Posted on

Andai Hugo Chávez Presiden Indonesia.

Pagi ini, 6 Maret 2013, tiba dengan mengejutkan. Tersiar warta di sosial media: Hugo Chávez Dies by Cancer. Aku pun sempat kaget dan bertanya-tanya membacanya. Tak ada satu kawan pun yang mengkonfirmasi pertanyaanku: apa berita ini benar? Karena tautan yang tersebar di sosial media berasal dari pers Amerika. Saya lebih percaya bila berita itu tersiar dari kedutaan Venezuela atau langsung dari Mentri Luar Negeri Venezuela. Televisi kunyalakan tetapi berita yang tersebar masih soal Anas, Raffi, korupsi, narkotika, kecelakaan, gosip-gosip dan berita-berita sejenis yang membosankan. Tetapi akhirnya ada juga video berita yang menggambarkan Wakil Presiden terpilih Venezuela, Maduro, menyampaikan berita kematian tesebut.

Hugo Chávez meninggal karena kanker yang sudah lama menggerogoti kesehatannya. Saya berduka sedalam-dalamnya. Bendera Merah Putih sudah berkibar setengah tiang.

chavez1229

Sesudah Fidel Castro mundur dari pentas politik dunia, maka Chávez adalah harapan. Tidak hanya bagi Venezuela tetapi juga bagi seluruh dunia. Harapan bagi terciptanya keseimbangan dunia.  Yang sejak Perang Dunia kedua berakhir menjadi lahan penindasan global oleh para pemilik modal.

Tak terkecuali harapan bagi rakyat Indonesia. Sejak Soekarno digulingkan militer dengan bantuan Amerika Serikat, maka adalah hampa makna tujuan negara seperti yang tertulis di Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Sejak rezim militer Orde Baru berkuasa dengan semena-mena, rakyat adalah penonton setia hasil pembangunan. Kekayaan alam negeri ini telah dialihkan ke luar negeri dan remah-remahnya masuk ke kantong-kantong pembesar. Tanpa ada secuilpun yang tersisa bagi rakyat.

Padahal di UUD 1945 masih ada pasal 33 yang mengatur bahwa seluruh kekayaan negeri ini dikuasai negara dan dipergunakan sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat. Tetapi prakteknya ternyata semua digadaikan demi utang yang bocor hingga 40%. Tingkat kebocoran yang tinggi ini memperjelas tidak adanya transparansi penggunaan, laporan dan pengawasan atas utang luar negeri itu. Namun tentu saja hal itu tidak menjadi soal bagi negara-negara donor karena mereka memang ingin melihat jatuhnya negeri bernama Indonesia karena utang yang melimpah dan tata kelola yang koruptif. Begitu negeri ini jatuh, maka negara ini akan menjadi murah untuk dimiliki.

Sejatinya Pasal 33 UUD 1945 adalah pasal yang membela kepentingan rakyat, namun menjadi tak berguna melihat ulah eksekutif yang terus menerus memperpanjang kontrak-kontrak karya pertambangan dengan pihak asing.

Presiden pertama Indonesia, Soekarno, sudah memulai langkah yang cantik ketika di tahun 50-an mencanangkan nasionalisasi atas perusahaan-perusahaan asing di bidang pertambangan. Resikonya jelas besar, dimusuhi negara adidaya dan banyak sekutunya. Tetapi itu harga yang sebanding untuk mendapatkan cinta dari ratusan juta jiwa yang lahir, besar dan mati di negeri ini.

Langkah piawai Soekarno digantikan langkah cari aman Jendral Besar Soeharto. Dan setelah reformasi ternyata langkah cari aman tersebut tak tergantikan. Malah Presiden terkini Jendral SBY tidak hanya bergerak ke arah cari aman tetapi ironisnya membuat pencitraan seolah bekerja bagi rakyat. Rakyat yang mana?? Entahlah, mungkin hanya sebatas rakyat Indonesia yang memiliki kartu anggota Partai Demokrat semata. Padahal ia dipilih dan diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Sebagai rakyat kecil, saya memimpikan seorang Presiden dengan karakteristik almarhum Hugo Chávez. Berani menolak kepentingan asing demi rakyatnya. Keberanian bersikap ini tidak ada kaitannya dengan jenjang kepangkatan dalam militer. Chávez belum lagi menjadi Jendral, apalagi Jendral Besar seperti Soeharto, tetapi memiliki keberanian untuk bersikap mendukung rakyatnya. Nyalinya dalam membela kepentingan rakyat sungguh luar biasa, ini yang tak dimiliki Presiden Jendral SBY.

Disaat harga minyak dunia melambung, maka pemasukan negara melimpah dan dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk pembangunan fisik juga harga-harga bahan makanan yang terjangkau. Itulah yang terjadi di Venezuela.

Berbeda dengan Indonesia, di saat harga minyak dunia melambung maka subsidi dihapus akibatnya semua harga-harga meroket dan daya beli masyarakat menjadi tiada. Disaat itulah negara malah asyik sendiri dengan argumennya dan membuang amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 ke tempat sampah.

Negara tidak hadir dalam segala penderitaan rakyat. Pendidikan hanya melayani orang kaya. Bagi si miskin dilarang sakit jika tak ingin cepat mati. Negara seperti ini tidak memiliki arti apa pun bagi rakyat kecuali menanti saatnya bom ini meledak dan merontokkan kekaisaran militer-kapitalistik.

Andai Hugo Chávez menjadi Presiden RI keadaan pasti berbeda. Tetapi beliau telah wafat dan kalaupun ia masih hidup tentu harapanku juga sebatas angan. Mungkin aku harus lebih realistis. Andai saja Jendral SBY memiliki setitik nyali Hugo Chávez, oh maaf, kenapa aku malah jauh bermimpi? Tentu saja tidak mungkin. Air dan minyak tidak pernah bercampur. Penakut dan pemberani adalah spesies yang berbeda dan memiliki habitatnya sendiri.

Aku jadi sedih, mungkin itu sebabnya langit masih dinaungi mendung. Aku berduka atas kematian Hugo Chávez, Pemimpin yang berani dan melindungi kepentingan rakyatnya. Bendera setengah tiang sudah berkibar.

            “Hasta la victoria siempre!! Viviremos y venceremos!!!”

                                                                                    -Hugo Chávez.

Iklan

Bagikan Responmu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.