9 HAL MENGENAI 99 CAHAYA DI LANGIT EROPA.

Pertama kali membaca buku berjudul “99 Cahaya di Langit Eropa” karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra pada hari Senin, 22 Agustus 2011 tepat pukul 21:40 WiB di atas Kopaja yang sepi dan mengantarku menyusuri jalan Wolter Monginsidi yang masih lumayan ramai. Tulisan B.J. Habibie cukup meyakinkanku bahwa buku setebal 412 halaman ini adalah sebuah novel yang dapat menjadi kawan seperjalanan menyegarkan, mengingat rute panjang yang harus kutempuh dengan empat kali berganti kendaraan umum.

99 Cahaya di Langit Eropa

99 Cahaya di Langit Eropa

Dan memang kuakui, buku ini jauh lebih menarik ketimbang memandangi jalan berasap yang riuh dengan bunyi klakson aneka mobil yang tak sabar menanti kendaraan umum yang kerap berhenti menaik-turunkan penumpang semaunya itu untuk melaju segera.
Ditengah hiruk pikuk itu buku ini menawarkan kenyamanan yang rasanya melebihi duduk di kendaraan mewah yang berada di belakang Kopaja yang kutumpangi.
Selain B.J. Habibie, tercatat Azyumardi Azra dan Najwa Shihab juga menulis bahwa buku ini adalah novel. Kian bersemangatlah diriku untuk mengunyah setiap kalimat yang tersedia di buku ini.
Prolog kulahap tuntas ketika Kopajaku mendekati terminal Blok M dan akupun berhenti membaca sejenak untuk berganti Metromini jurusan Ciledug, beruntung kudapati Metromini yang belum penuh karena bangku terbaik untuk membaca buku di baris terdepan di sisi kiri pak supir masih kosong dan menanti untuk kududuki.
Saat mobil berjalan pada jam 21:55 kulanjutkan perjalananku menyusuri Overture, bagian pembuka yang menghangatkan malamku. “Ini novel sejarah, sepertinya”, bathinku mereka-reka arah perjalananku melalui buku itu.
Aku sampai di Wina dan kudapati ruang dan waktu melesat ke tahun 2008, tokoh-tokoh utamanya senama dengan penulis buku itu: Hanum dan Rangga. Tidak hanya nama tetapi juga karakternya. Mereka adalah suami-istri asal Indonesia yang bekerja di Austria.
Aku mengetahui kesamaan nama dan karakter itu dari kebiasaanku mengunyah dahulu cemilan buku yang biasanya berada di halaman-halaman awal atau akhir itu. Yang kumaksud dengan cemilan buku di sini adalah biodata penulis, lampiran, kata pengantar, indeks pustaka dan lainnya yang melengkapi muatan buku.
Okelah untuk soal kesamaan nama dan atau karakter tak menjadi janggal bagiku karena akupun pernah melakukannya dalam beberapa cerita pendek serta naskah teater. Dalam film pun juga tak asing lagi untuk hal itu, “Being John Malkovich” yang dibintangi John Malkovich, adalah salah satu contohnya.
Wina sudah kutinggalkan dan kini buku yang berada dalam genggamanku mengajak menjelajahi Paris. Sampai di Paris sebenarnya aku mengharap lanjutan kisah pertempuran dalam Overture dapat kutemui, namun kiranya kisah itu telah terbingkai membeku di museum Wina. Dan tak terasa Metromini yang kunaiki meminta semua penumpangnya untuk turun dan menaiki angkot sebagai gantinya, dan karena aku paling akhir turun maka sebagai ganjarannya aku mendapat posisi duduk tepat di pintu. Tak menjadi soal karena aku sudah tiba di Paris.
Dan karena angkot berikutnya yang kunaiki juga sesak maka aku memperpanjang masa jeda membaca dan kembali ke Indonesia dimana kujumpai buruh-buruh yang baru pulang kerja berbaur dengan ibu-ibu penjual sayur yang pergi ke pasar pada jam 22:50 malam itu.
Turun di Situ Cipondoh, bertemulah aku dengan teman yang menawari tumpangan pulang, akhirnya sesampainya di rumah bukannya meneruskan membaca aku malah langsung tidur tanpa sehelai mimpi pun menemani.
Esoknya setelah menyelesaikan rutinitas harian kulanjutkan kembali pembacaan yang tertunda di ruang ternyaman di rumahku: kamar.
Jam 16:20 WiB tuntaslah sudah aku membaca dan menetaskan catatan kecil ini.
Catatan yang ditelurkan dari ekspektasi wajar seorang pembaca yang tergiur oleh rayuan cemilan buku ini.
Ada 9 telur yang menetas di benakku:
1. Ini bukan Novel !
Sejujurnya aku merasa “tertipu” oleh komentar dari Prof.B.J. Habibie, Prof. Azyumardi Azra dan Najwa Shihab. Ketiga orang ini telah merayuku dengan menulis bahwa buku ini adalah Novel. Terlepas dari penambahan kata perjalanan seperti yang ditulis Habibie, atau kata sejarah oleh Azyumardi, atau malah menambahkan kata perjalanan serta sejarah seperti yang dideskripsikan Najwa Shihab. Penambahan kata tersebut tidak lantas membuat buku ini terlegitimasi menjadi sebuah novel.
Novel adalah karya sastra. Novel ditandai sebagai prosa dengan narasi panjang mengenai karakter fiksi dalam sebagian atau malah keseluruhan hidupnya. Novel muncul sejak abad 16 dan dimasa pasca-modern sekarang dimana fiksi dan realita dibaurkan dan membentuk hiperrealita maka memoar dan otobiografi pun kadang digolongkan sebagai novel.
Yang membingungkan, Penerbit buku ini: Gramedia Pustaka Utama mengklasifikasikan buku ini sebagai NONFIKSI/NOVEL ISLAMI (pada sampul belakang).
Tadinya lewat Overture membumbung harapan akan kutemui karya fiksi sebagaimana layaknya sebuah novel. Tapi yang tersaji kemudian lebih tepat disebut sebagai
2. Catatan Perjalanan.
Penulis buku ini sudah tepat menulis bahwa buku ini “… adalah catatan perjalanan atas sebuah pencarian.” namun entah kenapa penerbit “meloloskan” salah kaprah akan pelabelan novel oleh penerbit juga oleh tiga tokoh lainnya.
Strategi promosikah? Mungkin. Yang jelas ketiga tokoh yang menyatakan bahwa ini novel tidak memiliki kompetensi memadai untuk mengkategorisasikan karya sastra.
Sebagai sebuah catatan perjalanan, buku ini memuat kelebihan penulisnya yaitu
3. Lincah menarasikan pengalaman nyata.
Hal tersebut mutlak dimiliki oleh penulis catatan perjalanan, karena adalah sebuah kewajaran bila seorang pelancong terkesan akan tempat yang baru dikunjunginya dan ekspresi kekaguman atau mungkin kekecewaannya akan terungkap dalam tulisannya.
Catatan perjalanan adalah risalah impresif dari pelakunya.
4. Miskin Imajinasi.
Hanum dan Rangga mengalami kesulitan untuk melebarkan daya imajinasi dalam beberapa bagian tulisan di buku ini.
Wajar jadinya karena mereka tidak hendak menulis novel, tetapi terasa tanggung seperti pada bagian Overture atau pada halaman 333 kala Hanum mencoba mengimajinasikan dirinya sebagai orang Romawi 1600 tahun lalu yang “tinggal dalam gubuk-gubuk jerami dan hidup sehari serasa setahun karena tiada yang dikerjakan.” Terasa sekali minimnya daya imajinasi pada kutipan tadi karena tak membawaku ke luasnya daya pikir tetapi memenjarakan ku dalam batasan: tak ada apa-apa di zaman dahulu.
Tetapi, sekali lagi, ini bukan novel.
5. Miskin detail.
Sebagai sebuah catatan perjalanan tentunya pembaca mengharapkan penulis laksana penyiar radio melaporkan pertandingan sepakbola yang dengan mulutnya mampu memberi gambaran rinci tentang segala hal yang terjadi selama pertandingan berlangsung.
Kukutip dari halaman 64 kala Hanum menggambarkan Istana Schoenbrunn,”Arsitektur Schoenbrunn tak hanya megah dan indah, tetapi juga menampakkan bangunan fisik yang sombong luar biasa.” Aku tak mendapat rincian memadai atas kutipan paragraf tadi pada alinea berikutnya.
Masih banyak bertebaran dalam buku ini detail-detail yang minim.
6. Kaya impresi.
Bertaut dengan contoh kutipan di atas yang tak merinci, kutipan tersebut justru memperlihatkan kelebihan Hanum yang luar biasa dalam menuliskan kesan.
Tidak hanya terhadap tempat tetapi juga tentang iklim dan juga karakter orang-orang yang ditemui sepanjang perjalanannya.
Namun khusus mengenai orang, Hanum terjebak pada tipikalisasi. Apakah Gomez atau Sergio dapat mewakili keseluruhan rakyat Spanyol? Atau apakah orang-orang miskin seperti supir bus/angkot, pedagang asongan dan pengangguran adalah faktor utama penyebab kebangkrutan restoran a la Der Wiener Deewan bila ada di Jakarta? (halaman 56).
7. Polos dan jujur.
Kuakui bahwa Hanum pribadi yang polos juga jujur. Hal itu terbaca secara eksplisit serta implisit lewat tulisannya, apalagi bila itu menyangkut kesannya terhadap orang-orang yang ditemuinya.
Hanum kerap membiarkan prasangkanya muncul lebih dahulu, walau kadang ia pun tersadar akan hal itu pada bab berikutnya.
Tapi inilah yang patut dibanggakan dari seorang Hanum. Pasti setiap tulisan dalam buku ini telah melewati proses seleksi dan supervisi tetapi ia memilih untuk tetap menampilkannya tanpa pretensi ingin terlihat bijak, misalnya.
8. Menguatkan iman.
Mendadak aku teringat sepotong kalimat bijak dalam buku Hazrat Inayat Khan,”Semoga keyakinanmu semakin kuat.” Tak dimungkiri bahwa spirit itulah yang memotivasi Hanum dan Rangga menulis sebagaimana iman mereka yang kian menguat justru ketika berada di negeri tempat para muslim menjadi minoritas.
9. Layak untuk hadiah Idul Fitri.
Karena itu buku ini kurekomendasikan sebagai hadiah yang berguna untuk keluarga, kerabat atau sahabat pada hari raya Idul Fitri.

Malam kian legam kala kutulis catatan ini. Kuyakin argumen yang kutulis ini jauh dari sempurna, karena perspektif yang bertolak belakang dengan sudut pandangku akan menyempurnakan segalanya.
Kuharap itu menetas dari kepalamu.

Semoga keyakinanmu semakin kuat.”

Tangerang, 24 Agustus 2011
Jam 23:32 WiB

SENI: antara kemasan dan muatan

Perbincangan mengenai seni pada dasarnya dilatari oleh dua hal utama yaitu kemasannya dan atau muatannya. Yang kubicarakan adalah seni secara keseluruhan, bukan seni yang terpetak-petak menjadi musik, teater, rupa dan lain-lain. Apapun bentuk yang dipilih oleh senimannya akan menjadi bahan, yang bisa dibicarakan lebih lanjut atau hanya menjadi kenangan visual, bagi penontonnya. Oleh-oleh yang dibawa penonton inilah, terlepas dari siapapun penontonnya, yang menjadi wacana dalam dunia seni dan inilah tema pokok tulisan yang kubuat ini.

Pada awalnya seni adalah ritual. Sebuah prosesi untuk menghormati alam semesta. Segala tarian, lukisan, nyanyian dan lain sebagainya ditujukan semata-mata sebagai bagian dari upacara para manusia menghormati penciptanya. Artefak-artefak yang ditemukan para arkeolog menjadi saksi nyata dari sakralisasi seni di zaman dahulu.

Seni sebagai ritual mengutamakan muatan, isinya dipenuhi doa-doa para leluhur akan keselamatan juga rangkaian terima kasih atas anugerah Yang Maha Kuasa. Sebagai prosesi, seni menjadi sangat lokal karena dipengaruhi oleh berbagai aspek budaya para pelakunya yang berbeda-beda. Tarian syukur atas hasil panen antara suatu kultur akan berbeda dengan kultur yang lain. Begitu pula lagu-lagu para leluhur yang memuja alam raya akan berbeda antara  suatu etnis dengan etnis lainnya. Situasi ini dikarenakan dunia masih terbelah begitu banyaknya dan tak ada koneksi antara satu sama lain.

teater on the street

teater on the street

Lalu sejak transportasi laut menjadi andalan utama berbagai bangsa bahari maka kontak-kontak komunikasi menjadi terjalin dan perlahan-lahan mulailah saling pengaruh mempengaruhi antar kultur. Gamelan yang diciptakan leluhur bangsa ini menjadi mungkin karena adanya migrasi bangsa China yang membawa serta teknologi menempa logam. Lewat penetrasi budaya inilah sekat-sekat antar budaya terkikis pelan-pelan.

Kemajuan zaman membawa manusia kepada era industri yang memodernisir segala perkakas sebelumnya menjadi lebih cepat, bersifat massal dan ekonomis. Dari revolusi industri ini kesenian juga terpengaruhi, sehingga mulailah penciptaan-penciptaan karya seni yang berbasiskan kepada komoditi. Sebagai produk massal maka seni menjadi lebih “ramah” dalam muatan dan mengutamakan kemasan yang menarik konsumen. Segala sakralisasi seni tidak hilang namun berada di wilayah periferal, seni sebagai ritual menjadi wilayah ekslusif para seniman teolog. Kecenderungan tersebut mewabah di seluruh dunia.

Namun sejak Perang Dunia di awal abad 20 yang membuat dunia menjadi sempit, ada tendensi lain dimana seni sebagai sebuah prosesi individual para senimannya. Di era ini kaum Dadais mendeklarasikan cita rasa artistiknya yang unik yang mempengaruhi pula kepada sebuah gerakan yang disebut ,oleh para kritikus seni, surealisme. Dalam surealisme, nilai-nilai menjadi begitu relatif dan individualis. Ini berbeda seratus delapan puluh derajat dengan gaya artistik seni industri yang mengutamakan kolektifitas nilai-nilai berbasiskan keuntungan.

Zaman terus melaju dengan membawa kereta kebudayaannya tersendiri. Sesudah Perang Dunia ke dua, lahirlah absurdisme yang dilatari kehancuran bangsa-bangsa sesudah perang sekaligus pula kelahiran bangsa-bangsa baru, juga akibat perang. Dalam absurdisme, seni tetap mengutamakan muatan individualis. Dalam musik tercatat beberapa progres yang sebelumnya dianggap tabu. John Cage bermusik dengan keheningan, yang dimasa dahulu dianggap jeda dan bukan tercatat sebagai musik.  Waiting For Godot, sebuah naskah yang diisi oleh repetisi adegan tanpa konklusi jelas juga menjadi penanda era absurditas.

Tetapi seni sebagai industri juga mengalami kemajuan pesat, dimotori oleh bangsa-bangsa pemenang perang dunia yang berekspansi ke penjuru bumi dengan cita rasa artistik yang lebih ramah kepada publik. Negeri ini pun juga menjadi wilayah sasaran dari ekspansi kultur negeri pemenang perang tersebut. Film menjadi komoditas andalan, dikarenakan kebaruannya juga teknologinya yang efisien serta yang paling utama peraup laba terbesar diantara semua seni. Musik pun juga menjadi ajang pertaruhan bisnis para produser. Tak menjadi masalah sebuah lagu begitu buruk muatannya, sepanjang lagu itu dikemas menarik serta propaganda tanpa henti maka akan larislah lagu tersebut. Invasi seni industri negara-negara barat ini nyaris menihilkan seni sebagai prosesi individualis.

publik di konser musik

publik di konser musik

Tetapi pendulum zaman terus bergerak kesana kemari. Di masa kini dimana ruang dan waktu telah dilipat-lipat maka semangat para individualis dan juga para kolektivis dapat berjalan beriringan. Seni dengan muatan yang berlapis-lapis bersanding dengan seni dengan kemasan yang menarik. Ada pula yang mencoba jalan tengah, dengan mengkombinasikan seni bermuatan yang dikemas menarik tetapi waktunya belum lagi tiba sehingga ia menjadi suatu penanda dari kultur di era tertentu.

Belum lama ini, aku menyaksikan sebuah pertunjukan teater dimana muatannya begitu bermutu dan para pemainnya pun juga berwajah menarik. Tetapi fakta yang tak bisa dibuang begitu saja adalah penontonnya tak lebih dari 20% kapasitas auditorium megah. Akhirnya aku pun menonton dengan rasa dingin penyejuk ruangan yang meruak luar biasa.

Ada pula catatan media tentang berjayanya sebuah drama musikal, dengan durasi pertunjukan lebih dari dua jam dan dipertontonkan selama lebih dari dua minggu dan mampu menarik begitu banyaknya khalayak. Apakah itu bukti bahwa kombinasi dari muatan dan kemasan telah berhasil? Butuh penelitian lebih lanjut mengenai ini, karena tak jarang yang menonton pun juga adalah “pemain” yang tak bermain.

Sampai disini aku tak ingin memperdalam lagi tulisan ini, karena pembaca dunia maya juga tak tahan membaca lebih dari dua halaman, dan untuk itu kiranya bisa dianggap bahwa tulisan ini hanyalah stimulan dari , semoga saja, beberapa catatan baru yang lahir dari benak anda.

Namun untuk lebih mempertegas inti tulisan ini, kiranya perlu dipahami bahwa muatan dan kemasan adalah cara seni untuk hadir dalam benak penontonnya. Jalur mana yang dipilih para senimannya adalah menjadi hak prerogatif kreator itu sendiri. Untuk selanjutnya publik, sebagai kritikus dan apresiator, akan membawanya sebagai oleh-oleh dalam benaknya. Kalaupun mereka tak mau membawa oleh-oleh itu, yah biarkan saja. Yang penting tetaplah di jalur yang dipilih karena dari situ lahir identitas yang membawa anda kepada pemahaman bahwa seniman, melalui karyanya, adalah manusia yang unik. Begitulah hakikatnya manusia, bukan?

BOHEMIAN RHAPSODY:::a short story

Air matanya merintik menatap orang-orang yang menyemut membawa kembang ziarah di pekuburan umum itu. Di hari yang semestinya membahagiakan itu, benaknya tergugat lagi akan masa lalu yang tak bisa dihapus sekeras apapun ia mencoba. Tiga belas tahun laksana kemarin. Begitu jelas tertuang di matanya.

Namanya Edi. Ia adalah seorang pelarian yang hingga kini belum tertangkap oleh tangan-tangan hukum. Kini ia berganti nama menjadi Brian. Untuk memuluskan penyamarannya. Tak ada kartu identitas apapun di dompetnya. Sejak melarikan diri dari kampungnya ia telah mengubur dirinya yang lama dan mereinkarnasi menjadi Brian.

Tiga belas tahun lalu ia masih berumur 17 tahun, baru sehari ia memperoleh KTP. Tetapi tragedi berawal di hari itu.

Ia tinggal bersama ibunya. Ayahnya sudah meninggal ketika ia berumur 5 tahun. Ibunya mencari nafkah dengan menjadi pembantu rumah tangga di rumah seorang penguasa setempat yang masih keluarga dari penguasa di negeri ia hidup. Dengan upah minimal, mereka hidup sederhana walau itu berarti ia tak bersekolah serta mengisi masa kecilnya dengan ikut bekerja sebagai pengurus ternak di rumah majikan ibunya.

Bertahun-tahun mereka hidup menikmati getir tanpa pernah mengeluh setitikpun. Edi pun tumbuh menjadi remaja yang kian rajin dan taat kepada ibunya. Ibu baginya adalah segala-galanya. Ibu adalah dunianya. Tanpa Ibu ia adalah kehampaan.

Tepat di saat Edi berusia 17 tahun, ia mengurus KTP di kecamatan setempat. Dengan membawa surat pengantar dari RT, RW dan Kelurahan ia melangkah pasti menatap masa-masa menjelang dewasanya. Sampai di Kecamatan ia masih sempat membaca stiker di kaca jendela bertulis, “Laporkan bila ada oknum Kecamatan yang meminta uang pada saat pengurusan KTP!”. Tetapi begitu di dalam ternyata ia diharuskan membayar uang, Edi melihat isi kantongnya dan hanya mendapati selembar sepuluh ribu rupiah yang ada, ia mencoba memprotes dengan argumen tulisan di stiker yang dibacanya. Tetapi petugas kecamatan menjadi galak dan mempersilakan ia melapor bila tak mau membayar. Tak kuasa Edi pun menyerahkan uang yang dimilikinya kepada petugas itu yang masih saja melontarkan sisa-sisa amarahnya kepada Edi. Sejam ia menunggu dan KTP pertamanya telah jadi. Edi kini menuju dewasa. Dan menjadi dewasa berarti menghadapi dunia seorang diri.

Edi kembali ke rumah majikannya untuk meneruskan pekerjaannya mengurus ternak yang tadi sempat terhenti. Setibanya di sana ia mendapati Ibunya sedang dimarahi oleh anak majikan. Pangkal masalahnya adalah ada ternaknya yang hilang dan karena Edi tidak ada maka Ibunya lah yang menerima bentakan anak sang majikan. Edi mencoba menengahi seraya mengambil alih tanggung jawab dari Ibunya yang tak bersalah. Tetapi si anak majikan malah memarahi mereka berdua dengan ganasnya. Edi terus mencoba meminta pengertian si anak majikan bahwa semua ini adalah kesalahannya bukan si Ibu, tetap saja amarah menggempur ia dan Ibunya. Anak sang majikan mengatakan bahwa ternaknya yang hilang lebih berharga dari mereka berdua. Dan ia menghukum Edi dan Ibunya dengan sebilah rotan. Edi terus membela Ibunya yang tak bisa dipersalahkan dan dihukum, namun anak sang majikan bergeming dengan keputusannya. Ibu meminta Edi untuk tidak membantah majikan. Ketegangan kian memuncak di sore itu. Edi tak bisa membiarkan Ibunya dihukum atas kesalahannya, ia sadar sepenuhnya bahwa kini ia telah menuju dewasa dan karena itu semestinya ia saja lah yang dipecut oleh rotan itu.

Anak sang majikan berkeras dengan kemauannya dan ia segera melecutkan rotan itu dan mengenai punggung si Ibu yang lantas menjerit mengaduh. Baru kali ini Edi mendengar jerit Ibunya dan ia merasa dunianya runtuh seketika, ia tak ingin ibunya menderita dan itu sumpahnya sebagai bakti kepada Ibu yang telah merawatnya. Di saat tangan anak sang majikan akan memukul untuk kedua kalinya dengan refleks Edi pun menahan sekuat tenaga tangan anak sang majikan. Keduanya bergumul di tengah teriakan si Ibu yang meminta Edi mengalah dan menerima saja. Tetapi Edi tak mau mendengar jerit Ibunya lagi. Ia terus menahan amarah menggelegak dari anak sang majikan yang kian meninggi. Mereka pun berkelahi, bergelut di depan kandang, di bawah kucuran air mata Ibu yang terus meminta Edi untuk berhenti. Tetapi apa daya, Edi dan anak sang majikan terus bertarung hingga tiba-tiba dalam suatu pergerakan yang liar kepala anak sang majikan membentur sudut ubin yang keras dan tajam. Darah membanjir seketika, menggenangi tubuh anak sang majikan, membenami tubuh Edi dan menenggelami tangis Ibu.

Anak sang majikan tewas saat itu juga. Edi kaget, Ibu menjerit histeris. Tak ada siapapun selain mereka bertiga sore itu. Tragedi bertelur di hari Edi menuju dewasa.

Setelah reda menangis, Ibu meminta Edi untuk segera pergi dari tempat itu, dari kampung itu, dari segala kenangan masa kecilnya, dari Ibu yang dicintainya. Dalam limbung Edi mencoba bertahan tetapi Ibu berkeras agar Edi lekas berangkat. Kemana ia harus menjauh, tak ada satu pun lokasi timbul di benaknya saat itu. Ibu memberikan Edi uang yang tak seberapa tetapi itu adalah semua harta yang dipunya. Dan terus mendorong Edi untuk secepatnya pergi. Edi pun berjalan di keremangan senja itu menuju arah matahari terbenam.

Bohemian Rhapsody

Bohemian Rhapsody

Tangis ibunya seakan terekam dalam telinganya. Mengiringi langkahnya menuju entah kemana. Hujan dan petir diacuhkannya. Dalam kuyup hujan airmatanya ia teringat selalu wajah Ibunya. Ia tak ingin pergi meninggalkan Ibu seorang diri, tetapi Ibu terus berkeras diri memaksanya pergi.

Dan kini sudah tiga belas tahun ia berjarak dengan tragedi itu, di umurnya yang ke-30 ia berhenti di depan pekuburan umum.       Air matanya merintik menatap orang-orang yang menyemut membawa kembang ziarah di pekuburan umum itu. Di hari yang semestinya membahagiakan itu, benaknya kembali tergugat akan masa lalu yang tak bisa dihapusnya,  sekeras apapun ia telah mencoba. Tiga belas tahun laksana kemarin. Begitu jelas tertuang di matanya.

Bagaimanakah nasib Ibunya kini, ia tak mendapati sedikitpun informasi. Ia mencoba meyakinkan hati, bila Ibunya sudah tiada maka ia telah menggapai bahagia. Tetapi bila Ibunya masih di hidup maka semoga ia tak mendapat lara.

Edi yang kini bernama Brian terus menikmati larutnya masa lalu di pekuburan umum itu hingga malam menjelang dan kakinya kembali berjalan menjemput kelam malam dunia.

 

*Terima kasih buat Queen atas lagunya yang menginspirasi.

  Long live Freddie, Brian, Roger and John*

PENJARA TIDAK EFEKTIF SEBAGAI ALAT PENJERA.

Membaca judul yang tertera di atas mungkin anda akan menganggap ini esai atau kolom. Tetapi sejatinya aku sedang menulis cerita dengan tema seperti yang tertulis sebagai judul. Entah dari mana aku akan memulainya, karena sampai saat jari-jari ini mengetik belum terlihat jelas alur ceritanya. Kerangka pun masih samar-samar, yang sudah jelas baru judulnya saja. Dan satu lagi, niatan untuk menulis pun sudah kuat. Jadi kubiarkan saja huruf-huruf dalam papan kunci ini akan membimbingku ke arah alur cerita.

Penjara

Penjara/Penjera?

Judul di atas adalah ucapan yang dilontarkan Gubrak, seorang bartender kaki lima, menanggapi komentar panjang dari Gabruk yang sedang membicarakan Gedubrak, seorang mantan napi kasus maling ayam. Gubrak mengucapkan kalimat yang menjadi judul itu sembari mengelap gelas-gelas bekas minum Gedubrak yang baru saja tertangkap kembali oleh polisi atas kasus yang sama, maling ayam. Entah apakah sudah menjadi semacam hobi atau malah penyakit tetapi rekor Gedubrak sudah termasuk panjang bila berurusan dengan polisi dan ia termasuk konsisten untuk kasus maling ayam. Baru saja ia keluar dua hari yang lalu, malam ini di kios minuman Gubrak dua orang polisi mendatanginya dan membawanya ke kantor polisi. Dengan mulut bau minuman keras yang dibelinya dari hasil penjualan dua ekor ayam curian itu Gedubrak pasrah saja digiring polisi dengan tangan terantai.

Gabruk adalah tetangga Gedubrak. Mereka adalah sahabat sejak kecil. Mereka sudah mengenal hitam-putih masing-masing. Malam itu ia diajak Gedubrak ke kios Gubrak. Di tempat itu mereka berdua menghabiskan lima botol anggur Tjap Orang Toea, tujuh gelas air jeruk serta tiga bungkus rokok kretek. Semuanya dibayar oleh Gedubrak. Mereka bercengkerama selama hampir empat jam sebelum akhirnya dijemput polisi.

Ketika Gedubrak sudah dibawa, Gabruk pun memulai komentar panjangnya tentang kejadian yang baru terjadi. Buat Gabruk, Gedubrak itu sudah kerasan tinggal di penjara ketimbang di luar penjara. Bayangkan saja, kata Gabruk, di dalam penjara ia sudah memiliki reputasi sebagai penjahat kambuhan dan karena itu ia memiliki jatah uang tetap dari napi-napi yang baru masuk. Uang dengan mudah ia peroleh di dalam penjara dari pada di luar penjara. Apalagi, masih ucap Gabruk, di dalam penjara segala macam kebutuhan tersedia dari yang legal sampai ilegal. Hanya perempuan saja yang tak tersedia di dalam penjara, untuk hal lainnya semua ada. Dengan kondisi seperti itu maka wajarlah bila Gedubrak lebih memilih tinggal di dalam dari pada di luar penjara.

Gabruk bercerita dengan rinci kehidupan sehari-hari Gedubrak baik di dalam maupun di luar penjara. Seakan-akan ia adalah orang yang paling mengenal Gedubrak. Kadang ia megisahkan kejadian-kejadian lucu di masa anak-anak dahulu. Ia katakan bahwa bakat mencuri sudah dimiliki Gedubrak sejak kelas 4 SD. Pencurian pertamanya adalah ayam milik Kepala Sekolah yang dibencinya. Gedubrak membenci Kepala Sekolah karena sering dimarahi bila terlambat membayar uang sekolah. Dan suatu malam, dengan mengendap-endap ia buka kandang ayam Pak Kepala Sekolah, mengambil jago kesayangan Pak Kepala Sekolah dan kemudian memotongnya lalu dagingnya dijual ke tukang mie ayam. Kepala ayam jago Pak Kepala Sekolah ia letakkan begitu saja di luar kandangnya. Ia puas, dan mungkin karena kepuasan pertama itulah maka ia menjadi kian sering mencuri ayam. Kenapa ayam? Gubrak bertanya kepada Gabruk yang dijawab bahwa ayam itu hewan yang unik, mereka tidak benar-benar tidur jadi pada saat dicuri mereka tahu bahwa ada orang yang akan mencurinya tetapi bila sang maling itu memahami perangai ayam dengan baik maka ayam pun tidak akan berteriak meminta tolong. Gedubrak, kata Gabruk lagi, juga pernah mencoba mencuri binatang lain. Sapi, Kerbau, Burung bahkan Iguana perbah dicurinya. Tetapi tetap saja ia kembali mencuri ayam. Sehingga di kampung tempat mereka tinggal bila ada warga yang kehilangan ayam maka yang pertama dituduh adalah Gedubrak. Dan bila ia berkelit maka warga akan meminta pembuktian terbalik sambil mengancam melaporkan ke polisi. Biasanya bila Gedubrak diancam begitu maka ia akan membuat pembuktian terbalik menjadi sulit dipercaya sehingga ujung-ujungnya warga pun memanggil polisi dan Gedubrak pun ditahan.

Selalu begitu kejadiannya. Baru tiga tahun terakhir ini kampung mereka aman dari maling ayam. Itu karena Gedubrak meluaskan wilayah pencuriannya ke kampung-kampung tetangga. Ia bosan dengan kandang ayam di kampungnya yang tidak menawarkan pengalaman baru baginya untuk membongkar. Semua kandang ayam itu terlalu sederhana untuk dibobol oleh Gedubrak. Ia berfikir ilmunya takkan pernah meningkat bila ia tidak mengujinya dengan tantangan yang lebih sulit untuk dijebol. Akhirnya tiga tahun belakangan ini malah warga-warga di kampung tetangga yang resah, mereka mengamankan kandang bahkan dengan alarm, yang tidak mampu membeli alarm akan memindahkan kandang sedekat mungkin dengan kamar tidurnya agar terdengar bila ada suara atau bunyi yang mencurigakan di kandang ayamnya. Tetapi polisi-polisi mengenal betul jejak Gedubrak dalam melaksanakan operasi pencuriannya. Karenanya walau warga tak punya calon tersangka maka polisi sudah mengirim anggotanya untuk menjemput Gedubrak dimanapun ia berada.

Begitulah balada Gedubrak, sang maling ayam, sebagaimana yang di kisahkan oleh Gabruk kepada Gubrak. Dan Gubrak hanya bisa berkomentar singkat, “Penjara tidak efektif sebagai alat penjera.” Kalimat itulah yang menjadi jembatan bagiku menuliskan kisah fiksi ini. Dengan alur yang sama sekali berkabut aku memberanikan saja jemariku menari di atas papan kunci. Lagi pula jalan yang dipenuhi kabut itulah jalan yang dipilih Gedubrak untuk membunuh waktu dalam kehidupannya. Sebagaimana hukum di negeri supremasi hukum.

Jam setengah empat  menjelang subuh, Gubrak merapikan dagangannya selagi Gabruk masih mengawang dalam lemah. Sepanjang jalan itu sudah sepi pada saat itu. Gubrak menutup kios kecilnya, memanggil becak dan memanggul Gabruk serta mengantarnya pulang. Becak membawa keduanya melewati jalan yang sudah mulai dipenuhi embun pagi.