TAK ADA ORMAS ANARKIS DI DUNIA INI.

Menyimak tayangan berita soal aksi buruh di penghujung oktober ini yang melakukan mogok massal guna menekan Dewan Pengupahan di tiap provinsi untuk menaikkan upah buruh sungguh miris, bukan karena aksi buruh itu sendiri tapi karena aksi tandingan dari ormas-ormas yang merasa dirugikan dengan mogok massal para buruh.

Dalam tayangan sebuah tv swasta malah ditampilkan para anggota ormas Pemuda Pancasila yang terlihat mengamuk di sebuah pabrik seraya menghancurkan pos jaga juga motor dari buruh yang ditinggalkan demi menyelamatkan diri dari amukan para anggota Ppini.

Narasi tekstual dan yang disuarakan kemudian mengarahkan kepada aksi anarkis dari ormas. Stop, sebelum beranjak kemana-mana, maka inti dari narasi yang dikembangkan oleh stasiun tv tersebut jelas berangkat dari titik pandang yang sesat.

Titik pandang yang sesat  dari redaksional berita tersebut adalah menyamakan anarkis sebagai kata sifat seperti halnya sadistis. Jelas sekali ini membuat narasi yang berfondasi sudut penglihatan yang keliru akan menghasilkan narasi yang keliru pula.

Anarkis adalah sebutan bagi pribadi atau individu yang meyakini anarkisme sebagai filosofi hidupnya. Lalu apakah anarkisme itu? Anarkisme adalah paham yang meyakini bahwa kebebasan, persamaan dan solidaritas adalah falsafah ideal.
Ditilik dari definisi pada alinea di atas maka akan memaksa akal sehat saya untuk mengabaikan narasi yang dikembangkan oleh stasiun tv tersebut.

Dalam adegan yang ditampilkan pada berita tersebut terlihat aksi pengrusakan atas properti milik perusahaan dan juga milik pribadi yang dilakukan dengan kesadaran dan di bawah komando. Apakah tepat bila aksi tersebut dinamakan anarkis? Bila ditinjau secara harfiah saja jelas keliru seperti yang sudah saya ulas di paragraf sebelumnya.  Lalu bila didalami lebih lanjut maka aksi pengrusakan yang dikomando tersebut juga jelas bukanlah karakteristik dari anarkis, karena para anarkis di seluruh dunia justru melawan hirarki atau struktur karena sistem kepangkatan tersebut justru mendehumanisasikan manusia dan membuatnya menjadi seperti robot dimana anak buah harus melakukan apapun yang diperintahkan komandannya.

boleh-demo-jangan-anarki-IMG_1555

Para anarkis diseluruh dunia tak sudi menjadi anggota ormas, angkatan bersenjata, pegawai negeri, anggota kepolisian atau jabatan struktural apapun dalam suatu negara. Bahkan negara itu sendiri, bagi para anarkis,  juga adalah obyek yang harus dimusnahkan karena hirarki dikembangkan oleh negara guna membuat pembeda yang jelas antara satu orang dengan orang lainnya dalam negara tersebut hingga menjadi legal bila ada eksploitator (baca: penguasa) dan obyek eksploitasinya (baca: SDM dan SDA).

Sebenarnya ada beberapa filsuf dan juga munsyi yang menyodorkan kata “vandalis” untuk menggantikan kata anarkis sebagai definisi dari aksi pengrusakan oleh ormas/aksi buruh/aparat dan lain sebagainya. Kata “vandalis” ini diambil dari aksi Bangsa Vandals di masa lalu yang selalu menghancurkan setiap kota yang dikuasainya lewat jalur pemaksaan. Tetapi kalimat ini tak pernah dipakai oleh media massa untuk ”merehabilitasi” anarkis.  Akan menjadi naif bila saya berpikir bahwa kesalahan ini terjadi karena ketidak tahuan media massa karena pers Indonesia diisi oleh orang-orang berpendidikan tinggi dari zaman kolonial hingga kini. Kesalahan yang terus dipelihara ini adalah kesengajaan dari investor yang menguasai industri pers dalam negeri karena ideologi anarki ini berbahaya bagi kelangsungan laba investasinya. Seperti halnya negara maka para kapitalis yang menguasai industri berita juga menganggap anarkisme adalah ancaman yang harus dimusnahkan. Sampai disini saya perlu mepertanyakan kepada anda yang membaca ini; apakah anda masih memiliki akal sehat? Bila jawaban anda adalah ya maka tidak menjadi masalah bagi anda untuk meneruskan membaca, tetapi bila anda menjawab tidak maka saya sarankan untuk mengakhiri bacaan anda tepat pada alinea ini.

Anarkisme, sebagaimana halnya ideologi lainnya, bersifat lintas batas atau internasional.  Karena itu apa yang menjadi landasan pemikiran saya dalam tulisan ini juga berlaku sama di negara-negara lain. Bila saya menulis bahwa tak ada ormas anarkis di Indonesia maka hal yang sama juga terjadi di belahan dunia manapun. Menggerogoti akal sehat bila memaksakan bahwa para anarkis bergabung dalam sebuah ormas yang jelas mengedepankan komando dari atas ke bawah padahal justru hal tersebut yang menjadi jalan perjuangan para anarkis.

Memang pernah tertulis dalam sejarah ketika para anarkis berkolaborasi dengan barisan sosialis dalam menjungkalkan kediktatoran Jendral Franco dalam sejarah politik Spanyol, tetapi kolaborasi tersebut tidaklah menjadi massif hingga harus dilegalkan dan termanifestasikan sebagai sebuah organisasi. Kerjasama itu lebih  bersifat strategis karena adanya kesamaan  musuh politik yang harus ditumbangkan. Kediktatoran Militer.

Hal serupa juga potensial terjadi di negeri ini bila situasi sosial politik menurun ke arah ketidak-percayaan rakyat terhadap institusi negara beserta aparat dan pejabatnya. Rakyat yang sadar bahwa dirinya seumur hidup hanya menjadi obyek eksploitasi para penyelenggara negara akan memuntahkan sikap pembangkangan dan dalam carut marut kondisi itu maka aksi vandalis akan terjadi dan negara akan berhenti.

Mei 1998 bukanlah aksi pembangkangan rakyat seperti yang saya tulis di paragraf di atas ini. Mei 1998 adalah aksi terorganisir dari rezim yang tak mau hilang kendali atas negeri ini. Hal ini sesuai pula dengan hasil rekomendasi Tim Gabungan Pencari Fakta yang dibentuk negara untuk menyelidiki kerusuhan mei 1998.

Tapi saya tidak ingin melebar kepada kasus tersebut, melainkan mencoba fokus pada narasi sesat yang dikembangkan media massa arus utama yang harus diakhiri sekarang juga. Bagaimana caranya? Bila semua opini masyarakat sudah dikondisikan oleh para industriawan berita?? Internet adalah senapan super yang siap memuntahkan peluru-peluru untuk menghancurkan opini massal tersebut.  Dan saya menggunakan itu. Apakah efektif? Saya harap efektif karena peluru yang saya tembakkan ini hanya akan berfungsi bila akal sehat anda, sebagai pembaca, selalu berada pada tempurung kepala anda. Karena di zaman sekarang banyak orang yang suka bepergian tanpa membawa akal sehat.

Sekali lagi; tak ada ormas anarkis di Indonesia dan ini berarti tak ada ormas anarkis di seluruh dunia.

Iklan

URGENSI PERPPU MK

Tak ada yang tiba-tiba dalam dunia politik. Dinamika politik adalah hasil dari pertarungan strategi dari para pelakunya dalam jangka waktu yang tak terbatas. Bila politik ditujukan untuk mengupayakan kemakmuran bagi rakyatnya maka strategi politik itu akan didukung oleh rakyat, tetapi bila politik hanya menjadi alat untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan semata maka rakyat akan menunjukkan sikap apatis terhadap politik yang termanifestasikan dalam pemboikotan pemilu.

Pemilihan umum adalah pertaruhan dari segenap aktor-aktor politik guna menguji keberhasilan strategi politik yang telah dijalankannya. Komisi Pemilihan Umum sebagai lembaga negara yang bertugas menyelenggarakan pemilu idealnya harus independen dari unsur partai politik termasuk juga unsur pemerintahan. Komisioner yang duduk dalam KPU sewajibnya adalah figur-figur publik yang teruji bersih dari korupsi dan mampu berdiri netral dan bebas dari intervensi baik oleh parpol dan juga pemerintah.

Problematika muncul ketika struktur KPU terbagi menjadi Komisioner di satu pihak dengan Sekretariat Jendral di sisi yang lain. Komisioner mendaftarkan diri dan di fit & proper test oleh DPR serta dilantik oleh pemerintah, sementara Setjen KPU adalah para birokrat yang tentu saja loyalitasnya kepada negara (baca: penguasa).

Peristiwa politik jelang pemilu 2014 sudah mulai terjadi ketika tahapan verifikasi parpol berjalan, pihak setjen KPU berkeras dengan sistem yang selama ini mereka lakukan sementara para komisioner merasa sudah menjadi kewajiban mereka mengawasi kinerja setjen. Sengketa tersebut ditengahi oleh DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu) sebagai badan yang dibuat untuk mengatasi sengketa internal KPU juga KPUD.

Bila sesuatu dimulai dari fondasi yang goyah maka hasilnya pun akan tidak stabil. Dan hal tersebut sudah terjadi dalam pemilukada yang berlangsung selama ini. Dan Mahkamah Konstitusi adalah lembaga tertinggi yang dibentuk negara guna mengatasi konflik hasil pemilihan umum.

Karena itulah, KPU dan MK adalah lembaga strategis yang menjadi incaran partai politik dan pemerintah, agar legalitas formil kemenangan dalam pemilu menjadi terjamin.

Pada pemilu 2009 begitu banyak kasus terjadi dalam pileg. Modusnya bisa “kesalahan input”, atau SK yang memenangkan calon tertentu dengan pengabaian terhadap bukti faktual seperti surat suara, lagi pula biasanya kantor KPUD dimana konflik terjadi akan mengalami kebakaran yang menghanguskan seluruh isinya termasuk surat suara. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kotak suara hasil dari TPS harus dikawal begitu tiba di PPS, PPK hingga di KPUD agar tidak terjadi penggelembungan terhadap calon-calon atau partai tertentu. Banyak yang beranggapan bahwa kasus tersebut terjadi secara sporadis, walau buat saya bukan tak mungkin itu berlangsung secara sistematis dan massif. Dengan melibatkan banyak tenaga mulai dari tingkat TPS hingga ke KPU tentunya. Karena berjasanya orang-orang tersebut hingga tak aneh bila kemudian Parpol merekrut tenaga-tenaga yang sebelumnya berasal dari KPU.

Namun kini MK menjadi lebih strategis dari KPU, karena MK dapat  membatalkan Surat Keputusan KPU tanpa adanya banding atas putusan MK tersebut. Para aktor politik banyak yang kemudian berjuang masuk dalam lingkaran 9 hakim MK.

mk

Peristiwa penangkapan Akil Mochtar, Ketua MK, oleh KPK tentu saja mempunyai implikasi yang luas bagi semua pihak. Bagi masyarakat umum akan membuka mata bahwa suara yang mereka berikan selama ini dalam pemilihan kepala daerah, anggota legislatif hingga Presiden bisa saja ditiadakan oleh keputusan MK yang rentan akan suap. Bila sebelumnya rakyat sudah meragukan KPU maka kini bertambah lagi keraguan terhadap MK.

Di sisi lain, yaitu negara, akan memiliki kesempatan untuk mengkooptasi MK lewat jalur yang disebut pengawasan. Karena krisis kepercayaan masyarakat sudah begitu mengkristalnya dengan penangkapan Akil maka dibutuhkan tindakan cepat, dan bila Presiden Jendral SBY sungguh bertindak cepat dengan menandatangani Perppu maka itu adalah hal yang langka selama 9 tahun kekuasaannya, lewat Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPPU).

Kelahiran PERPPU selalu dalam kondisi darurat dimana Presiden sebagai pihak Eksekutif memiliki kewenangan untuk menelurkan keputusan vital tanpa persetujuan DPR, karena bila melalui mekanisme Undang-Undang akan memakan waktu panjang dalam pembahasannya.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa kasus yang dialami Akil adalah skenario jebakan untuk menguasai MK, biarlah pembuktian suap dan tiga linting ganja tersebut menjadi ranah yudikatif. Tetapi kasus Akil adalah kunci bagi penguasa untuk memasuki MK tanpa protes dari masyarakat.

Bisa jadi masih banyak Akil-akil yang lain dalam lembaga tinggi negara lainnya. Tetapi selama lembaga tersebut kooperatif maka belum menjadi prioritas untuk diungkap. Ini demokrasi a la penculik, dimana para aktor politik saling memegang sandera atas aktor politik lainnya. Karena itu saya lebih suka menggunakan kalimat perkartuan politik ketimbang percaturan politik.

Percayalah, demokrasi seperti ini akan menemui jalan kehancuran yang dibuatnya sendiri. Dan rakyat masih akan tegak berdiri sebagai bangsa yang dulu bernama Indonesia.

 

Kringggggggggggggg………

Dering weker menidurkanku..

“Ah, ternyata aku bermimpi buruk disaat terjaga,” ucapku dalam tidur.

ATUT DITANGKAP

          “Hallo, bisa bicara dengan mang Halim?”

          “Dengan Halim. Bisa, dari siapa?”

          “Dari Atut, keponakannya”

          “Tunggu sebentar ya…Lim, ada telepon!”

          “Dari siapa koh?”

          “Dari ponakanmu”

          “Hallo”

          “Halo, mang! Ini Atut”

          “Ada apa, Tut?”

          “Atut ditangkap!”

 

 

* _ *

atut ditangkap

Namanya Atut Chosiyah. Usia 19 tahun. Pendidikan terakhir SMA Negeri. Dan malam ini ia berada di Jalan Merdeka Tangerang. Tujuannya tak lain dan tak bukan hendak melamar kerja. Sebuah tempat bilyar menjadi sasarannya. Tempat yang belum lama dibuka dan sedang membutuhkan beberapa tenaga lagi untuk memenuhi posisi di situ.

Atut tidak begitu mengenal jalan-jalan di Tangerang. Dan ia sudah menghabiskan dua jam menyusuri sepanjang Jalan Merdeka untuk menemukan tempat orang-orang menghabiskan waktu bermain bola sodok itu.

Alhasil, ia malah tak berhasil menemukannya. Alih-alih mendapatkan alamat yang dituju, ia malah ketemu dengan serombongan petugas pamong praja. Dua orang diantaranya turun dari mobil patroli dan langsung menarik lengan dan badannya. Perlakuan mereka persis seperti calo bis antar kota.

          “Lho, pak. Ada apa?”

          “Sudah ikut saja dulu!”

          “Ikut kemana pak?”

                    “Ikut ke kantor!”                                                                                                                       “Tapi Pak?”

          “Sudah..nanti kita selesaikan di kantor!”

          Atut tak berdaya dibawah cengkeraman petugas yang kekar itu. Ia dinaikkan ke atas mobil patroli. Dan tak lama, penuhlah mobil itu dengan perempuan-perempuan lain. Rombongan ini bergerak menembus gelapnya malam.

Ada apa? Kenapa? Kemana? Ribuan tanda tanya menggelayuti pikiran gadis ini. Ia tidak memahami apa yang terjadi. Tetapi ketakutannya mengalahkan semua pertanyaannya.

Atut menurut. Ia tak berdaya. Bahkan terhadap tubuhnya sendiri

 

* _ *

 

 

 

          “Tut, ada lowongan kerja nih!”

          “Dimana, mang?”

          “Di Jalan Merdeka. Tempat bilyar”

          “Mau, mang!”

          “Nanti sore kamu ke sana. Dari sini naik angkot, turun di Kodim. Terus, kamu sambung angkot lagi yang ke Cimone. Bilang sama supirnya kalau kamu turun di Merdeka. Dari situ tinggal tanya orang-orang dimana tempatnya”

          “Makasih, mang. Atut nanti sore berangkat ke sana”

          “Kamu minta ongkos sama teteh, mamang sudah kasih ke dia”

          “Omong-omong, tempat bilyar itu apa mang?”

          “Itu tempat orang-orang bermain bola sodok, kamu coba dulu. Mamang dikasih tahu sama pelanggan mamang kalau tempat itu baru dibuka dan lagi butuh banyak tenaga”

          “Atut mau, mang! Yang penting kerja halal”

          “Ya sudah, mamang mau kerja dulu”

 

 

 

* _ *

 

 

Atut Chosiyah. Sungguh, aku bukannya sedang bercerita tentang Gubernur Banten. Hanya kebetulan saja nama dan jenis kelamin mereka sama. Selebihnya 100% bertolak belakang. Seperti Bumi dan Jupiter.

Karena Atut yang kuceritakan ini bukan dari kalangan orang berpunya. Ia adalah salah satu dari ratusan juta orang miskin yang banyak berserakan di negri ‘gemah ripah loh jinawi’ ini.

Atut dalam kisah ini juga tak memiliki kekuasaan apa pun. Bahkan terhadap dirinya sendiri. Nasibnya lebih ditentukan oleh para pembuat kebijakan publik.

Dulu, ketika ia masih kecil dan masih tinggal dengan kedua orang tuanya, Atut berpikir bahwa dengan bersekolah ia akan menjadi pintar. Dan dengan kepintarannya ia akan mendapat pekerjaan. Dan dengan pekerjaannya ia akan mendapat uang banyak. Dan dengan uang banyak ia bisa membelikan ayahnya tanah dan kerbau serta membelikan ibunya perhiasan dan rumah.

Sebuah cita-cita yang mulia.

Tetapi negara menggantung cita-citanya setinggi awan di langit, dan kini Atut  terseok-seok untuk menggapainya.

Karena BBM terus menerus dikurangi subsidinya oleh negara, maka harga-harga juga terus menerus melonjak, maka hutang-hutang juga terus menerus tak terbayar, maka habislah harta-harta benda yang ada untuk melunasi hutang.

Ayahnya menjual satu demi satu petak-petak sawah dan kerbaunya hingga akhirnya habislah seluruh tanah warisan keluarga. Sesudahnya, ayah jatuh sakit. Ibunya pun menjual satu demi satu perhiasan hingga akhirnya habislah seluruh perhiasan untuk membiayai pengobatan ayah dan biaya pendidikan Atut serta dua adiknya.

Dalam keadaan tak mempunyai apa-apa, kecuali gubuk berukuran 5×6 meter tempat mereka berdiam, ayah meninggal dunia. Atut sudah kelas dua SMA ketika itu terjadi. Tadinya ia mau keluar dari sekolah karena sadar akan biayanya namun ibunya berkeras agar ia menamatkan pendidikannya. Tapi dari mana biayanya?

Dengan sangat terpaksa, Ibu menjual rumah itu dengan harga murah dan kemudian mereka sekeluarga pindah ke rumah nenek. Disana, ibu membantu nenek menganyam tikar dan dari uang yang tak seberapa mereka mencoba bertahan hidup.

Syukurlah, Atut bisa menyelesaikan SMA-nya walau dengan kembali berhutang kesana kesini untuk melunasi uang ujian yang ikut-ikutan tergantung di awan.

Dua adik laki-lakinya tidak berniat meneruskan sekolah. Mereka lebih memilih menjadi buruh tani untuk membantu membiayai kebutuhan hidup.

Dari konfigurasi keluarga yang seperti ini, menjadi logis bila Atut lah tumpuan keluarga ini untuk memperbaiki nasib.

Tetapi, hanya dengan ijazah SMA? Di kota kecil pula?

Harapannya mampu mengubur pesimisme itu. Ia bertekad untuk pergi ke kota lain yang lebih menjanjikan.

Tangerang, Kota Seribu Pabrik, menjadi tujuannya. Ia bisa menumpang hidup sementara di rumah Halim, mamangnya. Sambil membantu pekerjaan rumah di pagi hari, ia bisa melamar kerja sesudahnya. Begitu terus aktivitasnya sepanjang hari.

Tapi memang realita hidup sangatlah keras. Tak mudah baginya mendapatkan kerja. Sudah beratus-ratus surat lamaran ia berikan dan sudah beratus-ratus penolakan ia terima. Aneka ragam pabrik ia datangi dan aneka ragam alasan ia dapati.

Sudah hampir sebulan ia mencoba dan selalu gagal. Akhirnya Atut menurunkan standar pekerjaannya. Ia melamar menjadi pelayan di rumah makan Padang. Tak sampai dua minggu ia berhenti karena gaji yang didapat tak pernah tersisa sedikitpun. Bukan karena ia tak hemat tapi memang gajinya kecil.

Lalu ia mencoba membuka usaha binatu kecil-kecilan di rumah mamangnya. Lumayan banyak juga pelanggannya. Sayangnya musim hujan tiba dan lebih lama dari biasanya. Para pelanggannya mengeluh karena pakaian mereka lama keringnya. Itu bukan kesalahan Atut, tapi mana mau mereka mengerti. Satu demi satu pelanggan berhenti dan berhenti pula bisnis kecil-kecilannya itu.

Hingga akhirnya datanglah kabar dari mamangnya bahwa ada lamaran kerja di tempat bilyar. Atut senang mendengarnya, ia sudah menyiapkan surat lamaran, fotokopi ijazah dan kelengkapan lain yang kira-kira dibutuhkan.

Sorenya, ia pun berangkat dengan harapan yang seakan tak pernah ada habisnya.

Malamnya, Atut malah ditangkap. Ia dicurigai sebagai pelacur oleh petugas pamong praja yang berbekal Perda no. 8 berhak menangkap siapapun yang dicurigai sebagai pelacur. Dan tentu saja korban kecurigaan mereka ya perempuan.

Mau dibilang apa lagi, Atut Chosiyah yang satu ini memang berbeda sama sekali dengan Atut Chosiyah yang berkuasa di Provinsi Banten. Nama boleh sama, jenis kelamin juga. Tapi nasib jelas-jelas berbeda.

 

 

 

* _ *

 

 

Dalam persidangan yang digelar secara terbuka di dalam gedung Pusat Pemerintahan. Disaksikan para pegawai negeri, Walikota, anggota DPRD bahkan Gubernur, gadis malang itu ikut disidang bersama puluhan perempuan lainnya. Tanpa didampingi pembela yang merupakan hak terdakwa, juga tiadanya satu pun saksi yang meringankan, Atut dinyatakan bersalah dan dikenai hukuman penjara 7 hari subsider denda Rp.500.000,-

Dari mana uang sebanyak itu? Entahlah, mana sang hakim mau mengerti bahwa bagi orang-orang seperti Atut uang sebesar itu sangatlah sulit untuk didapatkan. Ia pun tak mau mamangnya berhutang untuk membayar denda itu. Sekali lagi, dalam keadaan tak berdaya, Atut tak punya pilihan selain dipenjara.

Di dalam bui, ia bergaul, belajar dan menyadari bahwa mencari uang itu sangat susah baik itu yang halal maupun yang haram.

 

 

 

* _  *

 

Itulah kisah lama dirinya. Atut Chosiyah, pelacur yang biasa mangkal di jalan-jalan raya kota Tangerang. Ia sudah berdandan secantik mungkin dan kini sedang menunggu laki-laki yang mau membayar demi menikmati tubuhnya. Tubuh yang sedari dulu tak pernah bisa dikuasainya.

 

 

 

                                                                                                                11 Maret 2006

                                                                                                                                                       19:05