MENCARI GURU PRIVAT TUTUP MULUT

tutupmulut

Pikiran tersebut melintas dan mengendap dalam benaknya selama dalam perjalanan pulang. Namun dimana mencari guru privat tutup mulut? Apa perlu membuat selebaran dan menempelkannya di tiang-tiang listrik berjejal dengan iklan sedot wc? Atau cukup menuliskannya di laman belanja daring dan menunggu respon via telepon atau surel? Selebaran di tiang listrik atau iklan daring hanya menjawab bagaimana mencarinya namun tidak menuntaskan untuk pertanyaan dimana mencarinya. Lagi pula ada yang lebih mendasar: apa pernah ada guru privat tutup mulut?

Dimanapun, yang namanya guru harus menerangkan sejelas-jelasnya kepada sang murid mengenai apa yang dipelajari. Metodologi pendidikan sudah seperti itu dari zaman dahulu. Ada teori dan ada pula praktik untuk segala hal. Keduanya bertaut dalam upaya memberikan pemahaman menyeluruh kepada murid. Teori tanpa praktik akan membuat murid mengawang, praktik tanpa teori hanya membuat murid tersesat. Akan menjadi baik bila tersesat di jalur yang tepat, banyak yang menyebut itu jalan pintas menuju tuntas, tetapi tidak semua orang diberi anugerah dapat memilih sendiri jalurnya yang tepat. Itulah kenapa ada orang-orang yang memiliki talenta mendidik orang lain agar mampu menemukan jalurnya yang tepat.

Masalahnya adalah apa yang diajarkan seorang guru tutup mulut? Tujuannya jelas, mampu membuat mulut terjaga rapat. Tetapi bagaimana metodologinya? Teori dan praktik tutup mulut belum menjadi ilmu yang sistematis. Teori tutup mulut belum terdefinisikan dengan jelas. Kebanyakan upaya tutup mulut adalah sebatas respon atas suatu permasalahan yang dirasa tidak mampu atau tidak ingin untuk dijawab. Ada pula beberapa kasus tutup mulut yang didramatisir dengan menjahit mulut sebagai upaya mendapat perhatian atas tuntutan yang diajukan. Untuk hal tersebut baru terjadi belakangan ini di kala media memberikan ruang lebih bagi aksi-aksi dramatis yang dilakukan individu dengan tujuan tertentu. Apakah tutup mulut bagian dari ilmu komunikasi? Bila ya maka yang nampak adalah kontradiksi. Bagaimana mungkin mengomunikasikan sesuatu dengan menutup mulut? Bila mengutip frasa “medium is the message” maka itu menjadi mungkin. Tutup mulut menjadi pesan yang ingin dikomunikasikan. Tetapi dalam realita hal tersebut menjadi mengawang, karena tidak adanya relasi interaktif antara komunikator dengan komunikan. Tanpa relasi interaktif maka komunikasi yang terjalin lebih tepat disebut monolog. Penceramah, ulama, guru, aktor, komandan tentara hingga orang gila melakukan komunikasi dalam bentuk monolog dengan tujuan yang berbeda. Mereka menuntut aksi tutup mulut dari sasaran komunikasinya agar apa yang disampaikannya utuh tidak terpotong. Pengecualian mungkin bagi orang gila, karena sepertinya mereka tidak peduli apakah ada yang mendengarkan monolog mereka.

Setiap manusia memiliki kebutuhan untuk bersosial, berinteraksi dengan sesama manusia. Komunikasi menjadi wahana mewujudkan kebutuhan tersebut. Ada beragam komunikasi yang bisa dilakukan, bisa secara verbal melalui bantuan mulut untuk menyuarakan apa yang ingin diungkapkan, bisa pula melalui tulisan bila komunikasi verbal dirasa memiliki keterbatasan seperti yang terjadi pada mereka yang tidak mampu berbicara dengan jelas karena cacat atau karena ada rincian yang sulit dibedakan melalui ujaran. Selain itu ada pula komunikasi yang disampaikan melalui penanda entah itu bahasa tubuh atau kode-kode dengan bantuan alat atau benda. Contoh konkret bentuk komunikasi ini adalah karya seni karena seni mengincar jiwa sebagai sasaran komunikasinya tetapi tidak seperti komunikasi verbal atau tulisan yang jelas dan ringkas maka komunikasi penanda mendapatkan tafsir yang berbeda-beda dari setiap jiwa atau malah bisa saja tidak berarti apapun. Selain itu komunikasi penanda yang disampaikan sebuah karya seni lebih sebatas simulasi dari realitas dan bukan realitas itu sendiri karenanya butuh jiwa dengan wawasan luas dan merdeka untuk mampu mengkonversi penanda-penanda tersebut menjadi komunikasi dialogis dalam realitas sehari-hari. Tutup mulut dapat saja dikategorikan sebagai bentuk komunikasi penanda namun bila itu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari hanya akan menelurkan kevakuman. Dan dalam situasi tersebut sulit terjadi interaksi dialogis.

Masalah lainnya adalah bagaimana praktik pelajaran tutup mulut? Ini pertanyaan yang timbul bila kita memaksakan tutup mulut sebagai suatu komunikasi. Bagaimana guru mengajarkan praktik tutup mulut? Bila ia melakukannya dalam aksi tutup mulut apakah murid memahami cara tepat untuk tutup mulut sebagaimana yang diajarkan? Bila guru mengajarkan tutup mulut dengan kata-kata yang berlimpah justru menjadi kontradiktif seperti yang sudah saya tuliskan di alinea dua cerita ini, bukan?

Ya, ini sebuah cerita. Halaman pembuka seperti yang sudah tertulis di atas mirip kolom, atau artikel yang berisi opini. Padahal saya sedang menulis cerita. Dan tokoh dalam cerita ini masih dipusingkan oleh masalah dimana mencari guru privat tutup mulut. Tidak pernah ada orang di dunia ini yang pernah menjadi guru privat tutup mulut, setidaknya google tidak pernah menemukan data tentang hal tersebut. Lagi pula tidak pernah tercatat ada orang yang membutuhkan guru privat tutup mulut, karena bila ada yang pernah memerlukan maka akan menciptakan peluang kerja sebagai guru privat tutup mulut dan imbasnya bisa jadi akan tercatat di google. Sempat terpikir olehnya untuk mendatangi Limbad, seorang penghibur dalam bidang ilusi yang terkenal dengan aksi tutup mulutnya. Namun jika Limbad mau pasti harganya akan mahal, mungkin seharga mobil sedan mewah. Ini asumsi yang didasari oleh pembacaan atas gaya hidup Limbad itu sendiri yang besar kemungkinan logis. Tetapi Limbad pun sebenarnya menggunakan aksi tutup mulut untuk menonjolkan ilusi kekuatan tenaganya dan bukan sebagai bentuk komunikasi karena dalam banyak kesempatan ia pun berbicara verbal namun dengan berbisik. Kompetensi dan kapabilitas Limbad dirasa belum mencukupi untuk layak dijadikan guru tutup mulut. Karenanya ia pun menyingkirkan pikiran untuk mendatangi Limbad.
Kebutuhan akan guru tutup mulut ini tercetus sebagai refleksi atas kejadian yang dialaminya pagi ini. Ia merasa telah mengatakan kalimat yang membuatnya disalah artikan. Sebenarnya hal ini tidak merisaukan bila orang yang salah mengartikan itu adalah kawan sehari-hari atau malah orang asing, ini menjadi masalah bagi pikirannya karena orang tersebut adalah perempuan yang istimewa di hatinya, seorang yang ingin diberikannya kesan positif dari dirinya. Segala harapan menjadi antiklimaks karena kesalah pahaman. Ia sendiri sebenarnya tidak mengetahui secara tepat kalimat apa yang sudah diucapkannya yang menjadi sumber kesalahpahaman tersebut. Bila anda menduga bahwa ia sudah mengucapkan rasa cinta kepada perempuan istimewa tersebut sebagai sebabnya maka anda keliru. Dialog yang terjadi pagi itu bukanlah komunikasi cinta a la remaja, tetapi interaksi pemikiran mengenai hal-hal yang menjadi interes keduanya. Mereka berdua berada di jalur yang serupa, hanya cara mereka memandang jelas berbeda walaupun tidak bertentangan secara diametral. Tokoh utama dalam cerita ini merasa telah bersikap defensif dalam berkomunikasi, hal itu biasanya terjadi bila dirinya merasa ditekan atau diserang secara verbal. Defensif adalah reaksi alamiahnya dalam menghadapi tekanan atau serangan dari lawan komunikasinya. Dan dalam keadaan defensif tanpa sengaja ia mengeluarkan kalimat-kalimat yang sebenarnya tidak penting untuk diucapkan. Padahal awalnya ia hanya ingin membuka dirinya sebagai seorang yang suka membaca, dalam pengertian filosofis. Tanpa disadari, hasil pembacaannya atas situasi yang terjadi disekitarnya dimaknakan sebagai caranya bersikap. Ia menyesal terlampau jujur dan membiarkan mulutnya terus berbicara tanpa kendali. Bila saja ia mampu menentukan waktu berbicara dan saatnya tutup mulut mungkin perasaan ini tidak membebaninya.

Dua belas stasiun perhentian terasa cepat berlalu, bukan karena ia sedang menaiki kereta rel listrik yang memang melaju pesat tanpa hambatan melainkan karena pergumulan batin yang dialaminya. Untunglah selama perjalanan tidak ada seorangpun yang mengajak berbicara, kota memang dipenuhi orang-orang tanpa komunikasi verbal sejati. Jika pun ada sebatas basa-basi. Bila ada yang mengajaknya bicara mungkin akan timbul kesalahpahaman baru walau kadarnya pasti berbeda dan bisa diabaikan.

Berdasarkan pengalaman ketika baru pindah ke tempat yang dekat dengan stasiun kereta itu, ia juga pernah merasakan kesalahpahaman dengan mereka yang sudah lebih dahulu tinggal di sekitar rumahnya sejak generasi terdahulu orangtuanya. Mereka yang mengidentifikasikan diri sebagai pribumi ini merasa perlu dirajakan oleh orang-orang yang baru tinggal belakangan. Tanpa komunikasi yang interaktif dan saling memahami itulah timbul intimidasi yang direspon dengan perlawanan yang kemudian membesar menjadi tawuran massal antar kelompok. Antara pendatang yang melawan dominasi pribumi. Untunglah itu hanya temporer, untuk kemudian kedua pihak saling menghargai dan malah berkawan karib hingga kini lebih dari dua puluh tahun kemudian di saat mereka juga sama menua.

Tetapi apakah mungkin memori pengalaman kolektif tersebut diaplikasikan dalam memahami situasi dua individu seperti yang dialaminya hari ini? Bisa jadi, bukankah pertambahan umur seseorang akan mempengaruhi caranya memandang persoalan baik dirinya sendiri ataupun relasinya dengan individu lain juga kelompok sosial?

Tuuh puluh satu hari ke depan usianya genap empat puluh tahun. Usia yang bagi banyak orang diposisikan sebagai titik balik dalam hidup. Ada kalimat bijak menghibur yang kemudian teringat olehnya bahwa; di usia dua puluhan kita tak peduli omongan orang lain, di usia tiga puluhan kita khawatir dengan omongan orang lain dan di usia empat puluhan kita pun tahu bahwa orang lain tak memikirkan kita. Dia mendengarnya sejak lama walau tidak pernah tahu siapa yang mengatakannya namun jelang usia empat puluh ini dia baru menyadari bahwa kalimat bijak tersebut telah membantunya keluar dari kabut yang menyelimuti pikirannya sepanjang hari.

Bukan lantas ia menganggap perempuan istimewa yang salah mengartikan dirinya adalah orang yang tak peduli tetapi ia lebih memilih bahwa itulah bentuk kepeduliannya menyikapi kejujuran yang sudah diucapkannya. Oleh karenanya ia tak merasa perlu lagi untuk mencari guru privat tutup mulut. Kejujuran dalam komunikasi lebih penting dibanding menutup diri. Jika pun nanti terjadi salah pengertian maka tak perlu menciptakan kabut lagi melainkan terbang ke tempat lebih tinggi agar dapat menertawakan diri sendiri.

21 Oktober 2015

21:27 WIB

Antara PSI, Kirana Larasati dan Atiek CB

Partai Solidaritas Indonesia, disingkat PSI, Kirana Larasati dan Atiek CB adalah nama-nama yang mendapat sambutan meriah dari massa yang menghadiri Konser Putih Bersatu di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada hari sabtu 13 april 2019. Konser yang sejatinya adalah kampanye akbar calon presiden Joko Widodo dan calon wakil presiden Maruf Amin ini dihadiri ratusan ribu massa yang diindikasikan dengan penuhnya kursi maupun lapangan. Pada saat para caleg yang berasal dari dunia seni tampil ke panggung membawakan lagu Bendera maka massa ikut bersemangat setala dengan ritmenya. Dan ketika wajah Kirana Larasati, salah satu caleg yang tampil, ditayangkan pada layar raksasa maka sontak terdengar gemuruh tepuk tangan dari massa yang lebih riuh.

Hal serupa juga terjadi saat para penyanyi lawas antara lain Silvia Saartje, Ermi Kulit, Atiek CB bahkan komedian Nunung bernyanyi medley lagu-lagu ciptaan Titiek Puspa. Massa bertepuk tangan lebih banyak saat wajah Atiek CB hadir memenuhi layar.

Lalu pada saat Jokowi menyampaikan orasi, dimana ada bagian beliau menyampaikan terima kasih kepada satu persatu partai pendukungnya maka gemuruh tepuk tangan massa kembali membesar kala nama PSI disebut.

Dalam tulisan ini, saya sengaja mengabaikan sambutan meriah yang juga diterima oleh Jokowi, Maruf Amin dan PDI Perjuangan. Hal tersebut karena ketiga nama itu adalah ‘tuan rumah’ acara ini.

Tentu menjadi berbeda dengan aplus riuh yang diterima oleh PSI yaitu partai politik yang baru tahun ini mengikuti pemilu, Kirana Larasati aktris yang baru kali ini menjadi caleg dari PDI Perjuangan dan Atiek CB yang seingat saya baru saat ini bernyanyi dalam momen kampanye politik.

Lalu adakah relasi ketiganya dengan politik Indonesia kini dan mendatang?

PSI, sebagaimana sudah saya tulis di atas, adalah partai yang baru pertama kali mengikuti pemilu dan sejak awal kemunculannya mereka sudah menyasar segmen generasi milenial. Grace Natalie Louisa, mantan jurnalis dan news anchor, sang ketua umum selalu menyapa pengurus dan anggota PSI dengan panggilan Bro dan Sis. Sapaan kekinian ini mengindikasikan upaya mereka menjadi partainya generasi milenial. Ini bukan yang pertama dalam sejarah politik Indonesia. Pada era awal reformasi, PRD membiasakan sapaan Coy bagi sesama anggotanya. Sebuah panggilan khas anak muda di era itu. Upaya PRD dulu dan PSI kini memang menggoyang formalitas dalam situasi partai politik namun hal itu lebih disukai generasi muda.

Kirana Larasati adalah calon legislatif dari partai mapan dengan garis ideologi kuat. Tetapi, entah PDI Perjuangan yang meminang atau Kirana Larasati yang mendaftar, dengan pencalegannya maka diharapkan Kirana bisa meraih suara generasi milenial karena mereka lebih akrab dengan kiprahnya dalam dunia seni.

Yang agak berbeda adalah Atiek CB. Karena ia tak terlibat dalam politik praktis, bahkan dalam jagad musik pun ia lama vakum karena tinggal di Amerika Serikat, namun saat ia tampil perdana dalam kampanye politik ternyata banyak massa masih mengingatnya dan memberi sambutan meriah. Saya menduga massa yang bertepuk tangan untuknya berasal dari generasi pra-milenial yang ditandai dengan usia 35 tahun ke atas. Asumsinya mereka berusia minimal sekolah menengah saat popularitas Atiek CB berada di puncak pada pertengahan 90-an.

Dari uraian singkat di atas maka bisa disimpulkan bahwa aplus riuh yang diterima PSI dan Kirana Larasati berasal dari generasi milenial dan sambutan bagi Atiek CB datang dari generasi pra-milenial.

Generasi muda yang jumlahnya melimpah dan terus bertambah di masa kini dan mendatang menjadi penting bagi partai politik untuk bisa meraih simpatinya. Identifikasi milenial selain dalam batasan usia adalah perilaku mereka yang dipengaruhi oleh teknologi informasi yang melingkupi hidup mereka. Pola perilaku milenial yang terbaca oleh saya adalah kecenderungan mereka untuk bersikap non-ideologis. Ideologi yang kaku membuat milenial merasa beku dan efeknya dinamika mereka terpaku.

Pesatnya teknologi informasi juga memacu pola perilaku generasi milenial dalam kultur visual. Mereka mudah tertarik oleh apa yang terlihat mata. Indera ini menjadi alat dominan untuk menentukan tingkat ketertarikan mereka ke level selanjutnya.

Milenial juga senang akan hiburan, segala sesuatu yang menimbulkan kegembiraan bahkan walau itu ekstrim dari aspek etika seperti asyik menyendiri bersama permainan di ponselnya. Bagi mereka, hiburan itu penting.

Dan kajian singkat milenial di atas tentu menjadi tantangan bagi partai politik untuk berbenah.

Fleksibilitas menjadi penting bagi partai, baik yang oportunis mau pun ideologis. Tidak berarti ideologi menjadi tidak penting namun mengemas dan mengkomunikasikan ideologi dalam bahasa visual yang tidak kaku akan menarik bagi generasi muda.

Mengubah citra partai juga prioritas yang harus dilakukan. Sebuah upaya keras dari partai agar citra institusi yang korup dan hanya untuk orang tua yang selama ini ada dalam benak milenial harus menjadi tantangan untuk diubah.

Kurikulum pendidikan politik bagi kader yang lebih santai dan interaktif namun tetap dalam koridor ideologi adalah salah satu cara untuk mengubah citra partai.

Selain itu, alih generasi juga menjadi urgensi guna mengubah citra bahwa partai juga milik anak muda dan bukan hanya orang tua. Untuk itu kursi-kursi kepengurusan bahkan ketua umum harus dialihkan kepada generasi berusia 50 tahun ke bawah sehingga partai bisa memahami bagaimana cara meraih hati pemilih muda usia sekaligus mengkomunikasikan ideologi atau garis perjuangan partainya.

Bila segala tantangan tersebut dijawab oleh partai maka akan terbentuk citra bahwa partai juga ramah terhadap generasi muda.

Selain itu partai juga memang harus adaptif dengan perkembangan zaman yang kini justru banyak dipelopori oleh kaum muda.

Dan terakhir, partai menjadi menarik bagi publik sehingga mereka tak segan akan memberikan aplus meriah kepada partai politik sebagaimana yang diterima PSI, Kirana Larasati dan Atiek CB.

Musuh Demokrasi Bukan Golput Tapi Rasa Takut

Judul yang saya pilih sebenarnya sudah mencerminkan seluruh kalimat dalam tulisan ini dan titik berangkatnya adalah mulai riuhnya eksistensi golput dalam pemilu 2019. Namun, tentunya, apa riuh tersebut ekuivalen dengan jumlah golput dalam pemilu nanti akan dibuktikan dengan hasil penghitungan suara oleh KPU.

Golput atau Golongan Putih diinisiasi oleh Arief Budiman sejak pemilu 1971 dimana dalam prakteknya sengaja mencoblos bidang putih di surat suara yang tentunya dihitung sebagai suara tidak sah. Jadi, golput adalah pemilih yang hadir dan menggunakan suaranya dengan sengaja menjadi tidak sah. Sikap politik ini diambil lantaran aspirasinya tidak sejalan dengan partai-partai yang ada. Di pemilu 1971 terdapat 10 partai politik dan Golkar sebagai peserta pemilu dan di pemilu ini pula proses kurasi oleh negara dilakukan setelah sebelumnya pembasmian terhadap PKI dan partai kiri lainnya oleh penguasa militer. Kurasi ini tidak memuaskan Arief Budiman dkk sehingga mereka memilih untuk bersikap golput.

Penulis pun pernah memilih golput dan itu terjadi di pemilu pertama yang saya ikuti di tahun 1997. Setahun sebelumnya terjadi Kerusuhan 27 Juli, sebuah proyek pengerdilan PDI oleh negara demi mengamankan kembali aklamasinya MPR memilih Soeharto sebagai Presiden dan wakil presiden yang ia kehendaki. Suara PDI bentukan pemerintah anjlok drastis di pemilu dan yang mendapat limpahan suara adalah PPP lewat kampanye Mega-Bintang yang dimotori Moedrik Sangidu. Saya membaca situasi politik saat itu adalah sebuah kesia-siaan karena hasilnya sudah kelihatan. Pemilu menjadi basa-basi berbiaya tinggi. Saat pagi di hari pencoblosan, saya dihampiri oleh Ketua TPS yang meminta saya menjadi saksi PDI yang saya tolak karena saya bukan anggota atau kader PDI dan saya juga tidak memiliki surat mandat sebagai saksi dari PDI, lagipula bukan tugas ketua TPS menunjuk saksi secara sepihak karena itu otoritas Partai. Di pemilu 1999 yang meriah juga saya sebagai Koordinator Politik di Kecamatan yang mengordinasikan kawan-kawan saksi memberi kebebasan untuk boleh golput sejalan dengan instruksi dari Komite Pimpinan Pusat, namun agar tidak ganjil maka saya yang menjadi saksi di wilayah lain saat itu mencoblos juga karena akan janggal bila ada saksi tapi tidak ada suara, minimal suara si saksi itu sendiri. Pada pemilu 2004 dan 2009 saya kembali memilih golput karena kontestasi diikuti pemain lama yang tak mungkin juga menawarkan kebaruan. Barulah di tahun 2014 saya akhiri sikap golput karena ada situasi membahayakan dengan kebangkitan fasisme yang di tahun 2011 saya ekspresikan dalam rangkaian monolog berjudul “Hitler For President”. Bermain di berbagai tempat saya mencoba mengedukasi masyarakat untuk tidak mudah termakan orasi berapi-api sang demagog yang dipenuhi jargon retoris populis. Cukuplah saya sedikit berpromosi tentang kiprah seni yang saya lakukan dan kini kita kembali ke bahasan soal golput.

Ada beberapa jenis golput yang saya dapati. Yang pertama adalah golput ideologis yang saya pecah menjadi golput ideologis rasional dan yang irrasional. Pemilahan ini subyektif karena bagi golput ideologis irrasional maka yang rasional itu justru irrasional. Golput ideologis adalah mereka yang memiliki kesadaran untuk tidak memilih karena pilihan yang ada tidak mungkin mereka pilih. Pembeda antara rasional dan yang irrasional bagi saya terjadi begitu saya menemukan pamflet HTI (sebelum mereka dinyatakan terlarang oleh MA) yang menilai pemerintahan ini thogut dan oleh sebab itu pemilu (utamanya menyasar sistem demokrasi) tidak boleh diikuti. Bagi HTI, pilihan diluar mereka adalah irrasional sedangkan bagi saya justru sikap HTI itu justru irrasional dan inilah kenapa tadi saya tulis bahwa pemilahan golput ideologis rasional dan irrasional adalah subyektif.

Golput lainnya adalah karena administratif yang saya pisah menjadi dua yaitu sengaja dan tidak sengaja. Golput administratif yang disengaja terjadi pada mereka yang pindah domisili namun belum melaporkan kepindahannya di tempat tinggal sebelumnya dan ini berakibat nama mereka tercantum di DPT pada dua wilayah. Hingga 2014 kasus ini saya temui di lingkungan saya sehingga membuat saya pernah mengeluarkan pernyataan lewak facebook bahwa, “..andai semua pemilih di Indonesia hadir mencoblos pun akan tetap ada golput”. Sedangkan golput administratif yang tidak sengaja terjadi karena belum menerima e-ktp karena ketiadaan blanko, belum merekam data karena pasifnya pemerintah dalam sosialisasi dan juga mereka yang sudah meninggal dunia namun masih tercatat di DPT. Kasus semacam itu pun hingga 2014 masih saya temui di lingkungan saya.

Jenis golput yang terakhir adalah golput intimidatif, ini adalah tipe orang yang merasa takut untuk memilih atau tidak memilih. Kasus ini mencuat sejak 2016 di Pilkada DKI dimana ada mobilisasi massa dari luar Jakarta yang membuat pemilih di wilayah tertentu menjadi takut yang imbasnya dirasakan paslon dengan turunnya jumlah suara yang didapat pada Pilkada putaran kedua. Tidak tertutup kemungkinan hal serupa akan terjadi di pemilu kali ini.

Dari klasifikasi golput di atas, lalu bagaimana menekan jumlahnya dan menjadi tanggung jawab siapa? Anda tidak perlu menjawabnya karena itu retoris. Tentunya sukses tidaknya pemilu menjadi tanggung jawab semua pihak. KPU sebagai penyelenggara harus maksimal dan kreatif dalam bersosialisasi agar informasi soal pemilu tersebar merata dan dipahami. Partai politik juga wajib berperan aktif dalam memobilisasi anggota, kader dan simpatisannya untuk hadir dan menggunakan hak suaranya. Negara memiliki tanggung jawab dalam memfasilitasi segala hal yang diperlukan untuk mengadakan dan mengamankan jalannya pemilu. Selain mereka juga masyarakat menjadi bagian vital dari kesuksesan pemilu yang diindikasikan dengan tingginya tingkat partisipasi dalam semua tahapan pemilu.

Bagaimana efektivitas dari peranan semua pihak dalam mengurangi jumlah golput? Tentu, ini masih pertanyaan retoris yang akan saya jawab sendiri. Bagi golput ideologis rasional maka kinerja dan transparansi dari hasil pemilu, yaitu eksekutif dan legislatif, akan menjadi landasan bagi mereka untuk bersikap di pemilu selanjutnya. Sedangkan untuk golput ideologis irrasional, HTI dan simpatisannya, maka akan butuh waktu lebih lama lagi dan itu harus melewati semacam proses deindoktrinasi.

Mereka yang menjadi golput administratif, baik yang disengaja atau tidak, hanya bisa diselesaikan melalui jalur kependudukan yang ditandai dengan sudah 100% rakyat memiliki Nomor Induk Kependudukan yang dibuktikan dengan kepemilikan e-ktp. Untuk jangka pendek Mahkamah Konstitusi juga sudah memutuskan bahwa surat keterangan dari kelurahan bisa sebagai pengganti e-ktp.

Yang paling sulit tingkat keberhasilannya adalah mengurangi jumlah golput intimidatif. Hal tersebut butuh kematangan berpolitik dari elit yang tidak memanfaatkan kampanye untuk agitasi, provokasi dan misinformasi. Agitasi melahirkan kebencian, provokasi mewujudkan kekerasan dan misinformasi menetaskan kebohongan yang kesemuanya tidak berguna bagi rakyat selain meningkatkan apatisme dan menjadikan golput sebagai solusi yang dipilih.

Jaminan dari aparat TNI-POLRI akan keamanan dan perlindungan juga diperlukan agar mereka yang takut karena termakan isu kerusuhan saat pemilu bisa berani dan menentukan sikap.

Karena pemilu adalah pesta demokrasi yang menjadi tak berguna bila disikapi dengan ketakutan.