(NONTON) TEATER ZAMAN NOW

Beberapa hari lalu saya mendapat undangan untuk menjadi penyaksi pentas teater dari Kang Ari Jogaiswara dalam rangkaian acara 6th Online Performance Art Festival yang berlangsung dari tanggal 30 November hingga 3 Desember 2017.

Pentas yang dirujuk dalam undangan di atas dilakonkan oleh ETA:Inquiries in Theater and Performance dengan tajuk Defacement in the Side dan berlangsung pada hari kamis 30 November 2017 jam 12:00 WIB. Mengambil lokasi di ruang parkir pada suatu tempat di Kota Bandung dan saya menyaksikannya di rumah saya yang berjarak sekitar 171 kilometer dari tempat pementasan secara langsung.

Ruang, waktu dan aktor adalah tiga prasyarat mutlak bagi kehadiran sebuah pertunjukan teater. Setidaknya hal tersebut valid sejak berabad lampau hingga revolusi teknologi informasi mendekontruksikan (dalam artian harfiah mengurangi susunan bentuk) prasyarat di atas.

Teater sendiri berarti ruang tempat pertunjukan dimana didalamnya terdapat aktor (baik pelakon atau pun penonton) yang terikat dalam kesatuan waktu dan berjibaku guna memproduksi makna.  Pemahaman dengan bau barat yang kental ini tidak hanya menjadi pondasi bagi konstruksi teater literer dari era Shakespeare hingga absurdisme tetapi juga teater tradisi yang berserakan di seluruh penjuru bumi.

Dalam kesatuan ruang dan waktu, penonton dan pelakon memiliki hubungan resiprokal dalam mengolah, menyusun dan memproduksi makna lewat bahasa (baik lisan atau gerakan) yang tersampaikan selama pertunjukan mengalir.

Lalu, bagaimana bila pelakon tak memiliki penonton? Dalam konteks yang mirip saya pernah mempertanyakan itu dalam lakon The Show Must Go On di tahun 2003 dimana pertunjukan terhenti karena ketiadaan penonton, apakah teater akan punah dengan sendirinya bila pelakon tidak ada penonton?

Tentu saja itu hanya mimpi buruk, kenyataannya gedung pertunjukan dipadati penonton yang rela membayar ratusan ribu rupiah untuk duduk manis dan mendapat pencerahan dari pertunjukan yang pelakonnya tidak sedikit dikenal orang sebagai selebritas. Begitu juga yang terjadi di kota-kota kecil hingga ke dusun-dusun terpencil di nusantara, pembedanya hanya tidak ada selebritas yang sudi bermain di sana.

Kembali kepada pertanyaan di paragraf sebelumnya yang menjadi relevan di masa teknologi informasi yang tanpa disadari telah mengalienasi penggunanya dari lingkungan sosialnya. Bagaimana menghadirkan tontonan teater bagi publik yang asyik dengan kesendiriannya?

6th Online Performance Art Festival mungkin adalah salah satu jawaban atas tanda tanya di atas. Dalam  Defacement in the Side, terlihat seorang lelaki yang duduk di meja pada sebuah area parkir sambil membuat topeng di wajahnya. Tak lama datang seorang perempuan yang ikut duduk dan melakukan aktivitas yang sama dengan lelaki sebelumnya. Lalu perempuan ketiga muncul dan melakukan aksi serupa dengan dua pelakon tadi. Mereka bertiga melakukan aksi tanpa dialog, si lelaki yang sudah selesai dengan topengnya segera melepaskan dan meletakkan di sebuah bola hitam. Kemudian ia memotong topeng itu tembus ke bola hitam tadi yang ternyata adalah buah semangka berlapis kain. Hasil potongan tadi dimakan oleh si lelaki sambil berjalan menjauh entah kemana. Dua perempuan yang ada masih menyelesaikan topeng mereka dan begitu selesai salah satu dari perempuan itu menaruh topeng itu di potongan semangka yang tersisa begitu juga dengan perempuan terakhir. Itulah akhir dari pertunjukan ini yang berlangsung sekitar 23 menit. Dan saya menyaksikan langsung di rumah saya yang berjarak 171 kilometer jauhnya secara bersamaan waktunya.

eta, opaf

Bagaimana memproduksi makna dari pelakon dan penonton yang terpisah ini? Tentunya ada independensi pemaknaan dari penyaksi walau ada sedikit petunjuk dari pelakon dalam kata pengantarnya di laman milik penyelenggara program ini. Kebebasan dan kemandirian pemaknaan ini tetap berbasis dari aksi yang dilakukan, serupa dengan menyaksikan pentas teater pada umumnya, namun independensi tersebut bisa tak berguna bila tak ada rujukan empirik dari otak atas peristiwa serupa. Karena otak kita yang super ini tetap membutuhkan adaptasi terhadap segala sesuatu yang baru sebelum mulai mengolah lema visual menjadi arti. Sampai disini ternyata masih tak ada bedanya dengan menonton teater seperti biasanya.

Faktor pembedanya adalah dekonstruksi terhadap prasyarat utama terjadinya teater. Dekonstruksi disini tidak seruwet dalam alam pikir Derrida, tetapi dalam arti mengurangi bentuk dari susunan prasyarat tadi. Dan yang berkurang adalah transfer emosi dari pelakon. Ini akan terasa bila anda menyaksikan teater literer secara daring. Ada emosi yang tidak terunggah dan terunduh dengan sempurna dalam proses ini, setidaknya hingga kini dan entahlah di masa nanti. Dekonstruksi tersebut terjadi karena ketidaksatuan ruang antara pelakon dengan penonton. Beberapa tahun lalu pernah tergagas oleh saya untuk memisah antar pelakon dalam ruang yang berbeda dan disatukan lewat daring, tetapi karena infrastruktur yang belum memadai maka saya memendam gagasan itu untuk nanti, entah kapan persisnya.

ETA:Inquiries in Theater and Performance telah memotret tentang realitas hipokrit yang kita kunyah setiap hari dan saya sebagai penyaksi memilih menuliskan soal gagasan menonton teater zaman now, setidaknya bagi mereka yang teralienasi dalam genggaman teknologi.

 

Iklan

LUCY IN THE SKY WITH KORAN KAMI

Waktu pertama membaca cuitan Tommy F.Awuy tentang kolaborasi seni terbesar di akhir tahun ini saya sudah tertarik untuk menyaksikannya. Bukan karena promosi yang bombastis tadi tetapi karena ada kalimat Lucy In The Sky dalam judulnya.

Sebagai generasi pra milenial, saya turut terkena demam The Beatles yang bangkit kembali pada era 80an lewat Bharata Band.  Lagu Lucy In The Sky With Diamond menjadi salah satu lagu yang turut dipelajari oleh saya dan teman-teman bermodalkan buku lagu The Beatles yang kami peroleh dari hasil bajakan.

Aria Baron, Nana Soebianto dan Tommy F.Awuy membawakan Lucy In The Sky With Diamond

Dari komik The Beatles yang hadir di Majalah Hai pada saat itu, saya mengetahui bahwa lagu tersebut dicurigai sebagai kepanjangan dari LSD namun John Lennon membantahnya dengan berdalih bahwa judul lagu itu bersumber dari gambar yang dibuat anaknya Julian Lennon.

Terlepas dari pro kontra kandungan LSD di dalam lagu tersebut, saya pikir pola lagu yang dibuat John dan paul ini memang menyimpang dari pola lagu pop masa itu. Tercatat 3 kali nada dasarnya berubah dimana jembatan tiap nada dasar mengalir dan menyatu di bawah rezim teks yang surealistik. Besar kemungkinan pengaruh yang dominan dari era psikedelik yang ditandai dengan meluasnya pemakaian acid pada generasi bunga. Efek dari pemakaian acid ini memang membuat penggunanya berada diantara mimpi dan realita, kebanyakan lebih condong ke mimpinya. Tapi inilah salah satu bentuk perlawanan generasi bunga terhadap kemapanan yang berujung pada dehumanisasi. Manusia dinilai berdasarkan warna kulit, tingkat ekonomi dan status sosialnya. Manusia menjadi begitu mekanistik dan melupakan alam. Dalam situasi zaman seperti itulah seni dan gaya hidup menjadi alat protes mereka. Inilah kritik generasi pemimpi terhadap zamannya.

episode transisi

The Beatles dengan Lucy-nya berada dalam garda depan musik pop psikedelik. Konser Woodstock tahun 1969 menjadi kongres generasi bunga dimana cinta dan perdamaian menjadi narasi yang digemakan.

adegan yang mengingatkan memori pahit tentang identitas sebagai pribumi

Disaat menuliskan ini, hujan sedang turun, namun kepalaku menghangat membayangkan betapa merdekanya generasi pemimpi mempresentasikan eksistensinya. Dan kehangatan dalam kepala itu pula yang saya rasakan saat menyaksikan karya Bre Redana yang bertajuk Koran Kami With Lucy In The Sky.

Terlambat datang karena dihadang hujan, begitu tiba sudah disambut nyanyian Lucy In The Sky With Diamond dimana Tommy F Awuy bak konduktor yang mengajak penonton turut bernyanyi. Sementara Aria Baron mengiringi dengan gitarnya.  Sesudahnya potongan Koran Kami dibacakan bergantian oleh dua wartawan Kompas untuk  memperkenalkan tokoh ceritanya kepada penonton yang sebagian besar akrab dengan gambaran tokoh yang dibacakan. Bagian ini memang prosa yang menyelami realita dalam ruang dan waktu cerita. Setelah penonton mengenali tokoh dan alurnya maka adegan berikutnya adalah transisi kepemimpinan yang berdarah dalam format teater. Saya sendiri lebih memaknai adegan ini sebagai puisi visual yang menghadirkan tragedi dalam rupa mimpi. Namun cerita belum berakhir, masih ada Whiter Shade of pale milik procol Harum yang dinyanyikan duet oleh Nana Soebianto dan Tommy serta pembacaan irisan novel oleh dua jurnalis Kompas lainnya untuk memungkasi alur kisah Koran Kami.

Strategi kolaborasi lintas disiplin seni pada karya ini memang menjadi suatu kebutuhan untuk memberikan ruang kepada jaringan perkawanan Bre Redana yang luas. Sebagai wartawan, ia mengenal dan dikenal banyak figur populer dalam masyarakat kita. Dan pentas perpisahan dari jurnalis ini membuktikan luasnya pergaulan yang ia jalani selama ini.

Bre Redana pamit pensiun

Dalam perjalanan pulang dari Bentara Budaya Jakarta, tempat karya ini dipentaskan, kepala saya yang menghangat ini memikirkan apa yang harus dikritisi dari pertunjukan ini. Namun sampai saya menuliskan kata ke 546  ini tak jua saya temukan kritik yang sepadan. Saya malah menemukan dalih kenapa saya tak bisa membuat tulisan kritik. Karena untuk menghasilkan kritik maka saya harus mengetahui prosesnya dari awal hingga akhir agar mendapat gambaran yang luas mengenai muatan yang akan diangkat dari pentas ini. Lalu sebagai karya dari seorang pemimpi maka kritik yang seimbang haruslah muncul dari seorang yang realistis, dalam artian emoh bermimpi. Sebagaimana barok sebagai kritik terhadap rennaisans, klasik sebagai kritik terhadap barok, romantik sebagai kritik terhadap klasik. Maka sulitlah bagi pemimpi untuk mengkritisi pemimpi lainnya. Kalaupun mau dicari-cari adalah kurangnya bir yang disajikan. Saya kehabisan ketika hendak mencicipinya, padahal Bre dan bir adalah satu kesatuan dan acara belum berakhir selama beliau masih berada di Bentara Budaya Jakarta.

Tetapi saya harus mengakhiri menjadi penyaksi dan bergegas pulang, bukan karena ketiadaan bir tetapi saya sudah membeli tiket kereta pulang dan berdasarkan perhitungan maka bila saya pulang lebih dahulu akan sempat bersua kereta terakhir hari ini. Dan di sepanjang perjalanan hingga tiba di rumah, kepala saya masih menghangat dan mengingat.

Mas Bre, jika anda membaca ini maka anda berutang segelas bir untuk mendinginkan kepala saya.

 

 

30 November 2017

01:56 WIB

 

DEWAN KESEPIAN

Jangan terkecoh dengan judul tulisan ini karena jika anda berasumsi bahwa saya sedang membicarakan masalah politik dalam negeri maka anda tidak sepenuhnya benar. Di masa keterbukaan seperti yang kita alami kini memang banyak hal yang bisa dipolitisasi dengan bebasnya. Tetapi sesungguhnya saya tidak sedang berselera membicarakan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, walau dari mereka selalu banyak hal yang bisa ditulis setiap minggunya.

Seperti yang saya tuliskan di atas, bahwa asumsi anda tidak sepenuhnya benar bila mengira muara tulisan ini adalah masalah politik dalam negeri, ini pun bisa diartikan bahwa asumsi tersebut juga tidak seluruhnya salah. Karena seperti yang juga sudah saya tuliskan di paragraf pertama bahwa banyak hal bisa dipolitisasi dengan bebasnya, termasuk dalam memaknai tulisan ini.
Tetapi Dewan apakah yang saya maksudkan sedari awal jika ternyata bukan DPR yang dituju? Tentu saja yang saya maksud adalah Dewan Kesepian. Ini adalah istilah yang umum digunakan untuk menyindir Dewan Kesenian. Tetapi tidak semua Dewan Kesenian itu kesepian, lagi pula saya tidak sedang menggeneralisasi semua Dewan Kesenian itu kesepian. Untuk lebih jelasnya sebaiknya anda meneruskan pembacaan ini hingga tuntas.

bos-nyantai

Namun saya menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini tentu tidak menarik perhatian bagi publik pada umumnya juga seniman-seniman yang telah mapan atau pun pelaku industri seni pada khususnya. Tulisan ini pun tidak menyasar mereka sebagai pembaca walau mereka juga memiliki hak yang setara untuk membaca lalu mengomentari atau bahkan membuat artikel balasan dari tulisan ini.

Gagasan untuk menuliskan ini bermula dari kedatangan seorang rekan perupa, sebut saja namanya Rosithan, yang selain bertujuan melakukan pendataan terhadap seniman dan budayawan di Kota Tangerang, proyek rutin tanpa tujuan jelas dari Disporbudpar Pemkot Tangerang, juga mengabarkan adanya lowongan bagi para seniman untuk mendaftarkan diri sebagai pengurus Dewan Kesenian Banten. Dari mulutnya saya mendapat informasi bahwa pemilihan dilaksanakan melalui tim seleksi yang terdiri dari 9 orang seniman dan ditargetkan pada 4 Oktober 2015 sudah dilantik oleh Gubernur definitif Provinsi Banten. Sepulangnya rekan saya tadi mulailah kegelisahan bertumbuh di benak saya. Dan pertanyaan-pertanyaan merambat dengan pesat di dalam kepala.
Begitu mendadaknya tahapan sosialisasi yang kurang dari sebulan ini, apakah sebanding dengan target jumlah seniman yang tersebar di Provinsi Banten agar antusias berpartisipasi dalam pemilihan ini?

Di era dimana informasi bisa tersebar dengan cepat, kenapa masih ada sosialisasi yang masih menggunakan cara ‘kuno’ yaitu beriklan di harian lokal dan berharap tersebar cepat ke seluruh penjuru Banten. Apakah tim seleksi mengetahui bahwa tidak semua seniman berlangganan harian tersebut? Belum lagi tidak semua seniman yang mengetahui berita itu juga mau menyebarkan warta tersebut. Kenapa tidak diperluas sosialisasinya dengan mengadakan pertemuan dengan Dewan Kesenian tingkat Kota/Kabupaten se-Banten dan mendorong mereka untuk menyebarkan informasi hingga ke komunitas-komunitas atau sanggar seni? Atau melalui cara yang lebih modern; menyebarkan melalui media sosial yang efisien serta efektif sehingga melengkapi apa yang sudah termuat di harian lokal. Saya meyakini pasti tersedia dana sosialisasi yang tidak sedikit dari Pemerintah Provinsi walau saya tidak mengetahui dengan pasti nominalnya.

Tahapan yang terkesan terburu-buru ini juga menimbulkan pertanyaan seberapa urgensi dari pembentukan Dewan Kesenian Banten kali ini? Bila kepengurusan baru ini adalah kesinambungan dari sebelumnya maka semestinya ini sudah terjadwal sejak jauh hari. Tetapi memang ada yang baru dari pemilihan kali ini yaitu dengan adanya lowongan terbuka dan tim seleksi. Lowongan terbuka mengisyaratkan kepengurusan yang dicari tidak harus dari pengurus periode sebelumnya. Eksistensi tim seleksi, mengingatkan saya akan Akademi Jakarta, juga mengindikasikan kepengurusan yang terpilih nantinya bisa mewakili segenap unsur seni dan memahami apa yang dibutuhkan oleh senimannya.

Bisa jadi sosialisasi yang cepat dan tidak meluas ini adalah strategi dari tim seleksi untuk meminimalisir jumlah pelamar hingga tidak memperlambat tahapan agar sesuai dengan jadwal pelantikan. Pada sisi yang lain, bagi yang ingin menjadi pengurus, tentu hal ini merugikan karena keinginan mereka tidak didukung informasi yang lengkap dan meluas. Untuk saya, segala yang mendadak biasanya tidak mendidik.

 

DEWAN KESENIAN

 

Dewan adalah kata yang memiliki arti majelis atau badan yang terdiri dari beberapa orang anggota yang pekerjaannya memberi nasihat, memutuskan suatu hal , dan sebagainya dengan jalan berunding. Definisi ini saya kutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam kalimat lain bisa diartikan Dewan adalah Forum untuk memutuskan sesuatu hal yang spesifik.

Bila mengambil contoh Dewan Perwakilan Rakyat maka menjadi jelas kenapa tugas mereka terbatas pada legislasi (membuat perundang-undangan), keuangan (menetapkan RAPBN menjadi APBN) dan pengawasan terhadap eksekutif. Walau, kabarnya, melalui UU MD3, yang direvisi dalam suasana tanpa musyawarah mufakat, ada fungsi yang ditambahkan yaitu diplomasi. Namun secara garis besar jelas bahwa tugas Dewan tetaplah hanya sebatas mengarahkan dan mengawasi. Yang namanya Dewan tidak bisa melaksanakan fungsi eksekusi anggaran atau kebijakan.

Bagaimana dengan Dewan Kesenian? Dalam KBBI juga ada keterangan terhadap Dewan Kesenian yaitu dewan yang bertugas membina dan mengembangkan kesenian. Membina dan mengembangkan memiliki konklusi kepada mengarahkan. Sekali lagi jelas ada konsistensi dari pemahaman Dewan Kesenian sebagai kata derivasi dari Dewan, bahwa dewan adalah badan yang hanya bertugas mengarahkan.

Kenapa kata mengarahkan menjadi penting bagi saya, karena inilah roh dari kata dewan itu sendiri. Konkretnya di dalam Dewan Kesenian dimana Komite-komite sebagai manifestasi pelaksana tugas dewan hanya merumuskan kebutuhan seniman dan mengembangkan program pembinaan dengan sasaran komunitas-komunitas seni yang ada. Fungsi komite sebatas panitia pengarah dan memberi kesempatan yang adil kepada komunitas-komunitas untuk dipercaya bertindak sebagai panitia pelaksana. Hal ini juga memberikan peluang bagi regenerasi organisasi secara terukur dan berkelanjutan.

Apalagi dalam hitungan beberapa bulan ke depan kita akan memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN dimana salah satu indikasinya adalah bebasnya tenaga kerja dari negara-negara ASEAN untuk memasuki lapangan kerja di negara-negara ASEAN. Membina dan mengembangkan adalah sebuah sistem yang mengarah kepada pembentukan kualitas dari para senimannya. Itulah idealnya fungsi dewan kesenian karena itu sudah sewajibnya pengurus dewan kesenian memiliki kemampuan untuk merumuskan permasalahan dan menemukan solusi terhadap perkembangan kesenian.

 

DEWAN KESEPIAN

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, semoga tidak ada yang perlu tersinggung karenanya, bahwa dewan kesepian adalah sindiran terhadap dewan kesenian. Dewan kesenian seperti apa yang lantas menjadi target sindiran tersebut?

Dewan Kesenian yang kesepian adalah dewan yang melaksanakan program-program tanpa keselarasan dengan kebutuhan para senimannya dan hal ini bisa dilihat dari sepinya animo seniman untuk mengikuti acara yang dilaksanakan, bahkan penyelenggara perlu memberi honor kepada audiens agar terlihat ada pesertanya, target penyelenggara adalah hanya menghabiskan anggaran rutin dengan laporan keuangan yang jelas. Biasanya acara-acara yang dilaksanakan pun hanya itu-itu saja tanpa ada inovasi apalagi motivasi untuk pengembangan kualitas seniman.

Saya jadi ingat pertanyaan Rita Matu Mona di laman facebook-nya mengenai kenapa setiap tahun ada begitu banyak acara pementasan, workshop, diklat, festival dan lain sebagainya tetapi tidak berdampak kepada peningkatan kualitas kesenian itu sendiri.Saya pikir itulah program-program dari dewan kesepian yang tidak peduli terhadap pengembangan kesenian selain hanya kepada anggaran kesenian.

Stamina para pengurus dewan kesepian terkuras habis karena mereka menerjunkan diri hingga ke masalah detil teknis pelaksanaan, membuat mereka tak sempat memikirkan program-program inovatif yang lebih sesuai dengan kebutuhan seniman. Yang menjadi kebanggaan dari dewan kesepian adalah kuantitas program dan laporan keuangan yang rasional.

Ada banyak alasan kenapa itu terjadi. Bisa karena honor sebagai pengurus yang tidak memadai atau bisa pula karena ketidak tahuan mereka akan fungsi hakiki dari menjadi pengurus dewan kesenian, dalam banyak kasus ada pula karena karakter si pengurus itu sendiri yang enggan berbagi.

 

DEWAN KESENIAN YANG TAK KESEPIAN.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan agar dewan kesenian tak lagi kesepian, yang utama tentu pola rekrutmen. Dengan sistem lowongan terbuka tentu ini baik bagi dewan kesenian untuk berpeluang memiliki pengurus dengan kompetensi, kapasitas dan kapabilitas. Sistem ini setidaknya bisa memberi kesempatan yang sama kepada semua seniman untuk terlibat tanpa dibatasi kepada komunitas-komunitas atau sanggar-sanggar tertentu yang memiliki kedekatan dengan para anggota tim seleksi. Pola rekrutmen terbuka ini juga seharusnya bisa meminimalisir para kandidat yang tidak memiliki kemampuan konsepsi dan manajerial. Kemampuan konsepsi diperlukan agar pengurus dapat merumuskan kebutuhan seniman yang sesuai dengan kehendak zaman. Kemampuan manajerial jelas diperlukan agar energi pengurus tidak habis karena semua hal dikerjakan sendiri. Kedua kemampuan ini menuntut kecerdasan intra-personal dan inter-personal dari kandidat, karena tanpa kecerdasan intra dan inter-personal bisa dipastikan tidak memiliki kemampuan konsepsi dan manajerial.

Kualifikasi yang jelas dari tim seleksi juga harus disosialisasikan karena hal tersebut terkait dengan kredibilitas tim seleksi, saya sendiri hingga saat menuliskan ini masih belum mengetahui kualifikasi pengurus seperti apa yang dipahami oleh tim seleksi karena seorang kawan yang sudah berjanji akan mengirim surel soal ini ternyata tidak mengirimkannya kepada saya. Jangan sampai persyaratan dibuat hanya untuk meloloskan orang-orang tertentu atau negasinya.

Hal lain yang penting untuk dilakukan adalah pembentukan Komisi Pengawas Dewan Kesenian itu sendiri. Biasanya fungsi pengawasan selama ini justru disfungsi, menjadi pelengkap dari struktur semata. Sementara publik sendiri masih menganggap dunia seni adalah urusan seniman, karenanya bila terjadi penyelewengan atas dana publik yang dilakukan dewan kesenian publik tak bereaksi. Jangankan publik, senimannya sendiri juga tidak ereksi bila terjadi penyimpangan dalam dewan kesenian. Sementara birokrasi justru kadangkala yang menutup mata sepanjang laporan keuangan dapat dipertanggungjawabkan. Sekedar informasi, banyak kepala daerah yang menjadi tersangka korupsi sementara BPK memberi predikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) atas laporan keuangan mereka.

Keberadaan Komisi Pengawas Dewan Kesenian menjadi urgen agar para pengurus bisa merasakan pengawasan atas tugasnya sebagai pengurus dewan kesenian. Komisi ini juga diharapkan bisa menganulir program-program yang tidak sesuai dengan AD/ART atau pun tidak bertujuan untuk membina dan mengembangkan kesenian. Dengan pengawasan terhadap program-program yang dilakukan maka bisa saja Komisi memberi rekomendasi pemecatan kepada Ketua terhadap pengurus yang melakukan tindak pidana atau melanggar hukum.
Lalu apa peran seniman lainnya yang tidak terpilih atau tidak mengikuti pemilihan ini? Bila fungsi ideal dewan kesenian seperti yang sudah saya tulis tadi dijalankan maka bagi seniman yang tidak terpilih atau mengikuti bisa mempersiapkan diri bersama komunitasnya untuk mengajukan program atau menjadi pelaksana program yang sudah dijadwalkan komite-komite seni. Tetapi seperti juga sudah saya tulis bahwa keberadaan dewan kesenian belum tentu menarik atensi semua seniman walau begitu tentu tidak menutup pintu kerjasama di kemudian hari.

Seniman adalah manusia kreatif, tanpa terlibat dalam dewan kesenian pun tidak lantas menghilangkan kreatifitasnya. Kritik para seniman terhadap dewan kesenian pun seyogianya bisa menjadi pemicu kreatifitas bagi pengurus dewan kesenian yang terpilih. Karena kritik adalah bentuk lain dari perhatian juga interaksi sehingga dewan kesenian tidak lagi menjadi dewan kesepian.