MENCARI GURU PRIVAT TUTUP MULUT

tutupmulut

Pikiran tersebut melintas dan mengendap dalam benaknya selama dalam perjalanan pulang. Namun dimana mencari guru privat tutup mulut? Apa perlu membuat selebaran dan menempelkannya di tiang-tiang listrik berjejal dengan iklan sedot wc? Atau cukup menuliskannya di laman belanja daring dan menunggu respon via telepon atau surel? Selebaran di tiang listrik atau iklan daring hanya menjawab bagaimana mencarinya namun tidak menuntaskan untuk pertanyaan dimana mencarinya. Lagi pula ada yang lebih mendasar: apa pernah ada guru privat tutup mulut?

Dimanapun, yang namanya guru harus menerangkan sejelas-jelasnya kepada sang murid mengenai apa yang dipelajari. Metodologi pendidikan sudah seperti itu dari zaman dahulu. Ada teori dan ada pula praktik untuk segala hal. Keduanya bertaut dalam upaya memberikan pemahaman menyeluruh kepada murid. Teori tanpa praktik akan membuat murid mengawang, praktik tanpa teori hanya membuat murid tersesat. Akan menjadi baik bila tersesat di jalur yang tepat, banyak yang menyebut itu jalan pintas menuju tuntas, tetapi tidak semua orang diberi anugerah dapat memilih sendiri jalurnya yang tepat. Itulah kenapa ada orang-orang yang memiliki talenta mendidik orang lain agar mampu menemukan jalurnya yang tepat.

Masalahnya adalah apa yang diajarkan seorang guru tutup mulut? Tujuannya jelas, mampu membuat mulut terjaga rapat. Tetapi bagaimana metodologinya? Teori dan praktik tutup mulut belum menjadi ilmu yang sistematis. Teori tutup mulut belum terdefinisikan dengan jelas. Kebanyakan upaya tutup mulut adalah sebatas respon atas suatu permasalahan yang dirasa tidak mampu atau tidak ingin untuk dijawab. Ada pula beberapa kasus tutup mulut yang didramatisir dengan menjahit mulut sebagai upaya mendapat perhatian atas tuntutan yang diajukan. Untuk hal tersebut baru terjadi belakangan ini di kala media memberikan ruang lebih bagi aksi-aksi dramatis yang dilakukan individu dengan tujuan tertentu. Apakah tutup mulut bagian dari ilmu komunikasi? Bila ya maka yang nampak adalah kontradiksi. Bagaimana mungkin mengomunikasikan sesuatu dengan menutup mulut? Bila mengutip frasa “medium is the message” maka itu menjadi mungkin. Tutup mulut menjadi pesan yang ingin dikomunikasikan. Tetapi dalam realita hal tersebut menjadi mengawang, karena tidak adanya relasi interaktif antara komunikator dengan komunikan. Tanpa relasi interaktif maka komunikasi yang terjalin lebih tepat disebut monolog. Penceramah, ulama, guru, aktor, komandan tentara hingga orang gila melakukan komunikasi dalam bentuk monolog dengan tujuan yang berbeda. Mereka menuntut aksi tutup mulut dari sasaran komunikasinya agar apa yang disampaikannya utuh tidak terpotong. Pengecualian mungkin bagi orang gila, karena sepertinya mereka tidak peduli apakah ada yang mendengarkan monolog mereka.

Setiap manusia memiliki kebutuhan untuk bersosial, berinteraksi dengan sesama manusia. Komunikasi menjadi wahana mewujudkan kebutuhan tersebut. Ada beragam komunikasi yang bisa dilakukan, bisa secara verbal melalui bantuan mulut untuk menyuarakan apa yang ingin diungkapkan, bisa pula melalui tulisan bila komunikasi verbal dirasa memiliki keterbatasan seperti yang terjadi pada mereka yang tidak mampu berbicara dengan jelas karena cacat atau karena ada rincian yang sulit dibedakan melalui ujaran. Selain itu ada pula komunikasi yang disampaikan melalui penanda entah itu bahasa tubuh atau kode-kode dengan bantuan alat atau benda. Contoh konkret bentuk komunikasi ini adalah karya seni karena seni mengincar jiwa sebagai sasaran komunikasinya tetapi tidak seperti komunikasi verbal atau tulisan yang jelas dan ringkas maka komunikasi penanda mendapatkan tafsir yang berbeda-beda dari setiap jiwa atau malah bisa saja tidak berarti apapun. Selain itu komunikasi penanda yang disampaikan sebuah karya seni lebih sebatas simulasi dari realitas dan bukan realitas itu sendiri karenanya butuh jiwa dengan wawasan luas dan merdeka untuk mampu mengkonversi penanda-penanda tersebut menjadi komunikasi dialogis dalam realitas sehari-hari. Tutup mulut dapat saja dikategorikan sebagai bentuk komunikasi penanda namun bila itu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari hanya akan menelurkan kevakuman. Dan dalam situasi tersebut sulit terjadi interaksi dialogis.

Masalah lainnya adalah bagaimana praktik pelajaran tutup mulut? Ini pertanyaan yang timbul bila kita memaksakan tutup mulut sebagai suatu komunikasi. Bagaimana guru mengajarkan praktik tutup mulut? Bila ia melakukannya dalam aksi tutup mulut apakah murid memahami cara tepat untuk tutup mulut sebagaimana yang diajarkan? Bila guru mengajarkan tutup mulut dengan kata-kata yang berlimpah justru menjadi kontradiktif seperti yang sudah saya tuliskan di alinea dua cerita ini, bukan?

Ya, ini sebuah cerita. Halaman pembuka seperti yang sudah tertulis di atas mirip kolom, atau artikel yang berisi opini. Padahal saya sedang menulis cerita. Dan tokoh dalam cerita ini masih dipusingkan oleh masalah dimana mencari guru privat tutup mulut. Tidak pernah ada orang di dunia ini yang pernah menjadi guru privat tutup mulut, setidaknya google tidak pernah menemukan data tentang hal tersebut. Lagi pula tidak pernah tercatat ada orang yang membutuhkan guru privat tutup mulut, karena bila ada yang pernah memerlukan maka akan menciptakan peluang kerja sebagai guru privat tutup mulut dan imbasnya bisa jadi akan tercatat di google. Sempat terpikir olehnya untuk mendatangi Limbad, seorang penghibur dalam bidang ilusi yang terkenal dengan aksi tutup mulutnya. Namun jika Limbad mau pasti harganya akan mahal, mungkin seharga mobil sedan mewah. Ini asumsi yang didasari oleh pembacaan atas gaya hidup Limbad itu sendiri yang besar kemungkinan logis. Tetapi Limbad pun sebenarnya menggunakan aksi tutup mulut untuk menonjolkan ilusi kekuatan tenaganya dan bukan sebagai bentuk komunikasi karena dalam banyak kesempatan ia pun berbicara verbal namun dengan berbisik. Kompetensi dan kapabilitas Limbad dirasa belum mencukupi untuk layak dijadikan guru tutup mulut. Karenanya ia pun menyingkirkan pikiran untuk mendatangi Limbad.
Kebutuhan akan guru tutup mulut ini tercetus sebagai refleksi atas kejadian yang dialaminya pagi ini. Ia merasa telah mengatakan kalimat yang membuatnya disalah artikan. Sebenarnya hal ini tidak merisaukan bila orang yang salah mengartikan itu adalah kawan sehari-hari atau malah orang asing, ini menjadi masalah bagi pikirannya karena orang tersebut adalah perempuan yang istimewa di hatinya, seorang yang ingin diberikannya kesan positif dari dirinya. Segala harapan menjadi antiklimaks karena kesalah pahaman. Ia sendiri sebenarnya tidak mengetahui secara tepat kalimat apa yang sudah diucapkannya yang menjadi sumber kesalahpahaman tersebut. Bila anda menduga bahwa ia sudah mengucapkan rasa cinta kepada perempuan istimewa tersebut sebagai sebabnya maka anda keliru. Dialog yang terjadi pagi itu bukanlah komunikasi cinta a la remaja, tetapi interaksi pemikiran mengenai hal-hal yang menjadi interes keduanya. Mereka berdua berada di jalur yang serupa, hanya cara mereka memandang jelas berbeda walaupun tidak bertentangan secara diametral. Tokoh utama dalam cerita ini merasa telah bersikap defensif dalam berkomunikasi, hal itu biasanya terjadi bila dirinya merasa ditekan atau diserang secara verbal. Defensif adalah reaksi alamiahnya dalam menghadapi tekanan atau serangan dari lawan komunikasinya. Dan dalam keadaan defensif tanpa sengaja ia mengeluarkan kalimat-kalimat yang sebenarnya tidak penting untuk diucapkan. Padahal awalnya ia hanya ingin membuka dirinya sebagai seorang yang suka membaca, dalam pengertian filosofis. Tanpa disadari, hasil pembacaannya atas situasi yang terjadi disekitarnya dimaknakan sebagai caranya bersikap. Ia menyesal terlampau jujur dan membiarkan mulutnya terus berbicara tanpa kendali. Bila saja ia mampu menentukan waktu berbicara dan saatnya tutup mulut mungkin perasaan ini tidak membebaninya.

Dua belas stasiun perhentian terasa cepat berlalu, bukan karena ia sedang menaiki kereta rel listrik yang memang melaju pesat tanpa hambatan melainkan karena pergumulan batin yang dialaminya. Untunglah selama perjalanan tidak ada seorangpun yang mengajak berbicara, kota memang dipenuhi orang-orang tanpa komunikasi verbal sejati. Jika pun ada sebatas basa-basi. Bila ada yang mengajaknya bicara mungkin akan timbul kesalahpahaman baru walau kadarnya pasti berbeda dan bisa diabaikan.

Berdasarkan pengalaman ketika baru pindah ke tempat yang dekat dengan stasiun kereta itu, ia juga pernah merasakan kesalahpahaman dengan mereka yang sudah lebih dahulu tinggal di sekitar rumahnya sejak generasi terdahulu orangtuanya. Mereka yang mengidentifikasikan diri sebagai pribumi ini merasa perlu dirajakan oleh orang-orang yang baru tinggal belakangan. Tanpa komunikasi yang interaktif dan saling memahami itulah timbul intimidasi yang direspon dengan perlawanan yang kemudian membesar menjadi tawuran massal antar kelompok. Antara pendatang yang melawan dominasi pribumi. Untunglah itu hanya temporer, untuk kemudian kedua pihak saling menghargai dan malah berkawan karib hingga kini lebih dari dua puluh tahun kemudian di saat mereka juga sama menua.

Tetapi apakah mungkin memori pengalaman kolektif tersebut diaplikasikan dalam memahami situasi dua individu seperti yang dialaminya hari ini? Bisa jadi, bukankah pertambahan umur seseorang akan mempengaruhi caranya memandang persoalan baik dirinya sendiri ataupun relasinya dengan individu lain juga kelompok sosial?

Tuuh puluh satu hari ke depan usianya genap empat puluh tahun. Usia yang bagi banyak orang diposisikan sebagai titik balik dalam hidup. Ada kalimat bijak menghibur yang kemudian teringat olehnya bahwa; di usia dua puluhan kita tak peduli omongan orang lain, di usia tiga puluhan kita khawatir dengan omongan orang lain dan di usia empat puluhan kita pun tahu bahwa orang lain tak memikirkan kita. Dia mendengarnya sejak lama walau tidak pernah tahu siapa yang mengatakannya namun jelang usia empat puluh ini dia baru menyadari bahwa kalimat bijak tersebut telah membantunya keluar dari kabut yang menyelimuti pikirannya sepanjang hari.

Bukan lantas ia menganggap perempuan istimewa yang salah mengartikan dirinya adalah orang yang tak peduli tetapi ia lebih memilih bahwa itulah bentuk kepeduliannya menyikapi kejujuran yang sudah diucapkannya. Oleh karenanya ia tak merasa perlu lagi untuk mencari guru privat tutup mulut. Kejujuran dalam komunikasi lebih penting dibanding menutup diri. Jika pun nanti terjadi salah pengertian maka tak perlu menciptakan kabut lagi melainkan terbang ke tempat lebih tinggi agar dapat menertawakan diri sendiri.

21 Oktober 2015

21:27 WIB

Iklan

Cinta

Masih dalam rangkaian merayakan bulan penuh cinta ini saya memainkan lagu lawas milik Vina Panduwinata yang berjudul Cinta.
Lagu ini sering saya dengar waktu kecil dari radio tetangga dan terdengar melodius sehingga tersimpan rapi dalam memori saya.
Selamat merayakan cinta.

Love of my life

Februari adalah bulan yang dipenuhi cinta dan untuk turut merayakan cinta dalam keseharian maka saya membawakan lagu klasik milik kelompok legendaris Queen yang berjudul Love of my life dengan gaya fingerstyle dan aransemen a la Extreme pada penutupnya.

Selamat menikmati dan merayakan cinta.

DISANA GUNUNG, DI SITU GUNUNG

Awalnya saya ingin menaiki gunung Gede-Pangrango yang berada di Sukabumi. Namun saat riset di https://booking.gedepangrango.org ternyata gunung tersebut  ditutup hingga bulan maret 2019. Batalnya rencana ke gunung Gede-Pangrango tersebut menyebabkan aku harus mencari substitusinya dalam waktu singkat. Pilihan yang diambil adalah ke Situ Gunung yang juga berada di dalam kawasan Taman Nasional Gede-Pangrango.

KRONOLOGIKA

Berangkat tanggal 31 Desember 2018 jam 5 pagi, masih sempat kunikmati matahari terbit yang terakhir di tahun itu di stasiun Poris. Dengan kereta kulintasi jalur hingga ke Bogor. Di perjalanan ini saya bertemu dengan kakak yang hendak berangkat kerja. Ia menanyakan rencanaku untuk mengetahui  tujuan dan berapa lama di tempat tujuan. Kami berbincang hingga stasiun Cawang yang menjadi  rute  rutinnya tiba. Dan selanjutnya hingga Bogor kuhemat energi dengan tidur.

Sekitar jam 8 tiba di Bogor aku mencari angkot 03 jurusan terminal Baranangsiang untuk melanjutkan perjalanan. Sesampainya di muka terminal, ku isi dulu perut dengan gado-gado sambil membeli air mineral ukuran 1,5 liter guna bekal nanti di tenda.

Setengah jam kemudian sesudah kenyang aku menghentikan mobil elf jurusan Sukabumi. Dengan waktu tempuh sekitar 2 jam lebih maka kembali kuhemat tenaga dengan tidur. Hingga kemudian tiba di persimpangan jalan dengan Polsek Cisaat di tepinya saya pun turun.  Melihat beberapa polisi berbincang di muka polsek, kuhampiri guna menanyakan arah tujuan. Dengan ramah mereka menunjukkan jalan di sebelah polsek yang menuju arah Pasar Cisaat, tempat angkot berwarna merah siap mengantar siapa pun yang hendak ke Situ Gunung. Pasar Cisaat berjarak sekitar 200 meter dari polsek Cisaat, yang dimaksud terminal disini adalah sebuah putaran dimana angkot jurusan Cisaat memutar balik. Dan angkot berwarna merah adalah kendaraan umum dengan rute Situ Gunung-Cisaat.

Saya tidak tahu berapa ongkosnya untuk itu saya memberikan 50.000 kepada sopir yang memberi kembalian 35.000. Baiklah, dengan penumpang yang dari jauh dan tinggal seorang maka saya menjadi target empuk sopir untuk menarik tarif melebihi semestinya. Taksiran saya sewajarnya tarif maksimal 10.000 tapi tak mengapa bila itu memberi manfaat baginya.

Siang itu, depan gerbang Taman Nasional Gede-Pangrango sudah mulai dipadati kendaraan pribadi. Angkot yang saya tumpangi juga memilih berputar sebelum gerbang, sekitar 100 meter jauhnya. Saya pun turun dan berjalan dari situ. Di depan loket, seorang petugas yang melihat menanyakan apa saya hendak berkemah dan ketika saya mengiyakan ia segera meminta saya ke sebuah tempat berjarak 20 meter untuk menemui seseorang disana.

Di tempat yang ditunjukan saya menuju dan di dalamnya ada dua orang yang meminta saya membayar 35.000 sembari menyebut bahwa yang tertera dalam tiket adalah 29.000 dan ditambah 6.000 untuk biaya lokasi kemah. [1] Baiklah, bau pungli merebak dan saya masih anggap itu sumbangan sukarela tetapi yang sedikit mengecewakan adalah tidak dicatatnya saya sebagai wisatawan yang hendak berkemah. Ini di luar kebiasaan,  di tempat lain biasanya para pendaki wajib mendaftarkan diri lengkap dengan alamat dan melampirkan kopi KTP atau malah menahan KTP asli untuk selanjutnya memaksa kita untuk melapor kembali saat hendak pulang. Ini bertujuan untuk mengetahui dengan pasti berapa orang yang mendaki dan kembali dengan selamat sehingga nilai pertanggungan jiwa melalui asuransi bila pendaki terluka atau meninggal bisa diklaim karena data diri tercatat di petugas. Hal inilah yang mengecewakan, karena walau saya resmi membayar namun bila terjadi kecelakaan atau yang lebih parah maka akan sulit bagiku untuk mengklaim asuransi karena bukti berupa selembar tiket kosong yang kemudian rentan robek karena hujan atau bahkan hilang dan tidak adanya data diri saya di buku pengelola.

Dari ruangan itu juga  ditunjukkan jalan menuju area perkemahan Bagedor yang tidak jauh letaknya dari gerbang. Sekitar 10 menit berjalan menaiki tangga batu tibalah di area yang dimaksud. Namun kakiku  ingin menjelajahi wilayah perkemahan tersebut sehingga terus ke atas. Tiba saya di Bungbuoy, yang berjarak 10 menit dari Bagedor. Di Bungbuoy situasinya lebih nyaman dengan tenda-tenda besar tertata rapi walau kamar mandinya maih belum selesai. Dibanding dengan Bagedor maka aku lebih memilih Bungbuoy dan  segera kutemukan lokasi tenda yang terletak di muka area tersebut. Dengan bantuan dahan-dahan yang banyak ditemukan saya segera membangun tiang untuk tenda. Sayangnya begitu tenda hampir berdiri seorang karyawan, yang sebelumnya kutemui di kamar mandi yang belum jadi tadi, meminta untuk tidak mendirikan tenda di wilayah itu karena Bungbuoy sudah disewa untuk acara pada malam harinya. Ia meminta saya kembali ke Bagedor, dan dengan sedikit kesal kubongkar kembali tenda yang nyaris berdiri dan balik ke Bagedor.

Saya menemukan lokasi yang cocok walau tidak sesuai ekspektasi. Karena tenda yang ideal buatku harus agak menjauh dari tenda lainnya agar terasa kesepiannya. Di Bagedor lumayan agak rapat posisinya. Saya memilih di ujung dalam bagian atas tepat disamping tangga semen menuju area tengah. Ada empat undakan yang bisa menjadi opsi bagi para pekemah untuk memarkirkan tendanya dan kupilih paling atas walau resikonya jauh dari kamar mandi yang berada di undakan bawah.

Ada tiga tenda yang menjadi tetangga. Dua tenda sedang sepi sedang satu tenda ramai diisi satu keluarga yang datang dari Cengkareng. Dengan formasi ayah-ibu dan tiga anak remaja maka tenda tersebut cukup sesak namun disitulah yang menjadi tujuan si bapak yang ingin keakraban antar keluarga terjalin makin erat. Si bapak punya cerita menarik bahwa ia masuk di pagi hari saat petugas loket belum hadir dan ia langsung ke area perkemahan. Ia masuk tanpa dikenakan biaya dan itu karena kesalahan petugas. Ia ingin membayar tapi kepada siapa ia tak temukan orangnya, namun begitu mengetahui bahwa membayar pun tak akan dicatat maka ia santai saja menikmati liburan keluarganya.

Tenda kubuat sendiri dan berupa bivak yang hanya memerlukan dua tiang sebagai titik tumpunya.  Sudah kutemukan satu batang pohon yang kuat dengan tinggi semeter maka tinggal kucari satu dahan tambahan untuk tiang belakang tenda yang kutemukan tidak jauh dari lokasi. Setelah tegak berdiri rupanya alam perlu mengujinya dengan menurunkan hujan. Lumayan deras dan memaksaku berdiam di dalam tenda yang rupanya tertembus butiran hujan.Alhasil hujan membuat saya harus mengevaluasi posisi plastik penutup atap agar arah jatuhnya air mulus ke tanah. Hingga sore belumlah reda, jadwal minum kopi pun berlangsung di tengah hujan.  Tak ada foto-foto saat  itu karena tidak memungkinkan. Lebih baik waktu kugunakan untuk memasak mi instan. Kali ini kugunakan kompor dari kaleng bekas cat dengan bahan bakar briket yang kubuat sendiri dari sampah daun, kertas dan ranting. Dengan empat buah briket ukuran 4 cm dan diameter 2,5 cm cukup untuk memasak mi dan air panas untuk kopi. Hanya memakan waktu kurang dari 10 menit mi telah siap saji dan kopi sudah diseduh untuk dinikmati.

Karena malam masih dihiasi hujan walau agak mereda, maka saya banyak mengisinya dengan tidur. Hingga tengah malam saya dikagetkan oleh letusan kembang api tanpa henti dari berbagai lokasi yang tentunya tak dekat dari sini. Ini hal yang sulit dihindari, walau ke puncak gunung sepi pun bunyi kembang api selalu mengikuti.[2]

Jam setengah empat alarm di hpku berbinar, membangunkanku untuk segera bersiap menyambut datangnya matahari pertama di tahun ini. Kunyalakan kompor sembari berbenah sedikit demi sedikit guna menghindari  keterlambatan menjemput matahari. Sesudah menyantap mi instan dan menyeruput kopi, aku masih harus menunggu hujan lebih reda lagi sembari menyalakan api di briket untuk menghangatkan diri.

Dua jam kemudian aku pun keluar dari tenda menuju jembatan gantung. Hanya butuh 15 menit dengan berjalan santai, aku tiba di jembatan gantung terpanjang di Indonesia. Berada di ketinggian 600 mdpl dan memanjang 240 meter, jembatan ini menjadi idola baru di kalangan wisatawan.

Belum lama diresmikan dan tiap hari selalu dipenuhi orang yang ingin menyeberang. Sayangnya langit begitu tebal dengan awan, sehingga matahari terlambat saat aku sudah di tempat.  Tidak lama aku di sana dan kulanjutkan berjalan menuju Curug Sawer yang berada di ketinggian 1018 mdpl dan hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit saja dengan berjalan santai, mau tak mau memang harus berjalan santai karena jalan terus menanjak. Air yang deras tumpah dari atas membuat saya tak berani mendekat karena cipratan air dan udara dingin yang ditimbulkannya.  Tidak lama saya di situ untuk kemudian kembali ke jembatan gantung untuk melihat apa matahari sudah mendekat. Namun hingga jam 6 lebih 45 menit matahari belum terlihat, ia sungguh telat.

Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke gerbang untuk menuju persinggahan lain yaitu danau situ gunung. Bila anda berada di gerbang maka jalur menuju danau situ gunung berada di sisi kiri sedangkan yang ke curug sawer lewat sisi kanan. Maka untuk ke danau saya harus kembali ke gerbang walau di peta terlihat ada jalan dari Curug Sawer langsung ke danau namun lebih ku pilih kembali ke gerbang karena seperti tadi yang sudah kutulis; aku harus menjemput matahari di atas jembatan.

Jalan menuju danau sudah bagus dibanding jalan ke Curug Sawer yang masih setengah mulus dan sisanya jalan berbatu. Karena jalan yang bagus itu banyak pelancong memilih naik kendaraan untuk merapat ke danau padahal suasana di jalan tak kalah apik apalagi dengan pohon-pohon yang siap menyetor oksigen kepada kita.

Sekitar setengah jam waktu yang diperlukan dengan berjalan santai dari gerbang menuju danau situ gunung. Belum banyak aktivitas atau pun orang di jam 7 pagi itu di danau. Aku segera menghampiri air melewati jembatan ponton danau menuju pulau kecil yang kurang tertata untuk menyentuh air danau.   Hutan melingkari danau namun masih kulihat matahari hingga jam 8 di sana. Sesudah sarapan aku bergegas menuju lokasi lainnya yaitu Curug Cimanaracun yang berada di ketinggian 1600 mdpl, atas saran pemilik warung aku memilih jalan di luar danau yang katanya tidak banyak percabangan tidak seperti di jalan dalam lingkungan danau. Jalan menuju Curug Cimanaracun sedang dalam proses pengerasan. Pagi itu baru sekitar 50 meter jalan sudah jadi dan sisanya masih jalan berbatu. Tidak butuh waktu lama seperti yang sudah-sudah, 15 menit kemudian tibalah aku di Curug Cimanaracun. Air terjun ini tidaklah sederas Curug Sawer, ukurannya juga lebih kecil dan lebih sepi. Maka kumanfaatkan waktu sebentar untuk meluruskan kaki di situ.

Begitu kaki sudah lebih enak aku kembali melanjutkan penjelajahan. Ada dua opsi; pertama adalah kembali melewati jalan sebelumnya atau terus maju merangsek hutan  menuju danau kembali. Yang kupilih adalah terus maju melewati jalan setapak. Jalan setapak yang kumaksud adalah dalam arti sebenarnya, jalan yang hanya berukuran setapak kaki manusia dewasa. Jadi bila anda berjalan maka kaki satunya lagi terpaksa menginjak pepohonan kecil di sepanjang jalur itu.

Jalurnya tidak seramah jalur sebelumnya memang. Banyak pohon tumbang dan elevasi jalan yang hampir 71 derajat memaksa saya lebih berhati-hati lagi agar tidak tergelincir.  Untuk anda yang berniat menjelajahi jalur ini sebaiknya tidak membawa anak kecil atau beban berat supaya lebih aman.

Jam 9 pagi akhirnya sinar matahari menyembul di dedaunan dan bersamaan juga dengan berakhirnya jalur curam yang menuju danau. Aku segera turun merambati jalan seraya berpegang di dahan bambu. Tiba di sisi danau kulihat banyak orang sedang memancing.  Dan karena matahari sedang memanas maka kusempatkan untuk rehat sambil mengeringkan semua yang basah sedari malam di pintu air danau. Lumayan lama aku berjemur, hingga jam 10 aku kembali menyisiri sisi danau menuju akses masuk danau.   Penjelajahan pun berakhir dan aku masih mendapati orang-orang yang menyemut masuk di gerbang Taman Nasional Gede-Pangrango.

Walau tidak jadi ke Gunung Gede-Pangrango  namun itu terobati dengan penjelajahan kali ini karena biarpun tidak jadi kegunung nun disana namun sukses ke situ gunung.

 

 

CELAH

Manajemen Taman Nasional Gede-Pangrango perlu penanganan lebih profesional lagi dalam beberapa hal yang berpotensi membuka celah kerugian baik secara moril maupun materil bagi pengelola.

Pungutan tak jelas saat di loket untuk berkemah yang sudah terjadi bertahun-tahun harus segera diberantas agar pengunjung dan pengelola sama-sama diuntungkan. Pengunjung mendapat harga yang tegas beserta hak dan kewajiban yang juga jelas. Pengelola juga mendapat pemasukan yang legal tanpa setetes pun rasa sesal.

Pendaftaran pengunjung yang hendak berkemah juga harus diatur agar identitas mereka yang berkemah menjadi jelas guna keperluan administatif bila terjadi bencana. Padahal bila ke puncak Gede Pangrango saja diwajibkan mengikuti tes kesehatan bagi seluruh pendaki, selain tidak boleh sendiri dan sudah mendaftar. Itu contoh yang bagus untuk meminimalisir korban bila ada bencana.

Selain itu, pengelola juga wajib menjaga area kerjanya 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Memang harus ada pengaturan jam kerja agar pelayanan kepada pengunjung maksimal. Celah untuk hal ini biasanya menguntungkan pengunjung, karena semua loket di pagi hari tiada yang menjaga maka siapa pun bia masuk tanpa pengawasan.

 

ADVIS TRANSPORTASI

Karena saya tinggal di Tangerang maka pilihan moda transportasi lumayan beragam namun saya memilih yang lebih cepat yaitu kereta api. Di Stasiun Poris aku bermula, dengan 8.000 rupiah sudah kumiliki tiket Poris-Bogor. Dari stasiun Paledang Bogor saya melanjutkan dengan menumpang angkutan kota nomor 03 jurusan Terminal Baranangsiang dengan biaya 5.000 rupiah. Di muka terminal kuteruskan dengan menaiki elf jurusan Sukabumi dengan ongkos 30.000 rupiah, di kendaraan ini anda harus meminta sopir menurunkan anda di Polsek Cisaat. Di pasar Cisaat perjalanan disambung dengan angkutan kota yang ke arah Situ Gunung dengan tarif 10.000 rupiah. Dari rangkaian perjalanan di atas bila dihitung pulang-pergi akan terkumpul 106.000 rupiah untuk transportasi.

https://platform.twitter.com/widgets.js

Anda perlu menambah anggaran untuk tiket masuk dan konsumsi serta cinderamata yang hendak dibeli. Sekadar gambaran, dengan 25 ribu anda bisa membeli nasi dengan sepotong ayam goreng dan dua tempe di warung dalam lokasi Taman Nasional Gede Pangrango ini. Tentu akan lebih murah bila anda membawa sendiri bahan makanan beserta alat memasaknya. Dan kembali saya ingatkan untuk memakai kompor briket seperti yang sudah kubahas sebelumnya. Karena murah dan ramah lingkungan.

 

 

[1] Hal tersebut pernah dibahas dalam sebuah blog yang menjadi rujukan saya untuk meriset Situ Gunung. Berarti pungli sudah berjalan bertahun-tahun tanpa ada upaya pembersihan. Bila dalam setahun ada 10.000 orang yang mendaftar berarti ada 60 juta rupiah dana menguap tak jelas.

[2] Deja Vu dengan pendakian sebelumnya ke Gunung Guntur di Garut atau Gunung Lembu di Purwakarta yang diimbuhi letusan kembang api di tengah malam, sama dengan di kota-kota.