Posted on

MENYAKSIKAN GERHANA DI SITIHINGGIL

MENYAKSIKAN
Menjadi saksi kadang adalah situasi yang tidak diinginkan setiap orang, apalagi bila harus bersaksi di pengadilan atas sebuah kasus pidana. Dalam persidangan pernyataan seorang saksi akan diuji kebenarannya dan seringkali harus dikaitkan dengan preferensi subyektif dari sang saksi yang bisa saja melewati penggalian yang kasar. Itulah kenapa banyak orang yang sebisa mungkin tidak dilibatkan menjadi saksi atas sebuah peristiwa pidana yang dilihatnya. Namun dalam peristiwa kesenian maka menjadi saksi adalah suatu hal yang sedapat mungkin tidak untuk dilewatkan bagi kebanyakan orang. Menonton pertunjukan seni sejatinya adalah menjadi saksi atas peristiwa kesenian. Banyak peristiwa kesenian yang terjadi sepanjang tahun di berbagai tempat namun mayoritas tak terjaring oleh media massa. Hal ini tidak sepenuhnya menjadi kesalahan pers, bisa jadi karena informasi yang tidak sampai kepada media atau mungkin juga karena jumlah peristiwa kesenian yang terjadi tidak sanggup untuk diliput oleh jurnalis itu sendiri. Karena tidak semua pewarta dapat menjadi saksi peristiwa kesenian maka kehadiran penonton dengan piranti berupa kamera ponsel dan akun media sosial adalah sebuah alternatif bagi publik yang tidak sempat menjadi saksi dalam peristiwa kesenian tersebut. Dan melalui tulisan ini, saya sedang memaparkan kesaksian saya kala diundang untuk menonton sebuah pertunjukan teater.
Bertempat di Wisma Sitihinggil, sebuah ruang alternatif untuk pementasan kesenian yang terletak di tengah-tengah kepungan rumah-rumah masyarakat di wilayah Tanah Tinggi di Kota Tangerang. Tempat ini belum lama berdiri, setidaknya dari yang saya tahu dari kawan-kawan seniman, usianya belum lagi setahun. Namun dari tempat inilah kesaksian saya mulai melaju.
Minggu, 10 April 2016. Kebanyakan orang mungkin sedang menikmati masa liburnya, tapi tidak dengan Teater Cahaya UMT. Selama tiga hari dimulai dari tanggal 8 hingga 10 April mereka memainkan lakon Gerhana. Dan kabarnya selama tiga hari itu pula penonton memadati Wisma Sitihinggil yang berkapasitas sekitar 50-70 orang penonton itu. Saya sebetulnya sudah mendapat kabar untuk hadir pada gladi resik namun karena mendadaknya berita maka saya mencoba meluangkan waktu pada hari terakhir untuk menghadirinya.
Hal ini menjadi penting bagi saya, karena menonton peristiwa kesenian adalah sebuah kebutuhan rohani bagi jiwa saya. Mengapresiasi sebuah pementasan pada substansinya adalah memberikan makanan dengan menu artistik dan estetik bagi pikiran saya. Dengan menonton pun maka saya menjadi saksi, dan dengan demikian maka saya harus memberikan kesaksian kepada publik dalam cara yang bisa saya lakukan, yaitu menulis.
Karenanya untuk memenuhi rasa lapar pikiran saya terhadap pertunjukan seni ini pun saya bergegas menuju tempat yang dituju. Lewat Jalan Jendral Soedirman, tepatnya di muka gerbang Komplek Kehakiman di seberang Komplek Pusat Pemerintahan Kota Tangerang saya berjalan terus menuju Mesjid Al-Muhajirin. Mesjid ini menjadi penanda lokasi karena Wisma Sitihinggil terletak di sekitar Komplek Mesjid tersebut. Bagi anda yang belum pernah ke tempat ini sebaiknya banyak bertanya karena jalan menuju lokasi lumayan jauh dari pinggir jalan raya.

GERHANA
Lakon Gerhana ditulis oleh Sutradara Teater Cahaya UMT yaitu Intan Sari Ramdhani berdasarkan cerita pendek berjudul sama karya Mohammad Ali. Saya belum membaca cerita pendek tersebut namun berdasarkan keterangan Madin Tyasawan, supervisor Produksi dalam pentas ini, cerita yang ditulis tidak mengubah banyak dari cerita pendek. Kalau pun ada perbedaan tentunya dalam misi meruangkan peristiwa yang terjadi dalam cerpen tersebut.
Ceritanya sendiri bagi saya realistis, adalah Sali yang kalap karena pada suatu pagi ia mendapati pohon pepaya satu-satunya yang tumbuh di pekarangan rumahnya dalam keadaan roboh melintang di tanah. Ia marah dan merasakan ketidakadilan. Sali lantas bergegas mengadukan peristiwa itu ke pihak yang berwenang. Dari Pak Lurah, kecamatan hingga kepolisian ia datangi. Namun aduannya dianggap terlalu remeh untuk ditindak lanjuti. Padahal tempat-tempat yang didatanginya adalah tempat yang sepengetahuannya bisa untuk mengadukan permasalahan dan mendapat solusi yang berkeadilan. Cemooh dan bentakan kemarahan yang didapatnya membuatnya limbung akan pencarian keadilan. Ia menanggung beban berat atas tumbangnya pohon pepaya miliknya, dan.. sebaiknya saya tidak perlu rinci dalam hal ini karena akan merusak imaji publik yang belum dan ingin menyaksikan lakon ini.

Sali diancam Polisi

Sali diancam Polisi

Lakon ini dipenuhi banyak unsur simbolik. Dimulai dari pemberian judul yang setahu saya tidak sekalipun terucapkan. Tentu ini memancing pertanyaan dari penonton. Apa relasi Gerhana dengan situasi yang terjadi? Gerhana adalah fenomena alam dimana posisi bumi dan bulan berada dalam satu garis lurus dengan matahari. Bila gerhana matahari maka bumi dalam keadaan gulita sesaat, sedangkan dalam gerhana bulan maka bulan akan menghilang sejenak. Ketiadaan bulan atau matahari yang sesaat tersebut menimbulkan imajinasi bagi nenek moyang yang mendiami nusantara ini untuk menciptakan narasi-narasi menggemparkan yang disebut dengan mitos. Pada saat gerhana matahari total tahun 1983, saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar ikut merasakan mitos yang dirakit oleh kekuasaan pada waktu itu untuk menimbulkan ketakutan pada publik yang akhirnya bersembunyi di rumah masing-masing dan menutup pintu juga jendela. Reaksi yang berbeda justru terjadi pada maret 2016, kala gerhana matahari kembali melintasi negeri ini. Gerhana menjadi sebuah peristiwa yang harus dirayakan, berbondong-bondong publik dari mancanegara juga mengunjungi titik-titik perlintasan. Walaupun begitu, masih banyak juga masyarakat tidak peduli terhadap fenomena alam tersebut dan memilih terus bekerja seperti biasa. Pilihan akan pemaknaan gerhana memang menjadi hak setiap orang, tidak terkecuali gerhana dalam lakon pementasan ini. Simbolisme berlanjut dalam penamaan peran utama yaitu Sali yang memiliki makna teguh atau kuat. Bagi masyarakat di dunia timur, nama adalah doa, adalah harapan dari si pemberi nama terhadap orang yang dinamai. Tidak terkecuali bagi penulis lakon ini yang berharap nama Sali dapat menyiratkan harapan sang penulis terhadap peristiwa. Terus terang saya belum mengkonfirmasi hal ini kepada si penulis cerita, bisa dikatakan ini tafsir dari saya sebagai penyaksi. Simbolisme juga kuat dalam penataan set yang memiliki konsep set bertumbuh. Ruang yang diciptakan dalam panggung bisa dibilang tidak mencoba menjiplak sepenuhnya akan realita, namun dengan berbagai penanda yang akrab dalam benak penonton. Strategi penataan set demikian kiranya sebagai upaya beradaptasi dengan ruang yang ada. Dan itu sudah maksimal dimata saya.
Perlu diketahui bagi publik yang belum dan ingin menyaksikan lakon ini bahwa cerita ini akan dibawa kembali pada Fesdrak 2016 yang juga berlangsung di Wisma Sitihinggil pada minggu ketiga bulan Mei hingga awal Juni 2016. Dan karenanya pementasan ini menjadi penting bagi Teater Cahaya UMT dan Wisma Sitihinggil untuk menguji coba lakon di ruang pentas alternatif ini.

DI SITIHINGGIL
Pada alinea kedua dan paragraf di atas ini saya tuliskan Wisma Sitihinggil sebagai ruang alternatif pertunjukan seni dan ini adalah kesengajaan dari saya untuk menggambarkan impresi kegembiraan dari saya akan terciptanya ruang pertunjukan baru di kota Tangerang. Ini menjadi penting bagi saya yang juga pelaku kesenian karena dengan demikian membuka peluang bagi saya dan pelaku seni lain untuk berkiprah di sini. Lokasinya yang rapat dengan rumah-rumah penduduk sekitar menebar benih kesempatan bagi publik untuk berkenalan dengan pertunjukan seni dan menjadi penyaksi. Bagi saya ini positif karena semakin banyak ruang pertunjukan maka semakin banyak pilihan bagi publik untuk menyaksikan pertunjukan seni yang beragam.
Dari penuturan Madin Tyasawan dan Eb Magor, Wisma Sitihinggil dimiliki dan dikelola secara mandiri. Saya kagum mendengar ini, karena butuh ‘kegilaan’ untuk membuka ruang pertunjukan tanpa dukungan pemerintah. Di kota lain mungkin hal ini biasa, tetapi di Tangerang ini langka.
Karenanya saya berharap Wisma Sitihinggil dapat terus konsisten menyajikan pementasan bagi publik Tangerang dan sekitarnya, dengan atau tanpa APBD.

TITIK
Sebelum mencapai titik maka perlu kiranya saya mengantarkan konklusi atas kesaksian saya ini. Gerhana masa kini adalah momentum perayaan penyatuan harmoni antara manusia dengan ruang semesta. Ini adalah sebuah keindahan, dan itu pula yang sudah dilakukan dengan maksimal oleh Teater Cahaya UMT pada pementasan kali ini di ruang bernama Wisma Sitihinggil.

Bagikan Responmu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.