Posted on

GINTUR DI GUNTUR LAGI

Bagi yang baru kali ini membaca tulisan saya maka perlu diberitahukan bahwa tulisan ini adalah sekuel dari tulisan saya tahun lalu yang bertitel “GINTUR DI GUNTUR”. Bila dalam tulisan terdahulu saya sudah mengurai rute maka pada tulisan ini tidak akan membahasnya lagi. Jadi bila anda berkeinginan untuk mengunjungi Gunung Guntur maka dapat membaca tulisan saya terdahulu untuk mendapat informasi lengkapnya.

Perjalanan ke Guntur kembali ini adalah pertama kalinya dalam sejarah saya, biasanya saya tidak pernah mendatangi tempat yang sama untuk kedua kali atau bahkan lebih. Tetapi kali ini saya memutuskan untuk kembali ke gunung Guntur, hal ini dikarenakan saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri untuk kembali dan menjejakkan kaki ke puncak dua gunung Guntur.

guntur dari kaki gunung

Guntur dari kaki gunung

Puncak dua gunung guntur adalah titik tertinggi dari empat puncak yang ada di gunung ini. Ketinggiannya mencapai 2249 MDPL, dan di puncak dua ini juga terdapat tugu titik GPS. Selain itu di puncak dua ini juga pemandangan kota Garut yang dikelilingi gunung Cikuray dan Papandayan dapat terlihat lebih luas lagi. Namun yang menjadi incaran banyak pendaki tentunya adalah tiadanya hambatan dalam memandang terbitnya matahari. Inilah tujuan pendakian gunung guntur bagi kebanyakan pendaki, temasuk saya.

tugu gps di puncak 2

tugu GPS di puncak 2

Namun bukan itu saja, karena pada alinea sebelumnya saya tuliskan bahwa kembalinya saya ke guntur adalah janji yang sudah saya ucapkan kepada diri sendiri. Apa pentingnya hal tersebut? Toh hanya saya yang tahu janji tersebut, bukan? Lagi pula apa manfaatnya bagi orang lain, khususnya yang membaca tulisan ini?

Buat saya menunaikan janji kepada diri sendiri adalah penting. Karena bila saya tidak mau melunasi janji kepada diri sendiri  maka saya menjadi pribadi yang tidak layak untuk dihomati. Janji adalah hutang yang harus dilunasi, dan walau tak ada saksi sekalipun tetap harus dilunasi. Persoalan kapan waktu melunasinya tidak menjadi soal sepanjang kita tetap berusaha untuk melunasinya. Dan bila melunasinya membuat kita harus menerima konsekwensi tertentu pun harus diterima dengan lapang hati.

jelang puncak 1

jelang puncak 1

Ada sebuah dialog menarik, yang saya saksikan dari sebuah film yang diputar di bis dalam perjalanan pulang dari guntur. Entah judulnya apa tetapi yang jelas lanjutan dari The Lords Of The Ring. Dalam sebuah adegan perundingan antara Bard si pembunuh naga dengan Thorin Oakenshield raja para kurcaci di muka istana Erebor, Thorin bertanya,”Jelaskan padaku kenapa aku harus menghormati perjanjian itu?,” dan jawaban Bard,”Karena kau sudah berjanji.” Tepat seperti itulah bagaimana cara membangun kehormatan diri, dengan menepati janji.

kabut menebal

Kabut menebal

Bila pada tahun lalu, fisik saya tidak sanggup untuk menggapai puncak dua dan saya tahu diri untuk tidak memaksanya. Maka pada tahun ini, untuk merealisasikan janji, saya mempersiapkan fisik sejak berbulan-bulan sebelumnya. Seorang kawan yang merupakan pelatih kebugaran menyatakan bahwa untuk meningkatkan stamina tubuh maka latihan yang harus dijalankan adalah lari. Saya mengikuti saran yang diberikannya. Sejak bulan september saya berlari pada sore hari sebanyak 3-4 kali seminggu dengan jarak 2-3 kilometer.  Tidak berat walau juga tidaklah ringan, namun dengan intensitas latihan berbulan-bulan itu saya berhasil meningkatkan daya tahan tubuh saya sedikit demi sedikit.

Saya mendaki guntur sejak jam 7 pagi, tiba di pos 3 pada jam 10 dan hinggap di puncak 1 pada jam 1 siang. Dari kuantitas waktu tempuh mungkin tidak terlalu jauh dari tahun lalu namun dari segi kebugaran saya merasa tidak terlalu letih seperti dulu. Tepat jam 2 tenda sudah didirikan dan sambil menunggu sore saya makan siang lalu merebahkan diri. Jam 4 sore hujan rintik membangunkan saya dan selanjutnya hingga malam tiba tak ada apapun di langit kecuali kabut tebal, pupus sudah harapan untuk menjadi saksi tenggelamnya matahari untuk terakhir kali di tahun 2016. Tetapi tak apa, harapan kini masih tersisa pada menyaksikan matahari terbit untuk pertama kalinya di tahun 2017.

tendarurat

tendarurat

Tetapi angin menunjukkan kuasanya pada malam tahun baru.  Setiap tenda digoyang dengan ganasnya, walau tak sampai roboh namun cukuplah memberi gambaran betapa dahsyatnya angin malam itu. Saya bergegas menerobos dingin mencari tenda lain yang berjarak sekitar 35-40 meter untuk menemukan kawan-kawan baru sekaligus hangatnya api unggun. Ada 4 tenda yang berkerumun dan ditengahnya terlihat beberapa orang berjuang menyalakan api untuk menanak nasi dan air panas. Saya ikut bergabung dengan mereka, mencoba membantu menyalakan api sekaligus berbincang. Mereka dari Karawang dan tiba dengan kereta di Stasiun Leles, ada 12 orang dan rata-rata berusia  20 tahunan. Mereka tergabung dalam komunitas pecinta alam yang baru berdiri dan ini adalah pengalaman pertama mereka mendaki Guntur. Kami pun bertukar cerita sembari terus berusaha menyalakan api pada tumpukan arang yang mereka bawa. Syukurlah api bisa membara dan mematangkan nasi liwet untuk santap malam serta air panas untuk sajian susu jahe. Hingga jam sebelas malam mereka semua lelah dan memutuskan untuk beristirahat, saya pun pamit sembari menekankan janji esok pagi berangkat bersama ke puncak dua untuk menikmati matahari pertama tahun ini.

secangkir kopi dan kabut

secangkir susu jahe dan kabut

Ditengah perjalanan kembali ke tenda, angin masih dengan gagahnya berkelana ke segala arah. Beruntung masih tersisa hangatnya susu jahe dan api unggun dalam tubuh dan kulitku. Namun demikian serangan bertubi-tubi dari angin malam hingga jelang pagi membuat anusku terus berteriak di sela-sela waktu tidurku, bagusnya tidak disertai bau. Tubuhku menjadi semacam resonator dari angin.

Jam 4 lewat 20 menit, kawan-kawan yang baru kukenal semalam sudah berkerumun di depan tendaku. Mereka tidak memanggil, cukup saling berbicara satu sama lain di muka tenda dan itu sudah cukup untuk membangunkanku. Sepuluh menit kemudian kami pun berangkat menuju puncak masih ditemani dengan derasnya angin. Jalan menanjak sekitar 81 derajat ditambah kecepatan angin yang luar biasa membuat pendakian ini begitu menantangnya. Saya tertinggal di belakang karena beberapa kali berhenti untuk mengisi perut dengan roti yang berada di saku celana dan meminum air di saku sebelahnya lagi. Ini perlu, karena sejak bangun tidur tadi, saya belum memasukkan apa pun ke dalam tubuh sementara pendakian membutuhkan energi yang tidak sedikit. Sekitar 35 menit perjalanan ini akhirnya membawaku ke puncak dua, semburat matahari adalah salah satu pendorongku untuk terus melaju. Karena sia-sialah pendakian ini bila ternyata matahari sudah terbit sebelum saya tiba.

jelang terbit

jelang terbit

Di puncak dua ternyata sudah banyak yang datang, dan ada banyak tenda pula yang berdiri. Padahal serangan angin tiada habisnya di puncak ini. Semua kepala menoleh ke timur, menyaksikan detik demi detik timbulnya matahari sembari berfoto. Bahagia begitu sederhana bagi kami semua pagi itu. Dan tunai sudah janjiku pada diri sendiri untuk berada di puncak dua. Butuh 365 hari untuk melunasinya memang namun saya puas juga bahagia. Puas karena sudah melunasi janji dan bahagia karena menjadi satu dari ratusan pendaki pagi itu yang menjadi penyaksi matahari pertama di tahun 2017.

first sunrise

first sunrise

happiness is so simple

happiness is so simple

tunai sudah janji

tunai sudah janji

matahari pagi 2017

matahari pagi 2017

Iklan

One response to “GINTUR DI GUNTUR LAGI

  1. Ping-balik: TIDUR DI PUNGGUNG LEMBU | Catetan Si Boy

Tuliskan Responmu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s