Singing “Julia”

Julia is one of the great of The Beatles’s love song.

Can you disagree with me?

🙂

o

Iklan

9 HAL MENGENAI 99 CAHAYA DI LANGIT EROPA.

Pertama kali membaca buku berjudul “99 Cahaya di Langit Eropa” karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra pada hari Senin, 22 Agustus 2011 tepat pukul 21:40 WiB di atas Kopaja yang sepi dan mengantarku menyusuri jalan Wolter Monginsidi yang masih lumayan ramai. Tulisan B.J. Habibie cukup meyakinkanku bahwa buku setebal 412 halaman ini adalah sebuah novel yang dapat menjadi kawan seperjalanan menyegarkan, mengingat rute panjang yang harus kutempuh dengan empat kali berganti kendaraan umum.

99 Cahaya di Langit Eropa

99 Cahaya di Langit Eropa

Dan memang kuakui, buku ini jauh lebih menarik ketimbang memandangi jalan berasap yang riuh dengan bunyi klakson aneka mobil yang tak sabar menanti kendaraan umum yang kerap berhenti menaik-turunkan penumpang semaunya itu untuk melaju segera.
Ditengah hiruk pikuk itu buku ini menawarkan kenyamanan yang rasanya melebihi duduk di kendaraan mewah yang berada di belakang Kopaja yang kutumpangi.
Selain B.J. Habibie, tercatat Azyumardi Azra dan Najwa Shihab juga menulis bahwa buku ini adalah novel. Kian bersemangatlah diriku untuk mengunyah setiap kalimat yang tersedia di buku ini.
Prolog kulahap tuntas ketika Kopajaku mendekati terminal Blok M dan akupun berhenti membaca sejenak untuk berganti Metromini jurusan Ciledug, beruntung kudapati Metromini yang belum penuh karena bangku terbaik untuk membaca buku di baris terdepan di sisi kiri pak supir masih kosong dan menanti untuk kududuki.
Saat mobil berjalan pada jam 21:55 kulanjutkan perjalananku menyusuri Overture, bagian pembuka yang menghangatkan malamku. “Ini novel sejarah, sepertinya”, bathinku mereka-reka arah perjalananku melalui buku itu.
Aku sampai di Wina dan kudapati ruang dan waktu melesat ke tahun 2008, tokoh-tokoh utamanya senama dengan penulis buku itu: Hanum dan Rangga. Tidak hanya nama tetapi juga karakternya. Mereka adalah suami-istri asal Indonesia yang bekerja di Austria.
Aku mengetahui kesamaan nama dan karakter itu dari kebiasaanku mengunyah dahulu cemilan buku yang biasanya berada di halaman-halaman awal atau akhir itu. Yang kumaksud dengan cemilan buku di sini adalah biodata penulis, lampiran, kata pengantar, indeks pustaka dan lainnya yang melengkapi muatan buku.
Okelah untuk soal kesamaan nama dan atau karakter tak menjadi janggal bagiku karena akupun pernah melakukannya dalam beberapa cerita pendek serta naskah teater. Dalam film pun juga tak asing lagi untuk hal itu, “Being John Malkovich” yang dibintangi John Malkovich, adalah salah satu contohnya.
Wina sudah kutinggalkan dan kini buku yang berada dalam genggamanku mengajak menjelajahi Paris. Sampai di Paris sebenarnya aku mengharap lanjutan kisah pertempuran dalam Overture dapat kutemui, namun kiranya kisah itu telah terbingkai membeku di museum Wina. Dan tak terasa Metromini yang kunaiki meminta semua penumpangnya untuk turun dan menaiki angkot sebagai gantinya, dan karena aku paling akhir turun maka sebagai ganjarannya aku mendapat posisi duduk tepat di pintu. Tak menjadi soal karena aku sudah tiba di Paris.
Dan karena angkot berikutnya yang kunaiki juga sesak maka aku memperpanjang masa jeda membaca dan kembali ke Indonesia dimana kujumpai buruh-buruh yang baru pulang kerja berbaur dengan ibu-ibu penjual sayur yang pergi ke pasar pada jam 22:50 malam itu.
Turun di Situ Cipondoh, bertemulah aku dengan teman yang menawari tumpangan pulang, akhirnya sesampainya di rumah bukannya meneruskan membaca aku malah langsung tidur tanpa sehelai mimpi pun menemani.
Esoknya setelah menyelesaikan rutinitas harian kulanjutkan kembali pembacaan yang tertunda di ruang ternyaman di rumahku: kamar.
Jam 16:20 WiB tuntaslah sudah aku membaca dan menetaskan catatan kecil ini.
Catatan yang ditelurkan dari ekspektasi wajar seorang pembaca yang tergiur oleh rayuan cemilan buku ini.
Ada 9 telur yang menetas di benakku:
1. Ini bukan Novel !
Sejujurnya aku merasa “tertipu” oleh komentar dari Prof.B.J. Habibie, Prof. Azyumardi Azra dan Najwa Shihab. Ketiga orang ini telah merayuku dengan menulis bahwa buku ini adalah Novel. Terlepas dari penambahan kata perjalanan seperti yang ditulis Habibie, atau kata sejarah oleh Azyumardi, atau malah menambahkan kata perjalanan serta sejarah seperti yang dideskripsikan Najwa Shihab. Penambahan kata tersebut tidak lantas membuat buku ini terlegitimasi menjadi sebuah novel.
Novel adalah karya sastra. Novel ditandai sebagai prosa dengan narasi panjang mengenai karakter fiksi dalam sebagian atau malah keseluruhan hidupnya. Novel muncul sejak abad 16 dan dimasa pasca-modern sekarang dimana fiksi dan realita dibaurkan dan membentuk hiperrealita maka memoar dan otobiografi pun kadang digolongkan sebagai novel.
Yang membingungkan, Penerbit buku ini: Gramedia Pustaka Utama mengklasifikasikan buku ini sebagai NONFIKSI/NOVEL ISLAMI (pada sampul belakang).
Tadinya lewat Overture membumbung harapan akan kutemui karya fiksi sebagaimana layaknya sebuah novel. Tapi yang tersaji kemudian lebih tepat disebut sebagai
2. Catatan Perjalanan.
Penulis buku ini sudah tepat menulis bahwa buku ini “… adalah catatan perjalanan atas sebuah pencarian.” namun entah kenapa penerbit “meloloskan” salah kaprah akan pelabelan novel oleh penerbit juga oleh tiga tokoh lainnya.
Strategi promosikah? Mungkin. Yang jelas ketiga tokoh yang menyatakan bahwa ini novel tidak memiliki kompetensi memadai untuk mengkategorisasikan karya sastra.
Sebagai sebuah catatan perjalanan, buku ini memuat kelebihan penulisnya yaitu
3. Lincah menarasikan pengalaman nyata.
Hal tersebut mutlak dimiliki oleh penulis catatan perjalanan, karena adalah sebuah kewajaran bila seorang pelancong terkesan akan tempat yang baru dikunjunginya dan ekspresi kekaguman atau mungkin kekecewaannya akan terungkap dalam tulisannya.
Catatan perjalanan adalah risalah impresif dari pelakunya.
4. Miskin Imajinasi.
Hanum dan Rangga mengalami kesulitan untuk melebarkan daya imajinasi dalam beberapa bagian tulisan di buku ini.
Wajar jadinya karena mereka tidak hendak menulis novel, tetapi terasa tanggung seperti pada bagian Overture atau pada halaman 333 kala Hanum mencoba mengimajinasikan dirinya sebagai orang Romawi 1600 tahun lalu yang “tinggal dalam gubuk-gubuk jerami dan hidup sehari serasa setahun karena tiada yang dikerjakan.” Terasa sekali minimnya daya imajinasi pada kutipan tadi karena tak membawaku ke luasnya daya pikir tetapi memenjarakan ku dalam batasan: tak ada apa-apa di zaman dahulu.
Tetapi, sekali lagi, ini bukan novel.
5. Miskin detail.
Sebagai sebuah catatan perjalanan tentunya pembaca mengharapkan penulis laksana penyiar radio melaporkan pertandingan sepakbola yang dengan mulutnya mampu memberi gambaran rinci tentang segala hal yang terjadi selama pertandingan berlangsung.
Kukutip dari halaman 64 kala Hanum menggambarkan Istana Schoenbrunn,”Arsitektur Schoenbrunn tak hanya megah dan indah, tetapi juga menampakkan bangunan fisik yang sombong luar biasa.” Aku tak mendapat rincian memadai atas kutipan paragraf tadi pada alinea berikutnya.
Masih banyak bertebaran dalam buku ini detail-detail yang minim.
6. Kaya impresi.
Bertaut dengan contoh kutipan di atas yang tak merinci, kutipan tersebut justru memperlihatkan kelebihan Hanum yang luar biasa dalam menuliskan kesan.
Tidak hanya terhadap tempat tetapi juga tentang iklim dan juga karakter orang-orang yang ditemui sepanjang perjalanannya.
Namun khusus mengenai orang, Hanum terjebak pada tipikalisasi. Apakah Gomez atau Sergio dapat mewakili keseluruhan rakyat Spanyol? Atau apakah orang-orang miskin seperti supir bus/angkot, pedagang asongan dan pengangguran adalah faktor utama penyebab kebangkrutan restoran a la Der Wiener Deewan bila ada di Jakarta? (halaman 56).
7. Polos dan jujur.
Kuakui bahwa Hanum pribadi yang polos juga jujur. Hal itu terbaca secara eksplisit serta implisit lewat tulisannya, apalagi bila itu menyangkut kesannya terhadap orang-orang yang ditemuinya.
Hanum kerap membiarkan prasangkanya muncul lebih dahulu, walau kadang ia pun tersadar akan hal itu pada bab berikutnya.
Tapi inilah yang patut dibanggakan dari seorang Hanum. Pasti setiap tulisan dalam buku ini telah melewati proses seleksi dan supervisi tetapi ia memilih untuk tetap menampilkannya tanpa pretensi ingin terlihat bijak, misalnya.
8. Menguatkan iman.
Mendadak aku teringat sepotong kalimat bijak dalam buku Hazrat Inayat Khan,”Semoga keyakinanmu semakin kuat.” Tak dimungkiri bahwa spirit itulah yang memotivasi Hanum dan Rangga menulis sebagaimana iman mereka yang kian menguat justru ketika berada di negeri tempat para muslim menjadi minoritas.
9. Layak untuk hadiah Idul Fitri.
Karena itu buku ini kurekomendasikan sebagai hadiah yang berguna untuk keluarga, kerabat atau sahabat pada hari raya Idul Fitri.

Malam kian legam kala kutulis catatan ini. Kuyakin argumen yang kutulis ini jauh dari sempurna, karena perspektif yang bertolak belakang dengan sudut pandangku akan menyempurnakan segalanya.
Kuharap itu menetas dari kepalamu.

Semoga keyakinanmu semakin kuat.”

Tangerang, 24 Agustus 2011
Jam 23:32 WiB