video:anonim
musik:boy mihaballo

#KamiTidak akut, ups…

 

Iklan

GINTUR DI GUNTUR

 

 

Gintur                   : tidur. (dikutip dari Kamus Prokem)

Guntur                 : suara menggelegar di udara (disebabkan oleh halilintar); guruh. (dikutip dari KBBI)

 

Definisi judul di atas menjadi relevan saya tulis karena ada beberapa hal yang bertaut erat dengan isi tulisan. Kata gintur akrab bagi mereka yang lahir di tahun 70-80an, diambil dari bahasa prokem yang tak mudah dimengerti oleh generasi sesudahnya, karena generasi berikutnya memiliki bahasa slang tersendiri dengan rumusan yang berbeda. Kata tidur kini lebih banyak disebut “durti” bagi generasi muda kini sebagai penanda komunikasi. Dan tentu saja baik bahasa prokem era 70-80an dengan bahasa slang masa kini tidak termasuk dalam kaidah berbahasa yang baik dan benar. Namun bila itu efektif tentu tidak penting lagi kaidah-kaidah berbahasa yang baku tersebut.

Kata guntur sendiri bila dibaca dari Kamus Besar Bahasa Indonesia tentu terdengar menyeramkan, tetapi yang saya maksudkan disini adalah nama sebuah gunung yang terletak di Garut, Provinsi Jawa Barat. Walau saya melakukan perjalanan ke gunung Guntur di awal musim hujan namun tidak ada halilintar yang menakutkan.

Gunung Guntur menggoda benak saya sejak sekitar tiga tahun lalu, melalui sebuah acara tv saya menemukan pesona Gunung Guntur. Yang menggoda adalah anda harus melewati areal kering pertambangan pasir sebelum akhirnya menemukan sumber air dan puncak yang beruntun.

Ada empat puncak di Gunung Guntur dan tiap puncak hanya terseling palung yang lumayan dalam untuk kemudian menanjak kembali menuju puncak berikutnya.

Namun sebelum sampai di puncak, ada baiknya saya urutkan dahulu kronologis rute menuju Gunung Guntur.

Saya memilih moda transportasi bis untuk menuju Garut. Ada beberapa pilihan terminal. Kalideres, Ciputat dan Kampung Rambutan. Karena saya ingin tiba di Garut pagi hari maka pilihan saya jatuh pada terminal Kampung Rambutan, karena dari sini ada jadwal keberangkatan tengah malam. Tetapi perlu dibaca rutenya karena ternyata ada trayek Jakarta-Garut yang melewati Puncak-Ciawi-Cianjur dan memerlukan waktu 10 jam, sebaiknya pilih trayek Jakarta-Garut via tol Cipularang yang menghemat hingga setengah waktu perjalanan.

Sebelumnya saya sebenarnya ingin menaiki rute truk pasar dari Pasar Induk Tanah tinggi, Tangerang namun dengan keluarnya edaran kemenhub soal pelarangan truk melintas di Jalan tol selama libur tahun baru membuat saya berpikir kembali mencoba rute ini.

SPBU Tanjung yang terletak di Jalan Otista, Tarogong Kaler adalah titik pemberhentiannya. Pada lanskap belakang SPBU ini terhampar Gunung Guntur. Akses menuju Gunung ini terletak sekitar 20 meter di sisi kiri SPBU menghadap jalan. Ada sebuah gapura dengan tulisan yang kecil, rapat dan tidak terlalu terlihat dari seberang jalan menandakan jalur masuk menuju Gunung Guntur. Anda bisa menaiki ojek yang banyak mangkal di gerbang ini, dengan membayar biaya sekitar 15ribu rupiah anda akan diantar ke pos pertama tempat pendaftaran bagi para pendaki. Biaya ojek ini sebenarnya hanya 10ribu rupiah, seolah deja vu dengan kejadian 365 hari sebelumnya di tempat yang berbeda.

Pos pendaftaran ini adalah sebuah rumah yang dihibahkan oleh seorang warga bernama Ibu Tati. Di rumah ini para pendaki wajib mendaftarkan diri dengan mengisi formulir serta menitipkan KTP. Bagi pendaki dalam kelompok besar maka akan dikenakan retribusi sebesar 5.000-7.500 rupiah, sedangkan bagi pendaki yang datang sendiri justru gratis.

Jarak dari gerbang di samping SPBU Tanjung hingga ke pos pendaftaran ini sejauh tiga puluh menit berjalan kaki, dari situ sesudah mendaftarkan diri maka kita mulai menuju pos 3 tempat perkemahan yang bila ditempuh dengan berjalan kaki secara santai menghabiskan dua jam perjalanan. Sebenarnya ada beberapa truk tambang pasir yang bisa membantu kita menghemat waktu dan tenaga, namun sejak kasus terbunuhnya Salim Kancil di Lumajang yang berimbas pada penutupan tambang-tambang ilegal di seluruh Indonesia maka tertutup sudah peluang kita menghemat waktu juga tenaga. Kalaupun masih ada jumlahnya berkurang jauh dibandingkan dahulu. Kebetulan sekali perjalanan saya menuju pos 3 dibantu oleh truk yang membawa rombongan relawan Gunung Guntur. Ada seorang perempuan berhijab yang sebelumnya menerima saya di pos pendaftaran berteriak kencang, “Oom Boyyy, ayo naikk…” Teriakan ini menyadarkan saya bahwa ada rentang usia antara saya dengan para pendaki lainnya. Dan memang, di truk itu para pendaki terlihat lebih muda usianya, perkiraan saya antara 17-25 tahun usia mereka. Yang terlihat tua hanya supir truk dan dua orang pekerja tambang dan….. saya.

DSC_0002589-truk

selfie di atas truk tumpangan

Truk mengantar kami di perbatasan jalur tambang dengan jalur pendakian. Kami pun turun, beristirahat sebentar sekedar merapikan peralatan yang dibawa untuk kemudian dipandu para relawan saya pun mulai menuju pos 3. Treknya berupa tanjakan berbatu dengan elevasi sekitar 71-76 derajat (estimasi saya). Sangat menguras tenaga bagi pengelana seperti saya. Setiap sekitar 20 menit kami beristirahat di saung-saung terdekat sekedar melepas penat. Terus terang saya tak kuat mengikuti semangat mereka, makanya saya memutuskan beristirahat lebih lama agar mereka tidak terbebani dengan saya, lagi pula di belakang saya masih ada banyak rombongan pendaki lain yang bisa membantu saya menemukan jalan.

DSC_0002593-trek batu

trek batu

Jam empat sore saya tiba juga di pos 3, saya mendaftar ulang di pos relawan kemudian mengisi perbekalan air karena sumber di atas tidak ada. Sebenarnya sempat ada yang menawarkan jalur pendakian lain kepada saya, tanpa melewati pos 3 langsung ke puncak namun masalahnya bila air tidak cukup maka harus kembali turun ke pos 3. Jalur ini ada yang menyebutnya jalur ilegal, melewati jalan berpasir dengan kemiringan yang serupa. Disebut ilegal karena para pendaki di jalur ini tidak akan terdeteksi keberadaannya oleh pos relawan di pos 3.

DSC_0002614-rambu.jpg

pos tiga

Setelah mengisi air, saya melihat situasi di pos 3 yang sudah ramai oleh warna-warni tenda para pendaki. Suasana sore itu sempat riuh oleh kehadiran seekor babi bernama Berry peliharaan Polisi Hutan yang wara-wiri mencari makanan sisa para pendaki. Banyak pendaki yang memotretnya, termasuk saya.

DSC_0002594-berry

seekor babi bernama Berry

Selanjutnya saya memutuskan menuju Puncak mumpung langit masih cukup terang. Hal ini penting karena saya tidak membawa senter untuk menjadi mata saya di malam hari. Ada beberapa jalur menuju puncak satu, namun sebaiknya tidak mengikuti rute berkerikil karena itu adalah jalur turun yang malah menyulitkan bagi mereka yang hendak mendaki. Saya mengikuti anjuran beberapa relawan yang saya temui untuk mengikuti barisan pohon pinus karena lebih sedikit berkerikil sehingga tidak terlalu menyulitkan kaki untuk mendaki. Sayangnya pada jarak sekitar 1300 meter dari puncak, langit mulai gelap dan rombongan pendaki yang terdahulu sudah sampai di puncak sementara rombongan di bawah belum muncul lagi. Jam 6 sore saya memutuskan demi keselamatan untuk menghentikan pendakian dan membangun tenda di tepi jalan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tendarurat

 

Tenda yang saya bangun adalah buatan dari bahan banner yang dijahit tangan dengan bentuk sederhana, lagipula karena hanya saya sendiri maka tak perlu rapi yang penting bisa jadi tempat untuk tidur dan aman dari hujan atau kabut. Jam tujuh malam, tenda sudah berdiri.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

lanskap Garut di malam hari dari muka tenda

Berikutnya adalah waktu makan malam, dengan menu sederhana namun kaya karbohidrat. Setelah makan, saya mengantuk dan tidur. Tidur kali ini begitu nikmatnya walau dibawah tenda terasa sekali batu-batu menyembul ditambah kemiringan yang cukup menyulitkan, tetapi saya berhasil tidur lelap di Gunung Guntur. Bila memakai bahasa prokem; Gintur di Guntur. Sekitar jam dua belas malam saya dikagetkan dengan suara kembang api diikuti dengan teriakan riuh para pendaki di pos 3. Kembang api cukup mengganggu, karena bukankah kita ingin menyepi dan menyatu dengan alam? Bunyi kembang api mengembalikan memori akan lanskap perkotaan. Dan memang, para relawan juga mencari dan menyita kembang api dari pemiliknya agar tidak terulang lagi.

Fajar pertama di tahun 2016 begitu indahnya, ini sekaligus penanda waktunya saya meneruskan pendakian ke puncak 1. Jam menunjukkan setengah enam pagi, dan saya mulai melangkah lagi. Saya tetap pada kecepatan yang santai, karena dalam mendaki bukan kecepatan yang utama tetapi keselamatan. Yang perlu diwaspadai dari pendakian ini adalah batu-batu yang berguling dengan cepat, bila tidak cekatan bisa berakibat jatuhnya korban. Di pos 3 relawan juga terpampang foto-foto para pendaki yang tertimpa batu-batu. Bahkan pernah ada yang sampai tewas.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

fajar pertama 2016

Di tengah pendakian, saya disusul oleh seorang anak muda bernama Iksan yang asli Kemayoran. Dari bawah saya melihat ia mendaki sambil bertelanjang dada. Ia menyusul saya dan saya pun menyodorkan air minum baginya. Kami pun berbincang sepanjang perjalanan menuju puncak. Banyak wawasan yang terkuak lebar dari perbincangan dengannya. Ia memanggil saya dengan “Pak”, entah dari mana ia punya gagasan memanggil saya dengan sebutan itu, bisa jadi dari beberapa jenggot putih yang menyembul di bawah dagu saya. Namun beda generasi ini tidak membuat kami jadi canggung, karena kami berada dalam posisi yang sama; dalam pendakian. Walau ia lebih muda tetapi saya banyak belajar darinya dan ia pun juga mau bersabar untuk saya ketika letih mulai merintih.

DSC_0002600-bulan

secuil bulan di atas puncak

Jam delapan pagi saya sampai di puncak satu, ditemani iksan. Ia menawarkan pendakian ke puncak 2 yang terletak di depan mata, tetapi saya menolak karena saya tahu batas daya tahan tubuh saya sudah terlewati dan saya tidak mau memaksakan diri mendaki puncak 2. Seperti yang dia katakan pula bahwa terkadang gunung itu menipu, apa yang terlihat dekat belum tentu dekat. Di puncak saya meminta air panas dari rombongan pendaki yang sedang membereskan tenda hendak turun, berbekal air panas tersebut tersajilah kopi panas dan mi instan sebagai kawan sarapan. Sayangnya Iksan bergegas turun karena saya tidak melanjutkan perjalanan ke puncak 2. Kami pun berpisah di atas.

DSC_0002605-puncak

di puncak 1 dengan latar puncak 2

DSC_0002606-kopi

secangkir kopi panas di puncak 1

Tiga jam di puncak saya memutuskan untuk turun karena kabut sudah mulai berhamburan. Dengan semakin banyaknya kabut maka akan menyulitkan mata untuk memandang dan itu lebih membahayakan ketimbang hujan.

DSC_0002602-kabut

kabut berhamburan

Perjalanan turun jauh lebih cepat karena ada jalur khusus yang disediakan oleh alam berupa jalan berkerikil yang dilalui dengan cara seperti ber-ski. Tumit sepatu menjadi andalan karena dari bagian kaki ini kita bisa meluncur pesat sekaligus berhenti. Mulanya saya terjatuh, dan sebagian esar pendaki yang turun lewat jalur itu juga mengalami jatuh pada awalnya, namun perlahan tubuh akan menyesuaikan diri dan menemukan ritmenya untuk menjaga keseimbangan saat meluncur turun.

DSC_0002611-trek turun

jalur ski-kerikil

Satu jam setengah perjalanan turun ini dan di penghujungnya hujan turun kian deras, ini menghentikan perjalanan saya karena jalur dari pos 3 menuju pos pendaftaran yang dipenuhi trek berbatu akan licin dan cukup berisiko tinggi.

Satu setengah jam saya tertahan di pos 3, hingga akhirnya jam setengah tiga sore saat hujan mulai mereda saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Beberapa kali terjatuh karena licin membuat kaki saya sedikit terkilir dan itu membuat tempo perjalanan melambat. Ada seorang anak muda bernama Kiki yang menemani perjalanan kali ini, ia mau bersabar dengan berjalan pelan-pelan sambil bercerita seputar Gunung Guntur. Ia yang memanggil saya dengan sebutan “pak” ini tinggal tidak jauh dari Gunung Guntur, hanya dua kali naik angkot. Darinya saya tahu bahwa para relawan yang berjaga di pos pendaftaran dan pos tiga ternyata banyak yang berasal dari daerah lain seperti Jatinangor, Sumedang bahkan Cirebon.

Jelang pos pendaftaran kami berdua berpapasan dengan rombongan off-roader yang melaju ke atas, entah dalam rangka apa yang jelas jumlahnya ada belasan mobil. Tiba di pos pendaftaran saya mengambil kembali KTP sembari membuang sampah saya dari atas di tempat yang disediakan dan berpisah dengan Kiki demi meneruskan perjalanan ke SPBU Tanjung.

Saya merasa paling tua dalam pendakian kali ini namun saya belajar banyak dari mereka yang berusia lebih muda karena menjadi tua belum tentu lebih tahu begitu juga sebaliknya yang muda belum tentu tidak tahu apa-apa.