Posted on

Memasarkan Pasar

Pandemi Covid-19 memaksa pemerintah daerah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayahnya untuk menekan penyebaran virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan ratusan ribu orang di seluruh dunia meninggal.
Upaya ini menyebabkan aktivitas ekonomi terdesak ke titik nadir. Industri besar banyak yang merumahkan karyawannya, begitu pun usaha menengah hingga yang kecil pun terkena imbasnya. Roda ekonomi melambat.
Negara, sebagai institusi yang mengatur regulasi, memahami itu dan pemerintah Indonesia sudah menyiapkan berbagai stimulus bagi industri agar jangan sampai mereka mati.
Dalam skala kota tempat saya tinggal, Walikota menerbitkan Perwal Tangerang no 17 tahun 2020 yang mengatur mengenai PSBB dimana di dalamnya terdapat 11 sektor yang diberi ruang untuk tetap berjalan. Selain itu bagi pelaku usaha yang bertugas melayani kebutuhan masyarakat diwajibkan untuk mengutamakan layanan daring melalui jasa antar dan pembayaran non-tunai. Hal ini secara tidak langsung bisa memperluas pasar daring dan akses transaksi keuangan digital. Tetapi bagaimana realisasinya untuk pelaku usaha kecil dan berbasis rumahan?
Di lingkungan saya, PSBB diterapkan dengan menutup akses keluar-masuk dan hanya tersedia satu jalur saja. Hal tersebut berdampak kepada pelaku usaha yang berlokasi di dekat portal karena penutupan jalan berarti menurunkan jumlah potensi pembeli. Ini berbeda dengan pelaku usaha yang berlokasi di tengah-tengah komplek yang relatif lebih ‘mapan’ dengan pelanggan yang stagnan berasal dari bloknya semata. Namun dengan ketidakpastian kapan pandemi ini akan usai tentu peluang bagi seluruh pelaku usaha untuk menemui mati surinya akan besar. Para pelaku usaha ini tidak terbantu sumbangan beras dan mie instan yang hanya cukup untuk 2-3 hari saja. Mereka memerlukan solusi berupa perubahan strategi.

Paus(e)


Perubahan yang saya maksud adalah pelaku usaha merambah pasar daring agar promosi mereka tidak terbatasi dan meraih konsumen lokal yang selama ini masih bertransaksi secara manual.
Momentum PSBB sebenarnya tepat namun karena longgarnya pengawasan dari RT/RW setempat maka kebiasaan masyarakat dalam jual-beli masih sama yang berbeda hanya jumlah pelaku usaha yang bertahan yang kian menurun. Mungkin bila PSBB memasuki tahapan penindakan terhadap pelanggar maka pola transaksi akan berubah.
Dan solusi yang saya tawarkan sebenarnya akan efektif bila PSBB berlaku ketat. Yaitu dengan memasarkan secara daring pasar-pasar UKM di lingkungan untuk konsumsi lingkungan tersebut. Pengecilan ruang lingkup transaksi ini akan meniadakan ongkos kirim karena lokasi yang dekat, menambah rasa kepercayaan karena konsumen mengenal siapa penjual, dan sekaligus memacu pelaku usaha untuk meningkatkan layanan purnajual mereka terhadap pembeli.
Jenis usaha yang bisa dijual dalam pasar daring lingkungan ini bisa tak terhingga tergantung dari jumlah populasi dan tingkat kepercayaan diri produsen. Semakin banyak warga yang tinggal dalam sebuah RW maka berpotensi akan keragaman jenis usaha dan jasa yang bisa ditawarkan namun perlu tingkat kepercayaan diri yang tinggi dari calon pelaku usaha atau jasa tersebut agar mereka memiliki keberanian untuk dipasarkan.
Solusi ini sudah saya lakukan di RW tempat saya tinggal. Langkah pertama adalah dengan melakukan penawaran kepada pelaku usaha untuk mau dipasarkan, dan langkah awal ini juga bukan sesuatu yang mudah. Ada bermacam hambatan yang saya temui dan ini terkait dengan daya resepsi masyarakat akan pemahaman situasi sosial-ekonomi-budaya yang sedang terjadi selama pandemi dan juga terhadap aktivitas digital. Saya mencatat ada beberapa tipologi resistensi masyarakat yang butuh perlakuan berbeda, yaitu:

  1. Jangan buang waktu terhadap pelaku usaha yang merasa ‘mapan’ dengan pelanggan dan sistem yang mereka jalani selama ini, mereka akan bicara berdasarkan fakta empiris sepihak dan mendebatnya hanya akan memotong waktu produktif menjadi sia-sia. Bila situasi bertambah sulit maka mereka akan berubah pikiran.
  2. Jangan buang waktu terhadap pelaku usaha yang tidak percaya bahwa usahanya layak dipromosikan secara daring, mereka tidak memahami potensi pemasaran daring sebagaimana mereka tidak mengenal potensi usahanya layak berkembang bahkan di masa sesulit ini. Bila keadaan kian gawat maka mereka pun akan gulung tikar.
  3. Jangan paksa pelaku usaha waralaba untuk bergabung, karena produksi mereka ditentukan pasokan logistik yang lancar. Sebaiknya mereka memang perlu memikirkan untuk beralih usaha, namun itu sepenuhnya tergantung mereka.
  4. Jangan berusaha untuk meyakinkan pelaku usaha yang seolah kritis tetapi sebenarnya paranoid. Ini saya alami ketika menawarkan ke pemilik usaha kuliner yang sepertinya melek digital namun ketika saya meminta datanya ia langsung menolak dan dari pandangan matanya saya maklum bahwa ia curiga dengan data yang saya minta, padahal ia belum memahami bahwa data yang saya minta adalah data yang umum dan tidak ada data khusus seperti nomor KTP, misalnya. Biarkan mereka membatasi promosinya lewat media yang ia percaya, hanya saja potensi untuk meraup konsumen lokal menjadi diabaikan.
  5. Bersabarlah terhadap pelaku usaha yang belum menyadari potensi pemasaran daring, tingkat melek digital belum merata walau setiap hari akrab dengan aplikasi chat atau media sosial. Dengan kian banyaknya yang bergabung maka mereka akan tergoda pula nantinya.

Demikian tipologi pelaku usaha yang saya temui di waktu penawaran.
Hal kedua yang saya lakukan setelah itu adalah membuat pemilahan jenis usaha agar memudahkan konsumen untuk mencari kebutuhannya. Ada kalanya sebuah usaha memiliki lebih dari satu jenis usaha dan biarkan kesemuanya itu terakomodasi.
Sesudah pemilahan maka seterusnya saya masukkan data pelaku usaha ke situs yang saya buat. Ada pun karena tidak memiliki modal finansial maka saya menggunakan blogger.com yang gratis dngan alamat Url https://blok05.blogspot.com. Dan agar Url-nya bisa mudah diingat maka saya persingkat melalui bit.ly menjadi bit.ly/bursa-lokal dan saya berikan pula template QR code-nya masing-masing sehingga mereka bisa memajang alamat usaha virtual di depan rumah atau usaha mereka. Kelemahan dari ini adalah tidak ada ikatan yang kuat antara konsumen dengan pasarnya. Idealnya mereka bisa diikat dalam bentuk aplikasi namun pembuatan sebuah aplikasi juga memerlukan waktu, kompetensi, dan modal yang tidak sedikit. Itulah yang mendasari pemilihan situs gratisan agar bisa lekas digunakan tanpa biaya tambahan.
Setelah selesai dengan situs maka langkah berikutnya adalah memasarkannya secara manual, melalui selebaran. Tidak efisien tetapi efektifivitasnya lebih baik walau saya berasumsi tidak menyentuh angka 50% dari populasi. Ada cara yang lebih efektif dan efisien yaitu melalui pemanfaatan WhatsApp, namun saya tidak memiliki data nomor ponsel seluruh warga dan tidak semua warga juga memiliki aplikasi itu di ponselnya, bahkan ada yang tidak menggunakan ponsel sama sekali. Promosi manual seperti ini idealnya dilakukan dengan tingkat kontinuitas tinggi hingga jumlah warga yang memanfaatkan semakin besar. Untuk itu saya sedang merancang penawaran kepada pelaku usaha yang lebih besar agar mau beriklan di situs ini sehingga mendapat biaya untuk promosi selanjutnya.

Bursa Lokal (BLOK)
Tangkapan layar BLOK (Bursa Lokal)


Masih ada langkah berikutnya yaitu edukasi kepada pelaku usaha. Bentuk yang diberikan berupa tips-tips untuk bertahan dan memanfaatkan peluang yang ada di masa pandemi ini yang dikirim langsung kepada penjual. Motivasi ini diharapkan dapat menguatkan semangat bertahan dan membangkitkan daya inovasi mereka.
Demikian langkah-langkah solutif yang saya lakukan guna memberitahu lingkungan tempat saya tinggal bahwa kebutuhan sehari-hari mereka dapat dipenuhi oleh pelaku usaha yang berada di antara mereka tanpa perlu keluar rumah.
Saya menganalogikan pelaku usaha kecil-menengah ini seperti ikan paus yang besar namun tidak pernah terlihat di permukaan dan tugas saya, semoga anda merasa bahwa itu tugas kita bersama, adalah meyakinkan orang-orang bahwa ikan paus itu masih hidup dan ada.

Cipondoh, 27 April 2020

Tiit...tiit
Pariwara

Bagikan Responmu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.