APUNG

Pada suatu masa hiduplah seorang pemuda yang sakti tiada tara. Kemampuannya sudah menyatu sejak ia dilahirkan yang ditandai dengan bunyi guntur berbarengan dengan gerhana matahari.  Di saat bayi yang baru keluar dari rahim itu menangis maka gerhana pun usai dan bumi kembali disirami sinar mentari.

Ayah dan ibunya tidak menyadari kaitan antara kelahiran bayinya dengan fenomena alam tersebut. Keduanya hanya orang biasa yang berpikir sederhana.

Sampai ketika usia anak itu menginjak tujuh tahun, terjadi sebuah peristiwa yang membuat mereka percaya bahwa anaknya bukan anak biasa.

Kala itu hujan turun di sore hari, sang anak yang sedang bermain di lapangan dipanggil ibu untuk pulang. Anak itu menuruti perintah ibu. Namun belum lama ia melangkah petir menyambar pohon kelapa tepat di sisi sang anak. Tidak hanya buahnya saja yang berjatuhan, melainkan batang pohon tersebut jatuh menimpa si anak. Ibu yang menyaksikan itu menjerit dan berlari menghampiri. Belum sampai ia tiba, rongsokan batang dan buah kelapa itu terpental ke segala arah karena empasan tangan anaknya.

Ibu kaget sekaligus gembira karena anaknya tak terluka sedikitpun jua.

Sejak itu ibu dan ayah lalu mengaitkan saat kelahiran dulu dengan kejadian  itu dan mereka meyakini bahwa anaknya memiliki kesaktian yang dianugerahi Yang Maha Kuasa.

Mereka merawat anak itu dengan kasih sayang dan berusaha sekeras mungkin mencukupi kebutuhannya.

Si anak tumbuh menjadi pemuda gagah yang membanggakan orangtuanya.

Namun, hidup anak memang tidak bisa dikendalikan sepenuhnya oleh orangtua. Tiba masa pemuda itu ingin menjalani kehidupan berdasarkan sudut pandangnya. Ia minta izin untuk mengembara ke negeri seberang, orangtuanya cemas akan permintaan itu. Awalnya mereka menolak yang direspon dengan pembangkangan oleh anaknya. Hati kedua orang tua ini sedih karena kekerasan tekad anak yang tak bisa dibendung. Maka dengan berat, mereka mengizinkan anaknya berkelana.

Pemuda itu akhirnya berlayar dan bekerja di pelabuhan. Ia mulai sebagai kuli bongkar muat. Karena kekuatannya maka ia disenangi oleh atasan sebab ia bekerja tiga kali lebih cepat dan lebih banyak dibanding kuli lainnya.

Pemuda itu pun kerap diberi bonus dan itu setara dengan dua hingga tiga kali upahnya. Dengan penghasilan yang lebih banyak itu membuatnya dibenci oleh kuli lainnya. Mereka pun berniat memberi pemuda itu pelajaran dengan mengeroyoknya. Tetapi yang terjadi malah kuli-kuli tersebut yang kesakitan lantaran tak kuat memukuli tubuh pemuda itu.

Esoknya, tak ada yang bekerja selain si pemuda. Namun itu tidak menjadi masalah buatnya. Pemuda sakti itu mengerjakan seluruh tugas bongkar muat sendirian saja. Hingga malam tiba semua kerja usai dan tinggallah letih menerpa.

Ia pun tertidur.

Di saat lelap, kuli-kuli lain yang sakit tubuh dan hatinya itu kembali bersekongkol untuk menyingkirkannya. Kali ini mereka menggotong dan meletakkannya di sebuah biduk yang lalu dilepaskan ke samudera bebas. Esoknya di kala fajar tiba, pemuda itu mendapati dirinya sudah berada di lautan yang tak ia kenali letaknya. Tak ada alat bantu apapun didalam biduk selain dirinya seorang.

Ia berusaha mendayung menggunakan kedua tangannya tetapi karena tak tahu arah maka perahu kecilnya kian tersesat di samudera luas.

Seharian ia melakukannya namun tak setitikpun tanda adanya daratan di pelupuk mata. Hatinya kian gelisah, pikirannya tambah resah dan ia kian tak tahu arah.

Kesaktiannya tak ada guna, karena sendiri ia hanya sepotong kayu yang mengikuti kemana arus laut melaju.

Hingga kata ke-524 yang saya ketik ini pun, ia masih terapung di lautan raya. Entah sampai kapan akan ia temukan daratan nantinya.

 

11-18 Oktober 2018

CHANG CHI-MAN

Sebelas  orang berselempangkan AK-47 naik dari buritan kapal, mereka lantas menyebar sambil menodongkan senapan ke arah para ABK yang sudah terduduk pasrah.  Kapal ini berbendera Australia dengan awaknya yang berasal dari berbagai negara, ketika dibajak sedang mengangkut 56.789 ton batubara dari Pelabuhan Tarakan menuju Pelabuhan Yokohama. Di tengah perjalanan rupanya kawanan perompak Lanun Majenun sudah mengintainya dan membajaknya di tengah perairan internasional. Peristiwa ini bukan yang pertama bagi kelompok Lanun Majenun, mereka merompak untuk mendanai perjuangan membentuk negara sendiri di pulau Majenun. Modus operasi mereka biasanya menjual barang bawaan kapal dan menyandera para awak demi uang tebusan yang besarannya tidak bisa ditawar. Uang yang mereka terima dari penjualan di pasar gelap dan tebusan para sandera setelah dipotong merata untuk biaya operasional akan dibelikan persenjataan mutakhir juga dari pasar gelap. Kali ini kapal Australia yang menjadi korban, dan kesebelas orang dengan senapan AK-47 ini segera memindahkan para ABK ke kapal kecil mereka untuk dibawa ke pulau Majenun, tanah air Lanun Majenun. Tinggallah 5 orang dari perompak ini yang bertugas menjaga kapal sambil menghubungi pembeli batubara di tengah lautan. Sayangnya, komunikasi mereka tersadap oleh agen rahasia dan akibatnya dalam hitungan sepuluh menit saja, sebenarnya  9 menit 21 detik namun dibulatkan ke atas,  kelima perompak ini dikagetkan oleh sesuatu yang muncul dari laut di muka kapal secara tiba-tiba. Belum habis rasa kaget itu, mereka dikejutkan lagi oleh sengatan listrik yang mengenai tangan dan kaki mereka secara bergantian. Dampaknya senapan yang digenggam pun terlempar ke bawah dan kelima perompak tersebut jatuh pingsan seketika. Sesuatu yang muncul dari laut dan menembakkan arus listrik ke arah para perompak itu adalah Chang Chi-Man. Robot super berbaju baja dengan perlengkapan canggih dan ketangkasan yang tiada lawan. Chang Chi-Man mengontak Pusat Kontrol dan melaporkan kondisi kapal beserta batubaranya aman. Sesudahnya ia mendapat koordinat baru untuk dituju, ke lokasi para sandera dibawa dan kemudian ia pun mengubah sebagian kakinya menjadi semacam papan ski dengan mesin pendorong bertenaga jet. Dalam hitungan menit, detilnya dua menit 19 detik, Chang Chi-Man sudah menyusul perahu pembawa sandera, terjadi kontak senjata antara perompak dengan Chang Chi-Man namun kesemua peluru yang ditembakkan tidak menembus kulitnya. Keenam perompak itu berusaha menjadikan para sandera sebagai tameng, namun upaya mereka kalah cepat dari aksi Chang Chi-Man yang tiba-tiba saja sudah di tepi perahu dan kembali menembakkan arus listrik kepada para perompak yang sudah diidentifikasi olehnya sejak kontak senjata tadi. Semua perompak menggelepar pingsan dan menyisakan para sandera yang sedari tadi menunduk sambil menutup kepala mereka dengan kedua tangan.  Tepat jam 1 siang operasi pembebasan kapal berbendera Australia dari pembajakan kelompok Lanun Majenun telah berakhir dengan tingkat keberhasilan 100% dan tanpa korban satu pun dari semua pihak. Para sandera dipisahkan dari perompak dan mereka diamankan oleh pasukan Australia yang memang sudah bersiaga di perbatasan. Para perompak ditangkap dan diadili di Mahkamah Internasional.

 

Keberhasilan Chang Chi-Man dalam waktu satu jam kemudian sudah diberitakan di media massa. Semua stasiun tv berita dunia mengirim jurnalis terbaiknya ke perairan di dekat lokasi perompakan, begitu pula pewarta foto dari berbagai negara ramai-ramai ikut menumpang kapal militer Australia yang bersedia mengantarkan mereka mendekati kapal yang dibajak untuk mendapat foto yang eksklusif. Judul beritanya hampir senada, berupa puja-puji bagi Chang Chi-Man. Nyaris tak ada media arus utama yang mendapati setitik pun cela dari operasi pembebasan ini. Chang Chi-Man menjadi kesayangan media. Kecuali bagi media-media perlawanan anonim yang memang sedari dulu tidak setuju dengan sikap redaksi media arus utama.

 

Chang Chi-Man adalah sebuah prototipe dari investasi besar untuk keamanan dunia. Ia diciptakan dari tubuh manusia yang diisi dan dilapisi dengan teknologi pertahanan dan persenjataan mutakhir.  Dimodali oleh konsorsium multinasional dan dilandasi oleh kekhawatiran kian maraknya tindak terorisme  yang menyasar kepentingan-kepentingan ekonomi dan berimbas kepada krisis global maka diciptakanlah Chang Chi-Man. Tugasnya menjamin keamanan dunia. Ya di dunia. Karena aparat polisi atau tentara seringkali tidak bisa bertindak cepat karena kendala prosedural teritorial, maka dicapailah kesepakatan bahwa Chang Chi-Man dapat beroperasi di wilayah mereka guna menjamin keamanan tanpa izin apa pun sepanjang Chang Chi-Man lewat Pusat Kontrol selalu melaporkan keberadaannya di negara yang didatanginya. Luar biasa.

 

Tugas mulia dan privilese yang diterima Chang Chi-Man ini memang sebanding. Robot pahlawan super ini memang tak ada duanya. Padahal, dulunya ia adalah seorang kuli pasar yang suka berkelahi. Pernama, ini bukan salah tulis tapi memang namanya Pernama dan bukan Purnama atau Permana, adalah sosok yang ditakuti oleh warga sekitarnya. Tidak hanya karena tubuhnya yang kekar, tetapi juga karena kemahirannya berkelahi. Ia ditakuti sekaligus disegani.  Banyak remaja-remaja mengagumi Pernama karena ia juga mengajarkan seni bela diri tanpa meminta bayaran. Ia ditakuti oleh preman jalanan hingga ormas paramiliter karena pembelaannya terhadap pedagang pasar yang sering dimintai uang ini-itu setiap hari. Tak terhitung lagi mereka yang sudah merasakan pukulannya dan kemudian mengumpulkan dendam hari demi hari. Sampai pada suatu ketika, para preman jalanan ini bersekutu dengan ormas paramiliter menjalankan strategi mengakhiri Pernama. Mereka menculik Pernama disaat ia tertidur lelap dan memukulinya bertubi-tubi dengan benda apa pun yang di dekatnya. Pernama tewas dan mayatnya dibuang ke pinggir jurang, preman jalanan serta ormas berpesta. Warga bertanya-tanya akan hilangnya Pernama. Mereka tidak tahu mencari kemana. Setelah tiga hari, bau mayat melesat ke atas jurang dan seorang supir truk yang sedang kencing mencium bau itu dan menemukannya. Ia melapor ke polisi dan kemudian paramedis berdatangan mengambil mayat Pernama yang tidak dikenali itu untuk dibawa ke rumah sakit.

 

Di rumah sakitlah, mayatnya ditemukan oleh tim ekspedisi yang ditugaskan untuk mencari tubuh yang cocok untuk menjadi bagian dari proyek yang dikerjakan. Statusnya sebagai mayat yang tak dikenal dan tidak ada keluarga yang mengambil  juga menjadi salah satu faktor penting dalam pemilihan itu. Mereka mengotopsi mayat Pernama dan menemukan bahwa struktur ototnya bagus, jantungnya sehat, dan memiliki bentuk fisik yang proporsional. Tim tersebut membawa mayat Pernama yang dilabeli sebagai Mr.X itu ke laboratorium mereka di Haifa. Mereka membedah tubuhnya dan memasangkan beragam jaringan elektronis menggantikan urat-urat syaraf lama. Mereka juga mengenakan baju baja yang bisa berubah bentuk sesuai kebutuhan. Mirip dengan Iron Man, bedanya yang ini permanen. Mereka telah menjadi tuhan, menghidupkan kembali Pernama dalam bentuk baru: Chang Chi-Man. Namanya diambil dari nama konsorsium yang memodali proyek ini. Komposisi kepemilikannya adalah  27,71% Chang Chi Corp dari Tiongkok, 21,9% Al Eldul Oil dari Arab Saudi, 19,77% West e-West Ltd dari Amerika Serikat, 17,71% Beth Shame Bank milik Israel dan sisanya 12,91% dimiliki Rostograd Akademiya dari Rusia. Dengan modal finansial dari multinasional inilah proyek keamanan dunia didanai.

kerangka cerpen Chang Chi-Man

                             Kerangka Cerpen Chang Chi-Man

Lima bulan lamanya mayat Pernama yang bermetamorfosa menjadi Chang Chi-Man dilatih oleh instruktur-instruktur multi-disiplin yang terbaik dari penjuru dunia.  Karena struktur tubuhnya yang sudah terlatih maka tidaklah sukar bagi para pelatih itu untuk mengajarkan tehnik bela diri. Kendala hanya pada mengadaptasi baju baja dan penerapannya untuk berbagai situasi.  Karena Chang Chi-Man sejatinya adalah robot yang memakai wadah tubuh manusia maka perasaan dan logikanya diganti menjadi memori yang mekanis.

 

Pada bulan ke-tujuh Chang Chi-Man diuji cobakan terjun ke lapangan, dengan misi menangkap seorang dari etnis Uighur yang hendak meledakkan diri di lapangan Tiananmen. Misi berhasil, tersangka teroris dilumpuhkan dan bom yang berada di rompinya berhasil dijinakkan. Media tidak mengetahui, selain karena restriksi berita yang menjadi kewenangan pemerintah Tiongkok namun juga karena  ini adalah medan uji coba yang tidak perlu diketahui publik. Begitupun misi berikutnya, menangkap penjual senjata dari Rusia yang hendak bertransaksi dengan pembelinya di Palmyra. Dilanjutkan misi demi misinya di berbagai lokasi dunia sengaja dirahasiakan dari publik dikarenakan sifatnya yang percobaan.

 

Pada bulan ke-delapan barulah Chang Chi-Man diumumkan kepada publik tepat sesudah operasi pembebasan kapal Australia yang dituliskan pada awal cerita ini. Ini adalah kejutan bagi dunia, munculnya pahlawan super yang tidak didominasi oleh negara tertentu. Pahlawan dengan nama a la asia dan kemampuan yang tiada dua. Delapan pemimpin negara besar dunia segera mengadakan pertemuan untuk membahas dukungan bagi program Chang Chi-Man yang pada intinya memberikan izin baginya untuk beraksi menumpas kejahatan global bila itu berlangsung di wilayahnya. Tidak butuh waktu lama bagi delapan negara besar ini untuk mendiktekan apa yang sudah dilakukannya agar diterima di ratusan negara lainnya. Akhirnya Chang Chi-Man memiliki izin tanpa batas untuk beroperasi di seluruh penjuru dunia. Berbagai korporasi juga bergabung dalam konsorsium untuk memasok berbagai perlengkapan yang dibutuhkan Chang Chi-Man. Dari kepala hingga mata kaki semuanya adalah produk terbaru dengan garansi seumur hidup. Chang Chi-Man menjadi fenomena menarik idaman media massa, karena dunia selalu butuh idola baru. Ia laksana “opium for the people” yang didengungkan Marx dahulu kala. Berbagai produk turunan dengan model Chang Chi-Man seperti boneka, komik, bantal, film animasi dan lain-lain menjadi incaran publik di manapun jua.

 

Jam sembilan malam, ia mendapat perintah baru. Misi kali ini adalah memadamkan upaya pemberontakan yang melibatkan rakyat miskin di sebuah negara kepulauan. Pemberontakan ini dirancang oleh aliansi Anarkis, Komunis, Sosialis dan Islamis (AKSI) dengan bertumpu pada dukungan mayoritas  rakyat miskin di negeri yang konon potensial menjadi besar itu. Aksi revolusi ini dikhawatirkan akan menghancurkan fundamental ekonomi negeri itu yang sebagian besar didanai dari pinjaman luar negeri dengan agunan sumber daya alam. Belum lagi ancaman nasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak luar negeri. Semua indikator ditambah data intelijen sudah memungkinkan bagi Chang Chi-Man untuk beraksi. Demi memadamkan pemberontakan ini maka ia harus menangkap para pemimpin aliansi AKSI. Chang Chi-Man segera terbang dengan kecepatan tinggi  ke ibukota negara kepulauan ini. Tak dinyana ia disambut oleh rakyat miskin bersenjatakan bambu runcing sebagai juru selamat. Mereka mengira kedatangannya untuk membantu revolusi ini. Namun tidak demikian dengan apa yang ada di pikiran para pemimpin AKSI. Mereka curiga Chang Chi-Man akan memadamkan pemberontakan, untuk itu mereka merancang jebakan maut dengan meminta robot itu berpidato di tengah kepungan massa. Chang Chi-Man belum mendapat momentum tepat untuk melaksanakan tugasnya, karenanya ia mencoba mengikuti alur yang ditawarkan orang-orang yang ingin ditangkapnya ini. Di depan podium sederhana ia kini berdiri, namun sesaat setelah ia menyentuh tiang mikropon yang sudah dialiri listrik bertegangan tinggi maka terlemparlah ia dan mengakibatkan gangguan pada sistem memorinya. Dalam keadaan tidak sadarkan diri, para pemimpin AKSI membuka paksa topeng baja di kepala Chang Chi-Man dan , “Pak Nama?”seru seorang yang pertama melihat wajah itu. “Pak Per!”, seru seorang lagi yang juga menatap. Keduanya mengenali wajah ini dengan panggilan yang berbeda. Yang menyebutnya Pak Nama adalah bekas murid bela dirinya sedang yang memanggil Pak Per adalah mantan ketua ormas paramiliter yang kini keduanya bersekutu untuk menggelar revolusi.

 

Chang Chi-Man dibawa ke ruang interogasi oleh rakyat yang masih bingung akan apa yang terjadi. Disitu ia diikat rantai baja. Sekitar jam 10 malam, ia siuman. Dengan topeng yang terbuka dan kerusakan pada memorinya membuat ia tak bisa mengendalikan kekuatannya. Disini para pemimpin AKSI bergantian memeriksa sembari melakukan reindoktrinasi. Mereka membongkar ulang pemahaman Chang Chi-Man akan siapa dirinya di tengah dunia. Mereka menunjukkan bukti penunjang berupa dokumentasi kekejaman kapitalis global lewat para penguasa terhadap rakyat miskin.  Pada saat itu berlangsung, komunikasi dengan Pusat Kontrol memang terputus akibat meledaknya beberapa cip dalam tubuh Chang Chi-Man yang bertugas sebagai  pengirim dan penerima sinyal komunikasi.  Namun sebenarnya Chang Chi-Man memang dibuat dengan teknologi tinggi yang memungkinkan setiap perangkat dapat memperbaiki sendiri kerusakan yang dialami dengan durasi minimal satu jam tergantung dari tingkat kerusakannya. Dan sementara perbaikan swadaya berlangsung, indoktrinasi yang terjadi secara tidak sadar merasuk kedalam memori Chang Chi-Man. Akibatnya terjadi pemahaman baru bahwa ia hanya alat penghancur milik kapitalis global. Di saat yang tidak begitu lama, perbaikan setiap perangkat telah selesai dan komunikasi dengan Pusat Kontrol kembali berlangsung. Chang Chi-Man kembali bisa dikendalikan dan ia pun melepas rantai baja yang mengikatnya kemudian atas perintah Pusat Kontrol ia menangkap para pemimpin AKSI tanpa perlawanan berarti. Ia membawa ke empatnya menuju pelabuhan terdekat dan meminta kapal induk untuk segera merapat dan membawanya kembali ke Pusat Kontrol.

 

Jelang tengah malam mereka sudah berada di Pusat Kontrol. Para pemimpin AKSI digiring ke penjara, sedang Chang Chi-Man dibawa ke pusat perbaikan untuk mendeteksi kerusakan yang ada. Namun kini Chang Chi-Man telah berubah, ia bukan lagi Chang Chi-Man yang mutlak di bawah kendali Pusat Kontrol, ia kini bisa berpikir merdeka dan mendapati bahwa dirinya bukan lagi penjaga keamanan dunia melainkan penjaga kepentingan kapitalis global. Ia mengamuk dan menghancurkan segala yang ada didekatnya. Ini pemberontakan Chang Chi-Man.  Ia menuju Pusat Kontrol dan melumpuhkan semua penjaga serta menghukum mati para pengendali. Namun Pusat Kontrol punya kartu truf bila terjadi malfungsi. Mereka menekan tombol pemusnahan Chang Chi-Man. Dengan tombol itu maka akan terjadi kerusakan yang dilakukan oleh setiap perangkat dalam diri Chang  Chi-Man secara simultan dan otomatis. Mereka semua hancur secara bersamaan tepat semenit sebelum jam 12 malam. Dan keadaan ini memaksa para investor untuk menghentikan program Chang Chi-Man seraya menyebarkan kabar bahwa robot pahlawan itu hancur dalam ledakan yang dirancang oleh pemimpin AKSI. Berita ini mengguncangkan dunia sekaligus meredam nafsu pemberontakan di negeri kepulauan tadi. Dunia bersatu dalam duka, bendera setengah tiang dikibarkan sejak pukul 00:00 hingga batas waktu yang belum ditentukan.

 

Ditulis pada tanggal 27 April 2016

Selesai jam  17:00 WIB

 

MENCARI GURU PRIVAT TUTUP MULUT

tutupmulut

Pikiran tersebut melintas dan mengendap dalam benaknya selama dalam perjalanan pulang. Namun dimana mencari guru privat tutup mulut? Apa perlu membuat selebaran dan menempelkannya di tiang-tiang listrik berjejal dengan iklan sedot wc? Atau cukup menuliskannya di laman belanja daring dan menunggu respon via telepon atau surel? Selebaran di tiang listrik atau iklan daring hanya menjawab bagaimana mencarinya namun tidak menuntaskan untuk pertanyaan dimana mencarinya. Lagi pula ada yang lebih mendasar: apa pernah ada guru privat tutup mulut?

Dimanapun, yang namanya guru harus menerangkan sejelas-jelasnya kepada sang murid mengenai apa yang dipelajari. Metodologi pendidikan sudah seperti itu dari zaman dahulu. Ada teori dan ada pula praktik untuk segala hal. Keduanya bertaut dalam upaya memberikan pemahaman menyeluruh kepada murid. Teori tanpa praktik akan membuat murid mengawang, praktik tanpa teori hanya membuat murid tersesat. Akan menjadi baik bila tersesat di jalur yang tepat, banyak yang menyebut itu jalan pintas menuju tuntas, tetapi tidak semua orang diberi anugerah dapat memilih sendiri jalurnya yang tepat. Itulah kenapa ada orang-orang yang memiliki talenta mendidik orang lain agar mampu menemukan jalurnya yang tepat.

Masalahnya adalah apa yang diajarkan seorang guru tutup mulut? Tujuannya jelas, mampu membuat mulut terjaga rapat. Tetapi bagaimana metodologinya? Teori dan praktik tutup mulut belum menjadi ilmu yang sistematis. Teori tutup mulut belum terdefinisikan dengan jelas. Kebanyakan upaya tutup mulut adalah sebatas respon atas suatu permasalahan yang dirasa tidak mampu atau tidak ingin untuk dijawab. Ada pula beberapa kasus tutup mulut yang didramatisir dengan menjahit mulut sebagai upaya mendapat perhatian atas tuntutan yang diajukan. Untuk hal tersebut baru terjadi belakangan ini di kala media memberikan ruang lebih bagi aksi-aksi dramatis yang dilakukan individu dengan tujuan tertentu. Apakah tutup mulut bagian dari ilmu komunikasi? Bila ya maka yang nampak adalah kontradiksi. Bagaimana mungkin mengomunikasikan sesuatu dengan menutup mulut? Bila mengutip frasa “medium is the message” maka itu menjadi mungkin. Tutup mulut menjadi pesan yang ingin dikomunikasikan. Tetapi dalam realita hal tersebut menjadi mengawang, karena tidak adanya relasi interaktif antara komunikator dengan komunikan. Tanpa relasi interaktif maka komunikasi yang terjalin lebih tepat disebut monolog. Penceramah, ulama, guru, aktor, komandan tentara hingga orang gila melakukan komunikasi dalam bentuk monolog dengan tujuan yang berbeda. Mereka menuntut aksi tutup mulut dari sasaran komunikasinya agar apa yang disampaikannya utuh tidak terpotong. Pengecualian mungkin bagi orang gila, karena sepertinya mereka tidak peduli apakah ada yang mendengarkan monolog mereka.

Setiap manusia memiliki kebutuhan untuk bersosial, berinteraksi dengan sesama manusia. Komunikasi menjadi wahana mewujudkan kebutuhan tersebut. Ada beragam komunikasi yang bisa dilakukan, bisa secara verbal melalui bantuan mulut untuk menyuarakan apa yang ingin diungkapkan, bisa pula melalui tulisan bila komunikasi verbal dirasa memiliki keterbatasan seperti yang terjadi pada mereka yang tidak mampu berbicara dengan jelas karena cacat atau karena ada rincian yang sulit dibedakan melalui ujaran. Selain itu ada pula komunikasi yang disampaikan melalui penanda entah itu bahasa tubuh atau kode-kode dengan bantuan alat atau benda. Contoh konkret bentuk komunikasi ini adalah karya seni karena seni mengincar jiwa sebagai sasaran komunikasinya tetapi tidak seperti komunikasi verbal atau tulisan yang jelas dan ringkas maka komunikasi penanda mendapatkan tafsir yang berbeda-beda dari setiap jiwa atau malah bisa saja tidak berarti apapun. Selain itu komunikasi penanda yang disampaikan sebuah karya seni lebih sebatas simulasi dari realitas dan bukan realitas itu sendiri karenanya butuh jiwa dengan wawasan luas dan merdeka untuk mampu mengkonversi penanda-penanda tersebut menjadi komunikasi dialogis dalam realitas sehari-hari. Tutup mulut dapat saja dikategorikan sebagai bentuk komunikasi penanda namun bila itu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari hanya akan menelurkan kevakuman. Dan dalam situasi tersebut sulit terjadi interaksi dialogis.

Masalah lainnya adalah bagaimana praktik pelajaran tutup mulut? Ini pertanyaan yang timbul bila kita memaksakan tutup mulut sebagai suatu komunikasi. Bagaimana guru mengajarkan praktik tutup mulut? Bila ia melakukannya dalam aksi tutup mulut apakah murid memahami cara tepat untuk tutup mulut sebagaimana yang diajarkan? Bila guru mengajarkan tutup mulut dengan kata-kata yang berlimpah justru menjadi kontradiktif seperti yang sudah saya tuliskan di alinea dua cerita ini, bukan?

Ya, ini sebuah cerita. Halaman pembuka seperti yang sudah tertulis di atas mirip kolom, atau artikel yang berisi opini. Padahal saya sedang menulis cerita. Dan tokoh dalam cerita ini masih dipusingkan oleh masalah dimana mencari guru privat tutup mulut. Tidak pernah ada orang di dunia ini yang pernah menjadi guru privat tutup mulut, setidaknya google tidak pernah menemukan data tentang hal tersebut. Lagi pula tidak pernah tercatat ada orang yang membutuhkan guru privat tutup mulut, karena bila ada yang pernah memerlukan maka akan menciptakan peluang kerja sebagai guru privat tutup mulut dan imbasnya bisa jadi akan tercatat di google. Sempat terpikir olehnya untuk mendatangi Limbad, seorang penghibur dalam bidang ilusi yang terkenal dengan aksi tutup mulutnya. Namun jika Limbad mau pasti harganya akan mahal, mungkin seharga mobil sedan mewah. Ini asumsi yang didasari oleh pembacaan atas gaya hidup Limbad itu sendiri yang besar kemungkinan logis. Tetapi Limbad pun sebenarnya menggunakan aksi tutup mulut untuk menonjolkan ilusi kekuatan tenaganya dan bukan sebagai bentuk komunikasi karena dalam banyak kesempatan ia pun berbicara verbal namun dengan berbisik. Kompetensi dan kapabilitas Limbad dirasa belum mencukupi untuk layak dijadikan guru tutup mulut. Karenanya ia pun menyingkirkan pikiran untuk mendatangi Limbad.
Kebutuhan akan guru tutup mulut ini tercetus sebagai refleksi atas kejadian yang dialaminya pagi ini. Ia merasa telah mengatakan kalimat yang membuatnya disalah artikan. Sebenarnya hal ini tidak merisaukan bila orang yang salah mengartikan itu adalah kawan sehari-hari atau malah orang asing, ini menjadi masalah bagi pikirannya karena orang tersebut adalah perempuan yang istimewa di hatinya, seorang yang ingin diberikannya kesan positif dari dirinya. Segala harapan menjadi antiklimaks karena kesalah pahaman. Ia sendiri sebenarnya tidak mengetahui secara tepat kalimat apa yang sudah diucapkannya yang menjadi sumber kesalahpahaman tersebut. Bila anda menduga bahwa ia sudah mengucapkan rasa cinta kepada perempuan istimewa tersebut sebagai sebabnya maka anda keliru. Dialog yang terjadi pagi itu bukanlah komunikasi cinta a la remaja, tetapi interaksi pemikiran mengenai hal-hal yang menjadi interes keduanya. Mereka berdua berada di jalur yang serupa, hanya cara mereka memandang jelas berbeda walaupun tidak bertentangan secara diametral. Tokoh utama dalam cerita ini merasa telah bersikap defensif dalam berkomunikasi, hal itu biasanya terjadi bila dirinya merasa ditekan atau diserang secara verbal. Defensif adalah reaksi alamiahnya dalam menghadapi tekanan atau serangan dari lawan komunikasinya. Dan dalam keadaan defensif tanpa sengaja ia mengeluarkan kalimat-kalimat yang sebenarnya tidak penting untuk diucapkan. Padahal awalnya ia hanya ingin membuka dirinya sebagai seorang yang suka membaca, dalam pengertian filosofis. Tanpa disadari, hasil pembacaannya atas situasi yang terjadi disekitarnya dimaknakan sebagai caranya bersikap. Ia menyesal terlampau jujur dan membiarkan mulutnya terus berbicara tanpa kendali. Bila saja ia mampu menentukan waktu berbicara dan saatnya tutup mulut mungkin perasaan ini tidak membebaninya.

Dua belas stasiun perhentian terasa cepat berlalu, bukan karena ia sedang menaiki kereta rel listrik yang memang melaju pesat tanpa hambatan melainkan karena pergumulan batin yang dialaminya. Untunglah selama perjalanan tidak ada seorangpun yang mengajak berbicara, kota memang dipenuhi orang-orang tanpa komunikasi verbal sejati. Jika pun ada sebatas basa-basi. Bila ada yang mengajaknya bicara mungkin akan timbul kesalahpahaman baru walau kadarnya pasti berbeda dan bisa diabaikan.

Berdasarkan pengalaman ketika baru pindah ke tempat yang dekat dengan stasiun kereta itu, ia juga pernah merasakan kesalahpahaman dengan mereka yang sudah lebih dahulu tinggal di sekitar rumahnya sejak generasi terdahulu orangtuanya. Mereka yang mengidentifikasikan diri sebagai pribumi ini merasa perlu dirajakan oleh orang-orang yang baru tinggal belakangan. Tanpa komunikasi yang interaktif dan saling memahami itulah timbul intimidasi yang direspon dengan perlawanan yang kemudian membesar menjadi tawuran massal antar kelompok. Antara pendatang yang melawan dominasi pribumi. Untunglah itu hanya temporer, untuk kemudian kedua pihak saling menghargai dan malah berkawan karib hingga kini lebih dari dua puluh tahun kemudian di saat mereka juga sama menua.

Tetapi apakah mungkin memori pengalaman kolektif tersebut diaplikasikan dalam memahami situasi dua individu seperti yang dialaminya hari ini? Bisa jadi, bukankah pertambahan umur seseorang akan mempengaruhi caranya memandang persoalan baik dirinya sendiri ataupun relasinya dengan individu lain juga kelompok sosial?

Tuuh puluh satu hari ke depan usianya genap empat puluh tahun. Usia yang bagi banyak orang diposisikan sebagai titik balik dalam hidup. Ada kalimat bijak menghibur yang kemudian teringat olehnya bahwa; di usia dua puluhan kita tak peduli omongan orang lain, di usia tiga puluhan kita khawatir dengan omongan orang lain dan di usia empat puluhan kita pun tahu bahwa orang lain tak memikirkan kita. Dia mendengarnya sejak lama walau tidak pernah tahu siapa yang mengatakannya namun jelang usia empat puluh ini dia baru menyadari bahwa kalimat bijak tersebut telah membantunya keluar dari kabut yang menyelimuti pikirannya sepanjang hari.

Bukan lantas ia menganggap perempuan istimewa yang salah mengartikan dirinya adalah orang yang tak peduli tetapi ia lebih memilih bahwa itulah bentuk kepeduliannya menyikapi kejujuran yang sudah diucapkannya. Oleh karenanya ia tak merasa perlu lagi untuk mencari guru privat tutup mulut. Kejujuran dalam komunikasi lebih penting dibanding menutup diri. Jika pun nanti terjadi salah pengertian maka tak perlu menciptakan kabut lagi melainkan terbang ke tempat lebih tinggi agar dapat menertawakan diri sendiri.

21 Oktober 2015

21:27 WIB

MAS ANAS INGIN JADI MASINIS

Catatan: Nama, ruang waktu dan peristiwa dalam cerita berikut ini adalah fiktif belaka. Kalaupun ada kesamaan nama, ruang waktu dan peristiwa dalam cerita berikut ini dengan realita yang terjadi adalah diluar tanggung jawab saya. Itu adalah wilayah persepsi anda dalam menerjemahkan cerita berikut ini menjadi bentuk yang sesuai persepsi anda dan itu menjadi ranah privat anda sendiri. Karena seperti yang sudah saya tulis di awal alinea ini: Catatan: Nama, ruang waktu dan peristiwa dalam cerita berikut ini adalah fiktif belaka. Titik tekan dari paragraf ini sama dengan sebelumnya, yaitu sesuai dengan yang tertera di pembuka atas: Catatan: Nama, ruang waktu dan peristiwa dalam cerita berikut ini adalah fiktif belaka. Kelihatannya saya jadi seperti berkelit dari tanggung jawab besar para penulis pada umumnya yaitu mempertanggung jawabkan karyanya sebagai proses otentik yang dilakukannya. Padahal bukan itu pula maksud saya, karena ada bagian yang masih menjadi otoritas kita sendiri yaitu pada masa proses ide hingga mewujud. Sesudahnya pada saat pembaca memahami jalan ceritanya itu sudah bukan menjadi wilayah penulisnya, dalam hal ini ya …saya. Tapi lantas timbul tanda tanya, kenapa pula hal tersebut yaitu: Catatan: Nama, ruang waktu dan peristiwa dalam cerita berikut ini adalah fiktif belaka; Menjadi begitu penting untuk dititik-tekani oleh penulisnya, dalam konteks ini ya…. saya lagi.? Ini menjadi pertanyaan bagus untuk dicatat oleh penulis cerita dengan catatan pembuka yang tidak jelas, dalam masalah ini yang dimaksud itu ya… saya dong. mas-anas Baiklah, gambar diatas menjadi semacam moderator untuk mengendalikan fokus dan menutup catatan tak berguna ini yang digunakan oleh penulis untuk membahas hal yang tidak relevan untuk dititik-tekankan dengan berlebihan. Salam dari penulis, Yaitu saya sendiri. 🙂 countdown
Mas Anas ingin jadi masinis, bu!

Itu lah cita-cita Mas Anas Uban. Ucapan itu terlontar disaat ulang tahunnya yang kesepuluh disaat ibu dari seorang temannya yang hadir menanyakan cita-citanya. Kejadian itu begitu membekas di batinnya hingga kini. Omongan itu didahului oleh pemberian hadiah oleh ayah dan ibunya berupa miniatur kereta api beserta jalurnya yang hanya berputar saja. Tetapi itu kado yang diidamkan Anas, Ini nama pemberian saat lahir namun saat usianya 17 tahun dan hendak mengurus KTP ia merasa janggal dengan namanya yang cuma Anas dan akhirnya ia menambahkan nama baru yang mengapit namanya, ia begitu terpikat dengan kereta api saat bepergian untuk pertama kalinya beserta kedua orang tuanya saat pulang kampung jelang lebaran dan waktu itu usia Anas masih 9 tahun. Butuh waktu satu tahun bagi Anas untuk mentransformasikan ketertarikannya akan kereta api menjadi sebuah cita-cita. Masinis. Sang pengendali kereta. Betapa gagahnya sang masinis. Itulah yang ada dibenak Mas Anas sejak ia 9 tahun. Keluarganya sendiri tidak ada yang pernah bekerja di kereta api sejak kendaraan  massal itu berada di negeri ini. Jadi ini bukan soal genetis. Anas adalah anak tunggal dari Susilo dengan Ani yang lahir bukan dari jalur pernikahan yang resmi. Ani, ibu Anas, saat itu berusia 17 tahun ketika terpikat dengan kegagahan Susilo yang selalu merayunya. Dengan pengalaman yang masih dangkal dalam menghadapi pria ia meladeni dan asyik masyuk dengan segala puja dan rayu Susilo. Kedekatan mereka membuahkan kehamilan sementara Ani masih belum lagi lulus sekolah. Susilo, dengan desakan keluarga , melamar Ani untuk mempertanggung jawabkan kehamilan Ani. Ani putus sekolah karena ia merasa malu dengan tatapan mata kawan-kawan dan guru-gurunya yang aneh menatapnya. Ia menikah diam-diam dan mereka berdua tinggal di tempat baru dengan modal tanah berukuran 9X21 meter pemberian ayah Ani dan rumah berukuran 7X7 meter yang pembangunannya didanai orang tua Susilo.

denah-rumah

catatan: (waduh catatan lagi…) gambar diatas nirskala. (ooh, kirain apa.. tenang deh).

Dirumah yang digambarkan diatas sebelah kanan anda itulah Mas Anas lahir dan dibesarkan. Nama kotanya Tan Erang. Provinsi Banen. Rumah itu jauh dari hiruk pikuk kendaraan a la kota besar. Masih banyak burung berkicau di kala fajar dan kunang-kunang di saat senja. Walau ada pula pembangunan khas negara berkembang seperti pembuatan kota-kota baru dengan fasilitas yang otonom. Namun di Kota Tan Erang percepatan pembangunan hanya berkisar rata-rata 2,1 % per tahun. Kemajuan zaman kurang terendus dengan baik bagi warganya. Dengan karakter kota seperti itulah Mas Anas mengucapkan cita-citanya tersebut,”Mas Anas ingin jadi masinis”. Adalah hal yang diluar kebiasaan warga kota tersebut untuk melihat kereta api kecuali yang sering bepergian sepanjang tahun. Peristiwa mudik saat Mas Anas berusia 9 tahun itu begitu membekas luar biasa dan itulah pemicu ucapannya yang menjadi pembuka cerita ini;”Mas Anas ingin jadi masinis”.

Sebelum cerita ini saya lanjutkan, saya ingin memberi anda kesempatan untuk  mengambil kopi, mungkin, atau apapun yang nikmat didalam gelas. Tetapi bila anda bertekad untuk tetap membaca cerita maka tak ada salahnya bila saya yang akan mengambil kesempatan yang sudah saya berikan untuk dimanfaatkan mengambil teh sebelum saya lanjutkan kisah ini.

……

Baiklah sampai dimana tadi…

oalaah, ternyata belum kemana-mana toh.

Hehehehe.

….

Kini, Mas Anas telah menjadi masinis. Kereta Rel Diesel jurusan Tan Erang-Kotak. Sudah 9 tahun ia menjadi masinis. Dengan rute yang sama selama ini. Tiada yang beda satupun jua.

Selesai.

Dan respon pun bermunculan.

Dan respon pun bermunculan.

Cerita macam apa ini? Tidak ada kisah yang ternarasikan didalamnya, alurnya tidak dituntaskan, profil tokoh yang tidak lengkap. Mau dibawa kemana pembaca dengan rancangan cerita ini?”

Denny Aje, Sastrawan berpengaruh via email.

Memalukan, strukturnya memalukan. Tidak membawa cerita pada konstruksi yang kokoh namun melunturkan hubungan di semua tokoh. Dan yang disebut tokoh sendiri juga belum kokoh pula

Said Saleem, Kritikus Sastra yang juga berpengaruh via sms.

Belum rampung. Basisnya lumayan, tetapi plotnya tidak fokus akibatnya cerita tidak berkembang biak. Ini baru konsep sepertinya. Saya malas membacanya

Bani Susastra, entah siapa tapi omongannya berpengaruh juga bagi banyak orang via telepon.

Kolam Iklan menyediakan aksesoris keluarga anda lewat pembelian online. Kunjungi http://www.kolamiklan.tk dan buktikan sendiri

-Walah, ini spam. Dari orang yang menamakan dirinya Kolam Iklan. Hadeuh… mengganggu. Sama seperti cerita ini.

ATUT DITANGKAP

          “Hallo, bisa bicara dengan mang Halim?”

          “Dengan Halim. Bisa, dari siapa?”

          “Dari Atut, keponakannya”

          “Tunggu sebentar ya…Lim, ada telepon!”

          “Dari siapa koh?”

          “Dari ponakanmu”

          “Hallo”

          “Halo, mang! Ini Atut”

          “Ada apa, Tut?”

          “Atut ditangkap!”

 

 

* _ *

atut ditangkap

Namanya Atut Chosiyah. Usia 19 tahun. Pendidikan terakhir SMA Negeri. Dan malam ini ia berada di Jalan Merdeka Tangerang. Tujuannya tak lain dan tak bukan hendak melamar kerja. Sebuah tempat bilyar menjadi sasarannya. Tempat yang belum lama dibuka dan sedang membutuhkan beberapa tenaga lagi untuk memenuhi posisi di situ.

Atut tidak begitu mengenal jalan-jalan di Tangerang. Dan ia sudah menghabiskan dua jam menyusuri sepanjang Jalan Merdeka untuk menemukan tempat orang-orang menghabiskan waktu bermain bola sodok itu.

Alhasil, ia malah tak berhasil menemukannya. Alih-alih mendapatkan alamat yang dituju, ia malah ketemu dengan serombongan petugas pamong praja. Dua orang diantaranya turun dari mobil patroli dan langsung menarik lengan dan badannya. Perlakuan mereka persis seperti calo bis antar kota.

          “Lho, pak. Ada apa?”

          “Sudah ikut saja dulu!”

          “Ikut kemana pak?”

                    “Ikut ke kantor!”                                                                                                                       “Tapi Pak?”

          “Sudah..nanti kita selesaikan di kantor!”

          Atut tak berdaya dibawah cengkeraman petugas yang kekar itu. Ia dinaikkan ke atas mobil patroli. Dan tak lama, penuhlah mobil itu dengan perempuan-perempuan lain. Rombongan ini bergerak menembus gelapnya malam.

Ada apa? Kenapa? Kemana? Ribuan tanda tanya menggelayuti pikiran gadis ini. Ia tidak memahami apa yang terjadi. Tetapi ketakutannya mengalahkan semua pertanyaannya.

Atut menurut. Ia tak berdaya. Bahkan terhadap tubuhnya sendiri

 

* _ *

 

 

 

          “Tut, ada lowongan kerja nih!”

          “Dimana, mang?”

          “Di Jalan Merdeka. Tempat bilyar”

          “Mau, mang!”

          “Nanti sore kamu ke sana. Dari sini naik angkot, turun di Kodim. Terus, kamu sambung angkot lagi yang ke Cimone. Bilang sama supirnya kalau kamu turun di Merdeka. Dari situ tinggal tanya orang-orang dimana tempatnya”

          “Makasih, mang. Atut nanti sore berangkat ke sana”

          “Kamu minta ongkos sama teteh, mamang sudah kasih ke dia”

          “Omong-omong, tempat bilyar itu apa mang?”

          “Itu tempat orang-orang bermain bola sodok, kamu coba dulu. Mamang dikasih tahu sama pelanggan mamang kalau tempat itu baru dibuka dan lagi butuh banyak tenaga”

          “Atut mau, mang! Yang penting kerja halal”

          “Ya sudah, mamang mau kerja dulu”

 

 

 

* _ *

 

 

Atut Chosiyah. Sungguh, aku bukannya sedang bercerita tentang Gubernur Banten. Hanya kebetulan saja nama dan jenis kelamin mereka sama. Selebihnya 100% bertolak belakang. Seperti Bumi dan Jupiter.

Karena Atut yang kuceritakan ini bukan dari kalangan orang berpunya. Ia adalah salah satu dari ratusan juta orang miskin yang banyak berserakan di negri ‘gemah ripah loh jinawi’ ini.

Atut dalam kisah ini juga tak memiliki kekuasaan apa pun. Bahkan terhadap dirinya sendiri. Nasibnya lebih ditentukan oleh para pembuat kebijakan publik.

Dulu, ketika ia masih kecil dan masih tinggal dengan kedua orang tuanya, Atut berpikir bahwa dengan bersekolah ia akan menjadi pintar. Dan dengan kepintarannya ia akan mendapat pekerjaan. Dan dengan pekerjaannya ia akan mendapat uang banyak. Dan dengan uang banyak ia bisa membelikan ayahnya tanah dan kerbau serta membelikan ibunya perhiasan dan rumah.

Sebuah cita-cita yang mulia.

Tetapi negara menggantung cita-citanya setinggi awan di langit, dan kini Atut  terseok-seok untuk menggapainya.

Karena BBM terus menerus dikurangi subsidinya oleh negara, maka harga-harga juga terus menerus melonjak, maka hutang-hutang juga terus menerus tak terbayar, maka habislah harta-harta benda yang ada untuk melunasi hutang.

Ayahnya menjual satu demi satu petak-petak sawah dan kerbaunya hingga akhirnya habislah seluruh tanah warisan keluarga. Sesudahnya, ayah jatuh sakit. Ibunya pun menjual satu demi satu perhiasan hingga akhirnya habislah seluruh perhiasan untuk membiayai pengobatan ayah dan biaya pendidikan Atut serta dua adiknya.

Dalam keadaan tak mempunyai apa-apa, kecuali gubuk berukuran 5×6 meter tempat mereka berdiam, ayah meninggal dunia. Atut sudah kelas dua SMA ketika itu terjadi. Tadinya ia mau keluar dari sekolah karena sadar akan biayanya namun ibunya berkeras agar ia menamatkan pendidikannya. Tapi dari mana biayanya?

Dengan sangat terpaksa, Ibu menjual rumah itu dengan harga murah dan kemudian mereka sekeluarga pindah ke rumah nenek. Disana, ibu membantu nenek menganyam tikar dan dari uang yang tak seberapa mereka mencoba bertahan hidup.

Syukurlah, Atut bisa menyelesaikan SMA-nya walau dengan kembali berhutang kesana kesini untuk melunasi uang ujian yang ikut-ikutan tergantung di awan.

Dua adik laki-lakinya tidak berniat meneruskan sekolah. Mereka lebih memilih menjadi buruh tani untuk membantu membiayai kebutuhan hidup.

Dari konfigurasi keluarga yang seperti ini, menjadi logis bila Atut lah tumpuan keluarga ini untuk memperbaiki nasib.

Tetapi, hanya dengan ijazah SMA? Di kota kecil pula?

Harapannya mampu mengubur pesimisme itu. Ia bertekad untuk pergi ke kota lain yang lebih menjanjikan.

Tangerang, Kota Seribu Pabrik, menjadi tujuannya. Ia bisa menumpang hidup sementara di rumah Halim, mamangnya. Sambil membantu pekerjaan rumah di pagi hari, ia bisa melamar kerja sesudahnya. Begitu terus aktivitasnya sepanjang hari.

Tapi memang realita hidup sangatlah keras. Tak mudah baginya mendapatkan kerja. Sudah beratus-ratus surat lamaran ia berikan dan sudah beratus-ratus penolakan ia terima. Aneka ragam pabrik ia datangi dan aneka ragam alasan ia dapati.

Sudah hampir sebulan ia mencoba dan selalu gagal. Akhirnya Atut menurunkan standar pekerjaannya. Ia melamar menjadi pelayan di rumah makan Padang. Tak sampai dua minggu ia berhenti karena gaji yang didapat tak pernah tersisa sedikitpun. Bukan karena ia tak hemat tapi memang gajinya kecil.

Lalu ia mencoba membuka usaha binatu kecil-kecilan di rumah mamangnya. Lumayan banyak juga pelanggannya. Sayangnya musim hujan tiba dan lebih lama dari biasanya. Para pelanggannya mengeluh karena pakaian mereka lama keringnya. Itu bukan kesalahan Atut, tapi mana mau mereka mengerti. Satu demi satu pelanggan berhenti dan berhenti pula bisnis kecil-kecilannya itu.

Hingga akhirnya datanglah kabar dari mamangnya bahwa ada lamaran kerja di tempat bilyar. Atut senang mendengarnya, ia sudah menyiapkan surat lamaran, fotokopi ijazah dan kelengkapan lain yang kira-kira dibutuhkan.

Sorenya, ia pun berangkat dengan harapan yang seakan tak pernah ada habisnya.

Malamnya, Atut malah ditangkap. Ia dicurigai sebagai pelacur oleh petugas pamong praja yang berbekal Perda no. 8 berhak menangkap siapapun yang dicurigai sebagai pelacur. Dan tentu saja korban kecurigaan mereka ya perempuan.

Mau dibilang apa lagi, Atut Chosiyah yang satu ini memang berbeda sama sekali dengan Atut Chosiyah yang berkuasa di Provinsi Banten. Nama boleh sama, jenis kelamin juga. Tapi nasib jelas-jelas berbeda.

 

 

 

* _ *

 

 

Dalam persidangan yang digelar secara terbuka di dalam gedung Pusat Pemerintahan. Disaksikan para pegawai negeri, Walikota, anggota DPRD bahkan Gubernur, gadis malang itu ikut disidang bersama puluhan perempuan lainnya. Tanpa didampingi pembela yang merupakan hak terdakwa, juga tiadanya satu pun saksi yang meringankan, Atut dinyatakan bersalah dan dikenai hukuman penjara 7 hari subsider denda Rp.500.000,-

Dari mana uang sebanyak itu? Entahlah, mana sang hakim mau mengerti bahwa bagi orang-orang seperti Atut uang sebesar itu sangatlah sulit untuk didapatkan. Ia pun tak mau mamangnya berhutang untuk membayar denda itu. Sekali lagi, dalam keadaan tak berdaya, Atut tak punya pilihan selain dipenjara.

Di dalam bui, ia bergaul, belajar dan menyadari bahwa mencari uang itu sangat susah baik itu yang halal maupun yang haram.

 

 

 

* _  *

 

Itulah kisah lama dirinya. Atut Chosiyah, pelacur yang biasa mangkal di jalan-jalan raya kota Tangerang. Ia sudah berdandan secantik mungkin dan kini sedang menunggu laki-laki yang mau membayar demi menikmati tubuhnya. Tubuh yang sedari dulu tak pernah bisa dikuasainya.

 

 

 

                                                                                                                11 Maret 2006

                                                                                                                                                       19:05

JACKIE CHAN NYARIS MENJADI TUHAN MALAM INI

Ia ada dimana-mana. Kumulai ketika menyusuri lorong panjang bersama sang juru mudi menjemput angkasa malam. Rintik hujan meremas kepala. Kusut mulai menular ke jalan tanah penuh kubangan. Langit kian kelam.  Namun di atap beton,  Jackie Chan berjumpalitan mengejar dan menghadapi  sekawanan perampok bertopeng. Dinding serupa lantai pualam. Tegak lurus dengan angkasa. Miring kepala menatap mereka. Pertempuran serupa letusan kembang api. Meledak dan melayang di udara. Yang kalah berhamburan tak tentu arah. Jackie Chan menjadi jawaranya. Tak jauh dari atraksi itu, di sesak himpitan gudang-gudang barang konsumsi. Berdiri dengan gagahnya rumah berpetak-petak membentuk kotak-kotak. Oksigen berebut udara  dengan toksik. Dan kotak kecil menyala, menyiarkan epik Jackie Chan. Entah bagaimana narasinya, karena kujumpai sepotong bayangnya saja yang lekas berlalu. Tetapi, seperti yang sudah seharusnya terjadi, Jackie Chan pastilah sang juara. Itu sudah absolut dalam layar cerita. Air hujan memijat kepalaku yang basah. Mengalirkan airnya ke seluruh indera. Tubuhku mengapung. Ini waktunya rehat. Keponakanku datang membawa kisah pengantar tidur, entah judulnya apa, tetapi Jackie Chan menjadi pelaku utamanya. Wah, ini keterlaluan. Disaat aku ingin merebahkan diri, ia mengintervensi ruang privasiku. Namun, takdir mungkin sudah tersurat dan aku tak pernah membacanya. Jackie Chan ada dimana-mana malam ini. Ia serupa Tuhan…. Tetapi nyaris saja…. Kulihat ia terjatuh dan berbaring di ranjang rumah sakit. Ia merasakan pedih dan luka, ia menjadi manusia….kembali. Aah hampir saja aku mempercayai Jackie Chan itu Tuhan. Nyaris.

30 Desember 2011

04:04 WiB

911 (Kesaksian seekor anjing bernama Bush)

Entah bagaimana memulainya, padahal hari itu diawali dengan cerah mentari seperti biasanya. Tak ada hujan, atau pun kilasan awan tebal melintas di langit. Pagi itu Sam, Tuanku, bangun dengan kesejukan dan memulai aktivitas rutin seperti biasanya. Jam 8 pagi itu ia pun meninggalkanku sendiri untuk berangkat ke kantor.

Aku sudah hafal rutinitas Sam karena sudah delapan tahun aku bersamanya. Sedari bayi aku diasuhnya, dan ia juga yang memberiku makanan serta semua yang kubutuhkan. Aku membalas kasih sayangnya dengan menunggui rumahnya hingga ia pulang kerja dan bercengkerama denganku hingga kantuk melanda.

Sebagai peliharaannya, aku melaksanakan tugasku dengan sebaik-baiknya. Tak akan kubiarkan Tuanku Sam sekejap pun merasa tak aman. Dengan gonggongan yang keras serta runcingnya taring akan kuhadapi lebih dahulu siapapun yang berniat mencelakakan Tuanku.

Tetapi pagi itu semua berubah drastis. Aku tak tahu mengapa.

911

Satu jam setelah berangkat, Sam kembali dengan wajah yang cemas. Aku pun menjadi cemas pula karenanya. Ekorku mengibas-ngibas tak tentu arah. Kurasakan sesuatu yang tak kumengerti namun terasa mencengkeram kedamaian pagi itu.

Sam pulang dan langsung menyalakan tv. Ia melihat berita yang kupikir tadinya sebuah film cerita. Dua buah kapal terbang menghantam sebuah gedung pencakar langit. Aku sungguh tak mengerti ada apa. Yang kutahu Tuanku Sam begitu khawatir melihat tayangan itu.

Kecemasanku semakin bertambah ketika kudengar bel pintu berbunyi. Sam segera melihat dari lubang pintu dan seketika semakin was-was lah ia. Aku pun menyalak sekerasnya. Ini reaksi spontanitasku melihat perubahan air muka Tuanku.

Sam segera ke kamarnya dan keluar dengan sepucuk pistol di genggamannya. Lalu ia menelpon.

Sam : Operator ini darurat…

911 : Maaf, semua operator kami sedang sibuk. Silakan menghubungi sebentar lagi.

Sam : Gila…ini Darurat !… Operator…

911 : klek…ngggggg

Telpon terputus, Tuanku menghubungi kembali.

911 : Maaf, semua operator kami sedang sibuk. Silakan menghubungi sebentar lagi.

Sam : Ada seorang Arab di pintu rumahku saat ini, apakah aku harus menembaknya??

911 : klek… nggggg..

Sam : Heiiii…. jangan tutup teleponku….

Sam semakin kesal dan ia membanting gagang telepon itu sambil mengumpat, aku pun kian keras menyalak ke arah pintu yang kuyakini ada ancaman di baliknya.

Tuanku kian gelisah, ia mondar-mandir tak mempedulikan bunyi bel pintu yang terus saja berbunyi. Aku juga ikut gelisah sambil terus menyalak.

Semenit kemudian, Tuanku pun segera ke arah pintu. Membukanya dan tak berpikir lama untuk menembakkan pistol di tangannya ke arah orang yang berdiri di depan pintu.

Dor…Dor…Dor….

Tiga peluru melayang dan seketika melayang pula nyawa dari orang yang berdiri di depan pintu itu. Dalam sekejap ia pun roboh di banjiri darah yang deras berlompatan ke mana-mana.

Orang itu mati. Tuan ku bingung. Aku terus menggonggong.

 

September 2011