalam kepala.
Begitu mendadaknya tahapan sosialisasi yang kurang dari sebulan ini, apakah sebanding dengan target jumlah seniman yang tersebar di Provinsi Banten agar antusias berpartisipasi dalam pemilihan ini?

Di era dimana informasi bisa tersebar dengan cepat, kenapa masih ada sosialisasi yang masih menggunakan cara ‘kuno’ yaitu beriklan di harian lokal dan berharap tersebar cepat ke seluruh penjuru Banten. Apakah tim seleksi mengetahui bahwa tidak semua seniman berlangganan harian tersebut? Belum lagi tidak semua seniman yang mengetahui berita itu juga mau menyebarkan warta tersebut. Kenapa tidak diperluas sosialisasinya dengan mengadakan pertemuan dengan Dewan Kesenian tingkat Kota/Kabupaten se-Banten dan mendorong mereka untuk menyebarkan informasi hingga ke komunitas-komunitas atau sanggar seni? Atau melalui cara yang lebih modern; menyebarkan melalui media sosial yang efisien serta efektif sehingga melengkapi apa yang sudah termuat di harian lokal. Saya meyakini pasti tersedia dana sosialisasi yang tidak sedikit dari Pemerintah Provinsi walau saya tidak mengetahui dengan pasti nominalnya.

Tahapan yang terkesan terburu-buru ini juga menimbulkan pertanyaan seberapa urgensi dari pembentukan Dewan Kesenian Banten kali ini? Bila kepengurusan baru ini adalah kesinambungan dari sebelumnya maka semestinya ini sudah terjadwal sejak jauh hari. Tetapi memang ada yang baru dari pemilihan kali ini yaitu dengan adanya lowongan terbuka dan tim seleksi. Lowongan terbuka mengisyaratkan kepengurusan yang dicari tidak harus dari pengurus periode sebelumnya. Eksistensi tim seleksi, mengingatkan saya akan Akademi Jakarta, juga mengindikasikan kepengurusan yang terpilih nantinya bisa mewakili segenap unsur seni dan memahami apa yang dibutuhkan oleh senimannya.

Bisa jadi sosialisasi yang cepat dan tidak meluas ini adalah strategi dari tim seleksi untuk meminimalisir jumlah pelamar hingga tidak memperlambat tahapan agar sesuai dengan jadwal pelantikan. Pada sisi yang lain, bagi yang ingin menjadi pengurus, tentu hal ini merugikan karena keinginan mereka tidak didukung informasi yang lengkap dan meluas. Untuk saya, segala yang mendadak biasanya tidak mendidik.

 

DEWAN KESENIAN

 

Dewan adalah kata yang memiliki arti majelis atau badan yang terdiri dari beberapa orang anggota yang pekerjaannya memberi nasihat, memutuskan suatu hal , dan sebagainya dengan jalan berunding. Definisi ini saya kutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam kalimat lain bisa diartikan Dewan adalah Forum untuk memutuskan sesuatu hal yang spesifik.

Bila mengambil contoh Dewan Perwakilan Rakyat maka menjadi jelas kenapa tugas mereka terbatas pada legislasi (membuat perundang-undangan), keuangan (menetapkan RAPBN menjadi APBN) dan pengawasan terhadap eksekutif. Walau, kabarnya, melalui UU MD3, yang direvisi dalam suasana tanpa musyawarah mufakat, ada fungsi yang ditambahkan yaitu diplomasi. Namun secara garis besar jelas bahwa tugas Dewan tetaplah hanya sebatas mengarahkan dan mengawasi. Yang namanya Dewan tidak bisa melaksanakan fungsi eksekusi anggaran atau kebijakan.

Bagaimana dengan Dewan Kesenian? Dalam KBBI juga ada keterangan terhadap Dewan Kesenian yaitu dewan yang bertugas membina dan mengembangkan kesenian. Membina dan mengembangkan memiliki konklusi kepada mengarahkan. Sekali lagi jelas ada konsistensi dari pemahaman Dewan Kesenian sebagai kata derivasi dari Dewan, bahwa dewan adalah badan yang hanya bertugas mengarahkan.

Kenapa kata mengarahkan menjadi penting bagi saya, karena inilah roh dari kata dewan itu sendiri. Konkretnya di dalam Dewan Kesenian dimana Komite-komite sebagai manifestasi pelaksana tugas dewan hanya merumuskan kebutuhan seniman dan mengembangkan program pembinaan dengan sasaran komunitas-komunitas seni yang ada. Fungsi komite sebatas panitia pengarah dan memberi kesempatan yang adil kepada komunitas-komunitas untuk dipercaya bertindak sebagai panitia pelaksana. Hal ini juga memberikan peluang bagi regenerasi organisasi secara terukur dan berkelanjutan.

Apalagi dalam hitungan beberapa bulan ke depan kita akan memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN dimana salah satu indikasinya adalah bebasnya tenaga kerja dari negara-negara ASEAN untuk memasuki lapangan kerja di negara-negara ASEAN. Membina dan mengembangkan adalah sebuah sistem yang mengarah kepada pembentukan kualitas dari para senimannya. Itulah idealnya fungsi dewan kesenian karena itu sudah sewajibnya pengurus dewan kesenian memiliki kemampuan untuk merumuskan permasalahan dan menemukan solusi terhadap perkembangan kesenian.

 

DEWAN KESEPIAN

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, semoga tidak ada yang perlu tersinggung karenanya, bahwa dewan kesepian adalah sindiran terhadap dewan kesenian. Dewan kesenian seperti apa yang lantas menjadi target sindiran tersebut?

Dewan Kesenian yang kesepian adalah dewan yang melaksanakan program-program tanpa keselarasan dengan kebutuhan para senimannya dan hal ini bisa dilihat dari sepinya animo seniman untuk mengikuti acara yang dilaksanakan, bahkan penyelenggara perlu memberi honor kepada audiens agar terlihat ada pesertanya, target penyelenggara adalah hanya menghabiskan anggaran rutin dengan laporan keuangan yang jelas. Biasanya acara-acara yang dilaksanakan pun hanya itu-itu saja tanpa ada inovasi apalagi motivasi untuk pengembangan kualitas seniman.

Saya jadi ingat pertanyaan Rita Matu Mona di laman facebook-nya mengenai kenapa setiap tahun ada begitu banyak acara pementasan, workshop, diklat, festival dan lain sebagainya tetapi tidak berdampak kepada peningkatan kualitas kesenian itu sendiri.Saya pikir itulah program-program dari dewan kesepian yang tidak peduli terhadap pengembangan kesenian selain hanya kepada anggaran kesenian.

Stamina para pengurus dewan kesepian terkuras habis karena mereka menerjunkan diri hingga ke masalah detil teknis pelaksanaan, membuat mereka tak sempat memikirkan program-program inovatif yang lebih sesuai dengan kebutuhan seniman. Yang menjadi kebanggaan dari dewan kesepian adalah kuantitas program dan laporan keuangan yang rasional.

Ada banyak alasan kenapa itu terjadi. Bisa karena honor sebagai pengurus yang tidak memadai atau bisa pula karena ketidak tahuan mereka akan fungsi hakiki dari menjadi pengurus dewan kesenian, dalam banyak kasus ada pula karena karakter si pengurus itu sendiri yang enggan berbagi.

 

DEWAN KESENIAN YANG TAK KESEPIAN.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan agar dewan kesenian tak lagi kesepian, yang utama tentu pola rekrutmen. Dengan sistem lowongan terbuka tentu ini baik bagi dewan kesenian untuk berpeluang memiliki pengurus dengan kompetensi, kapasitas dan kapabilitas. Sistem ini setidaknya bisa memberi kesempatan yang sama kepada semua seniman untuk terlibat tanpa dibatasi kepada komunitas-komunitas atau sanggar-sanggar tertentu yang memiliki kedekatan dengan para anggota tim seleksi. Pola rekrutmen terbuka ini juga seharusnya bisa meminimalisir para kandidat yang tidak memiliki kemampuan konsepsi dan manajerial. Kemampuan konsepsi diperlukan agar pengurus dapat merumuskan kebutuhan seniman yang sesuai dengan kehendak zaman. Kemampuan manajerial jelas diperlukan agar energi pengurus tidak habis karena semua hal dikerjakan sendiri. Kedua kemampuan ini menuntut kecerdasan intra-personal dan inter-personal dari kandidat, karena tanpa kecerdasan intra dan inter-personal bisa dipastikan tidak memiliki kemampuan konsepsi dan manajerial.

Kualifikasi yang jelas dari tim seleksi juga harus disosialisasikan karena hal tersebut terkait dengan kredibilitas tim seleksi, saya sendiri hingga saat menuliskan ini masih belum mengetahui kualifikasi pengurus seperti apa yang dipahami oleh tim seleksi karena seorang kawan yang sudah berjanji akan mengirim surel soal ini ternyata tidak mengirimkannya kepada saya. Jangan sampai persyaratan dibuat hanya untuk meloloskan orang-orang tertentu atau negasinya.

Hal lain yang penting untuk dilakukan adalah pembentukan Komisi Pengawas Dewan Kesenian itu sendiri. Biasanya fungsi pengawasan selama ini justru disfungsi, menjadi pelengkap dari struktur semata. Sementara publik sendiri masih menganggap dunia seni adalah urusan seniman, karenanya bila terjadi penyelewengan atas dana publik yang dilakukan dewan kesenian publik tak bereaksi. Jangankan publik, senimannya sendiri juga tidak ereksi bila terjadi penyimpangan dalam dewan kesenian. Sementara birokrasi justru kadangkala yang menutup mata sepanjang laporan keuangan dapat dipertanggungjawabkan. Sekedar informasi, banyak kepala daerah yang menjadi tersangka korupsi sementara BPK memberi predikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) atas laporan keuangan mereka.

Keberadaan Komisi Pengawas Dewan Kesenian menjadi urgen agar para pengurus bisa merasakan pengawasan atas tugasnya sebagai pengurus dewan kesenian. Komisi ini juga diharapkan bisa menganulir program-program yang tidak sesuai dengan AD/ART atau pun tidak bertujuan untuk membina dan mengembangkan kesenian. Dengan pengawasan terhadap program-program yang dilakukan maka bisa saja Komisi memberi rekomendasi pemecatan kepada Ketua terhadap pengurus yang melakukan tindak pidana atau melanggar hukum.
Lalu apa peran seniman lainnya yang tidak terpilih atau tidak mengikuti pemilihan ini? Bila fungsi ideal dewan kesenian seperti yang sudah saya tulis tadi dijalankan maka bagi seniman yang tidak terpilih atau mengikuti bisa mempersiapkan diri bersama komunitasnya untuk mengajukan program atau menjadi pelaksana program yang sudah dijadwalkan komite-komite seni. Tetapi seperti juga sudah saya tulis bahwa keberadaan dewan kesenian belum tentu menarik atensi semua seniman walau begitu tentu tidak menutup pintu kerjasama di kemudian hari.

Seniman adalah manusia kreatif, tanpa terlibat dalam dewan kesenian pun tidak lantas menghilangkan kreatifitasnya. Kritik para seniman terhadap dewan kesenian pun seyogianya bisa menjadi pemicu kreatifitas bagi pengurus dewan kesenian yang terpilih. Karena kritik adalah bentuk lain dari perhatian juga interaksi sehingga dewan kesenian tidak lagi menjadi dewan kesepian.

SATU SIANG DALAM HIDUP MAMAD; ini bukan kritik film

Saat saya menuliskan ini, dimulai jam 19:14 WiB, di kepala saya masih terpatri film “Satu Siang Dalam Hidup Mamad” yang saya tonton tadi siang di sebuah tv swasta. Film ini tidak sengaja saya tonton karena siang tadi saya berniat hendak mencari acara televisi yang mungkin bisa menghibur Mama saya. Setelah mencoba-coba satu demi satu acara yang ditayangkan televisi akhirnya saya memutuskan menonton film tersebut yang kebetulan juga belum lama dimulai.

Saya tidak tahu apakah keputusan saya ini dapat memberikan hiburan yang murah meriah kepada Mama saya, tetapi saya tidak akan tahu sebelum menyaksikannya juga. Hiburan yang murah meriah di stasiun tv negeri ini menjadi langka, untuk membandingkannya dengan hiburan murahan dan asal meriah yang banyak diputar nyaris di setiap slot waktu yang ada di televisi. Bagi saya pembeda antara hiburan yang murah meriah dengan hiburan yang murahan dan asal meriah sangat tegas. Program hiburan yang murah meriah adalah program yang dikonsep dan dikemas dengan tujuan memberi sesuatu yang bermanfaat dan hinggap di kepala pemirsa, bisa saja bentuknya film, diskusi atau musik. Tetapi yang lebih penting dari bentuknya adalah muatannya.

Ringkasnya, acara yang murah meriah akan membuat pemirsanya lebih menikmati hidup bersama keluarga atau orang-orang di sekitarnya. Sedangkan acara yang murahan dan asal meriah akan membuat hidup pemirsanya dipenuhi hasrat membicarakan orang-orang di sekitarnya.
Televisi adalah kotak ajaib yang memberi dampak besar bagi orang-orang yang menonton dan berada di dalamnya. Ia bisa menjadi bermakna atau juga nirmakna. Itu semua tergantung dari apa yang kita pilih untuk kita saksikan.

Walau teknologi informasi semakin pesat perkembangannya, masih tetap belum mampu menggeser kedudukan televisi di ruang keluarga sebagian besar masyarakat Indonesia, pengecualian kepada mereka yang tinggal di daerah yang belum dialiri listrik. Apalagi dengan adanya bisnis tv berbayar yang memberi kesempatan bagi pemirsanya untuk menyaksikan program-program yang diminati tanpa harus terjeda oleh pariwara. Bagi saya itu belum menunjukkan acara-acara mereka dapat memberikan manfaat bagi pemirsanya, yang jelas program tv berbayar tidaklah murah dan belum tentu meriah malah sebaliknya perlu diawasi bagi keluarga yang masih memiliki anak di bawah usia 17 tahun karena banyaknya ‘kultur keterbukaan’ dalam program-program dari negara yang memang terbiasa ‘terbuka’.

Sampai di alinea ini saya terpaksa harus menutup bahasan soal program tv seperti yang tertulis di paragraf sebelumnya, karena memang saya tidak ingin menulis soal itu. Seperti kata Tukul, “kembali ke laptop” dan saya mengembalikan fokus kepada topik yang tersirat di dalam judul tulisan ini.

Film Satu Siang dalam hidup Mamad menceritakan tentang kejadian yang dialami oleh Mamad, supir pribadi yang baru saja menjemput anaknya pulang sekolah untuk kemudian menjemput pemilik mobil yang ia bawa dari kantor. Di sebuah tikungan, mobilnya ditabrak oleh pengendara motor besar dan membuat goresan di bagian pintu. Si pengendara motor itu, diperankan Ringgo Agus Rahman, sebenarnya adalah seorang mekanik di bengkel dan motor besar yang dikendarainya adalah kendaraan milik pelanggan yang sedang diuji coba sehabis di perbaiki di bengkelnya.

dilematika

Mamad, diperankan Agus Kuncoro, ngotot meminta pertanggung jawaban si penabrak dengan membawa mobilnya ke bengkel resmi sementara si penabrak, saya lupa nama karakternya, menawarkan untuk memperbaiki di bengkel miliknya. Ketiadaan kompromi ini memaksa hadirnya pihak ketiga yaitu Polantas, kalau tidak salah nama yang tertulis di seragamnya Chairil, yang ternyata adalah paman dari si penabrak. Konflik kepentingan si Polantas ini menjadikan posisi Mamad seakan digiring ke arah kompromi yang ditawarkan si penabrak. Ini terlihat dari upaya Polantas ‘mendamaikan’ mereka, ketika tidak mencapai mufakat dan memilih prosedur resmi maka tersimaklah realitas pahit negeri ini, kalimat ini untuk mengganti kata ‘tragedi’, dimana orang-orang di sekitar memilih tidak peduli akan nasib Mamad dan tak ada yang mau menjadi saksi. Sampai akhirnya ada pula yang mau tetapi ketika dihadapkan ke depan Polantas malah berbalik menyalahkan Mamad. Dilematika yang terjadi dalam hidup Mamad siang itu belum berhenti sampai disitu. Anak perempuannya yang berulang kali mengeluh haus, lapar atau kelamaan juga turut membebani kepala Mamad, belum lagi pemilik kendaraan yang tidak peduli apakah Mamad salah atau benar yang penting ia harus segera menjemputnya dengan ancaman akan dipecat bila dalam setengah jam tidak melaksanakan tugasnya. Ada pula istri Mamad yang terus menanyakan keberadaannya karena tidak seperti biasanya terlambat mengantarkan anaknya pulang.

Mamad berkeras bahwa ia benar dan ia menolak segala kompromi ataupun tekanan yang didapatnya. Ia sempat diprovokasi si penabrak agar kehilangan emosi dan memukulnya sehingga menjadi bumerang bagi Mamad. Tetapi, untunglah, si Polisi tidak terkecoh dan walau sempat memborgol Mamad tetapi memaksa keponakannya untuk mencabut tuntutan kepada Mamad walau dengan kompromi pula yaitu Mamad juga harus mencabut tuntutannya.

Mamad tetap keras kepala hingga akhirnya sang putri mengatakan kepadanya bahwa,”..tidak mesti segalanya harus dilawan” dan itu meluluhkan hatinya. Mamad mencabut tuntutan kepada si penabrak dan tidak mendapat kompensasi apapun dari kejadian itu.

Tetapi cerita tidak berhenti sampai disitu, anak gadisnya yang selalu bermain telepon seluler sepanjang perjalanan mereka rupanya tak sengaja juga merekam awal insiden tabrakan tersebut dimana terekam olehnya si penabrak sedang menelpon selagi mengendarai motornya. Inilah bukti yang otentik dan tidak terbantahkan, Polantas pun yang sedari awal sadar bahwa keponakannya bersalah akhirnya memutuskan untuk menilangnya dan memaksa keponakannya untuk tetap mengganti kerugian si Mamad walau itu berarti ia harus menelpon ayahnya untuk meminta bantuan.

Apakah ini akhir yang bahagia? Cerita ini belum lagi berakhir. Mamad di pecat oleh si pemilik mobil karena tidak segera menjemputnya di kantor, walau si penabrak yang secara tidak sengaja mendengar pemecatan tersebut turut iba dan memberikan nomor telepon kantor ayahnya agar Mamad dapat melamar pekerjaan di tempat ayahnya namun siang itu adalah siang yang panjang dan penuh pengorbanan bagi Mamad.

Ia jelas tidak bahagia karena dipecat, karena diborgol di depan anaknya, karena dimarahi istrinya, karena anaknya juga merasakan penderitaannya, karena ketidak pedulian orang-orang di sekitar tempat kejadian dan juga yang utama karena kengototannya mempertahankan kebenaran. Tetapi ia telah memberikan pelajaran yang berharga bagi anaknya bahwa jangan menyerah untuk menyingkap kebenaran dengan resiko apapun. Dan inilah sesuatu yang tersangkut di kepala saya sejak siang tadi hingga malam ini, jam 20:07 WiB, saat saya menuliskan ini.

Saya tidak tahu apakah film ini laku di bioskop Indonesia, mungkin pertanyaan saya kurang pas karena seharusnya saya bertanya dahulu apakah film ini mendapat kesempatan yang proporsional untuk diputar di bioskop? dan bila memang di putar di bioskop apakah film ini diminati penonton film? Karena realita memang pahit di negeri ini. Biasanya apa yang bermutu justru berada di sudut-sudut nan sepi. Dan yang mendapat tempat di pusat adalah kultur konsumerisme yang tidak memberi manfaat apapun bagi publik selain menghabiskan uang untuk selanjutnya memaksa publik mencari uang lagi untuk dihabiskan lagi dan repetisi terjadi tanpa disadari.

Ya, film Satu Siang Dalam Hidup Mamad buat saya adalah film bagus yang bermutu. Dan juga memberi hiburan bagi Mama saya. Apalagi sebagai istri dari seorang Polisi, kehadiran Polantas berikut dilematikanya terasa nyata bagi Mama saya dan juga saya. Dan ini berarti pilhan saya tidak salah.

.