JACKIE CHAN NYARIS MENJADI TUHAN MALAM INI

Ia ada dimana-mana. Kumulai ketika menyusuri lorong panjang bersama sang juru mudi menjemput angkasa malam. Rintik hujan meremas kepala. Kusut mulai menular ke jalan tanah penuh kubangan. Langit kian kelam.  Namun di atap beton,  Jackie Chan berjumpalitan mengejar dan menghadapi  sekawanan perampok bertopeng. Dinding serupa lantai pualam. Tegak lurus dengan angkasa. Miring kepala menatap mereka. Pertempuran serupa letusan kembang api. Meledak dan melayang di udara. Yang kalah berhamburan tak tentu arah. Jackie Chan menjadi jawaranya. Tak jauh dari atraksi itu, di sesak himpitan gudang-gudang barang konsumsi. Berdiri dengan gagahnya rumah berpetak-petak membentuk kotak-kotak. Oksigen berebut udara  dengan toksik. Dan kotak kecil menyala, menyiarkan epik Jackie Chan. Entah bagaimana narasinya, karena kujumpai sepotong bayangnya saja yang lekas berlalu. Tetapi, seperti yang sudah seharusnya terjadi, Jackie Chan pastilah sang juara. Itu sudah absolut dalam layar cerita. Air hujan memijat kepalaku yang basah. Mengalirkan airnya ke seluruh indera. Tubuhku mengapung. Ini waktunya rehat. Keponakanku datang membawa kisah pengantar tidur, entah judulnya apa, tetapi Jackie Chan menjadi pelaku utamanya. Wah, ini keterlaluan. Disaat aku ingin merebahkan diri, ia mengintervensi ruang privasiku. Namun, takdir mungkin sudah tersurat dan aku tak pernah membacanya. Jackie Chan ada dimana-mana malam ini. Ia serupa Tuhan…. Tetapi nyaris saja…. Kulihat ia terjatuh dan berbaring di ranjang rumah sakit. Ia merasakan pedih dan luka, ia menjadi manusia….kembali. Aah hampir saja aku mempercayai Jackie Chan itu Tuhan. Nyaris.

30 Desember 2011

04:04 WiB

Iklan

TEATER DAN DEMOKRATISASI

Bertempat di pelataran parkir sebuah ruko di pinggir jalan kecil, sekelompok orang yang tergabung dalam Forum Experimëntal Teater [FEëT] mengadakan pementasan teater berjudul “HITLER FOR PRESIDENT” pada tanggal cantik 11-11-11 lalu. Pentas sederhana ditemani purnama ini berlangsung dalam suasana minimalis, disaksikan para seniman teater juga publik yang tahu dan juga yang tidak tahu tentang seni teater.

Pementasan perdana ini menjadi sebuah tontonan dan mampu menyedot perhatian banyak orang yang lalu lalang di jalan tepian kali Sipon itu.  Terlihat banyaknya kendaraan bermotor yang menghentikan kendaraannya dan menyimak jalannya pementasan. Jalan kecil itu mendadak macet sepanjang durasi pentas. Ini menjadi indikasi betapa masyarakat membutuhkan tontonan berbeda dan menghibur pula. Itu pula yang menjadikan pentas ini menjadi penting untuk disaksikan masyarakat sebanyak mungkin. Pertautan dua unsur ini (publik dan teater) menemui jalannya pada malam itu.

Hal serupa juga terjadi pada pementasan “HITLER FOR PRESIDENT” di perkampungan nelayan Tanjung Pasir, Kabupaten Tangerang pada minggu 4 Desember 2011. Panggung yang didirikan di tepi jalan menuju Tempat Pelelangan Ikan tersebut mampu menarik massa yang lalu lalang untuk berhenti dan menyimak jalannya pertunjukan. Puluhan ibu-ibu yang tinggal di sekitar panggung tampak asyik menonton dari deretan warung-warung yang ada. Anak-anak malah lebih antusias lagi, mereka menyemut di depan panggung dan bahkan ikut bernyanyi lagu Indonesia Raya di atas panggung. Seakan panggung tidak hanya otonomi pengisi acara semata tetapi juga penonton pun ikut memilikinya.

Dalam pentas di ruang yang lain, Keluarga AnakLangit pada Sabtu 17 Desember 2011, HITLER FOR PRESIDENT tampil lugas dan penuh luapan sebagaimana Hitler dalam sejarah. Disaksikan anak-anak jalanan dan juga kawan-kawan dari beragam komunitas, meluncurlah hal-hal yang menjadi keseharian para penonton dengan problematika aktualnya. Ini dilakukan agar petautan erat antara publik dan teater tetap menemui koneksinya.

Hitler on Klangit

Hitler on Klangit

Namun selain sebagai tontonan, teater juga dapat berperan dalam banyak hal. Seperti lakon dengan judul politis ini “HITLER FOR PRESIDENT” tentu memiliki tendensi berbau politis dalam mengkomunikasikan gagasan-gagasan teaternya pada publik. Namun kecenderungan politis seperti apa yang dimiliki naskah ini? Tentu saja bukanlah tendensi politis untuk berkuasa karena FEëT bukanlah parpol, tetapi lebih kepada penyadaran demokratisasi bagi masyarakat.

Hal tersebut diungkapkan oleh sutradara merangkap aktor pada pentas tersebut, Boy Mihaballo. Teater sebagaimana seni lainnya memiliki pengaruh yang besar bagi masyarakat karena sifatnya yang komunikatif. Dan dampak positif tersebut bisa dimanfaatkan untuk tujuan demokratisasi. Demokratisasi adalah upaya penyadaran akan hak-hak demokrasi publik. Dan hak-hak demokratik rakyat yang terutama adalah memahami bahwa suara rakyat adalah suara kedaulatan tertinggi dalam sebuah negara demokrasi. Agar suara rakyat dapat diimplementasikan dalam bentuk kebijakan yang pro rakyat tentu saja suara rakyat tersebut harus berada dalam pola pikir rasional. Hanya dengan rasionalitas saja maka suara rakyat dapat dipertahankan ketika berhadapan dengan kebijakan pemimpin yang irasional, karena tidak pro-rakyat.

Rasionalitas yang diharapkan ini tercermin dalam pentas yang memunculkan seorang Hitler, pemimpin rasis Jerman pada Perang Dunia II, berkampanye demi pencalonannya sebagai presiden Republik Indonesia 2014. Jejak dan dosa yang menemani riwayatnya dilupakan begitu saja dan ia mengharap rakyat dapat terbuai dalam janji-janji politiknya yang rasional dan manis tersebut. Bila seorang “penjahat politik” berjanji dengan begitu masuk akal apakah anda tetap akan memilihnya?

Disini yang diuji adalah akal sehat dari publik yang tak terdistorsi oleh politik uang, fanatisme ideologi/dogma/suku dan apatisme. Sesuatu yang ideal dalam tatanan kenegaraan. Tetapi bukanlah suatu ilusi pula untuk diwujudkan. Hanya masalah konsistensi dan stamina semata. Karena demokrasi adalah sebuah proses yang harus terus dijalani.

Ujian bagi nalar publik bisa dimunculkan dalam bentuk simulasi dan diskusi dan kedua hal tersebut telah terangkum dalam pentas berdurasi sekitar 30 menit tersebut.

Timbul pertanyaan; kenapa Hitler? Sosok Hitler adalah personifikasi dari kekuasaan yang cenderung rakus. Dan, ini yang terpenting, visualnya unik. Tak ada dalam sejarah sosok penguasa yang lebih unik dari Hitler. Kumisnya yang hanya sepotong di tengah menjadikannya figur yang karikatural.

Lakon bergaya realis ini memang memiliki potensi untuk menarik publik tersedot ke dalam setiap bagiannya. Bahkan lebih dari itu dengan menyimak begitu banyaknya unsur sejarah, antropologi, linguistik, politik dan lain sebagainya dapat tercermin dalam pentas tersebut. Pentas ini tidak semata global dalam pemilihan tokoh sentralnya  tetapi dimanifestasikan dalam muatan lokal.

Dengan kian banyaknya ruang dan waktu yang disediakan untuk “Hitler” (walau untuk itu harus menumpang pada cara-acara kawan) maka akan semakin tersebarlah demokratisasi bagi masyarakat. Lakon yang komunikatif ini menjadi menarik karena gaya orator tokoh yang mampu memikat massa seperti layaknya Soekarno di era Perang Revolusi ’45.

Namun sekomunikatif apapun pertunjukan ini adalah sebuah eksplorasi kecil dari perjalanan panjang Forum Experimëntal Teater yang kerap ‘membingungkan’ publik dengan pilihan bahasa tubuh/simbol selama ini.  Sebagai bagian dari proses yang terus berlangsung maka pilihan gaya komunikasi kali ini memiliki relevansi dengan tema dan publik yang dituju.

Ya semoga saja di era transparansi sekarang ini maka menjadi peluang yang baik bagi terciptanya proses demokratisasi di tengah masyarakat, sehingga publik pun tak harus bersikap reaksioner bila melihat “Hitler-Hitler” masa kini berkoar-koar di depan mata.