SATU SIANG DALAM HIDUP MAMAD; ini bukan kritik film

Saat saya menuliskan ini, dimulai jam 19:14 WiB, di kepala saya masih terpatri film “Satu Siang Dalam Hidup Mamad” yang saya tonton tadi siang di sebuah tv swasta. Film ini tidak sengaja saya tonton karena siang tadi saya berniat hendak mencari acara televisi yang mungkin bisa menghibur Mama saya. Setelah mencoba-coba satu demi satu acara yang ditayangkan televisi akhirnya saya memutuskan menonton film tersebut yang kebetulan juga belum lama dimulai.

Saya tidak tahu apakah keputusan saya ini dapat memberikan hiburan yang murah meriah kepada Mama saya, tetapi saya tidak akan tahu sebelum menyaksikannya juga. Hiburan yang murah meriah di stasiun tv negeri ini menjadi langka, untuk membandingkannya dengan hiburan murahan dan asal meriah yang banyak diputar nyaris di setiap slot waktu yang ada di televisi. Bagi saya pembeda antara hiburan yang murah meriah dengan hiburan yang murahan dan asal meriah sangat tegas. Program hiburan yang murah meriah adalah program yang dikonsep dan dikemas dengan tujuan memberi sesuatu yang bermanfaat dan hinggap di kepala pemirsa, bisa saja bentuknya film, diskusi atau musik. Tetapi yang lebih penting dari bentuknya adalah muatannya.

Ringkasnya, acara yang murah meriah akan membuat pemirsanya lebih menikmati hidup bersama keluarga atau orang-orang di sekitarnya. Sedangkan acara yang murahan dan asal meriah akan membuat hidup pemirsanya dipenuhi hasrat membicarakan orang-orang di sekitarnya.
Televisi adalah kotak ajaib yang memberi dampak besar bagi orang-orang yang menonton dan berada di dalamnya. Ia bisa menjadi bermakna atau juga nirmakna. Itu semua tergantung dari apa yang kita pilih untuk kita saksikan.

Walau teknologi informasi semakin pesat perkembangannya, masih tetap belum mampu menggeser kedudukan televisi di ruang keluarga sebagian besar masyarakat Indonesia, pengecualian kepada mereka yang tinggal di daerah yang belum dialiri listrik. Apalagi dengan adanya bisnis tv berbayar yang memberi kesempatan bagi pemirsanya untuk menyaksikan program-program yang diminati tanpa harus terjeda oleh pariwara. Bagi saya itu belum menunjukkan acara-acara mereka dapat memberikan manfaat bagi pemirsanya, yang jelas program tv berbayar tidaklah murah dan belum tentu meriah malah sebaliknya perlu diawasi bagi keluarga yang masih memiliki anak di bawah usia 17 tahun karena banyaknya ‘kultur keterbukaan’ dalam program-program dari negara yang memang terbiasa ‘terbuka’.

Sampai di alinea ini saya terpaksa harus menutup bahasan soal program tv seperti yang tertulis di paragraf sebelumnya, karena memang saya tidak ingin menulis soal itu. Seperti kata Tukul, “kembali ke laptop” dan saya mengembalikan fokus kepada topik yang tersirat di dalam judul tulisan ini.

Film Satu Siang dalam hidup Mamad menceritakan tentang kejadian yang dialami oleh Mamad, supir pribadi yang baru saja menjemput anaknya pulang sekolah untuk kemudian menjemput pemilik mobil yang ia bawa dari kantor. Di sebuah tikungan, mobilnya ditabrak oleh pengendara motor besar dan membuat goresan di bagian pintu. Si pengendara motor itu, diperankan Ringgo Agus Rahman, sebenarnya adalah seorang mekanik di bengkel dan motor besar yang dikendarainya adalah kendaraan milik pelanggan yang sedang diuji coba sehabis di perbaiki di bengkelnya.

dilematika

Mamad, diperankan Agus Kuncoro, ngotot meminta pertanggung jawaban si penabrak dengan membawa mobilnya ke bengkel resmi sementara si penabrak, saya lupa nama karakternya, menawarkan untuk memperbaiki di bengkel miliknya. Ketiadaan kompromi ini memaksa hadirnya pihak ketiga yaitu Polantas, kalau tidak salah nama yang tertulis di seragamnya Chairil, yang ternyata adalah paman dari si penabrak. Konflik kepentingan si Polantas ini menjadikan posisi Mamad seakan digiring ke arah kompromi yang ditawarkan si penabrak. Ini terlihat dari upaya Polantas ‘mendamaikan’ mereka, ketika tidak mencapai mufakat dan memilih prosedur resmi maka tersimaklah realitas pahit negeri ini, kalimat ini untuk mengganti kata ‘tragedi’, dimana orang-orang di sekitar memilih tidak peduli akan nasib Mamad dan tak ada yang mau menjadi saksi. Sampai akhirnya ada pula yang mau tetapi ketika dihadapkan ke depan Polantas malah berbalik menyalahkan Mamad. Dilematika yang terjadi dalam hidup Mamad siang itu belum berhenti sampai disitu. Anak perempuannya yang berulang kali mengeluh haus, lapar atau kelamaan juga turut membebani kepala Mamad, belum lagi pemilik kendaraan yang tidak peduli apakah Mamad salah atau benar yang penting ia harus segera menjemputnya dengan ancaman akan dipecat bila dalam setengah jam tidak melaksanakan tugasnya. Ada pula istri Mamad yang terus menanyakan keberadaannya karena tidak seperti biasanya terlambat mengantarkan anaknya pulang.

Mamad berkeras bahwa ia benar dan ia menolak segala kompromi ataupun tekanan yang didapatnya. Ia sempat diprovokasi si penabrak agar kehilangan emosi dan memukulnya sehingga menjadi bumerang bagi Mamad. Tetapi, untunglah, si Polisi tidak terkecoh dan walau sempat memborgol Mamad tetapi memaksa keponakannya untuk mencabut tuntutan kepada Mamad walau dengan kompromi pula yaitu Mamad juga harus mencabut tuntutannya.

Mamad tetap keras kepala hingga akhirnya sang putri mengatakan kepadanya bahwa,”..tidak mesti segalanya harus dilawan” dan itu meluluhkan hatinya. Mamad mencabut tuntutan kepada si penabrak dan tidak mendapat kompensasi apapun dari kejadian itu.

Tetapi cerita tidak berhenti sampai disitu, anak gadisnya yang selalu bermain telepon seluler sepanjang perjalanan mereka rupanya tak sengaja juga merekam awal insiden tabrakan tersebut dimana terekam olehnya si penabrak sedang menelpon selagi mengendarai motornya. Inilah bukti yang otentik dan tidak terbantahkan, Polantas pun yang sedari awal sadar bahwa keponakannya bersalah akhirnya memutuskan untuk menilangnya dan memaksa keponakannya untuk tetap mengganti kerugian si Mamad walau itu berarti ia harus menelpon ayahnya untuk meminta bantuan.

Apakah ini akhir yang bahagia? Cerita ini belum lagi berakhir. Mamad di pecat oleh si pemilik mobil karena tidak segera menjemputnya di kantor, walau si penabrak yang secara tidak sengaja mendengar pemecatan tersebut turut iba dan memberikan nomor telepon kantor ayahnya agar Mamad dapat melamar pekerjaan di tempat ayahnya namun siang itu adalah siang yang panjang dan penuh pengorbanan bagi Mamad.

Ia jelas tidak bahagia karena dipecat, karena diborgol di depan anaknya, karena dimarahi istrinya, karena anaknya juga merasakan penderitaannya, karena ketidak pedulian orang-orang di sekitar tempat kejadian dan juga yang utama karena kengototannya mempertahankan kebenaran. Tetapi ia telah memberikan pelajaran yang berharga bagi anaknya bahwa jangan menyerah untuk menyingkap kebenaran dengan resiko apapun. Dan inilah sesuatu yang tersangkut di kepala saya sejak siang tadi hingga malam ini, jam 20:07 WiB, saat saya menuliskan ini.

Saya tidak tahu apakah film ini laku di bioskop Indonesia, mungkin pertanyaan saya kurang pas karena seharusnya saya bertanya dahulu apakah film ini mendapat kesempatan yang proporsional untuk diputar di bioskop? dan bila memang di putar di bioskop apakah film ini diminati penonton film? Karena realita memang pahit di negeri ini. Biasanya apa yang bermutu justru berada di sudut-sudut nan sepi. Dan yang mendapat tempat di pusat adalah kultur konsumerisme yang tidak memberi manfaat apapun bagi publik selain menghabiskan uang untuk selanjutnya memaksa publik mencari uang lagi untuk dihabiskan lagi dan repetisi terjadi tanpa disadari.

Ya, film Satu Siang Dalam Hidup Mamad buat saya adalah film bagus yang bermutu. Dan juga memberi hiburan bagi Mama saya. Apalagi sebagai istri dari seorang Polisi, kehadiran Polantas berikut dilematikanya terasa nyata bagi Mama saya dan juga saya. Dan ini berarti pilhan saya tidak salah.

.

Iklan