Posted on

Catatan Harian Sang Penjelajah

Judul di atas adalah translasi atas “Diary of Voyagers”, sebuah pertunjukan site-specific theatre (maaf, saya belum menemukan padanan dalam bahasa Indonesia untuk kalimat itu) yang berlangsung pada tanggal 30 dan 31 Agustus 2019 dengan mengambil tempat di tugu jam Pasar Lama, Kuil Boen Tek Bio, Toa Pekong Air, Mesjid Jami Kali Pasir dan Keramat Peh Cun. Dilakoni oleh seniman dari dua negara yaitu Taiwan dan Indonesia dan dengan format site-specific theatre yang bisa dimaknai sebagai upaya merekonstruksi dan atau mendekonstruksi narasi dan memori pada ruang-ruang yang sudah ditentukan. Akan mengalami kesulitan bila definisi di atas diterapkan pada pemahaman awam karena itu untuk mensimplifikasikan pemaknaan site-specific theatre kerap saya bilang saja sebagai teater jalan-jalan.

Sebagaimana lazimnya sebuah kisah bermula, saya yang bermain di mukadimah menjadi “Pada suatu ketika” untuk rangkaian alur cerita. Bertempat di tugu jam Pasar Lama yang mati, ritual memutar waktu menjadi penanda bagi penyaksi bahwa kisah yang akan berputar bisa jadi terjadi di masa lalu, hari ini, atau esok nanti. Untuk selanjutnya dengan meminjam musik dan pola kaki dari tari Ledo Hawu yang kerap dijadikan tarian pembuka pada ibadah gereja atau acara adat di pulau Sabu, saya mengajak para penyaksi untuk menyusuri degup jantung aktivitas warga di Pasar Lama.

Bersualah saya dengan Lin Jin Yan di muka kelenteng Boen Tek Bio. Sesudah menala putaran waktu agar seirama maka Lin Yan melanjutkan kisah dengan menuju halaman toko obat yang sedang tutup. Yan mempersembahkan doa bagi ibunya yang terhalang jarak. Dupa dan bunga memancarkan harum yang sewangi doa bagi ibunda. Sembari melangkah menyusuri jalan yang membuatnya kian berjarak dengan sang ibu.

Di tepi adegan yang berada di tengah persimpangan jalan, Lin Jin Yan melambaikan tangan bagi para penyaksi yang disambut Chang Ting Yung di mulut gang. Yong, begitu ia biasa disapa, memberi sulur dari tanaman merambat sebagai pegangan bagi semua penyaksi yang menelusuri lorong-lorong sempit ditemani bisik-bisik seputar narasi tentang kota. Ricky Unik mengiringi perjalanan ini dengan gitar dan lagu lawas berjudul Sepanjang Jalan Kenangan. Rasa intim yang tersurat dalam lagu dan juga tersirat pada gaya penceritaan dari mulut ke mulut ini seyogyanya adalah dekontruksi dari narasi kota masa kini yang individualistik. Yong menuntun hingga tembus ke jalan Kali Pasir yang dalam kisahnya dikatakan sebagai pelabuhan yang baru jadi. Ada aksi performansi saat perjalanan menyusuri lorong tadi berakhir di tempat sampah yang bergaris lurus dengan rute yang ditempuh, sulur tanaman merambat yang semula menjadi pegangan kami dibuang ke tempat sampah seolah pesan kuat bahwa keintiman telah kita campakkan secara sadar atau pun tidak.

Kini kita berjalan sendiri-sendiri walau masih terlihat dalam satu barisan, Yong dan Ricky terus mengiringi kenangan di sepanjang jalan dengan situasi yang serupa bermain-main hingga akhirnya gitar berpindah tangan kepada Carlos yang bersama Chang Shih-Fen menginterupsi kesendirian massal kami.

Shih-Fen menghentikan kami dengan sebuah dongeng yang biasa dibawakan seorang nenek kepada cucunya. Carlos menerjemahkan dan memberi ilustrasi berupa lagu pengantar tidur yang populer, Nina bobo. Fenfen merekontruksi hakikat dongeng yaitu keintiman dan imajinasi. Semua penyaksi diajaknya untuk menjadi bagian dari dongeng dan mengalami secara personal rasanya menjadi cucu. Dengan bantuan properti yang sugestif-imajinatif maka meluncurlah tema tentang keingintahuan sang cucu akan sungai. Sungai yang natural, mistis, filosofis sekaligus ekologis membaur dalam dongeng si nenek, yang membangkitkan keinginan cucu untuk membersihkannya. Maka mengalirlah sungai menuju arus pencuciannya.

Fenfen meletakkan sungai yang sudah dibilasnya di seberang Tao Pekong Air, para penyaksi hanya melihat Shih-Fen yang lalu menghilang dan muncullah Fidelis sembari menaikkan layang-layang menyeberangi sungai untuk menyambangi kami. Layang-layang adalah pembeda yang tegas bahwa selanjutnya kisah nenek sudah terbang digantikan kehadiran Fidel.

Ia membawa narasi yang dihadirkan dalam bentuk performansi. Tentang kawan lama yang tinggal di belakang Benteng, yang dibumbui dengan racikan biografi kawannya yang beribu Hokkian dan ayahnya yang pernah turut berperang melawan tentara Kerajaan Mataram. Fidel ingin menghadiahkan kawan lama yang akan berulang tahun tersebut sebuah bonsai. Tanaman yang dikerdilkan tersebut adalah biografi China Benteng dan Fidel menggunakan tubuhnya yang terjerat kawat dan tersiksa tersebut untuk menguak memori pahit relasi China Benteng dengan kekuasaan dari zaman ke zaman tanpa harus berpanjang kata.

Luka itu memang berhenti tetapi belum tentu berakhir dan Ricky Unik datang memotong kawat yang melilit bukan untuk mengakhiri luka tetapi untuk mengajak penyaksi ke tempat-tempat yang ingin dikunjungi seraya mempersembahkan sebuah tarian mistis perahu naga yang dilatari mitos buaya buntung di sungai Cisadane. Diiringi musik dari era medieval pra-barok, ia berlompatan di atas panggung yang tak stabil sebagaimana dasar sungai tempat para buaya berderap tanpa diketahui. Hingga mitos itu mengalami letihnya ditinggal zaman dan menetap di tepian arus.

Lin Jin Yan kembali hadir dengan doa yang kali ini dipersembahkan untuk ayahnya yang seorang bajingan berasal dari Korea.Dengan bantuan google translator dan penerjemah, Yan mengurai narasi bahwa ia akan melakukan upacara pemakaman walau ia tahu ayahnya yang sekarat ternyata masih hidup hal tersebut laksana mengubur kenangan pahit.
Ritual yang ia lakukan adalah tradisi dimana ia melarung baju dan uang diiringi doa yang dilakukan pada sebuah perahu yang mengarungi sungai. Performansi ini direspon oleh saya dalam bentuk performansi pula dengan mengarungi jalan menuju pemakaman di serambi Mesjid Jami Kali Pasir. Para penyaksi menjadi peziarah yang menggenggam doa di kedua tangan.

Setiba di lorong menuju Mesjid, Dendi Madiya menyambut dengan aktivitas keseharian yaitu menyiram tanaman, ada yang tersirat dari laku Dendi bahwa ia juga sedang menumbuhkan sesuatu yang semula tiada menuju kehidupan barunya. Dari dalam lokasi makam terdengar Chang Ting Wei menyanyikan lagu tradisional yang senada dalam pembacaan puisi karya Afrizal Malna oleh Dendi. Sesudahnya mereka mengajak para penyaksi untuk melalui jembatan waktu dengan mata tertutup dan saling berpegangan tangan, ada pula yang bergantian menggendong. Dalam ketiadaan visual mereka kembali kepada esensi eksistensi manusia sebagai mahluk sosial. Mereka terus melangkah menuju Toa Pekong Air, yang juga disebut Prasasti Tangga Jamban yang dalam sejarah mencatat peran etnis Tionghoa dalam membangun di Benteng.

Para penyaksi yang masih dalam posisi tertutup dibawa ke masa kediktatoran orde baru yang selalu mendikte falsafah negara dalam seluruh lingkup kehidupan tanpa harus sesuai dengan realita. Ting Wei juga turut mendiktekan lagu Tiongkok sebagai oposisi biner dari Pancasila. Tetapi kegelapan berakhir ketika mata penyaksi kembali bisa melihat Dendi, Ting Wei, dan para penyaksi sebagai pribadi dengan identitas personalnya.

Dalam keadaan mata terbuka inilah, para penyaksi menjadi terasing karena distansi. Spasi Cisadane memisahkan penyaksi dengan aksi Chang Shih-Fen bersama Lin Jin Yan yang berjalan sambil memanggul pohon di tangan masing-masing yang menyiratkan adanya kehidupan di ruang yang berbeda. Disusul dengan Dendi dan Ting Wei yang memegang hio dan kepala yang tertutup bak, seperti sebuah doa pengharapan yang berjalan. Perjalanan mereka menuju titik yang tak terjangkau mata penyaksi.

Yun Ting Weng hadir menggantikan mereka yang hilang, ia menggulung sungai dan berjalan sepenuh rindu di kejauhan. Sepucuk surat dan permen tangkai berbentuk hati ia titipkan kepada orang yang mendayung perahu untuk diberikan kepada para penyaksi yang menanti.
Chang Ting Yung menerima surat itu dan membacakannya seraya permen tangkai dibagikan kepada penyaksi. Surat itu memuat rindu dan keyakinan bahwa walau ruang memisahkan kita tetap menikmati cahaya romantik matahari senja yang sama.

Semua menikmati sendunya sinar matahari sore itu, di bawahnya terlihat Wong, panggilan Yun Ting Weng, yang terus melangkah menuju barat. Ke arah mentari tenggelam.

Pertunjukan pun usai.

Resensi di atas adalah nalar saya yang turut mengalami penjelajahan demi penjelajahan dari perkenalan, latihan, diskusi, eksekusi ide, evaluasi hingga mencapai format final seperti yang dideskripsikan di alinea-alinea sebelum ini. Tentu saya juga menyadari bahwa ada nalar dan tafsir lain. Perspektif subyektif menjadi urgen dalam menikmati dan menganalisis teater berformat site-specific theatre. Hal tersebut saya dapatkan ketika dua dekade silam mengikuti lokakarya performance art bersama beragam performer mancanegara.
Sebagai seni konseptual maka sudut pandang subyektif akan membuat pikiran kita mampu menjangkau gagasan dibalik karya dan tidak terpenjara pada apa yang dilihat oleh mata semata.

Perspektif ini pula yang seharusnya menjadi jembatan dalam pola relasi di abad revolusi teknologi komunikasi guna mencapai kesepahaman dan meminimalisir kesalahpahaman.

Hal lain yang bisa diterapkan guna menikmati pementasan a la seni konseptual seperti ini ialah meniadakan jarak dengan performer dan peristiwa yang diciptakan melalui mengalami langsung setiap rangkaian alur. Itulah kenapa saya lebih menggunakan kata penyaksi ketimbang penonton karena definisi saksi adalah orang yang melihat, mendengar, dan mengalami langsung.

Para penyaksi di akhir pementasan menjadi para penjelajah ide, ruang, waktu, dan narasi baru atau rekaan pada ruang-ruang yang sudah ditentukan sebelumnya.

Bagikan Responmu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.