Duh

Di dalam rumah tanpa pendingin ruangan
Aku masih merasa kedinginan
Tak mampu kubayangkan
Pada mereka yang di tenda pengungsian

Duh Tuhan
Sejujurnya kau kuragukan
Namun bila ada secuil kehangatan
Kepada mereka saja kau kirimkan
Sertakan pula kekuatan
Untuk dapat terus tersenyum menawan

Entahlah ini doa atau permohonan
Pada mu yang selalu kuragukan.

25 Januari 2014
02:01 WiB

cold_wind_by_fumikazu-d6246ke

Iklan

MAS ANAS INGIN JADI MASINIS

Catatan: Nama, ruang waktu dan peristiwa dalam cerita berikut ini adalah fiktif belaka. Kalaupun ada kesamaan nama, ruang waktu dan peristiwa dalam cerita berikut ini dengan realita yang terjadi adalah diluar tanggung jawab saya. Itu adalah wilayah persepsi anda dalam menerjemahkan cerita berikut ini menjadi bentuk yang sesuai persepsi anda dan itu menjadi ranah privat anda sendiri. Karena seperti yang sudah saya tulis di awal alinea ini: Catatan: Nama, ruang waktu dan peristiwa dalam cerita berikut ini adalah fiktif belaka. Titik tekan dari paragraf ini sama dengan sebelumnya, yaitu sesuai dengan yang tertera di pembuka atas: Catatan: Nama, ruang waktu dan peristiwa dalam cerita berikut ini adalah fiktif belaka. Kelihatannya saya jadi seperti berkelit dari tanggung jawab besar para penulis pada umumnya yaitu mempertanggung jawabkan karyanya sebagai proses otentik yang dilakukannya. Padahal bukan itu pula maksud saya, karena ada bagian yang masih menjadi otoritas kita sendiri yaitu pada masa proses ide hingga mewujud. Sesudahnya pada saat pembaca memahami jalan ceritanya itu sudah bukan menjadi wilayah penulisnya, dalam hal ini ya …saya. Tapi lantas timbul tanda tanya, kenapa pula hal tersebut yaitu: Catatan: Nama, ruang waktu dan peristiwa dalam cerita berikut ini adalah fiktif belaka; Menjadi begitu penting untuk dititik-tekani oleh penulisnya, dalam konteks ini ya…. saya lagi.? Ini menjadi pertanyaan bagus untuk dicatat oleh penulis cerita dengan catatan pembuka yang tidak jelas, dalam masalah ini yang dimaksud itu ya… saya dong. mas-anas Baiklah, gambar diatas menjadi semacam moderator untuk mengendalikan fokus dan menutup catatan tak berguna ini yang digunakan oleh penulis untuk membahas hal yang tidak relevan untuk dititik-tekankan dengan berlebihan. Salam dari penulis, Yaitu saya sendiri. 🙂 countdown
Mas Anas ingin jadi masinis, bu!

Itu lah cita-cita Mas Anas Uban. Ucapan itu terlontar disaat ulang tahunnya yang kesepuluh disaat ibu dari seorang temannya yang hadir menanyakan cita-citanya. Kejadian itu begitu membekas di batinnya hingga kini. Omongan itu didahului oleh pemberian hadiah oleh ayah dan ibunya berupa miniatur kereta api beserta jalurnya yang hanya berputar saja. Tetapi itu kado yang diidamkan Anas, Ini nama pemberian saat lahir namun saat usianya 17 tahun dan hendak mengurus KTP ia merasa janggal dengan namanya yang cuma Anas dan akhirnya ia menambahkan nama baru yang mengapit namanya, ia begitu terpikat dengan kereta api saat bepergian untuk pertama kalinya beserta kedua orang tuanya saat pulang kampung jelang lebaran dan waktu itu usia Anas masih 9 tahun. Butuh waktu satu tahun bagi Anas untuk mentransformasikan ketertarikannya akan kereta api menjadi sebuah cita-cita. Masinis. Sang pengendali kereta. Betapa gagahnya sang masinis. Itulah yang ada dibenak Mas Anas sejak ia 9 tahun. Keluarganya sendiri tidak ada yang pernah bekerja di kereta api sejak kendaraan  massal itu berada di negeri ini. Jadi ini bukan soal genetis. Anas adalah anak tunggal dari Susilo dengan Ani yang lahir bukan dari jalur pernikahan yang resmi. Ani, ibu Anas, saat itu berusia 17 tahun ketika terpikat dengan kegagahan Susilo yang selalu merayunya. Dengan pengalaman yang masih dangkal dalam menghadapi pria ia meladeni dan asyik masyuk dengan segala puja dan rayu Susilo. Kedekatan mereka membuahkan kehamilan sementara Ani masih belum lagi lulus sekolah. Susilo, dengan desakan keluarga , melamar Ani untuk mempertanggung jawabkan kehamilan Ani. Ani putus sekolah karena ia merasa malu dengan tatapan mata kawan-kawan dan guru-gurunya yang aneh menatapnya. Ia menikah diam-diam dan mereka berdua tinggal di tempat baru dengan modal tanah berukuran 9X21 meter pemberian ayah Ani dan rumah berukuran 7X7 meter yang pembangunannya didanai orang tua Susilo.

denah-rumah

catatan: (waduh catatan lagi…) gambar diatas nirskala. (ooh, kirain apa.. tenang deh).

Dirumah yang digambarkan diatas sebelah kanan anda itulah Mas Anas lahir dan dibesarkan. Nama kotanya Tan Erang. Provinsi Banen. Rumah itu jauh dari hiruk pikuk kendaraan a la kota besar. Masih banyak burung berkicau di kala fajar dan kunang-kunang di saat senja. Walau ada pula pembangunan khas negara berkembang seperti pembuatan kota-kota baru dengan fasilitas yang otonom. Namun di Kota Tan Erang percepatan pembangunan hanya berkisar rata-rata 2,1 % per tahun. Kemajuan zaman kurang terendus dengan baik bagi warganya. Dengan karakter kota seperti itulah Mas Anas mengucapkan cita-citanya tersebut,”Mas Anas ingin jadi masinis”. Adalah hal yang diluar kebiasaan warga kota tersebut untuk melihat kereta api kecuali yang sering bepergian sepanjang tahun. Peristiwa mudik saat Mas Anas berusia 9 tahun itu begitu membekas luar biasa dan itulah pemicu ucapannya yang menjadi pembuka cerita ini;”Mas Anas ingin jadi masinis”.

Sebelum cerita ini saya lanjutkan, saya ingin memberi anda kesempatan untuk  mengambil kopi, mungkin, atau apapun yang nikmat didalam gelas. Tetapi bila anda bertekad untuk tetap membaca cerita maka tak ada salahnya bila saya yang akan mengambil kesempatan yang sudah saya berikan untuk dimanfaatkan mengambil teh sebelum saya lanjutkan kisah ini.

……

Baiklah sampai dimana tadi…

oalaah, ternyata belum kemana-mana toh.

Hehehehe.

….

Kini, Mas Anas telah menjadi masinis. Kereta Rel Diesel jurusan Tan Erang-Kotak. Sudah 9 tahun ia menjadi masinis. Dengan rute yang sama selama ini. Tiada yang beda satupun jua.

Selesai.

Dan respon pun bermunculan.

Dan respon pun bermunculan.

Cerita macam apa ini? Tidak ada kisah yang ternarasikan didalamnya, alurnya tidak dituntaskan, profil tokoh yang tidak lengkap. Mau dibawa kemana pembaca dengan rancangan cerita ini?”

Denny Aje, Sastrawan berpengaruh via email.

Memalukan, strukturnya memalukan. Tidak membawa cerita pada konstruksi yang kokoh namun melunturkan hubungan di semua tokoh. Dan yang disebut tokoh sendiri juga belum kokoh pula

Said Saleem, Kritikus Sastra yang juga berpengaruh via sms.

Belum rampung. Basisnya lumayan, tetapi plotnya tidak fokus akibatnya cerita tidak berkembang biak. Ini baru konsep sepertinya. Saya malas membacanya

Bani Susastra, entah siapa tapi omongannya berpengaruh juga bagi banyak orang via telepon.

Kolam Iklan menyediakan aksesoris keluarga anda lewat pembelian online. Kunjungi http://www.kolamiklan.tk dan buktikan sendiri

-Walah, ini spam. Dari orang yang menamakan dirinya Kolam Iklan. Hadeuh… mengganggu. Sama seperti cerita ini.