MENCARI GURU PRIVAT TUTUP MULUT

tutupmulut

Pikiran tersebut melintas dan mengendap dalam benaknya selama dalam perjalanan pulang. Namun dimana mencari guru privat tutup mulut? Apa perlu membuat selebaran dan menempelkannya di tiang-tiang listrik berjejal dengan iklan sedot wc? Atau cukup menuliskannya di laman belanja daring dan menunggu respon via telepon atau surel? Selebaran di tiang listrik atau iklan daring hanya menjawab bagaimana mencarinya namun tidak menuntaskan untuk pertanyaan dimana mencarinya. Lagi pula ada yang lebih mendasar: apa pernah ada guru privat tutup mulut?

Dimanapun, yang namanya guru harus menerangkan sejelas-jelasnya kepada sang murid mengenai apa yang dipelajari. Metodologi pendidikan sudah seperti itu dari zaman dahulu. Ada teori dan ada pula praktik untuk segala hal. Keduanya bertaut dalam upaya memberikan pemahaman menyeluruh kepada murid. Teori tanpa praktik akan membuat murid mengawang, praktik tanpa teori hanya membuat murid tersesat. Akan menjadi baik bila tersesat di jalur yang tepat, banyak yang menyebut itu jalan pintas menuju tuntas, tetapi tidak semua orang diberi anugerah dapat memilih sendiri jalurnya yang tepat. Itulah kenapa ada orang-orang yang memiliki talenta mendidik orang lain agar mampu menemukan jalurnya yang tepat.

Masalahnya adalah apa yang diajarkan seorang guru tutup mulut? Tujuannya jelas, mampu membuat mulut terjaga rapat. Tetapi bagaimana metodologinya? Teori dan praktik tutup mulut belum menjadi ilmu yang sistematis. Teori tutup mulut belum terdefinisikan dengan jelas. Kebanyakan upaya tutup mulut adalah sebatas respon atas suatu permasalahan yang dirasa tidak mampu atau tidak ingin untuk dijawab. Ada pula beberapa kasus tutup mulut yang didramatisir dengan menjahit mulut sebagai upaya mendapat perhatian atas tuntutan yang diajukan. Untuk hal tersebut baru terjadi belakangan ini di kala media memberikan ruang lebih bagi aksi-aksi dramatis yang dilakukan individu dengan tujuan tertentu. Apakah tutup mulut bagian dari ilmu komunikasi? Bila ya maka yang nampak adalah kontradiksi. Bagaimana mungkin mengomunikasikan sesuatu dengan menutup mulut? Bila mengutip frasa “medium is the message” maka itu menjadi mungkin. Tutup mulut menjadi pesan yang ingin dikomunikasikan. Tetapi dalam realita hal tersebut menjadi mengawang, karena tidak adanya relasi interaktif antara komunikator dengan komunikan. Tanpa relasi interaktif maka komunikasi yang terjalin lebih tepat disebut monolog. Penceramah, ulama, guru, aktor, komandan tentara hingga orang gila melakukan komunikasi dalam bentuk monolog dengan tujuan yang berbeda. Mereka menuntut aksi tutup mulut dari sasaran komunikasinya agar apa yang disampaikannya utuh tidak terpotong. Pengecualian mungkin bagi orang gila, karena sepertinya mereka tidak peduli apakah ada yang mendengarkan monolog mereka.

Setiap manusia memiliki kebutuhan untuk bersosial, berinteraksi dengan sesama manusia. Komunikasi menjadi wahana mewujudkan kebutuhan tersebut. Ada beragam komunikasi yang bisa dilakukan, bisa secara verbal melalui bantuan mulut untuk menyuarakan apa yang ingin diungkapkan, bisa pula melalui tulisan bila komunikasi verbal dirasa memiliki keterbatasan seperti yang terjadi pada mereka yang tidak mampu berbicara dengan jelas karena cacat atau karena ada rincian yang sulit dibedakan melalui ujaran. Selain itu ada pula komunikasi yang disampaikan melalui penanda entah itu bahasa tubuh atau kode-kode dengan bantuan alat atau benda. Contoh konkret bentuk komunikasi ini adalah karya seni karena seni mengincar jiwa sebagai sasaran komunikasinya tetapi tidak seperti komunikasi verbal atau tulisan yang jelas dan ringkas maka komunikasi penanda mendapatkan tafsir yang berbeda-beda dari setiap jiwa atau malah bisa saja tidak berarti apapun. Selain itu komunikasi penanda yang disampaikan sebuah karya seni lebih sebatas simulasi dari realitas dan bukan realitas itu sendiri karenanya butuh jiwa dengan wawasan luas dan merdeka untuk mampu mengkonversi penanda-penanda tersebut menjadi komunikasi dialogis dalam realitas sehari-hari. Tutup mulut dapat saja dikategorikan sebagai bentuk komunikasi penanda namun bila itu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari hanya akan menelurkan kevakuman. Dan dalam situasi tersebut sulit terjadi interaksi dialogis.

Masalah lainnya adalah bagaimana praktik pelajaran tutup mulut? Ini pertanyaan yang timbul bila kita memaksakan tutup mulut sebagai suatu komunikasi. Bagaimana guru mengajarkan praktik tutup mulut? Bila ia melakukannya dalam aksi tutup mulut apakah murid memahami cara tepat untuk tutup mulut sebagaimana yang diajarkan? Bila guru mengajarkan tutup mulut dengan kata-kata yang berlimpah justru menjadi kontradiktif seperti yang sudah saya tuliskan di alinea dua cerita ini, bukan?

Ya, ini sebuah cerita. Halaman pembuka seperti yang sudah tertulis di atas mirip kolom, atau artikel yang berisi opini. Padahal saya sedang menulis cerita. Dan tokoh dalam cerita ini masih dipusingkan oleh masalah dimana mencari guru privat tutup mulut. Tidak pernah ada orang di dunia ini yang pernah menjadi guru privat tutup mulut, setidaknya google tidak pernah menemukan data tentang hal tersebut. Lagi pula tidak pernah tercatat ada orang yang membutuhkan guru privat tutup mulut, karena bila ada yang pernah memerlukan maka akan menciptakan peluang kerja sebagai guru privat tutup mulut dan imbasnya bisa jadi akan tercatat di google. Sempat terpikir olehnya untuk mendatangi Limbad, seorang penghibur dalam bidang ilusi yang terkenal dengan aksi tutup mulutnya. Namun jika Limbad mau pasti harganya akan mahal, mungkin seharga mobil sedan mewah. Ini asumsi yang didasari oleh pembacaan atas gaya hidup Limbad itu sendiri yang besar kemungkinan logis. Tetapi Limbad pun sebenarnya menggunakan aksi tutup mulut untuk menonjolkan ilusi kekuatan tenaganya dan bukan sebagai bentuk komunikasi karena dalam banyak kesempatan ia pun berbicara verbal namun dengan berbisik. Kompetensi dan kapabilitas Limbad dirasa belum mencukupi untuk layak dijadikan guru tutup mulut. Karenanya ia pun menyingkirkan pikiran untuk mendatangi Limbad.
Kebutuhan akan guru tutup mulut ini tercetus sebagai refleksi atas kejadian yang dialaminya pagi ini. Ia merasa telah mengatakan kalimat yang membuatnya disalah artikan. Sebenarnya hal ini tidak merisaukan bila orang yang salah mengartikan itu adalah kawan sehari-hari atau malah orang asing, ini menjadi masalah bagi pikirannya karena orang tersebut adalah perempuan yang istimewa di hatinya, seorang yang ingin diberikannya kesan positif dari dirinya. Segala harapan menjadi antiklimaks karena kesalah pahaman. Ia sendiri sebenarnya tidak mengetahui secara tepat kalimat apa yang sudah diucapkannya yang menjadi sumber kesalahpahaman tersebut. Bila anda menduga bahwa ia sudah mengucapkan rasa cinta kepada perempuan istimewa tersebut sebagai sebabnya maka anda keliru. Dialog yang terjadi pagi itu bukanlah komunikasi cinta a la remaja, tetapi interaksi pemikiran mengenai hal-hal yang menjadi interes keduanya. Mereka berdua berada di jalur yang serupa, hanya cara mereka memandang jelas berbeda walaupun tidak bertentangan secara diametral. Tokoh utama dalam cerita ini merasa telah bersikap defensif dalam berkomunikasi, hal itu biasanya terjadi bila dirinya merasa ditekan atau diserang secara verbal. Defensif adalah reaksi alamiahnya dalam menghadapi tekanan atau serangan dari lawan komunikasinya. Dan dalam keadaan defensif tanpa sengaja ia mengeluarkan kalimat-kalimat yang sebenarnya tidak penting untuk diucapkan. Padahal awalnya ia hanya ingin membuka dirinya sebagai seorang yang suka membaca, dalam pengertian filosofis. Tanpa disadari, hasil pembacaannya atas situasi yang terjadi disekitarnya dimaknakan sebagai caranya bersikap. Ia menyesal terlampau jujur dan membiarkan mulutnya terus berbicara tanpa kendali. Bila saja ia mampu menentukan waktu berbicara dan saatnya tutup mulut mungkin perasaan ini tidak membebaninya.

Dua belas stasiun perhentian terasa cepat berlalu, bukan karena ia sedang menaiki kereta rel listrik yang memang melaju pesat tanpa hambatan melainkan karena pergumulan batin yang dialaminya. Untunglah selama perjalanan tidak ada seorangpun yang mengajak berbicara, kota memang dipenuhi orang-orang tanpa komunikasi verbal sejati. Jika pun ada sebatas basa-basi. Bila ada yang mengajaknya bicara mungkin akan timbul kesalahpahaman baru walau kadarnya pasti berbeda dan bisa diabaikan.

Berdasarkan pengalaman ketika baru pindah ke tempat yang dekat dengan stasiun kereta itu, ia juga pernah merasakan kesalahpahaman dengan mereka yang sudah lebih dahulu tinggal di sekitar rumahnya sejak generasi terdahulu orangtuanya. Mereka yang mengidentifikasikan diri sebagai pribumi ini merasa perlu dirajakan oleh orang-orang yang baru tinggal belakangan. Tanpa komunikasi yang interaktif dan saling memahami itulah timbul intimidasi yang direspon dengan perlawanan yang kemudian membesar menjadi tawuran massal antar kelompok. Antara pendatang yang melawan dominasi pribumi. Untunglah itu hanya temporer, untuk kemudian kedua pihak saling menghargai dan malah berkawan karib hingga kini lebih dari dua puluh tahun kemudian di saat mereka juga sama menua.

Tetapi apakah mungkin memori pengalaman kolektif tersebut diaplikasikan dalam memahami situasi dua individu seperti yang dialaminya hari ini? Bisa jadi, bukankah pertambahan umur seseorang akan mempengaruhi caranya memandang persoalan baik dirinya sendiri ataupun relasinya dengan individu lain juga kelompok sosial?

Tuuh puluh satu hari ke depan usianya genap empat puluh tahun. Usia yang bagi banyak orang diposisikan sebagai titik balik dalam hidup. Ada kalimat bijak menghibur yang kemudian teringat olehnya bahwa; di usia dua puluhan kita tak peduli omongan orang lain, di usia tiga puluhan kita khawatir dengan omongan orang lain dan di usia empat puluhan kita pun tahu bahwa orang lain tak memikirkan kita. Dia mendengarnya sejak lama walau tidak pernah tahu siapa yang mengatakannya namun jelang usia empat puluh ini dia baru menyadari bahwa kalimat bijak tersebut telah membantunya keluar dari kabut yang menyelimuti pikirannya sepanjang hari.

Bukan lantas ia menganggap perempuan istimewa yang salah mengartikan dirinya adalah orang yang tak peduli tetapi ia lebih memilih bahwa itulah bentuk kepeduliannya menyikapi kejujuran yang sudah diucapkannya. Oleh karenanya ia tak merasa perlu lagi untuk mencari guru privat tutup mulut. Kejujuran dalam komunikasi lebih penting dibanding menutup diri. Jika pun nanti terjadi salah pengertian maka tak perlu menciptakan kabut lagi melainkan terbang ke tempat lebih tinggi agar dapat menertawakan diri sendiri.

21 Oktober 2015

21:27 WIB

Memasarkan Pasar

Pandemi Covid-19 memaksa pemerintah daerah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayahnya untuk menekan penyebaran virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan ratusan ribu orang di seluruh dunia meninggal.
Upaya ini menyebabkan aktivitas ekonomi terdesak ke titik nadir. Industri besar banyak yang merumahkan karyawannya, begitu pun usaha menengah hingga yang kecil pun terkena imbasnya. Roda ekonomi melambat.
Negara, sebagai institusi yang mengatur regulasi, memahami itu dan pemerintah Indonesia sudah menyiapkan berbagai stimulus bagi industri agar jangan sampai mereka mati.
Dalam skala kota tempat saya tinggal, Walikota menerbitkan Perwal Tangerang no 17 tahun 2020 yang mengatur mengenai PSBB dimana di dalamnya terdapat 11 sektor yang diberi ruang untuk tetap berjalan. Selain itu bagi pelaku usaha yang bertugas melayani kebutuhan masyarakat diwajibkan untuk mengutamakan layanan daring melalui jasa antar dan pembayaran non-tunai. Hal ini secara tidak langsung bisa memperluas pasar daring dan akses transaksi keuangan digital. Tetapi bagaimana realisasinya untuk pelaku usaha kecil dan berbasis rumahan?
Di lingkungan saya, PSBB diterapkan dengan menutup akses keluar-masuk dan hanya tersedia satu jalur saja. Hal tersebut berdampak kepada pelaku usaha yang berlokasi di dekat portal karena penutupan jalan berarti menurunkan jumlah potensi pembeli. Ini berbeda dengan pelaku usaha yang berlokasi di tengah-tengah komplek yang relatif lebih ‘mapan’ dengan pelanggan yang stagnan berasal dari bloknya semata. Namun dengan ketidakpastian kapan pandemi ini akan usai tentu peluang bagi seluruh pelaku usaha untuk menemui mati surinya akan besar. Para pelaku usaha ini tidak terbantu sumbangan beras dan mie instan yang hanya cukup untuk 2-3 hari saja. Mereka memerlukan solusi berupa perubahan strategi.

Paus(e)


Perubahan yang saya maksud adalah pelaku usaha merambah pasar daring agar promosi mereka tidak terbatasi dan meraih konsumen lokal yang selama ini masih bertransaksi secara manual.
Momentum PSBB sebenarnya tepat namun karena longgarnya pengawasan dari RT/RW setempat maka kebiasaan masyarakat dalam jual-beli masih sama yang berbeda hanya jumlah pelaku usaha yang bertahan yang kian menurun. Mungkin bila PSBB memasuki tahapan penindakan terhadap pelanggar maka pola transaksi akan berubah.
Dan solusi yang saya tawarkan sebenarnya akan efektif bila PSBB berlaku ketat. Yaitu dengan memasarkan secara daring pasar-pasar UKM di lingkungan untuk konsumsi lingkungan tersebut. Pengecilan ruang lingkup transaksi ini akan meniadakan ongkos kirim karena lokasi yang dekat, menambah rasa kepercayaan karena konsumen mengenal siapa penjual, dan sekaligus memacu pelaku usaha untuk meningkatkan layanan purnajual mereka terhadap pembeli.
Jenis usaha yang bisa dijual dalam pasar daring lingkungan ini bisa tak terhingga tergantung dari jumlah populasi dan tingkat kepercayaan diri produsen. Semakin banyak warga yang tinggal dalam sebuah RW maka berpotensi akan keragaman jenis usaha dan jasa yang bisa ditawarkan namun perlu tingkat kepercayaan diri yang tinggi dari calon pelaku usaha atau jasa tersebut agar mereka memiliki keberanian untuk dipasarkan.
Solusi ini sudah saya lakukan di RW tempat saya tinggal. Langkah pertama adalah dengan melakukan penawaran kepada pelaku usaha untuk mau dipasarkan, dan langkah awal ini juga bukan sesuatu yang mudah. Ada bermacam hambatan yang saya temui dan ini terkait dengan daya resepsi masyarakat akan pemahaman situasi sosial-ekonomi-budaya yang sedang terjadi selama pandemi dan juga terhadap aktivitas digital. Saya mencatat ada beberapa tipologi resistensi masyarakat yang butuh perlakuan berbeda, yaitu:

  1. Jangan buang waktu terhadap pelaku usaha yang merasa ‘mapan’ dengan pelanggan dan sistem yang mereka jalani selama ini, mereka akan bicara berdasarkan fakta empiris sepihak dan mendebatnya hanya akan memotong waktu produktif menjadi sia-sia. Bila situasi bertambah sulit maka mereka akan berubah pikiran.
  2. Jangan buang waktu terhadap pelaku usaha yang tidak percaya bahwa usahanya layak dipromosikan secara daring, mereka tidak memahami potensi pemasaran daring sebagaimana mereka tidak mengenal potensi usahanya layak berkembang bahkan di masa sesulit ini. Bila keadaan kian gawat maka mereka pun akan gulung tikar.
  3. Jangan paksa pelaku usaha waralaba untuk bergabung, karena produksi mereka ditentukan pasokan logistik yang lancar. Sebaiknya mereka memang perlu memikirkan untuk beralih usaha, namun itu sepenuhnya tergantung mereka.
  4. Jangan berusaha untuk meyakinkan pelaku usaha yang seolah kritis tetapi sebenarnya paranoid. Ini saya alami ketika menawarkan ke pemilik usaha kuliner yang sepertinya melek digital namun ketika saya meminta datanya ia langsung menolak dan dari pandangan matanya saya maklum bahwa ia curiga dengan data yang saya minta, padahal ia belum memahami bahwa data yang saya minta adalah data yang umum dan tidak ada data khusus seperti nomor KTP, misalnya. Biarkan mereka membatasi promosinya lewat media yang ia percaya, hanya saja potensi untuk meraup konsumen lokal menjadi diabaikan.
  5. Bersabarlah terhadap pelaku usaha yang belum menyadari potensi pemasaran daring, tingkat melek digital belum merata walau setiap hari akrab dengan aplikasi chat atau media sosial. Dengan kian banyaknya yang bergabung maka mereka akan tergoda pula nantinya.

Demikian tipologi pelaku usaha yang saya temui di waktu penawaran.
Hal kedua yang saya lakukan setelah itu adalah membuat pemilahan jenis usaha agar memudahkan konsumen untuk mencari kebutuhannya. Ada kalanya sebuah usaha memiliki lebih dari satu jenis usaha dan biarkan kesemuanya itu terakomodasi.
Sesudah pemilahan maka seterusnya saya masukkan data pelaku usaha ke situs yang saya buat. Ada pun karena tidak memiliki modal finansial maka saya menggunakan blogger.com yang gratis dngan alamat Url https://blok05.blogspot.com. Dan agar Url-nya bisa mudah diingat maka saya persingkat melalui bit.ly menjadi bit.ly/bursa-lokal dan saya berikan pula template QR code-nya masing-masing sehingga mereka bisa memajang alamat usaha virtual di depan rumah atau usaha mereka. Kelemahan dari ini adalah tidak ada ikatan yang kuat antara konsumen dengan pasarnya. Idealnya mereka bisa diikat dalam bentuk aplikasi namun pembuatan sebuah aplikasi juga memerlukan waktu, kompetensi, dan modal yang tidak sedikit. Itulah yang mendasari pemilihan situs gratisan agar bisa lekas digunakan tanpa biaya tambahan.
Setelah selesai dengan situs maka langkah berikutnya adalah memasarkannya secara manual, melalui selebaran. Tidak efisien tetapi efektifivitasnya lebih baik walau saya berasumsi tidak menyentuh angka 50% dari populasi. Ada cara yang lebih efektif dan efisien yaitu melalui pemanfaatan WhatsApp, namun saya tidak memiliki data nomor ponsel seluruh warga dan tidak semua warga juga memiliki aplikasi itu di ponselnya, bahkan ada yang tidak menggunakan ponsel sama sekali. Promosi manual seperti ini idealnya dilakukan dengan tingkat kontinuitas tinggi hingga jumlah warga yang memanfaatkan semakin besar. Untuk itu saya sedang merancang penawaran kepada pelaku usaha yang lebih besar agar mau beriklan di situs ini sehingga mendapat biaya untuk promosi selanjutnya.

Bursa Lokal (BLOK)
Tangkapan layar BLOK (Bursa Lokal)


Masih ada langkah berikutnya yaitu edukasi kepada pelaku usaha. Bentuk yang diberikan berupa tips-tips untuk bertahan dan memanfaatkan peluang yang ada di masa pandemi ini yang dikirim langsung kepada penjual. Motivasi ini diharapkan dapat menguatkan semangat bertahan dan membangkitkan daya inovasi mereka.
Demikian langkah-langkah solutif yang saya lakukan guna memberitahu lingkungan tempat saya tinggal bahwa kebutuhan sehari-hari mereka dapat dipenuhi oleh pelaku usaha yang berada di antara mereka tanpa perlu keluar rumah.
Saya menganalogikan pelaku usaha kecil-menengah ini seperti ikan paus yang besar namun tidak pernah terlihat di permukaan dan tugas saya, semoga anda merasa bahwa itu tugas kita bersama, adalah meyakinkan orang-orang bahwa ikan paus itu masih hidup dan ada.

Cipondoh, 27 April 2020

Tiit...tiit
Pariwara

MENDATA DATA

Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang ditetapkan Pemerintah Pusat guna mencegah penyebaran virus korona di masyarakat memiliki konsekuensi pemberian bantuan sosial bagi masyarakat yang tinggal di wilayah yang menerapkan PSBB tersebut.


Ketersediaan bahan pokok juga menjadi syarat yang wajib dipenuhi pemerintah daerah guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal ini guna menjaga masyarakat untuk tidak perlu keluar rumah dan menjaga kesehatan keluarga di rumah.
Hal yang vital untuk diperhatikan dalam pemberian bantuan sosial kepada masyarakat adalah data. Jangan sampai terdapat celah-celah sisa masa lalu yang kemudian dimanfaatkan guna meraup keuntungan pribadi. Dan oleh sebab itu maka kita perlu untuk mendata dari data itu sendiri.
Tetapi jangan sampai anda mengira bahwa di tulisan ini akan terpapar data-data dalam bentuk nominal, karena saya bukan BPS yang menguasai data tersebut dan apalagi dengan adanya sensus penduduk yang diperpanjang maka otentikasi data yang dimiliki BPS menjadi lebih mendekati konkret.
Kemensos memiliki data jumlah Program Keluarga Harapan, begitu juga Pemerintah daerah memiliki data keluarga dalam kategori miskin, bahkan hingga PLN pun memiliki data keluarga miskin. Tetapi apakah data mereka tidak saling tumpang tindih ? Pertanyaan penting lainnya adalah apakah data tersebut sudah sesuai dengan realita di lapangan?
Pola pengumpulan data selama ini berjalan dengan cara berjenjang dari tingkat RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kota/Kabupaten hingga Provinsi. Data dari provinsi akan diakumulasi menjadi data nasional.
Validitas data sesungguhnya ada di tingkat RT dan RW namun ironisnya justru di tingkat ini pula manipulasi data potensial terjadi lantaran tidak adanya verifikasi oleh struktur birokrasi.
Ada pun pola-pola manipulasi yang potensial untuk digunakan adalah:

  1. Memasukkan keluarga mampu ke dalam golongan miskin.
    Hal ini biasanya dilakukan untuk menolong warga yang sedang kesulitan dan untuk membantunya maka pihak RT dengan seizin RW akan memindahkan mereka ke dalam golongan miskin.
  2. Memasukkan warga pendatang ke dalam golongan warga miskin.
    Tidak dipungkiri banyak pendatang yang tidak memiliki status sebagai penduduk setempat namun karena bekerja untuk atau di lingkungan tersebut maka bisa digolongkan oleh RT sebagai penduduk sekitar yang miskin, besar kemungkinan mereka tidak menerima bantuan dalam jumlah yang sesungguhnya karena sudah ada potongan dari pihak yang membantu mereka.
  3. Memasukkan keluarga sendiri ke dalam golongan miskin.
    Hal ini mungkin terjadi dilandasi untuk menolong keluarga sendiri maka pihak RT atau RW bisa saja memasukkan keluarga mereka atau sanak saudara ke dalam golongan miskin.
  4. Memasukkan keluarga fiktif.
    Ini termasuk pidana dan hanya bisa terjadi dengan kolaborasi berbagai pihak yang tugasnya mengabaikan fakta dan juga tenaga sewaan agar mengaku sebagai keluarga yang dimaksud.
  5. Ketidaktahuan atau ketidakmampuan menkonversi fakta menjadi data.
    Hal tersebut bisa terjadi karena faktor kualitas sumber daya manusianya, atau malah alasan sentimen yang bersifat pribadi. Bila disebabkan oleh kualitas SDM maka ini tidak disengaja namun bila karena alasan yang bersifat pribadi jelas itu disengaja.

Setelah mengenali pola-pola manipulasi data di atas maka bisa disimpulkan pula bahwa kejadian tersebut potensial terjadi dengan berbagai motif, yaitu:

  1. Solidaritas antar tetangga.
    Hal seperti ini lzim dalam sistem masyarakat tradisional kita dimana kuat anggapan bahwa tetangga adalah saudara terdekat, besar kemungkinan terjadi di lingkungan pedesaan atau lingkungan rural yang terbangun setidaknya sejak dua atau tiga generasi.
  2. Memperkaya diri.
    Sebenarnya kalimat memperkaya diri terlalu bombastis karena faktanya perbuatan tersebut tidak membuat pelakunya menjadi kaya raya, walau untuk beberapa kasus seperti yang terjadi dengan penciptaan desa fiktif untuk meraup dana desa jelas jumlah yang diterima tidaklah sedikit. Tetapi bagi pelaku sekelas RT atau RW biasanya tidak terlalu kelihatan hasilnya.
  3. Memperkuat pengaruh atau dominasi.
    Ini lebih dari sekedar meraup untung berupa dana tunai atau sembako melainkan mendapat pengaruh atau dominasi dan memperkuatnya setiap kali ada dana bantuan sosial atau hibah lainnya. Pengaruh dan dominasi ini berguna untuk kepentingan politik seperti pemilu atau pilpres, dan tentunya ini bisa digunakan sendiri atau menawarkannya kepada politisi yang bertarung.
Pariwara buku tiit-tiit
Pariwara

Dengan motif yang beragam di atas tentu membuat keamanan dan otentikasi data menjadi sangat penting. Dan kelemahan dari sistem yang selama ini digunakan adalah tidak adanya audit data yang dimulai dari tingkat terbawah. Sebab di akar rumput inilah dimulainya manipulasi data.
Untuk mengatasi kelemahan ini maka negara melalui Kecamatan sebagai pembina dan pengawas RT/RW perlu mengangkat auditor independen di tingkat RW yang tugasnya tidak hanya mengaudit data tetapi juga penggunaan anggaran baik yang dikumpulkan dari masyarakat maupun yang diturunkan oleh pemerintah yang bisa berupa dana tunai, bantuan sembako atau inventaris berupa fasilitas sosial dan umum.
Diharapkan dengan adanya auditor independen maka potensi penyalahgunaan dan penyelamatan dana negara akan lebih optimal untuk diserap dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
Apalagi di masa pandemi global seperti sekarang ini dimana banyak pemimpin lokal dan daerah yang seperti kebingungan dalam menerjemahkan aturan dan bisa jadi malah memanfaatkan peluang untuk mendapatkan uang mumpung terdapat kelonggaran dalam berbagai hal.
Tentu saja kita tak ingin itu terjadi sekarang ini, dan sepertinya negara tidak perlu memilah bantuan hanya untuk masyarakat miskin yang selama ini berada dalam data berbagai institusi. Negara harus memberi rasa keadilan dengan membantu seluruh warga yang terdampak PSBB dengan besaran yang proporsional dan untuk itu datanya sudah ada di data sensus penduduk 2020.

Cipondoh, 10 April 2020.

WFH Atawa kiat meraih penghasilan dari rumah

Work From Home, biasa disingkat WFH, adalah hal yang biasa dilakukan oleh para entrepreneur atau yang menerapkan SOHO, small office home office. Para profesional di bidang teknologi informasi yang bekerja untuk perusahaan besar juga banyak yang terbiasa bekerja dari rumah. Bagi mereka WFH adalah rutinitas.
Tetapi tulisan ini tidak menyasar kepada mereka, melainkan para pekerja yang sehari-hari bekerja di kantor atau di lapangan. Karena bagi pekerja kantor atau lapangan, WFH adalah semacam cuti yang tidak bisa dimanfaatkan namun harus diambil. Berada di rumah saja mungkin akan terasa seolah liburan dalam minggu pertama namun bila terus berlanjut akan menimbulkan dampak psikologis yang tidak bisa dianggap remeh.
Bisa jadi bagi mereka yang biasa bekerja di kantor akan memanfaatkan liburan tanpa tanggal merah ini dengan mendekatkan diri dengan keluarga di rumah apalagi jika penghasilannya melebihi dari kebutuhan mendasar sehari-hari. Yang perlu diadaptasi bagi mereka adalah pemanfaatan teknologi dan media sosial agar tidak terjebak dalam mengisolasi diri dalam riuhnya jagad maya.
Berbeda dengan yang dirasakan pekerja lapangan yang penghasilan hariannya hilang. Gaji tidak mencukupi dan tidak ada pilihan selain berdiam di rumah. Ini simalakama pastinya.

WFH
WFH


Dan inilah alinea inti dari tulisan ini, karena ada solusi yang bisa diterapkan para pekerja guna mendapat penghasilan dari rumah. Namun sebelum sampai pada jalan keluar tersebut maka anda wajib mengetahui dahulu kemampuan apa yang anda miliki karena itulah yang menjadi bekal dalam menentukan langkah mana yang dipilih. Beruntunglah bila anda memiliki kemampuan terpendam yang bisa diasah dan dimanfaatkan. Namun bagi yang merasa tidak mempunyai kemampuan juga usah gelisah sebab dimana ada kemauan maka disitu terbuka jalan.
Berikut adalah daftar situs yang bisa digunakan untuk meraih pendapatan dari internet.

  1. FREELANCER
    Situs ini menyediakan banyak peluang pekerjaan yang terbagi-bagi dalam berbagai bidang dan anda bisa memilah dan memilih bidang pekerjaan yang anda mampu. Disini anda harus bersaing dengan peserta lain yang juga memiliki keinginan yang sama, upah yang disediakan bisa ditetapkan oleh pemberi kerja ataupun bisa juga tergantung dari penawaran anda. Kemampuan bahasa Inggris menjadi vital karena banyak pekerjaan yang ditawarkan dari berbagai negara. Bila anda belum dipilih untuk suatu pekerjaan maka jangan ragu untuk mencoba di pekerjaan lainnya. Namun bagi pendaftar paket gratis maka ada pembatasan jumlah lamaran tetapi itu bukan masalah karena anda bisa terus memanfaatkan paket gratis tersebut.
  2. FIVERR
    Ini adalah etalase bagi mereka yang memiliki keahlian atau kemampuan pada bidang spesialis. Pembuat logo, pencipta jingle iklan, penerjemah dan berbagai profesi khusus lainnya bisa dipromosikan di situs ini. Sebaiknya pada saat mendaftar menggunakan PC atau laptop karena ada fitur yang tidak tersedia bagi pengguna telepon seluler. Isi data anda selengkap mungkin berdasarkan panduan yang diberikan, buatlah pula video profil yang menarik agar klien tertarik dan menggunakan jasa anda dengan bayaran mulai dari 5 dollar hingga tanpa batas maksimum.
  3. SAMPINGAN
    Yang ini buatan lokal dan tentunya mata uang yang dipakai adalah rupiah. Ada tiga macam pekerjaan yang bisa dipilih yaitu menjadi reseller yang tugasnya menjual produk-produk yang tersedia dengan komisi yang bervariasi. Ada juga pekerjaan microtask yakni mengisi data pada beberapa situs atau aplikasi dan seringkali mengharuskan anda untuk menginstal aplikasi lain sebagai syarat untuk menerima honor yang beragam dimulai dari Rp 3.000 per data yang diberikan. Saya sarankan bila anda mengambil pekerjaan berupa memberi rating bintang lima dan ulasan positif pada suatu aplikasi maka bila selesai dan menerima honor lebih baik anda hapus kembali rating dan ulasan anda. Memang ini tindakan curang, tetapi membayar orang untuk memberi ulasan bagus yang belum tentu sesuai dengan kenyataan juga bukan tindakan yang terpuji. Lagipula honornya antara 3.000 hingga 5.000 dan tidak terasa merugikan bagi perusahaan pemberi kerja untuk merelakan nominal sebesar itu. Ragam pekerjaan terakhir adalah menjadi bekerja paruh waktu pada beberapa perusahaan yang membutuhkan namun untuk itu ada prosedur wawancara yang wajib diikuti terlebih dahulu.
  4. PANGGILIN
    Dari namanya jelas ia produk lokal, dan ini cocok bagi anda yang tidak merasa memiliki kemampuan khusus karena seringkali ada pekerjaan yang hanya mengandalkan tenaga atau tidak terlampau sulit untuk dikerjakan. Walau begitu juga tidak sedikit peluang yang memerlukan tehnik spesialis. Para pencari kerja disebut hero, dan waspadai pula dengan hero lain yang suka menurunkan harga penawaran sehingga terkesan tidak masuk akal sebab bisa jadi mereka adalah orang-orang suruhan pemberi kerja unuk menurunkan nilai penawaran hingga batas minimal Rp 25.000. Tentu absurd bila ada yang membutuhkan mendesain website namun ada hero yang menawar dengan nilai sekecil itu. Tetaplah dengan penawaran yang logis dan jangan turunkan derajat pekerjaan yang membutuhkan kemampuan tertentu. Upah anda akan ditransfer lewat tangan pengelola situs dan sudah dikenai potongan.
  5. Build Your Own Bussiness
    Yang ini tidak merujuk pada satu situs atau aplikasi apapun. Yang dimaksud adalah mengembangkan bakat atau hobi anda dan menjualnya secara daring atau melalui media perantara seperti aplikasi belanja. Bila anda berbakat menyanyi dan memiliki suara yang bagus maka buatlah video dan unggah ke youtube atau situs video lainnya. Kalau anda mempunyai hobi kriya maka buatlah produk dan pasarkan. Jangan lupakan tehnik promosi yang semenarik mungkin yang bisa anda buat. Contohnya seperti video berikut ini yang mempromosikan penjualan keset dengan tagline “Eebuseet ini mah Keset” agar mudah diingat oleh calon pembeli ditambah dengan teks keterangan yang merinci keistimewaan produk dan juga semangat berbagi dimana setiap harga yang dibayar sudah termasuk donasi bagi warga yang terdampak pembatasan sosial akibat pandemi global Covid-19. Diharapkan calon pembeli mendapat nilai lebih dari setiap pembelian yang dilakukan dengan tehnik promosi seperti ini. Anda juga bisa merancang promosi sendiri atau bisa juga meminta bantuan orang yang anda kenali mampu melakukan itu dengan harga teman.
Pariwara buku Tiit...tiit
Pariwara

Demikianlah lima solusi untuk menambah penghasilan dari rumah yang bisa anda sesuaikan dan pilih sesuai kemampuan anda. Sebenarnya ada banyak situs lain yang juga bisa menjadi opsi namun karena saya belum mencobanya maka menjadi tidak etis bila saya tuliskan. Kelima solusi di atas sudah teruji secara empiris dan selanjutnya terserah anda untuk memanfaatkan momentum WFH ini.

Cipondoh, 30 Maret 2020

Dee

Pertama kali mendengar lagu ini saya terkesan dengan melodi dan tehnik pengolahannya. Begitu impresif. Tadinya saya mengira judulnya mencomot dari tangga nada yang digunakan. Tetapi setelah mencari tahu saya malah semakin terkesan.

Dee adalah lagu berdurasi 51 detik yang diciptakan oleh Randy Rhoads (1956-1982), gitaris Quiet Riot dan Ozzy Osbourne, dan dimasukkan ke dalam album Blizzard of Ozz yang dirilis pada 1981. Ozzy mengatakan bahwa jika Randy menginginkan lagu itu masuk ke dalam album maka itulah yang terjadi. Suatu bentuk kepercayaan yang tinggi dari Ozzy terhadap Randy.

Judul lagu ini diambil dari nama gadis ibu Randy, Delores (meninggal tahun 2015), yang menjadi orang yang berperan penting terhadap kecintaan Randy dengan musik. Dee, atau Delores, adalah guru musik pertamanya dan yang membelikan gitar saat Randy masih anak-anak. Maka wajar saja jika tehnik pengolahan melodi pada Dee memiliki ciri-ciri musik klasik, walaupun ada bagian yang Randy sebut berbau jazz pula. Dee menjadi semacam rekam jejak pengaruh musik yang membuat Randy Rhoads menjadi gitaris.

Tetapi yang terutama, Dee adalah monumen cinta Randy Rhoads kepada ibunya, Delores.

Pariwara buku Tiit...Tiit
Pariwara

FYI WFH

Sejak WHO mengumumkan status pandemi global Covid-19 maka banyak negara dengan jumlah penderita yang tinggi mulai mengunci pintunya demi mencegah penyebaran yang kian meluas.
Implikasinya adalah banyak pekerja, pelajar dan aktivitas harus diliburkan agar tidak terjadi pengumpulan massa. Bila pelajar hingga mahasiswa bisa dipindahkan belajarnya ke rumah, dan aktivitas seni budaya, olahraga serta keagamaan juga tak menjadi masalah di tunda namun tidak mungkin semua pekerja harus berlibur, seperti tenaga medis dan aparat keamanan contohnya. Setidaknya dengan begitu maka kuantitas orang yang hilir mudik di jalan dan transportasi publik bisa ditekan.
Lalu bagaimana pekerja bisa menyikapi situasi baru; bekerja dari rumah?
Work From Home atau biasa disingkat WFH sebenarnya biasa dilakukan oleh para enterpreneur. Untuk meminimalisir pengeluaran akan pengadaan atau penyewaan kantor maka banyak yang memanfaatkan rumahnya sebagai kantor. Jenis pekerjaan yang biasa menggunakan metode ini misalnya penulis, desainer web, notaris, pemusik, kartunis dan lain-lain. Bagi mereka yang terbiasa bekerja dari rumah ini maka disiplin akan alokasi waktu menjadi penting agar keseimbangan antara bekerja dan kehidupan di rumah dan sosial bisa terjaga tidak tumpang tindih.
Namun bagaimana dengan pekerja yang terbiasa melakukan pekerjaannya di kantor?
Untuk itu ada beberapa informasi di bawah ini yang bisa dimanfaatkan agar tidak mengalami kejenuhan.

WFH pop art
WFH PopArt
  1. Disiplin waktu.
    Hal ini penting diterapkan secara ketat agar kehidupan sosial dan pekerjaan anda bisa berimbang. Jika memang waktunya harus berhenti, maka berhentilah sebab bila dahulu anda pernah mendengar istilah untuk tidak membawa pekerjaan ke rumah maka bila bekerja di rumah direvisi menjadi tidak membawa pekerjaan di saat bersosialisasi atau bersama keluarga. Lagi pula dengan himbauan untuk tidak keluar rumah bila tidak perlu maka tidak banyak pula orang di luar rumah maka anda bisa lebih memiliki waktu bersama keluarga dan saat itu berhentilah memikirkan pekerjaan.
  2. Manfaatkan teknologi.
    Revolusi teknologi informasi melipat dunia dalam genggaman dan anda tidak perlu harus mendatangi seseorang untuk berbicara karena bisa melalui mediasi telepon seluler. Namun anda juga harus memahami bahwa bukan hanya anda yang bekerja dari rumah melainkan orang lain juga dan akibatnya trafik telekomunikasi akan meningkat baik untuk data internet maupun telepon karena itu harap membatasi diri bicara seperlunya atau bila mengakses internet juga tidak perlu berlama-lama. Beberapa profesi semisal guru yoga juga sudah menggunakan aplikasi Instagram untuk tetap mengajarkan yoga bagi muridnya, tetapi tentu akan lebih baik bila durasi tayangan langsung tidak simultan dan berdurasi panjang sebab aplikasi Instagram sebenarnya dirancang untuk selaras dengan pola komunikasi a la generasi Z yang tidak ingin berlama-lama namun sering. Jika dipaksakan berdurasi misalnya 1 jam maka jumlah mereka yang menyimak biasanya akan turun grafiknya sesudah 10 menit walau tergantikan dengan penyimak baru di menit-menit berikutnya namun dengan fluktuasi tersebut maka efektivitas dari apa yang sedang diajarkan bisa tidak optimal. Mengapa tidak memecah durasi menjadi 10 menit per sesi agar intensitas pemirsa bisa terjaga? Disamping itu faktor kualitas jaringan yang tidak merata antar penyedia jasa telekomunikasi dan juga harga maka membuat durasi panjang menimbulkan biaya tinggi dengan kualitas yang tidak prima. Lagi pula penyedia jasa telekomunikasi tidak ada yang mau memberi potongan harga dan meningkatkan kualitas jaringan sementara laba terus brtumbuh dan kian bertambah di era WFH ini. Karena itu manfaatkan teknologi dengan cerdas, efektif, efisien dan empati.
  3. Rajinlah bergerak.
    Dengan bekerja di rumah bukan berarti anda bebas melakukan pekerjaan sesuka hati dan malah membuat tubuh anda tidak bergerak. Jangan lakukan pekerjaan sambil merebahkan diri di sofa karena posisi demikian akan membuat tubuh santai dan anda bisa tertidur dan melupakan pekerjaan anda. Rajinlah bergerak bila dirasa sudah terlalu lama menghadapi komputer atau benda kerja lainnya. Dengan bergerak meregangkan tubuh maka dapat membuka aliran darah anda tetap lancar dan menambah konsentrasi.
  4. Jangan lupakan keluarga.
    Kadangkala disaat terlalu fokus dengan pekerjaan maka bila ada interupsi dari anggota keluarga bisa dianggap gangguan, padahal ini penting untuk direspon agar anggota keluarga tidak merasa diabaikan oleh anda. Kelompok usia anak-anak atau orangtua biasanya yang perlu diberi perhatian oleh anda. Pekerjaan memang penting tetapi jangan lupakan keluarga karena walau disiplin waktu harus ketat tetapi fleksibilitas juga vital.
  5. Sanitasi alat-alat kerja.
    Kebersihan dari perangkat kerja juga penting untuk diperhatikan. Telepon seluler itu rentan dengan kotoran yang mikro, begitupun keyboard komputer. Sebaiknya anda rutin membersihkan perangkat kerja anda apalagi jika ternyata perangkat tersebut dibawa dari kantor atau digunakan bersama orang lain. Dengan menjaga kebersihannya tidak hanya jaminan untuk kesehatan anda namun juga menambah indah tampilan perangkat anda sebab debu atau kotoran mikro lainnya seringkali mengubah perangkat menjadi terlihat kotor.
  6. Sanitasi juga diri anda.
    Gerakan mencuci tangan berguna untuk mensterilisasi tangan kita dari kotoran, bakteri atau virus yang bila tidak dilakukan akan menempel pada perangkat anda dan berpotensi membahayakan kesehatan anda dan keluarga. Karena itu biasakan untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah bekerja dengan sabun di bawah air yang mengalir.
  7. Konsentrasi.
    Kemajuan zaman membawa dampak yang baik namun juga menimbulkan potensi susah berkonsentrasi. Hal itu terjadi karena kebanyakan orang dibiasakan dan terbiasa dengan melakukan banyak hal dalam satu rentang waktu secara simultan dan itu memecah fokus anda. Padahal konsentrasi itu dibutuhkan untuk mengoptimalkan pikiran dan target yang ingin dicapai. Dalam teater, setiap aktor diwajibkan untuk melatih konsentrasinya sebelum berlatih. Bentuk latihannya adalah dengan memposisikan tubuh dalam keadaan bersila, kedua tangan bisa memegang lutut atau menekan jempol dengan jari tengah, tegakkan tubuh, tutup kedua mata dan mulailah fokus pada setiap napas yang anda hirup dan keluarkan. Walau mata anda terpejam dan pikiran anda terfokus pada pernapasan namun biarkan telinga meresepsi segala bunyi yang terdengar. Lakukan ini setidaknya 10 menit dan daya konsentrasi anda akan bertambah setiap kali melatihnya.
Tiit...Tiit
Pariwara

Demikian informasi seputar bagaimana menghadapi situasi bekerja dari rumah bagi anda yang terbiasa bekerja di kantor. Semoga saja pandemi global ini bisa berlalu dan aktivitas kita bisa berjalan seperti yang lalu-lalu namun dengan kesadaran akan kebersihan dan juga kesehatan yang lebih berfaedah dari yang sudah-sudah.

Menuju Teater Tanpa Penonton 4.0

Bagi mereka yang sudah berteater sejak dasawarsa 70-an, atau malah sebelumnya, pasti akan mengira ini topik usang dan plagiasi dari yang sudah digagas almarhum Danarto sejak 1978 lewat karya pertamanya Bel Geduwel Beh di seluruh area Taman Ismail Marzuki. Walau sebenarnya Danarto juga hanya memodernisasi gagasan teater tradisi yaitu meleburkan batas antara pemain dan penonton.
Tetapi bukan itu maksud dari tulisan ini. Baiklah, saya akui bahwa saya mencuri judul dari tulisan Danarto pada buku Pertemuan Teater 80 dan tujuan pencurian ini semata untuk mem-postmodernisasi gagasan Danarto yang, seperti saya tulis sebelumnya, memodernisasi gagasan teater tradisi.
Sejatinya tulisan ini mengarah pada bentuk dekonstruksi dari modernisasi atas tradisi itu sendiri.
Pada Danarto, batasan antara pemain dan penonton dihilangkan dengan cara memberikan ruang bagi penonton untuk menyerang pertunjukan. Karena roh dan daging dari pertunjukan adalah penonton. Isi pertunjukan sejatinya adalah kisah dari penonton, maka sesudah membayar untuk menyaksikan kisah mereka dibawakan tentu menjadi logis bila penonton berhak menyerang pertunjukan bila tidak sesuai dengan apa yang mereka pikir tidak sesuai, tidak menarik atau mungkin melenceng dari narasi yang mereka ingini. Karena teater butuh penonton, sebagaimana penonton butuh teater untuk melihat kisahnya.
Selain Danarto, tercatat nama Teater Kubur pada 1987 juga memainkan lakon Kucak Kacik dengan konsep teater tanpa penonton. Dindon memboyong banyak penonton untuk menjadi penyaksi sekaligus menjadi pengisi.
Bila kita bergerak mundur ke era pra-teater modern, maka semua teater rakyat di berbagai kultur di nusantara ini juga bergerak dalam spirit teater tanpa penonton. Pada pertengahan 90-an, saya pernah menyaksikan pertunjukan lenong pada sebuah hajatan di muka rumah keluarga yang berdarah Betawi. Batas antara penonton dengan pemain adalah ruang antara yang imajiner, entah mengapa semua penonton seolah tertib berdiri mengelilingi pemain walaupun tidak ada stage manager yang mengaturnya. Pada adegan banyolan, tokoh pembantu melemparkan pantun ke penonton yang bisa dibalas pula oleh penonton dengan pantun. Atau bisa juga dibalas oleh pemain lain yang belum dapat giliran masuk. Tidak hanya pada sesi banyolan saja, pada adegan perkelahian juga penonton bebas memberikan dukungan pada jawara pujaannya dan mencemooh jagoan yang tidak disenanginya. Pada lenong, yang kini mulai jarang saya saksikan lagi di hajatan warga Betawi di Tangerang, penonton bisa menyerang pemain walau koridor alur tetap utuh tidak diutak-atik dan ini membutuhkan pemain yang lentur dalam berimprovisasi dan disiplin menjaga plot.
Contoh lain dari teater tradisi di kultur lain juga memiliki kemiripan dengan lenong dan gagasan Teater tanpa penonton a la Danarto.
Lalu apa dekonstruksi yang ditawarkan oleh saya?
Idenya dilatari oleh upaya preventif global untuk mencegah penyebaran Covid-19 dimana social distancing menjadi strateginya. Menjaga jarak, tidak bepergian untuk hal yang tidak darurat, dan bekerja dari rumah adalah elemen-elemen social distancing yag menjadi kunci dari dekonstruksi. Teater tanpa penonton pada era ini tidaklah sama dengan gagasan modernisasi tradisi-nya Danarto. Karena memang ketidakhadiran secara fisik dari penonton adalah roh dan daging dari teater tanpa penonton kini.
Bila penonton tidak hadir, lalu siapa yang menjadi penyaksi sebuah pertunjukan? Kehadiran penonton secara fisik adalah sesuatu yang tidak pernah diperbaharui oleh pelaku teater sejak era Yunani kuno hingga kini. Argumentasinya adalah agar penonton bisa meresepsi secara emosional apa yang dihadirkan aktor lewat tubuhnya dan keseluruhan perangkat yang mengiringinya. Bila sebuah tragedi yang dibawakan aktor mampu membawa emosi penonton dalam suasana duka maka pertunjukan itu berhasil, begitu pula bila komedi mampu menghadirkan tawa.
Atau, karena teater tidak hanya media bagi literasi, jika tubuh aktor mampu menenggelamkan penonton dalam alienasi maka pertunjukan itu juga bisa disebut berhasil.
Penonton adalah tujuan dari semua bentuk pertunjukan teater.
Lalu bagaimana bila kehadiran penonton malah beresiko menyebarkan dan tertularnya mereka akan korona virus?

Maka penonton masih dapat hadir namun tidak secara fisik.
Teknologi informasi adalah medium yang digunakan penonton untuk bisa menyaksikan sebuah pertunjukan, melalui jaringan internet berkecepatan tinggi maka setiap detik adegan adalah detik yang sama dengan detak jantung penonton.
Pada 2018 di Bentara Budaya Jakarta, saya menyaksikan pertunjukan Teater Mandiri. Namun karena ketersediaan kursi yang terbatas maka saya tidak bisa masuk dan menonton dari halaman Bentara Budaya dengan bantuan sudut pandang kamera video yang merekam adegan demi adegan dan ditembakkan ke layar putih. Saya masih bisa tertawa sebagaimana gelak dari penonton di dalam kala dialog yang diucapkan begitu lucu. Saya juga masih bisa merasakan pergerakan alur seperti halnya para penyaksi di dalam sana. Tetapi memang ada yang hilang dari apa yang saya rasakan secara empiris. Saya merindukan kesatuan kosmis antara saya sebagai penonton dengan ruang serta waktu yang diciptakan pemain. Sebagai penonton yang berada di luar maka kerap tergoda untuk menatap uniknya puncak Menara Kompas atau lampu kecil yang menyala jauh dari posisi saya. Semesta yang saya alami berbeda dengan semesta yang digelar Teater Mandiri.

Enter Teater
Enter teater now


Ini tantangan yang harus dipecahkan bagi konsepsi dekonstruksi yang saya ajukan. Harapannya tentu di masa depan internet tidak hanya mampu mengirimkan data berupa suara, teks dan gambar saja namun juga bisa mengirim aroma dan sensasi psikologis semacam rasa sakit dan lain sebagainya. Bukan tak mungkin impian itu akan terwujud dalam waktu singkat dengan memanfaatkan teknologi Internet Of Things (IoT) yaitu dengan memanipulasi benda-benda elektronik di sekitar penonton untuk dikendalikan dari jarak jauh dan memainkan perannya sebagaimana perangkat teater konvensional semacam tata lampu, efek suara, atau malah bebauan.
Bila hal itu belum dapat terwujud kini lalu apa bedanya menyaksikan teater tanpa penonton dengan menyaksikan dokumentasi pertunjukan teater?
Konsep ini mau tak mau harus merevisi elemen pertunjukan yang umurnya sudah mencapai milenium yaitu: interaksi penonton.
Revisi yang dimaksud adalah membebaskan penonton untuk memberi efek tersendiri selama pertunjukan berlangsung dan bersifat sporadis. Melalui layar sentuh mereka bisa saja memperbesar area tertentu untuk fokus pada seorang aktor atau malah pada properti. Sporadis yang dimaksud adalah apa yang dilakukan oleh seorang penonton di titik A tidak berpengaruh pada apa yang dilakukan oleh penonton lain di titik B walau pun diantara keduanya bisa terkoneksi. Ini untuk menyelamatkan alur dan pesan yang ingin disampaikan pementasan itu. Interaksi bisa dilebarkan menjadi interreaksi atau bahkan interkoneksi. Interreaksi adalah respon diantara penonton yang bisa berupa pujian, kritikan, ikon, meme dan lain sebagainya yang terbaca pula oleh pemain. Seperti kolom komentar pada live streaming. Interkoneksi adalah aksi sepihak yang terkoordinir secara spontan oleh penonton misalnya untuk memboikot pertunjukan jika dirasa pementasan tidak berjalan seperti yang mereka harapkan. Kejam sekali memang, tetapi ini adalah era liberalisasi teknologi informasi dimana setiap orang berhak berkomentar secara frontal dan dangkal sekalipun. Karena itu maka teater dituntut pula untuk memiliki stamina yang elastis sekaligus tahan banting. Bukan tidak mungkin alur bisa diubah secara kilat bila melihat grafik penonton yang menurun. Ini tantangan yang radikal, bukan?
Bagi pelaku teater sebenarnya ini juga peluang untuk menciptakan konsep artistik yang tidak hanya futuristik, dalam artian belum terpikirkan hingga kini oleh penata artistik lainnya, namun juga tetap estetik.
Konsep artistik bisa saja berupa platform dengan memberi rung imajiner bagi penonton mendesain artistik semampunya dengan resiko banalitas namun dilokalisir dengan metode sporadis yang bisa diprogram pada platform.
Musik atau efek bebunyian bisa dilakukan dengan IoT, dengan mengambil alih kendali pemutar musik atau piranti lain yang bisa digunakan di lokasi penonton sehingga musik atau efek bebunyian yang dihadirkan akan berbeda antara satu penonton dengan yang lainnya.
Begitu juga dengan cahaya lampu yang dikendalikan jarak jauh. Akan lebih baik bila lampu yang ada di lokasi penonton bisa dinaik turunkan daya listriknya seperti dimmer tetapi bila tidak dimungkinkan maka gelap dan terang adalah dua hal yang bisa dimainkan.
Bagaimana dengan aktor? Mungkin pada tahap awal aktor bisa tetap berperan seperti biasa namun bukan tidak mungkin di kemudian waktu para penonton bisa mengganti wajah aktor dengan wajah penonton dengan menerapkan teknologi Artificial Intelligence dimana sistem komputasi penonton sudah memenuhi syarat untuk bisa melakukan itu.
Bagaimana dengan unsur-unsur lainnya? Ini adalah dekonstruksi dengan probabilitas tanpa batas. Hingga malam ini saat menulis tidak semua kemungkinan sanggup saya bayangkan. Ada banyak potensi dan peluang isian ide untuk mendekonstruksi teater tanpa penonton untuk dipikirkan bersama-sama dengan mereka yang tertarik dengan gagasan ini.

Sekitar tahun 2010, saya pernah merencanakan sebuah pertunjukan kolaborasi dengan berbagai pemain di berbagai lokasi dengan perantaraan internet. Setiap adegan yang ditampilkan setiap pemain di setiap tempat saling terikat dalam hukum kausalitas sebab-akibat atau aksi-reaksi. Tetapi gagasan ini masih serupa gas yang tidak terlihat, karena keterbatasan dalam banyak hal. Bisa jadi itu titik awal dalam mengaplikasikan teknologi informasi dalam mengerutkan ruang dan waktu pertunjukan. Walaupun pada saat itu saya pun belum terpikirkan untuk mendekonstruksi kehadiran penonton.

Mungkin titik awal itu bisa direalisasikan menuju teater tanpa penonton 4.0. Jika tidak, ya kembali saja ke masa 40 tahun lalu. Masa Bel Geduwel Beh.

Tiit...tiit oleh Boy Mihaballo
pariwara

Bunda Maia, Bunda Maria, dan huruf R yang tercecer

Ini bukan fiksi, tetapi opini. Dan diawali dengan tak sengaja, saat menyaksikan acara Indonesia Idol di televisi dan para juri sedang mencoba kemampuan trio penyanyi tenor yang saya tidak kenal. Bunda Maia, salah seorang juri, mencontohkan bentuk yang diinginkannya untuk dinyanyikan trio tersebut. Dan Bunda Maia mencomot empat not awal dari lagu Hallelujah karya George Friedrich Handel untuk Oratorio Messiah dan diganti teksnya menjadi “Cendol Dawet”.


Dalam sejarah musik, ini disebut Parodia atau secara harfiah berarti “Lagu Samping” dalam pengertian sebuah melodi populer yang diubah liriknya.


Kembali ke peristiwa di tv, trio tersebut mengikuti permintaan juri untuk menyanyikan lirik Cendol Dawet menggantikan teks Hallelujah. Dan semua puas, semua terhibur. Memang itulah esensi televisi.


Cendol Dawet adalah permainan teks yang dipopulerkan oleh penggemar Didi Kempot dalam merespon musik sembari menari dan tentunya puas terhibur. Dalam permintaan Bunda Maia, kata tersebut menggantikan teks Hallelujah dari bahasa Ibrani yang berarti Pujilah Tuhan. Disini yang profan menggantikan teks gerejawi.


Apakah ini artinya Bunda Maia telah melakukan penghinaan terhadap iman Kekristenan?


Sebelum saya jawab, akan lebih baik kita untuk mengenal secara singkat George Friedrich Handel. Beliau dilahirkan di kota Halle pada 23 Februari 1685. Ia sezaman dengan Johann Sebastian Bach. Mereka adalah komponis besar di era musik Barok. Perbedaannya adalah bila Johann Sebastian Bach banyak menciptakan karya-karya untuk gereja, sedangkan Handel besar dalam karya Opera dan Oratorio bagi teater sekuler. Makna teater sekuler disini adalah teater yang memainkan karya-karya yang tidak bersumber dari kitab suci.


Namun karier Handel menemui senjakalanya walau begitu ia tetap berusaha menghidupkan teaternya. Hingga kemudian Charles Jensen memberikan libretto yang berbasis kisah Yesus dari Alkitab dan meminta Handel untuk menggarapnya. Butuh 24 hari baginya untuk membuat naskah oratorio 260 halaman berjudul Messiah ini dan dipentaskan pertama kali saat perayaan Paskah 13 April 1742. Ini adalah titik balik karier Handel. Messiah sukses dipanggungkan dan menyentuh hati siapapun penyaksinya. Bahkan Raja George II sampai berdiri saat musik intro Hallelujah dimainkan. Berbagai pujian mengalir tidak hanya dari publik namun juga dari sesama komponis, minus Bach karena walau hidup sezaman dan berasal dari negara yang sama tetapi Handel dan Bach bagai hidup di dunia yang paralel.


Lagu Hallelujah sebenarnya adalah lagu yang memuat kesimpulan dari bagian kedua naskah oratorio ini. Di zaman sekarang justru dipisahkan dan berdiri sendiri sebagai karya paduan suara atau orkestra instrumental.


Sesudah mengenal secara ringkas biografi Handel dan karya besarnya oratorio Messiah, kita kembali ke bahasan Bunda Maia yang dalam judul tulisan ini disandingkan dengan Bunda Maria serta kalimat absurd mengenai huruf yang tercecer.


Judul tersebut adalah permainan kata dimana antara Bunda Maia dan Bunda Maria ternyata hanya selisih satu huruf; R.


Huruf R dalam Alfabet Fonetik internasional menandakan bunyi konsonan getar rongga-gigi. Dan hanya huruf R yang memang memerlukan getar dalam pengucapannya. Bila tidak bergetar maka akan terdengar seperti L dan orang yang melafalkan demikian dikatakan cadel. Semua manusia pada awalnya pun cadel namun berkat bimbingan orang tua dan tentunya kemampuan rongga-gigi dalam menggetarkan huruf itu yang membuat kebanyakan orang menjadi mampu membunyikan secara benar.

Bunda Maria, Bunda Maia dan huruf R yang tercecer


Bila dalam teks Bunda Maria dihilangkan huruf yang mengharuskan getaran rongga-gigi maka akan menjadi Bunda Maia. Ini hipotesis yang anarkis, bisa juga mengada-ada.


Tetapi sebelum anda memutuskan untuk mengakhiri pembacaan sampai di alinea ini maka pertimbangkanlah untuk memahami arah dari konteks judul tulisan ini.


Bunda Maria adalah ikon bagi Kekristenan karena ia adalah ibu yang melahirkan Yesus. Tentu sudah jamak bila mendengar Yesus lalu identik dengan kekristenan karena itu saya mencoba menggunakan yang lain yaitu Bunda Maria dan alasan lainnya disebabkan kedekatan huruf dengan Bunda Maia. Bukan alasan yang bersifat teologis, tetapi fonetis.


Tetapi tidak sesimpel itu pula, karena Bunda Maia disini bisa mewakili area profan dan Bunda Maria merepresentasikan wilayah gerejawi.


Antara yang profan dan gerejawi memiliki kaitan yang unik. Kadang konfrontatif seperti terjadi di era abad kegelapan Eropa dimana Paus memegang otoritas yang melebihi Raja dan kerap melarang segala bentuk seni profan karena dianggap membuai masyarakat dan melupakan Tuhan.


Namun kemudian, sesudah munculnya abad Renaissance, hubungan yang profan dan gerejawi sering komplementer. Sesudah Marthin Luther melakukan gerakan Reformasi dan melahirkan Protestan maka banyak lagu-lagu profan yang diubah liriknya untuk dipakai dalam ibadah gerejawi. Hal ini dilakukan agar kekristenan bisa membumi dan dimengerti oleh masyarakat jelata bahkan yang buta huruf sekalipun. Hal ini terus berlangsung hingga kini, contoh lagu yang dipakai misalnya Morning Has Broken karya monumental Cat Stevens, yang kemudian mualaf dan berganti nama menjadi Yusuf Islam, juga diubah liriknya dan dipakai dalam liturgi gereja.


Bila yang profan bisa diparodiakan menjadi gerejawi, tentu adalah bisa bila yang terjadi sebaliknya.


Tetapi apakah itu tidak melecehkan kekristenan?


Saya menjawab tidak dalam kapasitas teologis namun logis. Hal tersebut tidak melecehkan karena lagu-lagu gereja adalah upaya manusia untuk membantu ayat-ayat kitab suci atau iman kekristenan agar bisa lebih mudah diterima masyarakat namun yang utama adalah keimanan itu sendiri tumbuh dan berkembang dari kemampuan meresepsi setiap umat Kristen akan kepercayaan terhadap Kristus dan memanifestasikan dalam laku sehari-hari. Dengan kata lain, lagu memang membantu tetapi bukan yang utama apalagi yang terutama.


Itulah mengapa ada banyak upaya menggetarkan iman Kekristenan yang tidak ditanggapi dengan kemarahan atau aksi balasan. Yesus sendiri sudah mengajarkan untuk mengasihi musuh maka menjadi aneh bila umatnya marah-marah atau bahkan sampai membalas bila ada yang menggetarkan situasi melalui isu atau narasi adu domba.


Apakah aksi Bunda Maia termasuk getaran dalam relasi antar umat beragama? Tidak, walau memiliki potensi tersebut apabila terdengar di telinga puritan atau kelompok garis keras, yang sejatinya ada di tiap agama dan ideologi. Secara kuantitas mereka tidak banyak namun suara mereka lebih keras dari mayoritas moderat dan resonansinya bisa menggetarkan kerukunan beragama.

Pariwara buku tiit-tiit
Pariwara


Karena itu bila Bunda Maia membaca tulisan ini, saya berharap sebagai figur yang dikenal luas oleh publik untuk bisa lebih berhati-hati agar setiap ucapannya tidak mencecerkan getaran yang tentunya tidak perlu. Mungkin Bunda Maia bisa meneladani Bunda Maria yang mencoba tetap tenang walau hatinya tergetar di saat menyaksikan Yesus disiksa dan disalibkan di depan matanya sendiri.

Cipondoh, 16 Maret 2020