Bersua Tahura

di tahura Wan Abdul Rachman

Saat menyapa air terjun pertama

Di akhir bulan Juli 2019, saya bersama keluarga mengantar pindah tugasnya kakak ke Lampung Selatan. Hanura adalah nama desa yang berada di wilayah wisata Pesawaran yang menjadi tujuan kami. Berada di pesisir membuatnya memiliki banyak titik wisata yang sayang bila tak dikunjungi.

Pantai Sari Ringgung salah satunya yang sempat kami jelajahi, namun pihak berwenang sepertinya perlu melakukan pengawasan di gerbang masuk karena, seperti yang kami alami dimana kami sebagai pengunjung tidak mendapat karcis masuk walau sudah membayar, rentan dengan penggelapan dan akibatnya berkuranglah retribusi yang bisa diperoleh pemerintah setempat.di pantai sari ringgung

Di Pantai Sari Ringgung

pantai sari ringgungperahu penyeberanganpantai sari ringgungPantai Sari Ringgung memiliki beberapa titik andalan yaitu pasir putih, perahu penyeberangan, mesjid apung, puncak dan sebagainya. Pantai ini hanya ramai di siang hari pada akhir pekan, berdasarkan keterangan pedagang di sana. Itulah kenapa saat kami kunjungi saat sore hari beberapa aktivitas seperti loket perahu penyeberangan sudah tutup. Pengunjung pun juga banyak yang bersiap pulang walau ada pula satu-dua kendaraan masuk melewati gerbang yang sudah ditinggal penjaga loket. Tak lama kami di pantai ini karena tak banyak pula yang bisa dilakukan di pantai tanpa membawa baju renang.menyapa pasir putihbibir pantai sari ringgungpantai sari ringgung

Esoknya, di hari minggu, saya berniat melakukan lari pagi dan sembari mencari target tempat yang tepat.

Melalui penelusuran google (yang ternyata salah hitung juga), gunung terdekat berjarak 13 kilometer dan itu terlalu jauh buat kakiku. Akhirnya sasaran ku alihkan ke pantai terdekat dan google menuntun ke pantai Mutun yang berjarak 5 kilometer. Ini baru pas, baik jaraknya mau pun pemandangannya yang berupa matahari terbit.

Sayangnya aku sedikit kesiangan dan sewaktu aku mulai berlari waktu sudah menunjukkan jam 7 lewat 30 menit. Tak apa lah, toh pagi masih indah untuk disapa.

Satu kilometer kemudian, bersua lah aku dengan Tahura, taman hutan raya, di tepi jalan Way Rate. Secepat kilat kuganti rute lari menuju gerbang tahura Wan Abdul Rachman yang berjarak satu kilometer dari jalan Way Rate.di gerbang tahura

Di gerbang Tahura

parkir tahura wan abdul rachmanpasar tahura wan abdul rachmanSetibanya di gerbang yang menganga, aku terus berlari menembus hutan menuju air terjun. Berdasarkan perhitungan aplikasi yang kugunakan maka tercatat puncak elevasi adalah 110 meter di lokasi air terjun. Sambil menikmati suasana, kakiku rehat di sana biar pun tak lama.air terjunair terjun tahura wan abdul rachman

Jarak yang kutempuh untuk rute dari desa Hanura ke air terjun di tahura dan kembali ke rumah tempat ku menginap adalah 6,77 kilometer.

Esoknya, kami sudah harus kembali ke rumah, namun sembari memanfaatkan waktu sebelum kembali maka ku putuskan untuk mendaki tahura lagi.

Jam menunjukkan pukul 9:21 pagi saat tiba di pintu masuk tahura dan aku kembali menyapa air terjun dan meneruskan pendakian menuju air terjun lainnya. Berdasarkan informasi yang kubaca di plang penunjuk arah yang tertutup pohon, terdapat 7 air terjun di kawasan seluas 22 ribu hektar ini. Namun hanya 2 air terjun saja yang infrastrukturnya relatif lebih baik sedangkan sisanya masih layaknya hutan.

Aku tersesat sesudah tak menemukan petunjuk jalan lagi, di saat yang sama keluarga menanyakan keberadaanku karena tiba waktunya kembali.

Ya sudah, ku putuskan untuk turun dari pada mencari jejak air terjun atau malah membuka rute baru karena kemungkinannya pun aku tak tahu sampai kapan atau berada di titik mana air terjun lainnya itu. Jika waktu luang mungkin akan kulakukan itu, tetapi mungkin lain kali bila bersua tahura lagi.