Posted on

DI PUNCAK DARMA

 

Awalnya adalah gagasan ingin menikmati matahari terbenam di penghujung tahun 2014 di sebuah tempat yang berada di ketinggian namun masih bisa menatap lautan. Setelah melakukan pencarian melalui bantuan google terpilihlah Puncak Darma sebagai tujuan perjalanan.

Puncak Darma adalah satu dari beberapa destinasi wisata alami yang tergabung dalam Teluk Ciletuh Geopark, terletak di desa Ciwaru di tepi selatan Sukabumi dan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.

Untuk mencapai daerah ini saya tidak mendapat keterangan rinci, namun berbekal perkiraan berdasarkan jarak maka saya memperkirakan semua kendaraan yang menuju Pelabuhan Ratu bisa jadi melewati daerah ini.

Berangkat jam 5 pagi dari rumah, saya menuju Terminal Bis Poris Pelawad lalu menunggu bis jurusan Sukabumi. Sekitar jam 6:30 pagi bisa yang saya nanti tiba dan dengan perlahan membawa saya dan beberapa penumpang melaju ke arah tujuan.

Sekitar jam 11 siang saya sudah tiba di Sukabumi, dari sini saya bertanya kepada beberapa pengemudi angkutan umum yang mengarahkan saya untuk menaiki angkutan yang ke arah Ciwaru namun dari terminal yang berbeda.

Saya akhirnya menemukan terminal yang dituju namun karena hujan turun menghambat perjalanan maka pada saat saya menemukan angkutan yang dimaksud ternyata sudah melewati jam kerjanya. Pada saat itu jam 3 sore dan angkutan umum yang menuju Ciwaru akan hadir lagi besok pagi.

Tidak mungkin saya habiskan malam tahun baru di terminal bis yang namanya saya lupa tersebut, akhirnya saya kembali ke jalur yang menuju Pelabuhan Ratu. Banyak bis yang melintas ke sana sore itu dan saya menaiki salah satunya. Di dalam bis saya mendapat keterangan bahwa untuk menuju Ciwaru saya harus turun sebelum Pelabuhan Ratu di sebuah pertigaan bernama Bagbagan. Beruntung ada seorang penumpang yang tujuannya di Bagbagan dan dia pula yang mengajak saya segera turun saat bis melewati pertigaan tersebut.

Penumpang itu pula yang menyarankan saya untuk menaiki ojek agar dapat sampai di tempat yang saya maksud, namun tarif yang diminta tukang ojek tersebut melebihi estimasi saya. Para tukang ojek menawarkan harga 150ribu rupiah untuk mengantar dan buat saya itu melewati ambang batas biaya yang sudah saya rancang untuk perjalanan ini. Saya pun menolak tawaran tukang ojek, hari sudah senja, pukul 6 sudah tiba dan saya masih di pertigaan Bagbagan.

Setengah jam kemudian saya memutuskan untuk melakukan perjalanan dengan kedua kaki, karena tidak ada kendaraan yang bisa saya tumpangi. Saya tidak tahu berapa jauh lagi perjalanan namun karena waktu terus berjalan maka saya pun memtuskan untuk menyusulnya.

Satu setengah jam kemudian, saya menemukan warnet di tepi jalan dan saya mencoba mencari tahu berapa jarak yang harus ditempuh. Lewat google maps diperoleh keterangan bahwa jarak yang masih tersisa sekitar 40 kilometer lagi dengan waktu tempuh berjalan kaki sekitar 9 jam. Saya merasa keterangan ini lebih membantu dibanding jawaban orang-orang sekitar yang mengatakan jaraknya tidak terlalu jauh namun dengan rincian tempat-tempat yang saya tidak kenal.

Tiga puluh menit berlalu dan saya kembali melangkahkan kaki, melewati kampung demi kampung yang sebagian besar berada dalam kegelapan karena ada tiang listrik yang terkena longsor. Karena jalur yang saya lewati cenderung landai dengan elevasi yang tidak curam maka jarak sejauh apapun masih kuat saya layani. Saya pikir saya adalah satu-satunya orang yang berjalan kaki di jalur itu pada malam tahun baru itu karena sepanjang perjalanan saya tidak menemukan orang lain yang berjalan kaki. Kebanyakan dari mereka hanya melintas cepat di atas kendaraan roda dua ataupun roda empat tanpa sudi memberhentikan kendaraannya ketika saya mencoba menumpang.

Hujan turun tidak begitu deras namun konstan dan saya menyusuri jalan gelap di pinggiran hutan sambil mendengar beberapa kali kembang api yang menyala di kejauhan. Untungnya ada sebuah kendaraan yang mau saya tumpangi di tengah malam itu dan dia mengantar saya sampai di pertigaan yang disebut Pal Tilu Ciemas. Ada dua arah yang saya tak tahu mana yang mesti dipilih, supir kendaraan tadi juga langsung mengemudikan kendaraannya sesaat setelah saya turun. Tidak ada satu orang pun, dan saya memilih jalur kiri karena jalannya yang cenderung menurun dibanding jalur kanan yang menanjak. Pilihan ini dengan asumsi jalur menurun ini akan membawa saya ke arah pantai.

Tetapi hujan semakin deras, sementara baju di badan masih basah oleh hujan sebelumnya. Saya memutuskan berhenti sejenak di sebuah warung. Si pemilik warung bergegas ke arah depan mendengar suara orang duduk, ternyata si pemilik warung sedang galau. Ia baru dapat kabar bahwa anak dan besannya mengalami kecelakaan di Ujung Genteng, walau tidak tewas namun kabar itu menggelisahkannya malam itu sementara ia tidak bisa meninggalkan warung sekaligus juga rumahnya itu karena tidak adanya kendaraan umum malam itu.

Saat itu tahun sudah berganti selama setengah jam dan saya beristirahat sembari menikmati kopi hangat dan obrolan kegelisahan si pemilik warung. Tak lupa saya menanyakan arah menuju Teluk Ciletuh kepadanya. Ternyata pilihan saya di Pal Tilu Ciemas salah, walau jalur itu masih bisa menuju Ciletuh namun menjadi lebih jauh dibandingkan jalur kanan yang menanjak.

Hujan turun semakin lebat dan kian banyak yang turut beristirahat di warung kecil itu, tercatat ada dua rombongan bermotor dengan tujuan dan asal berbeda turut berteduh di warung itu. Yang pertama rombongan bermotor para pelajar dari wilayah Tangerang, mereka berangkat dari sore dan hendak ke Ujung Genteng. Ada sekitar 20 orang dengan 10 motor dengan dua perempuan dan selebihnya laki-laki. Yang saya ingat ada salah seorang gadis yang mengalami kram pada sebelah kaki sehingga ia perlu dipapah ke balai bambu yang terletak di samping warung, teman-temannya mencoba menghangati gadis itu dengan menyajikan minuman hangat yang dibeli di warung itu sambil membakar tumpukan kayu di sebuah kaleng agar kakinya bisa mendapat hangatnya. Sekitar satu jam kemudian mereka memutuskan melanjutkan perjalanan. Hujan sudah mereda, hanya gerimis yang tersisa.

Rombongan kedua hanya terdiri dari dua orang dengan dua motor dan mereka berasal dari Sukabumi dengan tujuan Pelabuhan Ratu, mereka lebih santai karena menghabiskan satu setengah jam dengan berbaring di kursi panjang tanpa suara. Saat gerimis pun mereka kembali di jalan, sementara saya menunggu waktu yang lebih panjang untuk kembali ke Pal Tilu dan menuju arah yang sudah diberitahukan pemilik warung.

Jam setengah lima pagi saya kembali berjalan kaki, setelah mengisi perut dengan mi instan hangat di warung tadi. Benar juga perkataan si pemilik warung, karena di jalur kanan menanjak di Pal Tilu Ciemas saya menemukan plang yang menunjukan arah ke Ciletuh Geopark. Di plang itu tertulis jarak 27 kilometer (kalau saya tidak salah ingat) lagi berarti bila merunut perhitungan jarak yang diberikan google map maka sudah lebih dari setengah perjalanan dari Bagbagan menuju Ciletuh.

Kali ini rute yang saya tempuh sedikit berbeda karena melewati perkebunan demi perkebunan. Sesekali juga melewati perkampungan, dimana dari mata penduduknya terasa ada keanehan saat menatap saya. Dari semalam memang keanehan itu juga saya temui dari beberapa orang yang saya tanyai, mereka heran ada seorang pejalan kaki dari Kota Tangerang berjalan seorang diri menuju tempat yang terpencil.

Namun di jalur ini saya bisa menumpang beberapa kali kendaraan untuk mempersingkat jarak tempuh, dan karena hanya ada satu jalan maka saya tak perlu kuatir tersesat di jalan. Jam satu siang saya sampai di sebuah desa yang saya lupa namanya namun di situ ada sebuah rumah yang menjadi kantor dari pengelola Kawasan Teluk Ciletuh Geopark. Sayangnya tak ada seorang pun di dalamnya, akhirnya dari serang ibu saya mendapat keterangan bahwa untuk sampai di Teluk Ciletuh saya harus menaiki satu lagi angkutan umum dengan tarif 10ribu rupiah.

DSC_0002011

Ada beberapa air terjun yang dilewati dan ini juga bagian dari Teluk Ciletuh Geopark, sekitar satu jam kemudian mobil angkutan ini berhenti di terminal pasar Ciwaru. Barisan tukang ojek segera menawarkan jasa dan ada salah seorang diantaranya bernama Agus Budiman menghampiri saya, ia menawarkan tarif lima belas ribu rupiah tanpa bisa ditawar lagi dan akan membuang waktu bila saya berharap tukang ojek lain akan menawarkan dengan harga yang lebih rendah karena saya juga tak tahu berapa jauh lagi jarak yang ditempuh dan apakah sebanding dengan ongkos yang diajukan.

Saya menaiki ojek Agus dan ia memutar kendaraannya melewati tempat pelelangan ikan Plangpang, Teluk Ciletuh dan akhirnya di tepi perbatasan antara sawah dan perkebunan dengan dataran tinggi yang di pucuknya bernama Puncak Darma. Bak seorang pemandu wisata, Agus mengmentari singkat setiap tempat yang dilewati sembari memberikan nomor ponselnya. 085861452259, hubungi Agus bila anda berada di terminal Pasar Ciwaru, dan ternyata ongkos ojek dari terminal pasar Ciwaru menuju Teluk Ciletuh hanya 10ribu rupiah. Walau tidak begitu budiman tetapi ulah Agus ini memang sudah lazim bagi kebanyakan orang Indonesia. Menaikkan harga bagi orang yang tidak tahu arah.

Tak apalah, saya pikir itu bonus tahun baru bagi seorang pengojek seperti dia. Jam dua siang saya berada di warung di lereng bukit itu, sambil menikmati kopi saya mengistirahatkan kaki.

DSC_0002048

Jam tiga sore saya segera menaiki bukit itu, ketinggiannya sekitar 1000 meter dari permukaan laut, dengan jalur melingkar saya menguliti bukit itu. Dua jam kemudian saya menemukan spot yang pas untuk membuka tenda. Terletak tidak jauh dari puncak ada sebuah tanah datar dengan sebuah konstruksi bangunan yang terdiri dari besi-besi. Ada dua buah bambu yang disilangkan diantara dua sudutnya dan saya mendirikan tenda yang terbuat dari kantong kiriman paket milik PT.Pos dengan modifikasi khusus agar bisa ditiduri tanpa kuatir kehujanan. Tenda saya dirikan di sisi konstruksi besi tadi dengan arah menghadap Teluk Ciletuh. Setelah selesai tenda berdiri, matahari terbenam untuk pertama kalinya di tahun 2015 di depan mata dan saya tatap dengan hangat ditemani secangkir kopi di tangan. Saya adalah satu-satunya pengunjung Puncak Darma pada hari pertama di tahun 2015 dan saya merasa puas. Terbayar sudah segala perjalanan dua hari itu. Lunas lengkap dengan bunganya.

DSC_0002041

Bagi anda yang ingin merasakan pesona Puncak Darma, ada banyak tawaran paket perjalanan yang bisa anda ikuti dengan biaya berkisar delapan ratus ribu hingga dua juta rupiah berangkat dari Kota Sukabumi, atau bila anda ingin membawa kendaraan sendiri maka sebaiknya mengikuti jalur Pelabuhan Ratu atau Ujung Genteng karena jalan yang tidak utuh dengan kontur tanah bergelombang curam tentu tidak masalah bila anda seorang off-roader. Namun bila anda seorang pengelana seperti saya maka waktu menjadi begitu berharga karena kendaraan umum di sana terbatas jam operasionalnya, ada yang hanya sampai jam satu siang dan ada yang cuma jam tiga sore. Tetapi selain itu ada alternatif lain, menumpang truk muatan sayur dan buah. Itu yang saya lakukan saat pulang dari Terminal Pasar Ciwaru hingga Bogor yang menempuh waktu lima jam perjalanan diseling dua kali istirahat makan. Dibayar atau pun tidak mereka rela mengantar asalkan kita sopan dan tak segan membantu saat kendaraan terhalang batu atau butuh dorongan di saat tanjakan menghadang.

DSC_0002015

Apapun pilihan kendaraannya namun Puncak Darma adalah salah satu tempat yang saya rekomendasikan untuk menikmati alam tanpa biaya, apalagi kawasan ini memang diupayakan tetap seperti aslinya oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat karena sedang dalam pengajuan sebagai geopark dunia yang perlu dilindungi.

DSC_0002019

 

Iklan

One response to “DI PUNCAK DARMA

  1. Ping-balik: GINTUR DI GUNTUR | Catetan Si Boy

Tuliskan Responmu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s