SAYA BUTUH PERS YANG KRITIS BUKAN YANG BOMBASTIS.

Kemajuan pesat di bidang teknologi informasi membuat abad kini layak disebut abad digital. Piranti dan infrastruktur telekomunikasi terkini telah menancapkan kukunya di pelosok nusantara. Dengan perangkat seluler yang murah kita dapat mengakses ragam berita teraktual di seluruh dunia.  Ini penanda yang jelas sekali untuk apa yang disebut abad digital.

abad digital

Kecepatan informasi menjadi syarat wajib dalam abad digital. Bila dahulu, ketika surat kabar menjadi acuan informasi, proses pengolahan berita memakan waktu hingga setengah hari untuk siap dibaca pembaca maka di abad digital proses berita yang satu jam pun dianggap terlambat. Kecepatan memproses sebuah peristiwa dipercepat hingga hanya hitungan menit saja langsung dapat dibaca oleh kita. Semakin cepat akan semakin baik.

Transparansi informasi juga menjadi keharusan di zaman sekarang. Tak ada informasi yang bisa ditutupi lagi kini. Bahkan bila dicoba untuk ditutupi pun akan terbongkar juga. Contoh kasus; Julian Assange, yang bersembunyi dari kejaran CIA, dengan wikileaks-nya mampu membongkar informasi dengan keamanan sekuritas maksimum. Tak ada yang bisa sembunyi di dunia maya. Transparansi informasi inilah yang memikat pembaca. Memang ada pula informasi yang telah disepakati bersama untuk di tutupi, misalnya bila menyangkut eksploitasi seks pada anak-anak. Tetapi nyaris tak ada warta yang bisa ditutupi di abad digital ini.

Selain kecepatan dan transparansi, maka hal penting lain yang wajib di era terkini adalah komunikasi dua arah. Sebuah kabar yang tertulis di dunia maya sejatinya tidak mengenal titik, sesudah warta terbaca maka para pembaca juga berhak mengomentari, memberi kesaksian, membeberkan data/fakta tambahan, membantah, berpromosi atau bahkan menghujat. Adanya ruang bagi pembaca berinteraksi dengan penulis dan pembaca lainnya adalah indikasi riil abad digital.

Dan ketika ada sebuah warta dunia maya ramai dikunjungi dan dikomentari maka warta tersebut mencetak hit. Artinya jumlah pengaksesnya banyak. Dan semakin banyak hit dalam sebuah situs akan menaikan peringkat situs tersebut dalam kancah popularitas di dunia maya. Ini adalah hal yang penting dalam jagad maya informasi, perusahaan-perusahaan besar berani membayar mahal beriklan lewat  google hanya agar terbaca sebanyak mungkin orang di seluruh dunia. Inilah yang membuat hit menjadi target dari strategi penulisan warta.

data mentah yang keburu dilaporkan sebagai berita

data mentah yang keburu dilaporkan sebagai berita

Namun ketiga hal penanda abad digital tadi juga menjadi stimulan ampuh bagi terciptanya jurnalisme bombastis. Jurnalisme murahan. Jurnalisme yang tidak membawa kita kemana-mana selain berkubang di lubang praduga galian sendiri.

Dengan kecepatan informasi tidak berarti ikut terbawa ketepatan informasi. Dalam  abad digital kecepatan itu lebih penting dari  ketepatan. Hal ini membuat tugas editor kerap terabaikan demi kecepatan berita. Sebenarnya tidak masalah bila sang jurnalisnya pun memiliki tingkat keakuratan yang tinggi dalam berbahasa atau mengolah data. Namun akan menjadi bumerang bila ternyata adalah ketidaktepatan dalam berita yang cepat tersebut.  Contoh ketidak tepatan berita seperti yang tercetak di sebuah surat kabar mengenai penggerebekan BNN di rumah artis Raffi Ahmad. Tertulis dalam tajuk utama “17 Artis ditangkap”. Padahal cuma ada 4 orang yang berstatus artis. Dan itupun setelah melalui proses pemeriksaan tinggal satu orang artis saja yang dinyatakan terbukti menggunakan narkotika. Ini hal yang terlihat sepele, tetapi vital bagi terciptanya kesesatan informasi.

trial by press

trial by press

Selain kecepatan, maka transparansi informasi kadang juga hanya menimbulkan kesimpang siuran dalam berita itu sendiri. Dengan dimatikannya fungsi editor dalam penulisan berita ditambah dengan ketidak mampuan jurnalis dalam memproses data-data menjadi warta hanya akan menimbulkan ketidak jelasan informasi. Sebuah data belumlah menjadi warta, ia harus melewati tahapan cek-ricek agar valid dalam kebenaran informasi . Contoh untuk ini, masih menggunakan kasus penggerebekan BNN di rumah Raffi Ahmad, adalah ketika keterangan singkat Ketua BNN mengenai kasus tersebut beberapa jam setelah kejadian dijadikan satu-satunya sumber penulisan yang ternyata menjadi berbias di, nyaris, seluruh media massa nasional.  Apalagi Kepala BNN tersebut juga mengklaim bahwa semua yang diamankan  terlibat pemakaian narkotika, hal yang kemudian memicu banyaknya rumor spekulatif di semua pemberitaan. Irwansyah, Zaskia Sungkar dan Wanda Hamidah menjadi korban penghakiman pers atas arahan Kepala BNN yang menyebarkan informasi yang belum diolah oleh para penyelidik bawahannya. Bagi Irwansyah dan Zaskia Sungkar mungkin penghakiman pers tersebut tidaklah terlalu sesakit yang dialami Wanda hamidah, anggota DPRD DKI, yang digunjingkan pers tanpa proses cek-ricek terlebih dahulu. Kepala BNN mungkin mencoba transparan ditengah minimnya informasi yang ia dapat dari anak buahnya yang melakukan penggerebekan. Dan ironisnya kejadian serupa juga dialami jurnalis kita. Ditengah proses penyelidikan oleh pihak BNN berlangsung, para media menuliskan kejadian berdasarkan keterangan sepihak yang belum teruji kebenarannya, untuk memperluas bahasan maka media perlu menambah data dalam mengolah informasi dan terkadang dari sumber yang tidak jelas (bukan berarti sumber tersebut tidak memiliki identitas jelas, karena seorang jendral bintang tiga pun bisa saja menjadi sumber yang tidak jelas). Akibatnya opini publik yang membaca warta tersebut juga terbelah dalam ketidakjelasan ditengah “transparansi” berita.

Ketidak tepatan dan transparansi kesimpang siuran berita membuat komunikasi informasi di abad digital ini menciptakan bentuk jurnalisme menjadi bombastis. Hal tersebut ditandai dengan judul yang provokatif (sebenarnya judul provokatif tidak masalah sepanjang memiliki ikatan kuat dengan materi berita namun bila judul provokatif tersebut hanya gimmick untuk mengejar hit tanpa mempertimbangkan kebenarannya), mengedepankan sensasi ketimbang esensi sebuah peristiwa, gaya bahasa bombastis tanpa daya kritis. Dengan hit yang besar menjadi tidak penting lagi kadar kebenaran suatu peristiwa.

berita bnn-2

Padahal pers adalah pilar keempat bagi tegaknya demokrasi. Ia menjadi penunjang yang memantau, mengkritisi pilar eksekutif, legislatif dan yudikatif dalam menjalankan tugas mengelola negara dengan benar dan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.

Pers akan mampu menjadi pilar keempat bila independen, kritis, advokatif dan informatif.

Hal ini tak akan tercermin bila melihat kondisi pers nasional. Dari sisi independensi semua penerbitan baik versi cetak atau elektronik berada dalam genggaman pemilik modal. Kelangsungan kerja para jurnalis tidak ditentukan oleh prestasinya tetapi atas kuasa pemodal. Bila berserikat pun bisa dipecat. Seperti yang dialami jurnalis Metro TV yang diberhentikan karena mencoba membuat serikat pekerja di perusahaan tersebut.

Bila sudah kehilangan independensi maka jangan harapkan pers menjadi kritis. Karena kuasa pemodal diatas segalanya maka tak mungkin bagi jurnalis mengkritisi pemodalnya, sebaliknya diarahkan mengkritisi pesaing dari pemodalnya. Sehingga perspektif redaksi dapat dibaca lebih jelas bila kita menyimak pula siapa pemodal diatasnya. Lalu apanya yang bisa diharapkan kritis dari konfigurasi hirarki seperti diatas?

Perang informasi antar pemodal menjadi tidak berguna bagi masyarakat. Tidak bisa kita mengharapkan pers mampu mengadvokasi rakyat dari situasi yang membingungkannya. Daya advokasi pers dibiarkan terlantar dan digunakan sebaik-baiknya oleh aktivis sosial atau politik yang sering menjadi gunjingan sebagai kaki tangan asing dalam setiap permasalahan warga negara. Akibatnya, rakyat kembali mempercayai rumor ketimbang berita yang dipenuhi pesanan pemodal.

Bila sudah begitu kejadiannya maka sisi informatif dari pers juga telah kehilangan kredibilitasnya di benak publik. Pers berubah menjadi tempat sampah yang memenuhi ruang publik tanpa bisa diketahui dari mana sampah-sampah itu berasal. Rumor kembali naik kelas menjadi informasi, dan masyarakat dibodohkan secara sistematis.

Itulah jurnalisme bombastis yang memberikan transparansi kesimpang siuran berita. Dan saya butuh jurnalisme kritis bukan yang bombastis.

Iklan