TEATER DALAM REALITAS KEKINIAN

Membicarakan seni teater dalam sudut pandang apapun selalu menjadi menarik namun sekaligus perih. Menariknya adalah masih adanya orang-orang yang bergiat dan memperjuangkan teater sebagai suatu upaya berbudaya dalam menyampaikan sesuatu secara estetis. Perihnya adalah kenyataan semakin menurunnya kecenderungan masyarakat untuk menyaksikan pementasan teater.
Gerak teater modern merupakan produk masyarakat urban-kota. Ini terjadi saat tata nilai masyarakat daerah berubah dengan datangnya paham modernisme melalui kaum terpelajar. Masyarakat primordial yang memiliki nilai-nilai budaya dan kearifan lokalnya mengalami pergeseran cara pandang dan pola hidup saat bergesekan dengan dunia kota; dunia yang menjanjikan segala dan melupakan pula segala.
Urbanisasi adalah konsekwensi dari sentralisasi kekuasaan dan wajah kota yang senantiasa dipercantik. Kondisi serba cepat kehidupan masyarakat kota hanya mengenal gemerlap materi yang menggeser pola kesederhanaan berfikir dan tingkah laku manusia desa. Pertumbuhan industri dan jasa menuntut masyarakat urban untuk menyesuaikan pola pikir dan tindakan dengan membangun tradisi baru dalam hidup bermasyarakatnya. Karenanya, bentuk-bentuk teater yang sejak kelahirannya sarat dengan pesan komunal dan pandangan hidup suatu masyarakat mulai bergeser sifat, fungsi, semangat dan bentuknya dalam masyarakat urban (campuran). Disinilah teater diuji oleh kenyataan dimana yang sakral telah menjadi profan.
Sesungguhnya seni Teater menjadi urgent, dimana manusia urban tetap merindukan hakikat hidup, moralitas,dan jalur spiritual yang dibutuhkan tubuh sebagai makanan ruhaniahnya. Namun formalisme dan rutinisme masyarakat urban mengalami pencerahan sesaat ketika kesenian pop yang dilahirkan kapitalisme lebih memanjakannya. Tak aneh bila terjadi degradasi cita rasa dan penghargaan mereka pada nilai seni, kemanusiaan dan keilahian hakiki.
Guna menjawab persoalan zaman tersebut, Federasi Teater Indonesia (FTI) menggelar diskusi dengan bahasan “TEATER DAN DUNIA URBAN” pada hari rabu 2 September 2009 bertempat di Galeri Nasional dengan nara sumber Gandung Bondowoso dan Iwan Pirous.
Dalam acara yang dihadiri banyak seniman teater nasional tersebut, pertanyaan menarik nan menggoda muncul, “Bagaimana agar pertunjukan teater menarik bagi penonton urban?”

gandung

Gandung Bondowoso

Gandung Bondowoso (55 tahun) yang juga pengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menyodorkan upaya pendekatan yang efektif dengan cara: perlunya para penggiat teater melakukan eksplorasi terus menerus guna menemukan bahasa teater yang dapat dipahami oleh publik. Selain itu juga perlunya memperbanyak jam terbang pementasan agar semakin intens karya-karya itu diperkenalkan kepada publik akan semakin saling mengenal pula Seniman dengan publiknya. Dan hal terakhir ialah pemetaan publik atau dengan kata lain segmentasi dari publik penonton pertunjukannya dikarenakan begitu heterogennya selera atau kebutuhan publik akan pertunjukan teater.
Didalam dunia akademis sendiri, Gandung menambahkan, seperti di dalam lingkungan IKJ pun kini mulai pola pendekatan baru dimana publik menjadi lebih dihormati dan dipahami sehingga kebutuhan publikpun dapat terakomodasi dalam karya-karya seni dari akademisi seni IKJ. Gandung juga menekankan bahwasanya teater bisa mengalami kebangkrutan bila terpisah dari publiknya.
Dalam sudut pandang yang lain, Iwan Pirous meyakini bahwa seniman teater perlu mencari bahasa yang konstektual dengan semangat zamannya. Iwan melihat negeri ini mengalami surplus bahasa tetapi belum mengolahnya dengan baik dan komunikatif. Perlu ada kesadaran dari insan-insan teater untuk justru kembali ke kesederhanaan guna melihat lagi siapakah dirinya sebagai subyek yang merdeka. Pertanyaan selanjutnya yang muncul ialah apa yang bisa dilakukan melalui teater pada masyarakat sekitar sehingga mereka bisa menemukan jati diri lewat dunia teater dan merasa bagian dari teater yang ditontonnya?
Dunia terus bergerak, sadar atau tidak seniman teater pun harus bersikap. Agar jagad teater tidak menjadi asing atau malah langka dan memulai proses menuju kepunahannya.

Iklan