MENCARI GURU PRIVAT TUTUP MULUT

tutupmulut

Pikiran tersebut melintas dan mengendap dalam benaknya selama dalam perjalanan pulang. Namun dimana mencari guru privat tutup mulut? Apa perlu membuat selebaran dan menempelkannya di tiang-tiang listrik berjejal dengan iklan sedot wc? Atau cukup menuliskannya di laman belanja daring dan menunggu respon via telepon atau surel? Selebaran di tiang listrik atau iklan daring hanya menjawab bagaimana mencarinya namun tidak menuntaskan untuk pertanyaan dimana mencarinya. Lagi pula ada yang lebih mendasar: apa pernah ada guru privat tutup mulut?

Dimanapun, yang namanya guru harus menerangkan sejelas-jelasnya kepada sang murid mengenai apa yang dipelajari. Metodologi pendidikan sudah seperti itu dari zaman dahulu. Ada teori dan ada pula praktik untuk segala hal. Keduanya bertaut dalam upaya memberikan pemahaman menyeluruh kepada murid. Teori tanpa praktik akan membuat murid mengawang, praktik tanpa teori hanya membuat murid tersesat. Akan menjadi baik bila tersesat di jalur yang tepat, banyak yang menyebut itu jalan pintas menuju tuntas, tetapi tidak semua orang diberi anugerah dapat memilih sendiri jalurnya yang tepat. Itulah kenapa ada orang-orang yang memiliki talenta mendidik orang lain agar mampu menemukan jalurnya yang tepat.

Masalahnya adalah apa yang diajarkan seorang guru tutup mulut? Tujuannya jelas, mampu membuat mulut terjaga rapat. Tetapi bagaimana metodologinya? Teori dan praktik tutup mulut belum menjadi ilmu yang sistematis. Teori tutup mulut belum terdefinisikan dengan jelas. Kebanyakan upaya tutup mulut adalah sebatas respon atas suatu permasalahan yang dirasa tidak mampu atau tidak ingin untuk dijawab. Ada pula beberapa kasus tutup mulut yang didramatisir dengan menjahit mulut sebagai upaya mendapat perhatian atas tuntutan yang diajukan. Untuk hal tersebut baru terjadi belakangan ini di kala media memberikan ruang lebih bagi aksi-aksi dramatis yang dilakukan individu dengan tujuan tertentu. Apakah tutup mulut bagian dari ilmu komunikasi? Bila ya maka yang nampak adalah kontradiksi. Bagaimana mungkin mengomunikasikan sesuatu dengan menutup mulut? Bila mengutip frasa “medium is the message” maka itu menjadi mungkin. Tutup mulut menjadi pesan yang ingin dikomunikasikan. Tetapi dalam realita hal tersebut menjadi mengawang, karena tidak adanya relasi interaktif antara komunikator dengan komunikan. Tanpa relasi interaktif maka komunikasi yang terjalin lebih tepat disebut monolog. Penceramah, ulama, guru, aktor, komandan tentara hingga orang gila melakukan komunikasi dalam bentuk monolog dengan tujuan yang berbeda. Mereka menuntut aksi tutup mulut dari sasaran komunikasinya agar apa yang disampaikannya utuh tidak terpotong. Pengecualian mungkin bagi orang gila, karena sepertinya mereka tidak peduli apakah ada yang mendengarkan monolog mereka.

Setiap manusia memiliki kebutuhan untuk bersosial, berinteraksi dengan sesama manusia. Komunikasi menjadi wahana mewujudkan kebutuhan tersebut. Ada beragam komunikasi yang bisa dilakukan, bisa secara verbal melalui bantuan mulut untuk menyuarakan apa yang ingin diungkapkan, bisa pula melalui tulisan bila komunikasi verbal dirasa memiliki keterbatasan seperti yang terjadi pada mereka yang tidak mampu berbicara dengan jelas karena cacat atau karena ada rincian yang sulit dibedakan melalui ujaran. Selain itu ada pula komunikasi yang disampaikan melalui penanda entah itu bahasa tubuh atau kode-kode dengan bantuan alat atau benda. Contoh konkret bentuk komunikasi ini adalah karya seni karena seni mengincar jiwa sebagai sasaran komunikasinya tetapi tidak seperti komunikasi verbal atau tulisan yang jelas dan ringkas maka komunikasi penanda mendapatkan tafsir yang berbeda-beda dari setiap jiwa atau malah bisa saja tidak berarti apapun. Selain itu komunikasi penanda yang disampaikan sebuah karya seni lebih sebatas simulasi dari realitas dan bukan realitas itu sendiri karenanya butuh jiwa dengan wawasan luas dan merdeka untuk mampu mengkonversi penanda-penanda tersebut menjadi komunikasi dialogis dalam realitas sehari-hari. Tutup mulut dapat saja dikategorikan sebagai bentuk komunikasi penanda namun bila itu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari hanya akan menelurkan kevakuman. Dan dalam situasi tersebut sulit terjadi interaksi dialogis.

Masalah lainnya adalah bagaimana praktik pelajaran tutup mulut? Ini pertanyaan yang timbul bila kita memaksakan tutup mulut sebagai suatu komunikasi. Bagaimana guru mengajarkan praktik tutup mulut? Bila ia melakukannya dalam aksi tutup mulut apakah murid memahami cara tepat untuk tutup mulut sebagaimana yang diajarkan? Bila guru mengajarkan tutup mulut dengan kata-kata yang berlimpah justru menjadi kontradiktif seperti yang sudah saya tuliskan di alinea dua cerita ini, bukan?

Ya, ini sebuah cerita. Halaman pembuka seperti yang sudah tertulis di atas mirip kolom, atau artikel yang berisi opini. Padahal saya sedang menulis cerita. Dan tokoh dalam cerita ini masih dipusingkan oleh masalah dimana mencari guru privat tutup mulut. Tidak pernah ada orang di dunia ini yang pernah menjadi guru privat tutup mulut, setidaknya google tidak pernah menemukan data tentang hal tersebut. Lagi pula tidak pernah tercatat ada orang yang membutuhkan guru privat tutup mulut, karena bila ada yang pernah memerlukan maka akan menciptakan peluang kerja sebagai guru privat tutup mulut dan imbasnya bisa jadi akan tercatat di google. Sempat terpikir olehnya untuk mendatangi Limbad, seorang penghibur dalam bidang ilusi yang terkenal dengan aksi tutup mulutnya. Namun jika Limbad mau pasti harganya akan mahal, mungkin seharga mobil sedan mewah. Ini asumsi yang didasari oleh pembacaan atas gaya hidup Limbad itu sendiri yang besar kemungkinan logis. Tetapi Limbad pun sebenarnya menggunakan aksi tutup mulut untuk menonjolkan ilusi kekuatan tenaganya dan bukan sebagai bentuk komunikasi karena dalam banyak kesempatan ia pun berbicara verbal namun dengan berbisik. Kompetensi dan kapabilitas Limbad dirasa belum mencukupi untuk layak dijadikan guru tutup mulut. Karenanya ia pun menyingkirkan pikiran untuk mendatangi Limbad.
Kebutuhan akan guru tutup mulut ini tercetus sebagai refleksi atas kejadian yang dialaminya pagi ini. Ia merasa telah mengatakan kalimat yang membuatnya disalah artikan. Sebenarnya hal ini tidak merisaukan bila orang yang salah mengartikan itu adalah kawan sehari-hari atau malah orang asing, ini menjadi masalah bagi pikirannya karena orang tersebut adalah perempuan yang istimewa di hatinya, seorang yang ingin diberikannya kesan positif dari dirinya. Segala harapan menjadi antiklimaks karena kesalah pahaman. Ia sendiri sebenarnya tidak mengetahui secara tepat kalimat apa yang sudah diucapkannya yang menjadi sumber kesalahpahaman tersebut. Bila anda menduga bahwa ia sudah mengucapkan rasa cinta kepada perempuan istimewa tersebut sebagai sebabnya maka anda keliru. Dialog yang terjadi pagi itu bukanlah komunikasi cinta a la remaja, tetapi interaksi pemikiran mengenai hal-hal yang menjadi interes keduanya. Mereka berdua berada di jalur yang serupa, hanya cara mereka memandang jelas berbeda walaupun tidak bertentangan secara diametral. Tokoh utama dalam cerita ini merasa telah bersikap defensif dalam berkomunikasi, hal itu biasanya terjadi bila dirinya merasa ditekan atau diserang secara verbal. Defensif adalah reaksi alamiahnya dalam menghadapi tekanan atau serangan dari lawan komunikasinya. Dan dalam keadaan defensif tanpa sengaja ia mengeluarkan kalimat-kalimat yang sebenarnya tidak penting untuk diucapkan. Padahal awalnya ia hanya ingin membuka dirinya sebagai seorang yang suka membaca, dalam pengertian filosofis. Tanpa disadari, hasil pembacaannya atas situasi yang terjadi disekitarnya dimaknakan sebagai caranya bersikap. Ia menyesal terlampau jujur dan membiarkan mulutnya terus berbicara tanpa kendali. Bila saja ia mampu menentukan waktu berbicara dan saatnya tutup mulut mungkin perasaan ini tidak membebaninya.

Dua belas stasiun perhentian terasa cepat berlalu, bukan karena ia sedang menaiki kereta rel listrik yang memang melaju pesat tanpa hambatan melainkan karena pergumulan batin yang dialaminya. Untunglah selama perjalanan tidak ada seorangpun yang mengajak berbicara, kota memang dipenuhi orang-orang tanpa komunikasi verbal sejati. Jika pun ada sebatas basa-basi. Bila ada yang mengajaknya bicara mungkin akan timbul kesalahpahaman baru walau kadarnya pasti berbeda dan bisa diabaikan.

Berdasarkan pengalaman ketika baru pindah ke tempat yang dekat dengan stasiun kereta itu, ia juga pernah merasakan kesalahpahaman dengan mereka yang sudah lebih dahulu tinggal di sekitar rumahnya sejak generasi terdahulu orangtuanya. Mereka yang mengidentifikasikan diri sebagai pribumi ini merasa perlu dirajakan oleh orang-orang yang baru tinggal belakangan. Tanpa komunikasi yang interaktif dan saling memahami itulah timbul intimidasi yang direspon dengan perlawanan yang kemudian membesar menjadi tawuran massal antar kelompok. Antara pendatang yang melawan dominasi pribumi. Untunglah itu hanya temporer, untuk kemudian kedua pihak saling menghargai dan malah berkawan karib hingga kini lebih dari dua puluh tahun kemudian di saat mereka juga sama menua.

Tetapi apakah mungkin memori pengalaman kolektif tersebut diaplikasikan dalam memahami situasi dua individu seperti yang dialaminya hari ini? Bisa jadi, bukankah pertambahan umur seseorang akan mempengaruhi caranya memandang persoalan baik dirinya sendiri ataupun relasinya dengan individu lain juga kelompok sosial?

Tuuh puluh satu hari ke depan usianya genap empat puluh tahun. Usia yang bagi banyak orang diposisikan sebagai titik balik dalam hidup. Ada kalimat bijak menghibur yang kemudian teringat olehnya bahwa; di usia dua puluhan kita tak peduli omongan orang lain, di usia tiga puluhan kita khawatir dengan omongan orang lain dan di usia empat puluhan kita pun tahu bahwa orang lain tak memikirkan kita. Dia mendengarnya sejak lama walau tidak pernah tahu siapa yang mengatakannya namun jelang usia empat puluh ini dia baru menyadari bahwa kalimat bijak tersebut telah membantunya keluar dari kabut yang menyelimuti pikirannya sepanjang hari.

Bukan lantas ia menganggap perempuan istimewa yang salah mengartikan dirinya adalah orang yang tak peduli tetapi ia lebih memilih bahwa itulah bentuk kepeduliannya menyikapi kejujuran yang sudah diucapkannya. Oleh karenanya ia tak merasa perlu lagi untuk mencari guru privat tutup mulut. Kejujuran dalam komunikasi lebih penting dibanding menutup diri. Jika pun nanti terjadi salah pengertian maka tak perlu menciptakan kabut lagi melainkan terbang ke tempat lebih tinggi agar dapat menertawakan diri sendiri.

21 Oktober 2015

21:27 WIB

Ribuan Nada Menjelajahi Amien Kamil

Puisi adalah seni tertua yang pernah diciptakan oleh manusia. Dalam literatur banyak agama pun tertulis bahwa dunia diciptakan lewat larik puisi Yang Kuasa. Pada era purba puisi lalu disajikan sebagai pengantar menuju prosesi ritus maka pemaknaan dari puisi turut berubah searah dengan perkembangan zaman.
Mendiang John F.Kennedy pernah berucap,”..saat politik menjadi kotor, puisi yang membersihkannya,” ini adalah semacam pengakuan dari seorang politisi, yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan oleh para penyair, bahwa puisi adalah salah satu kebutuhan untuk bertahan dalam hidup yang semakin keras dan kotor yang para politisi ciptakan.
Tetapi apakah pernyataan tersebut relevan kini bagi kebanyakan orang yang dijejali prioritas memenuhi kebutuhan primer semata dalam hidupnya? Disadari atau tidak sesungguhnya manusia dari dulu hingga nanti memerlukan puisi dalam hidup sehari-hari. Jangan dahulu dibayangkan bahwa puisi yang dimaksud adalah puisi sebagaimana para penyair melisankannya di atas panggung. Puisi dalam keseharian manusia sudah teraplikasi secara sengaja ataupun tidak disengaja dalam banyak kegunaan. Para pedagang keliling yang berpromosi, remaja yang sedang gundah karena rindu atau menulis kalimat dalam media sosial  adalah contoh dari keseharian manusia yang membutuhkan puisi. Lalu kenapa kita membutuhkan puisi dan puisi seperti apakah yang kita butuhkan? Pertanyaan ini akan melebarkan inti dari tulisan ini karena dibutuhkan penelusuran teraktual untuk memetakan puisi seperti apa yang menjadi kebutuhan dari sebagian besar manusia. Dan saya pun tidak ingin mengarahkan tulisan ini menuju arah itu karena paragraf di atas adalah pengantar semata kepada premis bahwa puisi dibutuhkan setiap manusia.

Tulisan ini sebagaimana yang diwakili oleh judul lebih mengarah kepada opini yang timbul dari hasil pembacaan atas pentas music poetry bertajuk Ribuan Kilometer Menjelajahi Tubuh dari penyair Amien Kamil.

amien

Bertempat di Panggung Apresiasi milik Rumah Belajar Keluarga AnakLangit di tepian Cisadane, Tangerang. Amien Kamil, ditemani Yoko Nomura, Toto Sokle dan Hendrikus Wisnu Groho pada musik serta Psycho Biji pada visual, mempersembahkan puisi-puisinya yang dicuplik dari bukunya ““Catastrophe 1965 ; Elegi Untuk Pramudya Ananta Toer”,” yang akan terbit di bulan september 2016.

Bila kembali sejenak pada pertanyaan di alinea permulaan: Puisi seperti apakah yang dibutuhkan kebanyakan orang? Maka tidak ada jawaban tunggal untuk itu, karena walaupun terlihat seragam namun setiap manusia pada dasarnya memiliki perbedaan akan kebutuhannya, termasuk kebutuhan mengapresiasi puisi. Bagi awam puisi adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan penyair walau dalam banyak kesempatan dalam hidupnya ia pun membaca atau bahkan memakai puisi untuk keperluannya.

Puisi sebagai karya sastra tentulah berbeda dengan puisi sebagai sebuah seni pertunjukan.Puisi dalam bentuk tertulis akan menemukan bentuk yang berbeda bila dilisankan apalagi bila diimprovisasikan dengan musik dan atau visual grafis. Sebagai catatan, kata ‘diimprovisasikan’ pada kalimat sebelum ini saya maksudkan sebagai upaya mengembangkan bentuk berbasiskan kata-kata dalam puisi tersebut. Dan implikasi dari improvisasi tersebut adalah pemaknaan berlapis atas puisi dalam benak penonton.
Setidaknya itulah yang terimpresikan dalam benak saya yang hadir sebagai penikmat pertunjukan tersebut.
Puisi sebagai sebuah seni pertunjukkan tidaklah menjadi ruang bagi para penyair semata, tetapi menjadi medan pemaknaan bagi publik yang heterogen dan penyairnya. Kebanyakan penyair yang murni sastrawan seringkali tidak mengindahkan publik karena tidak ingin melebihi karyanya sendiri yang sudah tertulis dalam puisi. Tidaklah demikian dengan para penyair yang juga dramawan yang justru berpeluang melebihi karya tertulisnya dengan aksi pembacaan serta diimbuhi bunyi juga visual.

Perbandingan di atas tidak dalam kerangka mana yang baik atau benar tetapi dilandasi pembacaan atas pola pemanggungan puisi yang dilakukan aneka penyair selama ini.

Amien Kamil, selain penyair, adalah seorang sutradara teater dari Republic Of Performing Arts, sebelumnya saya mengenalnya sebagai dedengkot Rombongan Toneel Soekar Madjoe. Deretan karya klasik Shakespeare atau yang kontemporer seperti Dario Fo pernah digarapnya. Selama proses pemanggungan teater tersebut Amien dikawal rombongan pemusik yang mengisi ilustrasi. Para pemusik inilah yang kini juga menemani pentas music poetry kali ini.
Menggarap musik pada pentas teater tentu berbeda dengan proses bermusik sebagai karya musik pada umumnya. Musik pada teater harus larut meruang bersenyawa dengan aktor dan elemen pertunjukkan lain guna mampu menghidupkan suasana sebagaimana yang ditafsirkan sutradara atas naskah teater.
Proses seperti inilah yang diadaptasi Yoko Nomura, Hendrikus Wisnu Groho dan Toto Sokle dalam menyikapi bait-bait teks puisi Amien Kamil. Musik yang mereka mainkan adalah ilustrasi auditif atas karya puisi. Ini membuat mereka tidak terpaku pada satu jenis intrumen saja, karena bukan intrumennya yang menjadi patokan tetapi bunyi yang dihasilkan yang menjadi tujuan.
Aneka bebunyian bergotong royong tanpa berusaha mendominasi pertunjukan apalagi ditambah visual grafis (saya tidak tahu apakah ini istilah yang pas) dari belakang layar yang seringkali terasa pas dengan situasi dramatik di depan layar walau kerap juga terasa abstrak pada beberapa momentum. Tetapi inilah spirit penjelajahan, upaya mengembangkan karya tertulis menjadi sebuah seni pertunjukkan, dengan proses pencarian tiada henti.

Menyaksikan pementasan ini laksana menyimak ribuan nada menjelajahi Amien Kamil.

CHANG CHI-MAN

Sebelas  orang berselempangkan AK-47 naik dari buritan kapal, mereka lantas menyebar sambil menodongkan senapan ke arah para ABK yang sudah terduduk pasrah.  Kapal ini berbendera Australia dengan awaknya yang berasal dari berbagai negara, ketika dibajak sedang mengangkut 56.789 ton batubara dari Pelabuhan Tarakan menuju Pelabuhan Yokohama. Di tengah perjalanan rupanya kawanan perompak Lanun Majenun sudah mengintainya dan membajaknya di tengah perairan internasional. Peristiwa ini bukan yang pertama bagi kelompok Lanun Majenun, mereka merompak untuk mendanai perjuangan membentuk negara sendiri di pulau Majenun. Modus operasi mereka biasanya menjual barang bawaan kapal dan menyandera para awak demi uang tebusan yang besarannya tidak bisa ditawar. Uang yang mereka terima dari penjualan di pasar gelap dan tebusan para sandera setelah dipotong merata untuk biaya operasional akan dibelikan persenjataan mutakhir juga dari pasar gelap. Kali ini kapal Australia yang menjadi korban, dan kesebelas orang dengan senapan AK-47 ini segera memindahkan para ABK ke kapal kecil mereka untuk dibawa ke pulau Majenun, tanah air Lanun Majenun. Tinggallah 5 orang dari perompak ini yang bertugas menjaga kapal sambil menghubungi pembeli batubara di tengah lautan. Sayangnya, komunikasi mereka tersadap oleh agen rahasia dan akibatnya dalam hitungan sepuluh menit saja, sebenarnya  9 menit 21 detik namun dibulatkan ke atas,  kelima perompak ini dikagetkan oleh sesuatu yang muncul dari laut di muka kapal secara tiba-tiba. Belum habis rasa kaget itu, mereka dikejutkan lagi oleh sengatan listrik yang mengenai tangan dan kaki mereka secara bergantian. Dampaknya senapan yang digenggam pun terlempar ke bawah dan kelima perompak tersebut jatuh pingsan seketika. Sesuatu yang muncul dari laut dan menembakkan arus listrik ke arah para perompak itu adalah Chang Chi-Man. Robot super berbaju baja dengan perlengkapan canggih dan ketangkasan yang tiada lawan. Chang Chi-Man mengontak Pusat Kontrol dan melaporkan kondisi kapal beserta batubaranya aman. Sesudahnya ia mendapat koordinat baru untuk dituju, ke lokasi para sandera dibawa dan kemudian ia pun mengubah sebagian kakinya menjadi semacam papan ski dengan mesin pendorong bertenaga jet. Dalam hitungan menit, detilnya dua menit 19 detik, Chang Chi-Man sudah menyusul perahu pembawa sandera, terjadi kontak senjata antara perompak dengan Chang Chi-Man namun kesemua peluru yang ditembakkan tidak menembus kulitnya. Keenam perompak itu berusaha menjadikan para sandera sebagai tameng, namun upaya mereka kalah cepat dari aksi Chang Chi-Man yang tiba-tiba saja sudah di tepi perahu dan kembali menembakkan arus listrik kepada para perompak yang sudah diidentifikasi olehnya sejak kontak senjata tadi. Semua perompak menggelepar pingsan dan menyisakan para sandera yang sedari tadi menunduk sambil menutup kepala mereka dengan kedua tangan.  Tepat jam 1 siang operasi pembebasan kapal berbendera Australia dari pembajakan kelompok Lanun Majenun telah berakhir dengan tingkat keberhasilan 100% dan tanpa korban satu pun dari semua pihak. Para sandera dipisahkan dari perompak dan mereka diamankan oleh pasukan Australia yang memang sudah bersiaga di perbatasan. Para perompak ditangkap dan diadili di Mahkamah Internasional.

 

Keberhasilan Chang Chi-Man dalam waktu satu jam kemudian sudah diberitakan di media massa. Semua stasiun tv berita dunia mengirim jurnalis terbaiknya ke perairan di dekat lokasi perompakan, begitu pula pewarta foto dari berbagai negara ramai-ramai ikut menumpang kapal militer Australia yang bersedia mengantarkan mereka mendekati kapal yang dibajak untuk mendapat foto yang eksklusif. Judul beritanya hampir senada, berupa puja-puji bagi Chang Chi-Man. Nyaris tak ada media arus utama yang mendapati setitik pun cela dari operasi pembebasan ini. Chang Chi-Man menjadi kesayangan media. Kecuali bagi media-media perlawanan anonim yang memang sedari dulu tidak setuju dengan sikap redaksi media arus utama.

 

Chang Chi-Man adalah sebuah prototipe dari investasi besar untuk keamanan dunia. Ia diciptakan dari tubuh manusia yang diisi dan dilapisi dengan teknologi pertahanan dan persenjataan mutakhir.  Dimodali oleh konsorsium multinasional dan dilandasi oleh kekhawatiran kian maraknya tindak terorisme  yang menyasar kepentingan-kepentingan ekonomi dan berimbas kepada krisis global maka diciptakanlah Chang Chi-Man. Tugasnya menjamin keamanan dunia. Ya di dunia. Karena aparat polisi atau tentara seringkali tidak bisa bertindak cepat karena kendala prosedural teritorial, maka dicapailah kesepakatan bahwa Chang Chi-Man dapat beroperasi di wilayah mereka guna menjamin keamanan tanpa izin apa pun sepanjang Chang Chi-Man lewat Pusat Kontrol selalu melaporkan keberadaannya di negara yang didatanginya. Luar biasa.

 

Tugas mulia dan privilese yang diterima Chang Chi-Man ini memang sebanding. Robot pahlawan super ini memang tak ada duanya. Padahal, dulunya ia adalah seorang kuli pasar yang suka berkelahi. Pernama, ini bukan salah tulis tapi memang namanya Pernama dan bukan Purnama atau Permana, adalah sosok yang ditakuti oleh warga sekitarnya. Tidak hanya karena tubuhnya yang kekar, tetapi juga karena kemahirannya berkelahi. Ia ditakuti sekaligus disegani.  Banyak remaja-remaja mengagumi Pernama karena ia juga mengajarkan seni bela diri tanpa meminta bayaran. Ia ditakuti oleh preman jalanan hingga ormas paramiliter karena pembelaannya terhadap pedagang pasar yang sering dimintai uang ini-itu setiap hari. Tak terhitung lagi mereka yang sudah merasakan pukulannya dan kemudian mengumpulkan dendam hari demi hari. Sampai pada suatu ketika, para preman jalanan ini bersekutu dengan ormas paramiliter menjalankan strategi mengakhiri Pernama. Mereka menculik Pernama disaat ia tertidur lelap dan memukulinya bertubi-tubi dengan benda apa pun yang di dekatnya. Pernama tewas dan mayatnya dibuang ke pinggir jurang, preman jalanan serta ormas berpesta. Warga bertanya-tanya akan hilangnya Pernama. Mereka tidak tahu mencari kemana. Setelah tiga hari, bau mayat melesat ke atas jurang dan seorang supir truk yang sedang kencing mencium bau itu dan menemukannya. Ia melapor ke polisi dan kemudian paramedis berdatangan mengambil mayat Pernama yang tidak dikenali itu untuk dibawa ke rumah sakit.

 

Di rumah sakitlah, mayatnya ditemukan oleh tim ekspedisi yang ditugaskan untuk mencari tubuh yang cocok untuk menjadi bagian dari proyek yang dikerjakan. Statusnya sebagai mayat yang tak dikenal dan tidak ada keluarga yang mengambil  juga menjadi salah satu faktor penting dalam pemilihan itu. Mereka mengotopsi mayat Pernama dan menemukan bahwa struktur ototnya bagus, jantungnya sehat, dan memiliki bentuk fisik yang proporsional. Tim tersebut membawa mayat Pernama yang dilabeli sebagai Mr.X itu ke laboratorium mereka di Haifa. Mereka membedah tubuhnya dan memasangkan beragam jaringan elektronis menggantikan urat-urat syaraf lama. Mereka juga mengenakan baju baja yang bisa berubah bentuk sesuai kebutuhan. Mirip dengan Iron Man, bedanya yang ini permanen. Mereka telah menjadi tuhan, menghidupkan kembali Pernama dalam bentuk baru: Chang Chi-Man. Namanya diambil dari nama konsorsium yang memodali proyek ini. Komposisi kepemilikannya adalah  27,71% Chang Chi Corp dari Tiongkok, 21,9% Al Eldul Oil dari Arab Saudi, 19,77% West e-West Ltd dari Amerika Serikat, 17,71% Beth Shame Bank milik Israel dan sisanya 12,91% dimiliki Rostograd Akademiya dari Rusia. Dengan modal finansial dari multinasional inilah proyek keamanan dunia didanai.

kerangka cerpen Chang Chi-Man

                             Kerangka Cerpen Chang Chi-Man

Lima bulan lamanya mayat Pernama yang bermetamorfosa menjadi Chang Chi-Man dilatih oleh instruktur-instruktur multi-disiplin yang terbaik dari penjuru dunia.  Karena struktur tubuhnya yang sudah terlatih maka tidaklah sukar bagi para pelatih itu untuk mengajarkan tehnik bela diri. Kendala hanya pada mengadaptasi baju baja dan penerapannya untuk berbagai situasi.  Karena Chang Chi-Man sejatinya adalah robot yang memakai wadah tubuh manusia maka perasaan dan logikanya diganti menjadi memori yang mekanis.

 

Pada bulan ke-tujuh Chang Chi-Man diuji cobakan terjun ke lapangan, dengan misi menangkap seorang dari etnis Uighur yang hendak meledakkan diri di lapangan Tiananmen. Misi berhasil, tersangka teroris dilumpuhkan dan bom yang berada di rompinya berhasil dijinakkan. Media tidak mengetahui, selain karena restriksi berita yang menjadi kewenangan pemerintah Tiongkok namun juga karena  ini adalah medan uji coba yang tidak perlu diketahui publik. Begitupun misi berikutnya, menangkap penjual senjata dari Rusia yang hendak bertransaksi dengan pembelinya di Palmyra. Dilanjutkan misi demi misinya di berbagai lokasi dunia sengaja dirahasiakan dari publik dikarenakan sifatnya yang percobaan.

 

Pada bulan ke-delapan barulah Chang Chi-Man diumumkan kepada publik tepat sesudah operasi pembebasan kapal Australia yang dituliskan pada awal cerita ini. Ini adalah kejutan bagi dunia, munculnya pahlawan super yang tidak didominasi oleh negara tertentu. Pahlawan dengan nama a la asia dan kemampuan yang tiada dua. Delapan pemimpin negara besar dunia segera mengadakan pertemuan untuk membahas dukungan bagi program Chang Chi-Man yang pada intinya memberikan izin baginya untuk beraksi menumpas kejahatan global bila itu berlangsung di wilayahnya. Tidak butuh waktu lama bagi delapan negara besar ini untuk mendiktekan apa yang sudah dilakukannya agar diterima di ratusan negara lainnya. Akhirnya Chang Chi-Man memiliki izin tanpa batas untuk beroperasi di seluruh penjuru dunia. Berbagai korporasi juga bergabung dalam konsorsium untuk memasok berbagai perlengkapan yang dibutuhkan Chang Chi-Man. Dari kepala hingga mata kaki semuanya adalah produk terbaru dengan garansi seumur hidup. Chang Chi-Man menjadi fenomena menarik idaman media massa, karena dunia selalu butuh idola baru. Ia laksana “opium for the people” yang didengungkan Marx dahulu kala. Berbagai produk turunan dengan model Chang Chi-Man seperti boneka, komik, bantal, film animasi dan lain-lain menjadi incaran publik di manapun jua.

 

Jam sembilan malam, ia mendapat perintah baru. Misi kali ini adalah memadamkan upaya pemberontakan yang melibatkan rakyat miskin di sebuah negara kepulauan. Pemberontakan ini dirancang oleh aliansi Anarkis, Komunis, Sosialis dan Islamis (AKSI) dengan bertumpu pada dukungan mayoritas  rakyat miskin di negeri yang konon potensial menjadi besar itu. Aksi revolusi ini dikhawatirkan akan menghancurkan fundamental ekonomi negeri itu yang sebagian besar didanai dari pinjaman luar negeri dengan agunan sumber daya alam. Belum lagi ancaman nasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak luar negeri. Semua indikator ditambah data intelijen sudah memungkinkan bagi Chang Chi-Man untuk beraksi. Demi memadamkan pemberontakan ini maka ia harus menangkap para pemimpin aliansi AKSI. Chang Chi-Man segera terbang dengan kecepatan tinggi  ke ibukota negara kepulauan ini. Tak dinyana ia disambut oleh rakyat miskin bersenjatakan bambu runcing sebagai juru selamat. Mereka mengira kedatangannya untuk membantu revolusi ini. Namun tidak demikian dengan apa yang ada di pikiran para pemimpin AKSI. Mereka curiga Chang Chi-Man akan memadamkan pemberontakan, untuk itu mereka merancang jebakan maut dengan meminta robot itu berpidato di tengah kepungan massa. Chang Chi-Man belum mendapat momentum tepat untuk melaksanakan tugasnya, karenanya ia mencoba mengikuti alur yang ditawarkan orang-orang yang ingin ditangkapnya ini. Di depan podium sederhana ia kini berdiri, namun sesaat setelah ia menyentuh tiang mikropon yang sudah dialiri listrik bertegangan tinggi maka terlemparlah ia dan mengakibatkan gangguan pada sistem memorinya. Dalam keadaan tidak sadarkan diri, para pemimpin AKSI membuka paksa topeng baja di kepala Chang Chi-Man dan , “Pak Nama?”seru seorang yang pertama melihat wajah itu. “Pak Per!”, seru seorang lagi yang juga menatap. Keduanya mengenali wajah ini dengan panggilan yang berbeda. Yang menyebutnya Pak Nama adalah bekas murid bela dirinya sedang yang memanggil Pak Per adalah mantan ketua ormas paramiliter yang kini keduanya bersekutu untuk menggelar revolusi.

 

Chang Chi-Man dibawa ke ruang interogasi oleh rakyat yang masih bingung akan apa yang terjadi. Disitu ia diikat rantai baja. Sekitar jam 10 malam, ia siuman. Dengan topeng yang terbuka dan kerusakan pada memorinya membuat ia tak bisa mengendalikan kekuatannya. Disini para pemimpin AKSI bergantian memeriksa sembari melakukan reindoktrinasi. Mereka membongkar ulang pemahaman Chang Chi-Man akan siapa dirinya di tengah dunia. Mereka menunjukkan bukti penunjang berupa dokumentasi kekejaman kapitalis global lewat para penguasa terhadap rakyat miskin.  Pada saat itu berlangsung, komunikasi dengan Pusat Kontrol memang terputus akibat meledaknya beberapa cip dalam tubuh Chang Chi-Man yang bertugas sebagai  pengirim dan penerima sinyal komunikasi.  Namun sebenarnya Chang Chi-Man memang dibuat dengan teknologi tinggi yang memungkinkan setiap perangkat dapat memperbaiki sendiri kerusakan yang dialami dengan durasi minimal satu jam tergantung dari tingkat kerusakannya. Dan sementara perbaikan swadaya berlangsung, indoktrinasi yang terjadi secara tidak sadar merasuk kedalam memori Chang Chi-Man. Akibatnya terjadi pemahaman baru bahwa ia hanya alat penghancur milik kapitalis global. Di saat yang tidak begitu lama, perbaikan setiap perangkat telah selesai dan komunikasi dengan Pusat Kontrol kembali berlangsung. Chang Chi-Man kembali bisa dikendalikan dan ia pun melepas rantai baja yang mengikatnya kemudian atas perintah Pusat Kontrol ia menangkap para pemimpin AKSI tanpa perlawanan berarti. Ia membawa ke empatnya menuju pelabuhan terdekat dan meminta kapal induk untuk segera merapat dan membawanya kembali ke Pusat Kontrol.

 

Jelang tengah malam mereka sudah berada di Pusat Kontrol. Para pemimpin AKSI digiring ke penjara, sedang Chang Chi-Man dibawa ke pusat perbaikan untuk mendeteksi kerusakan yang ada. Namun kini Chang Chi-Man telah berubah, ia bukan lagi Chang Chi-Man yang mutlak di bawah kendali Pusat Kontrol, ia kini bisa berpikir merdeka dan mendapati bahwa dirinya bukan lagi penjaga keamanan dunia melainkan penjaga kepentingan kapitalis global. Ia mengamuk dan menghancurkan segala yang ada didekatnya. Ini pemberontakan Chang Chi-Man.  Ia menuju Pusat Kontrol dan melumpuhkan semua penjaga serta menghukum mati para pengendali. Namun Pusat Kontrol punya kartu truf bila terjadi malfungsi. Mereka menekan tombol pemusnahan Chang Chi-Man. Dengan tombol itu maka akan terjadi kerusakan yang dilakukan oleh setiap perangkat dalam diri Chang  Chi-Man secara simultan dan otomatis. Mereka semua hancur secara bersamaan tepat semenit sebelum jam 12 malam. Dan keadaan ini memaksa para investor untuk menghentikan program Chang Chi-Man seraya menyebarkan kabar bahwa robot pahlawan itu hancur dalam ledakan yang dirancang oleh pemimpin AKSI. Berita ini mengguncangkan dunia sekaligus meredam nafsu pemberontakan di negeri kepulauan tadi. Dunia bersatu dalam duka, bendera setengah tiang dikibarkan sejak pukul 00:00 hingga batas waktu yang belum ditentukan.

 

Ditulis pada tanggal 27 April 2016

Selesai jam  17:00 WIB

 

MENYAKSIKAN GERHANA DI SITIHINGGIL

MENYAKSIKAN
Menjadi saksi kadang adalah situasi yang tidak diinginkan setiap orang, apalagi bila harus bersaksi di pengadilan atas sebuah kasus pidana. Dalam persidangan pernyataan seorang saksi akan diuji kebenarannya dan seringkali harus dikaitkan dengan preferensi subyektif dari sang saksi yang bisa saja melewati penggalian yang kasar. Itulah kenapa banyak orang yang sebisa mungkin tidak dilibatkan menjadi saksi atas sebuah peristiwa pidana yang dilihatnya. Namun dalam peristiwa kesenian maka menjadi saksi adalah suatu hal yang sedapat mungkin tidak untuk dilewatkan bagi kebanyakan orang. Menonton pertunjukan seni sejatinya adalah menjadi saksi atas peristiwa kesenian. Banyak peristiwa kesenian yang terjadi sepanjang tahun di berbagai tempat namun mayoritas tak terjaring oleh media massa. Hal ini tidak sepenuhnya menjadi kesalahan pers, bisa jadi karena informasi yang tidak sampai kepada media atau mungkin juga karena jumlah peristiwa kesenian yang terjadi tidak sanggup untuk diliput oleh jurnalis itu sendiri. Karena tidak semua pewarta dapat menjadi saksi peristiwa kesenian maka kehadiran penonton dengan piranti berupa kamera ponsel dan akun media sosial adalah sebuah alternatif bagi publik yang tidak sempat menjadi saksi dalam peristiwa kesenian tersebut. Dan melalui tulisan ini, saya sedang memaparkan kesaksian saya kala diundang untuk menonton sebuah pertunjukan teater.
Bertempat di Wisma Sitihinggil, sebuah ruang alternatif untuk pementasan kesenian yang terletak di tengah-tengah kepungan rumah-rumah masyarakat di wilayah Tanah Tinggi di Kota Tangerang. Tempat ini belum lama berdiri, setidaknya dari yang saya tahu dari kawan-kawan seniman, usianya belum lagi setahun. Namun dari tempat inilah kesaksian saya mulai melaju.
Minggu, 10 April 2016. Kebanyakan orang mungkin sedang menikmati masa liburnya, tapi tidak dengan Teater Cahaya UMT. Selama tiga hari dimulai dari tanggal 8 hingga 10 April mereka memainkan lakon Gerhana. Dan kabarnya selama tiga hari itu pula penonton memadati Wisma Sitihinggil yang berkapasitas sekitar 50-70 orang penonton itu. Saya sebetulnya sudah mendapat kabar untuk hadir pada gladi resik namun karena mendadaknya berita maka saya mencoba meluangkan waktu pada hari terakhir untuk menghadirinya.
Hal ini menjadi penting bagi saya, karena menonton peristiwa kesenian adalah sebuah kebutuhan rohani bagi jiwa saya. Mengapresiasi sebuah pementasan pada substansinya adalah memberikan makanan dengan menu artistik dan estetik bagi pikiran saya. Dengan menonton pun maka saya menjadi saksi, dan dengan demikian maka saya harus memberikan kesaksian kepada publik dalam cara yang bisa saya lakukan, yaitu menulis.
Karenanya untuk memenuhi rasa lapar pikiran saya terhadap pertunjukan seni ini pun saya bergegas menuju tempat yang dituju. Lewat Jalan Jendral Soedirman, tepatnya di muka gerbang Komplek Kehakiman di seberang Komplek Pusat Pemerintahan Kota Tangerang saya berjalan terus menuju Mesjid Al-Muhajirin. Mesjid ini menjadi penanda lokasi karena Wisma Sitihinggil terletak di sekitar Komplek Mesjid tersebut. Bagi anda yang belum pernah ke tempat ini sebaiknya banyak bertanya karena jalan menuju lokasi lumayan jauh dari pinggir jalan raya.

GERHANA
Lakon Gerhana ditulis oleh Sutradara Teater Cahaya UMT yaitu Intan Sari Ramdhani berdasarkan cerita pendek berjudul sama karya Mohammad Ali. Saya belum membaca cerita pendek tersebut namun berdasarkan keterangan Madin Tyasawan, supervisor Produksi dalam pentas ini, cerita yang ditulis tidak mengubah banyak dari cerita pendek. Kalau pun ada perbedaan tentunya dalam misi meruangkan peristiwa yang terjadi dalam cerpen tersebut.
Ceritanya sendiri bagi saya realistis, adalah Sali yang kalap karena pada suatu pagi ia mendapati pohon pepaya satu-satunya yang tumbuh di pekarangan rumahnya dalam keadaan roboh melintang di tanah. Ia marah dan merasakan ketidakadilan. Sali lantas bergegas mengadukan peristiwa itu ke pihak yang berwenang. Dari Pak Lurah, kecamatan hingga kepolisian ia datangi. Namun aduannya dianggap terlalu remeh untuk ditindak lanjuti. Padahal tempat-tempat yang didatanginya adalah tempat yang sepengetahuannya bisa untuk mengadukan permasalahan dan mendapat solusi yang berkeadilan. Cemooh dan bentakan kemarahan yang didapatnya membuatnya limbung akan pencarian keadilan. Ia menanggung beban berat atas tumbangnya pohon pepaya miliknya, dan.. sebaiknya saya tidak perlu rinci dalam hal ini karena akan merusak imaji publik yang belum dan ingin menyaksikan lakon ini.

Sali diancam Polisi

Sali diancam Polisi

Lakon ini dipenuhi banyak unsur simbolik. Dimulai dari pemberian judul yang setahu saya tidak sekalipun terucapkan. Tentu ini memancing pertanyaan dari penonton. Apa relasi Gerhana dengan situasi yang terjadi? Gerhana adalah fenomena alam dimana posisi bumi dan bulan berada dalam satu garis lurus dengan matahari. Bila gerhana matahari maka bumi dalam keadaan gulita sesaat, sedangkan dalam gerhana bulan maka bulan akan menghilang sejenak. Ketiadaan bulan atau matahari yang sesaat tersebut menimbulkan imajinasi bagi nenek moyang yang mendiami nusantara ini untuk menciptakan narasi-narasi menggemparkan yang disebut dengan mitos. Pada saat gerhana matahari total tahun 1983, saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar ikut merasakan mitos yang dirakit oleh kekuasaan pada waktu itu untuk menimbulkan ketakutan pada publik yang akhirnya bersembunyi di rumah masing-masing dan menutup pintu juga jendela. Reaksi yang berbeda justru terjadi pada maret 2016, kala gerhana matahari kembali melintasi negeri ini. Gerhana menjadi sebuah peristiwa yang harus dirayakan, berbondong-bondong publik dari mancanegara juga mengunjungi titik-titik perlintasan. Walaupun begitu, masih banyak juga masyarakat tidak peduli terhadap fenomena alam tersebut dan memilih terus bekerja seperti biasa. Pilihan akan pemaknaan gerhana memang menjadi hak setiap orang, tidak terkecuali gerhana dalam lakon pementasan ini. Simbolisme berlanjut dalam penamaan peran utama yaitu Sali yang memiliki makna teguh atau kuat. Bagi masyarakat di dunia timur, nama adalah doa, adalah harapan dari si pemberi nama terhadap orang yang dinamai. Tidak terkecuali bagi penulis lakon ini yang berharap nama Sali dapat menyiratkan harapan sang penulis terhadap peristiwa. Terus terang saya belum mengkonfirmasi hal ini kepada si penulis cerita, bisa dikatakan ini tafsir dari saya sebagai penyaksi. Simbolisme juga kuat dalam penataan set yang memiliki konsep set bertumbuh. Ruang yang diciptakan dalam panggung bisa dibilang tidak mencoba menjiplak sepenuhnya akan realita, namun dengan berbagai penanda yang akrab dalam benak penonton. Strategi penataan set demikian kiranya sebagai upaya beradaptasi dengan ruang yang ada. Dan itu sudah maksimal dimata saya.
Perlu diketahui bagi publik yang belum dan ingin menyaksikan lakon ini bahwa cerita ini akan dibawa kembali pada Fesdrak 2016 yang juga berlangsung di Wisma Sitihinggil pada minggu ketiga bulan Mei hingga awal Juni 2016. Dan karenanya pementasan ini menjadi penting bagi Teater Cahaya UMT dan Wisma Sitihinggil untuk menguji coba lakon di ruang pentas alternatif ini.

DI SITIHINGGIL
Pada alinea kedua dan paragraf di atas ini saya tuliskan Wisma Sitihinggil sebagai ruang alternatif pertunjukan seni dan ini adalah kesengajaan dari saya untuk menggambarkan impresi kegembiraan dari saya akan terciptanya ruang pertunjukan baru di kota Tangerang. Ini menjadi penting bagi saya yang juga pelaku kesenian karena dengan demikian membuka peluang bagi saya dan pelaku seni lain untuk berkiprah di sini. Lokasinya yang rapat dengan rumah-rumah penduduk sekitar menebar benih kesempatan bagi publik untuk berkenalan dengan pertunjukan seni dan menjadi penyaksi. Bagi saya ini positif karena semakin banyak ruang pertunjukan maka semakin banyak pilihan bagi publik untuk menyaksikan pertunjukan seni yang beragam.
Dari penuturan Madin Tyasawan dan Eb Magor, Wisma Sitihinggil dimiliki dan dikelola secara mandiri. Saya kagum mendengar ini, karena butuh ‘kegilaan’ untuk membuka ruang pertunjukan tanpa dukungan pemerintah. Di kota lain mungkin hal ini biasa, tetapi di Tangerang ini langka.
Karenanya saya berharap Wisma Sitihinggil dapat terus konsisten menyajikan pementasan bagi publik Tangerang dan sekitarnya, dengan atau tanpa APBD.

TITIK
Sebelum mencapai titik maka perlu kiranya saya mengantarkan konklusi atas kesaksian saya ini. Gerhana masa kini adalah momentum perayaan penyatuan harmoni antara manusia dengan ruang semesta. Ini adalah sebuah keindahan, dan itu pula yang sudah dilakukan dengan maksimal oleh Teater Cahaya UMT pada pementasan kali ini di ruang bernama Wisma Sitihinggil.