MENCARI GURU PRIVAT TUTUP MULUT

tutupmulut

Pikiran tersebut melintas dan mengendap dalam benaknya selama dalam perjalanan pulang. Namun dimana mencari guru privat tutup mulut? Apa perlu membuat selebaran dan menempelkannya di tiang-tiang listrik berjejal dengan iklan sedot wc? Atau cukup menuliskannya di laman belanja daring dan menunggu respon via telepon atau surel? Selebaran di tiang listrik atau iklan daring hanya menjawab bagaimana mencarinya namun tidak menuntaskan untuk pertanyaan dimana mencarinya. Lagi pula ada yang lebih mendasar: apa pernah ada guru privat tutup mulut?

Dimanapun, yang namanya guru harus menerangkan sejelas-jelasnya kepada sang murid mengenai apa yang dipelajari. Metodologi pendidikan sudah seperti itu dari zaman dahulu. Ada teori dan ada pula praktik untuk segala hal. Keduanya bertaut dalam upaya memberikan pemahaman menyeluruh kepada murid. Teori tanpa praktik akan membuat murid mengawang, praktik tanpa teori hanya membuat murid tersesat. Akan menjadi baik bila tersesat di jalur yang tepat, banyak yang menyebut itu jalan pintas menuju tuntas, tetapi tidak semua orang diberi anugerah dapat memilih sendiri jalurnya yang tepat. Itulah kenapa ada orang-orang yang memiliki talenta mendidik orang lain agar mampu menemukan jalurnya yang tepat.

Masalahnya adalah apa yang diajarkan seorang guru tutup mulut? Tujuannya jelas, mampu membuat mulut terjaga rapat. Tetapi bagaimana metodologinya? Teori dan praktik tutup mulut belum menjadi ilmu yang sistematis. Teori tutup mulut belum terdefinisikan dengan jelas. Kebanyakan upaya tutup mulut adalah sebatas respon atas suatu permasalahan yang dirasa tidak mampu atau tidak ingin untuk dijawab. Ada pula beberapa kasus tutup mulut yang didramatisir dengan menjahit mulut sebagai upaya mendapat perhatian atas tuntutan yang diajukan. Untuk hal tersebut baru terjadi belakangan ini di kala media memberikan ruang lebih bagi aksi-aksi dramatis yang dilakukan individu dengan tujuan tertentu. Apakah tutup mulut bagian dari ilmu komunikasi? Bila ya maka yang nampak adalah kontradiksi. Bagaimana mungkin mengomunikasikan sesuatu dengan menutup mulut? Bila mengutip frasa “medium is the message” maka itu menjadi mungkin. Tutup mulut menjadi pesan yang ingin dikomunikasikan. Tetapi dalam realita hal tersebut menjadi mengawang, karena tidak adanya relasi interaktif antara komunikator dengan komunikan. Tanpa relasi interaktif maka komunikasi yang terjalin lebih tepat disebut monolog. Penceramah, ulama, guru, aktor, komandan tentara hingga orang gila melakukan komunikasi dalam bentuk monolog dengan tujuan yang berbeda. Mereka menuntut aksi tutup mulut dari sasaran komunikasinya agar apa yang disampaikannya utuh tidak terpotong. Pengecualian mungkin bagi orang gila, karena sepertinya mereka tidak peduli apakah ada yang mendengarkan monolog mereka.

Setiap manusia memiliki kebutuhan untuk bersosial, berinteraksi dengan sesama manusia. Komunikasi menjadi wahana mewujudkan kebutuhan tersebut. Ada beragam komunikasi yang bisa dilakukan, bisa secara verbal melalui bantuan mulut untuk menyuarakan apa yang ingin diungkapkan, bisa pula melalui tulisan bila komunikasi verbal dirasa memiliki keterbatasan seperti yang terjadi pada mereka yang tidak mampu berbicara dengan jelas karena cacat atau karena ada rincian yang sulit dibedakan melalui ujaran. Selain itu ada pula komunikasi yang disampaikan melalui penanda entah itu bahasa tubuh atau kode-kode dengan bantuan alat atau benda. Contoh konkret bentuk komunikasi ini adalah karya seni karena seni mengincar jiwa sebagai sasaran komunikasinya tetapi tidak seperti komunikasi verbal atau tulisan yang jelas dan ringkas maka komunikasi penanda mendapatkan tafsir yang berbeda-beda dari setiap jiwa atau malah bisa saja tidak berarti apapun. Selain itu komunikasi penanda yang disampaikan sebuah karya seni lebih sebatas simulasi dari realitas dan bukan realitas itu sendiri karenanya butuh jiwa dengan wawasan luas dan merdeka untuk mampu mengkonversi penanda-penanda tersebut menjadi komunikasi dialogis dalam realitas sehari-hari. Tutup mulut dapat saja dikategorikan sebagai bentuk komunikasi penanda namun bila itu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari hanya akan menelurkan kevakuman. Dan dalam situasi tersebut sulit terjadi interaksi dialogis.

Masalah lainnya adalah bagaimana praktik pelajaran tutup mulut? Ini pertanyaan yang timbul bila kita memaksakan tutup mulut sebagai suatu komunikasi. Bagaimana guru mengajarkan praktik tutup mulut? Bila ia melakukannya dalam aksi tutup mulut apakah murid memahami cara tepat untuk tutup mulut sebagaimana yang diajarkan? Bila guru mengajarkan tutup mulut dengan kata-kata yang berlimpah justru menjadi kontradiktif seperti yang sudah saya tuliskan di alinea dua cerita ini, bukan?

Ya, ini sebuah cerita. Halaman pembuka seperti yang sudah tertulis di atas mirip kolom, atau artikel yang berisi opini. Padahal saya sedang menulis cerita. Dan tokoh dalam cerita ini masih dipusingkan oleh masalah dimana mencari guru privat tutup mulut. Tidak pernah ada orang di dunia ini yang pernah menjadi guru privat tutup mulut, setidaknya google tidak pernah menemukan data tentang hal tersebut. Lagi pula tidak pernah tercatat ada orang yang membutuhkan guru privat tutup mulut, karena bila ada yang pernah memerlukan maka akan menciptakan peluang kerja sebagai guru privat tutup mulut dan imbasnya bisa jadi akan tercatat di google. Sempat terpikir olehnya untuk mendatangi Limbad, seorang penghibur dalam bidang ilusi yang terkenal dengan aksi tutup mulutnya. Namun jika Limbad mau pasti harganya akan mahal, mungkin seharga mobil sedan mewah. Ini asumsi yang didasari oleh pembacaan atas gaya hidup Limbad itu sendiri yang besar kemungkinan logis. Tetapi Limbad pun sebenarnya menggunakan aksi tutup mulut untuk menonjolkan ilusi kekuatan tenaganya dan bukan sebagai bentuk komunikasi karena dalam banyak kesempatan ia pun berbicara verbal namun dengan berbisik. Kompetensi dan kapabilitas Limbad dirasa belum mencukupi untuk layak dijadikan guru tutup mulut. Karenanya ia pun menyingkirkan pikiran untuk mendatangi Limbad.
Kebutuhan akan guru tutup mulut ini tercetus sebagai refleksi atas kejadian yang dialaminya pagi ini. Ia merasa telah mengatakan kalimat yang membuatnya disalah artikan. Sebenarnya hal ini tidak merisaukan bila orang yang salah mengartikan itu adalah kawan sehari-hari atau malah orang asing, ini menjadi masalah bagi pikirannya karena orang tersebut adalah perempuan yang istimewa di hatinya, seorang yang ingin diberikannya kesan positif dari dirinya. Segala harapan menjadi antiklimaks karena kesalah pahaman. Ia sendiri sebenarnya tidak mengetahui secara tepat kalimat apa yang sudah diucapkannya yang menjadi sumber kesalahpahaman tersebut. Bila anda menduga bahwa ia sudah mengucapkan rasa cinta kepada perempuan istimewa tersebut sebagai sebabnya maka anda keliru. Dialog yang terjadi pagi itu bukanlah komunikasi cinta a la remaja, tetapi interaksi pemikiran mengenai hal-hal yang menjadi interes keduanya. Mereka berdua berada di jalur yang serupa, hanya cara mereka memandang jelas berbeda walaupun tidak bertentangan secara diametral. Tokoh utama dalam cerita ini merasa telah bersikap defensif dalam berkomunikasi, hal itu biasanya terjadi bila dirinya merasa ditekan atau diserang secara verbal. Defensif adalah reaksi alamiahnya dalam menghadapi tekanan atau serangan dari lawan komunikasinya. Dan dalam keadaan defensif tanpa sengaja ia mengeluarkan kalimat-kalimat yang sebenarnya tidak penting untuk diucapkan. Padahal awalnya ia hanya ingin membuka dirinya sebagai seorang yang suka membaca, dalam pengertian filosofis. Tanpa disadari, hasil pembacaannya atas situasi yang terjadi disekitarnya dimaknakan sebagai caranya bersikap. Ia menyesal terlampau jujur dan membiarkan mulutnya terus berbicara tanpa kendali. Bila saja ia mampu menentukan waktu berbicara dan saatnya tutup mulut mungkin perasaan ini tidak membebaninya.

Dua belas stasiun perhentian terasa cepat berlalu, bukan karena ia sedang menaiki kereta rel listrik yang memang melaju pesat tanpa hambatan melainkan karena pergumulan batin yang dialaminya. Untunglah selama perjalanan tidak ada seorangpun yang mengajak berbicara, kota memang dipenuhi orang-orang tanpa komunikasi verbal sejati. Jika pun ada sebatas basa-basi. Bila ada yang mengajaknya bicara mungkin akan timbul kesalahpahaman baru walau kadarnya pasti berbeda dan bisa diabaikan.

Berdasarkan pengalaman ketika baru pindah ke tempat yang dekat dengan stasiun kereta itu, ia juga pernah merasakan kesalahpahaman dengan mereka yang sudah lebih dahulu tinggal di sekitar rumahnya sejak generasi terdahulu orangtuanya. Mereka yang mengidentifikasikan diri sebagai pribumi ini merasa perlu dirajakan oleh orang-orang yang baru tinggal belakangan. Tanpa komunikasi yang interaktif dan saling memahami itulah timbul intimidasi yang direspon dengan perlawanan yang kemudian membesar menjadi tawuran massal antar kelompok. Antara pendatang yang melawan dominasi pribumi. Untunglah itu hanya temporer, untuk kemudian kedua pihak saling menghargai dan malah berkawan karib hingga kini lebih dari dua puluh tahun kemudian di saat mereka juga sama menua.

Tetapi apakah mungkin memori pengalaman kolektif tersebut diaplikasikan dalam memahami situasi dua individu seperti yang dialaminya hari ini? Bisa jadi, bukankah pertambahan umur seseorang akan mempengaruhi caranya memandang persoalan baik dirinya sendiri ataupun relasinya dengan individu lain juga kelompok sosial?

Tuuh puluh satu hari ke depan usianya genap empat puluh tahun. Usia yang bagi banyak orang diposisikan sebagai titik balik dalam hidup. Ada kalimat bijak menghibur yang kemudian teringat olehnya bahwa; di usia dua puluhan kita tak peduli omongan orang lain, di usia tiga puluhan kita khawatir dengan omongan orang lain dan di usia empat puluhan kita pun tahu bahwa orang lain tak memikirkan kita. Dia mendengarnya sejak lama walau tidak pernah tahu siapa yang mengatakannya namun jelang usia empat puluh ini dia baru menyadari bahwa kalimat bijak tersebut telah membantunya keluar dari kabut yang menyelimuti pikirannya sepanjang hari.

Bukan lantas ia menganggap perempuan istimewa yang salah mengartikan dirinya adalah orang yang tak peduli tetapi ia lebih memilih bahwa itulah bentuk kepeduliannya menyikapi kejujuran yang sudah diucapkannya. Oleh karenanya ia tak merasa perlu lagi untuk mencari guru privat tutup mulut. Kejujuran dalam komunikasi lebih penting dibanding menutup diri. Jika pun nanti terjadi salah pengertian maka tak perlu menciptakan kabut lagi melainkan terbang ke tempat lebih tinggi agar dapat menertawakan diri sendiri.

21 Oktober 2015

21:27 WIB


lorong panjang di stasiun dan gerbong kereta menarik perhatian saya, di tangan profesional pasti ide visual ini akan menjadi artistik dan menggelitik.

GINTUR DI GUNTUR LAGI

Bagi yang baru kali ini membaca tulisan saya maka perlu diberitahukan bahwa tulisan ini adalah sekuel dari tulisan saya tahun lalu yang bertitel “GINTUR DI GUNTUR”. Bila dalam tulisan terdahulu saya sudah mengurai rute maka pada tulisan ini tidak akan membahasnya lagi. Jadi bila anda berkeinginan untuk mengunjungi Gunung Guntur maka dapat membaca tulisan saya terdahulu untuk mendapat informasi lengkapnya.

Perjalanan ke Guntur kembali ini adalah pertama kalinya dalam sejarah saya, biasanya saya tidak pernah mendatangi tempat yang sama untuk kedua kali atau bahkan lebih. Tetapi kali ini saya memutuskan untuk kembali ke gunung Guntur, hal ini dikarenakan saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri untuk kembali dan menjejakkan kaki ke puncak dua gunung Guntur.

guntur dari kaki gunung

Guntur dari kaki gunung

Puncak dua gunung guntur adalah titik tertinggi dari empat puncak yang ada di gunung ini. Ketinggiannya mencapai 2249 MDPL, dan di puncak dua ini juga terdapat tugu titik GPS. Selain itu di puncak dua ini juga pemandangan kota Garut yang dikelilingi gunung Cikuray dan Papandayan dapat terlihat lebih luas lagi. Namun yang menjadi incaran banyak pendaki tentunya adalah tiadanya hambatan dalam memandang terbitnya matahari. Inilah tujuan pendakian gunung guntur bagi kebanyakan pendaki, temasuk saya.

tugu gps di puncak 2

tugu GPS di puncak 2

Namun bukan itu saja, karena pada alinea sebelumnya saya tuliskan bahwa kembalinya saya ke guntur adalah janji yang sudah saya ucapkan kepada diri sendiri. Apa pentingnya hal tersebut? Toh hanya saya yang tahu janji tersebut, bukan? Lagi pula apa manfaatnya bagi orang lain, khususnya yang membaca tulisan ini?

Buat saya menunaikan janji kepada diri sendiri adalah penting. Karena bila saya tidak mau melunasi janji kepada diri sendiri  maka saya menjadi pribadi yang tidak layak untuk dihomati. Janji adalah hutang yang harus dilunasi, dan walau tak ada saksi sekalipun tetap harus dilunasi. Persoalan kapan waktu melunasinya tidak menjadi soal sepanjang kita tetap berusaha untuk melunasinya. Dan bila melunasinya membuat kita harus menerima konsekwensi tertentu pun harus diterima dengan lapang hati.

jelang puncak 1

jelang puncak 1

Ada sebuah dialog menarik, yang saya saksikan dari sebuah film yang diputar di bis dalam perjalanan pulang dari guntur. Entah judulnya apa tetapi yang jelas lanjutan dari The Lords Of The Ring. Dalam sebuah adegan perundingan antara Bard si pembunuh naga dengan Thorin Oakenshield raja para kurcaci di muka istana Erebor, Thorin bertanya,”Jelaskan padaku kenapa aku harus menghormati perjanjian itu?,” dan jawaban Bard,”Karena kau sudah berjanji.” Tepat seperti itulah bagaimana cara membangun kehormatan diri, dengan menepati janji.

kabut menebal

Kabut menebal

Bila pada tahun lalu, fisik saya tidak sanggup untuk menggapai puncak dua dan saya tahu diri untuk tidak memaksanya. Maka pada tahun ini, untuk merealisasikan janji, saya mempersiapkan fisik sejak berbulan-bulan sebelumnya. Seorang kawan yang merupakan pelatih kebugaran menyatakan bahwa untuk meningkatkan stamina tubuh maka latihan yang harus dijalankan adalah lari. Saya mengikuti saran yang diberikannya. Sejak bulan september saya berlari pada sore hari sebanyak 3-4 kali seminggu dengan jarak 2-3 kilometer.  Tidak berat walau juga tidaklah ringan, namun dengan intensitas latihan berbulan-bulan itu saya berhasil meningkatkan daya tahan tubuh saya sedikit demi sedikit.

Saya mendaki guntur sejak jam 7 pagi, tiba di pos 3 pada jam 10 dan hinggap di puncak 1 pada jam 1 siang. Dari kuantitas waktu tempuh mungkin tidak terlalu jauh dari tahun lalu namun dari segi kebugaran saya merasa tidak terlalu letih seperti dulu. Tepat jam 2 tenda sudah didirikan dan sambil menunggu sore saya makan siang lalu merebahkan diri. Jam 4 sore hujan rintik membangunkan saya dan selanjutnya hingga malam tiba tak ada apapun di langit kecuali kabut tebal, pupus sudah harapan untuk menjadi saksi tenggelamnya matahari untuk terakhir kali di tahun 2016. Tetapi tak apa, harapan kini masih tersisa pada menyaksikan matahari terbit untuk pertama kalinya di tahun 2017.

tendarurat

tendarurat

Tetapi angin menunjukkan kuasanya pada malam tahun baru.  Setiap tenda digoyang dengan ganasnya, walau tak sampai roboh namun cukuplah memberi gambaran betapa dahsyatnya angin malam itu. Saya bergegas menerobos dingin mencari tenda lain yang berjarak sekitar 35-40 meter untuk menemukan kawan-kawan baru sekaligus hangatnya api unggun. Ada 4 tenda yang berkerumun dan ditengahnya terlihat beberapa orang berjuang menyalakan api untuk menanak nasi dan air panas. Saya ikut bergabung dengan mereka, mencoba membantu menyalakan api sekaligus berbincang. Mereka dari Karawang dan tiba dengan kereta di Stasiun Leles, ada 12 orang dan rata-rata berusia  20 tahunan. Mereka tergabung dalam komunitas pecinta alam yang baru berdiri dan ini adalah pengalaman pertama mereka mendaki Guntur. Kami pun bertukar cerita sembari terus berusaha menyalakan api pada tumpukan arang yang mereka bawa. Syukurlah api bisa membara dan mematangkan nasi liwet untuk santap malam serta air panas untuk sajian susu jahe. Hingga jam sebelas malam mereka semua lelah dan memutuskan untuk beristirahat, saya pun pamit sembari menekankan janji esok pagi berangkat bersama ke puncak dua untuk menikmati matahari pertama tahun ini.

secangkir kopi dan kabut

secangkir susu jahe dan kabut

Ditengah perjalanan kembali ke tenda, angin masih dengan gagahnya berkelana ke segala arah. Beruntung masih tersisa hangatnya susu jahe dan api unggun dalam tubuh dan kulitku. Namun demikian serangan bertubi-tubi dari angin malam hingga jelang pagi membuat anusku terus berteriak di sela-sela waktu tidurku, bagusnya tidak disertai bau. Tubuhku menjadi semacam resonator dari angin.

Jam 4 lewat 20 menit, kawan-kawan yang baru kukenal semalam sudah berkerumun di depan tendaku. Mereka tidak memanggil, cukup saling berbicara satu sama lain di muka tenda dan itu sudah cukup untuk membangunkanku. Sepuluh menit kemudian kami pun berangkat menuju puncak masih ditemani dengan derasnya angin. Jalan menanjak sekitar 81 derajat ditambah kecepatan angin yang luar biasa membuat pendakian ini begitu menantangnya. Saya tertinggal di belakang karena beberapa kali berhenti untuk mengisi perut dengan roti yang berada di saku celana dan meminum air di saku sebelahnya lagi. Ini perlu, karena sejak bangun tidur tadi, saya belum memasukkan apa pun ke dalam tubuh sementara pendakian membutuhkan energi yang tidak sedikit. Sekitar 35 menit perjalanan ini akhirnya membawaku ke puncak dua, semburat matahari adalah salah satu pendorongku untuk terus melaju. Karena sia-sialah pendakian ini bila ternyata matahari sudah terbit sebelum saya tiba.

jelang terbit

jelang terbit

Di puncak dua ternyata sudah banyak yang datang, dan ada banyak tenda pula yang berdiri. Padahal serangan angin tiada habisnya di puncak ini. Semua kepala menoleh ke timur, menyaksikan detik demi detik timbulnya matahari sembari berfoto. Bahagia begitu sederhana bagi kami semua pagi itu. Dan tunai sudah janjiku pada diri sendiri untuk berada di puncak dua. Butuh 365 hari untuk melunasinya memang namun saya puas juga bahagia. Puas karena sudah melunasi janji dan bahagia karena menjadi satu dari ratusan pendaki pagi itu yang menjadi penyaksi matahari pertama di tahun 2017.

first sunrise

first sunrise

happiness is so simple

happiness is so simple

tunai sudah janji

tunai sudah janji

matahari pagi 2017

matahari pagi 2017

PADA MULANYA ADALAH IMAJI.

Sekumpulan visual bertumpukan dalam benak, kebanyakan berasal dari apa yang sudah direkam mata selama hidup namun tak sedikit yang merupakan hasil alam bawah sadar yang kerap terepresentasikan dalam mimpi-mimpi dan gestur. Setiap hari sepanjang hayat akan teresepsi semua imaji memenuhi memori, dan semuanya menjadi milik pribadi.

Lalu, apa yang bisa dilakukan dengan aset imaji yang kita miliki?

Untuk itulah seni hadir dalam dunia, ia menjadi wadah untuk mengolah segala imaji nan abstrak mewujud dalam bentuk kreasi yang bisa disaksikan dan dinikmati oleh orang lain.

Seni dalam segala perwujudannya adalah medan komunikasi antara imaji-imaji dalam benak kreator dengan daya apresiasi publik, perangkatnya bisa beraneka tergantung kepada disiplin seni pelakunya.

Imaji ini pula yang menjadi basis penciptaan dari seorang sutradara Jepang, Toshiki Okada, yang disampaikannya dalam lokakarya penyutradaraan pada 14-16 november 2016 di Bale Handap, Selasar Sunaryo Art Space, kota Bandung.

Toshiki Okada adalah sutradara dari kelompok Chelfitsch, yang berdiri sejak 1997. Bersama kelompoknya ini ia memenangkan penghargaan prestisius Kishida Kunio Drama Award ke-49 untuk karyanya berjudul Five Days In March (2005). Karya lainnya seperti Air Conditioner (Cooler) juga mendapat banyak perhatian dalam Toyota Choreography Award 2005. Di tahun 2016 ini ia akan memulai menyutradarai karya-karyanya dalam sebuah program teater di Munich Kammerspiele selama tiga periode ke depan.

Karya-karya pertunjukan Toshiki bersama Chelfitsch dianggap mewakili ‘generasi yang hilang’ di Jepang. Generasi yang paling terpengaruh oleh resesi Jepang di tahun 1990-an, yang harus menghadapi tantangan-tantangan ekonomi dan politik yang tercipta oleh gelembung perekonomian yang meletus (bubble burst) di negerinya.

Metode penciptaan karya-karya teaternya berasal dari pergumulan kreatif para aktor dalam pergumulannya dengan alam bawah sadar mereka yang tersajikan dalam gestur. Sutradara, sekaligus penulis yang dalam kelompok ini adalah Toshiki Okada, memiliki hak prerogatif dalam menentukan pola-pola gesturyang sesuai dengan kebutuhan teks yang tercantum dalam naskah. Dari perkawinan teks dan gestur inilah lahir komunikasi yang terelasi dengan perasaan terasing yang dimiliki penonton. Strategi dramaturgi yang dikembangkan Toshiki Okada ini menempatkannya dalam garda terdepan teater hiperrealis Jepang.

Kehadiran Toshiki Okada di Indonesia kali ini dalam lokakarya penyutradaraan adalah upaya Tim Kurator Art Summit Indonesia 8 guna menjembatani pelaku teater Indonesia dengan pelaku teater dunia. Pertemuan ini ditujukan guna membahas berbagai pendekatan dan wilayah estetika baru serta isu-isu penting seni pertunjukan terkini. Dari festival lokakarya ini akan menjadi bahan untuk membaca kembali peta seni pertunjukan kontemporer sebelum mereposisi Art Summit Indonesia di tengah konstelasi festival-festival seni lainnya di kancah internasional.

 

 

IMAJI.

toshiki-1

Kata Imaji adalah sebuah re-translasi dari ‘Image’ yang di terjemahkan Yoko Nomura dari uraian Toshiki Okada dalam bahasa Jepang. Kata ini menjadi penting untuk diperjelas karena luwesnya bahasa Indonesia dalam referensi padanan kata-kata. Imaji disini adalah semakna dengan yang diurai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu: (1) Sesuatu yang dibayangkan dalam pikiran, bayangan. (2) imajinasi.

Imaji diperlukan sebagai titik pacu dari setiap pengucapan teks dan perlakuan tubuh terhadap teks itu sendiri.

Sebenarnya hal ini adalah sesuatu yang lazim dalam setiap metode penyutradaraan teater, saya ingat akan pelatihan pemeranan yang pertama kali saya ikuti 20 tahun lalu dengan pembicara Rizal Nasti, Andi Bersama dan Dindon WS. Ketiganya mengajarkan pola-pola latihan tubuh yang berbeda namun dengan sebuah kesepahaman bahwa setiap teks yang terlontar dari mulut aktor harus bermuatan imaji agar setiap kalimat menjadi hidup dalam ruang benak penonton.

Pada metode Toshiki Okada, imaji (image) menjadi basis dari pengucapan (speech) dan gestur (movement). Kedua hal yang terakhir adalah medium yang dapat dimengerti penonton pada umumnya dengan sedikit pembeda bahwa yang satu terdengar dan yang lainnya terlihat. Imaji menghidupkan kata-kata dengan memberi muatan riil maupun sureal yang terkandung dalam memori aktor.
Imaji haruslah tergambar dengan jelas dalam benak si aktor, semakin nyata imaji maka akan menambah daya hidup pada teks dan gestur dari aktor. Pada saat imaji tergambarkan maka di saat yang sama aktor wajib mengendalikan posisi agar tetap ‘mendua’ dimana imaji yang ada di benaknya dan relasi dengan penonton yang berada di depannya  menjadi kutub-kutub yang menjaga keseimbangan aktor dalam menyampaikan peran dan pesannya. Bila teks adalah bentuk komunikasi verbal maka gestur adalah komunikasi non-verbal. Keduanya bahu membahu saling melengkapi agar pesan dapat terkomunikasikan dengan baik kepada penonton.

toshiki-3

Guna mempraktikkan apa yang diberikan Toshiki Okada dalam lokakarya ini sebanyak 15 aktor dari seluruh nusantara diajak untuk mengenali kesadaran akan ruang. Para peserta diminta untuk mempresentasikan rumah (entah itu rumah masa kecil, masa kini atau rumah sebatas tempat persinggahan) yang menjadi perwujudan akan ruang yang akrab secara personal dengan para peserta. Satu demi satu peserta maju dan berkisah tentang rumah mereka, Toshiki meminta kepada peserta lain dan pengamat (yang jumlahnya ada 11 orang dan juga dari berbagai daerah) untuk lebih memperhatikan gestur dari setiap peserta yang sedang bercerita.

Perhatian lebih kepada gestur inilah yang membedakan Toshiki Okada bersama kelompoknya jika dibandingkan dengan sutradara dan kelompok teater lainnya. Karena  gestur lebih natural dan tidak dibuat-buat dan gestur yang kaya akan menambah warna dari pementasan, sebagaimana yang terlihat jelas dalam video pementasan Chelfitsch. Setiap aktor memiliki ragam gesturnya yang sangat pribadi dan dengan sendirinya gestur masing-masing aktor akan menjadikan perannya menjadi bagian berharga dari pementasan.

Gestur adalah serangkaian gerak tubuh yang muncul dari respon alam bawah sadar, sedikit berbeda dengan ekspresi-mikro dalam ukuran atau kwantitas manifestasinya. Tubuh yang memiliki imaji yang berlimpah akan berimbas kepada gestur yang ekspresif.  Gestur yang ekspresif tidaklah berarti pergerakan yang berlebihan apalagi berusaha menjelaskan sekonkrit mungkin apa yang tergambar dalam imaji, melainkan pergerakan tubuh yang lahir secara jujur dan alamiah dalam menyikapi imaji.

Sensibilitas peserta terlatih kala mereka  membagi fokus antara mengumpulkan memori tentang rumah dan memberi perhatian kepada gestur peserta lainnya, kepekaan akan situasi ‘mendua’ ini diharapkan juga dapat membantu peserta kala berada di atas panggung.

Kata-kata bukanlah hal yang esensial dalam lokakarya ini, ini dibuktikan pada hari ketiga ketika para peserta saling bertukar ‘rumah’. Mereka tidak meniru apa yang sudah dipresentasikan peserta lain, tetapi mereka memahami ruang-ruang dari peserta lain. Apa yang diucapkan tidaklah menjadi penting, sepanjang detail rumah dapat tergambar jelas di penonton maka itu adalah bagus. Dan karenanya daya konsentrasi dan kekuatan imaji menjadi fundamental dari pelatihan kali ini.

Karena pada mulanya adalah imaji.

`toshiki-2