ADESTE FIDELIS

Fidelis Arie Sudarwoto menjadi nama simbolik bagi perjuangan seoang suami demi kesembuhan istrinya. Bila anda rajin menyimak berita-berita pada pekan ini maka nama Fidelis Arie menyeruak di tengah gencarnya warta persidangan Basuki Tjahaja Purnama, korupsi KTP elektronik dan kabar-kabar politis lainnya. Fidelis ditahan polisi atas tuduhan kepemilikan 39 batang pohon ganja di rumahnya, ia menanam bukan untuk menjadi petani ganja atau pengedar karena jumlah yang disita tidaklah banyak. Ia menanam untuk pengobatan istrinya yang tidak tersembuhkan oleh pengobatan modern dan juga tradisional.

Dalam wawancara bersama Kompas TV, Yohana, Kakak tersangka, mengatakan bahwa pengobatan yang dijalankan Fidelis didapat dari internet dan hasilnya pun terbukti positif karena istri tersangka akhirnya bisa tidur pulas, dapat makan dan mampu bicaa kembali. Indikasi baik ini menjadikan Fidelis terus menjalankan pengobatan dengan ekstrak ganja kepada istrinya.

Sayangnya pengobatan ini terhenti setelah polisi dan BNN mendapat laporan dan mendapati 39 batang pohon ganja di bawah kepemilikan Fidelis Arie, ia pun di tahan dan sang isti yang menjadi subyek pengobatannya dipindahkan ke rumah sakit. Bukannya membaik, kondisi istrinya memburuk dan akhirnya meninggal di rumah sakit tanpa ada upaya berarti dari para dokter.

Fidelis, kemungkinan besar nama ini berasal dari bahasa latin fideles yang berarti ‘orang beriman’, adalah potret buram dari kekakuan perangkat hukum dalam menerjemahkan tindakan hukum yang tepat. Pihak polisi dan BNN berdalih bahwa berdasarkan UU No 23 Tahun 2009 di pasal 111 maka tindakan yang dilakukan Fidelis dapat dikategorikan melanggar hukum pidana. Humas BNN berkutat pada alasan bahwa selama pasal tersebut belum diubah maka tindakan Fidelis dapat dikenakan tuntutan hukum dengan mengabaikan apapun alasannya.

Pengobatan menggunakan ganja bukanlah hal baru, ada banyak contoh kasus dimana penderita kanker dan epilepsi  mendapat manfaat positif dari pengobatan ini. Sejumlah ahli farmasi pun sudah melakukan penelitian tentang manfaat ganja secara medis, tulisan mengenai laporan penelitian mereka dapat anda temukan di internet. Di banyak negara pun penggunaan ganja untuk pengobatan medis sudah disetujui dengan resiko mengubah ganja dari narkotika golongan 1 menjadi golongan 3. Negara terakhir yang menyetujui aturan ganja untuk pengobatan adalah Turki dan banyak negara lainnya akan segera menyusul.

Di Indonesia pun wacana ini sudah digulirkan berbagai pihak sejak lama, pada kabinet SBY kedua sudah ada langkah maju dari Kementrian Kesehatan untuk memulai penelitian manfaat medis dari ganja. Namun pergantian kabinet rupanya juga pergantian kebijakan dan upaya Kemenkes tidak ada warta  selanjutnya.

Apa yang sudah dilakukan Fidelis adalah dua langkah maju dari apa yang Kemenkes akan rencanakan sebelumnya. Fidelis langsung menerapkan tanpa pengetahuan yang memadai kecuali apa yang ia dapat dari internet. Ia mampu membuat istrinya bisa tidur, makan dan bicara. Hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh para dokter sebelumnya. Fidelis tentu tidak dapat dikategorikan melakukan penyalahgunaan, melainkan pembenargunaan. Ia mengolah ganja, yang adalah ciptaan Tuhan, dan menjadikannya bermanfaat sebagai bahan pengobat bagi penyakit istrinya.

Fidelis melakukannya karena rasa cinta, dengan iman yang penuh bahwa istrinya akan segera sembuh. Ia tidak berpikiran menggunakan ganja untuk meraup keuntungan sebagaimana para bandar narkotika.  Walau ia pun sadar tindakannya beresiko hukum. Namun keyakinannya untuk kesembuhan istri tercinta mengalahkan rasa takutnya akan ditangkap aparat.

Hukum memang berlaku untuk semua masyarakat tanpa kecuali, tetapi esensi hukum adalah menegakkan keadilan dan bukan penghukuman secara membabi buta. Hukum yang adil mesti mengikutsertakan hati dalam penilaiannya, tanpa keterlibatan hati maka hukum terasa kering dan tak dapat dipercaya. Dalam kasus Fidelis, hukum menjadi perangkat prosedural yang kaku dan sudah mengakibatkan jatuhnya korban yaitu istri Fidelis. Apakah ini adil?

Bagaimana mengakhiri dilematika ini? Humas BNN sebenanya sudah memberi sinyal bahwa selama belum ada perubahan dalam UU tentang Narkotika maka kepemilikan ganja untuk tujuan medis sekalipun adalah perbuatan melanggar hukum pidana. Artinya, aturan hukumnya perlu diubah. Malangnya kita tidak bisa berharap dari legislatif yang sampai saat ini masih kedodoran dalam pembahasan Undang-Undang yang masuk dalam prolegnas.Materi legislasi yang masuk dalam prolegnas pun tentu tidak mudah karena melewati seleksi ketat yang berpotensi ‘diuangkan’ oleh pihak legislatif. Karenanya tidak heran bila ada RUU yang perlu lebih dari satu periode untuk pembahasannya. Lain halnya bila RUU yang dibahas mendatangkan manfaat ekonomi bagi pihak-pihak tertentu dalam lingkaran legislator  tentu akan cepat menjadi UU. Bagaimana dengan UU Narkotika?

Realitanya akan menjadi  sulit bagi DPR periode sekarang untuk merevisinya, tetapi bukan berarti tidak mungkin karena di negara lain pun yang sudah menyetujui penggunaan ganja secara medis juga membutuhkan perjuangan yang lama. Desakan elemen masyarakat adalah alat perjuangan untuk legalisasi ganja medis. Kriminalisasi terhadap Fidelis adalah penyemangat para pejuang senyum untuk terus mendesak pemerintah memulai penelitian ganja secara medis. Wawasan masyarakat perlu dibuka bahwa ada pembenargunaan dari ganja yang selama ini tidak mereka ketahui karena ditutupi agitasi aparat yang menakut-nakuti dengan ancaman hukuman.

Ini adalah perjuangan orang-orang yang memiliki keyakinan. Sebagaimana langkah kaki orang beriman yang mantap walau banyak duri berserakan di jalanan karena seperti Fidelis,mereka melakukannya dengan kecintaan, dengan keyakinan bahwa jalan mereka adalah baik bagi orang lain yang menderita penyakit berat, dengan keimanan bahwa Tuhan sudah menyediakan obat bagi segala penyakit.Maka, datanglah wahai orang-orang yang beriman, wahai orang-orang yang berkeyakinan, dan kita suarakan bahwa Fidelis dan mereka yang bernasib sama dengan istrinya layak diselamatkan hidupnya. Karena dengan menyelamatkan mereka maka secara tidak langsung kita juga menyelamatkan hukum dari prosedural kaku dan kering yang memisahkan hukum dengan keadilan, yang menjauhkan hukum dari rasa percaya masyarakat.

 

Catatan:

Judul “Adeste Fidelis” adalah plesetan dari bahasa latin “Adeste Fideles” yang berarti “Datanglah orang-orang beriman”.