CHANG CHI-MAN

Sebelas  orang berselempangkan AK-47 naik dari buritan kapal, mereka lantas menyebar sambil menodongkan senapan ke arah para ABK yang sudah terduduk pasrah.  Kapal ini berbendera Australia dengan awaknya yang berasal dari berbagai negara, ketika dibajak sedang mengangkut 56.789 ton batubara dari Pelabuhan Tarakan menuju Pelabuhan Yokohama. Di tengah perjalanan rupanya kawanan perompak Lanun Majenun sudah mengintainya dan membajaknya di tengah perairan internasional. Peristiwa ini bukan yang pertama bagi kelompok Lanun Majenun, mereka merompak untuk mendanai perjuangan membentuk negara sendiri di pulau Majenun. Modus operasi mereka biasanya menjual barang bawaan kapal dan menyandera para awak demi uang tebusan yang besarannya tidak bisa ditawar. Uang yang mereka terima dari penjualan di pasar gelap dan tebusan para sandera setelah dipotong merata untuk biaya operasional akan dibelikan persenjataan mutakhir juga dari pasar gelap. Kali ini kapal Australia yang menjadi korban, dan kesebelas orang dengan senapan AK-47 ini segera memindahkan para ABK ke kapal kecil mereka untuk dibawa ke pulau Majenun, tanah air Lanun Majenun. Tinggallah 5 orang dari perompak ini yang bertugas menjaga kapal sambil menghubungi pembeli batubara di tengah lautan. Sayangnya, komunikasi mereka tersadap oleh agen rahasia dan akibatnya dalam hitungan sepuluh menit saja, sebenarnya  9 menit 21 detik namun dibulatkan ke atas,  kelima perompak ini dikagetkan oleh sesuatu yang muncul dari laut di muka kapal secara tiba-tiba. Belum habis rasa kaget itu, mereka dikejutkan lagi oleh sengatan listrik yang mengenai tangan dan kaki mereka secara bergantian. Dampaknya senapan yang digenggam pun terlempar ke bawah dan kelima perompak tersebut jatuh pingsan seketika. Sesuatu yang muncul dari laut dan menembakkan arus listrik ke arah para perompak itu adalah Chang Chi-Man. Robot super berbaju baja dengan perlengkapan canggih dan ketangkasan yang tiada lawan. Chang Chi-Man mengontak Pusat Kontrol dan melaporkan kondisi kapal beserta batubaranya aman. Sesudahnya ia mendapat koordinat baru untuk dituju, ke lokasi para sandera dibawa dan kemudian ia pun mengubah sebagian kakinya menjadi semacam papan ski dengan mesin pendorong bertenaga jet. Dalam hitungan menit, detilnya dua menit 19 detik, Chang Chi-Man sudah menyusul perahu pembawa sandera, terjadi kontak senjata antara perompak dengan Chang Chi-Man namun kesemua peluru yang ditembakkan tidak menembus kulitnya. Keenam perompak itu berusaha menjadikan para sandera sebagai tameng, namun upaya mereka kalah cepat dari aksi Chang Chi-Man yang tiba-tiba saja sudah di tepi perahu dan kembali menembakkan arus listrik kepada para perompak yang sudah diidentifikasi olehnya sejak kontak senjata tadi. Semua perompak menggelepar pingsan dan menyisakan para sandera yang sedari tadi menunduk sambil menutup kepala mereka dengan kedua tangan.  Tepat jam 1 siang operasi pembebasan kapal berbendera Australia dari pembajakan kelompok Lanun Majenun telah berakhir dengan tingkat keberhasilan 100% dan tanpa korban satu pun dari semua pihak. Para sandera dipisahkan dari perompak dan mereka diamankan oleh pasukan Australia yang memang sudah bersiaga di perbatasan. Para perompak ditangkap dan diadili di Mahkamah Internasional.

 

Keberhasilan Chang Chi-Man dalam waktu satu jam kemudian sudah diberitakan di media massa. Semua stasiun tv berita dunia mengirim jurnalis terbaiknya ke perairan di dekat lokasi perompakan, begitu pula pewarta foto dari berbagai negara ramai-ramai ikut menumpang kapal militer Australia yang bersedia mengantarkan mereka mendekati kapal yang dibajak untuk mendapat foto yang eksklusif. Judul beritanya hampir senada, berupa puja-puji bagi Chang Chi-Man. Nyaris tak ada media arus utama yang mendapati setitik pun cela dari operasi pembebasan ini. Chang Chi-Man menjadi kesayangan media. Kecuali bagi media-media perlawanan anonim yang memang sedari dulu tidak setuju dengan sikap redaksi media arus utama.

 

Chang Chi-Man adalah sebuah prototipe dari investasi besar untuk keamanan dunia. Ia diciptakan dari tubuh manusia yang diisi dan dilapisi dengan teknologi pertahanan dan persenjataan mutakhir.  Dimodali oleh konsorsium multinasional dan dilandasi oleh kekhawatiran kian maraknya tindak terorisme  yang menyasar kepentingan-kepentingan ekonomi dan berimbas kepada krisis global maka diciptakanlah Chang Chi-Man. Tugasnya menjamin keamanan dunia. Ya di dunia. Karena aparat polisi atau tentara seringkali tidak bisa bertindak cepat karena kendala prosedural teritorial, maka dicapailah kesepakatan bahwa Chang Chi-Man dapat beroperasi di wilayah mereka guna menjamin keamanan tanpa izin apa pun sepanjang Chang Chi-Man lewat Pusat Kontrol selalu melaporkan keberadaannya di negara yang didatanginya. Luar biasa.

 

Tugas mulia dan privilese yang diterima Chang Chi-Man ini memang sebanding. Robot pahlawan super ini memang tak ada duanya. Padahal, dulunya ia adalah seorang kuli pasar yang suka berkelahi. Pernama, ini bukan salah tulis tapi memang namanya Pernama dan bukan Purnama atau Permana, adalah sosok yang ditakuti oleh warga sekitarnya. Tidak hanya karena tubuhnya yang kekar, tetapi juga karena kemahirannya berkelahi. Ia ditakuti sekaligus disegani.  Banyak remaja-remaja mengagumi Pernama karena ia juga mengajarkan seni bela diri tanpa meminta bayaran. Ia ditakuti oleh preman jalanan hingga ormas paramiliter karena pembelaannya terhadap pedagang pasar yang sering dimintai uang ini-itu setiap hari. Tak terhitung lagi mereka yang sudah merasakan pukulannya dan kemudian mengumpulkan dendam hari demi hari. Sampai pada suatu ketika, para preman jalanan ini bersekutu dengan ormas paramiliter menjalankan strategi mengakhiri Pernama. Mereka menculik Pernama disaat ia tertidur lelap dan memukulinya bertubi-tubi dengan benda apa pun yang di dekatnya. Pernama tewas dan mayatnya dibuang ke pinggir jurang, preman jalanan serta ormas berpesta. Warga bertanya-tanya akan hilangnya Pernama. Mereka tidak tahu mencari kemana. Setelah tiga hari, bau mayat melesat ke atas jurang dan seorang supir truk yang sedang kencing mencium bau itu dan menemukannya. Ia melapor ke polisi dan kemudian paramedis berdatangan mengambil mayat Pernama yang tidak dikenali itu untuk dibawa ke rumah sakit.

 

Di rumah sakitlah, mayatnya ditemukan oleh tim ekspedisi yang ditugaskan untuk mencari tubuh yang cocok untuk menjadi bagian dari proyek yang dikerjakan. Statusnya sebagai mayat yang tak dikenal dan tidak ada keluarga yang mengambil  juga menjadi salah satu faktor penting dalam pemilihan itu. Mereka mengotopsi mayat Pernama dan menemukan bahwa struktur ototnya bagus, jantungnya sehat, dan memiliki bentuk fisik yang proporsional. Tim tersebut membawa mayat Pernama yang dilabeli sebagai Mr.X itu ke laboratorium mereka di Haifa. Mereka membedah tubuhnya dan memasangkan beragam jaringan elektronis menggantikan urat-urat syaraf lama. Mereka juga mengenakan baju baja yang bisa berubah bentuk sesuai kebutuhan. Mirip dengan Iron Man, bedanya yang ini permanen. Mereka telah menjadi tuhan, menghidupkan kembali Pernama dalam bentuk baru: Chang Chi-Man. Namanya diambil dari nama konsorsium yang memodali proyek ini. Komposisi kepemilikannya adalah  27,71% Chang Chi Corp dari Tiongkok, 21,9% Al Eldul Oil dari Arab Saudi, 19,77% West e-West Ltd dari Amerika Serikat, 17,71% Beth Shame Bank milik Israel dan sisanya 12,91% dimiliki Rostograd Akademiya dari Rusia. Dengan modal finansial dari multinasional inilah proyek keamanan dunia didanai.

kerangka cerpen Chang Chi-Man

                             Kerangka Cerpen Chang Chi-Man

Lima bulan lamanya mayat Pernama yang bermetamorfosa menjadi Chang Chi-Man dilatih oleh instruktur-instruktur multi-disiplin yang terbaik dari penjuru dunia.  Karena struktur tubuhnya yang sudah terlatih maka tidaklah sukar bagi para pelatih itu untuk mengajarkan tehnik bela diri. Kendala hanya pada mengadaptasi baju baja dan penerapannya untuk berbagai situasi.  Karena Chang Chi-Man sejatinya adalah robot yang memakai wadah tubuh manusia maka perasaan dan logikanya diganti menjadi memori yang mekanis.

 

Pada bulan ke-tujuh Chang Chi-Man diuji cobakan terjun ke lapangan, dengan misi menangkap seorang dari etnis Uighur yang hendak meledakkan diri di lapangan Tiananmen. Misi berhasil, tersangka teroris dilumpuhkan dan bom yang berada di rompinya berhasil dijinakkan. Media tidak mengetahui, selain karena restriksi berita yang menjadi kewenangan pemerintah Tiongkok namun juga karena  ini adalah medan uji coba yang tidak perlu diketahui publik. Begitupun misi berikutnya, menangkap penjual senjata dari Rusia yang hendak bertransaksi dengan pembelinya di Palmyra. Dilanjutkan misi demi misinya di berbagai lokasi dunia sengaja dirahasiakan dari publik dikarenakan sifatnya yang percobaan.

 

Pada bulan ke-delapan barulah Chang Chi-Man diumumkan kepada publik tepat sesudah operasi pembebasan kapal Australia yang dituliskan pada awal cerita ini. Ini adalah kejutan bagi dunia, munculnya pahlawan super yang tidak didominasi oleh negara tertentu. Pahlawan dengan nama a la asia dan kemampuan yang tiada dua. Delapan pemimpin negara besar dunia segera mengadakan pertemuan untuk membahas dukungan bagi program Chang Chi-Man yang pada intinya memberikan izin baginya untuk beraksi menumpas kejahatan global bila itu berlangsung di wilayahnya. Tidak butuh waktu lama bagi delapan negara besar ini untuk mendiktekan apa yang sudah dilakukannya agar diterima di ratusan negara lainnya. Akhirnya Chang Chi-Man memiliki izin tanpa batas untuk beroperasi di seluruh penjuru dunia. Berbagai korporasi juga bergabung dalam konsorsium untuk memasok berbagai perlengkapan yang dibutuhkan Chang Chi-Man. Dari kepala hingga mata kaki semuanya adalah produk terbaru dengan garansi seumur hidup. Chang Chi-Man menjadi fenomena menarik idaman media massa, karena dunia selalu butuh idola baru. Ia laksana “opium for the people” yang didengungkan Marx dahulu kala. Berbagai produk turunan dengan model Chang Chi-Man seperti boneka, komik, bantal, film animasi dan lain-lain menjadi incaran publik di manapun jua.

 

Jam sembilan malam, ia mendapat perintah baru. Misi kali ini adalah memadamkan upaya pemberontakan yang melibatkan rakyat miskin di sebuah negara kepulauan. Pemberontakan ini dirancang oleh aliansi Anarkis, Komunis, Sosialis dan Islamis (AKSI) dengan bertumpu pada dukungan mayoritas  rakyat miskin di negeri yang konon potensial menjadi besar itu. Aksi revolusi ini dikhawatirkan akan menghancurkan fundamental ekonomi negeri itu yang sebagian besar didanai dari pinjaman luar negeri dengan agunan sumber daya alam. Belum lagi ancaman nasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak luar negeri. Semua indikator ditambah data intelijen sudah memungkinkan bagi Chang Chi-Man untuk beraksi. Demi memadamkan pemberontakan ini maka ia harus menangkap para pemimpin aliansi AKSI. Chang Chi-Man segera terbang dengan kecepatan tinggi  ke ibukota negara kepulauan ini. Tak dinyana ia disambut oleh rakyat miskin bersenjatakan bambu runcing sebagai juru selamat. Mereka mengira kedatangannya untuk membantu revolusi ini. Namun tidak demikian dengan apa yang ada di pikiran para pemimpin AKSI. Mereka curiga Chang Chi-Man akan memadamkan pemberontakan, untuk itu mereka merancang jebakan maut dengan meminta robot itu berpidato di tengah kepungan massa. Chang Chi-Man belum mendapat momentum tepat untuk melaksanakan tugasnya, karenanya ia mencoba mengikuti alur yang ditawarkan orang-orang yang ingin ditangkapnya ini. Di depan podium sederhana ia kini berdiri, namun sesaat setelah ia menyentuh tiang mikropon yang sudah dialiri listrik bertegangan tinggi maka terlemparlah ia dan mengakibatkan gangguan pada sistem memorinya. Dalam keadaan tidak sadarkan diri, para pemimpin AKSI membuka paksa topeng baja di kepala Chang Chi-Man dan , “Pak Nama?”seru seorang yang pertama melihat wajah itu. “Pak Per!”, seru seorang lagi yang juga menatap. Keduanya mengenali wajah ini dengan panggilan yang berbeda. Yang menyebutnya Pak Nama adalah bekas murid bela dirinya sedang yang memanggil Pak Per adalah mantan ketua ormas paramiliter yang kini keduanya bersekutu untuk menggelar revolusi.

 

Chang Chi-Man dibawa ke ruang interogasi oleh rakyat yang masih bingung akan apa yang terjadi. Disitu ia diikat rantai baja. Sekitar jam 10 malam, ia siuman. Dengan topeng yang terbuka dan kerusakan pada memorinya membuat ia tak bisa mengendalikan kekuatannya. Disini para pemimpin AKSI bergantian memeriksa sembari melakukan reindoktrinasi. Mereka membongkar ulang pemahaman Chang Chi-Man akan siapa dirinya di tengah dunia. Mereka menunjukkan bukti penunjang berupa dokumentasi kekejaman kapitalis global lewat para penguasa terhadap rakyat miskin.  Pada saat itu berlangsung, komunikasi dengan Pusat Kontrol memang terputus akibat meledaknya beberapa cip dalam tubuh Chang Chi-Man yang bertugas sebagai  pengirim dan penerima sinyal komunikasi.  Namun sebenarnya Chang Chi-Man memang dibuat dengan teknologi tinggi yang memungkinkan setiap perangkat dapat memperbaiki sendiri kerusakan yang dialami dengan durasi minimal satu jam tergantung dari tingkat kerusakannya. Dan sementara perbaikan swadaya berlangsung, indoktrinasi yang terjadi secara tidak sadar merasuk kedalam memori Chang Chi-Man. Akibatnya terjadi pemahaman baru bahwa ia hanya alat penghancur milik kapitalis global. Di saat yang tidak begitu lama, perbaikan setiap perangkat telah selesai dan komunikasi dengan Pusat Kontrol kembali berlangsung. Chang Chi-Man kembali bisa dikendalikan dan ia pun melepas rantai baja yang mengikatnya kemudian atas perintah Pusat Kontrol ia menangkap para pemimpin AKSI tanpa perlawanan berarti. Ia membawa ke empatnya menuju pelabuhan terdekat dan meminta kapal induk untuk segera merapat dan membawanya kembali ke Pusat Kontrol.

 

Jelang tengah malam mereka sudah berada di Pusat Kontrol. Para pemimpin AKSI digiring ke penjara, sedang Chang Chi-Man dibawa ke pusat perbaikan untuk mendeteksi kerusakan yang ada. Namun kini Chang Chi-Man telah berubah, ia bukan lagi Chang Chi-Man yang mutlak di bawah kendali Pusat Kontrol, ia kini bisa berpikir merdeka dan mendapati bahwa dirinya bukan lagi penjaga keamanan dunia melainkan penjaga kepentingan kapitalis global. Ia mengamuk dan menghancurkan segala yang ada didekatnya. Ini pemberontakan Chang Chi-Man.  Ia menuju Pusat Kontrol dan melumpuhkan semua penjaga serta menghukum mati para pengendali. Namun Pusat Kontrol punya kartu truf bila terjadi malfungsi. Mereka menekan tombol pemusnahan Chang Chi-Man. Dengan tombol itu maka akan terjadi kerusakan yang dilakukan oleh setiap perangkat dalam diri Chang  Chi-Man secara simultan dan otomatis. Mereka semua hancur secara bersamaan tepat semenit sebelum jam 12 malam. Dan keadaan ini memaksa para investor untuk menghentikan program Chang Chi-Man seraya menyebarkan kabar bahwa robot pahlawan itu hancur dalam ledakan yang dirancang oleh pemimpin AKSI. Berita ini mengguncangkan dunia sekaligus meredam nafsu pemberontakan di negeri kepulauan tadi. Dunia bersatu dalam duka, bendera setengah tiang dikibarkan sejak pukul 00:00 hingga batas waktu yang belum ditentukan.

 

Ditulis pada tanggal 27 April 2016

Selesai jam  17:00 WIB

 

Iklan

MENYAKSIKAN GERHANA DI SITIHINGGIL

MENYAKSIKAN
Menjadi saksi kadang adalah situasi yang tidak diinginkan setiap orang, apalagi bila harus bersaksi di pengadilan atas sebuah kasus pidana. Dalam persidangan pernyataan seorang saksi akan diuji kebenarannya dan seringkali harus dikaitkan dengan preferensi subyektif dari sang saksi yang bisa saja melewati penggalian yang kasar. Itulah kenapa banyak orang yang sebisa mungkin tidak dilibatkan menjadi saksi atas sebuah peristiwa pidana yang dilihatnya. Namun dalam peristiwa kesenian maka menjadi saksi adalah suatu hal yang sedapat mungkin tidak untuk dilewatkan bagi kebanyakan orang. Menonton pertunjukan seni sejatinya adalah menjadi saksi atas peristiwa kesenian. Banyak peristiwa kesenian yang terjadi sepanjang tahun di berbagai tempat namun mayoritas tak terjaring oleh media massa. Hal ini tidak sepenuhnya menjadi kesalahan pers, bisa jadi karena informasi yang tidak sampai kepada media atau mungkin juga karena jumlah peristiwa kesenian yang terjadi tidak sanggup untuk diliput oleh jurnalis itu sendiri. Karena tidak semua pewarta dapat menjadi saksi peristiwa kesenian maka kehadiran penonton dengan piranti berupa kamera ponsel dan akun media sosial adalah sebuah alternatif bagi publik yang tidak sempat menjadi saksi dalam peristiwa kesenian tersebut. Dan melalui tulisan ini, saya sedang memaparkan kesaksian saya kala diundang untuk menonton sebuah pertunjukan teater.
Bertempat di Wisma Sitihinggil, sebuah ruang alternatif untuk pementasan kesenian yang terletak di tengah-tengah kepungan rumah-rumah masyarakat di wilayah Tanah Tinggi di Kota Tangerang. Tempat ini belum lama berdiri, setidaknya dari yang saya tahu dari kawan-kawan seniman, usianya belum lagi setahun. Namun dari tempat inilah kesaksian saya mulai melaju.
Minggu, 10 April 2016. Kebanyakan orang mungkin sedang menikmati masa liburnya, tapi tidak dengan Teater Cahaya UMT. Selama tiga hari dimulai dari tanggal 8 hingga 10 April mereka memainkan lakon Gerhana. Dan kabarnya selama tiga hari itu pula penonton memadati Wisma Sitihinggil yang berkapasitas sekitar 50-70 orang penonton itu. Saya sebetulnya sudah mendapat kabar untuk hadir pada gladi resik namun karena mendadaknya berita maka saya mencoba meluangkan waktu pada hari terakhir untuk menghadirinya.
Hal ini menjadi penting bagi saya, karena menonton peristiwa kesenian adalah sebuah kebutuhan rohani bagi jiwa saya. Mengapresiasi sebuah pementasan pada substansinya adalah memberikan makanan dengan menu artistik dan estetik bagi pikiran saya. Dengan menonton pun maka saya menjadi saksi, dan dengan demikian maka saya harus memberikan kesaksian kepada publik dalam cara yang bisa saya lakukan, yaitu menulis.
Karenanya untuk memenuhi rasa lapar pikiran saya terhadap pertunjukan seni ini pun saya bergegas menuju tempat yang dituju. Lewat Jalan Jendral Soedirman, tepatnya di muka gerbang Komplek Kehakiman di seberang Komplek Pusat Pemerintahan Kota Tangerang saya berjalan terus menuju Mesjid Al-Muhajirin. Mesjid ini menjadi penanda lokasi karena Wisma Sitihinggil terletak di sekitar Komplek Mesjid tersebut. Bagi anda yang belum pernah ke tempat ini sebaiknya banyak bertanya karena jalan menuju lokasi lumayan jauh dari pinggir jalan raya.

GERHANA
Lakon Gerhana ditulis oleh Sutradara Teater Cahaya UMT yaitu Intan Sari Ramdhani berdasarkan cerita pendek berjudul sama karya Mohammad Ali. Saya belum membaca cerita pendek tersebut namun berdasarkan keterangan Madin Tyasawan, supervisor Produksi dalam pentas ini, cerita yang ditulis tidak mengubah banyak dari cerita pendek. Kalau pun ada perbedaan tentunya dalam misi meruangkan peristiwa yang terjadi dalam cerpen tersebut.
Ceritanya sendiri bagi saya realistis, adalah Sali yang kalap karena pada suatu pagi ia mendapati pohon pepaya satu-satunya yang tumbuh di pekarangan rumahnya dalam keadaan roboh melintang di tanah. Ia marah dan merasakan ketidakadilan. Sali lantas bergegas mengadukan peristiwa itu ke pihak yang berwenang. Dari Pak Lurah, kecamatan hingga kepolisian ia datangi. Namun aduannya dianggap terlalu remeh untuk ditindak lanjuti. Padahal tempat-tempat yang didatanginya adalah tempat yang sepengetahuannya bisa untuk mengadukan permasalahan dan mendapat solusi yang berkeadilan. Cemooh dan bentakan kemarahan yang didapatnya membuatnya limbung akan pencarian keadilan. Ia menanggung beban berat atas tumbangnya pohon pepaya miliknya, dan.. sebaiknya saya tidak perlu rinci dalam hal ini karena akan merusak imaji publik yang belum dan ingin menyaksikan lakon ini.

Sali diancam Polisi

Sali diancam Polisi

Lakon ini dipenuhi banyak unsur simbolik. Dimulai dari pemberian judul yang setahu saya tidak sekalipun terucapkan. Tentu ini memancing pertanyaan dari penonton. Apa relasi Gerhana dengan situasi yang terjadi? Gerhana adalah fenomena alam dimana posisi bumi dan bulan berada dalam satu garis lurus dengan matahari. Bila gerhana matahari maka bumi dalam keadaan gulita sesaat, sedangkan dalam gerhana bulan maka bulan akan menghilang sejenak. Ketiadaan bulan atau matahari yang sesaat tersebut menimbulkan imajinasi bagi nenek moyang yang mendiami nusantara ini untuk menciptakan narasi-narasi menggemparkan yang disebut dengan mitos. Pada saat gerhana matahari total tahun 1983, saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar ikut merasakan mitos yang dirakit oleh kekuasaan pada waktu itu untuk menimbulkan ketakutan pada publik yang akhirnya bersembunyi di rumah masing-masing dan menutup pintu juga jendela. Reaksi yang berbeda justru terjadi pada maret 2016, kala gerhana matahari kembali melintasi negeri ini. Gerhana menjadi sebuah peristiwa yang harus dirayakan, berbondong-bondong publik dari mancanegara juga mengunjungi titik-titik perlintasan. Walaupun begitu, masih banyak juga masyarakat tidak peduli terhadap fenomena alam tersebut dan memilih terus bekerja seperti biasa. Pilihan akan pemaknaan gerhana memang menjadi hak setiap orang, tidak terkecuali gerhana dalam lakon pementasan ini. Simbolisme berlanjut dalam penamaan peran utama yaitu Sali yang memiliki makna teguh atau kuat. Bagi masyarakat di dunia timur, nama adalah doa, adalah harapan dari si pemberi nama terhadap orang yang dinamai. Tidak terkecuali bagi penulis lakon ini yang berharap nama Sali dapat menyiratkan harapan sang penulis terhadap peristiwa. Terus terang saya belum mengkonfirmasi hal ini kepada si penulis cerita, bisa dikatakan ini tafsir dari saya sebagai penyaksi. Simbolisme juga kuat dalam penataan set yang memiliki konsep set bertumbuh. Ruang yang diciptakan dalam panggung bisa dibilang tidak mencoba menjiplak sepenuhnya akan realita, namun dengan berbagai penanda yang akrab dalam benak penonton. Strategi penataan set demikian kiranya sebagai upaya beradaptasi dengan ruang yang ada. Dan itu sudah maksimal dimata saya.
Perlu diketahui bagi publik yang belum dan ingin menyaksikan lakon ini bahwa cerita ini akan dibawa kembali pada Fesdrak 2016 yang juga berlangsung di Wisma Sitihinggil pada minggu ketiga bulan Mei hingga awal Juni 2016. Dan karenanya pementasan ini menjadi penting bagi Teater Cahaya UMT dan Wisma Sitihinggil untuk menguji coba lakon di ruang pentas alternatif ini.

DI SITIHINGGIL
Pada alinea kedua dan paragraf di atas ini saya tuliskan Wisma Sitihinggil sebagai ruang alternatif pertunjukan seni dan ini adalah kesengajaan dari saya untuk menggambarkan impresi kegembiraan dari saya akan terciptanya ruang pertunjukan baru di kota Tangerang. Ini menjadi penting bagi saya yang juga pelaku kesenian karena dengan demikian membuka peluang bagi saya dan pelaku seni lain untuk berkiprah di sini. Lokasinya yang rapat dengan rumah-rumah penduduk sekitar menebar benih kesempatan bagi publik untuk berkenalan dengan pertunjukan seni dan menjadi penyaksi. Bagi saya ini positif karena semakin banyak ruang pertunjukan maka semakin banyak pilihan bagi publik untuk menyaksikan pertunjukan seni yang beragam.
Dari penuturan Madin Tyasawan dan Eb Magor, Wisma Sitihinggil dimiliki dan dikelola secara mandiri. Saya kagum mendengar ini, karena butuh ‘kegilaan’ untuk membuka ruang pertunjukan tanpa dukungan pemerintah. Di kota lain mungkin hal ini biasa, tetapi di Tangerang ini langka.
Karenanya saya berharap Wisma Sitihinggil dapat terus konsisten menyajikan pementasan bagi publik Tangerang dan sekitarnya, dengan atau tanpa APBD.

TITIK
Sebelum mencapai titik maka perlu kiranya saya mengantarkan konklusi atas kesaksian saya ini. Gerhana masa kini adalah momentum perayaan penyatuan harmoni antara manusia dengan ruang semesta. Ini adalah sebuah keindahan, dan itu pula yang sudah dilakukan dengan maksimal oleh Teater Cahaya UMT pada pementasan kali ini di ruang bernama Wisma Sitihinggil.