911 (Kesaksian seekor anjing bernama Bush)

Entah bagaimana memulainya, padahal hari itu diawali dengan cerah mentari seperti biasanya. Tak ada hujan, atau pun kilasan awan tebal melintas di langit. Pagi itu Sam, Tuanku, bangun dengan kesejukan dan memulai aktivitas rutin seperti biasanya. Jam 8 pagi itu ia pun meninggalkanku sendiri untuk berangkat ke kantor.

Aku sudah hafal rutinitas Sam karena sudah delapan tahun aku bersamanya. Sedari bayi aku diasuhnya, dan ia juga yang memberiku makanan serta semua yang kubutuhkan. Aku membalas kasih sayangnya dengan menunggui rumahnya hingga ia pulang kerja dan bercengkerama denganku hingga kantuk melanda.

Sebagai peliharaannya, aku melaksanakan tugasku dengan sebaik-baiknya. Tak akan kubiarkan Tuanku Sam sekejap pun merasa tak aman. Dengan gonggongan yang keras serta runcingnya taring akan kuhadapi lebih dahulu siapapun yang berniat mencelakakan Tuanku.

Tetapi pagi itu semua berubah drastis. Aku tak tahu mengapa.

911

Satu jam setelah berangkat, Sam kembali dengan wajah yang cemas. Aku pun menjadi cemas pula karenanya. Ekorku mengibas-ngibas tak tentu arah. Kurasakan sesuatu yang tak kumengerti namun terasa mencengkeram kedamaian pagi itu.

Sam pulang dan langsung menyalakan tv. Ia melihat berita yang kupikir tadinya sebuah film cerita. Dua buah kapal terbang menghantam sebuah gedung pencakar langit. Aku sungguh tak mengerti ada apa. Yang kutahu Tuanku Sam begitu khawatir melihat tayangan itu.

Kecemasanku semakin bertambah ketika kudengar bel pintu berbunyi. Sam segera melihat dari lubang pintu dan seketika semakin was-was lah ia. Aku pun menyalak sekerasnya. Ini reaksi spontanitasku melihat perubahan air muka Tuanku.

Sam segera ke kamarnya dan keluar dengan sepucuk pistol di genggamannya. Lalu ia menelpon.

Sam : Operator ini darurat…

911 : Maaf, semua operator kami sedang sibuk. Silakan menghubungi sebentar lagi.

Sam : Gila…ini Darurat !… Operator…

911 : klek…ngggggg

Telpon terputus, Tuanku menghubungi kembali.

911 : Maaf, semua operator kami sedang sibuk. Silakan menghubungi sebentar lagi.

Sam : Ada seorang Arab di pintu rumahku saat ini, apakah aku harus menembaknya??

911 : klek… nggggg..

Sam : Heiiii…. jangan tutup teleponku….

Sam semakin kesal dan ia membanting gagang telepon itu sambil mengumpat, aku pun kian keras menyalak ke arah pintu yang kuyakini ada ancaman di baliknya.

Tuanku kian gelisah, ia mondar-mandir tak mempedulikan bunyi bel pintu yang terus saja berbunyi. Aku juga ikut gelisah sambil terus menyalak.

Semenit kemudian, Tuanku pun segera ke arah pintu. Membukanya dan tak berpikir lama untuk menembakkan pistol di tangannya ke arah orang yang berdiri di depan pintu.

Dor…Dor…Dor….

Tiga peluru melayang dan seketika melayang pula nyawa dari orang yang berdiri di depan pintu itu. Dalam sekejap ia pun roboh di banjiri darah yang deras berlompatan ke mana-mana.

Orang itu mati. Tuan ku bingung. Aku terus menggonggong.

 

September 2011

Iklan