Posted on

Bunda Maia, Bunda Maria, dan huruf R yang tercecer

Ini bukan fiksi, tetapi opini. Dan diawali dengan tak sengaja, saat menyaksikan acara Indonesia Idol di televisi dan para juri sedang mencoba kemampuan trio penyanyi tenor yang saya tidak kenal. Bunda Maia, salah seorang juri, mencontohkan bentuk yang diinginkannya untuk dinyanyikan trio tersebut. Dan Bunda Maia mencomot empat not awal dari lagu Hallelujah karya George Friedrich Handel untuk Oratorio Messiah dan diganti teksnya menjadi “Cendol Dawet”.


Dalam sejarah musik, ini disebut Parodia atau secara harfiah berarti “Lagu Samping” dalam pengertian sebuah melodi populer yang diubah liriknya.


Kembali ke peristiwa di tv, trio tersebut mengikuti permintaan juri untuk menyanyikan lirik Cendol Dawet menggantikan teks Hallelujah. Dan semua puas, semua terhibur. Memang itulah esensi televisi.


Cendol Dawet adalah permainan teks yang dipopulerkan oleh penggemar Didi Kempot dalam merespon musik sembari menari dan tentunya puas terhibur. Dalam permintaan Bunda Maia, kata tersebut menggantikan teks Hallelujah dari bahasa Ibrani yang berarti Pujilah Tuhan. Disini yang profan menggantikan teks gerejawi.


Apakah ini artinya Bunda Maia telah melakukan penghinaan terhadap iman Kekristenan?


Sebelum saya jawab, akan lebih baik kita untuk mengenal secara singkat George Friedrich Handel. Beliau dilahirkan di kota Halle pada 23 Februari 1685. Ia sezaman dengan Johann Sebastian Bach. Mereka adalah komponis besar di era musik Barok. Perbedaannya adalah bila Johann Sebastian Bach banyak menciptakan karya-karya untuk gereja, sedangkan Handel besar dalam karya Opera dan Oratorio bagi teater sekuler. Makna teater sekuler disini adalah teater yang memainkan karya-karya yang tidak bersumber dari kitab suci.


Namun karier Handel menemui senjakalanya walau begitu ia tetap berusaha menghidupkan teaternya. Hingga kemudian Charles Jensen memberikan libretto yang berbasis kisah Yesus dari Alkitab dan meminta Handel untuk menggarapnya. Butuh 24 hari baginya untuk membuat naskah oratorio 260 halaman berjudul Messiah ini dan dipentaskan pertama kali saat perayaan Paskah 13 April 1742. Ini adalah titik balik karier Handel. Messiah sukses dipanggungkan dan menyentuh hati siapapun penyaksinya. Bahkan Raja George II sampai berdiri saat musik intro Hallelujah dimainkan. Berbagai pujian mengalir tidak hanya dari publik namun juga dari sesama komponis, minus Bach karena walau hidup sezaman dan berasal dari negara yang sama tetapi Handel dan Bach bagai hidup di dunia yang paralel.


Lagu Hallelujah sebenarnya adalah lagu yang memuat kesimpulan dari bagian kedua naskah oratorio ini. Di zaman sekarang justru dipisahkan dan berdiri sendiri sebagai karya paduan suara atau orkestra instrumental.


Sesudah mengenal secara ringkas biografi Handel dan karya besarnya oratorio Messiah, kita kembali ke bahasan Bunda Maia yang dalam judul tulisan ini disandingkan dengan Bunda Maria serta kalimat absurd mengenai huruf yang tercecer.


Judul tersebut adalah permainan kata dimana antara Bunda Maia dan Bunda Maria ternyata hanya selisih satu huruf; R.


Huruf R dalam Alfabet Fonetik internasional menandakan bunyi konsonan getar rongga-gigi. Dan hanya huruf R yang memang memerlukan getar dalam pengucapannya. Bila tidak bergetar maka akan terdengar seperti L dan orang yang melafalkan demikian dikatakan cadel. Semua manusia pada awalnya pun cadel namun berkat bimbingan orang tua dan tentunya kemampuan rongga-gigi dalam menggetarkan huruf itu yang membuat kebanyakan orang menjadi mampu membunyikan secara benar.

Bunda Maria, Bunda Maia dan huruf R yang tercecer


Bila dalam teks Bunda Maria dihilangkan huruf yang mengharuskan getaran rongga-gigi maka akan menjadi Bunda Maia. Ini hipotesis yang anarkis, bisa juga mengada-ada.


Tetapi sebelum anda memutuskan untuk mengakhiri pembacaan sampai di alinea ini maka pertimbangkanlah untuk memahami arah dari konteks judul tulisan ini.


Bunda Maria adalah ikon bagi Kekristenan karena ia adalah ibu yang melahirkan Yesus. Tentu sudah jamak bila mendengar Yesus lalu identik dengan kekristenan karena itu saya mencoba menggunakan yang lain yaitu Bunda Maria dan alasan lainnya disebabkan kedekatan huruf dengan Bunda Maia. Bukan alasan yang bersifat teologis, tetapi fonetis.


Tetapi tidak sesimpel itu pula, karena Bunda Maia disini bisa mewakili area profan dan Bunda Maria merepresentasikan wilayah gerejawi.


Antara yang profan dan gerejawi memiliki kaitan yang unik. Kadang konfrontatif seperti terjadi di era abad kegelapan Eropa dimana Paus memegang otoritas yang melebihi Raja dan kerap melarang segala bentuk seni profan karena dianggap membuai masyarakat dan melupakan Tuhan.


Namun kemudian, sesudah munculnya abad Renaissance, hubungan yang profan dan gerejawi sering komplementer. Sesudah Marthin Luther melakukan gerakan Reformasi dan melahirkan Protestan maka banyak lagu-lagu profan yang diubah liriknya untuk dipakai dalam ibadah gerejawi. Hal ini dilakukan agar kekristenan bisa membumi dan dimengerti oleh masyarakat jelata bahkan yang buta huruf sekalipun. Hal ini terus berlangsung hingga kini, contoh lagu yang dipakai misalnya Morning Has Broken karya monumental Cat Stevens, yang kemudian mualaf dan berganti nama menjadi Yusuf Islam, juga diubah liriknya dan dipakai dalam liturgi gereja.


Bila yang profan bisa diparodiakan menjadi gerejawi, tentu adalah bisa bila yang terjadi sebaliknya.


Tetapi apakah itu tidak melecehkan kekristenan?


Saya menjawab tidak dalam kapasitas teologis namun logis. Hal tersebut tidak melecehkan karena lagu-lagu gereja adalah upaya manusia untuk membantu ayat-ayat kitab suci atau iman kekristenan agar bisa lebih mudah diterima masyarakat namun yang utama adalah keimanan itu sendiri tumbuh dan berkembang dari kemampuan meresepsi setiap umat Kristen akan kepercayaan terhadap Kristus dan memanifestasikan dalam laku sehari-hari. Dengan kata lain, lagu memang membantu tetapi bukan yang utama apalagi yang terutama.


Itulah mengapa ada banyak upaya menggetarkan iman Kekristenan yang tidak ditanggapi dengan kemarahan atau aksi balasan. Yesus sendiri sudah mengajarkan untuk mengasihi musuh maka menjadi aneh bila umatnya marah-marah atau bahkan sampai membalas bila ada yang menggetarkan situasi melalui isu atau narasi adu domba.


Apakah aksi Bunda Maia termasuk getaran dalam relasi antar umat beragama? Tidak, walau memiliki potensi tersebut apabila terdengar di telinga puritan atau kelompok garis keras, yang sejatinya ada di tiap agama dan ideologi. Secara kuantitas mereka tidak banyak namun suara mereka lebih keras dari mayoritas moderat dan resonansinya bisa menggetarkan kerukunan beragama.

Pariwara buku tiit-tiit
Pariwara


Karena itu bila Bunda Maia membaca tulisan ini, saya berharap sebagai figur yang dikenal luas oleh publik untuk bisa lebih berhati-hati agar setiap ucapannya tidak mencecerkan getaran yang tentunya tidak perlu. Mungkin Bunda Maia bisa meneladani Bunda Maria yang mencoba tetap tenang walau hatinya tergetar di saat menyaksikan Yesus disiksa dan disalibkan di depan matanya sendiri.

Cipondoh, 16 Maret 2020

Bagikan Responmu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.