Gerakan Hemat Basa-basi Nasional

Presiden Jendral SBY mencanangkan Gerakan Hemat Nasional mulai 1 Juni 2012, intinya adalah gerakan penghematan pemakaian energi minyak bumi yang dilaksanakan secara nasional. Energi yang dimaksud ialah BBM dan listrik dan ditargetkan diikuti seluruh pemerintah pusat serta daerah dan juga masyarakat.

Dalam pidatonya, Presiden Jendral SBY menguraikan lima langkah yang dilakukan secara nasional, yaitu:

  • Pengendalian sistem distribusi di setiap SPBU.
  • Pelarangan BBM bersubsidi untuk kendaraan pemerintah, baik Pusat maupun Daerah, juga untuk BUMN dan BUMD.
  • Pelarangan BBM bersubsidi untuk kendaraan perkebunan dan pertambangan.
  • Konversi BBM ke Bahan Bakar Gas (BBG) untuk transportasi.
  • Penghematan penggunaan listrik dan air di kantor-kantor pemerintah.

Langkah ini ditempuh pemerintah karena lonjakan harga Minyak bumi dunia yang kian meningkat seiring kecemasan pasar akan gejolak di Timur Tengah, perseteruan Iran dan Israel juga krisis yang melanda Eropa sebagai konsumen besar minyak bumi di dunia. Dengan demikian gerakan yang dicanangkan Presiden ini tak akan dikeluarkan bila harga minyak bumi tidak melonjak tinggi.

Terang benderanglah jadinya, bahwa sesungguhnya ini bukanlah Gerakan Hemat energi tetapi gerakan hemat anggaran energi. Pertanyaannya, apakah dengan lima langkah yang diucapkan Presiden akan mampu menghemat anggaran negara untuk pengeluaran energi? Sepertinya tidak demikian adanya, karena bila dirunut dengan logika yang simpel saja maka yang terjadi pembengkakan biaya anggaran negara. Hitungan sederhananya begini, ambil contoh di sebuah kota anggaran untuk BBM selama satu bulan 1000 liter, bila memakai BBM bersubsidi maka akan dicapai anggaran 1000 x 4500 = 4.500.000 per bulan tetapi bila memakai BBM non subsidi yang harganya dua kali lipat maka tinggal gandakan saja anggaran tadi.

Gerakan hemat menjadi kontradiktif bila melihat implementasi di lapangan para PNS yang piawai me mark-up anggaran negara akan semakin rajin memboroskan uang negara dan hebatnya kali ini didukung oleh Presiden Jendral SBY.

Untuk mencegah penyalahgunaan keuangan negara maka mungkin negara perlu memperhatikan beberapa hal yaitu:

  1. Berikan subsidi untuk energi terbarukan. Energi surya yang melimpah, angin yang meluap, panas bumi dan lain sebagainya bila mampu digunakan rakyat dalam memenuhi kebutuhan energi sehari-hari akan meringankan beban energi nasional selain itu ketergantungan terhadap PLN akan semakin minimal.
  2. Hapus institusi ad hoc. Banyaknya lembaga negara non struktural dengan deskripsi tugas yang tumpang tindih dengan lembaga yang sudah ada kian membebani anggaran negara. BNN, satgas-satgas dan lain sebagainya perlu dibubarkan segera karena anggaran mereka tinggi sementara hasil kerjanya tidak jelas.
  3. Turunkan gaji pejabat tinggi negara. Renumerasi atau kenaikan gaji pejabat tinggi negara tidak sepadan dengan kian bertambahnya jumlah uang negara yang dikorupsi. Jelas bahwa kerakusanlah yang menjadi pangkal korupsi dan itu tidak terpecahkan dengan kenaikan gaji pejabat tinggi negara. Karenanya untuk menghemat anggaran negara maka gaji pejabat tinggi negara harus diturunkan.
  4. Subsidi konverter BBG. Bila negara ingin memasyarakatkan BBG pada kendaraan bermotor maka sewajibnya membuat murah konverternya dengan memberi subsidi. Atau seperti kebijakan kompor gas, bagikan saja konverter BBG bagi kendaraan umum dan kendaraan dengan tahun produksi 90 kebawah.

Untuk itu maka sebaiknya pemerintah tidak perlu mengumbar basa-basi tanpa realisasi pasti, karena ini akan menambah energi masyarakat kian bercabang tanpa kendali.

Karena itu mulai besok, canangkan Gerakan Hemat Basa-Basi Nasional.

Woooiiii…Lady Gaga gak penting

Polemik konser Lady Gaga akhirnya terselesaikan dengan kemenangan dipihak ormas-ormas yang dimotori FPI dan Polisi dapat bernafas lega.

Problem ini sebenarnya adalah puncak gunung es dari ketakutan kekuasaan yang berlebihan terhadap seni. Dan ini terus berlangsung di setiap rezim yang menguasai republik ini.

Kemenangan teror adalah buah reformasi yang melenceng dan dilencengkan oleh kekuasaan dengan menggunakan tangan-tangan ormas.

Negara tidak takluk, mereka bermain di atas pertentangan yang dibuat ormas-ormas paramiliter. Di saat “perang” akan meletus maka Negara yang menjadi pemenangnya.

Ormas-ormas paramiliter ini ada sejak masa reformasi, di awali dari pembentukan Ratih (Rakyat Terlatih) oleh Jendral Wiranto untuk menandingi kekuatan Gerakan Mahasiswa yang dinilai oleh elit Militer ditunggangi komunis. Dalam perkembangannya, karena Ratih tidak mendapat respon positif dari masyarakat, maka Jendral Sutanto (Mantan Kapolri) membentuk FPI, berdasarkan penuturan Alm.Gus Dur. Dan misinya tetap sama, sebagai tangan kiri elite militer untuk memberangus gerakan pro-demokrasi.

Kembali ke soal Lady Gaga, isu demi isu dilontarkan petinggi FPI dan sekutunya sehingga seolah-olah wacana menjadi pertentangan etika dan estetika.

Moral dipakai sebagai standar estetika, masalahnya adalah tafsir tak bisa disamakan. Karena siapa yang bisa menstandarkan sesuatu itu menimbulkan hasrat birahi.

Bagiku, wacana itu adalah kamuflase dari upaya pemboncengan atas popularitas Lady Gaga, karena sejarah mencatat, Rolling Stone pun pernah dihujat sebagai setan namun kini Rolling Stone tetap berjaya hanya tak ada lagi yang menghujatnya sebagai antek setan, karena zamannya telah memudar. Kini eranya Lady Gaga dan ketenarannya membuahkan parasit-parasit.

Seni adalah objek yang ditakuti oleh kekuasaan.

Seni juga objek dari Kapitalisme.

Dan semua bermuara pada UUD, alias Ujung-Ujungnya Duit.

AYAHKU PULANG….SAKIT PERUT :::kritik teater

Sehabis menyaksikan pentas teater FIESTA di lapangan SMAN 1 Tangerang dalam lakon “Ayahku Pulang” karya Usmar Ismail tadi ada sesuatu yang mengganjal di benak, ini lantaran “adegan” yang dijanjikan sutradaranya, Eb Magor, tidak terealisasi. Bukan, bukan adegan yang tampak di panggung yang membuat pikiranku terganggu tetapi “adegan” diskusi yang tidak terjadilah yang membuatku menuliskan semua hal yang telah menggumpal dan menyumbat otakku malam ini. Bagiku sejatinya pertunjukan teater itu selalu terbagi menjadi dua adegan utama; di atas panggung dan di luar panggung. Karena apapun naskahnya, apapun gaya pemanggungan yang dipilih akan selalu bersentuhan dengan realitas diluar panggung. Inilah yang menjadikan teater tontonan yang me’racuni’ ku sejak lama. Dan karena diskusi tidak terwujud maka inilah kritik dariku.

Ayahku Pulang adalah naskah yang disadur dari “Chuchi Kaoru,Kikuchi Kwan” oleh Usmar Ismail dan pernah di angkat ke layar lebar oleh Usmar Ismail sendiri dengan judul “Dosa Tak Berampun” (1951). Berkisah tentang seorang ayah yang pergi meninggalkan keluarganya karena perempuan lain, sementara Gunarto (anak sulung) harus membanting tulang bersama ibunya untuk menghidupi keluarga. Sepuluh tahun berlalu, di malam menjelang lebaran tiba-tiba sang ayah muncul kembali di hadapan anak perempuannya (Maimun dan Mintarsih) dalam wujud pengemis. Tapi wajah dan suaranya tetaplah dikenali sang ibu yang mempersilakannya masuk ke rumah, tetapi Gunarto berkeras menentang ayah yang dulu menelantarkannya dan menjadikannya budak di pabrik tenun sedari kecil itu untuk hadir ditengah-tengah keluarga. Sang ayah yang malu dan menyesali diri akhirnya kembali pergi dan bunuh diri dengan menenggelamkan diri ke sungai. Tinggallah penyesalan dalam diri Gunarto dan tangisan ibu serta adik-adiknya.

ON STAGE

Di atas panggung dengan set yang realis (garapan Chev Dorry) tampaklah ruang keluarga dengan satu set meja kursi kayu bergaya klasik dengan lukisan minimalis di latarnya, lalu ada ruang makan yang sederhana dengan lukisan kaligrafi di dindingnya serta di pojok kiri depan ada mesin jahit tua beserta baju-baju jahitan yang dijejerkan. Alunan takbir menggema, lampu mulai terang perlahan dan tampaklah seorang ibu duduk sedih di mesin jahit (tanpa benang), tak lama muncul Gunarto menanyakan kesedihan sang ibu. Dari dialog mereka terungkaplah betapa ibu merindukan ayahnya. Dan sikap Gunarto sudah terang dari dialog awal betapa ia membenci ayahnya. Kemudian datanglah si adik, Maimunah, baru pulang kerja, sang adik mengatakan bahwa ia bertemu dengan pengemis yang mirip dengan ayahnya yang hilang, kian berkeraslah sikap Gunarto mendengar omongan adiknya. Ditambah lagi dengan kepulangan Mintarsih dari mengantarkan baju jahitan ibunya kepada pemesan dan mengatakan ia baru saja bertemu dengan pengemis yang ditemui Maimunah di depan rumah, semakin menjadi kebencian Gunarto kepada ayahnya mendengar cerita Mintarsih. Dan akhirnya dalam keadaan sakit (ditandai dengan terbatuk-batuk) hadirlah si ayah yang lantas dikenali ibu lewat suaranya. Tetapi perjumpaan kembali itu membawa luka dalam Gunarto kian meradang, Gunarto mengusir ayah yang sudah meninggalkan keluarganya itu tanpa bisa dicegah oleh ibu dan adik-adiknya. Ayah yang menyesali hidupnya itu akhirnya kembali pergi dan…mati di sungai. Hanya baju dan kopiah saja yang bisa diselamatkan Maimunah. Gunarto pun menyesali tindakannya.

Aku lebih mencermati adegan-adegan mikro yang terjadi, karena adegan yang besar terjalin dari kumpulan adegan-adegan kecil (dan biasanya tak ada dalam naskah). Posisi ibu yang duduk sedih di mesin jahit, mestinya ada benang di mesin jahitnya itu. Kebetulan ibuku sendiri adalah penjahit pakaian dan selalu ada benang di mesin jahit ini menandakan kesiapan sewaktu-waktu ada order jahitan. Lalu Gunarto yang (berkali-kali) meminum dari gelas, tidak terlihat nyata ada air mengalir di tenggorokannya karena walau airnya tak ada itu tak berarti ia melupakan ritme air mengalir di tenggorokan. Posisi tangannya yang selalu di pinggang pun menjadi ‘absurd’ ketika berbincang dengan ibunya, karena sejatinya ia menyayangi ibunya dan dalam realitas panggung ulah tangannya itu menjadi terkesan marah yang dibuat-buat, mungkin akan lain masalahnya bila aksi tangan itu dihadapkan ke ayahnya. Maimunah pun serasa tak pulang ke rumahnya, ia menjadi tak senyawa dengan perabotan yang ada di rumahnya, hal itu pun juga terjadi di semua pemain. Keasingan ini mungkinterasa alamiah bagi ayah, tetapi menjadi janggal bila dilakukan Ibu, Gunarto, Maimunah dan Mintarsih. Sedangkan adegan mikro ayah yang mengganggu adalah batuknya, batuk yang bukan terjadi karena sakit tetapi batuk yang dipaksakan kehadirannya. Selain itu dingin sekali ayahnya ketika merangkul Maimunah dan Mintarsih, seolah ia bukan ayahnya.

Vokal para pemain dibantu dengan clip-on, dan ini masalah baru yang muncul, karena berkali-kali pemain tidak sadar bahwa ada mikropon di tubuhnya sehingga ketika seorang pemain menepuk dada maka bunyinya menjadi nyaring di telinga. Dengan bercanda seusai pementasan kukatakan pada Dorry, mungkin perlu ada tambahan kurikulum teater di sekolah yaitu pengenalan vokal dengan bantuan clip-on. Ini mungkin solusi di tengah area pementasan yang luas agar suara pemain tidak tenggelam dalam ruang, tetapi sebaiknya perlu adaptasi lebih dengannya.

Penjiwaan juga menjadi masalah besar yang dialami anak-anak SMA N 1 Tangerang ini, tetapi itu hanya masalah waktu. Lambat laun dengan makin intensnya mereka berlatih (apalagi sutradaranya sudah berteater sejak aku masih balita).

Fokus dari anak-anak usia sekolah memang menjadi hal yang rentan karena konsentrasi anak-anak sekarang tak lebih dari 5 menit (asumsiku karena anak-anak sekarang adalah generasi sosial media yang berorientasi cepat dan singkat). Dan saya salut dengan pentas ini dengan durasi 40 menit mereka mengalirkan cerita sampai tuntas.

OFF STAGE.

Di luar pentas tadi terasa benang merah antara cerita dengan realita seniman dalam relasinya dengan “ayah” (dalam hal ini bisa Negara dan atau Pasar). Karena (seperti yang pernah kulontarkan dalam sebuah diskusi teater 9 tahun lalu di TIM) para seniman biasanya hanya dikunjungi “ayah” bila ada maunya, seperti menjelang pilkada atau pemilu, selepas itu maka kembalilah “anak-anak” menjadi gelandangan yang harus tetap gagah walau yatim piatu.

Relasi yang timbul selalu tidak dalam simbiosis mutualisme, tetapi memanipulasi. Sesudah “orang tua” mendapat singgasananya maka si anak kembali dicurigai. Memang benar, bahwa seni itu cenderung subversif. Seni hadir dalam kehidupan untuk “mengganggu” keyakinan masyarakat agar peradaban terus bergerak dinamis, tidak mati dalam sangkar emas. Namun seyogyanya Negara atau Pasar wajib mendukung seni agar tetap hadir dan berkembang karena tanpa seni maka hidup menjadi gersang.

Benang merah antara naskah dan realita inilah yang menjadi bahan pemikiranku dan memotivasiku untuk menuliskannya. Semoga saja ayah benar-benar pulang dan hadir untuk keluarganya, tidak hanya memanipulasi bakat anak dan bila dimintai sesuatu oleh anak lantas berdalih,”Jangan ganggu Ayah, ayah sedang sakit perut…”

20 Mei 2012

01:43 WiB

MEI 1998 YANG (TAK) AKAN USAI.

Sudah empat belas tahun berlalu, darah telah mengering namun luka masih menganga. Tragedi Nasional Mei 1998 adalah sebuah tragedi politik yang masih membekas dalam ingatan zaman, setidaknya bagi sebagian besar rakyat yang menjadi saksi hidup dari peristiwa tersebut. Banyak versi narasi mengenai kejadian tersebut namun satu hal yang membuat semua pihak setuju adalah bahwa peristiwa ini sebuah tragedi politik, membuat rakyat merasa bahwa politik itu kejam karena kekuasaan dipakai untuk menindas rakyat seperti yang terjadi masa orde baru dibawah kepemimpinan Jendral Besar Soeharto (alm).

Tentu peristiwa tersebut tidak terjadi dengan sendirinya. Ada beberapa hal yang melatarbelakanginya. Perlawanan rakyat terhadap kediktatoran militer Orde Baru telah melewati rentang waktu yang panjang. Gerakan mahasiswa berbagai generasi sudah mencoba mempelopori perlawanan rakyat hingga akhirnya gerakan mahasiswa 1998 menjadi pamungkas bagi penumbangan rezim otoriter. Tentu saja tidak hanya gerakan mahasiswa yang bergerak, tercatat banyak sudah nama politisi ataupun gerakan perlawanan lainnya yang sudah mencoba walau berakhir di penjara atau mati atau bahkan tidak diketahui rimbanya lagi. Elit politik pun ikut memboncengi semangat zaman yang mulai berubah, setelah krisis ekonomi mendera negeri ini sejak juli 1997 maka para elit yang selama masa orde baru turut menikmati darah dan keringat rakyat mulai berbalik arah. Sejumlah mentri yang tergabung dalam Kabinet Pembangunan (dan baru dilantik pada bulan Maret 1998) mendesak Presiden Jendral Besar Soeharto untuk mengundurkan diri. Krisis total pun terjadi, rakyat muak dan bersiap menumpahkan kemarahan yang terakumulasi selama 3 dekade lebih.

Tetapi perlawanan menimbulkan perlawanan balik dan berakibat perlunya tumbal agar salah satu pihak menyerah. Empat mahasiswa Trisakti yang ditembak mati di halaman kampusnya sendiri oleh aparat. Kejadian ini diharapkan menjadi pemicu bagi perlawanan rakyat yang lebih besar lagi. Dan memang dalam peristiwa yang disebut Wanda Hamidah (Salah seorang aktivis Mahasiswa ’98) sebagai “…the most shocking moment” tersebut membuat bergelora kebencian rakyat terhadap rezim militeristik orde baru. Tetapi tumbal belum berakhir, malah mampu dibelokkan dengan cantik oleh tangan-tangan kekuasaan dan berakibat warga keturunan Tionghoa yang menjadi sasaran amuk massa. Tan Swie Ling, salah seorang pejuang HAM, mengatakan bahwa warga keturunan Tionghoa ibarat sekam yang mudah dibakar. Tidak hanya dibakar tetapi juga dijarah dan diperkosa. Berdasarkan data Komnas HAM tercatat 85 korban perkosaan pada bulan mei berdarah itu dan semuanya warga keturunan Tionghoa. Tumbal menjadi banyak karena pertikaian elit yang ingin berebut kekuasaan. Dan semua tumbal elit adalah rakyat.

Di bulan mei ke-14 ini tidak ada indikasi penuntasan seutuhnya terhadap kejadian tersebut. Laporan Komnas HAM beserta TGPF Tragedi Mei 1998 yang merekomendasikan penyidikan serta penyelidikan berdasarkan fakta-fakta dan bukti-bukti yang ada kini menjadi pajangan bagi perpustakaan yang tak pernah dikunjungi oleh negara. Padahal TGPF dibentuk oleh negara dan bertujuan mengusut tuntas kasus tersebut. Seakan pembentukan TGPF hanyalah upaya meredam kemarahan rakyat untuk sementara.

Para wakil rakyat yang dipilih rakyat pun juga tak berdaya, DPR malah meragu untuk bersepakat tentang ada tidaknya pelanggaran HAM pada peristiwa itu. Hal ini bisa dimaklumi karena DPR yang terpilih sebagian besar masih dijabat oleh orang-orang lama yang juga turut berdosa atas kediktatoran orde baru. Belum lagi ditambah berganti bajunya militer dalam seragam sipil namun dengan paradigma militeristik. Hal ini membuat upaya pengusutan menjadi berjalan di tempat.

Sikap negara pun hanya sebatas janji-janji, belum lama Presiden Jendral SBY mewacanakan meminta maaf atas pelanggaran HAM negara di masa lalu (termasuk kasus 98) tetapi hingga kini pun hal itu tak pernah terjadi. Dan kutegaskan hal itu tak pernah terjadi selama militer masih mendominasi tatanan negara ini.

Dan kini setelah 14 tahun, rakyat jangan sampai melupakan tragedi politik ini. Walau di mata generasi muda yang berusia dibawah 17 tahun peristiwa itu telah lama berlalu, dan ini adalah kesalahan kita sebagai bangsa yang mudah lupa. Lewat serangkaian isu demi isu yang tak pernah habis di negeri ini, negara mencoba membuat generasi terkini menjadi amnesia terhadap sejarah negerinya sendiri.

Bila hal itu terus berlanjut, bisa jadi di masa mendatang kasus ini akan tutup buku dan dicampakkan dalam tong sampah peradaban. Ini tugas mulia bagi generasi yang menjadi saksi hidup untuk terus mendorong penuntasannya.

Pengadilan HAM (walau masih ad hoc) perlu mengadili peristiwa ini berdasar bukti dan fakta yang sudah dihasilkan TGPF dan Komnas HAM, kemudian mengadili siapapun yang bertanggung jawab atas tragedi itu tanpa pandang bulu apakah orang tersebut masih berada dalam lingkaran kekuasaan atau tidak. Semua harus bertanggung jawab atas penuntasan kasus ini. Rakyat harus diingatkan terus menerus tentang kekejian politik yang terjadi.

Karena Indonesia yang demokratis di masa mendatang adalah hasil jerih payah generasi kini agar anak cucu kita memahami bahwa demokrasi sejati adalah supremasi hukum dan dominasi sipil atas militer. Sehingga tak ada lagi kekejian politik yang melahirkan tragedi-tragedi yang memakan anak bangsa di masa mendatang.

SERTIFIKASI SENIMAN DALAM KONSTRUKSI KEBUDAYAAN MILITERISTIK

Wakil Mentri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Kebudayaan Wiendu Nuryati melontarkan gagasan lama mengenai sertifikasi bagi seniman. Tujuannya, “…lebih tepatnya berupa pengakuan kompetensi,” kata sang Wakil Mentri di sela-sela pembukaan Asia Tourism Forum (ATF) 2012 di Gedung Merdeka Bandung, Selasa 8 Mei 2012. Ide ini sebetulnya sudah lama diwacanakan oleh pemerintah sejak 12 tahun silam. Bila dahulu dinamakan sertifikasi dan akreditasi artis (=pelaku seni), maka kini cukup dengan nama sertifikasi. Sang Wamen berdalih bahwa sertifikasi ini adalah pengakuan kompetensi akan kesenimanan si seniman. Dikatakan pula bahwa banyak kasus terjadi dimana eksistensi seniman menjadi bahan pertanyaan.

Sampai di sini tentulah menjadi keharusan perlunya standarisasi bagi seniman itu sendiri sehingga ia layak diakui (oleh Pemerintah) sebagai seniman. Jelaslah disini bahwa Pemerintah menjadi pihak yang mematok standar bagi seniman yang note bene rakyatnya sendiri. Lalu standar macam apa yang akan dilakukan oleh Pemerintah?

Kriteria menjadi hal yang perlu diperdebatkan, karena Pemerintah (dalam hal ini Kemendikbud) sendiri tidak memiliki batasan yang jelas mengenai ini. Syaharani, Penyanyi Jazz Indonesia, mempertanyakan ini 12 tahun yang lalu, “Kriterianya harus jelas. Dasar-dasar penilaian harus jelas pula. Apakah itu menyangkut popularitas, talent, pengalaman, live show, atau sales album, garis merahnya harus jelas.” Bila kriterianya lalu menjadi akademis pun menimbulkan dampak,”..Yang kasihan adalah artis yang baru jalan meski ada bakat, tapi bukan dari sekolahan.” Gugat Syaharani yang dikutip dari Harian Warta Kota edisi Rabu 14 Juni 2000.

Wacana untuk “mengatur” kebudayaan bahwasanya ada sejak republik ini berdiri. Di masa Orde Lama tak terhitung banyak seniman menjadi “tumbal” dari keharusan membangun karakter bangsa. Di era Orde Baru pun tak kalah banyak pelaku seni yang harus bergerak “bawah tanah” agar tetap bertahan dalam identitasnya. Apalagi kini, di masa ketika semua sub-kultur yang dahulu tiarap menjadi tegak berdiri.

Yang ironis di masa kini adalah kebudayaan yang akan dibangun adalah kebudayaan yang bersifat militeristik, ditandai dengan beberapa sifatnya seperti berlangsung dari atas ke bawah (top-down), Pemerintah menjadi satu-satunya pihak yang bertanggung jawab mengatur jalannya kebudayaan. Lalu sifat yang lain adalah monolog, tak ada dialog sama sekali dari pemerintah untuk berkonsultasi dengan pelaku seni budaya yang tumbuh banyak di nusantara. Padahal pengembangan kebudayaan ditopang oleh tiga pilarnya: Negara, Rakyat dan Swasta. Bila negara bersikeras menjadi satu-satunya yang mendominasi pengembangan kebudayaan maka peradaban akan menjadi strategi yang penuh komando,  sesuatu yang khas militerisme.

Padahal sejatinya kebudayaan itu lahir dan tumbuh oleh masyarakat itu sendiri tanpa harus diatur dalam regulasi yang malah menihilkan identitas personal atau komunitas dalam sumbangsihnya bagi peradaban negeri ini. Tentu saja dengan tak menafikan peranan swasta (pasar) dan juga negara.

Konstruksi kebudayaan seperti ini layak untuk dianggap sebagai common bullshit seperti halnya kekerasan ormas atas nama agama, gang motor yang tiba-tiba muncul dan bagai isu lain yang hanya memperkeruh fokus bangsa ini untuk maju ke muka dunia.

Kebudayaan milik rakyat, bukan birokrasi yang militeristik. Karena itu stop wacana sertifikasi seniman sekarang juga atau pecat Wiendu Nuryati malam ini juga.

MEMBACA PEREMPUAN

Membaca judulnya mungkin banyak yang mengira tulisan ini mengenai rahasia membaca karakter perempuan. Tapi saya bukan psikolog atau pun paranormal, tulisan ini pun digagas lewat kehadiran buku-buku kiriman Olin Monteiro pada Jum’at sore ketika aku hendak pergi. Tak sempat kubaca buku itu namun masih mampu meluangkan waktu berterima kasih lewat facebook dan twitter.

Pukul dua malam aku baru tiba di rumah, ku coba membaca buku-buku itu tetapi benakku sedang berkelana hingga fajar. Dan ketika bangun tidur jam dua siang kala kudapati tak ada rencana bepergian malamnya maka kuputuskan untuk membaca buku-buku itu hingga senja terlarut dalam imaji dan berakhir waktu purnama telah tiba di ambang jendela sementara sayup kudengar kisah Marsinah di sebuah tv berita petang itu.

7 PEREMPUAN URBAN: Sebuah catatan.

Ini buku pertama yang kubaca. Buku yang berisi catatan dari tujuh perempuan urban. Catatan-catatan dari sudut pandang yang berbeda mengenai banyak hal. Namun tentu saja dari perspektif perempuan. Kisah tentang perempuan memang akan selalu berbeda bila dilihat dari lokusnya.

Karena problematika perempuan urban tentulah banyak berbeda dengan masalah perempuan desa, walau paradigma keseluruhannya mengenai dominasi patriarki.

Lingkungan urban menelurkan gugatan atas kondisi zaman. Mungkin ada banyak hal yang mengakibatkan itu, seperti tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi yang membuat perempuan urban lebih kritis dalam memandang realitas zaman.

Heni Wiradimaja, pebisnis restoran, berfantasi tentang kota yang nyaman. Lebih tepat mungkin ironi dari kenyataan kota metropolitan yang selama ini menjadi tempatnya tinggal.

Ine Febriyanti, aktris, mepertanyakan pujian atas permainannya di panggung agar dirinya tak terjebak menjadi besar kepala karena misteri panggung kehidupan akan tetap menyala.

Kiki Febriyanti, pekerja film, melalui tiga tulisannya juga menyoroti dominasi patriarki dalam perjalanannya di kereta api, mengenai kenikmatan secangkir kopi dan juga tentang fundamentalisme agama yang mengarah diskriminatif.

Lulu Ratna, pegiat film pendek, bicara tentang transportasi kota, film dan juga diskrimasi gender di halte busway.

Nina Masjhur, fotografer, mengkritisi displin lalu lintas pesepeda motor dan displin kebersihan warga kota serta kemajuan teknologi informasi yang malah menjauhkan yang dekat.

Raisa Kamila, mahasiswi, yang lahir dan besar di Atjeh,  bertutur tentang fantasi perempuan ideal di bawah perspektif laki-laki serta dilematika Pemerintah dalam menjaga tradisi namun membuka gerbang bagi wisatawan luar negeri dengan tradisi baratnya.

Olin Monteiro, penulis dan aktivis perempuan, berbicara mengenai sejarah, baik perjalanan hidupnya maupun perjalanan negara sebagai sebuah bangsa lewat film “Ruma Maida”.

Tujuh perempuan urban mencatat gugatan dalam bahasa yang santun tanpa pretensi meluap. Tujuh perempuan urban dengan tujuh sudut pandang berbeda dalam memandang detail kehidupan dari yang remeh hingga yang berat.

BIRU HITAM MERAH KESUMBA.

Puisi yang menarik adalah puisi yang mampu merangsang imaji. Itu titik tolakku dalam membaca puisi-puisi selama ini. Tak ada pretensi sedikitpun untuk menuliskan berbusa-busa teori sastra karena itu sudah tersedia di dalam tulisan pengantar buku ini.

Tak peduli apakah pembaca memahami dunia si penulis puisi tetapi begitu karya telah dibeberkan kepada publik maka intepretasi pembaca menjadi beragam.

Tadinya kubayangkan Biru Hitam Merah Kesumba melambangkan empat penulisnya; Lulu Ratna, Olin Monteiro, Oppie Andaresta dan Vivian Idris. Namun setelah membacanya maka Biru Hitam Merah Kesumba adalah kumpulan nuansa yang tercipta dari kompilasi puisi dari perempuan yang menyebut diri bukan penyair.

Lulu Ratna,  banyak menuliskan puisi tentang perjalanan tubuhnya juga pergulatan jiwanya. Karena itu banyak nama tempat memenuhi kosakatanya. Cibeo, Cirebon, Brebes, Pekalongan, Blok M dan lain-lain adalah sekian nama tempat yang tertulis dalam puisinya.

Perjalanan memang stimulan ampuh untuk menemukan diri sendiri dan merangkainya dalam puisi.

Hal yang serupa juga tercermin dalam puisi-puisi Olin Monteiro. Perjalananannya sebagai aktivis perempuan di tempat-tempat yang jauh mampu menemukan relasi kuat antara kerinduan dalam dirinya dengan subyek-subyek dan juga lokasi yang dijumpainya.

Oppie Andaresta sedikit berbeda dalam cara penulisan puisinya. Oppie cenderung naratif dalam berpuisi. Rentang tema yang digelarnya juga bermula dari dirinya dan melebar hingga masalah TKI. Gaya narasi ini mungkin dipengaruhi gayanya dalam menuliskan lagu.

Vivian Idris, pekerja film, mampu merubah kata-kata dalam puisinya menjadi imaji yang hidup dalam benakku. Walau sebagian besar bertema personal namun ia pun juga memotret situasi zaman kala perubahan terjadi.

Itulah empat perempuan yang mengklaim diri sebagai bukan penyair. Kupikir itu hanya klaim sepihak, karena buatku mereka adalah penyair.

PEREMPUAN, LANGIT KE TIMUR.

Kutemukan sisi yang berbeda dari Olin Monteiro, penulis buku ini. Banyak puisinya yang singkat dan memuai di otakku. Walau perjalanannya masih melatari sebagian besar puisinya namun tema yang disodorkan jauh lebih beragam.

Mungkin ini adalah kumpulan puisi dalam masa-masa paling produktif dalam hidupnya, karena ia merangkai kata dimanapun dan kapanpun.

Sejujurnya, banyak dari puisinya yang membuatku ingin pergi ke tanah Timor, tempat kelahiran kedua orang tuaku yang tak pernah kudatangi.

MEMBACA PEREMPUAN.

Membaca ketiga buku ini serasa membaca problematika perempuan dalam menatap persoalan di sekitar kita. Dan ini membuatku belajar pula mengenai perspektif perempuan. Menolongku memahami perempuan.

Walau tetap saja tak bisa kurasa ,bahkan dalam imajinasi terliar sekalipun, mengenai pms dan mengandung rahim.

Tetapi sebagai penyeimbang perspektif  yang didominasi sudut pandang lelaki maka buku-buku ini patut dikonsumsi.

05-05-2012

20:30 WiB

TRADISI = ANOMALI

Catatan mini untuk Afrizal Malna, Dewi Noviami dan Nandang Aradea.

anomali

TRADISI

Sebelum melebar kemana-mana maka perlu kutegaskan dari awal bahwa Tradisi yang kumaksud adalah  Teater Tradisi. Dan bicara teater tradisi maka akan banyak dijumpai aneka cara pengolahan dan bentuknya. Sebagaimana barat yang membagi seni tradisinya menjadi dua kelas; Seni yang dicipta serta dipertunjukkan bagi kalangan bangsawan dan seni yang dicipta dan dimainkan oleh rakyat kebanyakan. Begitupun yang terjadi di nusantara ini; Ada seni Keraton dan seni rakyat. Ku fokuskan tema hanya kepada seni teater rakyat karena dari situlah pembahasan soal tradisi ini berpangkal.

Teater rakyat ada banyak jumlahnya di negara ini. Mereka hadir sebagai hasil dari berbagai pendekatan alam pikir tradisi terhadap situasi zamannya dan juga upaya pembaharuan dari luar. Teater rakyat adalah elemen vital bagi kultur lokal untuk mempertahankan eksistensi budaya suatu bangsa.

Pengaruh teater rakyat bagi kultur lokal karena seni teater rakyat merekam tidak hanya alam fisik tetapi juga dunia rohani budaya setempat. Inilah yang menjadikan teater rakyat sebagai pilar budaya lokal.

 

ANOMALI

Bagaimana dengan posisi tradisi di masa kini? Dalam satu kata kutegaskan; Anomali. Ketidakjelasan arti dan fungsi tradisi pada tata kelola kehidupan di zaman sekarang menjadikannya terkadang hanya sebatas asesori tanpa kesatuan holistik dengan alam rohani era kini.  Bangsa sendiripun lebih suka menatap lewat mata kamera bila menyaksikan seni tradisi bak turis di negeri sendiri.

Gejala kontemporer yang melipat ruang waktu dalam saku membuat segalanya terburai deras tanpa filter yang jelas. Situasi tersebut suka membuat mengantuk karena terbayang masa depan yang non-solutif. Inilah zaman pelangi budaya dimana segala yang dahulu tiarap kini menemukan jalan keluarnya untuk sebatas dikenal keberadaannya.

Namun semua berebut ingin menjadi yang terdepan, nilai-nilai lokal berbaur dengan nilai-nilai luar bahkan yang personal. Akar tercerabut dari tanah dan daun-daun kelaparan. Inilah situasi anomali bagi tradisi.

 

 

WARNA

Menemukan akar budaya menjadi begitu sulitnya ditengah kancah “perang” aneka kultur. Tetapi bukan berarti tidak bisa hanya tidak mudah untuk mencari jejak-jejak warisan, kalaupun berhasil menemukan maka persoalan baru timbul yaitu bagaimana membuatnya kembali relevan di masa kini. Menduplikasi bentuk semata hanya membuat teater tradisi seperti cinderamata bagi wisatawan, yang lebih penting untuk dilakukan adalah menemukan spirit teater tradisi itu sendiri. Ketiadaan batas antara pelakon dan penonton adalah substansi teater rakyat. Dengan begitu maka interaksi dimungkinkan terjadi diantara keduanya. Bila situasi tersebut dapat lancar berjalan maka bentuk menjadi tidak penting lagi.

Teater non-logik a la absurd yang tumbuh di era modern pun dapat bersenyawa dengan tradisi dan terbukti banyak aktivis teater seperti Artaud, Grotowski dan lain sebagainya yang mengolah seni teater tradisi dalam cita rasa modernisme.

Begitu pula absurditas ruang waktu a la dunia maya yang membuat segalanya mengawang dapat menjadi landasan bagi tata kelola kehidupan kontemporer. Kemajuan teknologi informasi adalah  dramaturgi bagi teater urban untuk eksis berkarya.

 

WARNI

Apakah ini dapat disebut neo-tradisi atau pasca-modernis menjadi tidak relevan lagi karena hitam putih budaya telah tergantikan prisma warna-warni kultur.

Dan tradisi (bila mengacu kepada otentisitas seperti era modernisme) yang terlanjur menjadi anomali ini adalah landasan untuk mengolah teater rakyat kontemporer.

Mungkin tak ada yang baru dalam tulisan ini namun semoga saja mampu menjadi stimulan bagi mengalirnya wacana-wacana teater masa kini yang masih terdera oleh oposisi-biner a la hitam-putih.

 

1 Mei 2012