TWO DECADES OF SEEK AND DESTROY

Tulisan ini dibuat untuk mengenang peristiwa yang terjadi 20 tahun lebih 4 bulan lampau di belahan selatan Jakarta ketika terjadi kerusuhan disaat konser Metallica.

Ya, saat itu saya masih remaja dan bersama beberapa teman nekat mendatangi Stadion Lebak Bulus, tempat konser diadakan. Kukatakan nekat karena kami tidak berbekal tiket masuk, namun seperti lazimnya terjadi dalam setiap konser musik maka akan selalu ada tim penjebol.

Saya lupa berapa harga tiketnya kala itu, namun dengan posisi masih bersekolah maka berapapun tiketnya akan terasa mahal bagi kami. Apalagi ini grup metal legendaris, Metallica, yang hadir.

Saya mengenal grup ini saat album …And Justice For All lewat kaset teman saya, dan dahulu kaset-kaset yang beredar di negeri ini bajakan alias tidak punya hak edar disini. Di album ..And Justice For All inilah saya merasakan emosi jiwa diguncang habis-habisan lewat permainan ritmik yang fluktuatif (awalnya pelan namun mengencang di pertengahan hingga pada akhirnya). Simaklah lagu …And Justice For All yang dimulai dengan intro riff gitar tanpa distorsi nan lembut dan lalu disambut dengan ritmik yang keras menggelegar. One, juga memiliki patron nan identik dengan …And Justice For All. Atau lagu lain semisal Blackened yang memang dibuat untuk menggoyangkan kepala, head banging istilahnya. Sungguh, di album ini saya merasakan musik metal yang selaras dengan kebutuhan emosi jiwa yang juga masih belia saat itu.

Untuk lirik lagunya justru dikemudian hari barulah saya telaah dan ternyata juga tak kalah garang dengan musiknya. Protes sosial, ilustrasi jiwa yang terluka karena perang atau semangat pemberontakan kaum muda atas kekangan pranata yang ada adalah tema-tema yang juga sesuai dengan kebutuhan jiwa belia saya. Pada saat itu.

Setelah album tersebut barulah saya menengok jejak-jejak Metallica sebelumnya. Dan Seek And Destroy yang menjadi judul diatas terdapat didalam album pertama mereka Kill ‘Em All (1981).

Berita konser Metallica pada 1993 sungguh membuat saya bersemangat untuk menghadirinya dengan cara apapun juga. Dan banyak teman sebaya yang juga merasakan hal sama.

Pada tahun sebelumnya, 1992, di tempat yang sama kami sudah melakukan pemanasan pada konser Sepultura dan kami berhasil masuk tanpa perlu membayar tiket (yang saya lupa berapa harganya). Berbekal pengalaman di konser Sepultura maka kami pun bertekad berada di muka Hetfield cs.

Image,

Saya ingat jadwal Metallica saat itu adalah dua hari di Stadion Lebak Bulus. Pada hari pertama sudah terasa aroma bahwa jumlah (yang berniat menjadi) penonton melebihi kapasitas Stadion Lebak Bulus yang hanya mampu memuat sekitar 20.000 orang (tentu termasuk Panitia dan Keamanan). Disaat grup musik pembuka konser yaitu Rotor memainkan repertoarnya maka kegelisahan di luar Stadion berubah menjadi agresi. Kening sayapun menjadi korban lemparan botol nyasar dari penonton yang mulai beringas, bekasnya masih ada hingga kini dan saya ingat sekali respon dari Aparat Keamanan yang sangat represif sehingga semua yang ada diluar Stadion (termasuk kios-kios pedagang bahkan juga got-got yang dipenuhi penonton ketakutan) berantakan dihajar oleh pentungan dan lars para serdadu. Tetapi semua itu dilakukan Aparat untuk mengendalikan situasi, dan memang suasana sekilas bisa dikendalikan.

Tetapi itu hanya sampai Rotor semata, begitu grup tersebut selesai bermain dan digantikan oleh Metallica lewat lagu pertamanya Seek And Destroy maka malam menjadi bara yang tak bisa dipadamkan. Para penonton merespon balik represi Aparat dengan melakukan pembakaran terhadap apapun yang mudah disulut. Khawatir api menjalar ke dalam stadion, maka semua tenaga keamanan melakukan serangan pukul mundur kepada para penonton yang kecewa tersebut. Lagu Seek And Destroy belum selesai, tetapi saya berada didalam rombongan yang diarahkan ke Pondok Indah. Masih berbayang dalam ingatan ketika seorang pemilik salah satu rumah di sepanjang Jalan Pondok Indah mengeluarkan pistol dan menembakkan keatas berulang kali untuk membela diri kala melihat barisan pejalan kaki yang belasan ribu jumlahnya melewati depan rumah dan mobilnya yang terparkir di luar. Kami tetap berjalan dengan tenangnya, baru kali itu saya melihat dan merasakan bahwa massa tanpa senjata yang tenang dan seorang berpistol yang tegang. Ironis.

Entah beberapa kali benturan terjadi, bahkan aparat Polantas yang bertugas pun dijadikan bahan mainan oleh kami tanpa perlawanan kecuali ia berusaha mempertahankan senjatanya setengah mati.

Dan ketika melewati Pondok Indah Mal ternyata para “pendahulu” saya sudah menggedor dan mengeduk apapun yang bisa dibawa. Ya, Pondok Indak Mal dijarah oleh banyak orang dari kami. Semua kejadian itu mirip dengan lirik lagu Seek And Destroy. Saya yang sudah letih sedari keos di depan stadion hanya bisa menjadi saksi atas segala aksi-aksi tersebut sambil terus waspada dan mencari titik aman bagi keselamatan diri sendiri tentunya.

Alhasil saya bisa selamat sampai di rumah menjelang pagi, setelah menumpang berbagai mobil karena kendaraan umum tidak ada yang melintas.

Tetapi karena antusiasme tak jua meredup, maka dengan beberapa kawan yang menyusut jumlahnya dari hari pertama, kami tetap berangkat dengan niat menyaksikan Metallica di depan mata.

Mungkin karena belajar dari strategi keamanan di hari pertama yang merugikan banyak pihak maka di hari kedua aparat keamanan lebih melunak dalam menjalankan tugasnya.

Pada saat sekitar tiga lagu pertama sudah dimainkan, pintu gerbang dibuka lebar-lebar bagi kami yang tidak memiliki tiket. Dan yang saya lihat pertama kali adalah betapa luangnya ruang dimuka panggung, maka saya pun segera mendekat ke arah pagar pembatas panggung. Saya berhasil berada di pagar dan melihat dengan mata kepala sendiri James Hetfield, Kirk Hammett, Jason Newsted dan Lars Ulrich dari jarak sekitar 15-20 meter saja. Bukan main bahagianya saya saat itu walaupun arus penonton dari belakang terus mendesak maju namun tekanan tersebut tidaklah ada artinya dibandingkan kebahagiaan melihat musisi sekelas Metallica didepan mata.

20 tahun kemudian, Metallica kembali hadir di Jakarta, tetapi kali ini mereka bermain di GBK yang mampu memuat 4-5 kali lebih banyak dari Lebak Bulus. Semoga Polda Metro Jaya bisa lebih arif dan tidak perlu represif menghadapi penonton karena tujuan mereka hanya satu, menjadi penyaksi dari Metallica, grup musik idolanya. Itu saja. Bukan menjadi perusuh atau penjarah. Kecuali diplot begitu.

Iklan