Posted on

AYAHKU PULANG….SAKIT PERUT :::kritik teater

Sehabis menyaksikan pentas teater FIESTA di lapangan SMAN 1 Tangerang dalam lakon “Ayahku Pulang” karya Usmar Ismail tadi ada sesuatu yang mengganjal di benak, ini lantaran “adegan” yang dijanjikan sutradaranya, Eb Magor, tidak terealisasi. Bukan, bukan adegan yang tampak di panggung yang membuat pikiranku terganggu tetapi “adegan” diskusi yang tidak terjadilah yang membuatku menuliskan semua hal yang telah menggumpal dan menyumbat otakku malam ini. Bagiku sejatinya pertunjukan teater itu selalu terbagi menjadi dua adegan utama; di atas panggung dan di luar panggung. Karena apapun naskahnya, apapun gaya pemanggungan yang dipilih akan selalu bersentuhan dengan realitas diluar panggung. Inilah yang menjadikan teater tontonan yang me’racuni’ ku sejak lama. Dan karena diskusi tidak terwujud maka inilah kritik dariku.

Ayahku Pulang adalah naskah yang disadur dari “Chuchi Kaoru,Kikuchi Kwan” oleh Usmar Ismail dan pernah di angkat ke layar lebar oleh Usmar Ismail sendiri dengan judul “Dosa Tak Berampun” (1951). Berkisah tentang seorang ayah yang pergi meninggalkan keluarganya karena perempuan lain, sementara Gunarto (anak sulung) harus membanting tulang bersama ibunya untuk menghidupi keluarga. Sepuluh tahun berlalu, di malam menjelang lebaran tiba-tiba sang ayah muncul kembali di hadapan anak perempuannya (Maimun dan Mintarsih) dalam wujud pengemis. Tapi wajah dan suaranya tetaplah dikenali sang ibu yang mempersilakannya masuk ke rumah, tetapi Gunarto berkeras menentang ayah yang dulu menelantarkannya dan menjadikannya budak di pabrik tenun sedari kecil itu untuk hadir ditengah-tengah keluarga. Sang ayah yang malu dan menyesali diri akhirnya kembali pergi dan bunuh diri dengan menenggelamkan diri ke sungai. Tinggallah penyesalan dalam diri Gunarto dan tangisan ibu serta adik-adiknya.

ON STAGE

Di atas panggung dengan set yang realis (garapan Chev Dorry) tampaklah ruang keluarga dengan satu set meja kursi kayu bergaya klasik dengan lukisan minimalis di latarnya, lalu ada ruang makan yang sederhana dengan lukisan kaligrafi di dindingnya serta di pojok kiri depan ada mesin jahit tua beserta baju-baju jahitan yang dijejerkan. Alunan takbir menggema, lampu mulai terang perlahan dan tampaklah seorang ibu duduk sedih di mesin jahit (tanpa benang), tak lama muncul Gunarto menanyakan kesedihan sang ibu. Dari dialog mereka terungkaplah betapa ibu merindukan ayahnya. Dan sikap Gunarto sudah terang dari dialog awal betapa ia membenci ayahnya. Kemudian datanglah si adik, Maimunah, baru pulang kerja, sang adik mengatakan bahwa ia bertemu dengan pengemis yang mirip dengan ayahnya yang hilang, kian berkeraslah sikap Gunarto mendengar omongan adiknya. Ditambah lagi dengan kepulangan Mintarsih dari mengantarkan baju jahitan ibunya kepada pemesan dan mengatakan ia baru saja bertemu dengan pengemis yang ditemui Maimunah di depan rumah, semakin menjadi kebencian Gunarto kepada ayahnya mendengar cerita Mintarsih. Dan akhirnya dalam keadaan sakit (ditandai dengan terbatuk-batuk) hadirlah si ayah yang lantas dikenali ibu lewat suaranya. Tetapi perjumpaan kembali itu membawa luka dalam Gunarto kian meradang, Gunarto mengusir ayah yang sudah meninggalkan keluarganya itu tanpa bisa dicegah oleh ibu dan adik-adiknya. Ayah yang menyesali hidupnya itu akhirnya kembali pergi dan…mati di sungai. Hanya baju dan kopiah saja yang bisa diselamatkan Maimunah. Gunarto pun menyesali tindakannya.

Aku lebih mencermati adegan-adegan mikro yang terjadi, karena adegan yang besar terjalin dari kumpulan adegan-adegan kecil (dan biasanya tak ada dalam naskah). Posisi ibu yang duduk sedih di mesin jahit, mestinya ada benang di mesin jahitnya itu. Kebetulan ibuku sendiri adalah penjahit pakaian dan selalu ada benang di mesin jahit ini menandakan kesiapan sewaktu-waktu ada order jahitan. Lalu Gunarto yang (berkali-kali) meminum dari gelas, tidak terlihat nyata ada air mengalir di tenggorokannya karena walau airnya tak ada itu tak berarti ia melupakan ritme air mengalir di tenggorokan. Posisi tangannya yang selalu di pinggang pun menjadi ‘absurd’ ketika berbincang dengan ibunya, karena sejatinya ia menyayangi ibunya dan dalam realitas panggung ulah tangannya itu menjadi terkesan marah yang dibuat-buat, mungkin akan lain masalahnya bila aksi tangan itu dihadapkan ke ayahnya. Maimunah pun serasa tak pulang ke rumahnya, ia menjadi tak senyawa dengan perabotan yang ada di rumahnya, hal itu pun juga terjadi di semua pemain. Keasingan ini mungkinterasa alamiah bagi ayah, tetapi menjadi janggal bila dilakukan Ibu, Gunarto, Maimunah dan Mintarsih. Sedangkan adegan mikro ayah yang mengganggu adalah batuknya, batuk yang bukan terjadi karena sakit tetapi batuk yang dipaksakan kehadirannya. Selain itu dingin sekali ayahnya ketika merangkul Maimunah dan Mintarsih, seolah ia bukan ayahnya.

Vokal para pemain dibantu dengan clip-on, dan ini masalah baru yang muncul, karena berkali-kali pemain tidak sadar bahwa ada mikropon di tubuhnya sehingga ketika seorang pemain menepuk dada maka bunyinya menjadi nyaring di telinga. Dengan bercanda seusai pementasan kukatakan pada Dorry, mungkin perlu ada tambahan kurikulum teater di sekolah yaitu pengenalan vokal dengan bantuan clip-on. Ini mungkin solusi di tengah area pementasan yang luas agar suara pemain tidak tenggelam dalam ruang, tetapi sebaiknya perlu adaptasi lebih dengannya.

Penjiwaan juga menjadi masalah besar yang dialami anak-anak SMA N 1 Tangerang ini, tetapi itu hanya masalah waktu. Lambat laun dengan makin intensnya mereka berlatih (apalagi sutradaranya sudah berteater sejak aku masih balita).

Fokus dari anak-anak usia sekolah memang menjadi hal yang rentan karena konsentrasi anak-anak sekarang tak lebih dari 5 menit (asumsiku karena anak-anak sekarang adalah generasi sosial media yang berorientasi cepat dan singkat). Dan saya salut dengan pentas ini dengan durasi 40 menit mereka mengalirkan cerita sampai tuntas.

OFF STAGE.

Di luar pentas tadi terasa benang merah antara cerita dengan realita seniman dalam relasinya dengan “ayah” (dalam hal ini bisa Negara dan atau Pasar). Karena (seperti yang pernah kulontarkan dalam sebuah diskusi teater 9 tahun lalu di TIM) para seniman biasanya hanya dikunjungi “ayah” bila ada maunya, seperti menjelang pilkada atau pemilu, selepas itu maka kembalilah “anak-anak” menjadi gelandangan yang harus tetap gagah walau yatim piatu.

Relasi yang timbul selalu tidak dalam simbiosis mutualisme, tetapi memanipulasi. Sesudah “orang tua” mendapat singgasananya maka si anak kembali dicurigai. Memang benar, bahwa seni itu cenderung subversif. Seni hadir dalam kehidupan untuk “mengganggu” keyakinan masyarakat agar peradaban terus bergerak dinamis, tidak mati dalam sangkar emas. Namun seyogyanya Negara atau Pasar wajib mendukung seni agar tetap hadir dan berkembang karena tanpa seni maka hidup menjadi gersang.

Benang merah antara naskah dan realita inilah yang menjadi bahan pemikiranku dan memotivasiku untuk menuliskannya. Semoga saja ayah benar-benar pulang dan hadir untuk keluarganya, tidak hanya memanipulasi bakat anak dan bila dimintai sesuatu oleh anak lantas berdalih,”Jangan ganggu Ayah, ayah sedang sakit perut…”

20 Mei 2012

01:43 WiB

Iklan

5 responses to “AYAHKU PULANG….SAKIT PERUT :::kritik teater

  1. Sayang sekali…tak ada diskusi setelah pementasan…padahal..penonton..masih berkerumum..rasanya..tontonan ini kurang cukup puas…sehingga mereka masih saja…tetap berkerumun…sampai 30 menit baru mereka…pulang…!!!

    Suka

  2. saya setuju dengan komentarnya tentang pementasan tadi malam 🙂
    satu lagi, Maimunah tak nyaman dengan sepatu yg dikenakannya. langkah kakinya agak kaku, seperti takut tergelincir di panggung.

    Suka

  3. raka putra nugraha ⋅

    Semoga dapat dijadikan pelajaran ditahun berikutnya, AMIN, semoga makin jaya teater pelajar!!!

    Suka

  4. “adegan” 2 berlangsung di dunia maya

    Suka

  5. U-rich ⋅

    dari sekian banyak yg memainkan naskah ni belum ada yg membuat saya bergairah…..

    Suka

Bagikan Responmu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.