MENCARI GURU PRIVAT TUTUP MULUT

tutupmulut

Pikiran tersebut melintas dan mengendap dalam benaknya selama dalam perjalanan pulang. Namun dimana mencari guru privat tutup mulut? Apa perlu membuat selebaran dan menempelkannya di tiang-tiang listrik berjejal dengan iklan sedot wc? Atau cukup menuliskannya di laman belanja daring dan menunggu respon via telepon atau surel? Selebaran di tiang listrik atau iklan daring hanya menjawab bagaimana mencarinya namun tidak menuntaskan untuk pertanyaan dimana mencarinya. Lagi pula ada yang lebih mendasar: apa pernah ada guru privat tutup mulut?

Dimanapun, yang namanya guru harus menerangkan sejelas-jelasnya kepada sang murid mengenai apa yang dipelajari. Metodologi pendidikan sudah seperti itu dari zaman dahulu. Ada teori dan ada pula praktik untuk segala hal. Keduanya bertaut dalam upaya memberikan pemahaman menyeluruh kepada murid. Teori tanpa praktik akan membuat murid mengawang, praktik tanpa teori hanya membuat murid tersesat. Akan menjadi baik bila tersesat di jalur yang tepat, banyak yang menyebut itu jalan pintas menuju tuntas, tetapi tidak semua orang diberi anugerah dapat memilih sendiri jalurnya yang tepat. Itulah kenapa ada orang-orang yang memiliki talenta mendidik orang lain agar mampu menemukan jalurnya yang tepat.

Masalahnya adalah apa yang diajarkan seorang guru tutup mulut? Tujuannya jelas, mampu membuat mulut terjaga rapat. Tetapi bagaimana metodologinya? Teori dan praktik tutup mulut belum menjadi ilmu yang sistematis. Teori tutup mulut belum terdefinisikan dengan jelas. Kebanyakan upaya tutup mulut adalah sebatas respon atas suatu permasalahan yang dirasa tidak mampu atau tidak ingin untuk dijawab. Ada pula beberapa kasus tutup mulut yang didramatisir dengan menjahit mulut sebagai upaya mendapat perhatian atas tuntutan yang diajukan. Untuk hal tersebut baru terjadi belakangan ini di kala media memberikan ruang lebih bagi aksi-aksi dramatis yang dilakukan individu dengan tujuan tertentu. Apakah tutup mulut bagian dari ilmu komunikasi? Bila ya maka yang nampak adalah kontradiksi. Bagaimana mungkin mengomunikasikan sesuatu dengan menutup mulut? Bila mengutip frasa “medium is the message” maka itu menjadi mungkin. Tutup mulut menjadi pesan yang ingin dikomunikasikan. Tetapi dalam realita hal tersebut menjadi mengawang, karena tidak adanya relasi interaktif antara komunikator dengan komunikan. Tanpa relasi interaktif maka komunikasi yang terjalin lebih tepat disebut monolog. Penceramah, ulama, guru, aktor, komandan tentara hingga orang gila melakukan komunikasi dalam bentuk monolog dengan tujuan yang berbeda. Mereka menuntut aksi tutup mulut dari sasaran komunikasinya agar apa yang disampaikannya utuh tidak terpotong. Pengecualian mungkin bagi orang gila, karena sepertinya mereka tidak peduli apakah ada yang mendengarkan monolog mereka.

Setiap manusia memiliki kebutuhan untuk bersosial, berinteraksi dengan sesama manusia. Komunikasi menjadi wahana mewujudkan kebutuhan tersebut. Ada beragam komunikasi yang bisa dilakukan, bisa secara verbal melalui bantuan mulut untuk menyuarakan apa yang ingin diungkapkan, bisa pula melalui tulisan bila komunikasi verbal dirasa memiliki keterbatasan seperti yang terjadi pada mereka yang tidak mampu berbicara dengan jelas karena cacat atau karena ada rincian yang sulit dibedakan melalui ujaran. Selain itu ada pula komunikasi yang disampaikan melalui penanda entah itu bahasa tubuh atau kode-kode dengan bantuan alat atau benda. Contoh konkret bentuk komunikasi ini adalah karya seni karena seni mengincar jiwa sebagai sasaran komunikasinya tetapi tidak seperti komunikasi verbal atau tulisan yang jelas dan ringkas maka komunikasi penanda mendapatkan tafsir yang berbeda-beda dari setiap jiwa atau malah bisa saja tidak berarti apapun. Selain itu komunikasi penanda yang disampaikan sebuah karya seni lebih sebatas simulasi dari realitas dan bukan realitas itu sendiri karenanya butuh jiwa dengan wawasan luas dan merdeka untuk mampu mengkonversi penanda-penanda tersebut menjadi komunikasi dialogis dalam realitas sehari-hari. Tutup mulut dapat saja dikategorikan sebagai bentuk komunikasi penanda namun bila itu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari hanya akan menelurkan kevakuman. Dan dalam situasi tersebut sulit terjadi interaksi dialogis.

Masalah lainnya adalah bagaimana praktik pelajaran tutup mulut? Ini pertanyaan yang timbul bila kita memaksakan tutup mulut sebagai suatu komunikasi. Bagaimana guru mengajarkan praktik tutup mulut? Bila ia melakukannya dalam aksi tutup mulut apakah murid memahami cara tepat untuk tutup mulut sebagaimana yang diajarkan? Bila guru mengajarkan tutup mulut dengan kata-kata yang berlimpah justru menjadi kontradiktif seperti yang sudah saya tuliskan di alinea dua cerita ini, bukan?

Ya, ini sebuah cerita. Halaman pembuka seperti yang sudah tertulis di atas mirip kolom, atau artikel yang berisi opini. Padahal saya sedang menulis cerita. Dan tokoh dalam cerita ini masih dipusingkan oleh masalah dimana mencari guru privat tutup mulut. Tidak pernah ada orang di dunia ini yang pernah menjadi guru privat tutup mulut, setidaknya google tidak pernah menemukan data tentang hal tersebut. Lagi pula tidak pernah tercatat ada orang yang membutuhkan guru privat tutup mulut, karena bila ada yang pernah memerlukan maka akan menciptakan peluang kerja sebagai guru privat tutup mulut dan imbasnya bisa jadi akan tercatat di google. Sempat terpikir olehnya untuk mendatangi Limbad, seorang penghibur dalam bidang ilusi yang terkenal dengan aksi tutup mulutnya. Namun jika Limbad mau pasti harganya akan mahal, mungkin seharga mobil sedan mewah. Ini asumsi yang didasari oleh pembacaan atas gaya hidup Limbad itu sendiri yang besar kemungkinan logis. Tetapi Limbad pun sebenarnya menggunakan aksi tutup mulut untuk menonjolkan ilusi kekuatan tenaganya dan bukan sebagai bentuk komunikasi karena dalam banyak kesempatan ia pun berbicara verbal namun dengan berbisik. Kompetensi dan kapabilitas Limbad dirasa belum mencukupi untuk layak dijadikan guru tutup mulut. Karenanya ia pun menyingkirkan pikiran untuk mendatangi Limbad.
Kebutuhan akan guru tutup mulut ini tercetus sebagai refleksi atas kejadian yang dialaminya pagi ini. Ia merasa telah mengatakan kalimat yang membuatnya disalah artikan. Sebenarnya hal ini tidak merisaukan bila orang yang salah mengartikan itu adalah kawan sehari-hari atau malah orang asing, ini menjadi masalah bagi pikirannya karena orang tersebut adalah perempuan yang istimewa di hatinya, seorang yang ingin diberikannya kesan positif dari dirinya. Segala harapan menjadi antiklimaks karena kesalah pahaman. Ia sendiri sebenarnya tidak mengetahui secara tepat kalimat apa yang sudah diucapkannya yang menjadi sumber kesalahpahaman tersebut. Bila anda menduga bahwa ia sudah mengucapkan rasa cinta kepada perempuan istimewa tersebut sebagai sebabnya maka anda keliru. Dialog yang terjadi pagi itu bukanlah komunikasi cinta a la remaja, tetapi interaksi pemikiran mengenai hal-hal yang menjadi interes keduanya. Mereka berdua berada di jalur yang serupa, hanya cara mereka memandang jelas berbeda walaupun tidak bertentangan secara diametral. Tokoh utama dalam cerita ini merasa telah bersikap defensif dalam berkomunikasi, hal itu biasanya terjadi bila dirinya merasa ditekan atau diserang secara verbal. Defensif adalah reaksi alamiahnya dalam menghadapi tekanan atau serangan dari lawan komunikasinya. Dan dalam keadaan defensif tanpa sengaja ia mengeluarkan kalimat-kalimat yang sebenarnya tidak penting untuk diucapkan. Padahal awalnya ia hanya ingin membuka dirinya sebagai seorang yang suka membaca, dalam pengertian filosofis. Tanpa disadari, hasil pembacaannya atas situasi yang terjadi disekitarnya dimaknakan sebagai caranya bersikap. Ia menyesal terlampau jujur dan membiarkan mulutnya terus berbicara tanpa kendali. Bila saja ia mampu menentukan waktu berbicara dan saatnya tutup mulut mungkin perasaan ini tidak membebaninya.

Dua belas stasiun perhentian terasa cepat berlalu, bukan karena ia sedang menaiki kereta rel listrik yang memang melaju pesat tanpa hambatan melainkan karena pergumulan batin yang dialaminya. Untunglah selama perjalanan tidak ada seorangpun yang mengajak berbicara, kota memang dipenuhi orang-orang tanpa komunikasi verbal sejati. Jika pun ada sebatas basa-basi. Bila ada yang mengajaknya bicara mungkin akan timbul kesalahpahaman baru walau kadarnya pasti berbeda dan bisa diabaikan.

Berdasarkan pengalaman ketika baru pindah ke tempat yang dekat dengan stasiun kereta itu, ia juga pernah merasakan kesalahpahaman dengan mereka yang sudah lebih dahulu tinggal di sekitar rumahnya sejak generasi terdahulu orangtuanya. Mereka yang mengidentifikasikan diri sebagai pribumi ini merasa perlu dirajakan oleh orang-orang yang baru tinggal belakangan. Tanpa komunikasi yang interaktif dan saling memahami itulah timbul intimidasi yang direspon dengan perlawanan yang kemudian membesar menjadi tawuran massal antar kelompok. Antara pendatang yang melawan dominasi pribumi. Untunglah itu hanya temporer, untuk kemudian kedua pihak saling menghargai dan malah berkawan karib hingga kini lebih dari dua puluh tahun kemudian di saat mereka juga sama menua.

Tetapi apakah mungkin memori pengalaman kolektif tersebut diaplikasikan dalam memahami situasi dua individu seperti yang dialaminya hari ini? Bisa jadi, bukankah pertambahan umur seseorang akan mempengaruhi caranya memandang persoalan baik dirinya sendiri ataupun relasinya dengan individu lain juga kelompok sosial?

Tuuh puluh satu hari ke depan usianya genap empat puluh tahun. Usia yang bagi banyak orang diposisikan sebagai titik balik dalam hidup. Ada kalimat bijak menghibur yang kemudian teringat olehnya bahwa; di usia dua puluhan kita tak peduli omongan orang lain, di usia tiga puluhan kita khawatir dengan omongan orang lain dan di usia empat puluhan kita pun tahu bahwa orang lain tak memikirkan kita. Dia mendengarnya sejak lama walau tidak pernah tahu siapa yang mengatakannya namun jelang usia empat puluh ini dia baru menyadari bahwa kalimat bijak tersebut telah membantunya keluar dari kabut yang menyelimuti pikirannya sepanjang hari.

Bukan lantas ia menganggap perempuan istimewa yang salah mengartikan dirinya adalah orang yang tak peduli tetapi ia lebih memilih bahwa itulah bentuk kepeduliannya menyikapi kejujuran yang sudah diucapkannya. Oleh karenanya ia tak merasa perlu lagi untuk mencari guru privat tutup mulut. Kejujuran dalam komunikasi lebih penting dibanding menutup diri. Jika pun nanti terjadi salah pengertian maka tak perlu menciptakan kabut lagi melainkan terbang ke tempat lebih tinggi agar dapat menertawakan diri sendiri.

21 Oktober 2015

21:27 WIB

Iklan

SUREALISME DALAM LAKON SYEKH SITI JENAR

Pada 14 dan 15 september kemarin, Teater Kain Hitam Gesbica dari UIN Maulana Hasanudin Serang mengadakan pertunjukan teater dengan lakon Syekh Siti Jenar karya Vredy Kastam Marta di Gedung Kesenian Tangerang. Pentas kali ini terjadi di tengah lawatan Teater Kain Hitam Gesbica menyapa beberapa kota di pulau Jawa sejak agustus hingga awal oktober nanti.

Dengan sutradara Opik Pria Pamungkas, rombongan besar Teater Kain Hitam berhasil memikat ribuan penonton yang didominasi pelajar se-kota Tangerang selama dua hari pementasannya. Padahal, ini juga diakui oleh sutradara, tema pada lakon ini termasuk berat untuk diapresiasi penonton usia remaja. Tetapi hingga akhir pentas semua penonton bergeming di tempatnya duduk. Ini membuktikan ada hal selain tema yang mampu membawa penonton terkesima.

Panggung ditata dengan latar kain putih besar dan level yang dibuat berundak-undak hingga ke depan panggung. Dari sini bisa dibaca bahwa tata artistik ini dibuat sederhana agar memberi peluang kepada layar putih besar tersebut untuk elastis mengikuti sajian multimedia. Dan dibantu cahaya berwarna-warni yang fokus pada beberapa titik bloking pemain ditambah kostum yang terdiri dari kombinasi busana khas ulama dan umara pada era Kerajaan Demak serta kostum unik yang menggambarkan tokoh-tokoh absurd.

Saya sedang menggambarkan bahwa konsep artistik yang dimanifestasikan dalam tata panggung, lampu, kostum dan multimedia jelas merujuk pada apa yang disebut sutradara sebagai surealisme. Karena surealisme memang menuntut plastisitas ruang dan dipenuhi simbol-simbol yang seringkali tidak perlu masuk akal. Surealisme menuntut dan menuntun kita kepada alam mimpi, dunia bawah sadar.

Sejak dikumandangkan kepada dunia sebagai sebuah gerakan revolusioner  pasca perang dunia ke 1, surealisme memang  dimaksudkan sebagai antitesis dari realisme yang melulu harus rasional. Surealisme berpijak kepada alam mimpi, dimana segala realitas bergerak tanpa komado logika. Surealisme memandang dunia realisme telah gagal menjunjung kemanusiaan. Dan karenanya manusia harus kembali menjadi subyek dari peradaban dan alam bawah sadar adalah medium paling murni untuk menunjukan kemanusiaan kembali. Aplikasinya berpola spontanitas, pergerakan yang tanpa membutuhkan persetujuan dari sisi otak yang mengolah logika. Contoh yang paling tepat dalam mengenali surealisme ada dalam seni rupa karya beberapa seniman di era 1920-an. Salvador Dali, pelukis berkumis melintang anti gravitasi, dipandang sebagai pelukis yang memakai surealisme sebagai perwujudan artistiknya. Misalnya, salah satu karyanya yang terkenal dimana terdapat jam yang meleleh adalah presentasi dari apa yang ada dalam dunia bawah sadarnya. Secara visual juga terlihat seperti berada dalam dunia antah berantah yang entah dimana atau kapan. Penikmat karyanya seolah diajak tidak kemana-mana selain masuk kedalam alam mimpi Dali dan anda bisa menikmati walau itu adalah presentasi mimpinya. Memang begitulah surealisme.

Lalu bagaimana dalam seni pertunjukan teater? Apakah surealisme turut memberi bab khusus dalam sejarahnya?

Untuk menjawab itu kita mesti sepakat dulu bahwa substansi surealisme adalah menolak realisme, bila hal ini sudah kita lalui maka kita coba telusuri jejak surealisme dalam teater.

Balet Parade, sebuah karya kolaboratif Jean Cocteau dengan komposer Erik Satie dipadu desain set dan busana kubisme Pablo Picasso dan koreografi Leonide Massine pada  tahun 1917 bagi saya adalah contoh pertama dari surealisme dalam teater. Di catatan program ini pula kata surealisme diciptakan oleh Guillaume Apollinaire yang menulis,”..  sejenis surrealisme  (une sorte de surrealisme)..” dan itu tercatat tiga tahun sebelum  kata surealisme menjadi manifesto kebudayaan dengan pusat pergerakannya di Paris. Terhadap pertunjukan ini perhatian banyak tertuju kepada visual busana kubisme yang terbuat dari kardus keras dan  seolah membawa penonton ke arah dunia antah berantah.

Bukan maksud saya menjadikan Parade sebagai acuan dalam menilai surrealisme dalam teater karena setiap karya jelas memiliki gen dan dna yang berbeda. Parade lebih dimaksudkan sebagai catatan sejarah dan dari sana kita bisa mengambil unsur-unsur yang menjadikan pentas tersebut sebagai surrealisme. Namun yang menyolok dari itu  adalah upaya menghadirkan nuansa alam mimpi kedalam panggung.

Tokoh-tokoh surrealisme seperti Andre Breton atau, menyebut yang terkenal, Salvador Dali banyak terilhami dari kajian Freud tentang psikoanalisis yang memang muncul  sezaman dengan mereka. Psikoanalisis berkutat pada studi alam bawah sadar. Buku karya Freud seperti  The Interpretation of Dreams adalah santapan para pelopor surealisme sebagai pondasi paradigma pemikiran mereka.  Mimpi adalah landasan ide dari semua seniman surealisme.

Saya rasa sudah cukup bahasan mengenai surealisme dan kini saatnya anda membaca pengamatan saya mengenai surealisme dalam lakon Syekh Siti Jenar.

Syekh Siti Jenar dalam kisah yang ditulis Vredy Kastam Marta memang berpeluang untuk disandingkan dengan surealisme dalam penggarapannya. Sebabnya karena sebagai tokoh yang dikenal sebagai sufi maka lekat sekali penolakannya terhadap reralisme yang mengagungkan logika matematis khas otak kiri  selain itu ada adegan dimana Syekh Siti Jenar sedang berdialog dengan karakter yang sulit dibayangkan dalam realisme.

Untuk memvisualkan peluang tersebut, sutradara menggunakan multimedia yang dipadukan dengan busana dan musik. Tentu saja ini dalam konteks peran yang tak riil dan teknis artistik. Dan strategi ini berhasil dengan pembuktian tiadanya satu dari ribuan penonton selama dua hari itu yang keluar sebelum usai. Multimedia berhasil memikat mata dengan visual yang secara psikologis menenangkan organ mata seperti pada penampakan awan di angkasa atau suasana purnama, sebagai contoh. Busana tak biasa yang dikenakan kelompok perempuan pun mampu menggiring interpretasi penonton ke arah alam tak biasa. Diimbuhi musik yang mengambil irama sunda yang cenderung menenangkan turut andil dalam membuai penonton untuk tetap fokus selama acara.

Tetapi apakah itu bisa disebut surealisme sebagaimana yang diinginkan sutradara?

Seperti sebelumnya saya tulis bahwa substansi surealisme adalah antitesis realisme. Namun juga dalam alinea sebelum ini juga saya tulis bahwa naskah ini berpeluang untuk disandingkan dengan surealisme dalam penggarapannya. Tetapi secara utuh memang sulit untuk mengatakan bahwa lakon ini digarap dalam estetika alam bawah sadar a la surealisme. Ada beberapa bagian yang memang bisa dikategorikan begitu seperti yang saya urai di paragraf di atas namun yang sebagian itu tidak bisa dijadikan penilaian untuk keseluruhan.

Malah ada beberapa contoh yang saya tulis sebelumnya bila digarap dengan detil bisa jadi semakin mengentalkan estetika alam mimpi. Misalnya visual awan di langit, bila animasi ini digarap utuh tanpa sambungan dan menampilkan sudut elevasi yang perlahan meninggi tentu akan membuat penonton seolah diajak terbang. Atau saat penggambaran konflik yang terlalu landai terasa tidak menyatu dengan adegan yang berrlangsung di depannya, andai perang ditampilkan sebagai kolase yang ritmenya terus mengikuti irama dialog pemeran pasti akan membuat penonton terjebak dalam konflik.

Busana pada tokoh seperti malaikat seharusnya bisa lebih bebas tidak terbelenggu imaji standar dengan pemakaian sayap. Ada pilihan resiko yang berakibat kebingungan di mata penonton tetapi jika targetnya suasana bawah sadar maka sejatinya ada kemerdekaan tanpa batas bagi perancang kostum untuk menggiring ke nuansa mimpi. Begitu juga dengan karakter lain yang tidak riil.

Musik sebenarnya cukup menarik dengan menampilkan irama sunda, tetapi bila jiwa sufi atau alam mimpi maka gamelan jawa yang lebih tenang dan mengayunkan kesadaran tentu lebih cocok dengan beberapa adegan, apalagi ruangnya juga terjadi di Kerajaan Demak yang berlokasi di Jawa Tengah kini. Gamelan Jawa sudah terbukti sejak Claude Debussy mendengarnya di Paris Universal Expo tahun 1899 yang berciri impresionis, intuitif dan keterbukaan cocok untuk disandingkan dengan surealisme walau disaat itu ide surealisme masih berupa spermatozoa.

Apa pun pilihan yang ditempuh sutradara memiliki resikonya sendiri dan bagi penonton lakon Syekh Siti Jenar selama dua malam itu tidaklah penting seberapa kadar surealisme dalam pertunjukan tersebut,  selama kebutuhan artistik mereka terpenuhi maka tak ada alasan untuk meninggalkan pementasan.

Dan ini memang bukan tulisan untuk mereka, tetapi kepada sutradara yang menggunakan konsep surealisme dalam pementasannya.

atletas en parodia

Tiba-tiba Kota Tangerang menjadi salah satu tempat perhelatan Asian Games. Terlihat atlet-atlet dari beragam cabang olahraga memenuhi panggung di tepian Cisadane pada malam kamis tanggal 29 Agustus lalu.  Warga kota Tangerang yang saat itu sedang berada di Festival  Cisadane dapat menjadi penyaksi dari aksi pemanah, pebulutangkis, pelari, pecatur dan lain-lainnya. Liputan langsung dari stasiun televisi pun tak mau ketinggalan guna mendapat wawancara eksklusif dengan mereka. Sayangnya di penghujung pentas ternyata semua atlet termasuk jurnalis tersebut adalah pasien RSJ atau Rumah Sakit Jiwa yang ditandai dengan kehadiran dokter yang bermaksud memberikan obat pada mereka.

teater atlet festival cisadane

Namun jangan tersesat dengan paragraf di atas, karena sejatinya Kota Tangerang tidak termasuk dari kota tempat penyelenggaraan pesta olahraga Asia tersebut. Aksi para atlet di atas adalah bagian dari pertunjukan teater yang berlangsung  di panggung festival Cisadane. Menampilkan para pelajar kota Tangerang yang tergabung dalam Komunitas Teater Pelajar dibawah asuhan komite teater Dewan Kesenian Tangerang. Lakon mereka malam itu “Parodi Atlet atawa Er-Es-Je” sebuah karya komedi yang dimaksudkan untuk menghibur warga kota yang berlalu lalang di gelaran itu.

Pentas ini terasa aktual dengan menyodorkan isu terkini yang bertaut dengan ajang Asian Games namun dalam kemasan parodi. Parodi yang berasal dari kata parodia yang secara harfiah berarti “lagu samping” adalah gaya yang muncul di seni musik eropa pada abad pertengahan dimana sederhananya diartikan lirik alternatif untuk struktur melodi yang sama. Pada perkembangannya bentuk parodi tidak hanya dipakai pada musik semata namun juga menyebar ke seni lainnya. Yang terkenal  memakai parodi di Indonesia adalah kelompok Padhyangan dari Bandung yang mencuat di era 90-an dengan lagu-lagu terkenal yang diganti liriknya. Tidak hanya lagu, mereka juga melakukan parodi di video klipnya

Sementara dalam lakon yang dimainkan KTEPEL (Komunitas Teater Pelajar) unsur parodi melekat daam aksi para atlet dan Asian Games. Tidak bermaksud merendahkan perjuangan para atlet yang berlaga di Jakarta-Palembang namun mencoba menghibur dengan isu aktual agar dapat dinikmati masyarakat yang antusias dengan Asian Games. Dan tidak bermaksud merendahkan perjuangan para pelajar yang bermain malam itu namun dalam kacamata seorang penonton yang hadir bahwa tidak ada karakter yang menonjol dari mereka. Toto Widayanto, warga Cimone yang menjadi satu dari ratusan penyaksi melihat bahwa tidak adanya yang menonjol malam itu adalah yang paling menonjol dari pertunjukan itu.

“Padahal jika ada karakter yang mencuat mungkin akan lebih menyedot perhatian publik yang lalu lalang,” ucap lelaki yang biasa disapa TW ini. Minimalnya lahan untuk penonton juga menjadi perhatiannya dan ia mengusulkan kepada pemerintah kota selaku penyelenggara untuk meninggikan saja panggungnya agar lalulintas publik tidak terganggu atau mengganggu penonton yang ingin menyaksikan.

Menjawab kritik di atas, Eb Magor selaku penulis dan sutradara pertunjukan mengatakan bahwa proses berlangsung selama sebulan dan prioritas baginya adalah agar para pelajar dapat menikmati apa itu teater. “Proses teater harus mengikuti perkembangan zaman dan tidak mungkin bagi saya untuk memakai proses seperti yang pernah saya terima dahulu karena zaman sudah berubah,” terang Magor seraya menyontohkan bagaimana kerasnya proses berteater di era lampau yang dialaminya.

“Menjadi aktor adalah soal disiplin dan ini bisa diterapkan dalam panggung kehidupan. Ini juga jembatan bagi mereka untuk menjadi aktor di kehidupan mereka nantinya,” kembali dijelaskan oleh Magor perihal pendekatan dan metode yang dilatihnya selama proses bersama para pelajar ini.

Terlepas dari pengamatan intrinsik dalam pentas ini memang tidak bisa dipungkiri bahwa publik lumayan menyemut di muka panggung malam itu berdesakan dengan mereka yang ingin lewat dan kendaraan yang parkir atau pun melintas di jalan itu.

nb

Judul diambil dari bahasa Spanyol yang artinya Atlet dalam parodi.

Di hari kemerdekaan Indonesia yang ke-73 ini ada tanya yang mengganjal; Apakah seorang nasionalis itu tidak religius? apakah seorang religius sudah pasti tidak nasionalis?

Di negara yang ber-ketuhanan Yang Maha Esa ini idealnya nasionalis dan religius bukan suatu dikotomi, namun realitas sosial-politik menjadikan nasionalis-religius menjadi sebuah komoditi yang sulit dihindari.
Politik identitas berbasis agama yang sudah terbukti mengoyak kesatuan bangsa memang tidak mungkin diredam dengan kekerasan karena itu adalah pupuk yang malah menyuburkannya.
Strategi kultural yang memadukan narasi kebangsaan dan keagamaan diharapkan dapat menjaga keutuhan negeri hingga seribu tahun lagi.
#Merdeka
#DirgahayuIndonesia