Posted on

DAR…DER…DOR…. MATI LU PADE !! :::Stop Bullying Now !

Berawal dari tweet Olga Lydia pada rabu malam tanggal 20 Juli yang mengajak followernya berkomentar tentang bullying dan komentar terpilih akan mendapat dua tiket nonton pertunjukan teater musikal persembahan Sakti Aktor Studio (SAS) berjudul “BANG BANG YOU’RE DEAD” akhirnya sayapun ikut berkomentar tentang bullying yang saya identifikasikan sebagai akibat dari supremasi hirarki dan untuk melenyapkannya maka generasi muda harus diajarkan tentang pentingnya kesetaraan antar manusia. Tak disangka komentar saya yang terpilih dan sayapun berkesempatan menonton pertunjukan tersebut di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, keesokan malamnya.
Selalu menjadi kehormatan bagi saya untuk dapat menyaksikan pertunjukan kesenian apapun bentuknya, dimanapun tempatnya dan siapapun penyajinya. Karena dari tontonan yang saya lihat akan melekat dalam benak saya dan itu menjadi kekayaan bathin yang tak bisa dinilai dalam apapun jua.
Bukanlah tanpa alasan bila saya menganggap bullying sebagai akibat dari supremasi hirarki karena kasus-kasus yang terjadi selalu menimpa siapapun yang kedudukannya dianggap lebih lemah sehingga rentan terhadap intimidasi atau pelecehan apapun jenisnya. Sekolah menjadi ajang bullying favorit, saya pun pernah mengalaminya ketika masih di sekolah dan pelakunya selalu kakak kelas yang merasa memiliki kuasa terhadap adik-adik kelasnya. Namun berkat perkawanan yang saya jalin lambat laun situasi menjadi cair dan mereka pun dapat menganggap saya sama sebagaimana rekan sebaya.
Tetapi tidak semua orang dapat melakukan apa yang saya lakukan untuk meredam bullying, masih banyak generasi muda yang tak berdaya menghadapi tekanan rekan sebaya atau kakak kelasnya. Ketakutan untuk dianggap tidak ada atau malah diejek sebagai pecundang malah membuat banyak korban menjadi kian terpuruk.
Naskah “BANG BANG YOU’RE DEAD” ditulis oleh William Mastrosimone pada tahun 1999 dipengaruhi oleh kekerasan yang terjadi di sekolah di Amerika pada tahun 1998. Ketika itu, seorang siswa SMU, Kip Kinkel, membunuh orang tuanya dan 27 teman-teman sekelasnya di Thurston High School, Springfield, Oregon. Mastrosimone menulis naskah ini untuk memperlihatkan dampak pelecehan, penyiksaan dan penganiayaan antar remaja di sekolah dan berharap masyarakat mampu melihat indikasi dari tragedi sebelum semuanya terlambat. Pada Oktober 2002, tiga tahun setelah publikasi pertamanya pada 7 April 1999 di Thurston High School, naskah ini sudah dipentaskan lebih dari 15.000 kali.

Bagi Sakti Aktor Studio (SAS) ini adalah kali pertama mereka membawakan lakon BANG BANG YOU’RE DEAD dalam bentuk teater musikal. Diharapkan drama ini bisa menjadi terapi yang baik untuk mengatasi kekerasan yang terjadi di sekolah-sekolah dan mengurangi kekerasan yang terjadi. Tentu harapan ini akan menjadi lebih nyata bila lakon ini dapat di tayangkan pada sekolah-sekolah dengan tingkat kekerasan yang tinggi. Karena bila hanya mengharapkan penonton teater di Gedung pertunjukan semata maka harapan akan tinggal harapan.
Naskah ini adalah sebuah propaganda dalam bentuk peristiwa yang dikemas dalam bentuk surealis sepanjang durasi pementasannya selama sekitar 75 menit. Dari awal terlihat tentang luka penuh tanya dari para korban akibat langsung dari bullying. Katie, Jessie, Emily, Michael dan Matt meneror pikiran Joshua, pelaku penembakan, melalui pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan penonton kepada penyebab bullying.
Joshua adalah seorang remaja dengan tingkat traumatis yang tinggi menghadapi pergaulannya di sekolah, dengan gadis incarannya, tekanan di rumah dan juga ketidak mampuannya mereduksi kesemuanya. Di antara temannya dia dianggap sebagai pecundang, dengan gadis yang disukainya ia dibilang pembual, dari orang tuanya ia mendapat komando yang tak henti-hentinya dan kala ia berhadapan dengan diri sendiri pun tak kuasa ia berdiri tegak. Kesemua faktor ini terungkap pelan-pelan di atas panggung menjadi tabir yang tersingkap kenapa ia dengan limbungnya mencuri senapan yang dikunci di lemari oleh ayahnya, dan ketika kepergok orang tuanya ia pun menembak keduanya. Sesudahnya ia menghampiri kawan-kawan yang ia benci ketika mereka sedang makan siang dan lalu “Dor… Dor… Dor… Dor… Dor…” lima peluru untuk lima tubuh dimuntahkan bersamaan dengan muncratnya darah dan ketakutan baru yang dialaminya.
Ia tertipu oleh pikiran gelapnya kala menyangka ketika ia menembak mereka yang melecehkannya maka bebaslah dirinya. Tidak demikian realitasnya, malah ketakutan demi ketakutan baru muncul waktu kelima kawan yang ditembaknya terus meneror dengan pertanyan-pertanyaan “Kenapa Gue??”. Semula ia berkilah bahwa semua orang juga akan mati, tapi itu bukan jawaban sesungguhnya. Terus menerus jawaban baru timbul untuk meredam tanda tanya para korban. Alasan demi alasan tak mampu membendung jawaban yang sesungguhnya.
Joshua sejatinya adalah korban bullying yang terabaikan oleh lingkungannya. Dan sebagaimana yang dituliskan oleh Eka D. Sitorus, sang sutradara,  dalam pembuka sekapur sirihnya, “Bullying bisa terjadi di mana-mana…”. Karena bisa terjadi di mana-mana maka siapapun juga berpotensi menjadi pelaku atau korban bullying. Dan sekolah, dimana hirarki dijunjung tinggi, menjadi lokasi yang subur bagi kasus bullying. Mereka yang tidak di sekolah pun, sadar atau tidak, terkadang juga menjadi pemicunya.

Propaganda yang digarap dalam naskah ini memberi gambaran peristiwa sebab-akibat dari bullying agar siapapun yang menontonnya dapat melihat pertanda dari bibit kekerasan yang terjadi. Semua pihak turut bertanggung jawab agar generasi muda kita nantinya sebagai tumpuan masa depan dapat hidup setara satu sama lain. Dan para orang tua serta guru diharapkan mampu meminimalkan potensi kekerasan pada diri anak-anak dengan bersikap bijak serta menjadikan mereka sebagai subyek bagi dirinya sendiri.
Jalan pintas yang dipilih Joshua dalam lakon ini adalah jalur gelap bagi masa depan anak yang dapat dijadikan pelajaran betapa berharganya kehidupan setiap anak tidak hanya bagi dirinya tetapi juga bagi lingkungannya.
Dar…Der…Dor….telah kutembak bullying sampai mati. Bagaimana dengan anda?

Iklan

Tuliskan Responmu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s