MENCARI GURU PRIVAT TUTUP MULUT

tutupmulut

Pikiran tersebut melintas dan mengendap dalam benaknya selama dalam perjalanan pulang. Namun dimana mencari guru privat tutup mulut? Apa perlu membuat selebaran dan menempelkannya di tiang-tiang listrik berjejal dengan iklan sedot wc? Atau cukup menuliskannya di laman belanja daring dan menunggu respon via telepon atau surel? Selebaran di tiang listrik atau iklan daring hanya menjawab bagaimana mencarinya namun tidak menuntaskan untuk pertanyaan dimana mencarinya. Lagi pula ada yang lebih mendasar: apa pernah ada guru privat tutup mulut?

Dimanapun, yang namanya guru harus menerangkan sejelas-jelasnya kepada sang murid mengenai apa yang dipelajari. Metodologi pendidikan sudah seperti itu dari zaman dahulu. Ada teori dan ada pula praktik untuk segala hal. Keduanya bertaut dalam upaya memberikan pemahaman menyeluruh kepada murid. Teori tanpa praktik akan membuat murid mengawang, praktik tanpa teori hanya membuat murid tersesat. Akan menjadi baik bila tersesat di jalur yang tepat, banyak yang menyebut itu jalan pintas menuju tuntas, tetapi tidak semua orang diberi anugerah dapat memilih sendiri jalurnya yang tepat. Itulah kenapa ada orang-orang yang memiliki talenta mendidik orang lain agar mampu menemukan jalurnya yang tepat.

Masalahnya adalah apa yang diajarkan seorang guru tutup mulut? Tujuannya jelas, mampu membuat mulut terjaga rapat. Tetapi bagaimana metodologinya? Teori dan praktik tutup mulut belum menjadi ilmu yang sistematis. Teori tutup mulut belum terdefinisikan dengan jelas. Kebanyakan upaya tutup mulut adalah sebatas respon atas suatu permasalahan yang dirasa tidak mampu atau tidak ingin untuk dijawab. Ada pula beberapa kasus tutup mulut yang didramatisir dengan menjahit mulut sebagai upaya mendapat perhatian atas tuntutan yang diajukan. Untuk hal tersebut baru terjadi belakangan ini di kala media memberikan ruang lebih bagi aksi-aksi dramatis yang dilakukan individu dengan tujuan tertentu. Apakah tutup mulut bagian dari ilmu komunikasi? Bila ya maka yang nampak adalah kontradiksi. Bagaimana mungkin mengomunikasikan sesuatu dengan menutup mulut? Bila mengutip frasa “medium is the message” maka itu menjadi mungkin. Tutup mulut menjadi pesan yang ingin dikomunikasikan. Tetapi dalam realita hal tersebut menjadi mengawang, karena tidak adanya relasi interaktif antara komunikator dengan komunikan. Tanpa relasi interaktif maka komunikasi yang terjalin lebih tepat disebut monolog. Penceramah, ulama, guru, aktor, komandan tentara hingga orang gila melakukan komunikasi dalam bentuk monolog dengan tujuan yang berbeda. Mereka menuntut aksi tutup mulut dari sasaran komunikasinya agar apa yang disampaikannya utuh tidak terpotong. Pengecualian mungkin bagi orang gila, karena sepertinya mereka tidak peduli apakah ada yang mendengarkan monolog mereka.

Setiap manusia memiliki kebutuhan untuk bersosial, berinteraksi dengan sesama manusia. Komunikasi menjadi wahana mewujudkan kebutuhan tersebut. Ada beragam komunikasi yang bisa dilakukan, bisa secara verbal melalui bantuan mulut untuk menyuarakan apa yang ingin diungkapkan, bisa pula melalui tulisan bila komunikasi verbal dirasa memiliki keterbatasan seperti yang terjadi pada mereka yang tidak mampu berbicara dengan jelas karena cacat atau karena ada rincian yang sulit dibedakan melalui ujaran. Selain itu ada pula komunikasi yang disampaikan melalui penanda entah itu bahasa tubuh atau kode-kode dengan bantuan alat atau benda. Contoh konkret bentuk komunikasi ini adalah karya seni karena seni mengincar jiwa sebagai sasaran komunikasinya tetapi tidak seperti komunikasi verbal atau tulisan yang jelas dan ringkas maka komunikasi penanda mendapatkan tafsir yang berbeda-beda dari setiap jiwa atau malah bisa saja tidak berarti apapun. Selain itu komunikasi penanda yang disampaikan sebuah karya seni lebih sebatas simulasi dari realitas dan bukan realitas itu sendiri karenanya butuh jiwa dengan wawasan luas dan merdeka untuk mampu mengkonversi penanda-penanda tersebut menjadi komunikasi dialogis dalam realitas sehari-hari. Tutup mulut dapat saja dikategorikan sebagai bentuk komunikasi penanda namun bila itu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari hanya akan menelurkan kevakuman. Dan dalam situasi tersebut sulit terjadi interaksi dialogis.

Masalah lainnya adalah bagaimana praktik pelajaran tutup mulut? Ini pertanyaan yang timbul bila kita memaksakan tutup mulut sebagai suatu komunikasi. Bagaimana guru mengajarkan praktik tutup mulut? Bila ia melakukannya dalam aksi tutup mulut apakah murid memahami cara tepat untuk tutup mulut sebagaimana yang diajarkan? Bila guru mengajarkan tutup mulut dengan kata-kata yang berlimpah justru menjadi kontradiktif seperti yang sudah saya tuliskan di alinea dua cerita ini, bukan?

Ya, ini sebuah cerita. Halaman pembuka seperti yang sudah tertulis di atas mirip kolom, atau artikel yang berisi opini. Padahal saya sedang menulis cerita. Dan tokoh dalam cerita ini masih dipusingkan oleh masalah dimana mencari guru privat tutup mulut. Tidak pernah ada orang di dunia ini yang pernah menjadi guru privat tutup mulut, setidaknya google tidak pernah menemukan data tentang hal tersebut. Lagi pula tidak pernah tercatat ada orang yang membutuhkan guru privat tutup mulut, karena bila ada yang pernah memerlukan maka akan menciptakan peluang kerja sebagai guru privat tutup mulut dan imbasnya bisa jadi akan tercatat di google. Sempat terpikir olehnya untuk mendatangi Limbad, seorang penghibur dalam bidang ilusi yang terkenal dengan aksi tutup mulutnya. Namun jika Limbad mau pasti harganya akan mahal, mungkin seharga mobil sedan mewah. Ini asumsi yang didasari oleh pembacaan atas gaya hidup Limbad itu sendiri yang besar kemungkinan logis. Tetapi Limbad pun sebenarnya menggunakan aksi tutup mulut untuk menonjolkan ilusi kekuatan tenaganya dan bukan sebagai bentuk komunikasi karena dalam banyak kesempatan ia pun berbicara verbal namun dengan berbisik. Kompetensi dan kapabilitas Limbad dirasa belum mencukupi untuk layak dijadikan guru tutup mulut. Karenanya ia pun menyingkirkan pikiran untuk mendatangi Limbad.
Kebutuhan akan guru tutup mulut ini tercetus sebagai refleksi atas kejadian yang dialaminya pagi ini. Ia merasa telah mengatakan kalimat yang membuatnya disalah artikan. Sebenarnya hal ini tidak merisaukan bila orang yang salah mengartikan itu adalah kawan sehari-hari atau malah orang asing, ini menjadi masalah bagi pikirannya karena orang tersebut adalah perempuan yang istimewa di hatinya, seorang yang ingin diberikannya kesan positif dari dirinya. Segala harapan menjadi antiklimaks karena kesalah pahaman. Ia sendiri sebenarnya tidak mengetahui secara tepat kalimat apa yang sudah diucapkannya yang menjadi sumber kesalahpahaman tersebut. Bila anda menduga bahwa ia sudah mengucapkan rasa cinta kepada perempuan istimewa tersebut sebagai sebabnya maka anda keliru. Dialog yang terjadi pagi itu bukanlah komunikasi cinta a la remaja, tetapi interaksi pemikiran mengenai hal-hal yang menjadi interes keduanya. Mereka berdua berada di jalur yang serupa, hanya cara mereka memandang jelas berbeda walaupun tidak bertentangan secara diametral. Tokoh utama dalam cerita ini merasa telah bersikap defensif dalam berkomunikasi, hal itu biasanya terjadi bila dirinya merasa ditekan atau diserang secara verbal. Defensif adalah reaksi alamiahnya dalam menghadapi tekanan atau serangan dari lawan komunikasinya. Dan dalam keadaan defensif tanpa sengaja ia mengeluarkan kalimat-kalimat yang sebenarnya tidak penting untuk diucapkan. Padahal awalnya ia hanya ingin membuka dirinya sebagai seorang yang suka membaca, dalam pengertian filosofis. Tanpa disadari, hasil pembacaannya atas situasi yang terjadi disekitarnya dimaknakan sebagai caranya bersikap. Ia menyesal terlampau jujur dan membiarkan mulutnya terus berbicara tanpa kendali. Bila saja ia mampu menentukan waktu berbicara dan saatnya tutup mulut mungkin perasaan ini tidak membebaninya.

Dua belas stasiun perhentian terasa cepat berlalu, bukan karena ia sedang menaiki kereta rel listrik yang memang melaju pesat tanpa hambatan melainkan karena pergumulan batin yang dialaminya. Untunglah selama perjalanan tidak ada seorangpun yang mengajak berbicara, kota memang dipenuhi orang-orang tanpa komunikasi verbal sejati. Jika pun ada sebatas basa-basi. Bila ada yang mengajaknya bicara mungkin akan timbul kesalahpahaman baru walau kadarnya pasti berbeda dan bisa diabaikan.

Berdasarkan pengalaman ketika baru pindah ke tempat yang dekat dengan stasiun kereta itu, ia juga pernah merasakan kesalahpahaman dengan mereka yang sudah lebih dahulu tinggal di sekitar rumahnya sejak generasi terdahulu orangtuanya. Mereka yang mengidentifikasikan diri sebagai pribumi ini merasa perlu dirajakan oleh orang-orang yang baru tinggal belakangan. Tanpa komunikasi yang interaktif dan saling memahami itulah timbul intimidasi yang direspon dengan perlawanan yang kemudian membesar menjadi tawuran massal antar kelompok. Antara pendatang yang melawan dominasi pribumi. Untunglah itu hanya temporer, untuk kemudian kedua pihak saling menghargai dan malah berkawan karib hingga kini lebih dari dua puluh tahun kemudian di saat mereka juga sama menua.

Tetapi apakah mungkin memori pengalaman kolektif tersebut diaplikasikan dalam memahami situasi dua individu seperti yang dialaminya hari ini? Bisa jadi, bukankah pertambahan umur seseorang akan mempengaruhi caranya memandang persoalan baik dirinya sendiri ataupun relasinya dengan individu lain juga kelompok sosial?

Tuuh puluh satu hari ke depan usianya genap empat puluh tahun. Usia yang bagi banyak orang diposisikan sebagai titik balik dalam hidup. Ada kalimat bijak menghibur yang kemudian teringat olehnya bahwa; di usia dua puluhan kita tak peduli omongan orang lain, di usia tiga puluhan kita khawatir dengan omongan orang lain dan di usia empat puluhan kita pun tahu bahwa orang lain tak memikirkan kita. Dia mendengarnya sejak lama walau tidak pernah tahu siapa yang mengatakannya namun jelang usia empat puluh ini dia baru menyadari bahwa kalimat bijak tersebut telah membantunya keluar dari kabut yang menyelimuti pikirannya sepanjang hari.

Bukan lantas ia menganggap perempuan istimewa yang salah mengartikan dirinya adalah orang yang tak peduli tetapi ia lebih memilih bahwa itulah bentuk kepeduliannya menyikapi kejujuran yang sudah diucapkannya. Oleh karenanya ia tak merasa perlu lagi untuk mencari guru privat tutup mulut. Kejujuran dalam komunikasi lebih penting dibanding menutup diri. Jika pun nanti terjadi salah pengertian maka tak perlu menciptakan kabut lagi melainkan terbang ke tempat lebih tinggi agar dapat menertawakan diri sendiri.

21 Oktober 2015

21:27 WIB

My Way adalah sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Frank Sinatra, saking populernya hingga kelompok punk legendaris, Sex Pistols pun pernah membawakannya.
Kali ini saya memainkan lagu ini dengan jalan yang berbeda dari yang pernah ada, seolah My Way menjadi karya eksistensialis yang membuka pintu menuju kedalaman diri.

Saya dikibuli Orde Baru. Mereka mencekoki saya dengan pemahaman bahwa kiri itu komunis dan kanan adalah fundamentalis.
Reformasi membuka mata saya bahwa kiri adalah sosialis yang berpihak kepada kepentingan rakyat dan kanan itu kapitalis yang membela pemodal belaka.

Diadaptasi dari ucapan Romo Mudji pada sebuah program dialog di SCTV pada medio 1998.

ADESTE FIDELIS

Fidelis Arie Sudarwoto menjadi nama simbolik bagi perjuangan seoang suami demi kesembuhan istrinya. Bila anda rajin menyimak berita-berita pada pekan ini maka nama Fidelis Arie menyeruak di tengah gencarnya warta persidangan Basuki Tjahaja Purnama, korupsi KTP elektronik dan kabar-kabar politis lainnya. Fidelis ditahan polisi atas tuduhan kepemilikan 39 batang pohon ganja di rumahnya, ia menanam bukan untuk menjadi petani ganja atau pengedar karena jumlah yang disita tidaklah banyak. Ia menanam untuk pengobatan istrinya yang tidak tersembuhkan oleh pengobatan modern dan juga tradisional.

Dalam wawancara bersama Kompas TV, Yohana, Kakak tersangka, mengatakan bahwa pengobatan yang dijalankan Fidelis didapat dari internet dan hasilnya pun terbukti positif karena istri tersangka akhirnya bisa tidur pulas, dapat makan dan mampu bicaa kembali. Indikasi baik ini menjadikan Fidelis terus menjalankan pengobatan dengan ekstrak ganja kepada istrinya.

Sayangnya pengobatan ini terhenti setelah polisi dan BNN mendapat laporan dan mendapati 39 batang pohon ganja di bawah kepemilikan Fidelis Arie, ia pun di tahan dan sang isti yang menjadi subyek pengobatannya dipindahkan ke rumah sakit. Bukannya membaik, kondisi istrinya memburuk dan akhirnya meninggal di rumah sakit tanpa ada upaya berarti dari para dokter.

Fidelis, kemungkinan besar nama ini berasal dari bahasa latin fideles yang berarti ‘orang beriman’, adalah potret buram dari kekakuan perangkat hukum dalam menerjemahkan tindakan hukum yang tepat. Pihak polisi dan BNN berdalih bahwa berdasarkan UU No 23 Tahun 2009 di pasal 111 maka tindakan yang dilakukan Fidelis dapat dikategorikan melanggar hukum pidana. Humas BNN berkutat pada alasan bahwa selama pasal tersebut belum diubah maka tindakan Fidelis dapat dikenakan tuntutan hukum dengan mengabaikan apapun alasannya.

Pengobatan menggunakan ganja bukanlah hal baru, ada banyak contoh kasus dimana penderita kanker dan epilepsi  mendapat manfaat positif dari pengobatan ini. Sejumlah ahli farmasi pun sudah melakukan penelitian tentang manfaat ganja secara medis, tulisan mengenai laporan penelitian mereka dapat anda temukan di internet. Di banyak negara pun penggunaan ganja untuk pengobatan medis sudah disetujui dengan resiko mengubah ganja dari narkotika golongan 1 menjadi golongan 3. Negara terakhir yang menyetujui aturan ganja untuk pengobatan adalah Turki dan banyak negara lainnya akan segera menyusul.

Di Indonesia pun wacana ini sudah digulirkan berbagai pihak sejak lama, pada kabinet SBY kedua sudah ada langkah maju dari Kementrian Kesehatan untuk memulai penelitian manfaat medis dari ganja. Namun pergantian kabinet rupanya juga pergantian kebijakan dan upaya Kemenkes tidak ada warta  selanjutnya.

Apa yang sudah dilakukan Fidelis adalah dua langkah maju dari apa yang Kemenkes akan rencanakan sebelumnya. Fidelis langsung menerapkan tanpa pengetahuan yang memadai kecuali apa yang ia dapat dari internet. Ia mampu membuat istrinya bisa tidur, makan dan bicara. Hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh para dokter sebelumnya. Fidelis tentu tidak dapat dikategorikan melakukan penyalahgunaan, melainkan pembenargunaan. Ia mengolah ganja, yang adalah ciptaan Tuhan, dan menjadikannya bermanfaat sebagai bahan pengobat bagi penyakit istrinya.

Fidelis melakukannya karena rasa cinta, dengan iman yang penuh bahwa istrinya akan segera sembuh. Ia tidak berpikiran menggunakan ganja untuk meraup keuntungan sebagaimana para bandar narkotika.  Walau ia pun sadar tindakannya beresiko hukum. Namun keyakinannya untuk kesembuhan istri tercinta mengalahkan rasa takutnya akan ditangkap aparat.

Hukum memang berlaku untuk semua masyarakat tanpa kecuali, tetapi esensi hukum adalah menegakkan keadilan dan bukan penghukuman secara membabi buta. Hukum yang adil mesti mengikutsertakan hati dalam penilaiannya, tanpa keterlibatan hati maka hukum terasa kering dan tak dapat dipercaya. Dalam kasus Fidelis, hukum menjadi perangkat prosedural yang kaku dan sudah mengakibatkan jatuhnya korban yaitu istri Fidelis. Apakah ini adil?

Bagaimana mengakhiri dilematika ini? Humas BNN sebenanya sudah memberi sinyal bahwa selama belum ada perubahan dalam UU tentang Narkotika maka kepemilikan ganja untuk tujuan medis sekalipun adalah perbuatan melanggar hukum pidana. Artinya, aturan hukumnya perlu diubah. Malangnya kita tidak bisa berharap dari legislatif yang sampai saat ini masih kedodoran dalam pembahasan Undang-Undang yang masuk dalam prolegnas.Materi legislasi yang masuk dalam prolegnas pun tentu tidak mudah karena melewati seleksi ketat yang berpotensi ‘diuangkan’ oleh pihak legislatif. Karenanya tidak heran bila ada RUU yang perlu lebih dari satu periode untuk pembahasannya. Lain halnya bila RUU yang dibahas mendatangkan manfaat ekonomi bagi pihak-pihak tertentu dalam lingkaran legislator  tentu akan cepat menjadi UU. Bagaimana dengan UU Narkotika?

Realitanya akan menjadi  sulit bagi DPR periode sekarang untuk merevisinya, tetapi bukan berarti tidak mungkin karena di negara lain pun yang sudah menyetujui penggunaan ganja secara medis juga membutuhkan perjuangan yang lama. Desakan elemen masyarakat adalah alat perjuangan untuk legalisasi ganja medis. Kriminalisasi terhadap Fidelis adalah penyemangat para pejuang senyum untuk terus mendesak pemerintah memulai penelitian ganja secara medis. Wawasan masyarakat perlu dibuka bahwa ada pembenargunaan dari ganja yang selama ini tidak mereka ketahui karena ditutupi agitasi aparat yang menakut-nakuti dengan ancaman hukuman.

Ini adalah perjuangan orang-orang yang memiliki keyakinan. Sebagaimana langkah kaki orang beriman yang mantap walau banyak duri berserakan di jalanan karena seperti Fidelis,mereka melakukannya dengan kecintaan, dengan keyakinan bahwa jalan mereka adalah baik bagi orang lain yang menderita penyakit berat, dengan keimanan bahwa Tuhan sudah menyediakan obat bagi segala penyakit.Maka, datanglah wahai orang-orang yang beriman, wahai orang-orang yang berkeyakinan, dan kita suarakan bahwa Fidelis dan mereka yang bernasib sama dengan istrinya layak diselamatkan hidupnya. Karena dengan menyelamatkan mereka maka secara tidak langsung kita juga menyelamatkan hukum dari prosedural kaku dan kering yang memisahkan hukum dengan keadilan, yang menjauhkan hukum dari rasa percaya masyarakat.

 

Catatan:

Judul “Adeste Fidelis” adalah plesetan dari bahasa latin “Adeste Fideles” yang berarti “Datanglah orang-orang beriman”.