MENOHOK AHOK DENGAN SENJATA BACOT

Dengan dilantiknya Jokowi sebagai Presiden Republik Indonesia pada 20 Oktober 2014 maka kursi Gubernur Jakarta dipegang sementara oleh Wakil Gubernur sebagai Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta hingga dilantiknya menjadi Gubernur DKI. Walaupun sempat muncul persepsi berbeda dari beberapa politikus DPRD DKI seperti Haji Abraham Lunggana (Fraksi PPP) dan M.Taufik (Fraksi Gerindra) beserta sekutunya yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih (saya meragukannya karena hanya fraksi PPP dan Gerindra saja yang giat dan muncul di permukaan) dimana mereka beropini Ahok tidak lantas menjadi Gubernur untuk menggantikan Jokowi tetapi harus dikembalikan kepada partai pengusung mereka sewaktu Pilkada DKI tahun 2012 yaitu PDIP dan Gerindra. Tetapi segala riak tersebut tidak menghalangi laju Ahok sebagai Gubernur DKI hingga 2017 mendatang. Dalam berita-berita yang dilansir media massa, pelantikan Ahok akan dilakukan pada 18 November 2014.

Namun belum lagi dilantik, Haji Lulung, panggilan Haji Abraham Lunggana, sudah mengisyaratkan adanya interpelasi yang diskenariokan menuju pemakzulan. Upaya interpelasi itu juga diaminkan oleh M.Taufik dan juga M.Sanusi dari Fraksi Gerindra. Tetapi tidak demikian dengan niatan pemakzulan. Muhammad Sanusi dalam wawancara di stasiun Kompas TV mengatakan bahwa pemakzulan bukan menjadi wewenang DPRD DKI tetapi menjadi otoritas Mahkamah Agung. Begitu pula yang dikatakan M.Taufik saat berorasi di depan massa Front Pembela Islam saat berdemo di depan Balaikota DKI pada 10 November 2014 bahwa ia akan menampung aspirasi massa FPI dan melakukan hal-hal yang sesuai dengan wewenang yang diberikan sebagai anggota DPRD DKI. Pemahaman yang berbeda dari Haji Lulung dengan sekutunya dari Gerindra ini menimbulkan tanda tanya akan kompetensi Haji Lulung sebagai anggota DPRD. Bisa dikatakan dalam bahasa Betawi, Haji Lulung sedang ngadu bacot dengan Ahok melalui mediasi pers.

menohok-ahok

Walaupun harus diakui, sebagai politikus maka sudah kewajibannya untuk bicara, bicara dan bicara. Oh iya perlu diketahu pula bahwa kata bacot bersinonim dengan bicara. Dan bacot ini pula yang kerap dilontarkan sekutu-sekutu Haji Lulung sebagai hal yang menonjol dari Ahok yang dipakai sebagai upaya menghabisi Ahok. Mungkin anda tidak lupa dengan ocehan Haji Lulung yang berniat menghabisi karier Ahok, walau dalam Lebaran Betawi mereka berdua tampil akrab dan membantah adanya perseteruan.

Bacot Ahok pula yang dituliskan dalam spanduk-spanduk yang dibawa Front Pembela Islam kala berdemo di depan Balaikota DKI. Malah diimbuhi dengan kalimat mengerikan bahwa Ahok adalah musuh Islam. Wow. Aksi yang dilakukan Front Pembela Islam ini jelas menguntungkan Haji Lulung beserta sekutunya dari Fraksi Gerindra.

Apakah sedemikian parah ucapan Ahok sehingga ia harus tidak boleh menjadi Gubernur DKI?

Dalam wawancara dengan Kompas TV pada sore tadi, tanggal 11 November 2014, Muhamad Sanusi sebagai Ketua Fraksi Gerindra di DPRD DKI menyatakan penyerapan anggaran yang rendah,  kebijakan dan statement Ahok yang meresahkan warga adalah landasan dari interpelasi yang akan diajukan.

Untuk penyerapan anggaran DKI yang tahun ini hanya 28 % seperti yang dikatakan Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Heru Budi Hartono, memang terkendala masalah teknis karena sejak 4 Oktober 2014 ada gangguan dalam sistem teknologi informasi dari Badan Layanan Pengadaan Barang dan Jasa Pemprov DKI dan ini anomali karena sistem ini dipakai oleh semua provinsi tetapi hanya milik Pemprov DKI saja yang mengalami gangguan. Yang dimaksud dengan gangguan pada sistem teknologi informasi ini ialah terhambatnya baik pihak Pemprov maupun peserta pengadaan barang dan jasa untuk berinteraksi guna melakukan pembangunan di bidang infrastruktur. Dampak yang ditimbulkan dari situasi ini adalah tidak berjalannya pembangunan di wilayah DKI Jakarta yang memiliki proporsi tinggi dalam APBD. Indikasinya ditunjukkan dalam nilai penyerapan anggaran yang rendah selama tahun anggaran 2014, padahal masih ada ribuan proyek tahun anggaran 2014 yang belum dilakukan sementara kini sudah memasuki bulan ke-11 dari tahun 2014. Ini jelas bertaut dengan kinerja Ahok nantinya yang bisa dijadikan alasan bagi DPRD DKI untuk menilainya dengan buruk. Gangguan dalam sistim teknologi informasi ini memang sudah direspon Ahok dengan meningkatkan status Unit Layanan Pengadaan Barang dan Jasa menjadi Badan Layanan Pengadaan Barang dan Jasa. Diharapkan dengan begitu Badan ini bisa mengeksekusi dengan cepat apa saja yang dibutuhkan untuk memperbaiki lalulintas data pada pengadaan barang dan jasa guna memaksimalkan penyerapan anggaran.

Sementara kebijakan yang menjadi satu-satunya contoh yang meresahkan warga yang diungkap Sanusi adalah pelarangan berjualan kambing qurban di jalur hijau dan ini sebenarnya bisa dipertanyakan seberapa besar keresahan warga karena peristiwanya sudah berlalu dan terbukti tidak ada gejolak dari masyarakat penduduk DKI seperti yang diucapkan oleh Sanusi. Kalaupun ada, hanya segelintir kecil para penjual kambing musiman yang memang selama ini memaksa untuk berhak menggunakan jalur hijau sebagai lokasi berjualan dan sampai disini saya meyakini justru lebih banyak masyarakat yang terganggu dengan aktivitas jual beli kambing atau sapi tersebut yang diselenggarakan di jalur hijau karena bau menyengat dari kotoran hewan yang diabaikan oleh para penjualnya. Saya tidak sedang berjudi pada saat menuliskan hal tadi karena saya tidak suka berspekulasi, kebenarannya bisa diungkap melalui pengumpulan jajak pendapat yang melibatkan warga DKI seluasnya bila ada yang meragukan pernyataan saya tadi.

Selanjutnya Sanusi justru lebih banyak mengurai pernyataan-pernyataan Ahok yang disebutnya juga meresahkan warga. Dari sisi kuantitas, secara tidak langsung Sanusi membeberkan bahwa bacot Ahok-lah yang menjadi pemicu interpelasi. Sedangkan bila melihat kualitas, maka baik penyerapan anggaran, kebijakan atau pun pernyataan Ahok tersebut tidak cukup kuat untuk dijadikan landasan untuk mengajukan hak interpelasi. Sebagai hak DPRD maka interpelasi bukanlah hal yang membahayakan sepanjang kualitas dari landasan untuk mengeluarkan interpelasi memang bisa dibuktikan bahwa kebijakan Gubernur DKI tidak berorientasi kepada rakyat. Tetapi interpelasi menjadi beracun bila dijadikan kamuflase hanya untuk merebut jabatan Gubernur DKI.

Baik Haji Abraham Lunggana, Muhamad Taufik, Muhamad Sanusi maupun koleganya di luar parlemen seperti Habieb Rizieq Shihab dengan Front Pembela Islam-nya sebenarnya hanya menunjuk bacot Ahok-lah sebagai hal utama kenapa mereka ingin menghabisi karier Ahok, kalaupun ada bumbu seperti penyerapan anggaran yang rendah atau satu-satunya kebijakan Ahok yang dianggap meresahkan warga bisa dikatakan tidak nikmat sebagai bumbu penyedap dalam menu politik DKI Jakarta. FPI dalam hal ini malah lebih bombastis dengan menyatakan Ahok sebagai musuh Islam karena ia bukan muslim. Isu yang di era orde baru sukses dalam membelah rakyat dalam dikotomi islamisasi-kristenisasi. Tentu saja isu ini tidak mungkin diangkat secara terbuka oleh Haji Lulung, Muhamad Taufik maupun Muhamad Sanusi dalam kesempatan bicara di media karena itu akan menjadi bumerang bagi karier politik mereka ke depan kecuali NKRI berhasil diubah menjadi NII (Negara Islam Indonesia).

Saya ingin kembali mempertanyakan: Apakah sedemikian parah ucapan Ahok sehingga ia harus tidak boleh menjadi Gubernur DKI?

Basuki Tjahaja Purnama memiliki karakter yang lugas, seperti kebanyakan karakter orang China Benteng, warga keturunan Tionghoa yang tumbuh dan berkembang di Kota Tangerang, kota tempat saya tinggal. Sebagai warga keturunan Tionghoa warga China Benteng justru merasa lebih Indonesia ketimbang mereka yang mengaku sebagai pribumi. Mereka tidak takut ditekan karena kulit mereka juga hitam. Saya ingat di masa sekolah dulu, bersama beberapa rekan, kami kerap meminta uang secara paksa kepada pelajar-pelajar dengan ciri-ciri berkulit putih dan bermata sipit. Dan kami tidak mendapat perlawanan berarti dari mereka kecuali bila ternyata pelajar tersebut warga China Benteng karena mereka akan melawan kami walau resikonya dikeroyok oleh kami yang merasa sebagai pribumi. Seperti itulah karakter Ahok yang saya tangkap. Ia berani dan lugas walau resikonya bakal dikeroyok oleh orang-orang yang merasa pribumi. Beberapa kali saya tuliskan merasa pribumi karena sebagai bangsa pun sebenarnya kita di lahirkan dari nenek moyang yang berasal dari Yunan, dari negeri China. Jadi siapa yang sebenarnya pribumi?

Pemerintah Kolonial Belanda adalah pionir di negeri ini dalam memanipulasi rakyat agar tetap terpisah berdasarkan ras, suku, ataupun agama. Lewat ordonansi kependudukan yang mereka buat maka digolongkanlah warga negara berdasarkan kelas dan asal-usulnya. Rakyat yang berasal dari Belanda dan benua Eropa adalah warga negara kelas 1, dibawahnya berturut-turut keturunan Timur Tengah, Tionghoa dan yang paling rendah statusnya adalah apa yang mereka namakan pribumi. Pengelompokkan ini diikuti dengan pemilahan tempat tinggal berdasarkan kelasnya, maka warga Belanda dan Eropa menempati lahan-lahan hunian eksklusif di tengah kota dan dikelilingi hunian rakyat keturunan Timur Tengah serta Tionghoa sementara di dusun-dusun hiduplah pribumi. Hal ini disengaja oleh Pemerintah Kolonial agar bila terjadi serangan oleh tentara-tentara Kerajaan di Nusantara yang menolak Kolonialisme maka korban pertamanya adalah rakyat keturunan Tionghoa yang tinggal di tepi kota besar. Sewaktu Indonesia merdeka, ordonansi ini belum lagi sempat dihapus malah di era orde baru pemisahan warga negara berdasarkan keturunan ini malah lebih ekspansif. Pada saat Jendral Besar Soeharto berkuasa, warga keturunan Tionghoa hanya boleh berkecimpung dalam wirausaha, dan mereka harus memiliki Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia. Dari kebijakan inilah lahir konglomerat Indonesia yang keturunan Tionghoa dan menguasai mayoritas jalur-jalur perekonomian bangsa ini. Dan pada saat kejatuhan orde baru, mereka inilah yang dijadikan kambing hitam atas ambruknya perekonomian nasional. Waktu Jakarta di landa prahara 1998, Lim Sioe Liong adalah salah satu sasaran amukan massa. Rumahnya dijarah dan lukisan dirinya dirusak dan diarak massa. Belum lagi perempuan keturunan Tionghoa yang dihalalkan untuk diperkosa pada saat itu. Dan hebatnya tidak ada satupun yang dipersalahkan dan mempertanggungjawabkan semua itu.

Era Reformasi membuka pintu demokrasi menjadi lebih lebar. Warga keturunan Tionghoa banyak yang menjadi tentara, polisi atau pun politisi. Ahok adalah salah satunya. Dan sebagai politisi, Ahok menunjukkan kelugasan dalam bertindak dan berbicara. Ini adalah buah Reformasi dimana semua warga negara mempunyai kedudukan yang sama di muka hukum dan memiliki hak yang setara dalam jabatan publik. Inilah yang tidak dikehendaki elit politik kita yang memang sebagian besar menjadi anak-anak ideologis orde baru dengan kebijakannya seperti tertulis di alinea sebelumnya. Dan elit-elit tersebut menggunakan pion-pion dibawahnya yaitu Haji Lulung Lunggana, Muhamad Taufik dan Muhamad Sanusi untuk mengakhiri Ahok sebagai Gubernur DKI.

Tetapi Ahok bukanlah tipikal orang yang pasrah, ia seperti karakter warga China Benteng. Belum lama ini ia malah merekomendasikan pembubaran Front Pembela Islam kepada Kementrian Dalam Negeri karena aksi-aksi mereka yang meresahkan warga dan melanggar konstitusi. Inilah salah satu bentuk karakter lugas dan berani dari seorang Ahok yang layak kita apresiasi. Dan perang bacot sepertinya belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Menjelang akhir tulisan ini saya masih belum menemukan jawaban yang pas untuk pertanyaan yang sudah saya sampaikan sebelumnya: Apakah sedemikian parah ucapan Ahok sehingga ia harus tidak boleh menjadi Gubernur DKI?

Saya malah lebih cepat menemukan jawaban bila pertanyaaan tersebut diajukan kepada Haji Abraham Lunggana, Muhamad Taufik, Muhamad Sanusi dan Habieb Rizieq Shihab bila materi pertanyaannya diubah menjadi: Apakah sedemikian parah bacot mereka berempat? Ya. Ucapan mereka memang begitu parahnya karena tidak ada satu pun argumentasi yang cerdas dan membela kepentingan rakyat selain dari terciumnya aroma busuk ingin menduduki jabatan Gubernur DKI tanpa perlu dipilih langsung oleh warga DKI Jakarta sebagaimana pasangan Jokowi-Ahok yang menang dua kali dalam dua putaran pada Pilkada DKI 2012.

Tetapi saya menyadari bahwa tugas politikus memang bicara, bicara dan bicara. Berbeda dengan eksekutif yang wajib bekerja, bekerja dan bekerja. Bila Ahok hanya bicara dan tanpa bekerja maka ia harus diturunkan. Namun bagaimana dengan politikus bila mereka tidak bicara? Tentu saja seperti pejuang tanpa senjata, karena bicara atau bacot adalah senjata politikus.

Mungkinkah menohok Ahok dengan senjata bacot?

Iklan

SAYA TIDAK PERNAH SALAH

Judul di atas bukan sebuah kekeliruan. Saya meyakini tidak ada satu pun kesalahan dalam pemilihan judul tersebut. Kalau pun terjadi perbedaan tafsir atas judul itu tidak lantas menjadikan saya sebagai yang bersalah. Bahkan bila anda menguraikan argumentasi telak yang menyalahkan saya pun juga tak akan membuat saya sebagai yang bersalah. Tapi, ini soal apa pula? Sedari alinea pertama sudah memberi penekanan terhadap kata “salah” tanpa sedikitpun keterlibatan kata “benar” beserta kronologi pemilihan judul tulisan ini bisa berpotensi membuat pembaca ,juga calon pembaca, jengah untuk melanjutkan niat membacanya, bukan? Para calon pembaca tidak salah jika memang enggan meneruskan pembacaannya begitupun juga para pembaca yang meragukan untuk membaca lebih lanjut tulisan ini. Namun ketidakmauan atau pun juga upaya meragukan diri untuk meneruskan pembacaan dari para pembaca beserta calon pembaca tidak lantas menjadikan saya sebagai pihak yang bersalah, karena ,sekali lagi, saya tidak pernah salah.

salah dia

Saya tidak sedang membicarakan kebenaran. Biarlah para nabi, seniman dan juga filsuf yang membicarakan kebenaran. Saya memilih untuk membicarakan kesalahan. Dalam hal ini saya memiliki keserupaan dengan politisi. Karena setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan adalah manusiawi pula sudah melakukan kesalahan dalam hidup. Bahkan bila sanggup mengkalkulasi, besar kemungkinan jumlah kesalahan kita lebih banyak dibanding jumlah kebenaran yang telah kita lakui. Walau tidak menutup peluang ada pula orang yang tingkat kesalahannya lebih sedikit dari orang lain. Tetapi titik tolak dari kesalahan yang menjadi sudut pandang saya adalah bahwa apapun kesalahannya, anda tidak bersalah. Ini yang menjadi sisi pembeda saya dengan politisi, walau sama-sama mengeksploitasi kesalahan.

Cobalah untuk mengingat kembali di masa-masa anda begitu belianya, pernahkah anda membolos dari sekolah misalnya? Merokok di dalam kelas, mungkin? Atau melawan guru apapun alasannya? Kalaupun contoh-contoh tersebut terlalu ekstrem untuk anda mungkin ada banyak contoh kesalahan yang pernah anda lakukan sewaktu masih bersekolah seperti menyalin jawaban ujian milik teman atau berpura-pura pingsan saat upacara agar terhindar dari keharusan ‘dijemur’ setiap senin pagi atau sabtu sore. Jika anda sudah mampu mengingat masa-masa remaja anda beserta kesalahannya maka premis utama dari tulisan ini sudah dapat dipahami oleh anda karena pasti anda akan merangkum kesemua kenangan tersebut sebagai hal yang wajar dilakukan saat masih belia. Dalam kalimat lain; Anda tidak salah. Ada banyak sasaran lain yang bisa anda tunjuk sebagai yang paling bersalah dalam menjadikan anda melakukan kesalahan pada saat itu, bukan? Sampai di tepi alinea ini sebenarnya saya bisa saja menghentikan tulisan ini karena apa yang ingin saya sampaikan sudah terwakili dalam paragraf ini, dan anda tidak bisa menyalahkan saya karena itu. Karena selain tidak salah juga bukan otoritas anda pula menyalahkan saya menghentikan tulisan di saat pokok pikiran sudah tersampaikan. Tetapi saya tidak akan menghentikan tulisan ini, selain karena baru 444 kata juga karena saya ingin menekankan kembali ketidakbersalahan saya juga anda atas kesalahan-kesalahan yang sudah atau bakal dilakukan.

Pernahkah anda membandingkan alasan-alasan yang dikemukakan para pelaku pencabulan atau pemerkosaan atas kesalahan yang mereka lakukan? Nyaris semua pelaku kemudian menyalahkan video porno yang mereka lihat sebelumnya atau malah menyalahkan korban pencabulannya karena gaya berbusana mereka yang seakan memberi undangan kepada pelaku. Saya tulis nyaris semua pelaku, lalu bagaimana dengan alasan pelaku lainnya? Sebagian kecil dari pelaku menyalahkan alkohol atau keadaan tidak sadar yang mereka alami. Semua pelaku pencabulan atau pemerkosaan menjadikan diri mereka sebagai korban dengan alasan seperti yang ditulis di atas. Kalau mereka korban lalu bagaimana dengan korban pencabulan mereka?

Sekali lagi saya ingin memberitahukan bahwa saya tidak sedang membicarakan kebenaran sebagaimana para nabi, seniman dan fisuf lakukan. Saya sedang membicarakan kesalahan dan mencoba menunjukkan bahwa dibalik kesalahan anda tidak lantas anda bersalah karena sebagai manusia adalah manusiawi menyalahkan yang lain atas kesalahan yang kita lakukan.

Ada beberapa sasaran yang bisa anda jadikan rujukan untuk disalahkan ketika anda tertangkap basah sedang melakukan kesalahan.

  1. Lingkungan.

Manusia adalah mahluk sosial. Ia tidak terpisah dari keberadaan orang-orang lain di sekitarnya. Kita sekarang ini adalah hasil akumulasi peran sosial. Bila anda terbukti bersalah anda bisa menuding lingkungan sosial anda lah yang membuat anda melakukan kesalahan. Dan ini terbukti banyak dipakai oleh mayoritas orang yang bersalah untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak bersalah.

  1. Setan.

Dalam sistem religi agama-agama di dunia terdapat kebenaran dan kesalahan yang mutlak. Kebenaran menjadi milik Yang Maha Pencipta beserta malaikat dan para nabi-nabinya. Kesalahan menjadi ranah kerja iblis atau setan. Menyorongkan kesalahan kepada setan atau iblis pun lazim dilakukan mereka yang ketahuan melakukan kesalahan. Ini lebih aman dibandingkan menyalahkan lingkungan karena sudah maklum bahwa tugas setan adalah menggoda manusia melakukan kesalahan dan adalah manusiawi jika manusia tergoda. Namun perlu lebih banyak menunjukkan perasaan menyesal agar tudingan kepada setan dapat diterima pihak lain.

  1. Khilaf.

Lupa adalah manusiawi, semua manusia mengakui itu. Dengan menyatakan bahwa kita khilaf dalam melakukan kesalahan dapat membuat kita menjadi tidak bersalah dengan cara manusiawi. Faktor ini juga lebih aman dibanding dua faktor sebelumnya karena kita menyalahkan rasa khilaf yang kita alami sendiri sebagai biang kesalahan.

  1. Situasi.

Berbeda dengan lingkungan yang berperan dalam menentukan individu maka faktor situasi lebih merujuk kepada penciptaan suasana gawat darurat yang meminta orang lain memaklumi kesalahan yang diperbuat. Biasanya situasi ekonomi yang disalahkan, misalnya seseorang kepergok mencuri dua dus mi instan karena tidak punya uang untuk membeli bahan makanan. Dalam keadaan begini kebanyakan orang akan berempati kepada si pelaku seraya turut menyalahkan situasi sebagaimana yang dikehendaki si pembuat salah.

  1. Ketidaktahuan.

Ketidaktahuan kadang menjadi pembela yang ampuh disaat melakukan kesalahan. Ketidaktahuan disini ditentukan dari apa yang menjadi patokan akan vonis salah yang kita terima. Misalkan anda dinyatakan bersalah karena merokok di ruang publik, bisa saja anda berkilah tidak tahu akan hal itu dan dalam seketika anda menjadi tidak bersalah karenanya. Menyalahkan ketidaktahuan sebenarnya tidak menyalahkan siapapun atau apapun.

  1. Peraturan

Berbeda dengan ketidak tahuan, maka Peraturan justru kebalikannya. Ada syarat yang dibutuhkan agar peraturan dapat dijadikan sasaran kesalahan yaitu memahami dengan fasih peraturan tersebut sehingga menemukan celah yang dapat anda pakai sebagai biang keladi kesalahan anda. Anda tidak bisa menyalahkan peraturan bila tidak mengetahui peraturan tersebut. Contoh mutakhirnya seperti yang terjadi di gedung DPR dimana berdasarkan UU MD3 maka pemilihan ketua dan wakil ketua komisi-komisi yang berjumlah 11 itu ditentukan melalui voting dengan sistem paket, imbasnya lima fraksi merebut semua pimpinan komisi tanpa menyisakan satupun bagi lima fraksi lainnya. Bila ada rakyat yang mempertanyakan keadilan dalam komposisi pimpinan komisi maka para wakil rakyat yang terhormat tersebut akan dengan mudahnya menyalahkan UU MD3 hasil legislator periode sebelumnya yang menjadi landasan atas tindakan politik yang dianggap tidak adil tersebut.

  1. Tuhan

Yang ini berisiko besar untuk disalahkan karena bila takarannya tidak pas dalam memainkan peran maka antipati yang terjadi. Dibutuhkan peran putus asa yang sangat dalam agar bisa menyalahkan Tuhan. Kalaupun anda mampu menunjukkan keputus asaan maka bisa saja simpati yang anda terima dan anda terbebas dari salah. Biasanya ini hanya sekali dilakukan seumur hidup. Jangan harap bila anda sekali berhasil menyalahkan Tuhan dan mengulangi hal tersebut dengan hasil yang sama apalagi di hadapan publik yang sama. Pada pengulangannya anda akan dianggap gila dan wajib dirawat psikiater.

  1. Ideologi

Anda bisa melemparkan kesalahan kepada ideologi tertentu yang relevan dengan kesalahan anda. Ideologi disini bisa berarti pemikiran mengenai sistem nilai yang diciptakan manusia. Perilaku sub-kultur seperti rajah atau tindik dapat dimasukkan dalam kategori ini. Begitu pula spirit korsa dalam militer. Para pelaku terorisme juga tanpa disadari melemparkan kesalahan yang dibuatnya kepada ideologi yang dipercayainya. Sama seperti peraturan, anda harus memahami dengan fasih ideologi/keyakinan tersebut. Namun bedanya dalam ideologi anda memang tidak ingin disalahkan karena kesalahan yang anda lakukan adalah kewajiban.

  1. Informasi

Abad ini dipenuhi lonjakan informasi yang tiada terkira sebelumnya. Luapan informasi tersebut kebanyakan malah membuat orang menjadi tidak mau tahu akan keberadaan informasi tersebut, kecuali yang bersifat praksis sehari-hari. Banjir informasi ini memilah informasi dalam oposisi biner. Jika ada informasi bahwa ganja itu buruk bagi kesehatan maka akan ada informasi tandingan bahwa ganja itu baik untuk menyembuhkan kanker.Jadi, mana kala anda didakwa melakukan kesalahan anda bisa menunjukkan bukti informasi yang bertolak belakang sebagai pembela sekaligus keranjang sampah anda. Misalnya anda ketahuan bersalah menempati lahan kosong milik orang lain, anda bisa mengajukan bukti informasi bahwa tanah tersebut boleh dipakai selama tidak dimiliki. Tidak penting bukti yang anda ajukan itu valid atau tidak yang penting adalah anda bisa melemparkan kesalahan kepada informasi racikan anda sendiri. Ini perbedaannya dengan ketidak tahuan, bila dalam ketidak tahuan anda membuang kesalahan kepada ketidak tahuan maka dalam informasi justru menciptakan apa yang anda tahu dengan tujuan orang lain menjadi tidak tahu dan anda terbebas dari salah.

Demikianlah sembilan sasaran yang bisa anda jadikan referensi pembelaan kala menghadapi situasi bersalah namun tidak menjadikan anda salah. Dalam beberapa tingkat kesalahan tentu saja tidak merubah sanksi atau hukuman yang akan anda terima namun setidaknya menyelamatkan diri anda dari tudingan sebagai pihak yang paling bersalah.

Namun untuk yang terakhir kalinya saya ingin menegaskan bahwa saya tidak sedang membicarakan kebenaran melainkan kesalahan. Dan saya tidak pernah salah.