PADA MULANYA ADALAH IMAJI.

Sekumpulan visual bertumpukan dalam benak, kebanyakan berasal dari apa yang sudah direkam mata selama hidup namun tak sedikit yang merupakan hasil alam bawah sadar yang kerap terepresentasikan dalam mimpi-mimpi dan gestur. Setiap hari sepanjang hayat akan teresepsi semua imaji memenuhi memori, dan semuanya menjadi milik pribadi.

Lalu, apa yang bisa dilakukan dengan aset imaji yang kita miliki?

Untuk itulah seni hadir dalam dunia, ia menjadi wadah untuk mengolah segala imaji nan abstrak mewujud dalam bentuk kreasi yang bisa disaksikan dan dinikmati oleh orang lain.

Seni dalam segala perwujudannya adalah medan komunikasi antara imaji-imaji dalam benak kreator dengan daya apresiasi publik, perangkatnya bisa beraneka tergantung kepada disiplin seni pelakunya.

Imaji ini pula yang menjadi basis penciptaan dari seorang sutradara Jepang, Toshiki Okada, yang disampaikannya dalam lokakarya penyutradaraan pada 14-16 november 2016 di Bale Handap, Selasar Sunaryo Art Space, kota Bandung.

Toshiki Okada adalah sutradara dari kelompok Chelfitsch, yang berdiri sejak 1997. Bersama kelompoknya ini ia memenangkan penghargaan prestisius Kishida Kunio Drama Award ke-49 untuk karyanya berjudul Five Days In March (2005). Karya lainnya seperti Air Conditioner (Cooler) juga mendapat banyak perhatian dalam Toyota Choreography Award 2005. Di tahun 2016 ini ia akan memulai menyutradarai karya-karyanya dalam sebuah program teater di Munich Kammerspiele selama tiga periode ke depan.

Karya-karya pertunjukan Toshiki bersama Chelfitsch dianggap mewakili ‘generasi yang hilang’ di Jepang. Generasi yang paling terpengaruh oleh resesi Jepang di tahun 1990-an, yang harus menghadapi tantangan-tantangan ekonomi dan politik yang tercipta oleh gelembung perekonomian yang meletus (bubble burst) di negerinya.

Metode penciptaan karya-karya teaternya berasal dari pergumulan kreatif para aktor dalam pergumulannya dengan alam bawah sadar mereka yang tersajikan dalam gestur. Sutradara, sekaligus penulis yang dalam kelompok ini adalah Toshiki Okada, memiliki hak prerogatif dalam menentukan pola-pola gesturyang sesuai dengan kebutuhan teks yang tercantum dalam naskah. Dari perkawinan teks dan gestur inilah lahir komunikasi yang terelasi dengan perasaan terasing yang dimiliki penonton. Strategi dramaturgi yang dikembangkan Toshiki Okada ini menempatkannya dalam garda terdepan teater hiperrealis Jepang.

Kehadiran Toshiki Okada di Indonesia kali ini dalam lokakarya penyutradaraan adalah upaya Tim Kurator Art Summit Indonesia 8 guna menjembatani pelaku teater Indonesia dengan pelaku teater dunia. Pertemuan ini ditujukan guna membahas berbagai pendekatan dan wilayah estetika baru serta isu-isu penting seni pertunjukan terkini. Dari festival lokakarya ini akan menjadi bahan untuk membaca kembali peta seni pertunjukan kontemporer sebelum mereposisi Art Summit Indonesia di tengah konstelasi festival-festival seni lainnya di kancah internasional.

 

 

IMAJI.

toshiki-1

Kata Imaji adalah sebuah re-translasi dari ‘Image’ yang di terjemahkan Yoko Nomura dari uraian Toshiki Okada dalam bahasa Jepang. Kata ini menjadi penting untuk diperjelas karena luwesnya bahasa Indonesia dalam referensi padanan kata-kata. Imaji disini adalah semakna dengan yang diurai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu: (1) Sesuatu yang dibayangkan dalam pikiran, bayangan. (2) imajinasi.

Imaji diperlukan sebagai titik pacu dari setiap pengucapan teks dan perlakuan tubuh terhadap teks itu sendiri.

Sebenarnya hal ini adalah sesuatu yang lazim dalam setiap metode penyutradaraan teater, saya ingat akan pelatihan pemeranan yang pertama kali saya ikuti 20 tahun lalu dengan pembicara Rizal Nasti, Andi Bersama dan Dindon WS. Ketiganya mengajarkan pola-pola latihan tubuh yang berbeda namun dengan sebuah kesepahaman bahwa setiap teks yang terlontar dari mulut aktor harus bermuatan imaji agar setiap kalimat menjadi hidup dalam ruang benak penonton.

Pada metode Toshiki Okada, imaji (image) menjadi basis dari pengucapan (speech) dan gestur (movement). Kedua hal yang terakhir adalah medium yang dapat dimengerti penonton pada umumnya dengan sedikit pembeda bahwa yang satu terdengar dan yang lainnya terlihat. Imaji menghidupkan kata-kata dengan memberi muatan riil maupun sureal yang terkandung dalam memori aktor.
Imaji haruslah tergambar dengan jelas dalam benak si aktor, semakin nyata imaji maka akan menambah daya hidup pada teks dan gestur dari aktor. Pada saat imaji tergambarkan maka di saat yang sama aktor wajib mengendalikan posisi agar tetap ‘mendua’ dimana imaji yang ada di benaknya dan relasi dengan penonton yang berada di depannya  menjadi kutub-kutub yang menjaga keseimbangan aktor dalam menyampaikan peran dan pesannya. Bila teks adalah bentuk komunikasi verbal maka gestur adalah komunikasi non-verbal. Keduanya bahu membahu saling melengkapi agar pesan dapat terkomunikasikan dengan baik kepada penonton.

toshiki-3

Guna mempraktikkan apa yang diberikan Toshiki Okada dalam lokakarya ini sebanyak 15 aktor dari seluruh nusantara diajak untuk mengenali kesadaran akan ruang. Para peserta diminta untuk mempresentasikan rumah (entah itu rumah masa kecil, masa kini atau rumah sebatas tempat persinggahan) yang menjadi perwujudan akan ruang yang akrab secara personal dengan para peserta. Satu demi satu peserta maju dan berkisah tentang rumah mereka, Toshiki meminta kepada peserta lain dan pengamat (yang jumlahnya ada 11 orang dan juga dari berbagai daerah) untuk lebih memperhatikan gestur dari setiap peserta yang sedang bercerita.

Perhatian lebih kepada gestur inilah yang membedakan Toshiki Okada bersama kelompoknya jika dibandingkan dengan sutradara dan kelompok teater lainnya. Karena  gestur lebih natural dan tidak dibuat-buat dan gestur yang kaya akan menambah warna dari pementasan, sebagaimana yang terlihat jelas dalam video pementasan Chelfitsch. Setiap aktor memiliki ragam gesturnya yang sangat pribadi dan dengan sendirinya gestur masing-masing aktor akan menjadikan perannya menjadi bagian berharga dari pementasan.

Gestur adalah serangkaian gerak tubuh yang muncul dari respon alam bawah sadar, sedikit berbeda dengan ekspresi-mikro dalam ukuran atau kwantitas manifestasinya. Tubuh yang memiliki imaji yang berlimpah akan berimbas kepada gestur yang ekspresif.  Gestur yang ekspresif tidaklah berarti pergerakan yang berlebihan apalagi berusaha menjelaskan sekonkrit mungkin apa yang tergambar dalam imaji, melainkan pergerakan tubuh yang lahir secara jujur dan alamiah dalam menyikapi imaji.

Sensibilitas peserta terlatih kala mereka  membagi fokus antara mengumpulkan memori tentang rumah dan memberi perhatian kepada gestur peserta lainnya, kepekaan akan situasi ‘mendua’ ini diharapkan juga dapat membantu peserta kala berada di atas panggung.

Kata-kata bukanlah hal yang esensial dalam lokakarya ini, ini dibuktikan pada hari ketiga ketika para peserta saling bertukar ‘rumah’. Mereka tidak meniru apa yang sudah dipresentasikan peserta lain, tetapi mereka memahami ruang-ruang dari peserta lain. Apa yang diucapkan tidaklah menjadi penting, sepanjang detail rumah dapat tergambar jelas di penonton maka itu adalah bagus. Dan karenanya daya konsentrasi dan kekuatan imaji menjadi fundamental dari pelatihan kali ini.

Karena pada mulanya adalah imaji.

`toshiki-2

Iklan