Gerakan Hemat Basa-basi Nasional

Presiden Jendral SBY mencanangkan Gerakan Hemat Nasional mulai 1 Juni 2012, intinya adalah gerakan penghematan pemakaian energi minyak bumi yang dilaksanakan secara nasional. Energi yang dimaksud ialah BBM dan listrik dan ditargetkan diikuti seluruh pemerintah pusat serta daerah dan juga masyarakat.

Dalam pidatonya, Presiden Jendral SBY menguraikan lima langkah yang dilakukan secara nasional, yaitu:

  • Pengendalian sistem distribusi di setiap SPBU.
  • Pelarangan BBM bersubsidi untuk kendaraan pemerintah, baik Pusat maupun Daerah, juga untuk BUMN dan BUMD.
  • Pelarangan BBM bersubsidi untuk kendaraan perkebunan dan pertambangan.
  • Konversi BBM ke Bahan Bakar Gas (BBG) untuk transportasi.
  • Penghematan penggunaan listrik dan air di kantor-kantor pemerintah.

Langkah ini ditempuh pemerintah karena lonjakan harga Minyak bumi dunia yang kian meningkat seiring kecemasan pasar akan gejolak di Timur Tengah, perseteruan Iran dan Israel juga krisis yang melanda Eropa sebagai konsumen besar minyak bumi di dunia. Dengan demikian gerakan yang dicanangkan Presiden ini tak akan dikeluarkan bila harga minyak bumi tidak melonjak tinggi.

Terang benderanglah jadinya, bahwa sesungguhnya ini bukanlah Gerakan Hemat energi tetapi gerakan hemat anggaran energi. Pertanyaannya, apakah dengan lima langkah yang diucapkan Presiden akan mampu menghemat anggaran negara untuk pengeluaran energi? Sepertinya tidak demikian adanya, karena bila dirunut dengan logika yang simpel saja maka yang terjadi pembengkakan biaya anggaran negara. Hitungan sederhananya begini, ambil contoh di sebuah kota anggaran untuk BBM selama satu bulan 1000 liter, bila memakai BBM bersubsidi maka akan dicapai anggaran 1000 x 4500 = 4.500.000 per bulan tetapi bila memakai BBM non subsidi yang harganya dua kali lipat maka tinggal gandakan saja anggaran tadi.

Gerakan hemat menjadi kontradiktif bila melihat implementasi di lapangan para PNS yang piawai me mark-up anggaran negara akan semakin rajin memboroskan uang negara dan hebatnya kali ini didukung oleh Presiden Jendral SBY.

Untuk mencegah penyalahgunaan keuangan negara maka mungkin negara perlu memperhatikan beberapa hal yaitu:

  1. Berikan subsidi untuk energi terbarukan. Energi surya yang melimpah, angin yang meluap, panas bumi dan lain sebagainya bila mampu digunakan rakyat dalam memenuhi kebutuhan energi sehari-hari akan meringankan beban energi nasional selain itu ketergantungan terhadap PLN akan semakin minimal.
  2. Hapus institusi ad hoc. Banyaknya lembaga negara non struktural dengan deskripsi tugas yang tumpang tindih dengan lembaga yang sudah ada kian membebani anggaran negara. BNN, satgas-satgas dan lain sebagainya perlu dibubarkan segera karena anggaran mereka tinggi sementara hasil kerjanya tidak jelas.
  3. Turunkan gaji pejabat tinggi negara. Renumerasi atau kenaikan gaji pejabat tinggi negara tidak sepadan dengan kian bertambahnya jumlah uang negara yang dikorupsi. Jelas bahwa kerakusanlah yang menjadi pangkal korupsi dan itu tidak terpecahkan dengan kenaikan gaji pejabat tinggi negara. Karenanya untuk menghemat anggaran negara maka gaji pejabat tinggi negara harus diturunkan.
  4. Subsidi konverter BBG. Bila negara ingin memasyarakatkan BBG pada kendaraan bermotor maka sewajibnya membuat murah konverternya dengan memberi subsidi. Atau seperti kebijakan kompor gas, bagikan saja konverter BBG bagi kendaraan umum dan kendaraan dengan tahun produksi 90 kebawah.

Untuk itu maka sebaiknya pemerintah tidak perlu mengumbar basa-basi tanpa realisasi pasti, karena ini akan menambah energi masyarakat kian bercabang tanpa kendali.

Karena itu mulai besok, canangkan Gerakan Hemat Basa-Basi Nasional.

Iklan

Woooiiii…Lady Gaga gak penting

Polemik konser Lady Gaga akhirnya terselesaikan dengan kemenangan dipihak ormas-ormas yang dimotori FPI dan Polisi dapat bernafas lega.

Problem ini sebenarnya adalah puncak gunung es dari ketakutan kekuasaan yang berlebihan terhadap seni. Dan ini terus berlangsung di setiap rezim yang menguasai republik ini.

Kemenangan teror adalah buah reformasi yang melenceng dan dilencengkan oleh kekuasaan dengan menggunakan tangan-tangan ormas.

Negara tidak takluk, mereka bermain di atas pertentangan yang dibuat ormas-ormas paramiliter. Di saat “perang” akan meletus maka Negara yang menjadi pemenangnya.

Ormas-ormas paramiliter ini ada sejak masa reformasi, di awali dari pembentukan Ratih (Rakyat Terlatih) oleh Jendral Wiranto untuk menandingi kekuatan Gerakan Mahasiswa yang dinilai oleh elit Militer ditunggangi komunis. Dalam perkembangannya, karena Ratih tidak mendapat respon positif dari masyarakat, maka Jendral Sutanto (Mantan Kapolri) membentuk FPI, berdasarkan penuturan Alm.Gus Dur. Dan misinya tetap sama, sebagai tangan kiri elite militer untuk memberangus gerakan pro-demokrasi.

Kembali ke soal Lady Gaga, isu demi isu dilontarkan petinggi FPI dan sekutunya sehingga seolah-olah wacana menjadi pertentangan etika dan estetika.

Moral dipakai sebagai standar estetika, masalahnya adalah tafsir tak bisa disamakan. Karena siapa yang bisa menstandarkan sesuatu itu menimbulkan hasrat birahi.

Bagiku, wacana itu adalah kamuflase dari upaya pemboncengan atas popularitas Lady Gaga, karena sejarah mencatat, Rolling Stone pun pernah dihujat sebagai setan namun kini Rolling Stone tetap berjaya hanya tak ada lagi yang menghujatnya sebagai antek setan, karena zamannya telah memudar. Kini eranya Lady Gaga dan ketenarannya membuahkan parasit-parasit.

Seni adalah objek yang ditakuti oleh kekuasaan.

Seni juga objek dari Kapitalisme.

Dan semua bermuara pada UUD, alias Ujung-Ujungnya Duit.

AYAHKU PULANG….SAKIT PERUT :::kritik teater

Sehabis menyaksikan pentas teater FIESTA di lapangan SMAN 1 Tangerang dalam lakon “Ayahku Pulang” karya Usmar Ismail tadi ada sesuatu yang mengganjal di benak, ini lantaran “adegan” yang dijanjikan sutradaranya, Eb Magor, tidak terealisasi. Bukan, bukan adegan yang tampak di panggung yang membuat pikiranku terganggu tetapi “adegan” diskusi yang tidak terjadilah yang membuatku menuliskan semua hal yang telah menggumpal dan menyumbat otakku malam ini. Bagiku sejatinya pertunjukan teater itu selalu terbagi menjadi dua adegan utama; di atas panggung dan di luar panggung. Karena apapun naskahnya, apapun gaya pemanggungan yang dipilih akan selalu bersentuhan dengan realitas diluar panggung. Inilah yang menjadikan teater tontonan yang me’racuni’ ku sejak lama. Dan karena diskusi tidak terwujud maka inilah kritik dariku.

Ayahku Pulang adalah naskah yang disadur dari “Chuchi Kaoru,Kikuchi Kwan” oleh Usmar Ismail dan pernah di angkat ke layar lebar oleh Usmar Ismail sendiri dengan judul “Dosa Tak Berampun” (1951). Berkisah tentang seorang ayah yang pergi meninggalkan keluarganya karena perempuan lain, sementara Gunarto (anak sulung) harus membanting tulang bersama ibunya untuk menghidupi keluarga. Sepuluh tahun berlalu, di malam menjelang lebaran tiba-tiba sang ayah muncul kembali di hadapan anak perempuannya (Maimun dan Mintarsih) dalam wujud pengemis. Tapi wajah dan suaranya tetaplah dikenali sang ibu yang mempersilakannya masuk ke rumah, tetapi Gunarto berkeras menentang ayah yang dulu menelantarkannya dan menjadikannya budak di pabrik tenun sedari kecil itu untuk hadir ditengah-tengah keluarga. Sang ayah yang malu dan menyesali diri akhirnya kembali pergi dan bunuh diri dengan menenggelamkan diri ke sungai. Tinggallah penyesalan dalam diri Gunarto dan tangisan ibu serta adik-adiknya.

ON STAGE

Di atas panggung dengan set yang realis (garapan Chev Dorry) tampaklah ruang keluarga dengan satu set meja kursi kayu bergaya klasik dengan lukisan minimalis di latarnya, lalu ada ruang makan yang sederhana dengan lukisan kaligrafi di dindingnya serta di pojok kiri depan ada mesin jahit tua beserta baju-baju jahitan yang dijejerkan. Alunan takbir menggema, lampu mulai terang perlahan dan tampaklah seorang ibu duduk sedih di mesin jahit (tanpa benang), tak lama muncul Gunarto menanyakan kesedihan sang ibu. Dari dialog mereka terungkaplah betapa ibu merindukan ayahnya. Dan sikap Gunarto sudah terang dari dialog awal betapa ia membenci ayahnya. Kemudian datanglah si adik, Maimunah, baru pulang kerja, sang adik mengatakan bahwa ia bertemu dengan pengemis yang mirip dengan ayahnya yang hilang, kian berkeraslah sikap Gunarto mendengar omongan adiknya. Ditambah lagi dengan kepulangan Mintarsih dari mengantarkan baju jahitan ibunya kepada pemesan dan mengatakan ia baru saja bertemu dengan pengemis yang ditemui Maimunah di depan rumah, semakin menjadi kebencian Gunarto kepada ayahnya mendengar cerita Mintarsih. Dan akhirnya dalam keadaan sakit (ditandai dengan terbatuk-batuk) hadirlah si ayah yang lantas dikenali ibu lewat suaranya. Tetapi perjumpaan kembali itu membawa luka dalam Gunarto kian meradang, Gunarto mengusir ayah yang sudah meninggalkan keluarganya itu tanpa bisa dicegah oleh ibu dan adik-adiknya. Ayah yang menyesali hidupnya itu akhirnya kembali pergi dan…mati di sungai. Hanya baju dan kopiah saja yang bisa diselamatkan Maimunah. Gunarto pun menyesali tindakannya.

Aku lebih mencermati adegan-adegan mikro yang terjadi, karena adegan yang besar terjalin dari kumpulan adegan-adegan kecil (dan biasanya tak ada dalam naskah). Posisi ibu yang duduk sedih di mesin jahit, mestinya ada benang di mesin jahitnya itu. Kebetulan ibuku sendiri adalah penjahit pakaian dan selalu ada benang di mesin jahit ini menandakan kesiapan sewaktu-waktu ada order jahitan. Lalu Gunarto yang (berkali-kali) meminum dari gelas, tidak terlihat nyata ada air mengalir di tenggorokannya karena walau airnya tak ada itu tak berarti ia melupakan ritme air mengalir di tenggorokan. Posisi tangannya yang selalu di pinggang pun menjadi ‘absurd’ ketika berbincang dengan ibunya, karena sejatinya ia menyayangi ibunya dan dalam realitas panggung ulah tangannya itu menjadi terkesan marah yang dibuat-buat, mungkin akan lain masalahnya bila aksi tangan itu dihadapkan ke ayahnya. Maimunah pun serasa tak pulang ke rumahnya, ia menjadi tak senyawa dengan perabotan yang ada di rumahnya, hal itu pun juga terjadi di semua pemain. Keasingan ini mungkinterasa alamiah bagi ayah, tetapi menjadi janggal bila dilakukan Ibu, Gunarto, Maimunah dan Mintarsih. Sedangkan adegan mikro ayah yang mengganggu adalah batuknya, batuk yang bukan terjadi karena sakit tetapi batuk yang dipaksakan kehadirannya. Selain itu dingin sekali ayahnya ketika merangkul Maimunah dan Mintarsih, seolah ia bukan ayahnya.

Vokal para pemain dibantu dengan clip-on, dan ini masalah baru yang muncul, karena berkali-kali pemain tidak sadar bahwa ada mikropon di tubuhnya sehingga ketika seorang pemain menepuk dada maka bunyinya menjadi nyaring di telinga. Dengan bercanda seusai pementasan kukatakan pada Dorry, mungkin perlu ada tambahan kurikulum teater di sekolah yaitu pengenalan vokal dengan bantuan clip-on. Ini mungkin solusi di tengah area pementasan yang luas agar suara pemain tidak tenggelam dalam ruang, tetapi sebaiknya perlu adaptasi lebih dengannya.

Penjiwaan juga menjadi masalah besar yang dialami anak-anak SMA N 1 Tangerang ini, tetapi itu hanya masalah waktu. Lambat laun dengan makin intensnya mereka berlatih (apalagi sutradaranya sudah berteater sejak aku masih balita).

Fokus dari anak-anak usia sekolah memang menjadi hal yang rentan karena konsentrasi anak-anak sekarang tak lebih dari 5 menit (asumsiku karena anak-anak sekarang adalah generasi sosial media yang berorientasi cepat dan singkat). Dan saya salut dengan pentas ini dengan durasi 40 menit mereka mengalirkan cerita sampai tuntas.

OFF STAGE.

Di luar pentas tadi terasa benang merah antara cerita dengan realita seniman dalam relasinya dengan “ayah” (dalam hal ini bisa Negara dan atau Pasar). Karena (seperti yang pernah kulontarkan dalam sebuah diskusi teater 9 tahun lalu di TIM) para seniman biasanya hanya dikunjungi “ayah” bila ada maunya, seperti menjelang pilkada atau pemilu, selepas itu maka kembalilah “anak-anak” menjadi gelandangan yang harus tetap gagah walau yatim piatu.

Relasi yang timbul selalu tidak dalam simbiosis mutualisme, tetapi memanipulasi. Sesudah “orang tua” mendapat singgasananya maka si anak kembali dicurigai. Memang benar, bahwa seni itu cenderung subversif. Seni hadir dalam kehidupan untuk “mengganggu” keyakinan masyarakat agar peradaban terus bergerak dinamis, tidak mati dalam sangkar emas. Namun seyogyanya Negara atau Pasar wajib mendukung seni agar tetap hadir dan berkembang karena tanpa seni maka hidup menjadi gersang.

Benang merah antara naskah dan realita inilah yang menjadi bahan pemikiranku dan memotivasiku untuk menuliskannya. Semoga saja ayah benar-benar pulang dan hadir untuk keluarganya, tidak hanya memanipulasi bakat anak dan bila dimintai sesuatu oleh anak lantas berdalih,”Jangan ganggu Ayah, ayah sedang sakit perut…”

20 Mei 2012

01:43 WiB